BAB II : ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
2. Pengertian Sistem dan Prosedur
2. Pengertian Sistem dan Prosedur
Sistem adalah suatu jaringan prosedur yang dibuat menurut pola yang terpadu untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan (Mulyadi, 1993:6). Menurut Nugroho Widjajanto (2001:2) sistim adalah suatu yang memiliki bagian-bagian yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu melalui tiga tahapan yaitu input, proses, dan output. Menurut Mardiasmo (2006:5) ada tiga macam sistem pemungutan pajak, yaitu:
a. Official Assesment System
Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak
b. Self Assesment System
Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang.
c. With Holding System
Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
Prosedur mempunyai suatu unsur dari sistem. Yang dimaksud dengan prosedur adalah urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu department atau lebih, yang dibuat untuk
commit to user
menjamin penanganan secara seragam atas transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang (Mulyadi, 1993:6)
Sistem pemungutan pajak yang digunakan untuk memungut Pajak Parkir adalah Self Assesment System karena sistem pemungutan pajak ini memberi wewenang penuh kepada Wajib Pajak yang menghitung, menyetorkan, dan melaporkan sendiri besarnya hutang pajak. Dalam sistem ini Wajib Pajak sendirilah yang bergerak aktif, sedangkan fiskus tidak ikut campur dalam penentuan besarnya pajak yang terutang, kecuali Wajib Pajak melanggar ketentuan yang berlaku.
3. Pengertian Pajak Parkir
Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2011 tentang pajak Parkir, yang dimaksud dengan Pajak Parkir adalah pajak yang dikenakan atas penyelenggaraan tempat parkir diluar badan jalan oleh orang pribadi atau badan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor, tidak bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran. Sedangkan pengertian retribusi parkir adalah pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah sehubungan dengan jasa pelayanan parkir di tepi badan jalan umum sesuai dengan peraturan yang berlaku.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
29
a. Dasar Hukum Pajak Parkir
Yang menjadi dasar hukum dari pelaksanaan pajak parkir
1) Undang-undang No. 28 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-undang No. 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
2) Peraturan Daerah Kota Surakarta No. 4 Tahun 2011 tentang Pajak Parkir
b. Wajib Pajak, Obyek Pajak, Subyek Pajak, Dasar Pengenaan Pajak,
dan Tarif Pajak Parkir.
1) Wajib Pajak Parkir adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan tempat parkir diatas tanah/ lahan milik pribadi.
2) Obyek pajak Parkir adalah kegiatan penyelenggaraan tempat parkir diluar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
3) Subyek Pajak Parkir adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran atas tempat parkir
4) Dasar Pengenaan Pajak Parkir adalah jumlah pembayaran yang seharusnya dibayarkan atas penggunaan tempat parkir 5) Tarif Pajak Parkir ditetapkan 25% (dua puluh lima persen)
commit to user
c. Masa Pajak dan Saat Pajak Terutang
1) Masa Pajak Parkir adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan dalam 1 (satu) tahun takwim
2) Pajak Terutang terjadi pada saat terjadinya/ berlangsung saat penyelenggaraan parkir.
d. Tata Cara Pemungutan Pajak parkir
1) Pajak Parkir dipungut disemua daerah tempat parkir berlokasi 2) Pajak Parkir dibayar sendiri oleh Wajib Pajak atau dipungut sesuai dengan penetapan Walikota atau pejabat yang telah ditunjuk
e. Pembayaran dan Sanksi Administrasi
1) Pembayaran Pajak dilakukan pada Kas Daerah atau tempat yang telah ditunjuk sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam STPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, dan SPPD.
2) Pembayaran dilakukan sekaligus atau iuran paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah berakhirnya masa pajak.
3) Apabila Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) tidak dibayar
setelah lewat waktu 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dan ditagih dengan menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
31
f. Ketentuan Umum
1) Wajib Pajak adalah Orang Pribadi atau Badan yang
menyelenggarakan tempat/ usaha parkir diatas tanah milik sendiri.
2) Badan adalah sekumpulan orang dan/ atau modal yang
merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya. Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan, lembaga, organisasi massa, oganisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.
3) Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu dalam
urusan perpajakan daerah sesuai dengan peraturan
Perundang-undangan yang berlaku
4) Kendaraan adalah setiap kendaraan baik yang bermotor maupun yang tidak bermotor yang tergolong kendaraan umum, dinas maupun perorangan.
