• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengetahuan Responden tentang Standard Precautions pada pasien HIV, Hepatitis B, Hepatitis C dan TBCHIV, Hepatitis B, Hepatitis C dan TBC

HASIL PENELITIAN

4.2 Pengetahuan Responden tentang Standard Precautions pada pasien HIV, Hepatitis B, Hepatitis C dan TBCHIV, Hepatitis B, Hepatitis C dan TBC

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa kepaniteraan klinik di departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, departemen Konservasi, departemen Periodonsia dan departemen Pedodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara tahun 2015 mengenai tingkat pengetahuan standard precautions

terhadap pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC yang dapat dilihat pada tabel 5 menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang jenis penyakit yang dapat menular di praktek dokter gigi, penularan penyakit HIV, penularan penyakit TBC, gejala dan tanda klinis TBC, tujuan dilakukannya kontrol infeksi, pengetahuan

standard precautions, tindakanstandard precautions, pencegahan utama pada pasien TBC, tipe masker yang dianjurkan cdc untuk bakterimycobacterium tuberculosisdan jenis alat-alat sekali pakai termasuk kategori baik (≥80%). Pengetahuan responden tentang gejala dan tanda klinis hepatitis B, pencegahan utama perawatan pada pasien hepatitis B dan pencegahan utama pada perawatan pasien HIV termasuk kategori cukup (60% - 79%). Pengetahuan responden tentang gejala dan tanda klinis HIV, gejala dan tanda klinis hepatitis C, manifestasi oral HIV, penularan penyakit hepatitis B, penularan penyakit hepatitis C, jenis desinfektan yang efektif membunuh HIV, hepatitis B dan hepatitis C, jenis desinfektan yang efektif membunuh TBC dan jenis antiseptik yang efektif membunuh HIV, hepatitis B dan hepatitis C dan TBC manifestasi oral hepatitis B dan C, pencegahan utama perawatan pada pasien hepatitis C dan imunisasi yang penting untuk dokter gigi termasuk kategori buruk (<60%). (tabel 5).

37

Tabel 5. Distribusi pengetahuan resonden terhadapstandard precautions pada pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC

Pengetahuan Tahu Tidak Tahu

n % n %

Penularan penyakit HIV 202 98,53 3 1,47

Pengertianstandard precautions 193 94,14 12 5,86

Penularan penyakit TBC 192 93,65 13 6,35

Jenis-jenis alat sekali pakai 192 93,65 13 6,35

Jenis penyakit yang dapat menular di praktek

dokter gigi 184 89,75 21 10,25

Pencegahan utama pada pasien TBC 181 88,29 24 11,71

Tindakanstandard precautions 178 86,82 27 13,18

Gejala dan tanda klinis TBC 173 84,40 32 15,60

Tujuan dilakukannya kontrol infeksi 167 81,46 38 18,54 Tipe masker yang diajurkan CDC untuk

bakterimycobacterium tuberculosis 165 80,48 40 19,52

Pencegahan utama perawatan pada pasien

hepatitis B 159 77,56 46 22,44

Gejala dan tanda klinis hepatitis B 138 67,31 67 32,69 Pencegahan utama perawatan pada pasien

HIV 132 64,39 73 35,61

Gejala dan tanda klinis hepatitis C 122 59,51 83 40,49

Gejala dan tanda klinis HIV 120 58,53 85 41,47

Manifestasi oral HIV 118 57,56 87 42,44

Jenis antiseptik yang efektif membunuh HIV,

hepatitis B, hepatitis C dan TBC 114 55,60 91 44,40 Jenis desinfektan yang efektif membunuh

