Untuk dapat meningkatkan produktivitas lebih tinggi lagi, perlu perusahaan tersebut menimbulkan semangat dan kegairahan kerja dari para karyawan. Oleh karena itulah maka sudah selayaknya apabila setiap perusahaan akan selalu berusaha agar para karyawan mempunyai moral kerja yang tinggi sebab dengan moral kerja yang tinggi diharapkan semangat dan kegairahan akan dapat meningkat. Semangat dan kegairahan kerja pada hakekatnya adalah merupakan pengejawatan/perwujudan dari pada moral kerja yang tinggi. Sebenarnya semangat dan kegairahan kerja ( moral kerja ) sifatnya subyektif, yakni bergantung kepada perasaan seseorang berhubungan dengan pekerjaannya.
Beberapa definisi mengenai Semangat kerja, yakni sebagai berikut :
Menurut Malayu S. P Hasibun dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia ( 1990 : 105 ), mengartikan semangat kerja sebagai “ keinginan dan kesungguhan seseorang mengerjakan pekerjaannya dengan baik serta berdisiplin untuk mencapai prestasi kerja yang maksimal”.
Sedangkan menurut Alex S. Nitisemito dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia ( 1982 : 160 ) mendefinisikan semangat kerja sebagai berikut: “Semangat kerja adalah melakukan pekerjaan secara lebih giat, sehingga dengan demikian pekerjaan akan dapat diharapkan lebih cepat dan lebih baik”.
II.24
Menurut Gondokusumo (1995), semangat kerja adalah refleksi dari sikap pribadi atau sikap kelompok terhadap kerja dan kerja sama.
Menurut Christian Siboro yang merupakan salah seorang pendiri dan konsultan I-SYS Consulting, agar dapat memberikan performa yang terbaik, karyawan tentu memiliki semangat tersendiri. Semangat inilah yang kemudian menjadi motivasi bagi karyawan untuk semakin memberikan kinerja yang optimal dan memberi kontribusi bagi perusahaan. Berkaitan dengan semangat kerja, aspek ini dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Motivasi intrinsik atau motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang, lebih mengarah pada tingkat kepuasan atas kinerja (performance) yang ditunjukkannya. Dalam hal ini apabila karyawan diberikan feedback berkala atau evaluasi yang rutin atas kerjanya, maka karyawan akan mampu menilai seberapa besar kinerja mereka. Umpan balik yang bisa diberikan berupa pujian, laporan kedisiplinan, laporan tertulis, hingga peringatan.
2. Motivasi ekstrinsik atau motivasi dari luar, adalah dengan memberikan karyawan kepastian akan kinerja yang dilakukan. Biasanya dilakukan dengan memberikan bonus. Jadi apabila suatu perusahaan mampu meningkatkan semangat, maka mereka itu akan memperoleh banyak keuntunngan. Dengan meningkatnya semangat, maka pekerjaan akan lebih cepat diselesaikan, kerusakan akan dapat dikurangi, absensi akan dapat
II.25
3. diperkecil seminimal mungkin dan sebagainya. Hal ini semua berarti diharapkan bukan saja produktifitas kerja dapat ditingkatkan, tetapi juga ongkos per unit akan diperkecil.
Menurut Christian Siboro Semangat bekerja karyawan rupanya juga dapat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Menurutnya, kondisi iklim kerja akan memengaruhi kondisi semangat dan motivasi kerja karyawan didalam sebuah perusahaan. Jika gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapi dalam organisasi atau unit kerja, maka akan membuat iklim kerja menjadi kondusif.
3.3.1 Faktor Yang Mempengaruh Semangat Kerja
Banyak sekali faktor – faktor yang dapat mempengaruhi munculnya semangat kerja. Menurut Buchari Zainun (1991) faktor yang mempengaruhi semangat kerja, antara lain :
1. Hubungan yang harmonis antara pimpinan dengan bawahan terutama antara pimpinan kerja sehari – hari langsung berhubungan dan berhadapan dengan para bawahan.
2. Kepuasan karyawan terhadap tugas dan pekerjaannya karena memperoleh tugas yang disukai.
3. Terdapat suasana dan iklim kerja yang bersahabat dengan anggota organisasi.
II.26
4. Rasa pemanfaatan bagi tercapainya tujuan organisasi yang merupakan tujuan bersama.
5. Adanya tingkat kepuasan ekonomis dan kepuasan nilai lainnya yang memadai sebagai imbalan yang dirasakanadil
6. Adanya ketenangan jiwa, jaminan kepastian serta perlindungan terhadap segala sesuatu yang dapat membahayakan diri pribadi dan kariri.
Sedangkan menurut Hadari Nawawi (2003) faktor – faktor yang mempengaruhi tinggi/rendahnya semangat kerja adalah :
1. Minat seseorang terhadap pekerjaan yang dilakukan.
2. Faktor gaji atau upah tinggi akan meningkatkan semangat kerja karyawan.
3. Suasana kerja dan hubungan dengan pekerjaan 4. Tujuan pekerjaan.
Indikasi turunnya semangat kerja ini penting diketahui oleh setiap perusahaan. Karena dengan pengetahuan tentang indikasi ini akan dapat diketahui sebab turunnya semangat dan kegairahan kerja. Dengan demikian perusahaan akan dapat mengambil tindakan – tindakan pencegahan atau pemecahan masalah seawal mungkin.
Indikasi – indikasi turunnya semangat kerja menurut Alex S.
Nitisemito dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia ( 1982 : 161 ) adalah sebagai berikut:
II.27
1. Turun/Rendahnya produktifitas kerja
Turunnya produktifitas kerja ini dapat diukur atau diperbandingkan dengan waktu sebelumnya. Produktifitas kerja yang turun inidapat terjadi karena kemalasan, penundaan pekerjaan dan sebagainya.
2. Tingkat absensi yang naik/turun
Tingkat absensi yang naik, sebenarnya juga merupakan salah satu indikasi turunnya semangat dan kegairahan kerja, karena itu bila ada gejala – gejala absensi maka perlu segera dilakukan penelitian.
3. Labour turnover ( tingkat perpindahan buruh ) yang tinggi
Keluar masuknya karyawan yangmeningkat tersebut terutama adalah disebabkan karena ketidak sengajaan mereka bekerja pada perusahaan tersebut, sehingga untuk itu mereka berusaha mencari pekerjaan lain yang dianggap lebih sesuai.
4. Tingkat kerusakan yang naik/tinggi
Indikasi lain yang menunjukkan turunnya semangat dan kegairahan kerja adalah bilamana ternyata tingkat kerusakan baik terhadap bahan baku, barang jadi maupun peralatan yang dipergunakan meningkat.
5. Kegelisahan dimana- mana
Kegelisahan dimana – mana akan terjadi bilamana semangat dan kegairahan kerja turun. Kegelisahan – kegelisahan itu dapat terwujud dalam bentuk ketidak tenangan kerja, keluh kesah serta hal – hal lain.
II.28
6. Tuntutan yang sering kali terjadi
Tuntutan sebetulnya merupakan perwujudan dari ketidakpuasan, dimana pada tahap tertentu akan menimbulkan keberanian untuk mengajukan tuntutan.
7. Pemogokan
Tingkat indikasi yang paling kuat tentang turunnya semangat dan kegairahan kerja adalah bilamana terjadi pemogokan. Hal ini disebabkan karena pemogokan adalah merupakan perwujudan dari ketidakpuasan, kegelisahan dan lain sebagainya.