• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Tinjauan Kepustakaan

4. Pengertian Turut Serta

Penyertaan (Deelneming) adalah pengertian yang meliputi semua bentuk turut serta /terlibatnya satu orang atau lebih, baik secara psikis maupun fisik yang

35 Adhi Wibowo, Perlindungan Hukum Korban Amuk Massa, Sebuah Tinjauan Viktimologi, (Yogyakarta: Thafa Media, 2013), hlm. 34.

22

melakukan masing-masing perbuatan sehingga melahirkan suatu tindak pidana.

Orang-orang yang terlibat dalam kerja sama yang mewujudkan tindak pidana, perbuatan dari masing-masing mereka berbeda satu dengan yang lain, demikian juga bisa tidak sama apa yang ada dalam sikap bathin mereka terhadap tindak pidana maupun terhadap peserta lain.

Tetapi dari perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing itu terjalinlah suatu hubungan yang sedemikian rupa eratnya, dimana perbuatan yang satu menunjang perbuatan yang lainnya yang semua mengarah pada satu ialah terwujudnya tindak pidana.

Sedangkan Wirjono Prodjodikoro mengatakan bahwa yang dinamakan deelneming adalah turut sertanya seseorang atau lebih pada waktu orang lain melakukan tindak pidana36

Penyertaan/deelneming adalah tindak pidana yang dilakukan oleh lebih dari satu orang, artinya ada orang lain dalam jumlah tertentun yang melakukan suatu tindak pidana atau dalam kata lain, terdapat lebih dari satu orang yang secara bersama-sama melakukan tindak pidana. Konsep penyertaan/deelneming ini pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan pertanggungjawaban dari para pelaku suatu tindak pidana berdasarkan peran dari masing-masing orang yang terlibat.

Pengkategorian peran pelaku dalam KUHPidana dikena dengan istilah penyertaan/deelneming, diuraikan secara gamblang dalam Pasal 55 dan Pasal 56, yaitu:

36 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana diIndonesia, (Bandung: PT Eresco, 1981), hlm. 108.

1) Pelaku atau Dader

Istilah dader merupakan istilah dalam bahasa Belanda dan berasal dari kata daad yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dapat disebut sebagai hal melakukan atau sebagai tindakan. Dalam ilmu hukum pidana, dader dipahami sebagai pelaku yang melakukan tindak pidananya secara sendiri-sendiri Kriterianya, ialah: (a). Dalam mewujudkan suatu tindak pidana tidak ada keterlibatan orang lain baik secara fisik maupun secara psikis; dan (b). Perbuatan yang dilakukan oleh pelaku telah memenuhi seluruh unsur tindak pidana tertentu yang dirumuskan oleh Undang-undang.Pelaku/pelaku tunggal (dader) inilah yang dimaksud dengan perkataan “barang siapa” dalam permulaan rumusan setiap tindak pidana dalam suatu produk hukum.37

Pembuat/Pelaku atau dader berdasarkan perannya sebagaimana ditentukan dalam Pasal 55 KUHPidana, terdiri dari: Pertama, orang yang melakukan (pleger). Pleger adalah setiap orang yang dengan seorang diri melakukan suatu tindak pidana secara sendiri dan tindak pidananya tersebut telah memenuhi semua unsur dari delik seperti yang telah di tentukan didalam suatu rumusan delik38 Perbedaan pleger dengan dader adalah terhadap pleger masih diperlukan keterlibatan orang lain baik secara fisik maupun psikis, hanya saja keterlibatan orang lain ini harus sedemikian rupa sehingga perbuatan tersebut tidak sebagai penentu dalam mewujudkan tindak pidana yang akan dilakukan dader adalah sebaliknya.

37 Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Sinar Baru, 1990), hlm.

585

38 Ibid, hlm. 599

24

Kedua, orang yang menyuruh melakukan (doenpleger).Mengenai doenpleger atau menyuruh melakukan dalam ilmu pengetahuan hukum pidana biasanya disebut sebagai seorang middelijjkedader atau seorang mittelbare tater yang artinya seorang pelaku tidak langsung. Disebut pelaku tidak langsung oleh karena orang yang menyuruh melakukan ini memang tidak secara langsung melakukan sendiri tindak pidananya, melainkan dengan perantaraan orang lain dengan catatan bahwa orang yang disuruh tidak bisa menolak atau ,menentang kehendak orang yang menyuruh melakukan.Dengan posisi yang demikian, orang yang disuruh melakukan itu harus pulak hanya sekedar menjadi alat (instrument) belaka, dan perbuatan itu sepenuhnya dikendali oleh orang yang menyuruh melakukan.

