Di dalam kehidupan manusia tentu tidak akan lepas dari suatu hal yang telah berlalu, masa lalu, sejarah (Past). Setiap manusia pasti memiliki sejarah. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan yang dijalani untuk saat ini dan untuk masa yang akan datang, dengan kejadian masa lalu manusia senantiasa belajar dari kesalahan yang dibuatnya di masa lalu dan kemungkinan dapat diperbaikai di masa yang akan datang(Future).
Pemilihan konsep mengalir yang berkaitan dengan museum sebagai objek studi memiliki keterkaitan dengan tema dalam
perancangan. Tema yang di angkat pada perancangan adalah “Past to future”. Masa lalu menuju masa yang akan datang tema tersebut sangat berkaitan dengan citra museum, museum adalah tempat belajar sejarah untuk perkembangan bangsa yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Past artinya masa lalu, bekas, lewat, yang telah berlalu. Past selalu berkaitan dengan sejarah Istilah “sejarah” berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata “syajaratun”
(dibaca” syajarah), yang memiliki arti “pohon kayu”. Pengertian “pohon kayu” disini adalah adanya suatu kejadian, perkembangan/pertumbuhan tentang sesuatu hal (peristiwa) dalam suatu kesinambungan (kontinuitas). Selain itu ada pula peneliti yang menganggap bahwa arti kata
“syajarah” tidak sama dengan kata“sejarah”, sebab sejarah
bukan hanya bermakna sebagai “pohon keluarga” atau
asal-usul atau silsilah. Walaupun demikian diakui bahwa ada hubungan antara kata “syajarah” dengan kata “sejarah”, seseorang yang mempelajari sejarah tertentu berkaitan dengan cerita, silsilah, riwayat dan asal-usul tentang seseorang atau kejadian (Sjamsuddin, 1996: 2). Dengan demikian pengertian “sejarah” yang dipahami sekarang ini dari alih bahasa Inggeris yakni “history”, yang bersumber dari bahasa Yunani Kuno “historia” (dibaca “istoria”) yang berarti “belajar dengan cara bertanya-tanya”. Kata “historia” ini diartikan sebagai pertelaan mengenai gejala-gejala (terutama hal ikhwal manusia) dalam urutan kronologis
Future artinya dalam bahasa indonesia masa depan, keakanan, seterusnya, yang akan datang.
4.1. Peraturan Pemerintah (RTRW) 4.1.1. Peruntukan Lahan
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung lokasi tapak masuk dalam kawasan pendidikan dan jasa hal tersebut senada dengan fungsi museum yaitu pendidikan
4.1.2. Garis Sepadan Bangunan
Untuk aturan sepadan bangunan, berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung 2011 – 2031 adalah sebaga berikut :
Lokasi
Gambar 4.1.1
Peta Rencana Pola Ruang Sumber : RTRW Kota Bandung
Menurut Tabel di atas GSB minimum mempertimbangkan aspek keselamatan dan perlindungan atas kebisingan; atau GSB minimum = ½ x lebar rumija ( ruang milik jalan ). Total lebar rumija jalan soekarno-hatta adalah 45 m x ½ = 22,5 meter.
4.2. Analisis Kawasan
Pemilihan lokasi mempertimbangkan banyak hal salah satunya adalah tentang kepadatan aktifitas di dalam kota yang tidak merata. Aktifitas kota Bandung untuk saat ini yang banyak dipadati baik oleh rutinitas harian kota atau pun aktifitas wisata dalam kota. Ketidak merataan aktifitas tersebut berdampak pada Kota Bandung itu sendiri, contohnya jalan-jalan pusat kota yang telah dipadati oleh kendaraan bermotor sehingga kepadatan atau kemacetan sering timbul. Atas dasar ketidak merataan tersebut pilihan yang tersisa adalah mengarah pada kota Bandung bagian timur. hal tersebut dikarenakan kota Bandung bagian timur jarang didatangi oleh wisatawan hanya sebagai tempat persinggahan wisatawan yang datang dari luar kota Bandung, Sehingga kepadatan kendaraan jarang terjadi karena memiliki lebar jalan yang cukup untuk nenampung ribu kendaraan setiap harinya.
