• Tidak ada hasil yang ditemukan

,~L.~~l5_,~:Jtjj~ooU~UJ.;-:J\~~~~_r:fb._(\)

~~\~'\{\U~\~~\~~0\k1.~J\~l

k;:::::rl.3..l\~~o-4>-~ :;~~'-:'ti r~'

_j:-'1j~~~~~~\j\~c~8\flo~I CJ~\J})~ ~\~~rL~_,A~

( 1) Artinya : Hakim yaitu orang yang diangkat oleh pe-nguasa, untuk menyelesaikan dakwaan-dakwaan dan persengketa-an-persengketaan, karena penguasa tidak mampu melaksanakan sendiri semua tugas itu, sebagaimana Nabi Saw. pada masanya7

telah mengangkat qadhi-qadhi untuk bertugas menyelesaikan sengketa di antara manusia di tempat-tempat yang. jauh, sebagai-mana ia juga pernah melimpahkan wewenang ini kepada sahabat-nya di tempat ia berada, atas sesuatu yang dijelaskan dari hasil pembahasan di tempatnya. 2

(2) Hakim (qadhi) yaitu : Orang yang diangkat oleh kepala negara untuk menjadi hakim dalam menyelesaikan gugat

meng-1 Muhammad Salam Madkur, Al Qadha-u Fil Islam, Oarun Nahdhah, Al 'Arabiah.

Kairo, Tahun 1970, Ha lam an 17.

2 Muhammad Salam Madkur, Al Qadha-u Fil Islam, Alihbahasa lmron A.M., Bina llmu, Cet. II, Surabaya Tahun 1982, Halaman 29.

gugat, perselisihan-perselisihan dalam bidang perdata, oleh karena penguasa sendiri tidak dapat menyelesaikan tugas peradilan. Dan sudah jelas bahwa Nabi sendiri menunjuk beberapa pengganti-nya untuk menjadi hakim. 3

(3) Sebenarnya menjadi hakim adalah satu fardhu yang kuat.

Dia adalah suatu fardhu kifayah, bahkan menjadi fardhu 'ain, apabila tidak ada orang lain yang sanggup menjadi hakim. Disukai clia menjadi hakim, walaupun ada orang lain yang pantas untuk menjadi hakim, jika ia lebih pantas dan lebih tepat untuk menja-bat jamenja-batan hakim itu. Dan menjadi mubah hukum menjadi ha-kim, apabila ada orang-orang lain yang sama-sama layak dan tepat dengan dia. Kalau ada orang lain yang lebih tepat daripadanya, ma-ka ia menjadi hakim adalah makruh. Jima-ka dia berpendapat, bahwa dia tidak mampu mempertahankan kebenaran dan dapat ditarik ke salah satu pihak, maka pada waktu itu haram untuk dia

(4) Artinya : Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya engkau cenderung kepada jabatan (pemerintahan) dan jabatan (pemerintahan) itu akan menjadi sesalan di hari kiamat; jabatan (pemerintahan) itu sebaik-baiknya pemberi susu di dunia dan seburuk-buruknya

3 T.M. Hasby Ash Shiddieqy, Peradilan Dan Hukum Acara Islam, Al Ma'arif, Bandung, Tanpa Tahun, Halaman 32~

4 Ibid, Halaman 34.

5 Imam Muhammad bin lsma'il Al Kahlani, Slbulus Salam, Juz IV, Musthafa Al Babi Al Halabi, Cet. IV, Mesir, Tahun 1960, Halaman 112.

yang melepaskan (tidak memberi susu lagi) setelah keluar dari dunia (di akhirat). "(H.R. Bukhari).

(5) Artinya: "Dari Anas r.a bahwasanya Nabi Saw. bersabda,

"Barang siapa meminta jabatan hakim dan dia meminta pertolong-an untuk mendapatkpertolong-annya, maka hal itu diserahkpertolong-an kepadpertolong-anya.

Dan barang siapa dipaksa untuk menjabat jabatan hakim, maka Allah akan menurunkan malaikat yang akan menolongnya" (H.

R.

Tunnudzi dan Abu Daud).

(6) Artinya : Dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, "Wahai Abdurrahman bin

6 Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Jilid Ill, Darul Bayan, Cet. V, Kuwait, Tahun 1971, Halaman 395.

7 Muhammad bin 'Ali bin Muhammad Asy Syaukani, Nailul Authar, Juz VII I, Musthafa Al Babi Al Halabi, Mesir, Tahun 1958, Halaman 289.

Samurah, janganlah engkau meminta-minta suatu jabatan. Maka sesungguhnya engkau jika kuberikan jabatan selain yang diminta, niscaya engkau akan ditolong. Dan jika kuberikan kepadamu apa yang kau minta, niscaya engkau akan diserahkan kepadanya."

(H.R. Muttafaq 'Alaih).

