Bab 2 Metode Kajian Pasar Tradisional
2.1 Penggalian Data dan Informasi
Dalam penelitian Naturalistik Kualitatif data bersifat deskriptif yang disajikan dalam bentuk uraian kata-kata hasil interview dengan para informan, gambar dokumen arsip peta dan foto Pasar Gede dan Kota Surakarta mulai dari awal terbentuknya kota Surakarta hingga masa sekarang Tahun 2016, foto dan video kondisi empirik Pasar Gede dan Kota Surakarta. Hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan adanya data yang bersifat dokumen sebagai yang bersifat historis dan administratif. Langkah pengumpulan data meliputi mengumpulkan informasi melalui observasi dan wawancara, baik yang terstruktur maupun yang tidak terstruktur, dokumentasi, materi visual, serta rancangan protokol untuk merekam dan mencatat informasi (Creswell, 2009:258-289). Untuk menentukan informan dan lokasi penelitian dapat ditentukan dengan beberapa kriteria seperti dalam Tabel 2.1 :
Tabel 2.1: Kriteria Penentuan Partisipan dan Lokasi (Creswell, 2009)
No Kriteria Keterangan
1 Setting
atau Lokasi Penelitian
Pasar Gede sebagai pasar tradisional di kota tradisional Jawa yang telah mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, meliputi kawasan Pasar Gede, Kota Surakarta dan wilayah hinterland yang terkait.
2 Aktor
siapa yang akan diwawancara dan observasi
Pihak yang terkait dengan kebertahanan pasar tradisional di kota tradisional Jawa yang telah mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, meliputi pedagang, pembeli, tukang angkat junjung, tukang parkir, pemerhati, akademisi, budayawan, Dinas Pengelolaan Pasar Pemerintah
Kota Surakarta.
3 Peristiwa
atau kejadian yang dirasakan para aktor yang akan dijadikan topik wawancara dan observasi
Peristiwa yang menyangkut kebertahanan pasar tradisional (jual-beli, sosial, budaya, rekreasi, aktuasisasi diri, dan hal lain yang terkait), perubahan orientasi orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar
4 Proses
berupa sifat peristiwa yang dirasakan oleh aktor dalam setting penelitian
Proses yang dialami atau dilalui dalam menjaga kebertahanan pasar tradisional dan perubahan orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar yang menyangkut proses (waktu) pelaku (Man), aktivitas (Activity), dan tempat (Place), meliputi proses pemasukan barang dari berbagai daerah, pengiriman barang dagangan ke berbagai daerah, pergantian masing-masing aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya, perpaduan budaya belanja Jawa dan China, adaptasi terhadap perubahan kebijakan dan gejolak ekonomi, dan lain-lainnya
Sedangkan teknik yang digunakan dalam penggalian data seperti dalam Gambar 2.1 sebagai berikut:
Gambar 2.1: Teknik Pengumpulan Data (Analisis Peneliti, 2016)
Sedangkan untuk mengumpulkan data, informan penelitian ini akan difokuskan pada pihak yang terkait dengan komunitas atau pengguna pasar, masyarakat pemerhati pasar tradisional, dan pemangku kebijakan Pemerintah Kota Surakarta yang terkait dengan Pasar Gede dan Kota Surakarta sebagai kota tradisional Jawa.
Pemilihan tersebut secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:
a Komunitas atau pengguna pasar meliputi pedagang, pengunjung, kuli angkat junjung, tukang parkir, petugas kebersihan, petugas retribusi, dengan pertimbangan karena pengguna pasar merupakan pihak yang erat kaitannya dengan segala aktivitas yang ada di Pasar Gede.
b b. Masyarakat pemerhati pasar tradisional meliputi akademisi, budayawan, praktisi perencana, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat di sekitar Kota Surakarta yang konsen terhadap pasar tradisional, dengan pertimbangan pihak tersebut sebagai bagian yang turut melestarikan keberlangsungan Pasar Gede.
c Pemangku kebijakan Pemerintah Kota Surakarta meliputi Dinas Pengelolaan Pasar, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA), dengan pertimbangan bahwa pengelolaan Pasar Gede melibatkan berbagai pihak yang terkait.
Meskipun demikian, hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya perluasan keterlibatan nara sumber lain seperti peneliti, budayawan dan tokoh masyarakat terkait dengan data historis dan proses perkembangan aktivitas Pasar Gede sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa. Hal tersebut dikarenakan penentuan subjek bukan untuk generalisasi, tetapi sebagai tempat untuk menggali informasi yang diperlukan, yang bergulir dari informan awal menuju informan kunci. (Arikunto, 2010:23).
