• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMEGANG HAK

A. Pengertian Sengketa Tanah Dan Kekuatan Pembuktian

1. Pengertian Sengketa Tanah

Sejak dahulu tanah sudah menjadi sumber sengketa atau konflik dan tidak jarang menimbulkan korban jiwa. Sebagai suatu gejala sosial, sengketa atau konflik agraria (tanah) adalah suatu proses interaksi antara dua (atau lebih) orang atau kelompok yang masing-masing memperjuangkan kepentingan atas objek yang sama, yaitu tanah dan benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah.

Namun sengketa atau konflik tanah yang terjadi sangat tergantung kepada kondisi hubungan agraris yang ada, serta sistem dan kebijakan yang berlaku pada kurun waktu tersebut.132

Sengketa adalah perbedaan nilai, kepentingan, pendapat dan atau persepsi antara orang perorangan dan atau badan hukum (privat atau publik) mengenai status penguasaan dan atau status kepemilkan dan atau status penggunaan atau pemanfaatan atas bidang tanah tertentu atau status keputusan Tata Usaha Negara menyangkut penguasaan, pemilikan dan penggunaan atau pemenfaatan atas bidang tanah tertentu.133

132 Gunawan Wiradi, Reforma agrarian, Perjalanan Yang bahan berakhir, KPA, Jakarta, 2000, hlm. 85

133 Layyin Mahfiana, Sengketa kepemilikan hak Atas Tanah Di Kabupaten Ponorogo, Jurnal Hukum, Volume 7 No. 1, Ponorogo, 2003 hlm. 5

Menurut Rusmadi Murad, pengertian sengketa tanah atau dapat juga dikatakan sebagai sengketa hak atas tanah, yaitu timbulnya sengketa hukum yang bermula dari pengaduan sesuatu pihak (orang atau badan ) yang berisi keberata-keberatan dan tuntutan hak atas tanah, baik terhadap status tanah, prioritas, maupun kepemilikannya dengan harapan dapat diperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.134

Masalah sengketa pertanahan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya karena adanya dis-sinkroniasi perundang-undangan baik secara vertickal maupun secara horizontal, yang dimanfaatkan oleh subyek hukum yang beritikat tidak baik untuk dijadikan landasan untuk memperoleh perlindungan hukum.135

Sengketa pertanahan tidak dapat terselesaikan secara tuntas disetiap sengketa tanah yang terjadi timbul wacana supaya dibentuk lembaga khusus penyelesaian konflik agraria.136 Pembentukan lembaga khusus belum tentu dapat menjamin juga bahwa sengketa tanah akan dapat terseleaikan secara tuntas, karena itu alternatife pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah secara proporsional urgen untuk dilakukan hal ini didsarkan pada alas an bahwa pemerintah daerah merupakan lembaga yang bertanggung jawab terhadap ketertiban dan ketentraman warganya.

134 Citra Felani, Tinjauan Hukum tentang penyelesaian sengketa tanah Secara Mediasi Oleh Kantor Pertanahan Kota Medan, Jurnal FH USU, Medan, 2014, hlm. 8

135 Irawan Soerodjo, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah Di Indonesia, Arkola, Surabaya, 2003, hlm. 233

136 Usep Setiawan, Menemukan Pintu Masuk Untuk Keluar, Jurnal Analisis Sosial, Volume 9 No. 1 , 2004, hlm. 65

2. Asas Hukum Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah

Adapun yang dimaksud dengan penyelesaian adalah suatu pekerjaan yang sedang dikerjakan dengan kata lain belum selesai. Pola penyelesaian masalah pertanahan pada dasarnya sama dengan penyelesaian asalah pada umumnya.

Dalam setiap masyarakat terdapat berbagai mekanisme penyelesaian masalah.

Penyelesaian tanah dapat dilihat dari mekanisme yang ditempuh oleh para pihak dan yang ditempuh oleh pemerintah. Dari mekanisme yang ditempuh oleh pemerintah, dari mekanisme yang diterima oleh pihak pola penyelesaian masalahnya dilakukan secara musyawarah mufakat, atau diselesaikan melalui lembaga sosial atau oleh pemuka masyarakat atau juga melalui badan-badan peradilan. Sedangkan mekanisme yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mengambil kebijakan tertentu dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang melingkupinya.137

3. Sertipikat Hak Atas Tanah

a. Pengertian Sertipikat Hak Atas Tanah

Berdasarkan pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA dan Pasal 32 ayat (1) PP No 24 Tahun 1997 bahwa Sertipikat yang merupakan surat bukti hak atas tanah berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat, oleh karena itu data dalam sertipikat mencakup data mengenai jenis haknya, subyeknya maupun menganai letak,, batas, dan luasnya, maka sertipikat memberikan jaminan kepastian terhadap data tersebut.138