(7) Artinya : Dari Abu Musa, dia berkata, "Saya dan dua orang dari Bani Ammi menghadap kepada Nabi Saw., maka salah seorang dari keduanya berkata, 'Ya Rasulullah angkatlah kami untuk sebagian dari apa yang dikuasakan oleh Allah 'Azza wa Jalla kepadamu dan yang seorang lagi berkata demikian juga, maka Rasulullah Saw. bersabda, "Demi Allah aku tidak akan menyerah-kan pekerjaan ini kepada seseorang yang memintanya atau kepada seseorang yang menginginkannya."

L~'~_, ;..r->~~~I_, t:-~l~~'rk-~

-(A)

\~\_,-o~l~:i.J\~'-5-'.J-''~~I ~~?

~~.., ;..;->~~_,~\...~ljc0~~ ):Jli ~\

~~<V,W\t=-. :t!_,t.~)'~·4.-_.£·,~t;;Jl \~

8 Ibid.

4.. •• ..;~u,~_,~lj(,~~~-'o.)G~s-~\

menjadi hakim dan cenderung kepadanya itu akan menjadi keluh-an dkeluh-an penyesalkeluh-an pada hari kiamat nkeluh-anti, sebagaimkeluh-ana diriwayat-kan Nabi Saw. bersabda, "Engkau cenderung kepada jabatan (pe-merintahan) uan jabatan (pemerintahan itu) akan menjadi keluhan dan sesalan di hari kiamat,jabatan (pemerintah) itu sebaik-baiknya pemberi susu di dunia dan seburuk-buruknya yang melepaskan (tidak mem beri susu lagi) setelah keluar dari dunia (di akhirat).

Maka siapa saja yang meminta untuk menjadi hakim, menghen-dakinya dan cenderung kepadanya, lalu diserahkan kepadanya, dikhawatirkan akan terjadi kebinasaan atas dirinya. Dan siapa saja yang tidak meminta jabatan hakim, tapi dia mencobanya, sedangkan dia benci kepada jabatan hakim itu, disebabkan khawa-tir akan dirinya, maka Allah akan menolongnya .

.._ • + \

t., U--0 ~ _ j \j cG\ \~!_,";~I~~ <.SJ_;J -< ~)

min ta tolong untuk itu, maka diserahkan jabatan terse but kepada-nya. Dan barang siapa yang tidak memintanya dan tidak pula meminta tolong, maka Allah akan menurunkan malaikat yang akan membantunya."

'C~ _, ,~L,: ,wi L.?-J i~.--~ '~~ _, _ c ,~

·~!r_,' 0-'~-''~-'

... \....4)\ ;_,..._,\ ~~~1~\&-0'ts1.lt~ 1~~\ ~_,ll;

':1 ~-' 0.J;__, t .._,;:,~ !J l:.A> iJ~ ')/_, '~ IJ...J I_, rL.J I

o~

..

l~a:u t;.. t)A~,L~_,\ ,~~_,y_

' <l. ~ -~ iy _, µ ~\:>"' 4-' .. ~ I J~) .J ~ .i.:. _,(j __, i

- ,, '

4-_:~ ~~~41 ~~

..

L~c\\~\~~ ..J~~.ll_,

• ~ ... Y ':;/ t \ j \ \ ,. ~ L$ :La-· . ,. Y' J • v-

_L

j \ ,_v - .

L .. >..

**~A

..J

,J.) 4J~4Jwl<0\ll\'~ ,~J~ ~ ·~.Zj

L . - .. .. ...

-~'~c~a_ . ...jU~.J~

_,..811.r- ~ ~rl \c!J \:Ji. .:i ls'l.l l: .. : .. H::J I~) I

~_J~~I H .. l,.:,,:4.1 l ~~_Y.o_,g .'"~,:ii iLaf'b\;~

i~y1~~')/.J_faSj\~~~~0'(,1.~_;_J\

~~Y4~v-J ~L.:o-:J\ L~1~~\.;\..Y'8 \\f _,

- '

• 9\o~9J_,->-:J\_, ~~~~ ~

~..:.! .. L,:;;J I '-:..u. ~ °';: • .... .:,,_,<.:.ii : ~SI I~) I jJ_,l_,,-ri I.!,\~ l~._,...\::..11~ .. ~:iil_, 0 \.,,f.I

_;\:lj\~) JLlJ~~U;~_,0't5»:_~~

\~\ .... 9}}_,uPv-~\L~0_,~~~~~'0fa\

-c~UW\ ... . .,

J.A ~ ~ _, y~ '~b, L~ ;I\~ ~l;L\ ~) \

f-Jl~i .Jo~ J o.J~J~, .. ~I~ o..l .r::l

~Y}~ ~~0\(,\, ~_:g ~Y..Lc.~-.\.o~

~i~_, 1 ~~ ;~JlJ~_,\ G\~\ ~\~~\

1

'...L,;;a.l I~~ I ~ i ~~ ~, -1..,o lA..i I jO lil1

11.1 bid, Halaman 10.

(I 0) Artinya : Mernin ta untuk menjadi hakim itu hukumnya ada lima, yaitu : Wajib, mubah, mustahab, makruh dan haram.

