• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasar Tradisional: Kebertahanan Pasar Dalam Konstelasi Kota

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pasar Tradisional: Kebertahanan Pasar Dalam Konstelasi Kota"

Copied!
274
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

Pasar Tradisional:

Kebertahanan Pasar Dalam Konstelasi Kota

Istijabatul Aliyah

Penerbit Yayasan Kita Menulis

(5)

Copyright © Yayasan Kita Menulis, 2020 Penulis:

Istijabatul Aliyah Editor: Mohammad Iqbal

Desain Sampul: Tim Kreatif Kita Menulis Sampul: pngguru.com

Penerbit Yayasan Kita Menulis

Web: kitamenulis.id e-mail: [email protected]

WA: 0821-6453-7176

Katalog Dalam Terbitan Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak maupun mengedarkan buku tanpa Ijin tertulis dari penerbit maupun penulis

Istijabatul Aliyah

Pasar Tradisional: Kebertahanan Pasar Dalam Konstelasi Kota Yayasan Kita Menulis, 2020

xiv; 256 hlm; 16 x 23 cm ISBN: 978-623-6512-53-1 Cetakan 1, Juli 2020

I. Pasar Tradisional: Kebertahanan Pasar Dalam Konstelasi Kota II. Yayasan Kita Menulis

(6)

Penulis memanjatkan puji syukur ke hadlirat Allah Subhanahu Wa Ta’alla Tuhan semesta alam karena berkat rahmat dan hidayahNya buku yang berjudul Pasar Tradisional: Kebertahanan Pasar Dalam Konstelasi Kota ini dapat diselesaikan.

Dengan tersusunnya buku ini, penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat Prof. Dr. Ir.

Bambang Setioko, M.Eng, Dr-Ing Wisnu Pradoto, ST. MT, yang telah membimbing, mengarahkan dan mendukung dengan penuh ketelitian, kedisiplinan, kesabaran dan keikhlasan selama proses konsultasi hasil penelitian hingga tersusunnya buku ini. Demikian pula rasa terimakasih penulis sampaikan kepada Prof. Dr-Ing. Ir. Gagoek Hardiman, Prof. Dr.

Nurdien H. Kistanto, MA, Prof. Dr. Drs. Purbayu Budi Santosa, MS, dan Dr. Ir. Joesron Alie Syahbana, MSc, dan Prof. Dr. Ir. S. Tri Sutomo, MS yang berkenan memberi bimbingan, arahan dan masukan bagi tersusunnya buku ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Rektor Universitas Universitas Sebelas Maret Prof.

Dr. Jamal Wiwoho, SH., Dekan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Dr.techn. Ir. Sholihin As'ad, M.T.dan Prof. Ir. Winny Astuti, M.Sc, Ph.D selaku Kepala Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.

Penulis dengan penuh rasa hormat mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada pejabat di lingkungan Universitas Sebelas Maret pada periode Tahun 2011-2015, Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sebelas Maret Ir. Galing Yudana, MT yang telah mengijinkan dan memberi kepercayaan kepada penulis untuk melakukan penelitian ini dalam masa studi lanjut meski dalam situasi program studi kekurangan sumber daya manusia, Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Universitas Sebelas Maret Dr. Ir. Mohamad Muqoffa, MT, Dekan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, ST.MT, serta Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS yang telah mendukung dan membuka pintu kesempatan bagi peneliti untuk melakukan penelitian ini.

(7)

Selama proses pelaksanaan penelitian, dengan penuh rasa syukur penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh rekan sejawat di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota bapak Soedwiwahjono, Ibu Kusumastuti, Bapak Rizon, Ibu Murtanti, Ibu Ratri, Ibu Isti Andini, Ibu Rufia, Ibu Paramita, Ibu Erma, Ibu Ima, Bapak Nurmiladan, Bapak Rama. Bapak Tendra, dan Ibu Lintang. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada rekan-rekan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata dan Budaya Ibu Rara Sugiarti, Bapak Bambang Irawan, Bapak Suparyadi, Bapak Santo, dan Bapak Margana serta rekan-rekan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Dalam proses penyusunan, penulis selalu mendapatkan arahan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu dengan rasa hormat penulis mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat Kanjeng Gusti Pangran Haryo Puger yang mengamban amanah sebagai Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Bapak Drs. Subagiyo, MM selaku Kepala Dinas Pengelola Pasar Kota Surakarta, serta Bapak Dr. Titis Srimuda Pitana, S.T, M.Trop.Arch yang telah dengan sabar dan ikhlas memberi arahan dan dukungan pada penulis.

Sebagai wanita biasa, banyak hal yang tak dapat dilakukan tanpa dukungan dari orang-orang yang terdekat, dengan rasa hormat dan kasih penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada suami Tulus Basuki Wijaya, ST. MM beserta ananda Daffa Imtiyas Ihabilla, SKg dan Muhammad Wijdan Muyassar yang telah memberi doa dan dukungan selama berlangsungnya masa studi, serta semua pihak yang telah membantu kegiatan penyusunan buku ini; atas perhatian, perijinan dan kerjasama yang telah diberikan hingga tersusunnya buku ini.

Selanjutnya, besar harapan penulis semoga buku ini dapat diterima oleh seluruh khalayak dan dapat ditindaklanjuti dalam bentuk penelitian yang lebih mendalam serta bermanfaat untuk pembangunan kota dan wilayah.

Surakarta, Juli 2020 Penulis

(8)

Kata Pengantar ... v

Daftar Isi ... vii

Daftar Gambar ... xi

Daftar Tabel ... xv

Bab 1 Pemahaman Pasar Tradisional 1.1 Pengertian Pasar Tradisional ... 1

1.2 Peran dan fungsi Pasar Tradisional Dalam Struktur Kota Tradisional Jawa ... 3

1.3 Pasar Tradisional Dalam Sistem Ekonomi Kota ... 6

1.4 Lingkup Pelayanan Pasar Tradisional ... 8

1.5 Perkembangan Pasar Tradisional ... 9

Bab 2 Metode Kajian Pasar Tradisional Sebagai Komponen Struktur Kota 2.1 Penggalian Data dan Informasi ... 14

2.2 Teknik Analisis ... 24

2.3 Strategi Validasi Hasil Penelitian ... 26

Bab 3 Pasar Tradisional Dalam Rangkaian Sejarah Kota Surakarta 3.1 Sejarah Kota Surakarta Sebagai Kota Tradisional Jawa ... 29

3.2 Komponen Inti Kota Tradisional Jawa Di Kota Surakarta ... 34

3.3 Pasar Tradisional Di Kota Surakarta ... 35

3.4 Kawasan Pasar Gede Di Kota Surakarta ... 44

Bab 4 Fenomena Kawasan Pasar Tradisional Sebagai Komponen Struktur Kota Surakarta 4.1 Fenomena Kawasan Pasar Gede Dalam Ranah Kesejarahan Kota ... 55

4.1.1 Filosofi Perencanaan Kawasan Pasar Gede ... 55

4.1.2 Hirarki Pasar Gede Terhadap Pasar Lain ... 58

4.1.3 Pasar Gede sebagai Bagian dari Kosmis Kota Jawa ... 60

4.2 Fenomena Kawasan Pasar Gede Dalam Ranah Ruang Budaya Kota .... 61

4.2.1 Pasar Gede sebagai Ruang Apresiasi Budaya ... 61

4.2.2 Ragam aktivitas Budaya di Kawasan Pasar Gede ... 62

(9)

4.3 Fenomena Kawasan Pasar Gede Dalam Ranah Ruang Sosial Kota ... 64

4.3.1 Pasar Gede sebagai Ruang Interaksi Antar Pelaku Multi Etnis .... 64

4.3.2 Ragam Aktivitas Sosial di Kawasan Pasar Gede ... 66

4.4 Fenomena Kawasan Pasar Gede Dalam Ranah Ruang Ekonomi Kota . 69 4.4.1 Jangkauan Layanan Pasar Gede sebagai Fasilitas Ekonomi ... 69

