• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Hasil Penelitian

5.2.2. Pengetahuan Responden Mengenai Obstructive Sleep Apnoe

Untuk mengetahui pengetahuan responden mengenai Obstructive Sleep Apnoe telah diajukan 20 pertanyaan.Untuk lebih jelasnya jawaban responden terhadap pertanyaan dapat dilihat pada table di bawah ini.

No Pertanyaan Jawaban Benar Salah (n) % (n) % 1 P1 45 86.5 7 13.5 2 P2 24 46.2 28 53.8 3 P3 29 55.8 23 44.2 4 P4 21 40.4 31 59.6 5 P5 45 86.5 7 13.5 6 P6 17 32.7 35 67.3 7 P7 24 46.2 28 53.8 8 P8 29 55.8 23 44.2 9 P9 25 48.1 27 51.9 10 P10 31 59.7 21 43.3 11 P11 23 44.2 29 55.8 12 P12 24 46.2 28 53.8 13 P13 12 23.1 40 76.9 14 P14 24 46.2 28 53.8 15 P15 25 48.1 27 51.9 16 P16 29 55.8 23 44.2 17 P17 28 53.8 24 46.2 18 P18 31 59.7 21 43.3 19 P19 43 82.7 9 17.3 20 P20 9 17.3 43 82.7

Dari Tabel 5.4. dapat diketahui dari 20 pertanyaan tentang tingkat pengetahuan

Obstructive Sleep Apnoe, pertanyaan paling banyak dijawab benar oleh responden

adalah soal pertama dan ke-5 yaitu tentang pengertian Obstructive Sleep

Apnoe.Pertanyaan ini telah dijawab benar oleh 45 responden (86.5%).Sedangkan

pertanyaan yang paling banyak dijawab salah oleh responden adalah soal yang terakhir yaitu mengenai pencegahan Obstructive Sleep Apnoesebanyak 43 orang (82.7%).Dari hasil jawapan pertanyaan tersebut, dapat kita kategorikan tingkat pengetahuan responden menjadi baik, sedang dan kurang.Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada table di bawah ini.

Tabel 5.5. Distribusi Pengetahuan Responden Tentang Obstructive Sleep Apnoe

Pengetahuan Frekuensi(n) Persentase (%)

Baik 13 25.0

Sedang 22 42.3

Kurang 17 32.7

Total 52 100,0

Dari Tabel 5.5. dapat diketahui bahwa 13 orang (25.0%) responden dengan tingkat pengetahuan baik, 22 orang responden yaitu sebanyak (42.3%) mempunyai tingkat pengetahuan sedang tentang Obstructive Sleep Apnoe.Sebanyak 17 orang (32.7%) dengan tingkat pengetahuan yang kurang.

Tabel 5.6. Distribusi Tingkat Pengetahuan Menurut Usia

Usia Baik Sedang Kurang Total

N % n % N % n %

20-30 2 50 1 25 1 25 4 100,0

31-40 3 16.7 10 55.6 5 27.8 18 100,0

>51 2 33.3 2 33.3 2 33.3 6 100,0

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pada responden yang berusia 20-31 tahun merupakan responden berpengetahuan baik (50%), manakala responden berusia 31-40 tahun hanya (16.7%) yang berpengetahuan baik dan paling banyak pengetahuan buruk yaitu (37.5%), bagi kelompok yang berusia 41-50 tahun. Bagi kelompok usia>51 tahun hanya (33.3%) yang berpengetahuan buruk.

Tabel 5.7. Distribusi Tingkat Pengetahuan Menurut Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Baik Sedang Kurang Total

N % N % n % n %

Laki-laki 6 20.7 11 37.9 12 41.4 29 100,0

Perempuan 7 30.4 11 47.8 5 21.7 23 100,0

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hanya 6 responden laki-laki yang mempunyai pengetahuan yang baik tentang Obsructive Sleep Apnoe yaitu sebanyak (20.7%), manakala perempuan mempunyai pengetahuan yang baik tentang Obstructive Sleep Apnoedengan 7 orang (30.4%).

Tabel 5.8. Distribusi Tingkat Pengetahuan Tentang Obstructive Sleep Apnoe

Baik Sedang Kurang Total

N % N % N % n %

Baik 4 30.8 9 69.2 0 0 13 100,0

Sedang 0 0 22 100,0 0 0 22 100,0

Kurang 0 0 0 0 17 100,0 17 100,0

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hanya 4 responden (30.8%) yang berpengetahuan baik tentang Obstructive Sleep Apnoe, manakala 22 orang (100%) mempunyai pengetahuan yang sedang tentang Obstructive Sleep Apnoe. Bagi pengetahuan yang kurang teantang Obstructive Sleep Apnoe adalah sebanyak 17 responden (100%).

5.3. Pembahasan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Penelitian ini memperlihatkan tingkat pengetahuan para guru yang berkerja di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Medan tentang Obstructive Sleep Apnoe.