Wujib adalah apabila orang itu ahli ijtihad atau dari kalangan ahli ilmu dan bersikap adil dan di tempat itu tidak terdapat hakim atau ada hakim tapi tidak halal pengangkatannya, atau di tempat itu tidak ada orang yang Iayak untuk mengadili yang lain, atau karena keadaannya yang apabila tidak diikuti keputusannya, dia akan menyerahkannya kepada orang yang tidak halal pengangkatannya, dan demikian pula jika peradilan itu berada di tangan orang yang tidak halal keberadaannya dalam jabatan itu, maka tidak ada jalan untuk menyingkirkannya kecuali dengan menghalangi jabatan itu . .Mubah apabila seorang itu fakir dan mempunyai tanggungan (orang yang wajib dinafkahinya), maka dia diperbolehkan ber·

usaha mendapatkan penghasilan untuk menutupi kepapaannya itu . . Mustah.ab apabila disuatu tempat terdapat orang' alim yang ilmu-nya tidak diketahui masyarakat, Ialu imam berkehendak untuk memasyhurkannya dengan jalan mengangkatnya menjadi hakim agar ia mengajar orang-orang bodoh dan memberi fatwa kepada orang-orang yang mendapat petuqjuk, atau orang itu tidak masy-hur sebutannya dan tidak diketahui baik oleh imam maupun oleh masyarakat, lalu dia berusaha untuk menjadi hakiln untuk menge-tahui letak ilmunya, maka dimustahabkan baginya untuk men-dapatkan yang demikian itu dan memangku jabatan hakim dengan niat tersebut.

l\fakruh usaha · untuk menjadi hakim dalam rangka memperoleh kemegahan dan ketinggian di antara manusia, maka bagi orang seperti ini, usaha seperti itu dimakruhkan, walaupun ada yang mengatakan haram dengan dasar dzahir firman Allah : "Itulah kampung akhirat yang kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki ketinggian di dunia dan tidak pula berbuat kernsak-an dkernsak-an sebagai akibat bagi orkernsak-ang-orkernsak-ang ykernsak-ang bertakwa."

Haram yaitu berusaha meminta menjadi hakim sedangkan dia

bodoh, tidak mempunyai keahlian dalam masalah peradilan, atau dia berusaha menjadi hakim dan dia dari kalangan ahli ilmu, akan tetapi dia fasik, atau maksudnya untuk menjadi hakim itu adaJah untuk membalas siksa kepada musuh-musuhny~ atau untuk mcnerima suap atau sesuatu yang menyerupai dengan yang di-maksud. Maka bagi orang seperti ini diharamkan menjadi hakim.

( 11) Artinya : Dari Tsauban dia berkata, "Rasulullah Saw.

mclaknat penyogok, yang disogok dan perantaranya, yakni orang yang berjalan di antara keduanya." (1-I.R. Ahmad).

r_,~-::UIJ.,...J.ilJ_,...._; A\;: j\; ~~'.'.>'--("') _,_,,.)~\o~,1)·>~,L~ )~~\jhJc~' 4..:J

13. ( c:->~

_;J ,_, ..

(12) Dari Abu Hurairah, ia bcrkata bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, "Laknat Allah atas penyogok dan yang disogok dalam urusan hukum. (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Turmudzi).

12 Muhammad bin 'Ali bin Muhammad Asy Syaukani, Op cit, Halaman 301.

13 Ibid, Halaman 300.

) _, '~~ ~ ~ ~\ t~ l9 ~_,..::, .7 .. t-~ I~\~

-(\f) hukumnya Demikian juga halnya imam yang memberikan fatwa, kalau dia menerima sogokan sedang masyarakat mengetahuinya, rnaka tidak bold1 mengikuti fatwanya itu, sebagaimana tidak boleh mengikuti keputusan peradilannya. Dia berkata dalam kitab

"An Nawazil" bahwa barang siapa yang mendapatkan jabatan hakim dengan sogokan atau dengan meminta pertolongan maka dia seperti terhukum, kalau diperiksa keputusan hukumnya oleh hakim lain, hakim lain tersebut dapat membenarkannya bila ter-nyata sesuai dengan pendapatnya, dan dapat membatalkannya bila tidak sesuai.

14 Imam 'Alauddin Abil Hasan 'Ali bin Khalil At Tarablisi, Op cit, Halaman 9.

Barang siapa mendapatkan jabatan hakim dengan jalan me-nyogok, tidak dilaksanakan hukumnya tanpa perlu membanding-nya. Dan barang siapa menjadi hakim dengan jalan meminta per-tclongan, maka keadaannya serupa dengan orang yang memerintah dengan hak hakim, jika dia menerima sogokan kemudian meng-adili, dilaksanakan hukumnya yang tidak mengandung sogokan.

Dan tidak dilaksanakan hukumnya yang mengandung sogokan.

sedangkan sebagian ulama berpendapat batal hukum kedua-dua-nya.

Dokumen terkait