BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Pengesahan Anak Luar Kawin
Jika kita menyebut seorang anak itu seorang anak sah, maka anak itu dilahirkan atau dibuahkan di dalam suatu perkawinan yang sah. Demikian isi dari Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Adapun anak yang dilahirkan di luar perkawinan adalah tidak sah. Meskipun demikian anak yang demikian itu kemudian bisa disahkan.74
Suatu syarat guna pengesahan ialah, bahwa pada waktu nikah dilakukan atau sebelumnya harus adanya suatu pengakuan sebagai anak (erkenning) oleh ibu dan bapak.75
Dalam hal Akta Pengakuan Anak taupun Akta Pengesahan ini pada prinsipnya ditunjukan untuk maksud menciptakan hubungan hukum perdata antara anak yang diakui dengan si pengaku. Sedangkan Akta Pengesahan Anak adalah semacam pernyataan bahwa anak tersebut setelah di sahkan menjadi anak sah, dalam pengertian hukum perdata. Supaya terhadap anak yang dilahirkan oleh ibunya dan mendapat pengakuan dari ayahnya maka peristiwa pengakuan sangat penting sekali mendapat pengesahan dari suatu lembaga yang berwenang yang merupakan langkah lebih lanjut dari
73
Ibid, hlm 133
74
Ali Afandi, Op.Cit, hlm.148
75
pengakuan kedua orang tuanya tadi. Jika anak yang diakui tersebut, telah mendapat pengesahan, maka status atau kedudukan anak tersebut menjadi sama (tidak berbeda) dengan anak sah dalam segala hal. Melalui pengesahan anak ini ditimbulkan hubungan hukum perdata baru. 76
Dari bentuk Akta Pengesahan Anak itu sendiri, sebenarnya bukan merupakan suatu akta dalam bentuk tersendiri. Pada awalnya akta kelahiran biasa, dengan adanya pengesahan anak kemudian dicantumkan data pengesahan anak, yang dikenal dengan istilah populer “catatan pinggir”. Disebut catatan pinggir, karena catatan tentang perubahan status anak tersebut dicatat pada bagian pinggir dari akta kelahiran semula. “Catatan pinggir” pada suatu Akta Catatan Sipil pada dasarnya berisi perubahan data dan informasi atas akta semula.77
“Catatan pinggir” ini dapat diterapkan pada semua jenis dan macam Akta Catatan Sipil, dengan adanya “catatan pinggir” pada suatu akta, berarti data dan informasi lama tidak berlaku lagi, sedangkan yang dipergunakan sebagai data selanjutnya adalah tercantum dalam “catatan pinggir”.78
Penerbitan akta bercatatan pinggir, biasanya dilakukan berhubung adanya peristiwa baru yang oleh undang-undang dinyatakan mempunyai kekuatan hukum baru. Misalnya terjadi karena adanya Keputusan Pengadilan Negeri karena ganti nama, perubahan dan pembetulan tanggal dan bulan serta tahun kelahiran serta pembetulan nama, juga karena perubahan
76
Victor M. Situmorang, Cormentyna Sitanggang, Op.Cit, hlm. 42
77
Ibid, hlm.43
78
kewarganegaraan karena proses mengikuti suami, ataupun karena pengakuan dan pengesahan anak.79
Lembaga Catatan Sipil adalah juga lembaga yang berwenang melakukan pengesahan anak. Hal ini ditegaskan dalam Keputusan Presiden bahwa Lembaga Catatan Sipil juga berfungsi untuk Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Pengakuan dan Pengesahan Anak (Pasal 5 ayat 2 Kepres No.12 Tahun 1983).80
Dengan demikian, maka pengesahan anak hanya dapat dilakukan dengan “Surat Pengesahan” (Brieven van wettingin) oleh Kepala Negara.81
Peristiwa pengakuan atau pengesahan anak tidak dapat dilakukan secara diam-diam tetapi harus dilakukan di muka Pegawai Pencatatan Sipil, dengan pencatatan dalam akta kelahiran anak tersebut, atau dalam akta perkawinan orang tuanya (yang berakibat pengesahan ) atau dapat juga dalam suatu akta tersendiri dari Pegawai Pencatatan Sipil.82
Pada pasal 55 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dijelaskan pula bahwa : “Asal usul seorang anak hanya dapat dibuktikan dengan akte kelahiran yang authentik, yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang”.