4.4.2 Pemasok, pedagang dan pengunjung dari luar wilayah ... 82

4.5 Ragam Jual-Beli Yang Ada di Pasar Gede ... 91

4.5.1 Pasar Gede sebagai Pusat Barang Berkualitas ... 97

4.5.2 Fenomena Kawasan Pasar Gede Dalam Ranah Konstelasi Ruang Kota ... 101

4.5.3 Pasar Gede sebagai Jujugan dan Lurugan ... 102

4.5.4 Lokasi Pasar Gede di-adhakan ... 104

4.5.5 Aksesibitas Kawasan Pasar Gede ... 105

4.5.6 Pasar Gede sebagai Pasar Ekslusif di Kota Surakarta ... 108

Bab 5 Penelusuran Bertahannya Pasar Tradisional Di Pusat Kota 5.1 Perumusan Tema Dari Fenomena Diskrit Sebagai Proses Pengkodean Berbuka ... 112

5.1.1 Tema-Tema Nilai Kesejarahan Pasar Tradisional ... 116

5.1.2 Tema-Tema Pasar Sebagai Ruang Budaya ... 116

5.1.3 Tema-Tema Pasar Sebagai Ruang Sosial ... 117

5.1.4 Tema -Tema Pasar sebagai Ruang ekonomi ... 117

5.1.5 Tema-Tema Pasar Dalam Konstelasi kota ... 117

5.2 Keterkaitan Antar Tema ... 118

5.2.1 Keterkaitan Tema dalam Ranah Sejarah Kota Surakarta ... 118

5.2.2 Keterkaitan Tema dalam Ranah Pasar sebagai Fasilitas Budaya Kota ... 122

5.2.3 Keterkaitan Tema dalam Ranah Pasar sebagai Fasilitas Sosial Kota ... 123

5.2.4 Keterkaitan Tema dalam Ranah Pasar Sebagai Fasilitas Ekonomi Kota ... 125

5.2.5 Keterkaitan Tema dalam Ranah Pasar Sebagai Komponen Struktur Kota ... 128

5.3 Konseptualisasi Tema Sebagai Proses Pengkodean Berporos ... 130

5.3.1 Konseptualisasi Tema Ranah Waktu (Process) ... 132

5.3.2 Konseptualisasi Tema Ranah Pelaku (Man) ... 134

5.3.3 Konseptualisasi Tema Ranah Kegiatan (Activity) ... 137

5.3.4 Konseptualisasi Tema Ranah Kebijakan (Policy) ... 140

5.3.5 Konseptualisasi Tema Ranah Keruangan atau Tempat (Place) .... 142

(10)

5.4 Bagan Konsepsi Dalam Perumusan Kategori ... 148

5.5 Kategorisasi Konsepsi Pasar Gede Sebagai Komponen Struktur Kota Jawa Sebagai Proses Pengkodean Berpilih ... 156

5.5.1 Perumusan Alur Inti Cerita ... 156

5.5.2 Rumusan Kategori Hasil Pengkodean Terpilih ... 168

5.6 Simpulan Tema, Konsepsi, Dan Kategori ... 170

Bab 6 Bertahannya Pasar Tradisional Di Pusat Kota 6.1 Sinergi (Synergy) Keberlangsungan Pasar ... 175

6.2 Loyalitas (Loyality) Pengguna Pasar ... 176

6.3 Aktivitas Kumandhange Pasar ... 177

6.3.1 Pemangku Pasar Dengan Jiwa Handarbeni ... 181

6.3.2 Tempat Ngrejekeni Sebagai Kategori Inti ... 185

6.4 Proposisi Teoritisasi ... 185

6.5 Teori Kebertahanan Pasar Tradisional ... 186

6.5.1 Bagan Strukturisasi Teori kebertahanan Pasar Tradisional ... 187

6.5.2 Definisi Teoritik Teori Kebertahanan Pasar Tradisional ... 188

6.5.3 Definisi Operasional Teori Kebertahanan Pasar Tradisional ... 190

6.6 Perubahan Orientasi Sosial-Budaya Menuju Orientasi Kebutuhan Pasar Di Kota Surakarta ... 193

6.7 Perkembangan Struktur Kota Tradisional Jawa Di Kota Surakarta ... 195

6.8 Prediksi Teori Substantif Dalam Perspektif Waktu ... 199

6.8.1 Perkembangan Komponen Sinergi (Synergy) ... 201

6.8.2 Perkembangan Komponen Loyalitas (Loyality) ... 201

6.8.3 Perkembangan Komponen Kumandhang Pasar ... 202

6.8.4 Perkembangan Komponen Handharbeni ... 202

6.8.5 Perkembangan Komponen Ngrejekeni ... 203

6.8.6 Perkembangan dan Prediksi Teori Kebertahanan Pasar Tradisional (SiLoKu Ben Ngrejekeni) ... 203

6.9 Kedudukan Teori Substantif Kebertahanan Pasar Tradisional Dalam Rumpun Teori Struktur Kota ... 206

6.9.1 Posisi Teori Substantif dalam Teori Kebertahanan ... 206

6.9.2 Posisi Teori Substantif dalam Teori Struktur Kota ... 208

6.10 Simpulan Teori Kebertahanan Pasar Tradisional Sebagai Komponen Struktur Kota Tradisional Jawa ... 211

6.11 Uji Teori Kebertahanan Pasar Tradisional Sebagai Komponen Struktur Kota Tradisional Jawa (Teori SiLoKu Ben Ngrejekeni) ... 212

(11)

Bab 7 Kebertahanan Pasar Sebagai Komponen Struktur Kota

7.1 Simpulan ... 217

7.1.1 Pasar Tradisional Bertahan sebagai Komponen Struktur Kota Tradisional Jawa ... 218

7.1.2 Perubahan Orientasi Sosial-Budaya (Socio-Culture Driven) menjadi Orientasi Kebutuhan Pasar (Market Driven) ... 218

7.1.3 Perkembangan Struktur Kota Tradisional Jawa di Kota Surakarta 220 7.1.4 Bangunan Teori Kebertahanan Pasar Tradisional sebagai Komponen Struktur Kota Tradisional Jawa ... 222

7.1.5 Prediksi Masa Depan Pasar Tradisional ... 226

7.1.6 Upaya Pasar Tradisional Untuk Menghadapi Perkembangan Pasar Modern ... 227

7.1.7 Karakteristik Pasar Tradisional ... 228

1.7.8 Kedudukan Teori Substantif Kebertahanan Pasar Tradisional Dalam Rumpun Teori Kebertahanan dan Teori Struktur Kota ... 229

7.2 Rekomendasi Pengembangan Ilmu ... 231

7.2.1 Saran Untuk Pengembangan Pengetahuan dan Penggunaan Metode Penelitian ... 231

7.2.2 Rekomendasi Teoritik dan Praktik ... 232

Glosarium ... 237

Daftar Pustaka ... 247

(12)

Gambar 2.1: Teknik Pengumpulan Data ... 15

Gambar 2.2: Pengumpulan Data dalam Penelitian Induktif ... 20

Gambar 2.3: Unit Amatan Penelitian ... 21

Gambar 2.4: Data Pasar Tradisional sebagai Komponen Struktur Kota Tradisional Jawa ... 22

Gambar 2.5: Data perubahan struktur kota orientasi orientasi sosial-budaya - orientasi kebutuhan pasar ... 23

Gambar 2.6: Data kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar ... 24

Gambar 2.7: Proses Analisis Data ... 25

Gambar 2.8: Alur Penyusunan Teori ... 25

Gambar 3.1: Peta Perkembangan Kota Surakarta ... 33

Gambar 3.4: Peta Persebaran Pasar Tradisional di Kota Surakarta ... 38

Gambar 3.5: Peta kawasan Pasar Tradisional di Kecamatan Banjarsari ... 41

Gambar 3.6: Peta kawasan Pasar Tradisional di Kecamatan Pasar Kliwon 41 Gambar 3.7: Peta kawasan Pasar Tradisional di Kecamatan Jebres ... 42