TBC 113 55,12 92 44,88

Jenis desinfektan yang efektif membunuh

HIV, hepatitis B dan hepatitis C 111 54,14 94 45,86

Penularan penyakit hepatitis C 92 44,84 113 55,16

Manifestasi oral hepatitis B dan hepatitis C 90 43,90 115 56,10

Imunisasi yang penting untuk dokter gigi 65 31,70 140 68,30

Penularan penyakit hepatitis B 63 30,73 142 69,27

Pencegahan utama perawatan pada pasien

hepatitis C 60 29,26 145 70,74

38

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa kepaniteraan klinik di departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara tahun 2015 mengenai tingkat pengetahuan standard precautions terhadap pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC dapat dilihat jumlah responden yang menjawab cukup sebanyak 52 orang dengan persentase 81,25%, lalu kurang sebanyak delapan orang dengan persentase 12,5% dan diikuti baik sebanyak empat orang dengan persentase 6,25% (Tabel 6).

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa kepaniteraan klinik di departemen Pedodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara tahun 2015 mengenai tingkat pengetahuan standard precautions terhadap pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC dapat dilihat jumlah responden yang menjawab cukup sebanyak lima belas orang dengan persentase 53,57%, lalu kurang sebanyak sebelas orang dengan persentase 39,29% dan diikuti baik sebanyak dua orang dengan persentase 7,14% (Tabel 6).

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa kepaniteraan klinik di departemen Konservasi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara tahun 2015 mengenai tingkat pengetahuan standard precautions terhadap pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC dapat dilihat jumlah responden yang menjawab cukup sebanyak 40 orang dengan persentase 74,07%, lalu kurang sebanyak tiga belas orang dengan persentase 24,08% dan diikuti baik sebanyak satu orang dengan persentase 1,85% (Tabel 6).

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa kepaniteraan klinik di departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara tahun 2015 mengenai tingkat pengetahuan standard precautions

terhadap pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC dapat dilihat jumlah responden yang menjawab cukup sebanyak 41 orang dengan persentase 69,49%, lalu kurang sebanyak lima belas orang dengan persentase 25,42% dan diikuti baik sebanyak tiga orang dengan persentase 5,08% (Tabel 6).

39

Tabel 6. Distribusi pengetahuan resonden terhadapstandard precautions pada pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC di departemen Bedah Mulut, Periodonsia, Pedodonsia dan Konservasi

Departemen Kategori Pengetahuan n %

Periodonsia Baik 4 6,25 Cukup 52 81,25 Kurang 8 12,5 Pedodonsia Baik 2 7,14 Cukup 15 53,57 Kurang 11 39,29 Konservasi Baik 1 1,85 Cukup 40 74,07 Kurang 13 24,08

Bedah Mulut dan Maksilofasial

Baik 3 5,08

Cukup 41 69,49

Kurang 15 25,42

Tingkat pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik tentang standard precautions pada pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC didapat persentase tertinggi mempunyai pengetahuan cukup yaitu 72,20%, diikuti 22,92% responden termasuk kategori buruk dan 4,88% responden termasuk kategori baik. (Tabel 7).

40

Tabel 7. Kategori pengetahuan responden tentang tingkat pengetahuan standard precautionspada pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC

Kategori Pengetahuan n % Baik Cukup Kurang 10 148 47 4,88 72,20 22,92 Total 205 100

41

BAB 5 PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh responden 98,53% mengetahui dengan baik dalam hal penularan penyakit HIV. Dengan mengetahui penularan kita dapat mencegah penularan secara dini penyakit HIV yang mungkin dapat terjadi. Hasil serupa juga didapat dari penelitian oleh Viragi PS dkk di India tahun 2011 yang menunjukkan 87% dokter gigi mengetahui dengan baik mengenai tingkat pengetahuan penularan penyakit HIV.49 Namun pengetauan responden kurang 58,53% dalam hal gejala dan tanda klinis penyakit HIV dan pengetahuan responden juga kurang 57,56% dalam hal manifestasi oral penyakit HIV. Hasil persentase yang rendah menunjukkan kurangnya kesadaran akan bahayanya penyakit HIV dan kurangnya pemahaman ilmu akan penyakit HIV. Tingkat keilmuan akan manifestasi oral dan gejala dan tanda klinis penyakit HIV harus ditingkatkan agar mahasiswa klinik dapat mengetahui apa saja ciri-ciri penderita HIV, hal ini akan berguna pada anamnesa sebagai tindakan awal pencegahan sehingga dapat mencegah infeksi silang yang dapat terjadi. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Viragi PS dkk pada dokter gigi di India tahun 2011 yang mendapatkan hasil yang memuaskan untuk tingkat pengetahuan terhadap manifestasi oral dan gejala dan tanda klinis pada penyakit HIV.49Perbedaan hasil penelitian tersebut dimungkinkan karena perbedaan sampel penelitian, dimana penelitian ini menggunakan mahasiswa kepaniteraan klinik sedangkan Viragi PS dkk menggunakan dokter gigi sebagai sampelnya. (Tabel 5).