Dalam pelaksanaan Grounded Theory Methode untuk menggali informasi dari fenomena dikenal adanya social situation atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis (Spradley, 1980; Sugiyono, 2013: 215; dan Setioko, 2010). Berdasarkan karakteristik fenomena yang ada di kawasan Pasar Gede, maka perlu ditambahkan komponen waktu/proses (time/process)
dengan pertimbangan bahwa waktu/proses menjadi bagian dalam pengamatan dikarenakan tempat, aktivitas, dan pelaku dalam perputaran waktu memiliki karakteristik yang berbeda. Perputaran waktu mulai dari harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Keempat elemen merupakan bagian yang saling terkait dan berinteraksi secara sinergis.
Secara bertahap langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a Langkah awal penelitian untuk mendapatkan data teoritik terkait dengan fokus penelitian adalah melakukan grand tour pada seluruh wilayah studi yaitu Kawasan Pasar Gede, wilayah Kota Surakarta dan sekitarnya. Grand Tour lingkup kawasan Pasar Gede dilakukan dengan pengamatan aktivitas jual-beli, aktivitas pasokan barang dagangan, aktivitas sosial, aktivitas budaya dan aktivitas rekreasi yang berada di sekitar kawasan Pasar Gede. Sedangkan untuk lingkup Kota Surakarta dan sekitarnya dilakukan dengan pengamatan komponen struktur kota Jawa (keraton, masjid dan pasar), jejaring antar komponen, hirarki masing-masing komponen, persebaran pasar tradisional, karakteristik komoditas pasar tradisional, dan jangkauan layanan pasar tradisional. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan secara menyeluruh sesuai dengan permasalahan penelitian maka selanjutnya dapat dilakukan pengamatan lebih mendalam tentang kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dan menyimpan fenomena diskrit sebagai data teoritik. Hal tersebut dilakukan melalui pengamatan mendalam atau mini tour hingga mendapatkan unit amatan terkait dengan kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota dalam suatu kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar.
b Pengamatan mendalam atau mini tour dilakukan dalam beberapa unit amatan berdasarkan ciri spesifik yang menonjol yang terkait dengan permasalahan penelitian, yaitu:
1) Ranah kebijakan meliputi pasar sebagai bagian area kekuasaan raja dalam ruang kota tradisional Jawa dan posisi pasar dalam sumbu utara selatan;
2) Ranah keruangan meliputi pasar sebagai bagian mancapat dan pasar menempati wilayah inti kerajaan Negaragung;
3) Ranah aktivitas meliputi posisi pasar sebagai komponen ucap syukur dan ruang publik perkotaan dan membangun relasi sosial;
4) Ranah pelaku ekonomi pasar meliputi pasar sebagai pusat ekonomi dan pusat pelayanan (ruang sosial dan budaya);
5) Ranah peristiwa adanya proses meliputi pasar sebagai simpul perdagangan dan pasar sebagai pusat sosial dan kapitalis.
Hasil pengamatan dari unit amatan akan menghasilkan unit-unit informasi, sedangkan untuk memahaminya perlu adanya kepekaan teoritik dan dilakukan secara mengkonsep.
c Selama pelaksanaan mini tour, rangkaian waktu secara serial dikelompokkan dalam satu kesatuan proses, dengan berpijak pada komponen pelaku, aktivitas dan tempat. Terkait dengan fenomena diskrit yang ditemukan kawasan Pasar Gede sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam suatu kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, kesatuan proses dapat dirangkai sesuai spesifikasi peristiwa masing-masing unit amatan.
d Berdasarkan hasil tersebut akan diperoleh eksplorasi perubahan proses tiap-tiap komponen pelaku, aktivitas dan tempat, dan selanjutkan dapat memberikan gambaran tentang keterkaitan yang terjadi pada unit amatan. Berbagai ragam hasil pengamatan pada unit amatan akan menghasilkan suatu fenomena diskrit yang merupakan dasar dalam perumusan analisis pengkodean mulai dari pengkodean berbuka, pengkodean berporos dan pengkodean berpilih. Hasil telaah terhadap unit amatan yang beragam maka dapat dilakukan klasifikasi berdasarkan kata kunci yang memiliki makna yang sama dalam suatu fenomena diskrit, sehingga pada penelitian ini dapat dihasilkan 29 fenomena diskrit yang terkait dengan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa.
e Tahap selanjutnya adalah proses pengkodean berbuka dengan menggunakan teknik perbandingan untuk masing-masing fenomena dan secara lebih mendalam dilakukan dengan model paradigma dalam hubungan yang menunjukkan kondisi kausal, fenomena, konteks, kondisi pemengaruh, strategi tindakan/interaksi, dan konsekuensi. Hasil konsekuensi masing-masing fenomena memiliki
persamaan dan perbedaan yang selanjutnya dapat dihubungan keterkaitannya dalam suatu tema, yaitu ada 15 tema.
f Hasil pengkodean berbuka yang berjumlah 15 tema selanjutkan dilakukan proses pengkodean berporos dengan diawali dengan menganalisis karakter masing-masing tema dalam 5 klasifikasi yaitu : 1) Tema-Tema Nilai Kesejarahan Pasar Tradisional
2) Tema-Tema Pasar Sebagai Ruang Budaya 3) Tema-Tema Pasar Sebagai Ruang Sosial 4) Tema-Tema Pasar Sebagai Ruang Ekonomi 5) Tema-Tema Pasar dalam Konstelasi Kota.
