• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN TENTANG RUMAH SUSUN DI

A. Pengertian Rumah Susun

Rumah susun menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan gabungan dari pengertian rumah dan pengertian susun. Rumah yaitu bangunan untuk tempat tinggal, sedangkan pengertian susun yaitu seperangkat barang yang diatur secara bertingkat. Jadi, pengertian rumah susun adalah bangunan untuk tempat tinggal yang diatur secara bertingkat. Rumah susun adalah bangunan yang direncanakan dan digunakan sebagai tempat kediaman oleh beberapa keluarga serta mempunyai tingkat minimum dua lantai dengan beberapa unit hunian.30

Istilah rumah susun, dalam sistem hukum negara Italia dikenal sebagai Condominium. Condominium terdiri atas dua suku kata, yaitu co yang berarti bersama-sama dan dominium berarti pemilikan. Di negara Inggris dan Amerika menggunakan istilah Joint Property, sedangkan negara Singapura dan Australia menggunakan istilah Strata Title. Banyaknya istilah yang digunakan di kalangan masyarakat di Indonesia seperti apartement, flat, condominium, dan rumah susun pada dasarnya sama, namun dalam bahasa hukumnya disebut rumah susun, karena mengacu pada Undang-Undang Rumah Susun.31

Bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun mencampuradukkan konsep kondominium dan strata title dalam kepemilikan

30 WJS. Poerwodaminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1976

31 Oloan Sitorus & Balans Sebayang, Komdominium dan Permasalahannya, Yogyakarta: Mitra Kebijakan Tanah, 2004.

rumah susun, kondominium merupakan kepemilikan bersama termasuk tanah, sedangkan strata title adalah kepemilikan bersama tidak termasuk tanah.

Rusun atau Rumah Susun terdapat dalam Undang-Undang Rumah Susun.

Undang yang mengatur mengenai rumah susun adalah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun yang telah mengalami perubahan atau direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5252).

Berdasarkan pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2011 yang berbunyi: “Rumah Susun adalah bangunan Gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama.”32

Dari pengertian rumah susun tersebut di atas menunjukkan bahwa rumah susun dari segi fisiknya merupakan bangunan yang berlantai lebih dari satu.

Dalam fungsinya dapat digunakan secara horizontal maupun vertikal. Pada rumah susun ada bagian yang dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah oleh pemiliknya yang disebut satuan rumah susun. Pada rumah susun terdapat hak bersama dari seluruh pemilik satuan rumah susun yang terdiri atas bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama. Maksud pembangunan rumah susun adalah diutamakan untuk tempat hunian atau rumah tempat tinggal.33

32 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun

33 Urip Santoso, Hukum Perumahan, Kencana, Jakarta,2014, hlm.80

22

Rumah susun ada hak yang bersifat perorangan dan terpisah, dan ada hak bersama dari seluruh pemilik satuan rumah susun yang terdiri atas bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama. Penguasaan bersama atas bidang tanah di atasnya berdiri rumah susun sebenarnya telah diletakkan dasarnya dalam pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Pokok Agraria, yaitu: “Atas dasar hak menguasai dari Negara sebagai yang dimaksud dalam pasal 2 ditentukan adanya bermacam-macam hak atas tanah permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain serta badan-badan hukum.”

Perkataan bersama-sama dengan orang lain menunjukkan bahwa hak atas tanah dapat dimiliki atau dikuasai secara bersama-sama dengan lain.34

Sesuai dengan pasal 17 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2011 bahwa rumah susun dapat dibangun di atas tanah:35

a. Hak milik

b. Hak guna bangunan atau hak pakai atas tanah negara, dan c. Hak guna bangunan atau hak pakai di atas hak pengelolaan.

Pembangunan rumah susun harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu:

1. Persyaratan teknis untuk ruangan

Semua ruangan yang dipergunakan untuk kegiatan sehari-hari harus mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan udara luar dan pencahayaan dalam jumlah cukup.