Hampir seluruh responden 94,14% mengetahui dengan baik pengertian

standard precautions sedangkan pengetahuan responden yang cukup 81,46% dalam hal tujuan dilakukannya kontrol infeksi dan 86,82% responden mengetahui dengan baik tindakanstandard precautionsserta 80,48% responden mengetahui masker yang dianjurkan oleh CDC untuk mencegah penyebaran virusmycobacterium tuberculosis. Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuzbasioglu dkk pada 135 dokter gigi di Turki pada tahun 2005 dimana 96,30% respondennya mengetahui

42

dengan baik pengetahuan dan tindakan standard precautions.48 Dengan mengetahui tindakan standard precautions, risiko infeksi silang yang mungkin terjadi dapat dihindari baik pada penyakit HIV, hepatitis B, hepatitis C, TBC dan bahkan penyakit menular lainnya. (Tabel 5).

Hampir seluruh responden 93,65% mengetahui dengan baik penularan penyakit TBC sedangkan pengetahuan responden cukup 84,40% dalam hal gejala dan tanda klinis TBC. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bhebhe LT dkk pada 129 tenaga kerja kesehatan di Afrika Selatan tahun 2014 yang menunjukkan hasil yang cukup memuaskan dalam tingkat pengetahuan tenaga kerja kesehatan terhadap bakteri mycobacterium tuberculosis.52 Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepedulian akan penyakit TBC semakin baik, walaupun nyatanya penderita TBC masih sangat banyak dan masih jauh dari harapan. Dengan mengetahui penularan, gejala dan tanda klinis kita dapat mendeteksi penderita TBC secara awal pada anamnesa. Hal ini akan berguna karena kita dapat melakukan prosedur pencegahan infeksi silang dengan melakukan tindakanstandard precautions pada penderita TBC. (Tabel 5).

Hampir seluruh responden 93,65% mengetahui dengan baik jenis-jenis alat sekali pakai. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Al-Rabeah dan Mohammed pada 206 dokter gigi di Riyadh pada tahun 1999 yang melaporkan rata-rata 98% respondennya mengetahui alat-alat sekali pakai.54Alat-alat sekali pakai dapat mengurangi infeksi silang virus dan bakteri penyakit menular, karena alat-alat sekali pakai tidak diperbolehkan untuk dipakai secara berulang dan hanya sekali digunakan untuk satu pasien. Hal ini akan mencegah perpindahan virus dan bakteri dari satu pasien ke pasien lain. (Tabel 5).

Pengetahuan responden yang baik 89,75% mengetahui bahwa penyakit HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC merupakan penyakit risiko tinggi yang dapat menular di praktek dokter gigi. Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuzbasioglu dkk pada 135 dokter gigi di Turki pada tahun 2005 yang menyatakan penyakit HIV 91,9%, hepatitis B 88,1%, hepatitis C 88,1% dan TBC 61,5% merupakan penyakit yang paling banyak dipilih oleh responden sebagai

43

penyakit paling menular di praktek dokter gigi.48 Dengan mengetahui penyakit-penyakit yang dapat menular di praktek dokter gigi dapat mencegah infeksi silang yang mungkin dapat terjadi, karena dengan mengetahui apa saja penyakit yang dapat menular di praktek dokter gigi kita dapat mempelajari penularan, manifestasi oral, gejala dan tanda klinis serta mengetahui tindakan pencegahan apa saja yang dapat dilakukan. Masih adanya mahasiswa klinik yaitu sebanyak 10,25% responden yang tidak mengetahui penyakit risiko tinggi yang dapat menular di praktek dokter gigi dimungkinkan karena kurangnya keilmuan dan pengetahuan dari responden. (Tabel 5).

