BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
Terkait dengan penelitian ini ada beberapa saran yang penulis dapat sampaikan:
1. Masyarakat khususnya untuk kaum remaja diharapkan untuk melihat atau menyaksikan film yang tidak hanya memiliki tayangan hiburan, akan tetapi film yang memiliki tayangan-tayangan yang bernilai edukasi agar menambah wawasan baru terutama dalam hal agama.
2. Bagi penulis, film ini sudah memenuhi kriteria yang baik untuk sebuah film. Terdapat unsur edukasi, informasi, dan juga sedikit hiburan. Tanpa harus menyudutkan satu pihak atau menyudutkan agama dan keyakinan tertentu. Film ini memberikan contoh yang baik kepada masyarakat mengenai bagaimana caranya bersikap yang baik dan bersikap toleransi terhadap umat beragama dan berkeyakinan lain. Film ini bisa dijadikan contoh bagi mereka yang ingin membuat film drama religi tanpa harus melupakan fungsi film sebagai sarana edukasi dan hiburan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali. (1989). Islam untuk Disiplin Ilmu Hukum Sosial dan Politik. Jakarta: Bulan Bintang.
Aloliliweri. (2011). Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Aminuddin. (2000). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: PT Sinar Baru Algesindo.
Bahreisy, S., & Bahreisy, S. (2005). Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya: PT Bina Ilmu. Baksin, A. (2003). Membuat Film Indie Itu Gampang. Bandung: Katarsis.
________. (2006). Jurnalistik Televisi Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Berger, A. A. (1999). Media Analysis Techniques. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Bungin, B. (2008). Komunikasi Sosial Media Massa. Jakarta: Prenada Media Group.
Cangara, H. (2008). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo. Christomy, T. (2004). Semiotika Budaya. Depok: PPKB Universitas Indonesia. Effendy, H. (1986). Mari Membuat Film, Panduan Menjadi Produser. Jakarta: CV
Pedoman Ilmu Jaya.
Elvinaro, & Erdinaya, L. K. (2004). Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Hardiyanti, S. (2003). Agama dalam Dialog: Pencerahan, Perdamaian Masa Depan. Jakarta: BPK gunung Mulia.
Himawan Pratista. (2009). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka. Ibrahim, I. S. (2011). Budaya Populer Sebagai Komunikasi; Dinamika Popscape
dan Mediascape di Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra. Jalaluddin. (1997). Psikologi Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo.
Joni Armand Hamid. (2014). Dasar-dasar Fotografi dan Kamera Televisi. Kahmad, D. (2002). Sosiologi Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Naibaho, K. (2008). Film; Tarian; Karya; Akses; Seni; Masyarakat. Visi Pustaka. Prakoso, G. (1997). Film Pinggiran-Antalogi Film Pendek, Eksperimental &
Dokumenter. Jakarta: Fatma Press, FFTV-IKJ.
Pranajaya, A. (2000). Film dan Masyarakat Sebuah Pengantar. Jakarta: BPSDM Citra Pusat Perfilman H. Usman Ismail.
Pratista, H. (2009). Pemahaman Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.
Rahardjo, D., Burrahman, M., Yewangoe, A. A., Suseno, F. M., & Martin. (2009). Merayakan Kebebasan Beragama: Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Effendy. Jakarta: ICRP & Buku Kompas.
Salim, A. (2006). Teori & Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Setiawan, K. (2010). Masjid-Masjid Bersejarah di Jakarta. Jakarta: Erlangga. Sobur, A. (2006). Analisis Teks Media Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
________. (2006). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. ________. (2009). Analisis Teks Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sumadiria, & Haris, A. (2006). Jurnalistik Indonesia, Penulis Berita dan Feature.
Bandung: PT Refika Aditama.
Suprapto, & Tommy. (2006). Pengantar Teori Komunikasi. Jakarta: Media Pressindo.
Syafrowi, M. a. (2009). Assalamu'Alaikum Tebarkan Salam Damaikan Alam. Yogyakarta: Mutiara Media.
Thoyib, & Sugianto. (2002). Islam dan Pranata Sosial ke Masyarakatan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tinarbuko, S. (2009). Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra.
Sumber Lain
Festival Film Bandung. “Revalina S. Temat” artikel diakses pada 11 Mei 2015
dari http://www.festivalfilmbandung.com/2015/02/assalammualaikum-beijing-cenat-cenut-.html?m=1,
Tedi Permadi. “Mitos” artikel diakses pada 8 Agustus 2015 dari
http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_I NDONESIA/197006242006041-
TEDI_PERMADI/Mendekontruksi_Mitos_Mitos_Masa_Kini_sebuah_Res ume.pdf
Kajian Pustaka. “Pengertian Sejarah dan Unsur-Unsur Film” diakses pada tanggal
8 Juni 2015 dari http://www.kajianpustaka.com/2012/10/pengertian-sejarah-dan-unsur-unsur-film.html
Academia. “Definisi Toleransi” diakses pada 27 Agustus 2015 dari
www.academia.edu
UIN Alauddin. “Toleransi Pasif dan Toleransi Aktif” artikel diakses pada 14
September 2015 dari http://www.uin-alauddin.ac.id/download-01%20Sabara.pdf
E-Jurnal. “Pengertian Atheis” artikel diakses pada 12 Agustus 2015 dari
http://www.e-jurnal.com/2013/11/pengertian-atheisme.html
Academia. “Agnostik menurut Bertrand Russell” artikel diakses pada 14
September 2015 dari
http://www.academia.edu/3418084/Tuhan_dalam_Perspektif_Bertrand_Ru ssell
Academia edu. “Toleransi beragama” artikel diakses pada 1 September 2015 dari
https://www.academia.edu/7522137/Makalah_toleransi_beragama
Academia. “Definisi Toleransi Antar Umat Beragama” diakses pada 27 Agustus
2015 dari https://www.academia.edu
“Definisi Toleransi” diakses pada 27 Agustus 2015 dari
http://www.pengertianmenurutparaahli.com/pengertian-toleransi/
“Film Assalamualaikum Beijing” artikel diakses pada 31 Agustus 2015 dari
http://www.festivalfilmbandung.com/2015/02/assalamualaikum-beijing-cenat-cenut.html
Mualaf Center. “Definisi Mualaf” artikel diakses pada 7 Oktober 2015 dari
http://www.mualafcenter.com/tujuan/pengertian-mualaf/
Solusi Islam. Syarat Menjadi Seorang Mualaf” artikel diakses pada 7 Oktober
2015 dari http://www.solusiislam.com/2013/11/tanya-jawab-seputar-mualaf-yang-baru.html
107
LAMPIRAN I
HASIL WAWANCARA
Narasumber : Tebe Reviadi
Jabatan : Asisten Sutradara
Tanggal Wawancara : Kamis, 6 Agustus 2015
Tempat : Production House Maxima Pictures, Cempaka Putih,
Jl. Kayu Putih IV.