Berdasarkan hasil penelitian, tingkat pengetahuan responden tentangpenyakit kanker payudara adalah cukup yaitu 22 orang ( 42%).Hasil penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian Dorinda (2010), yang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan orang tentang Obstructive Sleep Apnoesebagai satu masalah di Amerika Serikat 20010 berada dalam kategori cukup yaitu 69 orang (87,4%).

Tingkat pengetahuan responden yang berusia 20-30 tahun yaitu yaitu 7.7% dari total responden merupakan golongan yang mempunyai peratusan yang dengan tingkat pengetahuan yang baik tentang Obstructive Sleep Apnoe yaitu 50%. Hasil ini sesuai dengan teori yang ditulis oleh Notoadmodjo (2007) yaitu semakin tinggi umur seseorang maka ia akan banyak mempunyai pengalaman Sehingga semakin tinggi umurnya, maka semakin tinggi tingkat pengetahuannya.

Berdasarkan table distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden yang berusia 20-30 tahun yaitu 7.7% dari total responden merupakan golongan yang mempunyai peratusan yang dengan tingkat pengetahuan yang baik tentang

Obstructive Sleep Apnoe yaitu 50%.Hasil ini sesuai dengan teori yang ditulis oleh

Notoadmodjo (2007) yaitu semakin tinggi pendidikan seseorang maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal yang baru tersebut. Sehingga semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi tingkat pengetahuannya.Tambahan pula respondan bagi kuesioner ini merupakan para guru yang memang seharusnya tahu secara lengkap tentang Obstructive Sleep

Apnoe.

Berdasarkan golongan laki-laki terdapat 6 orang 20% yang tingkat pengetahuaannya baik, manakala golongan perempuan adalah sebanyak 7 orang 30% dengan pengetahuan yang baik tentang Obstructive Sleep Apnoe. Menurut Notoatmodjo (2003),tingkat pengetahuan seseorang juga dipengaruhi oleh pengalaman yang diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain.Fasilitas juga menjadi salah satu sumber faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang.

Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa para guru yang berkerja di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Medan mempunyai tingkat pengetahuan yang cukup tentang Obstructive Sleep Apnoe, sehingga tingkat pengetahuan “aplikasi”, yaitu

mengetahui bagaimana menerapkan cara dan langkah-langkah pencegahan. Sesuai

dengan pendapat Notoadmodjo (2007), “tahu” diartikan sebagai mengingat suatu

yang paling rendah.Sedangkan “aplikasi” diartikan kemampuan untuk

menerapkan materi yang dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya.Respondan sebagai guru dianggap berada pada tahap dimana mereka dapat mengedukasi masyarakat tentang Obstructive Sleep Apnoe.Maka,melalui jadwal diatas dapat dibuktikan bahawa tingkat pengetahuan mereka berada dalam lingkungan yang cukup.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian Abu S.M. Shamsuzzaman (2008), yang menunjukkan bahwa Obstructive Sleep Apnoe dapat meningkatkan resiko terkena hipertensi,penyakit jantung koroner, stroke pada usia muda terutama pada pria yang mencukupi yaitu 30% dan 15% pada wanita. Tingkat pengetahuan Obstructive Sleep Apnoe lebih baik dari pria.Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2005), yaitu dengan bertambahnya pendidikan seseorang maka proses berfikir akan semakin matang dan dewasa. Pendidikan yang baik biasanya akan lebih meningkatkan kompetensi mereka sebagai guru untuk memberikan edukasi pada masyarakat umum.

Tetapi pada penelitian Patrick (2010), the New England Journal of

Medicine,menunjukkan hasil yang berbeda bahwa tingkat pengetahuan pria dan

wanita tentang Obstrucive Sleep Apnoe jauh lebih baik yaitu 70 orang (80%). Perbedaan hasil tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan kondisi dan lingkungan masyarakat, seperti informasi yang diterima, kurang atau tingginya tingkat pengetahuan mengenai Obstructive Sleep Apnoe.Hal ini sesuai dengan teori Notoadmodjo (2005), bahwa kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru.Maka dari itu perlu dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan pengetahuan tentang Obstructive Sleep Apnoe, seperti mencari informasi di berbagai media, seperti media cetak (buku, majalah, koran, tabloid) dan media elektronik (televisi, radio, internet). Penelitian yang dilakukan oleh Harvey Simon (2012), juga mengatakan bahwa hasil dari penelitian yang dilakukan didapati 78% dari pria dan wanita mengikuti ceramah-ceramah pencegahan tentang Obstructive Sleep

Hal diatas tersebut sesuai dengan teori Notoadmodjo (2005), bahwa untuk meningkatkan pengetahuan seseorang perlu diperhatikan beberapa faktor yangmempengaruhi pengetahuan tersebut, seperti pendidikan, pekerjaan, usia, minat, pengalaman, kebudayaan, lingkungan sekitar, tingkat sosial ekonomi dan sumber informasi.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait