• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

C. Definisi Toleransi Agama

1. Pengertian Toleransi

Toleransi dalam bahasa Arab yaitu tasamuh yang berarti memberikan kebebasan terhadap orang dan kelompok lain untuk beribadah, dan mengatur kehidupan mereka selama tidak bertentangan dengan kondisi stabilitas masyarakat.33

Toleransi adalah kesediaan menerima kenyataan pendapat yang berbeda-beda tentang kebenaran yang dianut. Dapat menghargai keyakinan

32

Heru Effendy, Mari membuat film, panduan menjadi produser (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1986), h. 35.

33

Dawam Rahardjo, Mujiburrahman, Andreas A. Yewangoe, Franz Magnis Suseno, Martin, Merayakan kebebasan beragama: bunga rampai menyambut 70 tahun Djohan Effendi (Jakarta: ICRP & Buku Kompas, 2009), h. 328.

orang lain terhadap agama yang dipeluknya, serta memberikan kebebasan untuk menjalankan perintah agama yang dianutnya dengan tidak bersikap mencela atau memusuhinya. Toleransi dalam hidup beragama bukan berarti meninggalkan prinsip agama masing-masing.34

Toleransi juga mengindikasikan adanya kesediaan untuk menerima keyakinan orang lain yang dianut. Adapun toleransi beragama dipahami sebagai sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat istiadat, budaya, serta agama, atau yang lebih populer dengan sebutan inklusivisme, pluralism, dan multikulturalisme.35 Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah SWT Q.S. Al-Hujurat:13 :

ي

آا

كآمآرْكآأ ّ إ ا فآراآعآتل آلئاآبآقآ اب عش ْمكاآ ْلآعآجآ ىآثْنأآ رآكآذ ْنم ْمكاآ ْقآلآخ اّنإ ساّ لا اآ ّي

ّه آدْ ع ْم

ٌريبآخ ٌميلآع آ ّه ّ إ ْمكاآقْتآأ

Artinya :

“Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Alllah

maha mengetahui dan maha pengenal.” (Q.S. Al-Hujurat:13)

Toleransi beragama tidak terbatas antar pemeluk-pemeluk agama lainnya, tidak bersikap reaktif dan menentang, perlu adanya pendekatan secara musyawarah untuk saling memberikan informasi dan argumentasi agar tidak menimbulkan ketegangan-ketegangan.

34

Thoyib I.M dan Sugiyanto, Islam dan Pranata Sosial Kemasyarakatan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 180.

Dalam Islam dinyatakan agar menghormati dan menghargai penganut agama yang berbeda, dan mengajarkan amar ma‟ruf nahi munkar yang

artinya melakukan kebaikan dan tidak melakukan kejahatan, mengarahkan supaya hidup rukun, hidup sejahtera material dan spiritual. Seperti yang telah di jelaskan dalam Q.S. Al Mumtahanah ayat 8-9:

ْمكراآيي ننم مك جر ْري ْمآلآ نيندلا يف ْمك لتاآقي ْمآل آنييّلا نآع ّه مكاآ ْ آي آَ

)۸( آنيطسْق ْلا ّبحي آ ّه ّ إ ْم ْيآلإ ا طسْقتآ ْمه ّرآبآت آأ

ْمكراآيي ننم مك جآر ْخآأآ نيندلا يف ْمك لآتاآق آنييّلا نآع ّه مكاآ ْ آي اآ ّنإ

(٩) آ لاّظلا مه آك آلْ أآف ْم ّلآ آتآي نآمآ ْمهْ ّلآ آت آأ ْمكجاآر ْخإ ىآلآع ا رآهاآ آ

Artinya:

Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (8). Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang yang zalim (9).” (Q.S. Al Mumtahanah ayat 8-9)

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada halangan bagi umat muslim untuk berlaku baik, berbuat adil terhadap non muslim selama tidak membahayakan agama dan umat Islam. Akan tetapi Allah juga mengingatkan umat Islam bahwa hubungan dengan non muslim itu ada batasnya, yakni bilamana golongan lain memusuhi agama dan umat Islam, maka Allah melarang untuk bersahabat dengan mereka. Bahkan dalam situasi dan kondisi demikian umat Islam diwajibkan berjihad dengan jiwa

dan raga serta harta dan bendanya untuk mempertahankan Islam. Dalam Islam, Al-Qur‟an telah memberi petunjuk bagaimana berdialog yang baik, sehingga bisa menghasilkan sikap saling pengertian, bukan saling berselisih dan kemudian terlibat konflik.

