• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.2 Pengertian Bank

Secara umum pengertian bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan yang umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai banknote. Sedangkan pengertian bank menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10. Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998 tentang perbankan yang dimaksud dengan bank adalah, badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Pengertian bank menurut Hasibuan (2005:2), “Bank adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk asset keuangan (financial assets) serta bermotif profit juga sosial, jadi bukan hanya mencari keuntungan saja.” Ditinjau dari segi operasinya, bank dapat diibaratkan sebagai toko serba ada bagi penyedia jasa, baik di bidang yang ada kegiatannya dengan keuangan maupun yang tidak berkaitan dengan keuangan, di samping melaksanakan tugas pokok sebagai perantara keuangan.

Bank memberikan jasa yang sangat penting bagi kelancaran perekonomian dengan memberikan fasilitas untuk menghimpun tabungan masyarakat untuk tujuan ekonomi dan sosial. Jika dipandang dari sudut ekonomi, hal itu berarti daya beli masyarakat penabung, untuk sementara dialihkan oleh perbankan dari

11

konsumsi sekarang ke pasar barang-barang modal. Dengan diinvestasikan tabungan itu ke dalam pabrik, perumahan, pembangunan sarana umum dan sebagainya, maka kapasitas produktif dan kekayaan riil masyarakat menjadi meningkat. Jadi dalam proses yang sangat penting ini, bank umum memainkan dua peran yaitu membantu menyalurkan tabungan ke sektor yang produktif dan melalui pemberian kredit jangka pendek, mereka menambah atau menyediakan likuiditas bagi masyarakat.

Menurut Bastian dan Suhardjono (2006:3) “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.” Dalam pemberian kredit kepada para peminjam, bank umum memberikan pelayanan sosial yang besar, karena melalui kegiatannya produksi dapat ditingkatkan. Maka dari itu apabila sebuah bank membeli sebuah surat berharga yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan, berarti bank tersebut menyediakan dana untuk meningkatkan kegiatan perusahaan tersebut.

Dana yang berhasil dihimpun oleh bank justru akan menjadi beban apabila dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha alokasi untuk tujuan-tujuan yang produktif.

Dana yang telah dihimpun bukanlah dana yang semuanya murah tapi sebagian besar adalah dana dari deposan yang menimbulkan kewajiban bagi bank untuk membayar timbal jasa berupa bunga. Karena untuk menutup kebutuhan dan untuk memperoleh penerimaan bank yang digunakan menutup biaya-biaya lain serta mendapatkan keuntungan, maka bank berusaha mengalokasikan dananya dalam berbagai bentuk aktiva dengan berbagai macam pertimbangan.

Menurut Veitzhal(2007:110), Kebijakan pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia terhadap perbankan untuk melindungi kepentingan masyarakat pemilik dana serta menjaga kelangsungan usaha bank dan sebagai lembaga intermediasi. Pengawasan tersebut dilaksanakan baik secara langsung (on-site examination) maupun tidak langsung (off-site supervisory).

Untuk keperluan pengawasan tersebut, Bank Indonesia mewajibkan kepada seluruh bank untuk menyampaikan laporan, keterangan, dan penjelasan sesuai dengan ketentuan tata cara yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Laporan-laporan tersebut antara lain berupa Laporan-laporan mingguan, bulanan, dan tahunan.

Kewajiban penyampaian laporan yang terkait dengan kegiatan usaha bank ini diperlukan untuk memantau keadaan bank yang bersangkutan. Dalam hal-hal tertentu, kewajiban tersebut bahkan juga dapat dikenakan terhadap perusahaan induk, perusahaan anak, pihak terkait, dan pihak terafiliasi dari suatu bank. Secara khusus kepada bank-bank diwajibkan pula untuk menyampaikan kepada Bank Indonesia, neraca dan perhitungan laba/rugi tahunan beserta seluruh penjelasannya serta laporan berkala lainnya dalam waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Neraca dan laporan laba/rugi tahunan tersebut wajib terlebih dahulu diaudit atau diperiksa oleh akuntan publik.

Praktiknya pengawasan ini dapat dilakukan secara langsung (on the spot) berupa pemeriksaan langsung ke lokasi kantor bank, ataupun pengawasan tidak langsung melalui laporan yang disampaikan oleh bank-bank tersebut. Perlu diingat bahwa segala hal yang terkait dengan pengawasan, baik langusng maupun tidak langsung adalah bersifat rahasia.

13

Dengan demikian, betapa penting peranan pengaturan dan pengawasan bank dalam menciptakan dan memelihara kesehatan sistem perbankan. Kesehatan bank tidak hanya penting bagi pemilik dan pengelola bank yang bersangkutan, tetapi juga untuk masyarakat, pemerintah dan perekonomian nasional. Pengaturan dan pengawasan bank tidak hanya dimaksudkan untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, tetapi juga dimaksudkan untuk mencegah kerugian masyarakat dan pemerintah. Selain itu, dengan pengaturan dan pengawasan memungkinkan tersedianya informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat sesuai dengan kepentingannya. Dengan informasi tersebut masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih baik dalam melakukan transaksi dan kegiatan lainnya yang terkait dengan bank.

2.1.3 Permodalan (Capital)

Permodalan bagi bank sebagaimana perusahaan pada umumnya berfungsi sebagai penyangga terhadap kemungkinan terjadinya kerugian. Selain itu modal juga berfungsi untuk menjaga kepercayaan terhadap aktivitas perbankan dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi atas dana yang diterima dari nasabah (Latumaerissa, 2011, 211)

Bank for International Settlement (BIS) menetapkan kewajiban penyediaan modal minimum bagi suatu bank yaitu sebesar 8% dari Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPPM) ini berlaku bagi semua bank. “Modal merupakan sumber daya dari bank yang sangat mahal sehingga bank harus memiliki insentif yang kuat untuk mengaturnya seefektif mungkin” (Latumerissa. 2011, 211). Rasio untuk

menghitung kecukupan modal adalah Capital Adequacy Ratio (CAR). Rumus untuk menghitung CAR adalah :

CAR = x 100%

Perhitungan kebutuhan modal didasarkan pada ATMR. ATMR adalah perhitungan yang mencakup baik aktiva yang tercantum dalam neraca maupun aktiva yang bersifat administratif sebagaimana tercermin pada kewajiban yang masih bersifat contingency atau komitmen yang disediakan bank bagi pihak ketiga, terhadap masing-masing jenis aktiva tersebut terkandung pada aktiva itu sendiri atau bobot resiko yang didasarkan pada golongan nasabah, pinjaman atau sifat barang jaminan.

ATMR terbagi menjadi tiga bagian diantaranya yaitu, ATMR untuk risiko kredit, ATMR untuk risiko operasional, dan ATMR untuk risiko pasar. Setiap bank wajib menghitung ATMR untuk risiko kredit dan ATMR untuk risiko operasional, sedangkan ATMR untuk risiko pasar hanya diperuntukkan untuk bank yang memiliki kriteria tertentu.

2.1.4 Likuiditas (Liquidity)

Likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau membayar hutang jangka pendeknya dengan aktiva lancer yang dimilikinya. Rasio inilah yang dapat digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan. Simpanan nasabah dapat sewaktu-waktu ditarik, karena itu bank harus selalu menjaga likuiditasnya, sehingga ketika nasabah melakukan penarikan, dananya dapat tersedia tanpa mengganggu likuiditas bank.

15

Menurut Kasmir (2008:129) “Rasio likuditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban (utang) jangka pendek “.Artinya secara spesifik likuiditas mencerminkan ketersediaan dana yang dimiliki perusahaan guna memenuhi semua hutang yang akan jatuh tempo.

Rasio likuiditas yang menjadi fokus dalam penelitian ini dan juga termasuk dalam rasio likuiditas yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan bank adalah rasio Loan to Deposit Ratio (LDR). Loan to Deposit Ratio atau LDR merupakan perbandingan total kredit terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank. Rasio ini akan menunjukkan tingkat kemampuan bank dalam menyalurkan dananya yang berasal dari masyarakat (berupa : Giro, Tabungan, Deposito Berjangka, Sertifikat Deposito Berjangka dan Kewajiban segera lainnya) dalam bentuk kredit. Jika dikembangkan lebih lanjut maka dibandingkannya tidak hanya terhadap kredit tetapi ditambah dengan Surat Berharga Yang Diterbitkan (Obligasi) dan modal inti.

Adapun rumus untuk menghitung LDR adalah sebagai berikut :

Loan to Deposit Ratio menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan kepada nasabah kredit, sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar.

2.1.5 Rentabilitas (Earning)

Salah satu tujuan perusahaan pada umumnya yaitu memperoleh laba sesuai dengan target yang telah direncanakan, untuk itu diperlukan penjelasan yang efektif dan efisien atas sumber yang ada. Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.

Menurut Munawir (2010:33) “Rentabilitas adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba selama periode tertentu.” Rentabilitas suatu perusahaan diukur dengan kesuksesan perusahaan dan kemampuan menggunakan aktivanya secara produktif. Penilaian rasio rentabilitas bank dapat diukur dengan menggunakan rasio Net Interest Margin (NIM) dan rasio Net Profit Margin (NPM).

a. Net Interest Margin (NIM)

“Net Interest Margin adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui kemampuan manajemen bank terutama dalam hal pengelolaan aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih” (Pandia,2012,71-72). Rasio ini sangat dibutuhkan dalam pengelolaan bank dengan baik sehingga bank-bank yang bermasalah dan mengalami masalah bisa diminimalisir. Dengan demikian, resiko yang seringkali menimbulkan masalah dalam bank bisa dihindari. Untuk menghitung rasio NIM dapat menggunakan rumus seperti berikut :

Pendapatan Bunga Bersih x 100%

Aktiva Produktif

Semakin tinggi rasio maka menunjukkan keadaan yang semakin baik bagi bank.

Hal ini berarti pendayagunaan aktiva produktif dilakukan secara efektif. Untuk

17

menekan beban bunga menjadi lebih kecil. Untuk meningkatkan pendapatan bunga, bank mengalokasikan dana yang tersedia ke aktiva produktif (earning asset) secara tepat.

b. Net Profit Margin (NPM)

Menurut Kasmir (2008:298) “NPM merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasi pokoknya”. Untuk menghitung rasio NPM dapat menggunakan rumus berikut :

Laba bersih diperoleh dari pendapatan operasional dikurangi dengan beban-beban operasional dan beban pajak. Pendapatan operasional bank sebagian besar berasal dari kegiatan penyaluran kredit kepada pihak bank yang meminjam dana yaitu berupa pendapatan bunga dan pendapatan lain seperti provinsi dan komisi. Pendapatan dalam bentuk provisi diperoleh pada saat penandatanganan akad kredit atau perpanjangan kredit.

Bagi investor rasio ini biasanya digunakan untuk menngukur seberapa efisien manajemen mengelola perusahaannya dan juga memperkirakan profitabilitas masa depan berdasarkan peramalan penjualan yang dibuat oleh manajemennya. Dengan membandingkan laba laba bersih dengan total penjualan, investor dapat melihat berapa persentase pendapatan yang digunakan untuk membayar biaya operasional dan biaya operasional serta berapa persentase tersisa yang dapat membayar dividen kepada para pemegang saham ataupun berinvestasi ke para pemegang saham ataupun berinvestasi kembali ke perusahaannya.

Dokumen terkait