2. Persyaratan untuk struktur, komponen dan bahan-bahan bangunan harus mempunyai persyaratan konstruksi dan standar yang berlaku

34 Ibid, hlm.81

35 Pasal 17 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun

yaitu harus tahan dengan beban mati, bergerak, gempa, hujan, angin dan lain sebagainya.

3. Kelengkapan rumah susun

Kelengkapan rumah susun terdiri dari jaringan air bersih, jaringan listrik, jaringan gas, saluran pembuangan air, saluran pembuangan sampah, jaringan telepon/ alat komunikasi, alat transportasi berupa tangga, lift atau eskalator, pintu dan tangga darurat kebakaran, alat pemadam kebakaran, penangkal petir, alarm, pintu kedap asap, generator listrik dan lain-lain.

4. Satuan rumah susun

a. Mempunyai ukuran standar yang dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi persyaratan sehubungan dengan fungsi dan penggunaannya.

b. Memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti tidur, mandi, buang hajat, mencuci, menjemur, memasak, makan, menerima tamu dan lain-lain.

5. Bagian bersama dan benda bersama

a. Bagian bersama berupa ruang umum, ruang tunggu, lift atau selasar harus memenuhi syarat sehingga memberikan kemudahan bagi penghuni.

b. Benda bersama harus mempunyai dimensi, lokasi dan kualitas dan kapasitas yang memenuhi syarat sehingga dapat menjamin keamanan dan kenikmatan bagi penghuni.

6. Lokasi rumah susun

24

a. Harus sesuai dengan peruntukan dan keserasian dengan memperhatikan rencana tata ruang dan tata guna tanah.

b. Harus memungkinkan berfungsinya dengan baik saluran-saluran pembuangan dalam lingkungan ke system jaringan pembuangan air hujan dan limbah

c. Harus mudah mencapai angkutan

d. Harus dijangkau oleh pelayanan jaringan air bersih dan listrik.

7. Kepadatan dan tata letak bangunan

Harus mencapai optimasi daya guna hasil guna tanah dengan memperhatikan keserasian dan keselamatan lingkungan sekitarnya.

8. Prasarana lingkungan

Harus dilengkapi dengan prasarana jalan, tempat parkir, jaringan telepon, tempat pembuangan sampah.

9. Fasilitas lingkungan

Harus dilengkapi dengan ruang atau bangunan untuk berkumpul, tempat bermain anak, dan kontak sosial, ruang untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk kesehatan, Pendidikan, peribadatan dan lain-lain.

Tujuan dari pemisahan satuan rumah susun bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama adalah untuk memberikan kejelasan atas:

a. Batas satuan rumah susun yang dapat digunakan secara terpisah untuk setiap pemilik

b. Batas dan uraian atas bagian bersama dan benda bersama yang menjadi hak setiap satuan rumah susun

c. Batas dan uraian tanah bersama dan besarnya bagian yang menjadi hak setiap satuan rumah susun.36

Adapun di dalam Undang-Undang Rumah Susun terdapat Satuan rumah susun, bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama:

1. Satuan rumah susun adalah unit rumah susun yang tujuannya digunakan secara terpisah dengan fungsi utama sebagai tempat hunian dan mempunyai sarana penghubung jalan umum.

2. Bagian bersama adalah bagian rumah susun yang dimiliki secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama dalam kesatuan fungsi dengan satuan-satuan rumah susun

3. Benda bersama adalah benda yang bukan merupakan bagian rumah susun melainkan bagian yang dimiliki bersama secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama.

4. Tanah bersama adalah sebidang tanah yang digunakan atas dasar hak bersama secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama dalam kesatuan fungsi dengan satuan-satuan rumah susun. Yang di atasnya berdiri rumah susun dan ditetapkan batasnya dalam persyaratan ijin bangunan.37

Jadi rumah susun merupakan suatu pengertian yuridis arti bangunan Gedung bertingkat yang senantiasa mengandung sistem kepemilikan perseorangan dan hak bersama, yang penggunaannya bersifat hunian atau bukan hunian. Secara mandiri ataupun terpadu sebagai satu kesatuan sistem pembangunan.