Dalam hidup beragama dan bermasyarakat, umat manusia harus bersifat lapang dada, berjiwa besar dan tidak melakukan perbuatan tercela, tidak mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain dan tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan keresahan hati orang lain serta tidak mengganggu ketenangan beribadat.

Menerima adanya perbedaan agama yang ada merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap manusia dalam hidup beragama dan bermasyarakat. Kesediaan menerima kenyataan kemajemukan dalam pendapat dan agama, bersedia menerima kemajemukan masyarakat dengan tindakan tidak bersikap reaksi dan menentang, dihargai dan dihormati. Setiap ajaran agama mengandung ajaran keimanan atau kaidah-kaidah asasi yang dipercayai kebenarannya secara mutlak, yang bersumber kepada wahyu Ilahi yang diturunkan untuk umat manusia, dijadikan nilai dan norma hidup kemasyarakatan dan Negara.36

Adapun kaitannya dengan agama, toleransi beragama adalah toleransi yang mencakup masalah-masalah keyakinan pada diri manusia yang berhubungan dengan akidah atau yang berhubungan dengan ke-Tuhanan yang diyakininya. Seseorang harus diberikan kebebasan untuk menyakini dan memeluk agama (mempunyai akidah) masing-masing yang dipilih serta

36

Thoyib I.M dan Sugiyanto, Islam dan Pranata Sosial Kemasyarakatan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 180-181.

memberikan penghormatan atas pelaksanaan ajaran-ajaran yang dianut atau yang diyakininya.

Toleransi mengandung maksud supaya membolehkan terbentuknya sistem yang menjamin terjaminnya pribadi, harta benda dan unsur-unsur minoritas yang terdapat pada masyarakat dengan menghormati agama, moralitas dan lembaga-lembaga mereka serta menghargai pendapat orang lain serta perbedaan-perbedaan yang ada di lingkungannya tanpa harus berselisih dengan sesamanya karena hanya berbeda keyakinan atau agama. Toleransi beragama mempunyai arti sikap lapang dada seseorang untuk menghormati dan membiarkan pemeluk agama untuk melaksanakan ibadah mereka menurut ajaran dan ketentuan agama masing-masing yang diyakini tanpa ada yang mengganggu atau memaksakan baik dari orang lain maupun dari keluarganya sekalipun.37 Toleransi tidak hanya dilakukan antar kesesama pemeluk agama, tapi dengan yang tidak memiliki agama sekalipun.

Toleransi dibedakan menjadi dua, yaitu toleransi pasif dan toleransi aktif. Toleransi pasif adalah sikap menerima perbedaan sebagai sesuatu yang nyata dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, tidak ada cara lain kecuali menerima perbedaan itu sebagai suatu fakta. Sedangkan toleransi aktif adalah toleransi yang tidak hanya sekadar berhenti pada sikap penerimaan terhadap kenyataan dari keragaman yang ada, akan tetapi toleransi yang diwujudkan dalam sikap membangun ko-eksistensi aktif dengan terlibat aktif dalam keragaman tersebut. Toleransi semacam ini

37

H.M. Ali dkk, Islam untuk Disiplin Ilmu Hukum Sosial dan Politik (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), h. 83.

memungkinkan penganut agama yang berbeda untuk berdialog secara aktif dan bekerja sama dalam berbagai bidang.38

Dari apa yang telah dipaparkan diatas dapat diartikan bahwa toleransi merupakan sikap menenggang, membiarkan, membolehkan, baik berupa pendirian, kepercayaan, dan kelakuan yang dimiliki seseorang atas yang lainnya. Dengan kata lain toleransi adalah sikap lapang dada terhadap prinsip orang lain. Toleransi bukan berarti seseorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dianutnya. Dalam toleransi sebaliknya tercermin sikap yang kuat atau istiqamah untuk memegangi keyakinan atau pendapatnya sendiri.

Dokumen terkait