• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengesahan Kebijakan Publik

Dalam dokumen Daftar Pustaka. Realitas Kebijakan Publik (Halaman 149-156)

PERUMUSAN KEBIJAKAN PUBLIK

2.4. Pengesahan Kebijakan Publik

Proses pembuatan kebijakan tidak dapat dipisahkan dengan proses pengesahan kebijakan. Dari sudut “Siapa” yang menge-sahkan dapat dibedakan atas : individual process yaitu pembuat kebijakan sekaligus mengesahkan kebijakan, collective process-terlibat pelbagai pihak dari pelbagai institusi dalam pembuatan dan pengesahan kebijakan. Dalam hal ini, pembuat kebijakan bisa sekaligus berfungsi sebagai pengesah kebijakan tersebut, atau juga berarti pembuat kebijakan adalah pihak-pihak yang berbeda dengan pengesah kebijakan. Sehingga suatu usulan kebijakan, bisa saja ditolak atau diterima oleh pengesah kebijakan.

Usulan kebijakan yang telah disahkan/dilegistimasi, maka usu-lan tersebut menjadi kebijakan yang legitimate dalam arti dapat dipaksakan pelaksanaannya dan bersifat mengikat bagi orang/

pihak-pihak yang menjadi sasaran dari kebijakan. Berkaitan dengan ini, David Easton mengatakan ‘“Suatu kebijakan negara bersifat otoritatif yaitu berisi nilai-nilai yang dialokasikan dan dipaksakan pelaksanaannya bagi seluruh anggota masyarakat”. Pemerintah diberi kewenangan penuh sehingga benar-benar kebijakan itu dilak-sanakan oleh masyarakat. Proses pengesahan ini juga disebut pro-ses penyesuaian dan penerimaan secara bersama terhadap prinsip-prinsip yang diakui dan ukuran-ukuran yang diterima.

Beberapa aspek yang harus dipahami pada tahap ini adalah:

1) Sebagai proses kolektif, pembuat kebijakan akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan suara mayoritas dalam forum pengesahan kebijakan.

2) Jika pembuat kebijakan adalah pejabat negara, maka kebija-kan publik tersebut adalah sah walaupun belum melalui proses pengesahan (otoritas legal pejabat negara).

3) Faktor penentu “kesuksesan” pengesahan kebijakan publik adalah proses sebelumnya yang sangat tergantung pada kua-litas-kualitas pihak yang terlibat di dalamnya.

4) Biasanya diawali dengan kegiatan “persuasion” dan “bargain-ing” (Take and Give , Kompromi, Negosiasi)

5) Lembaga otoritatif pengesahan kebijakan publik adalah DPR (dalam arti sebagai proses kolektif).

Sebagai contoh: Rendahnya angka partisipasi perempuan di legislatif menyebabkan ‘“kekuatan” meraih suara mayoritas juga kecil. Demikian pun “kualitas” perempuan dalam arti ‘“utuh” masih belum dapat menjamin keberhasilan dalam “persuasion” dan “bar-gaining” berbagai kebijakan untuk perempuan. Jika suatu usulan kebijakan telah disahkan maka kebijakan tersebut merupakan ke-bijakan yang sah dan bersifat otoritatif.

3. Model Perumusan Kebijakan Publik

Model merupakan bentuk abstraksi dari suatu kenyataan; su-atu perwakilan yang disederhanakan dari beberapa gejala yang ada dalam kenyataan. Model digunakan untuk :

• Menyederhanakan dan menjelaskan pemikiran–pemikiran ten-tang politik dan Public Policy

• Identifikasi aspek-aspek yang penting dari persoalan-persoalan policy.

• Menolong seseorang untuk berkomunikasi dengan orang-or-ang lain dengan memusatkan pada aspek-aspek yorang-or-ang esensial dalam kehidupan politik.

• Mengarahkan usaha-usaha ke arah pemahaman yang lebih baik tentang Public Policy.

Menyarankan penjelasan-penjelasan untuk Public Policy dan meramalkan akibat-akibatnya

Dapat dikatakan bahwa Model digunakan krn adanya eksis-tensi masalah publik yg kompleks, sehingga model dipandang se-bagai pengganti kenyataan” A model is an abstraction of reality (Quade). Menurut W.Dunn, model adalah representasi sederhana mengenai aspek-aspek yang terpilih dari suatu kondisi masalah yang disusun untuk tujuan tertentu. Sehingga Model kebijakan

dinyatakan dalam bentuk konsep/teori, diagram, grafik atau per-samaan matematis.