Pengetahuan responden yang baik 84,39% dalam hal pencegahan penyakit HIV dan pengetahuan responden juga baik 88,29% dalam hal pencegahan penyakit TBC sedangkan pengetahuan responden cukup 77,56% dalam hal pencegahan penyakit hepatitis B namun pengetahuan responden masih sangat kurang 29,26% dalam hal pencegahan penyakit hepatitis C. Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Puttaih dkk pada 500 orang dokter gigi di India tahun 2010 yang melaporkan hasil yang memuaskan bagi pengetahuan dokter gigi terhadap pencegahan penyakit menular di kedokteran gigi, kecuali untuk penularan penyakit hepatitis C karena kemungkinan kurangnya kesadaran, pemahaman ilmu dan keingintahuan responden terhadap penyakit hepatitis C.53 Meskipun sebagian besar mahasiswa klinik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara sudah mengetahui prosedur pencegahan infeksi silang

standard precautions pada penderita HIV, Hepatitis B dan TBC, dapat dilihat persentase yang cukup rendah pada penyakit hepatitis C. Hal ini harus segera diperbaiki, agar mahasiswa klinik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dapat menghindari infeksi silang dengan melakukan prosedur standard precautions pada`penyakit hepatitis C di praktek dokter gigi. (Tabel 5).

Pengetahuan responden yang kurang 67,31% dalam hal gejala dan tanda klinis hepatitis B dan juga pengetahuan responden yang masih kurang 43,90% dalam hal manifestasi oral hepatitis B. Dengan mengetahui manifestasi oral, gejala dan tanda

44

klinis hepatitis B, kita dapat menguatkan anamnesa pada awal perawatan sehingga dapat mengetahui tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk menghindari infeksi silang yang dapat terjadi. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Kasetty S dkk pada dokter gigi di India tahun 2013.50Hal ini terjadi karena mungkin kurangnya pemahaman pengetahuan yang diberikan oleh responden penelitian dan juga kurangnya kepedulian dari responden penelitian terhadap bahayanya penyakit hepatitis B. Dari pertanyaan yang mewakili pengetahuan terhadap hepatitis B dapat dilihat bahwa pengetahuan mahasiswa sangat rendah. Hal ini merupakan risiko besar infeksi silang hepatitis B dapat terjadi, maka dari itu baiknya pengetahuan akan hepatitis B seperti penularan, manifestasi oral, gejala dan tanda klinis harus ditingkatkan. (Tabel 5).

Pengetahuan responden yang kurang 54,14% dalam hal jenis desinfektan yang efektif membunuh HIV, hepatitis B dan hepatitis C. Sedangkan pengetahuan responden yang kurang 55,12% dalam hal jenis desinfektan yang efektif membunuh TBC dan hanya 55,60% responden mengetahui dengan baik jenis antiseptik yang efektif membunuh HIV, hepatitis B, hepatitis C dan TBC. Hasil yang didapat mencerminkan rendahnya pengetahuan mahasiswa klinik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara akan tindakan sterilisasi dan desinfeksi menurut prosedur standard precautions. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Al-Rabeah dan Mohammed pada 206 dokter gigi di Riyadh pada tahun 1999 yang melaporkan 62% respondennya mengetahui sterilisasi dan desinfeksi yang baik dalam kontrol infeksi. 54 Hasil yang sedikit berbeda ini dimungkinkan karena perbedaan responden dan juga tempat penelitian. Tindakan sterilisasi dan desinfeksi yang baik dapat membunuh virus dan bakteri penyakit-penyakit menular seperti HIV, hepatitis B, hepatitis C, TBC dan lain-lain. Hal ini dapat mencegah infeksi silang yang dapat terjadi, karena alat-alat dan tempat praktek dokter gigi dapat menjadi tempat virus dan bakteri sebagai media penularan. (Tabel 5).