Dalam ilmu hukum “orang yang disuruh melakukan” atau pelaku langsung disebut manus ministralauctor physicus atau tangan yang dikuasai. Sedangkan, “orang yang menyuruh melakukan” atau “pelaku tidak langsung” disebut manus dominalauctor intellectualis atau tangan yang menguasai.39

Dengan pengategorian peran pelaku yang seperti ini, maka sesungguhnya yang benar-benar melakukan tindak pidana langsung adalah orang yang disuruh melakukan, tetapi yang bertanggung jawab adalah orang lain, yaitu orang yang menyuruh melakukan.

39 Ibid, hlm. 610-611.

Menurut Wirjono Projodikoro (1979:100), orang yang disuruh melakukan secara hukum tidak bisa dipersalahkan atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. Orang yang disuruh mempunyai “dasar-dasar yang menghilangkan sifat pidana” sebagaimana diatur dalam Pasal 44 KUHPidana, Pasal 48 KUHPidana, Pasal 49KUHPidana, Pasal 50 KUHPidana dan Pasal 51 KUHPidana yang mana secara umum isi pasal-pasal menerangkan orang yang tidak bisa dihukum, yaitu masing-masing karena sakit akal (Pasal 48 KUHPidana), untuk mempertahankan atau membela diri (Pasal 49 KUHPidana), menjalankan perintah perundang-undangan atau perintah atasan (Pasal 50 KUHPidana dan Pasal 51 KUHPidana).40

Ketiga, orang yang turut serta (medepleger). Medepleger adalah orang yang dengan sengaja turut berbuat atau mengerjakan terjadinya sesuatu. Oleh karena itu kualitas masing-masing peserta tindak pidana adalah sama. Menurut R. Sugandhi, untuk dapat dikatagorikan sebagai medepleger, paling sedikit juga harus tersangkut dua orang, yaitu “orang yang menyuruh melakukan” (medepleger). Disebut “turut melakukan”, karena orang yang turut serta terlibat secara langsung bersama pelaku dalam melakukan suatu tindak pidana, dan bukan hanya sekedar membantu atau terlibat ketika dalam tindakan persiapan saja. Ini berarti antara “orang yang turut melakukan” dengan pelaku, harus ada kerja sama secara sadar dan sengaja.

40 Wirjono, Op.Cit, hlm. 100.

26

Keempat, orang yang menganjurkan/penganjur (uitlokker).

Penganjur/uitlokker ini merupakan orang yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana dengan menggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh undang-undang secara limitative, yaitu memberi atau menjanjikan sesuatu, menyalahgunakan kekuasaan, dengan memberi kesempatan, sarana, atau keterangan.41

Secara sederhana istilah “uitlokker” dapat dipahami sebagai setiap orang yang menggerakkan atau membujuk orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana. Istilah “menggerakkan” atau “membujuk”, ruang lingkup pengertiannya sudah dibatasi oleh Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana, yaitu dengan cara memberikan atau menjanjikan sesuatu, menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, memberi kesempatan, saran dan keterangan. Berbeda dengan “orang yang disuruh melakukan”, “orang yang dibujuk” tetap dapat dihukum, karena orang tersebut mempunyai kesempatan untuk menghindari perbuatan yang dibujukkan kepadanya.

Tanggung jawab orang yang membujuk (uitlokker) hanya terbatas pada tindakan dan akibat-akibat dari perbuatan yang dibujuknya, selebihnya tanggung jawab yang dibujuk sendiri.Orang dikatakan termasuk sebagai “yang membantu” tindak pidana, jika orang tersebut memberikan bantuan kepada pelaku pada saat atau sebelum tindak pidana

41 Lamintang, Loc.Cit

tersebut dilakukan.Apabila bantuan diberikan sesudah tindakan, tidak lagi termasuk “orang yang membantu”.

Sifat bantuan bisa berbentuk apa saja, baik materi maupun moral.