5) Usaha Parkir adalah usaha pengelolaan tempat/ lahan parkir dengan menarik sejumla uang untuk pengganti jasa.
commit to user
6) Fasilitas Parkir Di Luar Badan Jalan adalah adalah fasilitas parkir kendaraan yang dibuat khusus berupa taman parkir atau gedung parkir.
7) Fasilitas Parkir untuk Umum adalah fasilitas parkir diluar badan-badan jalan berupa taman parkir atau gedung parkir yang diusahakan sebagai kegiatan usaha yang berdiri sendiri dengan menyediakan jasa pelayanan parkir
8) Surat Pemberitahuan Tagihan Pajak Daerah (SPTPD) adalah
surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan/ atau pembayaran pajak, obyek pajak dan/ atau bukan obyek pajak, dan/ atau harta dan kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-undangan pajak daerah
9) Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD) adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk menyetorkan pajak terutang ke Kas Daerah atau tempat-tempat pembayaran lain yang telah ditunjuk.
10) Surat Keterangan Pajak Daerah (SKPD) adalah surat
ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak.
11) Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB)
adalah surat ketetapan yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
33
pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.
12) Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan
(SKPDKBT) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah tambahan atas pajak yang ditetapkan
13) Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar Tambahan
(SKPDLBT) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pajak terutang atau tidak seharusnya terutang.
14) Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
15) Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/ atau sanksi administrasi berupa bunga dan/ atau denda.
4. Penarikan Pajak Parkir
Menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang merupakan perubahan atas Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah, yang dimaksud dengan penarikan adalah suatu kegiatan mulai dari menghimpun data subyek dan obyek pajak daerah.
commit to user
Agar supaya penarikan pajak daerah dapat berjalan lancar, maka penarikan pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Mardiasmo, 2003:2).
a. Penarikan pajak harus adil (syarat keadilan)
Adalah suatu syarat yang mengusahakan agar penarikan diselenggarakan secara umum dan merata, yang dimaksud secara umum dan merata adalah bahwa penarikan harus diselenggarakan dengan sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh tekanan yang sama atas seluruh rakyat.
b. Penarikan harus berdasarkan undang-undang (syarat yuridis) Hukum pajak harus dapat memberikan jaminan hukum yang perlu untuk menyatakan hukum yang tegas, baik untuk Negara maupun untuk rakyat.
c. Tidak mengganggu perekonomian (syarat ekonomi)
Penarikan pajak seharusnya diselenggarakan agar supaya tidak mengganggu jalannya perekonomian, baik dalam bidang produksi maupun perdagangan dan jangan sampai merugikan kepentingan umum.
d. Penarikan pajak harus efisien (syarat finansiil)
Dalam melaksanakan penarikan pajak hendaknya tidak menelan biaya yang besar dalam penarikan pajak.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
35
e. Sistem penarikan pajak hendaknya sederhana
Untuk mencapai efisiensi dalam penarikan pajak serta untuk memudahkan warga masyarakat dalam menghitung dan memperhitungkan pajaknya, maka harus ditetapkan sistem pajak yang sederhana yang mudah untuk dilaksanakan sehingga masyarakat tidak terganggu dengan permasalahan pajak yang sulit.
B. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1. Tata Cara Pemungutan Pajak Parkir
Berdasarkan Peraturan Daerah No. 4 tahun 2011 tentang Pajak Parkir, pajak parkir dipungut diseluruh wilayah daerah tempat parkir berlokasi. Pelaksanaan penarikan Pajak Parkir di Surakarta berdasarkan Peraturan Daerah sebagai berikut:
a. Wajib pajak menghitung, memperhitungkan, membayar dan
melaporkan sendiri pajak yang terutang ke DPPKA dengan mengisi Surat Pemberitahuan Tagihan Pajak Daerah (SPTPD)
b. SPTPD harus disampaikan kepada Walikota paling lambat 10
(sepuluh) hari setelah berakhirnya masa pajak.
c. Berdasarkan SPTPD, Walikota menetapkan pajak terutang dan
menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah
d. Apabila SKPD tidak atau kurang bayar setelah jangka waktu paling lama 30 hari sejak SKPD diterima, Wajib Pajak dikenai sanksi
commit to user
administrasi sebersar 2% (dua persen) setiap bulan dan ditagih dengan menerbitak Surat Tagiha Pajak Daerah (STPD)
e. Surat peringatan atau Surat Teguran sebagai awal tindakan
pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran pajak.
f. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah Surat Teguran atau Surat Peringatan atau Surat Lain yang sejenis, Wajib Pajak harus melunasi pajak terutang. Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana yang telah ditentukan dalam Surat Teguran atau Surat Peringatan atau Surat Lain yang sejenis, jumlah pajak yang harus dibayar ditagih dengan Surat Paksa. g. Apabila setelah dilakukan penyitaan dan wajib pajak belum juga
melunasi hutang pajaknya setelah jangka waktu 10 (sepuluh) hari sejaktanggal pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, pejabat mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada kepala Kantor Lelang Negara.
h. Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, Juru Sita segera memberitahukan secara tertulis kepada Wajib Pajak.
Pelaksanaan pemungutan pajak parkir di DPPKA Kota Surakarta dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
37
a. Penyelenggaraan Pendaftaran dan Pendataan Wajib Pajak Parkir
Untuk mendapatkan data Wajib Pajak, dilaksanakan pendaftaran dan pendataan secara langsung ke lapangan terhadap Wajib Pajak yang memiliki obyek pajak di wilayah kota Surakarta. Diawali dengan pengisian formulir pendaftaran dan pendataan berupa Surat Pemberitahuan Tagihan Pajak Daerah (SPTPD) oleh Wajib Pajak dengan jelas, lengkap, dan benar, serta ditandatangani oleh Wajib Pajak. Kemudian, petugas pajak mencatat data Wajib Pajak kedalam Daftar Induk Wajib Pajak berdasarkan nomor urut yang kemudian digunakan sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD). b. Penghitungan Penetapan Pajak Parkir
Wajib Pajak yang telah mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD), setiap awal masa pajak harus mengisi Surat Pemberitahuan Tagihan Pajak Daerah (SPTPD) harus segera diserahkan kepada Walikota selambat-lambatnya sepuluh (10) hari setelah berakhirnya masa pajak. Data yang sudah masuk akan disimpan kedalam berkas atau kartu data yang merupakan hasil akhir untuk memperhitungkan besarnya tagihan pajak dengan menerbitkan SKPD.
c. Pembayaran
Seluruh Wajib Pajak datang sendiri ke kantor DPPKA untuk membayar tagihan pajak. Dengan itu DPPKA mulai tahun 2008 membangun sendiri loket/tempat pembayaran khusus untuk Wajib
commit to user
Pajak membayar seluruh pajak daerah yang diberlakukan di Surakarta dan harus tepat waktu jika Wajib Pajak tidak ingin dibebani sanksi atas keterlambatan pembayaran.
d. Sanksi Pembayaran
Apabila SKPD yang dimaksud tidak atau kurang bayar setelah lewat waktu 30 hari sejak SKPD diterima, maka dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% setiap bulan dan ditagih dengan menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah. Sanksi yang dulu kurang digerakkan karena banyak anggota DPPKA masih melakukan proses pendekatan terhadap Wajib Pajak, mulai sekarang sudah mulai dihilangkan dan sanksi administrasi berlaku secara tegas.
2. Evaluasi Pelaksanaan Pemungutan Pajak Parkir
Menurut perbandingan antara prosedur pemungutan pajak parkir menurut Peraturan Daerah yang berlaku, dengan pelaksanaan yang ada dilapangan, maka dapat diketahui hasil evaluasi sebagai berikut:
a. Menurut Peraturan Daerah, Wajib Pajak yang menghitung,
melaporkan, dan membayar sendiri pajak yang terhutang ke DPPKA disinyalir terjadinya manipulasi data agar pajak yang terhutang tidak terlalu tinggi. Sehingga hal ini sangat berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) karena penerimaan pendapatan disektor pajak parkir menjadi berkurang.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
39
b. Manipulasi tidak hanya terjadi jika Wajib Pajak menghitung sendiri pajaknya, tetapi jika Wajib Pajak mempercayakan perhitungan kepada pihak ketiga. Pihak ketiga dapat melakukan kecurangan dengan mengurangi omset yang diterima oleh Wajib Pajak sehingga pajak yang terhutang lebih sedikit. Dengan demikian pihak ketiga dapat meraup keuntungan yang lebih banyak karena dinilai Wajib Pajak berhasil mengurangi pajak yang terhutang. Disini peran audit lapangan sangat dibutuhkan agar kecurangan-kecurangan seperti ini bisa diminimalkan atau bisa dihilangkan.