Pengetahuan responden yang sangat kurang 44,84% dalam hal penularan virus hepatitis C dan hanya 43,90% responden mengetahui dengan baik manifestasi oral

45

hepatitis C sementara responden yang mengetahui gejala dan tanda klinis hepatitis C sebesar 59,51%. Hasil ini berbeda dengan penelitian Ghanaei RM dkk pada tingkat pengetahuan mahasiswa kedokteran terhadap pengetahuan hepatitis C di Iran tahun 2013.51 Hal ini mungkin dikarenakan kurangnya pemahaman pengetahuan dan kepedulian responden terhadap penyakit hepatitis C. Manfaat mengetahui penularan, manifestasi oral, gejala dan tanda klinis hepatitis C adalah kita dapat mencegah infeksi silang yang dapat terjadi dan dapat menguatkan anamnesa pada penderita hepatitis C sebagai deteksi awal agar berhati-hati dan melakukan prosedur standard precautionsyang tepat agar terhindar dari infeksi silang yang dapat terjadi. (Tabel 5).

Pengetahuan responden sangat kurang 30,73% dalam hal tingkat pengetahuan terhadap penularan penyakit hepatitis B. Rendahnya hasil yang didapat mencerminkan rendahnya pengetahuan mahasiswa klinik di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Rendahnya pengetahuan penularan hepatitis B harus segera diperbaiki, agar infeksi silang yang mungkin terjadi dapat dihindari. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Kasetty S dkk yaitu sebanyak 82,15% responden yang terdiri dari 280 orang dokter gigi di India tahun 2013 mengetahui dengan baik penularan virus hepatitis B.50 Perbedaan hasil yang didapat mungkin dikarenakan perbedaan responden penelitian, dan mungkin kurangnya perhatian dan pemahaman pengetahuan penyakit hepatitis B yang didapat pada responden penelitian ini. (Tabel 5)

Pengetahuan responden sangat kurang 31,70% dalam hal imunisasi yang penting bagi dokter gigi. Sedangkan hasil yang lebih baik didapat dari penelitian yang dilakukan oleh Navissha yaitu walaupun hanya 58,75% respondennya mengetahui imunisasi yang penting untuk dokter gigi.55 Rendahnya hasil persentase penelitian tersebut kemungkinan dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya imunisasi bagi petugas kesehatan khususnya dokter gigi, mengingat bahwa risiko penularan penyakit infeksi pada petugas kesehatan tergolong tinggi. Imunisasi sebagai tindakan pencegahan awal pada pekerja kesehatan baik pada dokter gigi, perawat ataupun mahasiswa klinik untuk menghindari terinfeksi penyakit menular yang dapat terjadi. Imunisasi yang penting untuk pekerja kesehatan adalah imunisasi

46

hepatitis B dan BCG (TBC). Tingkat pengetahuan imunisasi yang penting untuk pekerja kesehatan pada mahasiswa klinik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara harus ditingkatkan karena dengan mengetahui apa saja imunisasi yang penting untuk pekerja kesehatan, dapat menjadi bekal nanti ketika sudah menjalani praktek untuk mencegah infeksi silang yang mungkin dapat terjadi di tempat praktek dokter gigi. (Tabel 5).

Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan responden paling banyak kategori cukup 72,20%, diikuti kurang 22,92% dan baik 4,88%. Hasil ini sesuai dengan penelitian Navissa tahun 2011 yang menunjukkan pengetahuan mahasiswa kepaniteraan klinik paling banyak termasuk kategori cukup yaitu 48,75%. Ini mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan mahasiswa mengenai pentingnya

47

BAB 6

Dokumen terkait