Gambar 3.8: Peta kawasan Pasar Tradisional di Kecamatan Laweyan ... 42

Gambar 3.9: Peta kawasan Pasar Tradisional di Kecamatan Serengan ... 43

Gambar 3.10: Pemetaan Luasan Lahan Pasar Tradisional di Kota Surakarta .. 43

Gambar 3.11: Peta Kawasan Pasar Gede di Kota Surakarta ... 46

Gambar 3.12: Kondisi Kawasan Pasar Gede pada siang hari ... 47

Gambar 3.13: Kondisi Kawasan Pasar Gede pada malam hari menyambut acara Imlek ... 47

Gambar 4.1: Situasi Kawasan Pasar Gede Pada Tahun 1900an ... 56

Gambar 4.2: Situasi Kawasan Pasar Gede Tahun 1930an ... 57

Gambar 4.3: Situasi Sekitar Kawasan Pasar Gede ... 58

Gambar 4.4: Filosofi sedulur papat kalimo pancer merupakan konsep dasar jejaring Pasar Gede terhadap pasar lainnya di Kota Surakarta ... 59

Gambar 4.5: Ajang Apesiasi Budaya yang ada di Pasar Gede ... 62

Gambar 4.6: Ragam Budaya yang digelar di Pasar Gede ... 63

Gambar 4.7: Lingkup meso aktivitas sosial secara spasial di Kawasan Pasar Gede ... 64

(13)

Gambar 4.8: Aktivitas sosial di Kawasan Pasar Gede ... 65

Gambar 4.9: Lingkup Jangkauan Pasar Tradisional di Kota Surakarta ... 72

Gambar 4.10: Suasana aktivitas ekonomi dengan karakter interaksi langsung antara penjual dan pembeli di Pasar Gede ... 74

Gambar 4.11: Komoditas utama Pasar Gede buah Segar dan kebutuhan Harian ... 81

Gambar 4.12: Zona yang digunakan untuk operasional aktivitas bongkar muat pasokan barang dagangan di Pasar Gede ... 85

Gambar 4.13: Zona keragaman Aktivitas Pengunjung Eceran dan Grosir ke Pasar Gede ... 95

Gambar 4.14: Komoditas di Pasar Gede dengan kualitas terseleksi dan Beragam ... 98

Gambar 4.15: Perbagai karakter konsumen menghendaki kualitas yang Berbeda ... 99

Gambar 4.16: Suasana pagi hari dominasi pedagang grosiran ... 100

Gambar 4.17: Komoditas Buah Lokal dan Impor untuk konsumen Grosiran . 101 Gambar 4.18: Aksesibilitas menuju Kawasan Pasar Gede ... 106

Gambar 4.19: Pola zonasi komoditas di Kawasan Pasar Gede ... 107

Gambar 4.20: Pasar Gede dikenal sebagai pasar eksklusif ... 108

Gambar 5.1: Kerangka Pikir Tema, Konsepsi, Kategori dalam penelitian .. 111

Gambar 5.2: Alur Tema Nilai Kesejarahan Pasar Tradisional ... 116

Gambar 5.3: Alur Tema Pasar Tradisional sebagai Ruang Budaya ... 116

Gambar 5.4: Alur Tema Pasar Tradisional sebagai Ruang Sosial ... 117

Gambar 5.5: Alur Tema Pasar Tradisional sebagai Ruang Ekonomi ... 117

Gambar 5.6: Alur Tema Pasar Tradisional Dalam Konstelasi kota ... 118

Gambar 5.7: Hirarki dan Jejaring Pasar Tradisional di Kota Surakarta ... 119

Gambar 5.8: Keterkiatan Tema dalam Ranah Sejarah Kota Surakarta ... 121

Gambar 5.9: Keterkiatan Tema dalam Ranah Pasar sebagai Fasilitas Budaya Kota ... 123

Gambar 5.10: Keterkiatan Tema dalam Ranah Pasar Sebagai Ruang Sosial Kota ... 125

Gambar 5.11: Keterkiatan Tema dalam Ranah Sejarah Kota Surakarta ... 128

Gambar 5.12: Keterkiatan Tema dalam Ranah Pasar Bagian Komponen Struktur Kota ... 130

Gambar 5.13: Axial Coding Konseptualisasi Tema ... 146

Gambar 5.14: Pengertian Konsepsi ... 147

Gambar 5.15: Orientasi sosial-budaya pada Pasar Tradisional di Kota Surakarta ... 162

Gambar 5.16: Analitik Penelusuran Kategori ... 169

(14)

Gambar 6.1: Dasar Filosofi Tata Ruang Negari Surakarta Hadiningrat

dengan orientasi Orientasi sosial-budaya ... 183

Gambar 6.2: Kaidah Sedulur Papat Kalimo Pancer dengan Pusat Orientasi Keraton ... 184

Gambar 6.3: Keterkaitan Komponen Teori Kebertahanan Pasar Tradisional 187 Gambar 6.4: Konstruksi Teori Kebertahanan Pasar Tradisional (SiLoKu Ben Ngrejekeni) ... 188

Gambar 6.5: Pengertian Komponen Kebertahanan pasar Tradisional ... 189

Gambar 6.6: Skematik Perkembangan Struktur Kota Tradisional Jawa di Kota Surakarta ... 199

Gambar 6.7: Grafik Perkembangan Komponen Sinergi ... 201

Gambar 6.8: Grafik Perkembangan Komponen Loyalitas ... 201

Gambar 6.9: Grafik Perkembangan Komponen Kumandhang ... 202

Gambar 6.10: Grafik Perkembangan Komponen Handarbeni ... 202

Gambar 6.11: Grafik Perkembangan Komponen Ngrejekeni ... 203

Gambar 6.12: Grafik Perkembangan Rentang Teori SiLoKu Ben Ngrejekeni 203 Gambar 6.13: Grafik Prediksi Teori SiLoKu Ben Ngrejekeni ... 205

Gambar 6.14: Rangkaian Teori Kebertahanan ... 207

Gambar 6.15: Rangkaian Teori Kebertahanan Pasar Tradisional dalam Teori Struktur Kota ... 210

(15)
(16)

Tabel 2.1: Kriteria Penentuan Partisipan dan Lokasi ... 14

Tabel 2.2: Kompilasi data pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa ... 22

Tabel 2.3: Kompilasi data Perubahan Orientasi sosial-budaya menjadi Orientasi kebutuhan pasar ... 23

Tabel 3.1: Ragam Pasar Modern yang ada di Wilayah Karesidenan Surakarta ... 35

Tabel 3.2: Sebaran Pasar Tradisional di Kota Surakarta ... 37

Tabel 3.3: Kelas dan Alamat Lokasi Pasar Tradisional di Kota Surakarta . 38 Tabel 3.4: Struktur Sebaran Pasar Tradisional di Kota Surakarta ... 44

Tabel 3.5: Keragaman Aktivitas di Kawasan Pasar Gede ... 48

Tabel 3.6: Penggunaan Ruang di Kawasan Pasar Gede ... 52

Tabel 4.1: Jenis Aktivitas Sosial di Pasar Gede ... 66

Tabel 4.2: Aktivitas Sosial secara keruangan atau spasial ... 68

Tabel 4.3: Klasifikasi Komoditas dan Jangkauan Layanan Pasar Tradisional di Kota Surakarta Tahun 2016 ... 69

Tabel 4.5: Perkembangan Pedagang di Pasar Gede ... 73

Tabel 4.6: Omset Pedagang di Pasar Gede Tahun ... 73

Tabel 4.7: Jumlah Pengunjung yang masuk di Bangunan Pasar Gede Tahun 2016 ... 76

Tabel 4.8: Jenis Aktivitas Ekonomi di Pasar Gede ... 78

Tabel 4.9: Aktivitas Ekonomi Secara Keruangan (Spasial) di Pasar Gede .. 79

Tabel 4.11: Keterkaitan Kondisi Kausal dengan Fenomena di Pasar Gede . 82 Tabel 4.15: Jenis Aktivitas Ekonomi di Pasar Gede ... 88

Tabel 4.16: Aktivitas Para Pemasok Berbagai Daerah Secara Keruangan di Pasar Gede ... 89