Gambar 4.1.2
Tabel rencana tata wilayah lingkungan Sumber : RTRW Kota Bandung
Penunjang Area Kawasan sekitar Tapak radius 5 km
Gambar 4.2.1
Gambar satelit Kota Bndung bagian timur Sumber : google maps
Gambar 4.2.2
Peta area sekitar Tapak Sumber : Data Pribadi
POLDA JABAR
Site bersebelahan dengan kantor polisi POLDA JABAR maka site dapat terawasi langsung oleh petugas kepolisian tersebut. selain itu polisi dapat langsung memberi penyuluhan terhadap siswa yang menggunakan sarana taman lalu lintas yang ada dalam tapak.
Mall
Metro Trade Centre adalah Mall yang paling dekat dengan site karena berjarak 5 km. mall adalah salah satu daya tarik wisata untuk sebuah wilayah.
Rumah Sakit
Terdapat 2 Rumah sakit dalam radius 5 km yaitu :
Rumah Sakit Ujung Berung dan Rumah Sakit Al-Islam jika terjadi insiden yang tidak diinginkan terjadi di dalam site maka dapat dengan cepat korban di larikan ke rumah sakit.
Perumahan
Dalam radius 5 km banyak perumahan dan permukiman warga antara lain: Margahayu Raya, Pinus regensi, Riung Bandung Permai, Bumi Panyileukan, Geriya Campaka Arum, Bumi Adipura dan lainnya sebagainya.
Stadion GBLA (Gelora Bandung Lautan Api)
Stadion bertaraf internasional ini berada sangat dekat dengan lokasi site yaitu berjarak kurang lebih 2,5 km daya tarik yang luar biasa saat pertandingan dapat berpengaruh besar terhadap tapak untuk lebih dikenal.
Isu-Isu yang Berkembang
Berikut ini beberapa penjabaran tentang isu-isu yang berkembang di kawasan tapak.
Bandung Teknopolis Gedebage
adalah upaya pemerintah untuk mengembangkan suatu wilayah kota menjadi lebih baik lagi. Rencana teknopolis seluar 800 Ha direncanakan sebagai white collar city, yaitu tempat riset dan berkumpulnya perusahaan global yang mencakup empat bisnis digital media, biopolis, kreatid, dan science
Gambar 4.2.3
Gambaran Isu-isu yang berkembang diarea kawasan tapak Sumber : Data Pribadi
Gambar 4.2.4 Bukti keseriusan Pemerintah
Pemerintahan Pindah Ke Gede Bage
Rencana tersebut tertuang dalam butir Rencana Pembangunan Jangaka Menengah Daerah (RPJMD) kora bandung 2014 - 2018. pemindahan balai kota tersebut dilakukan demi mengurai kemacetan yang kerap terjadi di pusat kota bandung.
Gambar 4.2.5
Rencana pemerintah Bandung pindah Sumber : tempo.com
Pembukaan Gerbang Tol Gedebage
Rencana tersebut tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah ( RTRW ) 2011-2031.
Dibangunnya Monorel
Rencana tersebut telah ditandatangani oleh Gubernur Jawa Barat dan Walikota Bandung pada tahun 2014.
4.2.1. Analisis Tapak
Aksesbilitas : aksesbilitas menuju kawasan terbilang sangat mudah karena berada pada jalan utama kota Bandung yaitu Soekarno-Hatta. Jika dari arah pusat kota bandung dapat di tempuh melalui jalan Soekarno-Hatta dan Jalan A. H. Nasution menuju ke Gede Bage. Jika dari Jakarta ada dua alternatif pilihan jalan yaitu dapat keluar dari pintu tol cileunyi - kearah cibiru – jl Soekarno Hatta Gede Bage. Dan dapat juga keluar melalui pintu tol Buah Batu menuju Jalan Soekarno Hatta lalu ke arah Gede Bage.
Gambar 4.2.6
Gambar satelit Kota Bndung bagian timur Sumber : Modifikasi pribadi
Kebisingan dan Orientasi
Kebisingan terbesar yaitu berasal dari jalan Soekarno Hatta di mana jalan tersebut adalah jalan utama yang menghubungkan kota Bandung dengan Kabupaten Bandung timur, di mana jalan tersebut gunakan untuk berangkat bekerja, sekolah dan lainnya. dalam Orientasi disesuaikan dengan keadaan tapak yaitu berorientasi terhadap jalan Soekarno Hatta sebagai jalan utama yang berada di kawasan tapak.
Cahaya Matahari
Tapak sebagian besar menghadap kearah barat dan timur. sehingga sangat berpengaruh terhadap desain bangunan yang dibuat baik itu penempatan bukaan yang benar atau dengan cara-cara desain yaitu penggunaan sun shading atau penghalau cahaya matahari yang berlebih masuk ke dalam bangunan.
View
Bagian yang paling baik dalam tapak adalah mengarah kearah selatan karena terdapat sawah yang dapat dijadikan sumber pemandangan bagi tapak dengan menggunakan desain bangunan yang baik.
Vegetasi
Di dalam tapak Tumbuhan yang tumbuh hanya rumput liar tidak terdapat pohon, vegetasi berupa pohon hanya terdapat di bagian jalan Soekarno hatta
4.2.2. Analisis Lingkungan Lahan
Tanah yang berada di dalam tapak yaitu berupa tanah urugan yang telah lama didiamkan sehingga sangat setabil jika digunakan sebagai bangunan.
Kondisi Sekitar
kondisi sekitar tapak sangat beragam karena berada dalam lahan perkotaan yang cenderung memiliki profesi yang berbeda-beda. Sebelah timur tapak merupakan perumahan taman cipadung indah, Sebelah barat berupa kantor POLDA JABAR, sebelah selatan berupa lahan persawahan, dan sebelah utara berupa pabrik industri dan bengkel.
4.3. Program Ruang
Kebutuhan ruang yang dibutuhkan dalam perancangan kawasan. Pembagian menurut derajat kepentingan dan indikator pengguna terhadap setiap ruang yang ada.
Gambar 4.2.8
Sebelah timur tapak Sumber : Data Pribadi
Gambar 4.2.7
Sebelah Barat Tapak Sumber : Data Pribadi
Gambar 4.2.10
Sebelah utara tapak Sumber : Data Pribadi
Gambar 4.2.9
Sebelah selatan tapak Sumber : Data Pribadi
Karena terdapat kebutuhan ruang yang hanya bisa diakses oleh beberapa dan jenis kelamin tertentu. Ruang yang dibutuhkan meliputi kebutuhan dari bangunan utama dan bangunan utilitas. Luas seluruh area adalah 34. 064 m2 dan KDB kawasan sebesar 50% sehingga luas lantai dasar maksimal seluas 17. 032 m2.
Berikut rincian bangunan baru yang diisukan untuk memenuhi kebutuhan dalam perancangan museum otomotif indonesia.
NO NAMA RUANG LUAS
RUANG LUAS RUANG M2 TOTAL RUANG M2 PENGGUNA
1 EKSHIBITION 2 1.141 + 405 1.546 Anak s/d Dewasa
2 R. SIMULATOR 1 700 700 Anak s/d Dewasa
3 R. MESIN 1 250 250 Anak s/d Dewasa
4 R. FILM 1 105 105 Anak s/d Dewasa
5 R. KESEHATAN 1 10 10 Anak s/d Dewasa
6 R. IBU ANAK 1 14 14 Anak dan wanita
7 R. MEROKOK 1 14 14 Anak s/d Dewasa
8 MUSHOLA 2 47 + 15 72 Anak s/d Dewasa
9 TOILET 2 30 + 8 38 Anak s/d Dewasa
10 TAMAN DALAM 2 40 + 40 80 Tidak diakses
11 R. KARYAWAN 1 167 167 Anak s/d Dewasa
12 LOADING DOCK 1 35 35 PENGELOLA
13 PANTRI 1 13 13 PENGELOLA
14 RUANG TAMU 1 30 30 Anak s/d Dewasa
15 R. CCTV 1 7 7 PENGELOLA 16 R. KEAMANAN 1 7 7 PENGELOLA 17 R. TANGGA ESKALATOR 2 55 + 35 90 Anak s/d Dewasa 18 JANITOR 2 2 + 4 6 PENGELOLA
