BAB II : Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Pemilik Tanah Yang
C. Penguasaan Terhadap Tanah Yang Belum Bersertifikat
Sertifikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis, sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan, artinya bahwa hukum hanya memberikan jaminan atas bukti hak kepemilikan tersebut kepada seseorang, dan bukti ini tidak satu-satunya sebagai bukti, hanya sebagai alat bukti yang kuat saja.70 Sertifikat hak atas tanah bukan merupakan satu-satunya alat bukti yang bersifat mutlak, justru sebaliknya baru merupakan alat bukti awal yang setiap saat dapat digugurkan pihak lain yang terbukti memang lebih berwenang.71
Girik bukan merupakan tanda bukti kepemilikan hak atas tanah, namun semata-mata hanyalah merupakan bukti pembayaran pajak-pajak atas tanah, dengan demikian, apabila di atas bidang tanah yang sama, terdapat klaim dari pemegang girik dengan klaim dari pemegang surat tanda bukti hak atas tanah (sertifikat), maka pemegang sertifikat atas tanah menurut hukum akan memiliki klaim hak kebendaan yang lebih kuat. Namun demikian, persoalan tidak sesederhana itu. Dalam hal proses kepemilikan surat tanda bukti hak atas tanah
70 Muhammad Yamin Lubis dan Abdul Rahim Lubis, Op.cit., hlm.104.
71 Moch Insani, Benda Terdaftar Dalam Konstelasi Hukum Indonesia, vol.7, No.
13,2000,hlm.56.
melalui hal-hal yang bertentangan dengan hukum, maka akan berpotensi untuk timbulnya permasalahan/ konflik pertanahan.72
Didalam konsep hukum sebutan “menguasai” atau dikuasai dengan dimiliki ataupun kepunyaan dalam konteks yuridis mempunyai arti/makna berbeda dan menimbulkan akibat hukum yang berbeda pula. Arti dikuasai tidak sama dengan pengertian dimiliki. Jika menyebutkan tanah tersebut dikuasai atau menguasai dalam arti “possession” makna yuridisnya adalah tanah tersebut dikuasai seseorang secara fisik dalam arti factual digarap, dihuni, namun belum tentu bahwa secara yuridis dia adalah pemilik atau yang mempunyai tanah tersebut. Demikian juga bila menyebutkan bahwa tanah tersebut dimiliki atau kepunyaan dalam arti “Ownership” dalam pengertian yuridis, maka dapat diartikan bahwa tanah tersebut secara yuridis merupakan tanah milik atau kepunyaan, namum bukan berarti juga dia secara fisiki menguasai tanah tersebut, karena mungkin adanya hubungan Kerjasama atau kontraktual tertentu.73
Pengertian tentang “penguasaan” dan “menguasai” hal ini dapat dipakai dalam arti fisik, dan juga dalam arti yuridis. Pengertian penguasaan yuridis dilandasi hak yang dilindungi oleh hukum dan umumnya memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik tanah yang dihaki.74 Pengertian penguasaan dan menguasai tersebut dipakai dalam arti perdata dalam UUD 1945 dan UUPA pengerti “dikuasai” dan “menguasai” dipakai dalam arti publik, seperti yang dirumuskan dalam Pasal 2 UUPA. Pengertian yuridisnya
72 Maria Farida Naibaho, Op.cit., hlm.3.
73 Ibid, hlm.4-5.
74 Suhariningsih, Tanah Terlantar, Asas dan Pembaharuan Konsep Menuju Penertiban, (Jakarta, Prestasi Pustaka Publisher,2009),hlm.66.
yang beraspek perdata, terdiri atas hak tanah seperti Hak Milik (Pasal 20), Hak Guna Usaha dan Hak Jaminan atas tanah yang disebut hak tanggungan (Pasal 23, 33, 39, dan 51). Sedangkan hak menguasai negara yang sifatnya hukum publik merupakan hak menguasai negara yang meliputi semua tanah tanpa ada terkecualinya.75
Sedangkan penguasaan secara yuridis, biarpun memberi kewenangan untuk menguasai tanah yang dihaki secara fisik, pada kenyataannya penguasaan fisiknya dikuasai oleh pihak lain. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki tanah tidak memperugunakan tanahnya sendiri akan tetapi disewakan kepada pihak lain.
Dalam hal ini secara yuridis tanah tersebut dimiliki oleh pemilik tanah akan tetapi secara fisik dilakukan oleh penyewa tanah. Ada juga penguasaan secara yuridis yang tidak memberi kewenangan untuk menguasai tanah yang bersangkutan secara fisik. Sebagai contoh, kreditor (bank) pemegang hak jaminan atas tanah mempunyai hak penguasaan yuridis atas tanah yang dijadikan agunan (jaminan) akan tetapi secara fisik penguasaannya tetap ada pada pemegang hak atas tanah.