Tabel 4.18: Keterkaitan Kondisi Kausal dengan Fenomena ragam jual beli Eceran dan Grosir di Pasar Gede ... 92

Tabel 4.22: Jenis Aktivitas Ekonomi pengunjung dari berbagai daerah di Pasar Gede ... 96

Tabel 4.23: Aktivitas jual beli Secara Keruangan ... 96

Tabel 5.1: Perbandingan Konsekuensi yang dihasilkan Fenomena Diskrit . 112 Tabel 5.2: Open Coding Fenomena Pasar Tradisional sebagai Komponen Struktur Kota Tradisional Jawa ... 115

(17)

Tabel 5.3: Klasifikasi Lingkup atau Ranah Konsekuensi Tema ... 131 Tabel 5.4: Konseptualisasi tema dalam Ranah Waktu (Process) Analisis ... 133 Tabel 5.5: Konseptualisasi tema dalam Ranah Pelaku (Man) ... 136 Tabel 5.6: Konseptualisasi tema Ranah Kegiatan (Activity) ... 139 Tabel 5.7: Konseptualisasi tema Ranah Kebijakan (Policy) ... 141 Tabel 5.8: Konseptualisasi tema Ranah Keruangan atau Tempat (Place) .... 144 Tabel 5.9: Bagan Konsepsi dalam Proses Perumusan Kategori ... 148 Tabel 5.10: Perkembangan Pemerintahan Kota Surakarta 1745- Sekarang 159 Tabel 5.11: Matrik Kerangka Pembahasan Data Teoritik ... 131 Tabel 6.1: Takrif loyalitas (loyality) pengguna pasar perwujudan semangat

para pelaku pasar ... 177 Tabel 6.2: Takrif kontinuitas (continuity) suatu aktivitas pasar dikenal

dengan istilah lokal Kumandhange Pasar ... 178 Tabel 6.3: Takrif pemangku kepentingan pasar dengan jiwa handarbeni

sebagai dasar pijakan keberlanjutan kota tradisional Jawa ... 181 Tabel 6.4: Matrik Perkembangan Komponen dalam Perkembangan Kota

Surakarta ... 200 Tabel 6.5: Kedudukan Komponen Teori SiLoKu Ben Ngrejekeni dalam

Kontek Teori Formal Kebertahanan ... 207 Tabel 6.6: Uji Komponen Teori SiLoKu Ben Ngrejekeni ... 213

(18)

Bab 1 Pemahaman Pasar Tradisional

1.1 Pengertian Pasar Tradisional

Awal pertumbuhan pasar tradisional berupa tanah lapang tanpa bangunan permanen (Graaf, 1989). Pasar tradisional khususnya yang berada di perkotaan telah tumbuh di Indonesia sejak awal munculnya permukiman ataupun kerajaan. Pada masa Kerajaan Majapahit abad 14 pasar telah ada dalam lingkungan pusat kota yang letaknya berada pada persimpangan jalan (Santoso, 2008:87-94). Salah satu catatan sejarah Adrisijanti (2000) menunjukkan bahwa di Kota Banten telah memiliki beberapa pasar tradisional pada tahun 1646 yaitu di Paseban, Pecinan, dan Karangantu.

Pengertian pasar tradisional ada beberapa pengertian berdasarkan pendapat ahli, di antaranya yang diungkapkan oleh Wiryomartono (2000), bahwa pasar sebagai kata benda dengan sinonim peken, kata kerjanya adalah mapeken yang maksudnya berkumpul, tempat berkumpul untuk berjual-beli. Sebuah rekaman sejarah Jawa menyebutkan bahwa, pada tahun 1830, perdagangan melalui darat telah berkembang dengan baik. Saat itu telah ada jaringan pasar yang luas dan pasar-pasar wilayah permanen yang besar berperan penting dalam lintas perdagangan (Wiryomartono, 2000:58). Ditambahkan pula oleh Rutz bahwa pasar tradisonal sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi kerakyatan,

(19)

dengan demikian pola hubungan ekonomi yang terjadi di pasar tradisional menghasilkan terjalinnya interaksi sosial yang akrab antara pedagang-pembeli, pedagang-pedagang, dan pedagang-pemasok yang merupakan warisan sosial representasi kebutuhan bersosialisasi antar individu. Seiring perkembangan jaman pasar tradisional tumbuh diberbagai kota, pasar tradisional dibentuk oleh aktivitas berjualan yang dikembangkan dalam ruang-ruang terbuka dan berdekatan, lapangan dan jalan, serta situasinya tidak jauh dari permukiman.

Pasar tradisional biasanya terdapat di tempat strategis, mudah dicapai oleh kedua pihak yang tidak jauh dari desa, antar desa dan tempat yang aman dari gangguan umum (Rutz, 1987). Pada akhirnya pasar tradisional berada pada bangunan kios, los dan tanah terbuka. Pada bagian utama terdapat kios pada bangunan permanen, los berupa bangunan darurat atau semi permanen, dan bagian ‘oprokan’ atau bagian terbuka yang digunakan pedagang yang bersifat sementara dengan luasan yang lebih kecil daripada los (Kusmawati, 1996).

Pasar tradisional mempunyai karakter humanis sehingga mampu membangun kedekatan dan hubungan “kekeluargaan” antara pedagang dengan pembeli.

Selaras dengan hal tersebut Rahadi (2012) menyatakan pula bahwa faktor kualitas layanan dan identifikasi konsumen memainkan bagian penting untuk mendorong konsumen berbelanja atau melakukan pembelian kembali di pasar tradisional. Dengan hubungan yang ramah dan saling mengenal antara pedagang dan pembeli, menjadi karakteristik yang khas bagi pasar tradisional (Rahadi, 2012).

Sedangkan pengertian tentang pasar menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melaksanakan transaksi, sarana interaksi sosial budaya masyarakat, dan pengembangan ekonomi masyarakat (Permendagri, 2007). Seiring dengan perjalanan waktu, pasar diklasifikasikan atas dua bentuk, yaitu pasar tradisional dan pasar modern.

Pengertian pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, swasta, koperasi atau swadaya masyarakat setempat dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda, atau nama lain sejenisnya, yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil menengah, dengan skala usaha kecil dan modal kecil, dengan proses jual beli melalui tawar menawar (Permendagri, 2007). Di sisi lain pengertian pasar adalah sebuah mekanisme yang dapat mempertemukan pihak penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi atas barang dan jasa; baik dalam bentuk produksi maupun penentuan harga. Syarat utama terbentuknya pasar adalah adanya pertemuan antara pihak penjual dan pembeli baik dalam satu tempat ataupun dalam tempat yang berbeda. Pasar

(20)

juga merupakan elemen ekonomi yang dapat mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia (Toni, 2014).

Dengan demikian pengertian pasar tradisional secara operasional sebagai dasar pemahaman pasar tradisional sebagai kompnen struktur kota tradisional Jawa adalah tempat berkumpul untuk berjual-beli sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi kerakyatan, dengan pola hubungan ekonomi yang menghasilkan terjalinnya interaksi sosial yang akrab antara pedagang-pembeli, pedagang- pedagang, dan pedagang-pemasok yang merupakan warisan sosial representasi kebutuhan bersosialisasi antar individu, secara fisik dalam ruang yang saling berdekatan serta situasinya tidak jauh dari permukiman. Secara makro berada pada tempat strategis, mudah dicapai oleh semua pihak, dan mempunyai karakter humanis sehingga mampu membangun kedekatan dan hubungan

“kekeluargaan” antara pedagang dengan pembeli.

1.2 Peran dan fungsi Pasar Tradisional Dalam Struktur Kota Tradisional Jawa

Pasar modern dan pasar tradisional dalam suatu kota, memiliki peran yang sama dalam kaitannya dengan aspek ekonomi, sebagai tempat transaksi jual- beli, dan memiliki perbedaan terkait dengan pengelolaan dan kepemilikan investasi. Pengelolaan pasar tradisional melibatkan berbagai pihak satuan kerja di pemerintah daerah dengan status kepemilikan sewa kios atau los. Sementara untuk pasar modern sebaliknya, pengelolaan dikuasai oleh investor, dan kepemilikan ada beberapa ragam mulai dari milik privat maupun kerjasama dengan pemerintah, dan merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli dan ditandai dengan adanya transaksi jual beli secara tidak langsung. Pembeli melayani kebutuhannya sendiri dengan mengambil di rak-rak yang sudah ditata sebelumnya dengan harga tetap atau fix price (Malano, 2011:76-84).

