BAB II : KAJIAN TEORI
C. Perilaku Seksual Pra-Nikah
1. Pengertian Remaja
Melly (1947), mengatakan bahwa remaja adalah pemuda-pemudi yang berada pada masa perkembangan yang disebut masa “adolesensi” (masa remaja masa menuju kedewasaan). Masa ini merupakan taraf perkembangan dalam kehidupan manusia, dimana seseorang sudah tidak dapat disebut anak kecil lagi tetapi juga belum dapat disebut orang dewasa. Dari sudut kronologis pembatasan yang relatif fleksibel, masa ini sekitar umur 12-20 tahun.82
Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Salzman mengemukakan bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependent) terhadap orang tua kearah kemandirian (independent), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nila-nilai estetika dan isu-isu moral.83
Hurlock membedakan masa remaja dalam dua bagian, awal dan akhir masa remaja. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari usia 13-16 tahun dan 17-18 tahun, yaitu usia matang secara hukum. Dengan demikian akhir masa remaja merupakan periode yang sangat singkat.84
Istilah remaja atau kata yang berarti remaja tidak ada dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an dan kata “alfityatu atau fityatun” yang artinya orang muda.
82 Rifa’i Sulastri,1987:1.Psikologi Perkembangan Remaja Dari Segi Kehidupan Sosial. Jakarta: Bina Aksara
83 Yusuf, Syamsu, 2001:184.Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya
84 Hurlock,1980:206. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta:Erlangga
terdapat pula kata baligh yang menunjukkan bahwa seseorang tidak kanak-kanak lagi, misalnya dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 59 yang berbunyi:
9
:&
E );
= )
'*&
<F / &
43
<F
89 !
)
&
)
D<
"##
+
$G
?
,
+
5'0&5
4'0G3
H%
Artinya: “Dan apabila anak-anakmu Telah sampai umur balig, Maka hendaklah
mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. 85
Pada ayat tersebut terdapat istilah kata baligh yang dikaitkan dengan mimpi (alhuluna). Kata baligh dalam istilah hukum islam digunakan untuk penentuan umur awal kewajiban melaksanakan hukum islam dalam kehidupan sehari-hari atau dengan kata lain terhadap mereka yang telah baligh dan berakal, berlakulah seluruh ketentuan hukum islam. Tampaknya masa remaja yang mengentarai masa kanak-kanan dan remaja tidak terdapat dalam islam. Dalam islam seseorang manusia bila telah aqil baligh, telah bertanggung jawab atas semua pertumbuhannya. Jika ia berbuat baik akan mendapat pahala, dan melakukan perbuatan tidak baik atau berdosa.
Fase remaja dalam pandangan Islam disebut dengan fase baligh, yaitu fase dimana usia anak telah sampai pada ambang dewasa. Usia ini anak telah memiliki kesadaran penuh akan dirinya sehingga ia diberi beban tanggung jawab, terutama tanggung jawab agama dan sosial. Al-Ghozali menyebutnya dengan fase ’aqil’ fase dimana tingkat intelektual seseorang dalam kondisi
puncaknya, sehingga ia mamu membedakan perilaku yang benar dan salah, baik dan buruk.86
Awal fase ini dimulai sejak adanya polusi (al-ihtilam) atau menstruasi (al- haidh) pertama kali bagi perempuan. Kedua gejala biologis ini menunjukkan tingkat kematangan atau kedewasaan seseorang dan ia pantas menerima beban kewajiban. Karena itulah fase ini diperkirakan dimulai antara usia 12-15 tahun.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini adalah87 (1) Memahami segala titah (Al-khithab) Allah SWT dengan memperdalam ilmu pengetahuan. Dijelaskan dalam Q.S. At-Taubah: 122, sebagai berikut:
)
I
)*4
)(0
! 3
)
&
)
)
6E
(
!)
7 )J ;
8 ) 01
6
9 <(0
' )
9
: =
>
' &
I 9 < <
+
Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan
perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.88
(2) Menginternalisasikan keimanan dan pengetahuannya dalam tingkah laku nyata, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, keluarga, komunitas sosial, alam semesta, maupun pada tahun; (3) Memiliki kesediaan untuk mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat, sebab fase ini seseorang telah memiliki kesadaran dan kebebasan penuh terhadap apa yang dilakukan, segala
86 Abdul Mujib dan Yusuf Mudzakir.2002:106, Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta:Raja Grafindo Persada
87 Ibid., hlm. 107-108
tindakannya memiliki implikasi baik atau buruk yang di akhirat kelak akan mendapatkan balasannya. (4) Membentengi diri dari segala perbuatan maksiat dan mengisi diri dengan baik, sebagai masa puber merupakan masa dimana dorongan erotis mulai tumbuh dan berkembang dengan pesat. Oleh sebab itu, Nabi SAW memberikan penghargaan yang besar bagi pemuda yang tumbuh dalam peribadatan kepada Allah: “tujuh golongan yang mendapat naungan dari Allah SWT dimana pada hari itu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya;.... seorang pemuda yang tumbuh dalam peribadatan kepada Allah”; (5) Menikah jika telah memiliki kemampuan, baik kemampuan fisik maupun psikis; (6) Membina keluarga yang sakinah, yaitu keluarga dalam menempuh bahtera kehidupan selalu dalam keadaan cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) dengan landasan keimanan dan ketaqwaan; (7) mendidik anak-anaknya dengan pendidik yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, sosial, dan agama, sedangkan pemuda disini tergolong pada masa adolescense atau masa remaja atau juga masa pubertas yang dimiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya atau sesudahnya, karena masa ini adalah masa yang tersulit yang damai selama masa perkembangan. Seperti halnya diutarakan oleh para ahli perkembangan dengan berbagai pengertian dan teori yang diberikan pada masa remaja. Ada yang mengatakan bahwa remaja berasal dari kata lain adolescense, seperti yang digunakan saat ini, mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik.89
Kartono (1990) mendefinisikan masa remaja sebagai periode yang berada diantara usia 13 sampai 20 tahun untuk laki-laki dan dua tahun lebih awal pada perempuan. Pada periode ini individu mempunyai karakteristik-karakteristik seks sekunder dan sifat-sifat kedewasaan. Karakteristik tersebut mencakup perubahan-perubahan psikologis yang penting dan khusus berkaitan dengan konsep diri individu.90
Masa remaja didefinisikan oleh Gunarsa (dalam Mappiare, 1982)91 sebagai suatu periode yang berada diantara usia 13 sampai 17 tahun dan remaja akhir 18 sampai 22 tahun. Dalam periode ini individu mendapatkan karakteristik seks sekunder dan sifat-sifat kedewasaan. Terdapat perubahan-perubahan psikologis yang penting dan khusus berkaitan dengan konsep diri individu.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang ditandai perubahan-perubahan yang tampak baik secara fisik maupun psikis dari remaja tersebut, dan juga merupakan masa pencarian identitas atau proses yang berhubungan dengan lingkungan sosial.