Tetapi antara bantuan yang diberikan dengan hasil bantuannya harus ada sebab akibat yang jelas dan berhubungan.Begitupula sifat bantuan harus benar-benar dalam taraf membantu dan bukan merupakan suatu tindakan yang terdiri sendiri.Perbuatan yang sudah berdiri sendiri tidak lagi termasuk “turut membantu” tetapi sudah “turut melakukan”. Inisiatif atau niat harus pula datang dari pihak yang diberi bantuan, sudah termasuk dalam golongan “membujuk melakukan”(uitlokker).

2) Pelaku Pembantu atau Medeplichtige

Pembantu/medeplichtige yang diatur dalam Pasal 56 KUHPidana, tidak menguraikan bagaimana cara pembuatannya. Ada 2 (dua) jenis pembantuan/medeplichtige yang diatur dalam Pasal 56 KUHPidana, yakni:

Orang yang dengan sengaja membantu waktu kejahatan dilakukan dan orang yang dengan sengaja memberi kesempatan, ikhtiar, atau keterangan untuk melakukan kejahatan.

Kedua jenis pembantuan/medeplichtige yang diatur dalam Pasal 56 KUHPidana diuraikan secara jelas dan cermat yang pada intinya adalah:42 a. Pembantuan Pada saat Kejahatan Dilakukan

Pembantuan pada saat kejahatan dilakukan ini diatur dala Pasal 56 ayat (1) KUHPidana dan mirip dengan kategori peran pelaku sebagai ”turut

42 Satochid Kartanegara, Hukum Pidana Bagian Kesatu, Balai Lektur Mahasiswa, Tanpa Tahun, hlm. 30.

28

serta”(medepleger). Perbedaannya terletak pada: Pertama, pembantuan perbuatannya hanya bersifat membantu atau menunjang, sedang pada turut serta merupakan perbuatan pelaksanaan. Kedua, pada pembantuan, pembantu hanya sengaja memberi bantuan tanpa diisiyaratkan harus kerja sama dan tidak bertujuan atau berkepentingan sendiri, sedangkan dalam turut serta, orang yang turut serta sengaja melakukan tindak pidana, dengan cara bekerja sama dan mempunyai tujuan tertentu. Ketiga, pembantuan dalam pelanggaran tindak pidana (Pasal 60 KUHPidana), sedangkan turut serta dalam pelanggaran tetap pidana. Keempat, maksimum pidana pembantu adalah maksimum pidana yang bersangkutan dikurangi 1/3 (sepertiga), sedangkan turut serta dipidana sama.

b. Pembantuan Sebelum Kejahatan Dilakukan

Pembantuan dalam konteks sebelum suatu kejahatan dilakukan dapat melalui cara memberi kesempatan, sarana atau keterangan. Pembantuan dalam rumusan ini mirip dengan penganjuran (uitlokking).Perbedaannya pada niat atau kehendak jahat pembuat materiel sudah ada sejak semula atau tidak ditimbulkan oleh pembantu, sedangkan dalam penganjuran, kehendak melakukan kejahatan pada pembuat materiel ditimbulkan oleh penganjur.

Berbeda dengan pertanggungjawaban pembuat yang semuanya dipidana sama dengan pelaku, pembantu dipidana lebih ringan daripada pembuatannya, yaitu dikurangi 1/3 (sepertiga) dari ancaman maksimal pidana yang dilakukan (Pasal 57 ayat (1) KUHPidana). Artinya, jika

kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana seumur hidup, pembantu dipidana penjara maksimal 15 (lima belas) tahun.

Namun ada beberapa catatan pengucualian: Pertama, pembantu dipidana sama berat dengan pembuat/Pelaku, yaitu pada kasus tindak pidana: (a). Membantu merampas kemerdekaan (Pasal 333 ayat (4) KUHPidana) dengan cara memberi tempat untuk perampasan kemerdekaan. (b). Membantu menggelapkan uang atau surat oleh pejabat (Pasal 415 KUHPidana). (c). Meniadakan surat-surat penting (Pasal 417 KUHPidana). Kedua, pembantu dipidana lebih berat dari pada pembuat, yaitu dalam hal melakukan tindak pidana: (a). Membantu menyembunyikan barang titipan hakim (Pasal 231 ayat (3) KUHPidana).

(b). Dokter yang membantu menggugurkan kandungan (Pasal 349 KUHPidana).

Dokumen terkait