Penguasaan yuridis yang beraspek publik, yaitu penguasaan atas tanah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan Pasal 2 UUPA.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah, Pasal 1 sub 2 mendefinisikan penguasaan tanah adalah hubungan antara orang perorangan, kelompok masyarakat atau badan hukum dengan tanah sebagimana dimaksud dalam UUPA.
75 Maria Farida Naibaho, Op.cit.,hlm.12.
Hak penguasaan atas tanah berisi serangkaian wewenang, kewajiban, dan atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki, sesuatu yang boleh, wajib, atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan itulah yang menjadi kriterium atau tolak ukur pembeda di antara hak-hak penguasaan atas tanah yang diatur dalam hukum tanah.
Setiap orang membutuhkan penguasaan meskipun hanya sementara dan tak menentu atas Sebagian dari permukaan bumi yaitu tanah beserta hasil produksinya, secara langsung ataupun tidak langsung.76
Jika ada hak seseorang atas tanah harus di dukung oleh bukti hak, dapat berupa sertifikat, bukti hak terteulis non sertifikat dan/atau pengakuan/ keterangan yang dipercayai kebenarannya.77 Jika penguasaan atas tanag dimaksud hanya didasarkan atas kekuasaan, arogansi atau kenekatan semata, pada hakekatnya penguasaan tersebut sudah melawan hukum.78
Pendaftaran tanah yakni suatu rentetan aktivitas dari pemerintah yang dilakukan terus-menerus, berkelanjutan, berkesinambungan serta teratur, dimana mencakup pengumpulan maupun pengolahan data serta juga penyajian-penyajian data fisik maupun data yuridis, yang berbentuk peta dan juga daftar terkait dalam bidang-bidang tanah, satuan rumah susun, termasuk pe,berian sertifikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya, ataupun hak milik stauan rumah susun serta hak-hak tertentu yang
76 Ibid, hlm.11.
77 Tampil Anshari Siregar, Mempertahankan Hak Atas Tanah, (Medan, Multi Grafik,2005),hlm.3.
78 Maria Farida Naibaho, Op.cit.,hlm.11.
membebaninya.79 Ditegaskan pula pada Pasal 19 ayat (1) UUPA menyatakan
“untuk menjamin kepastian hukum atas tanah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan yang diatur dengan peraturan pemerintahan.”
Pendaftaran yang mana dikerjakan secara sistematik merupakan suatu kegiatan dimana di dalam pendaftaran tanahnya untuk yang pertama kalinya diadakan bersamaan dan meliputi seluruh obyek pendaftaran tanah yang belum didaftarkan dalam suatu wilayah desa ataupun kelurahan sedangkan pendaftaran tanah dengan cara sporadik dilakukan atas permintaan pihak ataupun orang yang mempunyai kepentingan. Pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan atas permintaan yang berkepentingan atau orang yang mempunyai tanah secara individual atau massal. Pendaftaran secara sporadik dibagi menjadi 2 (dua) bagian yakni ada sukarela yang artinya pihak yang bersangkutan belum adanya kewajiban didalam mendaftarkan tanahnya jika yang bersangkutan tidak ada sangkut paut didalam suatu perbuatan hukum, dan hanya ada unsur/niat dari diri sendiri untuk mendaftarkan tanahnya karena pentingnya kegunaan sertifikat tanah tersebut sehingga apabila yang bersangkutan melakukan perbuatan hukum dapat dengan mudah melakukan perbuatan tersebut.80
79 A.P. Parlindungan, Pendaftaran Tanah Di Indonesia, (Bandung, Mandar Maju, 2009),hlm.17.
80 Ayu Larasari, Peralihak Hak Atas Tanah Dengan Perjanjian Jual Beli Menurut Hukum Pertanahan Indonesia, vol.1, No.1,2020, hlm.130-131.
Tetapi dalam kenyataannya, masih banyak tanah yang belum mendaftarkan hak atas tanahnya kepada Kantor Pertanahan, khususnya tanah yang berada di pedesaan. Dikarenakan minimnya sosialisasi pemerintah terhadap masyarakat pedesaan membuat pemegang hak atas tanah yang berada di pedesaan tersebut menganggap tidak begitu penting mendaftarkan hak atas tanah miliknya selagi tidak ada melakukan perbuatan hukum yang memaksanya untuk melakukan pendaftaran tanah.