36 Wibowo Tunardy, 2015, Hak Perseorangan dan Hak Bersama di Rumah Susun, hlm 6.

37M.Rizal Alif, Analisis Kepemilikan Hak atas Tanah Satuan Rumah Susun di Dalam Kerangka Hukum Benda, Bandung:

Nuansa Aulia,2009), hal 16

26

Fasilitas Rumah Susun menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya, yang antara lain dapat berupa bangunan perniagaan atau perbelanjaan (aspek ekonomi), lapangan terbuka, pendidikan, kesehatan, peribadatan, fasilitas pemerintah dan pelayanan umum, pertamanan serta pemakaman (lokasi diluar lingkungan rumah susun atau sesuai rencana tata ruang kota).

Fasilitas niaga adalah sarana penunjang yang memungkinkan penyelengaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi yang berupa bangunan atau pelataran usaha untuk pelayanan perbelanjaan dan niaga serta tempat kerja.

Fasilitas Pendidikan adalah fasilitas yang memungkinkan siswa mengembangkan pengetahuan keterampilan dan sikap secara optimal, sesuai dengan strategi belajar-mengajar berdasarkan kurikulum yang berlaku.

Fasilitas kesehatan adalah fasilitas yang dimaksud untuk menunjang kesehatan penduduk dan berfungsi pula untuk mengendalikan perkembangan atau pertumbuhan penduduk.

Fasilitas peribadatan adalah fasilitas yang dipergunakan untuk menampung segala aktivitas peribadatan dan aktivitas penunjang.

Fasilitas pemerintah dan pelayanan umum fasilitas yang dapat dipergunakan untuk kepentingan pelayanan umum, yaitu pos hansip, balai pertemuan, kantor RT dan RW, pos polisi, pos pemadam kebakaran, kantor pos pembantu, Gedung serba guna, kantor kelurahan.

Ruang terbuka, ruang terbuka yang direncanakan dengan suatu tujuan atau maksud tertentu, mencakup kualitas ruang yang dikehendaki dan fungsi ruang

yang dikehendaki. Dalam hal ini tidak termasuk ruang terbuka sebagai sisa ruang dan kelompok bangunan yang direncanakan.

Fasilitas di ruang terbuka setiap macam ruang dan penggunaan ruang di luar bangunan, seperti taman, jalan, pedestarian, jalur hijau, lapangan bermain, lapangan olahraga dan parkir.

Fasilitas lingkungan rumah susun harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Memberi rasa aman, ketenangan hidup, kenyamanan dan sesuai dengan budaya setempat.

2. Menumbuhkan rasa memiliki dan merubah kebiasaan yang tidak sesuai dengan gaya hidup dirumah susun.

3. Mengurangi kecenderungan untuk memanfaatkan atau menggunakan fasilitas lingkungan bagi kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

4. Menunjang fungsi-fungsi aktivitas menghuni yang paling pokok baik dan segi besaran maupun jenisnya sesuai dengan keadaan lingkungan yang ada.

5. Menampung fungsi-fungsi yang berkaitan dengan penyelenggaraan dan pengembangan aspek-aspek ekonomi dan sosial budaya.

Di dalam Buku Rumah Untuk Seluruh Rakyat milik Bapak Siswono Yudho Husodo, Mantan Menteri Perumahan dipaparkan membangun secara vertikal berupa pembangunan rumah susun. Tata cara kehidupan di rumah susun memang masih perlu di masyarakatkan. Diyakini bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan perkembangan masa depan ke arah yang diinginkannya, dan tidak sekedar menerima arah perubahan ini menurut apa adanya dan hanya

28

mencoba menyesuaikan dirinya terhadap perubahan-perubahan ini. Salah satu cara untuk memperlambat perkembangan meluasnya kota yang demikian adalah dengan membangun rumah susun.

Sistem condominium atau rumah susun sudah dikenal sejak ribuan tahun sebelum masehi. Bangsa Davida yang berwilayah di daerah dataran tinggi Dekhan dan sekitarnya sudah menerapkan sistem rumah susun. Dilembah sungai Indus mereka membangun dua kota yaitu Mohenjo Daro dan Harapa, jauh sebelum masuknya bangsa Aria yang mengembara dari asal mereka di Persia dan datang ke Hindustan pada sekitar tahun 1500 sebelum masehi ke daerah Dekhan.