Langkah selanjutnya dari masing-masing klasifikasi dapat ditelusuri keterkaitan antar tema dalam 5 ranah yaitu:
1) Ranah Sejarah Kota Surakarta
2) Ranah Pasar sebagai Fasilitas Budaya Kota 3) Ranah Pasar sebagai Fasilitas Sosial Kota 4) Ranah Pasar Sebagai Fasilitas Ekonomi Kota 5) Ranah Pasar Sebagai Komponen Struktur Kota.
Proses selanjutnya adalah mempertajam keterkaitan tema dalam proses konseptualisasi tema untuk menghasilkan suatu konsep sebagai bentuk rumusan konsepsi. Proses konseptualisasi dapat dikelompokkan dalam Ranah Waktu/Proses, Ranah Pelaku (Man), Ranah Kegiatan (Activity), Ranah Kebijakan (Policy), dan Ranah Tempat (Place), yang selanjutnya menghasil ada 10 Konsepsi.
g Berdasarkan hasil konsepsi tersebut maka dapat dilakukan penelusuran kategori dalam proses pengkodean berpilih melalui tahapan penelusuran alur inti cerita (story line) dengan maksud untuk mencapai keterpaduan antar kategori dalam bentuk pengkonsepan cerita deskripsi tentang fenomena utama penelitian yang terkait dengan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa. Rangkaian inti cerita diawali dengan terbentuknya Pasar Gede di Kota Surakarta sebagai kota tradisional Jawa kerajaan Mataram yang tertua dan masih eksis hingga sekarang. Hasil penelusuran alur inti cerita yang selanjutnya ditelaah menurut sifat dan ukurannya hingga diperoleh rumusan kategori yang menjadi dasar dalam
bangunan teori subtanstif tentang pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa. Proses pengkodean berpilih menghasilkan 5 kategori yang menjadi komponen bangunan teori kebertahanan pasar tradisional. Secara diagramatis dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2: Pengumpulan Data dalam Penelitian Induktif (Diinterpretasikan dari Strauss and Corbin, 2013)
Dalam mengurai subtansi penelitian yang terkait dengan ranah keilmuan dan rumpun teori, maka penelusuran data teoritik dilakukan dengan berpijak pada aspek keterkaitan antara pelaku, aktivitas, dan tempat dalam suatu rangkaian
waktu tertentu dalam tiap-tiap unit amatan. Unit amatan penelitian dapat digambarkan dalam Gambar 2.3 sebagai berikut:
Gambar 2.3: Unit Amatan Penelitian (Analisis Peneliti, 2016)
Secara lebih detail teknik yang digunakan untuk mengkompilasi data dan mereduksi data, dapat dilakukan secara sinergis dengan rujukan maksud dan tujuan penelitian yaitu:
1. Membangun konsep yang dapat menjelaskan tentang pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa, kompilasi dan reduksi hasil penggalian data distrukturkan dalam bentuk diagram dan tabulasi (dapat dilihat pada Gambar 2.4 dan Tabel 2.2).
Gambar 2.4: Data Pasar Tradisional sebagai Komponen Struktur Kota Tradisional Jawa (Analisis Peneliti, 2016)
Tabel 2.2: Kompilasi data pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa (Analisis Peneliti, 2016)
Satuan Peristiwa Unit amatan (1) Unit Amatan (2) Unit Amatan (n)
M A P M A P M A P
Alasan kebertahanan
Bentuk Kebertahanan
Realitas kebertahanan
Keterkaitan Relasi Sosial
Relasi Budaya
Relasi ekonomi
Relasi Tempat
2. Membangun konsep yang dapat menjelaskan tentang perubahan struktur kota dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, kompilasi dan reduksi hasil penggalian data distrukturkan dalam bentuk diagram dan tabulasi. (Dapat dilihat pada Gambar 2.5 dan Tabel 2.5).
Gambar 2.5: Data perubahan struktur kota orientasi orientasi sosial-budaya - orientasi kebutuhan pasar (Analisis Peneliti, 2016)
Tabel 2.3: Kompilasi data Perubahan Orientasi sosial-budaya menjadi Orientasi kebutuhan pasar (Analisis Peneliti, 2016)
Satuan Peristiwa Unit amatan
(1)
Unit Amatan (2)
Unit Amatan (n)
M A P M A P M A P
Era Kerajaan
Era Pemerintahan RI
Era Pasar Bebas
Keterkaitan Relasi Sosial
Relasi Budaya
Relasi ekonomi
Relasi Tempat
3. Membangun teori lokal yang dapat menjelaskan fenomena kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, kompilasi dan reduksi hasil penggalian data distrukturkan dalam bentuk diagram dan tabulasi.
Gambar 2.6: Data kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi
orientasi kebutuhan pasar (Analisis Peneliti, 2016)