c. Wajib Pajak Parkir sudah lebih sadar akan membayar pajak parkir yang terhutang ke kantor DPPKA dengan menyediakan loket pembayaran khusus (teller) digedung DPPKA agar memudahkan para Wajib Pajak bisa melakukan sistem self assesment sehingga anggota DPPKA tidak lagi mendatangi para Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban mereka membayar pajak parkir.
d. Adanya sistem audit yang akan dilakukan oleh anggota DPPKA jika ada salah satu Wajib Pajak dalam membayar pajaknya tidak terlalu tinggi tetapi potensi pajak parkirnya dinilai sangat tinggi dengan alasan menerbitkan SKPDKB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar).
Pemberitahuan Peraturan Daerah yang dinilai sudah cukup untuk memberikan dan menyadarkan para Wajib Pajak parkir untuk
commit to user
menghitung, melaporkan, membayar sendiri pajak mereka sendiri. Sehingga bisa terlaksana dengan baik.
Kesimpulan dari evaluasi diatas, adalah kinerja DPPKA dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, sehingga sistem self assesment yang diterapkan oleh pemerintah daerah kepada Wajib Pajak Daerah dinilai mulai menunjukan perkembangan yang positif dan sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku
.
3. Efektifitas Pemungutan Pajak Parkir di Kota Surakarta
Untuk mengukur tingkat keefektivitasan pajak parkir di Surakarta,
penulis akan menghitung/membandingkan tingkat keefektifitasan
penerimaan pajak parkir dari tahun 2009 - 2011 dengan cara,
Target pajak parkir adalah target yang seharusnya dicapai oleh DPPKA dalam mengumpulkan pajak parkir. Target ditentukan oleh DPPKA melalui berbagai macam pertimbangan. DPR juga ikut menentukan target yang harus dicapai agar nantinya dapat menambah PAD. Selain itu faktor kondisi/lokasi tempat parkir Wajib Pajak, kemampuan bayar Wajib Pajak dan perilaku Wajib Pajak juga dapat memengaruhi penentuan target yang diberlakukan nantinya. Sedangkan
Realisasi Pajak Parkir Target Pajak Parkir
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
41
realisasi pajak parkir berupa hasil yang diperoleh DPPKA dalam pembayaran pajak parkir oleh Wajib Pajak.
Berikut ini penulis akan menyajikan data Target dan Realisasi Pajak Parkir di Kota Surakarta periode 2009 – 2011, sebagai berikut:
Tabel II.I
Laporan Target dan Realisasi Pajak Parkir di Kota Surakarta
Thn. TARGET REALISASI SELISIH %
2009 Rp 945.000.000 Rp 972.577.200 Rp 27.577.200 105,92%
2010 Rp 1.000.000.000 Rp 1.059.479.750 Rp 59.479.750 105,95%
2011 Rp 1.100.000.000 Rp 1.384.195.616 Rp 284.195.616 125,84%
Sumber: Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset
Berdasarkan tabel II.I diatas dapat kita lihat bahwa tingkat efektivitas pendapatan pajak parkir di Kota Surakarta semakin membaik, ditandai dengan meningkatnya target dan realisasi pajak parkir dari tahun ke tahun. Pejelasan dari tabel diatas adalah:
a. Pada tahun 2009, pihak DPPKA menargetkan penerimaan pajak parkir
ditahun ini sebesar Rp 945.000.000, tetapi dalam realisasinya target tersebut dapat dicapai dengan jumlah pendapatan sebersar Rp
commit to user
972.577.200 yang mengalami selisih Rp 27.577.200 atau dengan prosentase efektivitas sebesar 105,92%
b. Pada tahun 2010, dengan melihat penerimaan pajak parkir tahun 2009
DPPKA menaikan target menjadi Rp 1.000.000.000 dan dapat direalisasikan sebesar Rp 1.059.479.750 dengan prosentase efektivitas 105,95%.