Sedangkan efek dari penurunan pasar tradisional berimplikasi juga terhadap penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) meskipun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) justru mengalami kenaikan akibat adanya pasar modern, hal ini dimungkinkan hilangnya jenis dan sejumlah pungutan pajak dan retribusi daerah yang rata-rata pasar tradisional menggunakan aset daerah (Sitepu, 2011). Pasar modern dan pasar tradisional dalam aspek sosial dan budaya memiliki fungsi dan peran yang berbeda, terlihat dari fakta empirik

(21)

yang ada dilapangan. Secara rinci belum dapat diperoleh teori atau hasil penelitian yang mengungkapkan perbadaan tersebut secara rinci. Sehingga bagaimana nilai sosial dan budaya yang ada di pasar tardisional dan pasar modern belum dapat dipahami secara utuh dan komprehensif.

Pasar tradisional pada awalnya berupa tanah lapang tanpa bangunan atau bukan bangunan permanen, dan merupakan tempat berkumpul untuk berjual- beli (Graaf, 1989). Perkembangan perdagangan melalui darat pada tahun 1830, mulai ada jaringan pasar yang luas dan pasar-pasar wilayah yang bersifat permanen, dan berperan penting dalam lintas perdagangan (Wiryomartono, 2000). Pasar tumbuh dan berkembang sebagai simpul dari pertukaran barang dan jasa secara regional yang kemudian membangkitkan berbagai aktivitas di dalam kota. Pada saat orang melakukan jual dan beli bukan sekadar barang dan jasa yang dipertukarkan, tetapi juga informasi dan pengetahuan (Ekomadyo, 2007). Hal tersebut sejalan dengan teori Geertz (1963) bahwa pasar memberi akomodasi pada bazaar economy, Geertz mengasumsikan bahwa kata pasar merupakan dialek lokal dari bazaaa’. Pasar identik dengan pasar tradisional merupakan suatu pranata ekonomi dan sekaligus cara hidup, suatu gaya umum dari kegiatan ekonomi yang mencakup berbagai aspek dari suatu masyarakat, hingga aspek kehidupan sosial budaya secara lengkap. Berbagai produk atau barang dagangan diperjualbelikan di pasar tradisional, pangan, sandang, dan barang lain yang sebagian besar memiliki karakter mudah dipindah-pindahkan (Geertz, 1963). Dalam lingkup masyarakat Jawa, kekuatan aktivitas ekonomi berpusat di pasar tradisional. Pasar tradisional bukan sekedar sebagai tempat jual beli semata, namun lebih dari itu pasar terkait dengan konsepsi hidup dan interaksi sosial budaya. Pasar tradisional tidak semata mewadahi kegiatan ekonomi, akan tetapi pelaku juga dapat mencapai tujuan-tujuan lain (Pamardhi, 1997). Pasar tradisional pada awalnya muncul dari peluang yang dilihat oleh masyarakat petani untuk menawarkan surplus hasil panen mereka untuk memenuhi kebutuhan yang dirasakan Mereka tumbuh dari

“…pertemuan periodik untuk menyalurkan surplus hasil pertanian”

(Natawidjaja, 2005). Hal ini merupakan respon terhadap kebutuhan dan permintaan dari masyarakat yang berkembang, yang tidak bisa mereka cukupi sendiri. Oleh karena itu, pasar menjadi titik fokus untuk aktivitas komersial.

Pasar tradisional memegang peran sosial dengan menyediakan kebutuhan harian, barang-barang keperluan lain dan pelayanan pada daerah setempat.

Pasar tradisional memainkan peran ekonomi dengan secara langsung mendukung aktivitas ekonomi masyarakat atau wilayah, dan menghasilkan keuntungan finansial bagi yang terlibat dalam perdagangan maupun

(22)

pendapatan bagi daerah setempat. Di samping fungsi utamanya itu, pasar tradisional juga mengemban misi sebagai fasilitas perbelanjaan bagi wilayah pelayanan, serta berperan sebagai wahana kegiatan sosial dan rekreasi (Reardon, 2003).

Fungsi pasar tradisional sebagai penekan dan pengaturan para pelaku yang terlibat sekaligus sebagai solusi yang memberikan dan menyediakan berbagai fasilitas (Abdullah, 2006) Tujuan utama para pedagang ke pasar, adalah berdagang untuk berdagang, sehingga pedagang kadangkala dipandang berada di luar tata etika karena ‘terlalu’ berorientasi mendapatkan untung sebanyak- banyaknya hingga terkesan ‘licik’ (Geertz, 1963). Fungsi pasar tradisional tidak hanya menjadi distribusi, organisir produk, penetapan nilai, dan pembentuk harga, tetapi juga menjadi pusat pertemuan, pusat pertukaran informasi, aktivitas kesenian rakyat, bahkan menjadi paket wisata yang ditawarkan. Dengan demikian, pasar tradisional merupakan aset ekonomi daerah sekaligus perekat hubungan sosial dalam masyarakat. Ditegaskan pula bahwa pasar tradisional bukan sekedar sebagai tempat jual beli semata, tetapi lebih dari itu pasar terkait dengan konsepsi hidup dan interaksi sosial budaya.

Pasar tradisional tidak semata mewadahi kegiatan ekonomi, akan tetapi pasar tradisional dapat menjadi wadah interaksi sosial budaya, dan sekaligus sarana rekreasi (Pamardhi, 1997). Terkait dengan fungsi pasar secara umum bahwa pasar berfungsi sebagai distribusi, organisir produk, penetapan nilai, dan pembentuk harga. Dalam menjalankan fungsi distribusi, pasar merupakan media untuk menyalurkan atau memperlancarkan suatu barang atau jasa dari produsen kepada konsumen, dan mendekatkan jarak antara produsen dengan konsumen dalam melaksanakan transaksi. Fungsi pasar sebagai organisir produksi adalah fungsi pasar terkait dengan cara produsen untuk menghasilkan barang dan memproduksi barang untuk menyesuaikan dengan harga yang ada di pasaran guna efisiensi. Adapun fungsi pasar sebagai penentu nilai adalah fungsi pasar yang berkaitan dengan apa yang harus dihasilkan oleh suatu perekonomian sehingga produsen cenderung menghasilkan barang-barang yang lebih diinginkan masyarakat dibanding dengan yang tidak diinginkan sehingga pergerakan kekuatan permintaan dan penawaran dapat menentukan tingkat harga di pasar. Sedangkan fungsi pasar sebagai pembentuk harga dengan maksud bahwa harga yang telah menjadi kesepakatan adalah hasil perhitungan penjual dan pembeli (Deprizal, 2013). Sebagian besar pasar tradisional Jawa mencerminkan pola kehidupan agraris masyarakatnya.

Dengan demikian tidak lepas dari karakter matapencaharian masyarakat yang ada di sekitarnya (Sunoko, 2002). Sisi lain dari pasar tradisional adalah

(23)

mencerminkan kehidupan masyarakat. Hal itu ditandai dengan dominasi sosial ekonomi masyarakat sebagai lingkungan terbentuknya pasar (Hayami, 1987).