Pembangunan Rumah Susun juga dijumpai di Romawai Timur mulai zaman kejayaan Bizantium sampai dengan jatuhnya kota Istanbul pada bangsa turki pada tahun 1453. Bangsa Turki sendiri dalam sejarah kebudayaannya banyak meresepsi pola-pola kebudayaan yang universal dari Negara Romawi yang berhasil ditundukannya itu, termaksud diantaranya kebudayaan membangun. Sejarah membuktikan bahwa hukum Rumah Susun kian berkembang seiring kian majunya pembangunan gedung-gedung bertingkat dilima benua di dunia ini, terutama Eropa dan Amerika.

Kepadatan masyarakat industri yang mulai meningkat dan permintaan jenis pembagian tanah yang berbeda secara vertikal, maka untuk mengakomodasi penduduk yang sangat padat di daerah-daerah perkotaan. Negara Australia, selain mengenal pembagian tanah secara vertikal, juga menggunakan cara lain untuk membagi tanah, yaitu dengan pembagian tanah secara horizontal. Pembagian tanah secara horizontal dalam undang-undang Anglo-Australia, atau lebih tepatnya ruang udara diatas tanah yang sebenarnya dibagi menjadi strata

Horizontal. Tingkat atas dari suatu bagian dan ruang udara didalamnya dapat dipisahkan dari tanah, di atas mana bangunan itu berdiri dianggap sebagai real property.

Indonesia sendiri mulai mengenal rumah susun sekitar 1970-an. Pihak swasta mulai membangun perumahan yang direncanakan dengan baik dikawasan perkotaan lalu diikuti oleh kebijakan pemerintah dengan konsep pembangunan kepemilikan dengan KPR BTN.

Rumah susun mulai diperkenalkan pada era 1980-an oleh pemerintah, sebagai perumah bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berpenghasilan rendah dan untuk mengatasi semakin padat serta semakin kumuhnya lingkungan permukiman umum. Rumah susun mewah mulai hadir pada akhir 1990-an, rumah susun mewah disediakan untuk masyarakat berpenghasilan tinggi (terutama Warga Negara Asing yang bekerja di Indonesia). Rumah Susun mewah semakin diminati hingga sekarang karena menawarkan fasilitas yang membuat kehidupan makin efektif dan efisien.

Pembangunan rumah susun sederhana, secara ekonomi komersial tidaklah menguntungkan. Oleh karena itu, pembangunan rumah susun tipe ini akan masih tetap diprakarsai dan dibangun oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah seperti yang telah dibangun selama ini untuk membina keluarga juga, memperhitungkan rumah sebagai sarana fungsional tempat tinggal bersama.

B. ASAS DAN TUJUAN PEMBANGUAN RUMAH SUSUN

Dalam penjelasan Undang-Undang Rumah Susun menyatakan bahwa kebijaksanaan umum pembangunan perumahan diarahkan untuk:

30

a. Memenuhi kebutuhan perumahan yang layak dalam lingkungan yang sehat, secara adil dan merata serta mampu mencerminkan kehidupan masyarakat yang berkepribadian Indonesia.

b. Mewujudkan permukiman yang serasi dan seimbang, sesuai dengan pola tata ruang dan tata daerah serta tata guna tanah yang berdaya guna dan berhasil guna.

Negara bertanggung jawab dalam penyelenggaraan rumah susun seperti yang diatur di dalam pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Rumah Susun:38

1. Negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan rumah susun yang pembinaannya dilaksanakan oleh pemerintah.

2. Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh:

a. Menteri pada tingkat nasional.

b. Gubernur pada tingkat provinsi, dan

c. Bupati/ walikota pada tingkat kabupaten/ kota.

Berbeda dengan pasal yang ada di dalam pasal 15 dan pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Rumah Susun yang mengatur lebih lanjut lagi, yaitu:

Pasal 15 Undang-Undang Rumah Susun merumuskan bahwa:39

1. Pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara merupakan tanggung jawab pemerintah.

2. Pembangunan rumah susun umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh setiap orang mendapatkan kemudahan dan/atau bantuan pemerintah.