79 Ibid 80 Ibid, hlm.44 81 Ibid 82 Ibid
Pengesahan merupakan sarana hukum, dengan mana seorang anak luar kawin diubah status hukumnya sehingga mendapatkan hak-hak seperti yang diberikan oleh Undang-Undang kepada seorang anak sah.83
Unsur-unsur pengesahan :84 1. Pengakuan
Tindakan pengesahan dilakukan pertama-tama, disamping pernikahan (kedua) orang tuanya dengan cara mengakui anak luar kawin yang bersangkutan. Jadi, pengakuan disamping pernikahan orang tua merupakan syarat adanya pengesahan
2. Pernikahan
Syarat kedua untuk pengesahan adalah, bahwa ayah yang mengakui anak luar kawinnya, menikah dengan perempuan yang melahirkan anak tersebut. Kalau pengakuan itu diberikan dalam akta nikah, maka dengan pernikahan kedua orang tua itu, pengakuan itu langsung berubah dan mempunyai akibat sebagai suatu pengesahan.
Cara melakukan pengesahan:85
1. Pengakuan dan perkawinan
Cara pengesahan pertama adalah dengan pengakuan disertai dengan perkawinan dari orang tua anak luar kawin yang mengakuinya.
2. Melalui surat pengesahan
83 J Satrio, Op.Cit.,hlm 164 84 Ibid., hlm. 165-167 85 Ibid., hlm 171-174
Pengesahan anak luar kawin bisa juga dilakukan melalui surat pengesahan presiden. Dari diadakannya lembaga pengesahan anak luar kawin melauli Surat Pengesahan, orang menyimpulkan, bahwa pembuat Undang-Undang hendak mengupayakan agar sebanyak mungkin anak-anak luar kawin, yang orang tuanya saling menikahi, memperoleh status anak sah.
3. Dalam hal ada kelalaian
Karena undang-undang tidak menyebutkan alasan dari kelalaian orang yang akan mengesahkan anak, maka kita bisa menafsirkan nya dengan luas, baik karena sengaja ataupun kelalaian termasuk dan untuk gampangnya ketidaktahuan dari orang tua. Ini bukan alasan mengada- ada, tetapi merupakan kelalaian yang ada dan bisa diduga banyak muncul dalam praktek.
4. Karena halangan
Halangan yang dimaksud adalah halangan perkawinan dari ayah yang mau mengesahkan dengan ibu si anak luar kawin yang bersangkutan. 5. Peranan Presiden dan Mahkamah Agung
Sudah tentu untuk anak-anak luar kawin, baik yang sudah maupun belum diakui sebelum perkawinan, harus dilampirkan bukti pengakuan itu, beserta dengan surat kawin kedua orang tua, yang mau mengesahkan anak, kalau mereka lalai untuk sekaligus mengaku dan sekaligus mengesahkan anak mereka dalam akta perkawinan. Akta kematian dari salah satu dari calon suami isteri tentunya juga perlu
disodorkan, untuk membuktikan, bahwa mereka atas dasar kematian itu, terhalang untuk melangsungkan perkawinan yang sudah direncanakan.
Presiden, sebelum memberikan keputusan, akan meminta pertimbangan dari Mahkamah Agung dan Mahkamah agung, sebelum memberikan advisinya, kalau dipandang perlu dapat memanggil para keluarga sedarah dari pemohon, untuk didengar pendapat mereka tentang permohonan pengesahan yang diajukan oleh yang bersangkutan. Mahkamah agung juga bisa memerintahkan Pengadilan yang ada di bawahnya untuk mendengar pendapat dari keluarga sedarah pemohon, terutama kalau para anggota keluarga tersebut tinggal di tepat jauh dari tempat tinggal pemohon.
Selanjutnya, Mahkamah Agung dapat memerintahkan, agar pemohon itu diumumkan dalam Berita Negara. Maksudnya tidak lain, agar mereka yang berkepentingan diberikan kesempatan untuk mengajukan perlawanan terhadap permohoan tersebut. Agar diingat, bahwa kita tidak tahu, apakah yang mengajukan permohonan pengesahan adalah betul ayah biologis dari anak yang bersangkutan. Kalau tidak ada yang melawan, memang tidak jadi masalah, apakah yang mau mengesahkan benar-benar ayah anak yang bersangkutan atau bukan, tetapi kalau ada orang lain yang merasa, bahwa dialah ayah dari anak itu, maka pernyataan dan keberatannya perlu diselidiki kebenaran.