19 R. DIECAST 1 304 304 Anak s/d Dewasa
20 R.
PENGECETAN MOBIL
1 170 170 Anak s/d Dewasa
21 SIRKUIT TAMIA 1 120 120 Anak s/d Dewasa
22 R. DUDUK 2 267 + 268 535 Anak s/d Dewasa
23 R. FRAME 1 545 545 Anak s/d Dewasa
24 R. PROTOTYPE 1 950 950 Anak s/d Dewasa
25 SOUVENIR SHOP 1 395 295 Anak s/d Dewasa 26 R. RC 1 120 120 Anak s/d Dewasa 27 R. WUDLU + DUDUK 1 37 37 Anak s/d Dewasa
NO NAMA RUANG LUAS
RUANG M2 JUMLAH RUANG TOTAL RUANG M2 PENGGUNA
1 PARKIR MOTOR 1 1.345 1.345 Anak s/d Dewasa
2 PARKIR MOBIL 3 1.788 5.364 Anak s/d Dewasa
3 SHOW OFF 1 1.290 1.290 Anak s/d Dewasa
4 R. POMPA AIR 1 68 68 PENGELOLA
5 R. PANEL 1 40 40 PENGELOLA
6 R. GENSET 1 90 90 PENGELOLA
7 LIFT 5 7 35 Anak s/d Dewasa
8 TANGGA 5 11 55 Anak s/d Dewasa
9 RAM 8 57 456 DEWASA
Tabel 4.3.1
Kebutuhan ruang GEDUNG BASEMEN
5.1. Konsep Dasar
Konsep dasar museum otomotif indonesia adalah bagaimana menghadirkan sebuah ide, yang dapat meimplementaikan gagasan tema kedalam rancangan dengan berbagai konsep rancangan yang tetap berhubungan dengan Past to Future. Serta bagaimana cara menengahi antara past dan Future dengan desain. Konsep ini meliputi bagaimana suasana kawasan pembelajaran yang bertemakan masa lalu dan masa depan dengan memperhatikan alur sirkulasi yang mengalir sehingga para pengunjung dapat merasakan keteraturan dalam kawasan museum.
Kawasan museum ini memiliki fungsi edukasi secara interktif dengan penggabungan antara masa lalu dan masa depan yang disuguhkan secara modern. Diharapkan pengunjung nantinya akan memahami tentang perkembangan teknologi di bidang otomotif yang sangat cepat, dan mampu mengambil sebuah ide untuk perkembangan teknologi yang lebih baik di masa yang akan datang bagi bangsa ini. 5.2. Rencana Tapak
5.2.1. Pemintakatan (Zoning)
Pembagian zona pada tapak didasari oleh jenis kegiatan dan derajat
kepentingan pada masing-masing zona. Meliputi adanya keterkaitan antar satu zona dengan zona yang lainnya.
5.2.2. Gubahan masa
Konsep gubahan masa bangunan bahwa orientasi masa bangunan mengacu terhadap desain ruang luar. di mana ruang luar tersebut adalah implementasi dari tema yaitu Past yang berada di belakang dan Future yang berada di depan sehingga memiliki bentuk yang dinamis. Selain itu masa bangunan memiliki filosofi, untuk menjembatani antara past dan future tersebut.
Gambar 5.2.1
Gambar pemintakatan (zoning) Sumber : data pribadi
5.2.3. Sirkulasi dan parkir
Konsep sirkulasi yaitu mengalir, pengunjung diarahkan untuk selalu pada jalurnya sehingga tidak terdapat croos sirkulasi yang dapat mengganggu pengunjung yang sedang melihat pameran atau sedang menggunakan wahana yang disediakan.
Fasilitas pendukung konsep ini juga sangat ramah terhadap kaum difabel seperti tersedianya ramp untuk perbedaan ketinggian lantai, penggunaan eskalator yang landai untuk memudahkan dan lain sebagainya.
Area parkir terbagi menjadi 4 bagian yaitu : parkir khusus pengelola, parkir khusus mobil besar, parkir dalam basemen, dan parkir out door. Pada parkir pengunjung dibedakan menjadi dua, bilamana parkir basemen yang menjadi parkir utama penuh maka akan dilemparkan ke luar basemen. Berikut adalah gambaran sirkulasi dalam tapak
Gambar 5.2.2
Konsep gubahan masa Sumber : data pribadi
5.2.4. Utilitas - Air bersih
Utilitas dalam kawasan mengenai air bersih memprioritaskan penggunaan air dari PDAM yang ditampung kedalam tank besar yang ditempatkan di basemen. selain itu terdapat pula sumur bor jika air dari PDAM kurang. Air dipompakan ke atas dan di masukan kedalam toren atas untuk disalurkan kedalam bangunan dan keluar bangunan yang membutuhkan. Untuk pencegahan kebakaran maka terdapat hidran di 2 sudut tapak untuk mempermudah proses pemadaman dari luar bangunan.