38Pasal 5 Ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun

39Pasal 15 dan 16 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun

3. Pembangunan rumah susun umum dan rumah susun khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan oleh Lembaga nirlaba dan badan usaha.

Pasal 16 Undang-Undang Rumah Susun merumuskan bahwa:

1. Pembangunan rumah susun komersial sebagaimana dimaksud pada pasal 13 ayat (2) dapat dilaksanakan setiap orang.

Pada setiap pembangunan rumah susun terdapat berbagai persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:

1. Persyaratan Administratif

Pembangunan rumah susun dan lingkungan harus dibangun dan dilaksanakan berdasarkan perizinan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah setempat sesuai dengan peruntukannya (persyaratan administratif).

Merujuk kepada penjelasan Pasal 24 Undang-Undang Rumah Susun, yang dimaksud dengan persyaratan administratif pembangunan rumah susun adalah perizinan yang diperlukan sebagai syarat untuk melakukan pembangunan rumah susun.

2. Persyaratan Teknis

Seperti yang merujuk pada penjelasan Pasal 24 Undang-Undang Rumah Susun bahwa yang dimaksud dengan persyaratan teknis adalah persyaratan yang berkaitan dengan struktur bangunan, keamanan dan keselamatan bangunan, kesehatan lingkungan, kenyamanan, dan lain-lain yang berhubungan dengan rancangan bangun, termasuk kelengkapan prasarana dan fasilitas lingkungan.

3. Persyaratan Ekologis

32

Seperti yang merujuk pada Penjelasan Pasal 24 Undang-Undang Rumah Susun bahwa yang dimaksud dengan persyaratan ekologis adalah persyaratan yang memenuhi analisis dampak lingkungan dalam hal pembangunan rumah susun.40

Pembangunan rumah susun berlandaskan pada asas kesejahteraan umum, keadilan dan pemerataan, serta keserasian dan keseimbangan dalam perikehidupan. Asas kesejahteraan umum dipergunakan sebagai landasan pembangunan rumah susun dengan maksud untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi seluruh rakyat Indonesia secara adil dan merata berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 melalui pemenuhan kebutuhan dasar bagi setiap warga negara Indonesia dan keluarganya.41

Pembangunan rumah susun harus dilakukan berdasarkan asas-asas penyelenggaraan rumah susun sebagaimana disebutkan dalam pasal 2 Undang-Undang Rumah Susun beserta penjelasannya, yaitu:42

a. Asas kesejahteraan

Adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan rumah susun yang layak bagi masyarakat agar mampu mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.

b. Asas keadilan dan pemerataan

40Pasal 24 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun

41 Syahmardan, Kedudukan Hukum Rumah Susun di Indonesia, http;//ditjenpp.Kemenkumham.go.id/umum/1424-kedudukan-hukum-rumah-susun-di-indonesia.html,2011. (diakses pada tanggal 30 Oktober 2021)

42Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun

Adalah memberikan hasil pembangunan di bidang rumah susun agar dapat dinikmati secara proposional dan merata bagi seluruh rakyat.

c. Asas kenasionalan

Adalah memberikan landasan agar kepemilikan rumah susun dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan nasional.

d. Asas keterjangkauan dan kemudahan

Adalah memberikan landasan agar hasil pembangunan rumah susun dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, serta mendorong terciptanya iklim kondusif dengan memberikan kemudahan bagi MBR

e. Asas keefisienan dan kemanfaatan

Adalah memberikan landasan penyelenggraan rumah susun yang dilakukan dengan memaksimalkan potensi sumber daya tanah, teknologi rancang bangun, dan industri bahan bangunan yang sehat serta memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.