Pasar tradisional di negara-negara Asia berlokasi di pedesaan dan area urban (Bromley, 1987). Bahkan dapat diketahui pula bahwa eksistensi pasar tradisional, terletak pada modal sosial yang terdiri dari norma, kepercayaan, dan tawar menawar yang dapat memperkuat jaringan loyal dari pengunjung pasar untuk tetap bertahan berbelanja di pasar tradisional (Andriani & Ali, 2013)

1.3 Pasar Tradisional Dalam Sistem Ekonomi Kota

Pasar tradisional sebagai sistem organisasi yang saling terkait dan tergantung antar bagian hingga membentuk suatu kesatuan yang komplek dan saling mendukung antar komponen. Sedangkan komponen yang terdapat pada sistem pasar adalah rotasi, produksi, distribusi, transportasi dan transaksi. Dengan pemahaman bahwa 1) Komponen rotasi terkait dengan spesifikasi hasil produksi yang pada akhirnya menentukan perputaran atau siklus hari pasaran, di Jawa mengenal adanya sistem mancapat dan mancalima, yaitu pembagian peran satu desa dikeliling oleh 4 desa lain dengan posisi di 4 penjuru mata angin. Dengan demikian pembagian rotasi waktu terbagi Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon. Satu rotasi yang lamanya 5 hari disebut dengan sepasar dan peran masing-masing pasar dikendalikan dengan rotasi hari pasaran; 2) Komponen produksi sangat terkait dengan jalur dan kemudahan distribusi dan transportasi; sedangkan 3) Komponen transportasi tidak terlepas dari lokasi pasar yang mudah dijangkau oleh pedagang maupun pembeli; dan 4) Komponen transaksi dipengaruhi penempatan atau pemilihan lokasi. Lokasi yang strategis akan banyak pedagang dan pembeli sehingga meningkatkan transaksi, dan banyaknya transaksi mengakibatkan jumlah produksi naik (Nastiti, 1995).

Para pedagang pasar tradisional menghadapi beberapa kendala, yaitu pengiriman barang, pelayanan dan pembayaran dengan produsen maupun konsumen. Selain itu terdapat pula kendala waktu dan cuaca. Selama ini para pedagang mengatasi kendala tersebut dengan cara menjalin relasi dengan tengkulak, konsumen (pembeli), antar pedagang baik produsen maupun

(24)

distributor, bahkan petugas pasar maupun ‘tukang pikul’ atau ‘tukang gendong’. Tak hanya upaya tersebut, pedagangan juga tetap menjaga untuk selalu bekerja keras dan juga membiasakan diri dengan berperilaku hemat, serta peningkatan religi di antara komunitas pedagang (Sutami, 2012). Hasil penelitian yang telah dilakukan di beberapa kota di Jawa, ciri khas yang paling menonjol pada suatu pasar adalah jenis barang yang diperjualbelikan meliputi bahan pangan, sandang dan barang besi kecil-kecil dan sebagainya, berupa barang yang tidak besar dan mudah diangkut dan disimpan, yang persediaannya mudah ditambah dan dikurangi dengan lambat laun dan sedikit demi sedikit. Di samping itu pula pasar tradisional bercirikan sebagai suatu sistem yang terselip (interstitial) tradisional di dalam masyarakat Jawa, adanya pembagian kerja secara berimbang yang secara langsung merupakan landasan dari organisasi struktur sosial karena tidak adanya gilda/firma/persekutuan dagang yang sudah mapan baik kalangan pedagang maupun tukang/kuli, pemisahan yang sangat tajam antara ikatan sosial ekonomi dan non ekonomi.

Komoditas produk atau barang dagangan yang diperjualbelikan di pasar tradisional meliputi pangan, sandang, dan barang lain yang sebagian besar memiliki karakter mudah dipindah-pindahkan. Pasar tradisional sebagai arus barang dan jasa menurut pola tertentu, rangkaian mekanisme ekonomi untuk memelihara dan mengatur arus barang dan jasa, dan sistem sosial dan kebudayaan di mana mekanisme tersebut tertanam (Geertz, 1963).

Sistem jual-beli di pasar tradisional, dikenal ada tiga pola, yakni pertama pertukaran imbal-beli adalah bila interaksi yang terjadi antar individu atau kelompok dari jenjang yang sepadan; kedua, redistribusi terjadi bila beberapa agen atau agensi sentral menangani jual-beli; ketiga jual-beli pasar terjadi bila para partisipan menemukan lingkungan mereka sendiri untuk melakukan interaksi dalam sistem keseluruhan (Munoz, 2001). Bagi konsumen atau pelanggan pasar tradisional, persoalan utama yang dihadapi adalah mengatur penggunaan barang-barang kebutuhan agar dapat memberikan kepuasan yang paling besar dengan biaya yang kecil, mencari alternatif dan menggunakan skala prioritas terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan dan ditentukan oleh faktor-faktor subjektif dan objektif. Subjektif karena konsumen memiliki hak untuk memilih setiap barang kebutuhan sesuai selera dan pertimbangannya sendiri tanpa dipaksa orang lain untuk menggunakan produknya, sedangkan obyektif bahwa barang yang memiliki kualitas baguslah yang layak menjadi pilihan utama (Djakfar, 2009).

(25)

1.4 Lingkup Pelayanan Pasar Tradisional

Jenis daerah perkotaan beragam seiring dengan beragamnya berbagai kegiatan yang dilakukan pada wilayah perkotaan seperti perdagangan, transportasi, pengadaan barang dan jasa, atau gabungan dari semua aktivitas tersebut (Gallion & Eisner, 1983). Sedangkan sistem pasar biasanya memuncak pada satu pusat permukiman utama atau sejumlah pusat lainnya, dan berujung pada pasar-pasar. Sebuah pasar adalah suatu area tertentu dengan atau tanpa bangunan yang digunakan sebagai tempat aktivitas jual-beli. Para penjual barang komoditi dan para pembeli bertemu pada tempat-tempat yang telah ditentukan, pada waktu yang ditetapkan dengan interval tertentu (Jano, 2006).

Pada saat orang melakukan jual-beli bukan sekadar barang dan jasa yang dipertukarkan, tetapi juga informasi dan pengetahuan. Pasar tradisional telah menjadi ruang publik perkotaan, tempat di mana masyarakat kota berkumpul dan membangun relasi sosial di antara mereka (Ekomadyo, 2007). Pembagian kerja di pasar tradisional ada beberapa bagian yaitu pedagang yang mengurus pengangkutan barang dari satu pasar ke pasar lainnya, pedagang yang mengurus penjualan barang ke pedesaan, pedagang yang mengurus penimbangan barang atau penjualan borongan dan ada pula bagian pedagang lain yang berjualan tekstil, keranjang, ternak atau jagung (Geertz, 1963).

Sedangkan faktor kualitas layanan, peningkatan jumlah pedagang dan identifikasi konsumen memainkan bagian penting untuk mendorong pembangunan dan peningkatan aktivitas perbelanjaan di pasar tradisional (Rahadi, 2012). Di sisi lain upaya pedagang untuk menjaga keberlanjutan pasar tradisional adalah mempertahankan modal sosial yang tercipta oleh adanya tradisi dalam kehidupan berusaha di lingkungan pasar tradisional yang menjadi acuan para pedagang dalam berjualan sehari-hari dengan memelihara nilai dan norma kejujuran, saling mempercayai, kerjasama pedagang kepada konsumen maupun kerjasama di antara sesama pedagang di pasar tradisional (Leksono, 2009:329-347).

Perkembangan pasar tradisional menjangkau lingkup yang lebih luas sebagai simpul dari pertukaran barang dan jasa secara regional yang kemudian tumbuh dan berkembang membangkitkan berbagai aktivitas di dalam kota (Sirait, 2006). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Karnajaya yang menyatakan bahwa pemindahan lokasi pasar tradisional mampu merubah tata guna lahan, pola jalan, pergerakan dan pola atau tipe bangunan, pemerataan jalur sirkulasi, dan pemanfaatan lahan (Karnajaya, 2002). Klasifikasi pasar tradisional berdasarkan dorongan pembentukannya dapat dibedakan menjadi: 1) Lokasi

(26)

pasar yang tumbuh dengan sendirinya biasanya terletak ditempat yang strategis dipersimpangan dan jalur lalu lintas barang serta kepadatan penduduk. Pasar yang dibuat dengan sengaja biasanya dibangun dengan alasan kepentingan penguasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 2) Komoditi pasar ditentukan oleh letak geografis, yang secara umum terbagi pasar daerah pantai dan pasar daerah pedalaman. Hal ini dipengaruhi oleh sistem transportasi barang. Pasar pantai banyak produk impor dan pasar pedalaman banyak produk lokal sesuai karakter hasil bumi dan laut, karena sistem transportasi masih mendominasi (transportasi laut dan sungai). 3) Produksi yang dapat diperjual belikan dipasar dapat meliputi hasil produksi bidang pertanian, peternakan, perikanan, industri, barang logam, dan barang bukan logam. 4) Distribusi pada dasarnya proses penyaluran dari asal bahan baku produksi ke tempat pemakainya. Hal ini dipengaruhi jenis komoditinya, tahan lama atau tidak dan juga banyak atau sedikitnya barang. Sedangkan banyak sedikitnya barang akan menentukan moda transportasi yang digunakan dalam mendistribusikan barang, apakah lewat darat, sungai atau yang lain (Nastiti, 1995).