Walaupun tanah tersebut berada di pedesaan maupun diperkotaan tetaplah harus didaftarkan ke badan pertanahan agar mendapatkan sertipikat tanah sebagai alat bukti yanng kuat, bukan berarti juga bahwa pemilik hak yang telah mendaftarkan tanahnya dan mendapatkan sertipikat tanah merupakan pemegang hak mutlak tanah tersebut mengingat yang dipakai sistem publikasi oleh pendaftaran tanah negara kita yakni sistem publikasi negatif yang berarti sertipikat bukan alat bukti yang absolut akan tetapi alat bukti yang kuat, secara tidak langsung memberi tahu kepada semua pemegang hak bahwa sertipikat yang diterbitkan bukan alat bukti yang dimana tidak bisa kita ganggu gugat, justru sertipikat tersebut boleh dibatalkan jikalau nantinya pihak lain dapat membuktikan data yang ada tidak benar.81 Oleh karenanya pemegang hak atas tanah harus mendaftarkan tanahnya agar memperoleh hak yang kuat, apalagi pendaftaran hak-hak konversi lama yang ingin melakukan pembuktian hak-hak lama dengan menggunakan alat bukti tertulis, penjelasan saksi dan lainnya akan tetapi bukti-bukti tersebut tidak lagi tersedia atau tidak lengkap. Hal inilah yang
81 Baiq Henni Paramita Rosandi, Akibat Hukum Jual Beli Hak Atas Tanah Yang Belum Didaftarkan, vol.4, No.3,2016, hlm.426.
cukup membuat sulit dalam melakukan pembukuan hak walaupun pembukuan hak ini bisa dikerjakan yang didasarkan atas kenyataan pengusaan fisik bdang tanah yang sesuai dijelaskan pada pasal 24 ayat 2 PP Nomor 24 tahun 1997.82
Pendaftaran hak atas tanah didasarkan kepada bukti formil dan bukti materil. Surat digolongan sebagau bukti formil. Namun bukti surat saja tidak sepenuhnya kuat membutkikan adanya hak atas tanah. Agar sempurna, suatu hak atas tanah harus memenuhi bukti mayeril berupa penguasaan fisik tanah.
Pemegang surat hak atas tanah tanpa menguasai fisik tanah selama bertahun-tahun, secara hukum haknya dapat gugur karena status tanah menjadi tanah terlantar. Menurut UUPA, tanah terlantara sebagai salah satu sebab hapusnya hak atas tanah, sedagkan seseorang yang menguasai fisik tanah selama bertahun-tahun dan secara terus-menerus dengan beritikad baik dapat menyampaikan permohonan untuk diberikan hak baru atas tanah tersebut.
Pada Pasal 24 ayat (2) PP No. 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, yang menyebutkan “Dalam hal tidak atau tidak lagi tersedia secara lengkap alat-alat pembuktian sebagaomana dimaksud pada ayat (1), pembukuan hak dapat dilakukan berdasarkan kenyataan penguasaan fisik bidang tanah yang bersangkutan salam 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut oleh pemohon pendaftaran dan pendahulu-pendahulunya, dengan syarat :
a. Penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara terbuka oleh yang bersangkutan sebagai yang berhak atas tanah, serta diperkuat oleh kesaksian orang yang dapat dipercaya;
82 Fredrick Mayore Saranaung, Peralihan Hak Atas Tanah Melalui Jual Beli Menurut Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, vol. 6, No.1,2017,hlm.15.
b. Penguasaan tersebut baik sebelum maupun selama pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 tidak dipermasalhkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan ataupun pihak lainnya.”
Dengan yang telah disebutkan isi dari Pasal 24 ayat (2) tersebut, ditergaskan bahwa seseorang yang menguasai fisik tanah selama kurun waktu 20 (dua puluh) tahun secara terus-menerus dapat mendaftarkan diri sebagai pemegang hak atas tanah tersebut.
Maksud dari penguasaan fisik secara beritikad baik dan terbuka adalah penguasaan fisik yang tidak didasarkan kepada tipu daya dan kebohongan, dimana orang yang menguasai fisik tanah tersebut tidak pernah mendapat komplain atau gangguan atau gugatan dari pihak manapun selama kurun waktu tersebut yang telah disebutkan di atas. Jika ada yang mengkomplain atau mendapat gangguan ataupun gugatan dari pihak manapun, maka Pasal ini tidak dapat dijadikan dasar untuk diberikannya hak baru.
D. Perlindungan Hukum Terhadap Pemilik Tanah Yang Belum