Sertipikat merupakan surat tanda bukti hak atas tanah, suatu pengakuan dan penegasan dari negara tehadap penguasaan tanah secara perorangan atau

137 Abdul Rahim Lubis, Aspek Politis Penyelesaian Masalah Pertanahan di Sumatera Utara (Studi Hukum Penyelesaian msalah Tuntutan/Garapan Rakyat Pada Areal PT. Perkebunan Nusantara II), Sekolah Pasca Sarjana USU, Medan, 2005, hlm. 7-8

138 Ilyas Ismail, Sertipikat Sebagai Alat Bukti Hak Atas Tanah dalam Proses Peradilan, Banda Aceh, Jurnal Ilmu Hukum, No. 53, Th. XIII, April 2011), hlm. 2

bersama atau badan hukum yang namanya ditulis didalamnya dan sekaligus menjelaskan lokasi, gambar, ukuran dan batas bidang tanah tersebut.139

Sertipikat sebagai tanda bukti yang kuat mengandung arti bahwa selama tidak dapat dibuktikan sebaiknya data fisik dan data yuridis yang tercantum di dalamnya harus diterima sebagai data yang benar, sebagaimaa juga dapat dibuktikan dari data yang tercantum dalam buku tanah surat ukurnya140

b. Fungsi Dan Manfaat Sertipikat Tanah

Fungsi sertipikat hak atas tanah yaitu, sebagai tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat (sertipikat merupakan alat bukti dan merupakan dokumen formal), sertipikat hak atas tanah memberikan perlindungan hukum bagi pemegang hak atas tanah.

Adapun 3 (tiga) manfaat dari sertipikat hak atas tanah yaitu:141

1) Manfaat bagi pemegang hak, yaitu memberikan rasa aman, dapat mengetahui dengan jelas data fisik dan data yuridisnya, memudahkan dalam pelaksanaan peralihan hak, harga tanah menjadi tinggi, dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani hak tangungan, penetapan Pajak Bumi Bangunan tidak mudah keliru.

2) Manfaat bagi peerintah, akan terwujud tertib administrasi pertanahan sebagai salah satu program Catur Tertib Pertanahan, dapat memperlancar kegiatan pemerintah yang berkaitan dengan tanah dalam pembangunan,

139 Oktovianus Tabuni, Pemberian Sertipikat Hak Milik Atas Tanah Kerena peralihan Hak (Hibah) dalam mewujudkan kepastian hukum dan Perlindungan Hukum Berdasarkan peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, Di Kabupaten Sleman Jurnal Hukum pertanahan dan Lingkungan Hidup, Yogyakarta, 201, hlm. 10

140 Ibid., hlm. 11

141 Bronto Susanto, Kepastian Hukum Sertipikat Hak Atas Tanah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 10, No. 20, Surabaya, 2014, hlm. 5

dapat mengurangi sengketa di bidang pertanahan, misalnya mengenai batas tanah.

3) Manfaat bagi calon pembeli atau kreditur, dapat dengan mudah memperoleh keterangan yang jelas mengenai data fisik dan data yuridis tanah yang akan menjadi obyek perbuata hukum mengenai tanah.

c. Sertipikat Sebagai Bukti Pemegang Hak Atas Tanah

Sertipikat sebagai tanda bukti hak yang bersifat mutlak apabila memenuhi unsur secara kumulatif yaitu:142

1) Sertipikat diterbitkan secara sah atas nama orang atau badan hukum 2) Tanah diperoleh dengan itikad baik

3) Tanah dikuasai secara nyata

4) Dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkan sertipikat itu tidak ada yang mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertipikat dan kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat ataupun tidak mengajukan gugatan ke pengadilan menganai penguasaan tanah atau penerbit sertipikat.143

Mengenai sertipikat hak atas tanah tentunya tidak akan terlepas dari bahasan mengenai pendaftaran tanah, karena sertipikat hak atas tanah merupakan hasil kegiatan pendaftaran yang bertujuan untuk menjamin kepastian hukum hak

142 Gusti Agung Dwi Satya Permana dan ketut Sandi Sudarsana, Kepsatian Hukum Serttifikat Hak Milik Atas Tanah sebagai Bukti Kepemilikan Bidang Tanah, (Jurnal Hukum Bagian Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar Bali), hlm. 2

143 Santoso urip, Hukum Agraria: Kajian Komperhensif, Cetakan 1, kencana, Jakarta, 2012, hlm. 319

atas tanah144. Hal yang sangat penting dalam hukum untuk membuktikan adanya suatu hak atas tanah adalah dengan melakukan pendaftarn tanah tersebut, dalam pendaftaan tanah yang terpenting adalah adanya pencatatan identitas tanah yang dimiliki dan dikuasai.145

Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas tanah diberikan sertipikat sebagai tanda bukti hak atas tanah.

