BAB II : Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Pemilik Tanah Yang
A. Pengertian Tanah Yang Belum Bersertifikat
Tanah yang belum bersertifikat adalah tanah adat yang belum didaftarkan ke Kantor Badan Pertanahan Negara. Menurut UUPA, seluruh tanah yang belum bersertifikat (termasuk juga tanah girik) harus didaftarkan konversi haknya ke negara melalui Kantor Pertanahan setempat. Kemudian, dijadikan salah satu jenias hak yang terdapat di dalam UUPA, yaitu Hak Gendong menjadi Hak Milik, Hak Erpacht menjadi Hak Guna Usaha, Hak Opstaal menjadi Hak Guna Bangunan, Hak Pakai, dan lainnya.
UUPA menentukan suatu kepemilikan hak atas tanah wajib dibuktikan dengan sertifikat. Misalnya, jika seseorang mengklaim sebagai pemilik sebuah laha, maka ia harus membuktikannya dengan Sertifikat Hak Milik (SHM). Jenis hak atas tanah cukup bervariasi, seperti Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha dan Hak Pakai. Masing-masing hak atas tanah tersebut memiliki jenis sertifikatnya masing-masing.
Sertifikat hak atas tanah berfungsi sebagai alat pembuktian yang kuat dalam membuktikan kepemilikan hak atas tanah. Sertifikat menjamin secara hukum bahwa orang yang tercantum dalam sertifikat hak atas tanah merupakan
pemilik haknya.35 Untuk mendapatkan sertifikat harus melakukan pendaftaran tanah, pendaftaran tanah sangat penting dilakukan karena untuk menjamin kepastian hukum dan perlindungan hukum dan dilakukan untuk kepentingan masyarakat dan pemerintah.36 Dengan adanya kepastian hukum tersebut, maka pemegang sertifikat mendapatkan perlindungan hukum dari gangguan pihak lain.
Namun tidak semua lahan di Indonesia telah bersertifikat. Di beberapa daerah, bahkan di kota besar pula, masih ada masyarakat yang menguasai tanah yang belum bersertifikat sebagaimana dimaksud dalam UUPA. Menurut Maria S.W. Sumardjono, dari 55 juta budang tanah yang ada di Indonesia, baru 30%
yang telah memiliki sertifikat. Tanah-tanah tersebut umumnya masih dikuasai dengan hak-hak lama, tanah yang dikuasai dengan hak lama ini dapat berasal dari tanah hak adat, seperti girik, petok D atau ketitir. Selain berasal dari tanah hak adat, tanah hak-hak lama bisa juga berasal dari tanah hak milik barat, seperti eigendom, erfpacht, dan opstaal.
Di dalam UUPA terdapat Ketentuan Konversi yang menyebutkan bahwa semua tanah dengan hak barat dan tanah dengan hak adat harus di konversi menjadi hak atas tanah yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan UUPA.
Ketentuan Konversi ini berlaku sampai dengan tahun 1980, ini berarti bahwa batas waktu masyarakat untuk mengkonversi hak atas tanahnya dari hak barat atau adat menjadi hak atas tanah yang diakui yaitu hanya sampai tahun 1980, setelah tahun 1980 tanah-tanah dengan status hak barat dan hak adat yang belum juga di
35 J. Andy Hartanto, Hukum Pertanahan Karakteristik Jual Beli Tanah Yang Belum Terdaftar Hak Atas Tanahnya, (Surabaya, Laksbang Justitia, 2014), hlm.103.
36 Made Handika Putra, I Ketut Sukadana dan Luh Putu Suryani, Jual Beli Hak Milik Atas Tanah Yang Belum Bersertifikat, vol.1, No.3, 2019,hlm.374.
konversi, maka berdasarkan ketentuan pemerintah maka tanah tersebut menjadi tanah negara. Tanah negara adalah tanah yang dikuasai negara, tetapi pemilik aslinya masih dapat untuk mendapatkan haknya dengan syarat-syarat tertentu yang ditentukan oleh Pemerintah.37
Hak atas tanah yang tidak di Konversi kemudian menjadi tanah Negara maka dalam kenyataannya fisik tanah tersebut masih dikuasai oleh pemilik aslinya. Tanah dengan kondiri demikian tidak mempunyai bukti kepemilikan yang sah atau yang diakui negara. Umumnya bukti kepemilikan tanah-tanah tersebut adalah bukti-bukti lama yang masih tersimpan oleh perangkat desa setempat.