- Karakteristik model kebijakan publik

Sederhana dan jelas (clear)

• Ketepatan identifikasi aspek penting problem kebijakan (precise)

Menolong utk pengkomunikasian (communicable)

• Usaha langsung utk memahami kebijakan publik secara lebih baik (manageable)

Memberikan penjelasan & memprediksi konsekuensi (con-sequences)

- Kategori model kebijakan (E.S. Quade)

• Model Analitik: untuk situasi yang kompleks, digunakan dalam riset operasi

• Model Simulasi: bentuk eksperimen semu, model analog, penggunaan komputer

• Model Permainan: manusia terlibat langsung, permainan perang-perangan, keterlibatan simultan

• Model Penilaian: tidak eksplisit (ekspresi verbal, berbentuk analogi), banyak dalam pikiran, model mental, misalnya:

karakteristik organisasi

- Tipe model kebijakan (W.N. Dunn)

• Model Deskriptif: menjelaskan/memprediksi sebab dan konsekuensi pilihan kebijakan, contoh: model indikator so-sial

• Model Normatif: menjelaskan, memprediksi, merekomen-dasi optimalisasi usaha, contoh: model antrian, model biaya-manfaat, dan lain-lain

• Model Verbal: ekspresi deskriptif dan normatif, berupa:

verbal, simbol, dan prosedural; pakai bahasa sehari-hari, pakai nalar berupa argumen nilai

• Model Simbolis: pakai simbol matematis utk menerangkan hubungan, data aktual, contoh: Y=a+bX

• Model Prosedural: menggunakan prosedur simulasi, teori pembuatan keputusan (penentuan alternatif), data asumsi (relatif/bobot), contoh: diagram keputusan

Ada beberapa model perumusan kebijakan publik yang lazim dibahas, yaitu :

1) Pure Rationaly model : Pola pengembangannya pada konsep umum/universal (alamiah).

2) Economically rational Model : Gaya yang menekankan pada ekonomis dan efisien dalam pengambilan kebijakan.

3) Sequential Decision Model : Penekananya pada expriment/

coba-coba Trial and Error, yang mana pengambilan kebijakan hanya untuk expriement saja.

4) Incremental Model : Bertumpu pada kebijakan sebelumnya 5) Satisvising Model: Tidak ada rumusan alternative artinya

lang-sung menilai alternatif

6) Model Deskriptif ( Descriptive Model) : Model yang disusun untuk tujuan menjelaskan dan/atau memprediksikan konse-kuensi-konsekuensi dari pilihan –pilihan.

7) Model Kebijakan (policy Model) : Representasi yang diseder-hanakan mengenai aspek-aspek yang terseleksi dari situasi masalah yang dirumuskan untuk tujuan-tujuan tertentu.

8) Model Normatif ( Normative Model): Model yang dirumuskan untuk maksud mengoptimalkan pencapaian utilitas

9) Model Pengganti (surrogate Model) : Sebuah model yang ber-fungsi sebagai salah satu dari berbagai cara yang mungkin untuk merumuskan masalah-masalah substantif.

10) Model Perspektif (Prespective): Model yang berfungsi sebagai salah satu berbagai cara yang mungkin untuk merumuskan masalah-masalah substantif.

11) Model Prosedural (Procedural Model) : Model yang diekspre-sikan dalam bentuk prosedur - prosedur elementer yang dicip-takan untuk menampilkan hubungan dinamis

12) Model Simbolis (Symbolic Model) : Sebuah model yang diekspresikan dalam bahasa logika atau matematika simbolis, sdama atau equivalen dengan masalah formal.

13) Model Verbal (Verbal Model): Sebuah model yang diekspresi-kan dalam bahasa sehari-hari ketimbang logika simbolis dan matematis simbolis : sama atau equivalent dengan masala substantive.

Pada bagian ini, kita hanya membahas beberapa model peru-musan kebijakan publik, antara lain:

Dalam dokumen Daftar Pustaka. Realitas Kebijakan Publik (Halaman 149-156)

Dokumen terkait