Undang-Undang no. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria tidak menyebutkan nama surat tanda bukti hak atas tanah yang didaftar, selanjutnya pada Pasal 13 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 dinyatakan bahwa surat tanda bukti hak atas tanah yang didaftar dinamakan sertipikat, yaitu salinan dari buku tanah dan surat ukur setelah dijahit menjadi satu bersama-sama dengan suatu kertas sampul yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri Agraria.146

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dalam pasal 32 menyebutkan bahwa:

1) Ayat (1), sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat bukti pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat didalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam Surat Ukur dan Buku Tanah hak yang bersangkutan,

2) Ayat (2), dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertipikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itkat baik dan secara nyata menguasainya, maka pilihan lain yang merasa mempunyai hak tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya sertipikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertipikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang

144 Boedi harsono, Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentuka Undang-Undang Pokok Agraria, Isi Dan Pelaksanaannya, Djambatan, Jakarta, 2003, hlm. 72

145 Marihot Pahala Siahaan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan bangunan teori dan Prektek, Cetakan 1, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hlm. 161

146 Shaman, Hukum Agraria Indonesia, Setara Press, Malang, 2016, hlm. 120

bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertipikat tersebut.

Menurut Pasal 19 ayat (2) sub c, sertipikat sebagai alat pembuktian yang kuat. Pengertian dari sertipikat sebagai alat pembuktian yang kuat adalah bahwa data fisik dan data yuridis147, yang sesuai dengan data yang tertera dalam Buku Tanah dan Surat Ukur yang bersangkutan harus dianggap sebagai data yang benar kecuali dibuktikan sebaliknya oleh pengadilan. Sehingga selama tidak bisa dibuktikan sebaliknya, data fisik dan data yuridis yang tercantum didalamnya harus diterima sebagai data yang benar, baik dalam melakukan perbuatan hukum sehari-hari maupun dalam berperkara di pengadilan, sehingga data yang tercantum benar-benar harus sesuai dengan surat ukur yang bersangkutan, karena data yang diambil berasal dari surat ukur dan buku tanah tersebut.148

Sertipikat tanah terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu, salinan surat ukur dan buku tanah.149 Sertipikat adalah salinan dari buku tanah yang merupakan hasil akhir dari suatu proses penyelidikan riwayat penguasaan bidang tanah dengan meneliti surat-surat buktinya yang telah melalui syarat tertentu akan merupakan alas hak pada pendaftaran pertama dan peralihan-peralihan berikutnya.

Sertipikat tanah adalah dokumen formal yang memuat data yuridis dan data fisik yang dipergunakan sebagai tanda bukti dan alat pembuktian bagi seseorang atau badan hukum (privat atau publik) atas suatu bidang tanah yang

147 Dalam Pasal 1 angka 6 dan 7 PP No 24 Tahun 1997 memberikan pengertan tentang data fisik dan data yuridis. Data fisisk adalah keterangan mengenai letak, batas dan luas bidang tanah dan satuan rumah susun yang didaftar, termasuk keterangan mengenai adanya bangunan atau bagian bangunan diatasnya. Data yuridis adalah keterangan mengenai status hukum bidang tanah dan satuan rumah susun yang didaftar, pemegang haknya dan hak pihak lain serta beban-beban lain yang membeban-bebaninya.

148 Effendi Perangin, Hukum Agraria Di Indonesia Suatu telaah Dari Sudut Pandang Praktisi Hukum, PT. Raja Grafindo , Jakarta, 1993, hlm. 93

149 Marihot Pahala Siahaan, Op.Cit. hlm 162

dikuasai atau dimiliki dengan suatu hak atas tanah tertentu. Penerbitan sertipikat diberikan kepada yang berhak dimaksudkan agar pemegang hak dapat dengan mudah membuktikan haknya.150

Menurut Irawan Soerodjo, bahwa sertipikat tanah merupakan surat tanda bukti yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat didalamnya sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah yang bersangkutan. Dari sini sudah dapat ditangkap makna sertipikat tanah dalam konstruksi yuridisnya merupakan suatu dokumen formal yang dipergunaan sebagai tanda dan atau instrument yuridis bukti hak kepemilikan atas tanah yang dikeluarkan oleh BPN RI (Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia) lembaga atau institusi negara yang ditunjuk dan diberikan wewenang oleh negara untuk menerbitkannya.151 Dengan kata lain bahwa sertipikat akan mempunyai kekuatan yuridis apabila memang diterbitkan oleh lembaga yang memperoleh kewenangan untuk itu.152