1.5 Perkembangan Pasar Tradisional

Berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri RI, pengelolaan pasar tradisional adalah penataan pasar tradisional yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pasar tradisional (Permendagri, 2012).

Sedangkan pihak pengelola yang terkait dengan manajemen atau pengelolaan pasar tradisional sangat banyak pihak yang terlibat. Bahkan tak jarang pengambilan keputusan pun berbeda-beda. Sejumlah pihak yang terlibat dalam pengeloaan pasar tradisional adalah Dinas Pasar atau kadangkala disebut dengan Dinas Pengelola Pasar, Dinas Perparkiran, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum khususnya Bina Marga, Dinas Kebersihan, dan Polisi Lalu Lintas. Semua pihak terlibat langsung dalam pengelolaan pasar tradisional sudah seharusnya untuk berkoordinasi dan menjalankan peran secara profesional dan penuh tanggung Jawab (Malano, 2011:59-67). Kebanyakan pasar tradisional merupakan milik pemerintah daerah yang di bawah wewenang dan tanggungjawab Dinas Pengelolaan Pasar. Hal yang berkaitan dengan kelas atau jenis besar kecilnya pasar tradisional, terdapat beberapa kelas pasar tradisional, umumnya dikelompokkan berdasarkan area (luas meter

(27)

persegi) dan jumlah pedagang. Metode klasifikasi berbeda pada setiap daerah, namun biasanya pasar Kelas I atau Kelas A adalah pasar terbesar. Sudah menjadi kebiasaan bagi Dinas Pasar untuk menentukan target penerimaan tahunan untuk setiap pengelola pasar, yang lazimnya meningkat setiap tahun.

Kegagalan untuk memenuhi target umumnya berdampak pada pergantian kepala pengelola pasar. Karena itu, tidaklah mengherankan bila didapati banyak kepala pasar yang lebih mencurahkan perhatian pada tugas untuk memenuhi target pemungutan retribusi daripada upaya pengelolaan pasar dengan baik (Suryadarma, et al., 2007).

Sebagian kecil pedagang pasar tradisional menerapkan strategi pemasaran baru yang mencakup penambahan variasi pada barang dagangan, memberikan pelayanan yang prima, mempertahankan mutu barang, mengantarkan barang langsung ke rumah konsumen, memberikan potongan harga, dan bahkan mencocokkan dengan harga-harga supermarket. Bahkan APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) telah melakukan strategi dua jurus untuk meningkatkan kinerja bisnis pasar tradisional. Pertama, melobi pendekatan zonasi bagi supermarket, di mana supermarket hanya dapat beroperasi di daerah pinggir kota dan pada jarak tertentu dari pasar tradisional. Kedua, mengkampanyekan kepada pemerintah daerah untuk memperbaiki cara-cara pemerintah daerah menangani pasar tradisional, contohnya dengan menyediakan kredit kepada para pedagang dan mensubsidi biaya penyewaan kios (Suryadarma, et al., 2007).

Hasil penelitian Lembaga Penelitian SMERU, diperoleh beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa ada sebagian pasar tradisional yang terkena dampak supermarket sementara sebagian lainnya tidak. Pertama adalah faktor jarak antara pasar tradisional dan supermarket, di mana pasar tradisional yang berada relatif dekat dengan supermarket, paling banyak terkena dampak.

Kedua, faktor yang terpenting adalah karakteristik konsumen pada pasar tradisional. Pasar tradisional yang pelanggan utamanya dari kalangan kelas menengah ke atas, merasakan dampak yang paling besar akibat kehadiran supermarket (Suryadarma, et al., 2007). Akar masalah industri pasar modern di Indonesia adalah ‘market power’ ritel modern yang sangat kuat dan tinggi, sehingga terjadilah ketidakseimbangan dalam bersaing antara pasar modern dengan pasar tradisional. Tersingkirnya pasar tradisional disebabkan oleh beberapa faktor, pertama perawatan infrastruktur pasar tradisional rendah.

Model-model pengembangan kelembagaan pasar tradisional masih dilakukan dengan pola tidak jelas, cenderung menggunakan pendekatan birokrasi pemerintah. Pedagang dan pasar hanya dijadikan objek; dan kedua, belum

(28)

adanya payung hukum berupa peraturan perundang-undangan yang menimbulkan sanksi tegas dan keras terhadap pelanggar regulasi industri ritel.

Ketiga, lemahnya kemauan politik pemerintah daerah untuk mengembangkan pasar tradisional. (Toni, 2014).

(29)
(30)

Bab 2 Metode Kajian Pasar Tradisional Sebagai Komponen Struktur Kota

Maksud dan tujuan penelitian menjadi dasar pijakan dalam menentukan metode penelitian. Di samping itu mengingat karakteristik penelitian Naturalistik Kualitatif dengan strategi Induktif, maka penelitian ini lebih menekankan pada informasi dan pengalaman informan atau partisipan dalam melakukan aktivitas yang terkait dengan kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa. Di samping itu pula penelitian ini berusaha memahami tidak hanya satu realita, tetapi beberapa realita. Dengan demikian metode yang tepat untuk digunakan dalam penelitian ini adalah Grounded Theory Methode, karena dengan metode ini dapat menghasilkan Local Theory (diinterpretasikan dari Strauss and Corbin, 2013 dan Muhajir, 2011:190-219).

Grounded Theory Methode merupakan metode penelitian yang di dalamnya peneliti ‘memproduksi’ teori umum dan abstrak dari suatu proses, aksi, atau interaksi tertentu yang berasal dari pandangan informan atau partisipan.

Metode ini memiliki dua karakteristik utama 1) perbandingan yang konstan antara data dan kategori-kategori yang muncul, 2) pengambilan contoh secara teoritis (teoritical sampling) atas kelompok-kelompok yang berbeda untuk

(31)

memaksimalkan kesamaan dan perbedaan informasi (Creswell, 2007:63-67).

Grounded Theory Methode dapat dikatakan pula sebagai proses bertahap yang cukup rumit, mulai dari pengumpulan data, konsep atau persepsi teoritis inti diidentifikasikan, mengembangkan kaitan antar konsep inti dengan data, selanjutnya verifikasi dan ikhtisar.

2.1 Penggalian Data dan Informasi

Dalam penelitian Naturalistik Kualitatif data bersifat deskriptif yang disajikan dalam bentuk uraian kata-kata hasil interview dengan para informan, gambar dokumen arsip peta dan foto Pasar Gede dan Kota Surakarta mulai dari awal terbentuknya kota Surakarta hingga masa sekarang Tahun 2016, foto dan video kondisi empirik Pasar Gede dan Kota Surakarta. Hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan adanya data yang bersifat dokumen sebagai yang bersifat historis dan administratif. Langkah pengumpulan data meliputi mengumpulkan informasi melalui observasi dan wawancara, baik yang terstruktur maupun yang tidak terstruktur, dokumentasi, materi visual, serta rancangan protokol untuk merekam dan mencatat informasi (Creswell, 2009:258-289). Untuk menentukan informan dan lokasi penelitian dapat ditentukan dengan beberapa kriteria seperti dalam Tabel 2.1 :

Tabel 2.1: Kriteria Penentuan Partisipan dan Lokasi (Creswell, 2009)

No Kriteria Keterangan

1 Setting

atau Lokasi Penelitian

Pasar Gede sebagai pasar tradisional di kota tradisional Jawa yang telah mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, meliputi kawasan Pasar Gede, Kota Surakarta dan wilayah hinterland yang terkait.