Pukul : 09.00 WIB
1. Darimana ide membuat film Assalamualaikum Beijing?
Ide membuat AB ini berawal dari diambil dari novel karya mba Asma Nadia, dilihat dari novelnya yang begitu menarik dilihat dari sisi dua tokoh yang berbeda agama yaitu Asma dan Zhong Wen. Asma yang beragama muslim sedangkan Zhong Wen non muslim. Ketika Asma ditugaskan dari kantornya untuk ke Beijing, Asma sekedar untuk bekerja dan bertemu dengan sahabat lamanya kemudian disuatu tempat Asma bertemu dengan Zhong Wen. Ketika Zhong Wen berkenalan dengan Asma, Zhong Wen ada ketertarikan dengan Asma sehingga Zhong Wen teringat akan kisah legenda Ashima. Ashima merupakan sebuah patung di Yunan. Zhong Wen kemudian tertarik untuk lebih dalam mengenal Islam sehingga ia memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Ketertarikannya untuk masuk Islam bukan hanya karena ia menyukai Asma
108
tetapi ketertarikan setelah ia mempelajari tentang Islam sehingga dari hatinya ia memutuskan untuk masuk Agama Islam.
2. Sebelum memutuskan untuk menjadi seorang mualaf, agama apa yang diyakini oleh Zhong Wen?
Zhong Wen tidak beragama, dan bisa dibilang Atheis.
3. Bagaimana proses pemilihan pemain film Assalamualaikum Beijing?
Pemilihan pemain ini sendiri kita melalui tahap casting, kita biasanya sih ga open casting tetapi lebih kearah memanggil pemain yang dirasa cocok dengan karakter tokoh-tokoh dalam film Assalamualaikum Beijing. Seperti pemeran Zhong Wen yang diperankan oleh Morgan, awalnya kita lihat dia punya basic pernah main sinetron walaupun ini film pertamanya dia, kita panggil lalu kita casting, kita suruh perankan seperti Zhong Wen dan kemudian kita rasa sih cocok dan kebetulan dia bisa bahasa mandarin. Untuk pemeran utama juga sama kita casting juga kita pilih dari beberapa nama yang cocok lalu kita putuskan Revalina yang menjadi pemeran utama dalam film Assalamualaikum Beijing.
4. Pesan dakwah apa yang ingin disampaikan pada film Assalamualaikum Beijing?
Pesan dakwahnya lebih kepada toleransi umat beragama, saling menghargai, saling menghormati. Dan kita juga tidak mencoba untuk menggurui dalam arti lebih ke arah agamanya karena dalam proses shootingnya mba Asma pun ikut datang ke lokasi, ketika ada yang berhubungan dengan agama dalam film kita tanyakan kepada mba Asma untuk memberikan masukan.
109
5. Apa keunggulan dan kekurangan film ini AB?
Sebelum kita shooting disana, kita kirim orang dulu untuk hunting lokasi ke Beijing dan ada beberapa tempat yang dirasa cocok, dan kekurangannya itu ketika kita sudah di lokasi ternyata tidak sesuai dan kita harus cari lokasi lain dan itu memakan waktu juga. Ketika ada lokasi yang cocok pun ternyata izinnya ga cocok, kita mesti sedikit umpet-umpetan juga sih walaupun kita sudah punya izin karena untuk perizinan disana cukup ketat. Ada beberapa scene yang kita ambil colong-colongan seperti daerah forbidden city yang tidak bisa dimasuki semua orang dan kamera pun ga diizinkan untuk masuk kesitu dan kita berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk dapat shooting disitu. Kelebihan filmnya untuk jalan cerita dan pemerannya itu cocok dan dapet banget actingnya. Selain itu kelebihan lainnya film ini pun mendidik, sehingga setelah menonton film ini penonton mendapatkan kesan positif.
6. Prestasi apa saja yang pernah diraih dari Film AB?
Kebetulan film ini baru rilis akhir tahun 2014, untuk kita daftarin ke festival di Indonesia belum, mungkin ditahun FFI yang akan datang akan dimasukin. Untuk pemutaran filmnya selain di Indonesia di putar juga dibeberapa Negara Asia.