Gambar 5.2.4
Sirkulasi kendaraan dalam tapak Sumber : data pribadi
Gambar 5.2.3
Sirkulasi manusia dalam tapak dan bangunan Sumber : Data Pribadi
- Listrik
Penggunaan listrik dalam tapak bersumber dari PLN ( Perusahaan Listrik Negara ) namun jika terjadi pemadaman maka terdapat genset sebagai cadangan sewaktu dibutuhkan. Penyimpanan genset ditempatkan di dalam basemen 5 untuk, sehingga kebisingan tidak terdengar keluar bangunan utama. Penggunan listrik diarea tapak hanya sebatas lampu, payung hidrolik, stop kontak, lift barang hidrolik. Penempatan lampu dan jalur listrik dapat di lihat dalam gambar berikut ini ;
Gambar 5.2.5
Gambar alur air dalam kawasan tapak Sumber : data pribadi
5.3. Konsep Bangunan 5.3.1. Bentuk Bangunan
Konsep bentuk bangunan menggunakan bentuk metafora dari sebuah aliran angin pada kendaraan. Kendaraan dibuat aergonomis supaya dapat membelah angin dan kendaraan dapat melaju tanpa beban angin yang menahannya. Begitu pula bangunan yang dibentuk dinamis untuk memberikan kesan yang elegan dan modern, tidak memberikan kesan jadul seperti yang terjadi pada museum pada umumnya di Indonesia. Berikut gambaran hasil metafora.
Gambar 5.2.6
Gambar penempatan lampu dan alur listrik Sumber : data pribadi
5.3.2. Konsep Fasad
Fasad bangunan dibuat moden, dengan banyak bukaan pada fasad dan penggunaan material kaca akan membuat area dalam bangunan panas. Penambahan sun shading pada bukaan yang lebar untuk menghalau sinar matahari yang berlebih masuk kedalam bangunan, dan dapat membuat bangunan tidak panas
Gambar 5.3.1
Gambar metafora bentuk bangunan Sumber : data pribadi
Gambar 5.3.2
Gambar fasad bangunan yang moden Sumber : data pribadi
6.1. Peta Situasi
Gambar 6.1.2 Gambar 6.1.1
6.2. Gambar gambar perancangan 6.2.1. Tampak site
Gambar 6.2.1
Gambar tampak site depan
Gambar 6.2.2
Gambar tampak site belakang
Gambar 6.2.3
Gambar tampak site kanan
Gambar 6.2.4
6.2.2. Bangunan Utama
Gambar 6.2.5
Gambar denah lantai 1
Gambar 6.2.6
Gambar 6.2.7
Gambar potongan bangunan
Gambar 6.2.8
Gambar tampak samping
Gambar 6.2.9
6.2.3. Bangunan Show off dan Basement
Gambar 6.2.11
Gambar denah show off dan basement
Gambar 6.2.12
Gambar tampak depan bangunan show off
Gambar 6.2.13
Gambar tampak samping kanan bangunan show off
Gambar 6.2.14
Gambar 6.2.15
Gambar Potongan Basement A-A
Gambar 6.2.16
Gambar 6.2.19
Perspektif Suasana area Main Enterance 6.2.4. Gambar Perspektif Eksterior
Gambar 6.2.17
Perspektif suasana Show Off
Gambar 6.2.18
Gambar 6.2.20
perspektif suasana taman lalu lintas
Gambar 6.2.21
6.2.5. gambar perspektif interior
Gambar 6.2.23
perspektif suasana ruang film
Gambar 6.2.22
perspektif suasana Exhibition 1
Gambar 6.2.24
Gambar 6.2.26
Perspektif suasana area kolam
Gambar 6.2.25
6.2.6. Foto- foto maket
Gambar 6.2.27
Maket view 1
Gambar 6.2.28
Gambar 6.2.29
Maket view 3
Gambar 6.2.30
Tema