Bukti yang bisa ditunjukan oleh pemilik tanah tersebut umumnya berupa Letter C, Petuk, atau Girik. Pemilik tanah dengan kondisi tersebut umumnya baru akan mendaftarkan hak atas tanahnya ketika mereka terpaksa untuk mendaftarkannya, misalkan tanah tersebut akan dijadikan jaminan/ akan dibebani jaminan, kemudian ketika tanah itu akan dilakukan pemecahan karena pewarisan. Dengan adanya kepentingan-kepentingan tersebut barulah pemilik tanah akan mendaftarkan tanah tersebut untuk dibuatkan sertifikat.38
Secara hukum, tanah yang belum bersertifikat, misalnya tanah girik atau tanah berdasarka Surat Keterangan Tanah (SKT) atau sekarang disebut dengan Surat Keterangan Penguasaan Tanah (SKPT) dari Kelurahan dan Kecamatan, dengan keberadaan girik yang digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai alat bukti kepemilikan hak atas tanahnya sebenarnya bukan merupakan bukti kepemilikan hak atas tanah tetapi hanya merupakan alat bukti pembayaran pajak
37 Muhammad Wildan, Nuridi, dan Imam Asmarudin, Perlindungan Hukum Atas Jual Beli Hak Atas Tanah Yang Belum Bersertifikat, vol.8, No.1, 2020,hlm.73.
38 Ibid., hlm.74.
atas tanah adat atau tanah garapan, atau bukti bahwa atas tanah tersebut telah terdaftar sebagai objek pajak dan dengan demikian harus dibayar pajaknya.39 Karena menurut UUPA, kepemilikan tanah harus dikuasai oleh suatu hak atas tanah berdasarkan sertifikat, maka dengan demikian surat girik tidak dapat dipersamakan dengan sertifikat hak atas tanah. Kedudukan sertifikat hak atas tanah lebih tinggi dibandingkan surat girik atau SKPT.
Jika tanah yang dikatakan sebagai hak milik namun tidak memiliki bukti sertifikat hak atas tanah, maka tanah tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hak milik melainkan dapat dikatakan sebagai tanah dengan status hak pakai, karena setelah diundangkannya UUPA maka sevata serempak semua hak-hak atas tanah wajib untuk didaftarkan pada Badan Pertanahan Nasional (BPN). Jadi penguasaan fisik tanah selama turun-menurun, tetapi tidak memiliki bukti hukum bukanlah merupakan hak milik, melainkan hanya sebagai hak pakai untuk mengelola tanah yang bersangkutan. Jika pemegang hak tersebut ingin menguatkan status tanah tersebut menjadi hak milik, maka harus didaftarkan pada BPN sesuai dengan PP No.24 Tahun 1997. Jadi semua hak-hak atas tanah baik itu hak atas tanah yang baru maupun hak atas tanah yang berasal dari masa pemerintahan Belanda harus didaftarkan dan dikonversi menjadi hak milik. Begitu pula dengan hak atas tanah yang didapat dengan transaksi jual beli atau bekas tanah-tanah adat haruslah didaftarkan guna mendapatkan bukti sertifikat tanah.
Ketika tanah-tanah tersebut telah memiliki bukti sertifikat hak milik, maka barulah tanah itu berubah status menjadi tanah milik dari pemegang hak. Jadi
39 Abdul Jabar, Kekuatan Hukum Surat Girik Terhadap Penguasaan Hak Atas Tanah Dalam Hukum Agraria Nasional, Vol. 10, N0. 10, 2018, hlm.119.
tanah yang belum bersertifikat hanya memberikan ruang hak kepada orang yang menguasai tanah tersebut untuk memiliki tetapi belum dapat dikatakan sebagai hak milik. Dengan demikian sertifikat adalah surat tanah yang keabsahannya paling tinggi dan paling kuat sebagai dokumen kepemilikan lahan.40