f. Asas kemandirian dan kebersamaan

Adalah memberikan landasan penyelenggaraan rumah susun bertumpu pada prakarsa, swadaya, dan peran serta masyarakat sehingga mampu membangun kepercayaan, kemampuan, dan kekuatan sendiri serta terciptanya kerja sama antar pemangku kepentingan

g. Asas kemitraan

34

Adalah memberikan landasan agar penyelenggaraan rumah susun dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan melibatkan pelaku usaha dan masyarakat dengan prinsip saling mendukung.

h. Asas keserasian dan keseimbangan

Adalah memberikan landasan agar penyelenggara rumah susun dilakukan dengan mewujudkan keserasian dan keseimbangan pola pemanfaatan ruang.

i. Asas keterpaduan

Adalah memberikan landasan agar rumah susun diselenggarakan secara terpadu dalam hal kebijakan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan pengendalian.

j. Asas kesehatan

Adalah memberikan landasan agar pembangunan rumah susun memenuhi standar rumah sehat, syarat kesehatan lingkungan, dan perilaku hidup sehat.

k. Asas kelestarian dan keberlanjutan

Adalah memberikan landasan agar rumah susun diselenggarakan dengan menjaga keseimbangan lingkungan hidup dan menyesuaikan dengan kebutuhan yang terus meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk dan keterbatasan lahan.

l. Asas keselamatan, kenyamanan, dan kemudahan.

Adalah memberikan landasan agar bangunan rumah susun memenuhi persyaratan keselamatan, yaitu kemampuan bangunan rumah susun mendukung beban muatan, pengamanan bahaya kebakaran, dan bahaya petir; persyaratan kenyamanan ruang dan gerak antar ruang, pengkondisian udara, pandangan, getaran, dan kebisingan; serta persyaratan kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan, kelengkapan prasarana, dan sarana rumah susun termasuk fasilitas dan aksebilitas bagi penyandang cacat dan lanjut usia.

m. Asas keamanan, ketertiban, dan keteraturan

Adalah memberikan landasan agar pengelolaan dan pemanfaatan rumah susun dapat menjamin bangunan, lingkungan, dan penghuni dari segala gangguan dan ancaman keamanan, ketertiban dalam melaksanakan kehidupan bertempat tinggal dan kehidupan sosialnya, serta keteraturan dalam pemenuhan ketentuan administratif.

Di Indonesia ada dua asas hukum pertanahan, yaitu sebagai berikut:

1. Asas Accesi (Asas Perlekatan) atau Accessie Schelding Beginsel;

2. Asas pemisahan horizontal atau Horizontale Beginsel;

Di dalam asas perlekatan, bangunan menjadi bagian dari tanahnya.

Oleh karena itu, dengan sendirinya bangunan itu tunduk pada ketentuan- ketentuan hukum yang berlaku terhadap tanahnya (hukum tanah). Asas perlekatan ini terdiri asas perlekatan secara mendatar (horizontal) dan perlekatan secara tegak lurus (vertikal). Perlekatan secara mendatar

36

(horizontal) meletakkan suatu benda sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari benda pokoknya atau balkon pada rumah induknya.

Berdasarkan asas perlekatan ini, pemilik benda pokok merupakan pemilik benda ikutan dan secara hukum benda ikutan tersebut mengikuti benda pokoknya. Sebaliknya, perlekatan vertikal adalah perlekatan secara tegak lurus yang melekatkan semua benda yang ada di atasnya maupun di dalam tanah dengan tanah sebagai benda pokoknya.

Tujuan pembangunan rumah susun dimuat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun pada pasal 3 menjelaskan tujuan pembangunan untuk:43

a. Menjamin terwujudnya rumah susun yang layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan serta menciptakan permukiman yang terpadu guna membangun ketahanan ekonomi, sosial, dan budaya.

b. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan ruang dan tanah, serta menyediakan ruang terbuka hijau di Kawasan perkotaan dalam menciptakan Kawasan permukiman yang terlengkap serta serasi dan seimbang dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

c. Mengurangi luasan dan mencegah timbulnya perumahan dan permukiman kumuh.

43 Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Rumah Susun

d. Mengarahkan perkembangan kawasan perkotaan yang serasi, seimbang, efisiensi, dan produktif.

e. Memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi yang menunjang

e. Memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi yang menunjang