c. Pada tahun 2011, DPPKA menaikan kembali target pajak parkir sebesar Rp 1.100.000.000 dan dapat direalisasikan sebesar Rp 1.384.5195.616 atau dengan prosentase efektivitas sebesar 125,84% Dari hasil yang telah dicapai dari ketiga tahun tersebut dapat disimpulkan bahwa Pajak Parkir merupakan salah satu pendukung Pendapatan Asli Daerah yang mempunyai tingkat keefektivitasan yang cukup bagus.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user 43
BAB III
TEMUAN
A. KELEBIHANDari penelitian/data diatas, penulis menemukan kelebihan dari sistem pemungutan pajak yang berlaku menunjukan bahwa Wajib Pajak mulai mengerti akan adanya self assesment system yang diberlakukan pemerintah daerah kepada wajib pajak. Dengan adanya sosialisasi dan panduan langsung terhadap wajib pajak yang baru mendaftar ataupun wajib pajak yang sudah lama mendaftar tetapi belum paham dengan prosedur yang berlaku sangat bermanfaat oleh wajib pajak agar lebih mengerti tentang sistem pemungutan yang berlaku. Sistem memungut, melapor, serta membayar sendiri pajak yang terhutang lambat laun akan terlakasana sendiri jika tingkat pengetahuan dan sosialisasi terhadap wajib pajak didapatkan dengan jelas oleh petugas – petugas yang bersangkutan. Dengan pengetahuan wajib pajak yang berkembang DPPKA harus berusaha menyediakan fasilitas – fasilitas yang menunjang untuk wajib pajak mengurus kewajiban wajib pajak dalam pembayaran pajak terhutang.
commit to user B. KELEMAHAN
Dari penelitian/data yang disajikan diatas penulis menemukan sejumlah kelemahan yang ada di DPPKA dalam penarikan pajak parkir. 1. Proses penentuan target untuk penerimaan target pajak parkir dinilai
kurang, karena terlalu banyak pertimbangan yang dilakukan. Sehingga dari tahun ke tahun target yang ditentukan tidak mengalami perubahan yang cukup drastis.
2. Kurangnya pegawai dalam melayani Wajib Pajak dibidang pembayaran yang kurang, karena semua pajak daerah dilakukan dalam satu loket dengan anggota yang kurang memadai.
3. Sanksi yang diberikan masih kurang tegas dalam penyampaian, sehingga Wajib Pajak kurang merasa membayar pajak adalah suatu kewajiban mereka sebagai Wajib Pajak yang harus menaati peraturan. Walaupun jumlah Wajib Pajak yang membayar tepat waktu meningkat, tetap masih dinilai kurang maksimal.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user 45
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULANPenulis dapat menyimpulkan bahwa sistem pemungutan pajak parkir yang berada di Kota Surakarta ini kian tahun kian meningkat. Terbukti dengan naiknya pendapatan disegi pajak parkir tersebut. Dengan meningkatnya kesadaran para wajib pajak serta usaha para anggota DPPKA untuk menyadarkan wajib pajak mulai menunjukan hasil yang maksimal. Dengan aturan yang diberlakukan oleh pemerintah, para Wajib Pajak pun telah mengikuti prosedur – prosedur yang ada dalam pembayaran pajak parkir. Sistem self assesment yang dari dulu telah diberlakukan mulai menunjukan hasilnya. Prosedur – prosedur sudah dilakukan dengan baik dan sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh peraturan daerah yang berlaku.
Tingkat keefektivitasan pemungutan pajak ini juga menujukan perkembagan yang signifikan. Bisa dilihat pada tahun 2009 – 2011 yang menunjukan target serta realisasi pendapatannya meningkat. Tidak dengan jumlah yang sedikit, melainkan menurut penulis menunjukan jumlah yang cukup besar, tidak heran jika pajak parkir di Kota Surakarta menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Surakarta.
commit to user B. REKOMENDASI
Dari penelitian diatas, penulis dapat menyarankan kepada petugas
terkait untuk lebih memaksimalkan kembali kinerjanya. Seiring
berkembangnya pengetahuan Wajib Pajak dalam melakukan kewajiban perpajakannya fasilitas yang disediakan agar lebih ditingkatkan. Loket-loket yang disediakan dinilai kurang memadai terutama pada masa pembayaran pajak, dengan banyaknya Wajib Pajak dan jenis pajak yang harus dilayani. Karena tidak hanya pajak parkir yang harus dilayani di DPPKA tetapi pajak restoran, pajak hotel, pajak reklame, dll.
Proses audit yang diberlakukan mulai menunjukan hasilnya, tetapi dinilai kurang tegas. Masih banyak Wajib Pajak yang bersikap tidak jujur dalam menghitung pajaknya. Dengan adanya sanksi-sanksi yang diberlakukan seharusnya Wajib Pajak lebih sadar dengan kewajiban mereka sebagai Wajib Pajak yang harus menaati peraturan pajak sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.