2 Aktor

siapa yang akan diwawancara dan observasi

Pihak yang terkait dengan kebertahanan pasar tradisional di kota tradisional Jawa yang telah mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, meliputi pedagang, pembeli, tukang angkat junjung, tukang parkir, pemerhati, akademisi, budayawan, Dinas Pengelolaan Pasar Pemerintah

(32)

Kota Surakarta.

3 Peristiwa

atau kejadian yang dirasakan para aktor yang akan dijadikan topik wawancara dan observasi

Peristiwa yang menyangkut kebertahanan pasar tradisional (jual-beli, sosial, budaya, rekreasi, aktuasisasi diri, dan hal lain yang terkait), perubahan orientasi orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar

4 Proses

berupa sifat peristiwa yang dirasakan oleh aktor dalam setting penelitian

Proses yang dialami atau dilalui dalam menjaga kebertahanan pasar tradisional dan perubahan orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar yang menyangkut proses (waktu) pelaku (Man), aktivitas (Activity), dan tempat (Place), meliputi proses pemasukan barang dari berbagai daerah, pengiriman barang dagangan ke berbagai daerah, pergantian masing- masing aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya, perpaduan budaya belanja Jawa dan China, adaptasi terhadap perubahan kebijakan dan gejolak ekonomi, dan lain-lainnya

Sedangkan teknik yang digunakan dalam penggalian data seperti dalam Gambar 2.1 sebagai berikut:

Gambar 2.1: Teknik Pengumpulan Data (Analisis Peneliti, 2016)

(33)

Sedangkan untuk mengumpulkan data, informan penelitian ini akan difokuskan pada pihak yang terkait dengan komunitas atau pengguna pasar, masyarakat pemerhati pasar tradisional, dan pemangku kebijakan Pemerintah Kota Surakarta yang terkait dengan Pasar Gede dan Kota Surakarta sebagai kota tradisional Jawa.

Pemilihan tersebut secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:

a Komunitas atau pengguna pasar meliputi pedagang, pengunjung, kuli angkat junjung, tukang parkir, petugas kebersihan, petugas retribusi, dengan pertimbangan karena pengguna pasar merupakan pihak yang erat kaitannya dengan segala aktivitas yang ada di Pasar Gede.

b b. Masyarakat pemerhati pasar tradisional meliputi akademisi, budayawan, praktisi perencana, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat di sekitar Kota Surakarta yang konsen terhadap pasar tradisional, dengan pertimbangan pihak tersebut sebagai bagian yang turut melestarikan keberlangsungan Pasar Gede.

c Pemangku kebijakan Pemerintah Kota Surakarta meliputi Dinas Pengelolaan Pasar, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA), dengan pertimbangan bahwa pengelolaan Pasar Gede melibatkan berbagai pihak yang terkait.

Meskipun demikian, hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya perluasan keterlibatan nara sumber lain seperti peneliti, budayawan dan tokoh masyarakat terkait dengan data historis dan proses perkembangan aktivitas Pasar Gede sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa. Hal tersebut dikarenakan penentuan subjek bukan untuk generalisasi, tetapi sebagai tempat untuk menggali informasi yang diperlukan, yang bergulir dari informan awal menuju informan kunci. (Arikunto, 2010:23).

Dalam pelaksanaan Grounded Theory Methode untuk menggali informasi dari fenomena dikenal adanya social situation atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis (Spradley, 1980; Sugiyono, 2013: 215; dan Setioko, 2010). Berdasarkan karakteristik fenomena yang ada di kawasan Pasar Gede, maka perlu ditambahkan komponen waktu/proses (time/process)

(34)

dengan pertimbangan bahwa waktu/proses menjadi bagian dalam pengamatan dikarenakan tempat, aktivitas, dan pelaku dalam perputaran waktu memiliki karakteristik yang berbeda. Perputaran waktu mulai dari harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Keempat elemen merupakan bagian yang saling terkait dan berinteraksi secara sinergis.

Secara bertahap langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a Langkah awal penelitian untuk mendapatkan data teoritik terkait dengan fokus penelitian adalah melakukan grand tour pada seluruh wilayah studi yaitu Kawasan Pasar Gede, wilayah Kota Surakarta dan sekitarnya. Grand Tour lingkup kawasan Pasar Gede dilakukan dengan pengamatan aktivitas jual-beli, aktivitas pasokan barang dagangan, aktivitas sosial, aktivitas budaya dan aktivitas rekreasi yang berada di sekitar kawasan Pasar Gede. Sedangkan untuk lingkup Kota Surakarta dan sekitarnya dilakukan dengan pengamatan komponen struktur kota Jawa (keraton, masjid dan pasar), jejaring antar komponen, hirarki masing-masing komponen, persebaran pasar tradisional, karakteristik komoditas pasar tradisional, dan jangkauan layanan pasar tradisional. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan secara menyeluruh sesuai dengan permasalahan penelitian maka selanjutnya dapat dilakukan pengamatan lebih mendalam tentang kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dan menyimpan fenomena diskrit sebagai data teoritik. Hal tersebut dilakukan melalui pengamatan mendalam atau mini tour hingga mendapatkan unit amatan terkait dengan kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota dalam suatu kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar.

b Pengamatan mendalam atau mini tour dilakukan dalam beberapa unit amatan berdasarkan ciri spesifik yang menonjol yang terkait dengan permasalahan penelitian, yaitu:

1) Ranah kebijakan meliputi pasar sebagai bagian area kekuasaan raja dalam ruang kota tradisional Jawa dan posisi pasar dalam sumbu utara selatan;

2) Ranah keruangan meliputi pasar sebagai bagian mancapat dan pasar menempati wilayah inti kerajaan Negaragung;

(35)

3) Ranah aktivitas meliputi posisi pasar sebagai komponen ucap syukur dan ruang publik perkotaan dan membangun relasi sosial;

4) Ranah pelaku ekonomi pasar meliputi pasar sebagai pusat ekonomi dan pusat pelayanan (ruang sosial dan budaya);

5) Ranah peristiwa adanya proses meliputi pasar sebagai simpul perdagangan dan pasar sebagai pusat sosial dan kapitalis.

Hasil pengamatan dari unit amatan akan menghasilkan unit-unit informasi, sedangkan untuk memahaminya perlu adanya kepekaan teoritik dan dilakukan secara mengkonsep.

c Selama pelaksanaan mini tour, rangkaian waktu secara serial dikelompokkan dalam satu kesatuan proses, dengan berpijak pada komponen pelaku, aktivitas dan tempat. Terkait dengan fenomena diskrit yang ditemukan kawasan Pasar Gede sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam suatu kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, kesatuan proses dapat dirangkai sesuai spesifikasi peristiwa masing-masing unit amatan.

d Berdasarkan hasil tersebut akan diperoleh eksplorasi perubahan proses tiap-tiap komponen pelaku, aktivitas dan tempat, dan selanjutkan dapat memberikan gambaran tentang keterkaitan yang terjadi pada unit amatan. Berbagai ragam hasil pengamatan pada unit amatan akan menghasilkan suatu fenomena diskrit yang merupakan dasar dalam perumusan analisis pengkodean mulai dari pengkodean berbuka, pengkodean berporos dan pengkodean berpilih. Hasil telaah terhadap unit amatan yang beragam maka dapat dilakukan klasifikasi berdasarkan kata kunci yang memiliki makna yang sama dalam suatu fenomena diskrit, sehingga pada penelitian ini dapat dihasilkan 29 fenomena diskrit yang terkait dengan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa.

e Tahap selanjutnya adalah proses pengkodean berbuka dengan menggunakan teknik perbandingan untuk masing-masing fenomena dan secara lebih mendalam dilakukan dengan model paradigma dalam hubungan yang menunjukkan kondisi kausal, fenomena, konteks, kondisi pemengaruh, strategi tindakan/interaksi, dan konsekuensi. Hasil konsekuensi masing-masing fenomena memiliki

(36)

persamaan dan perbedaan yang selanjutnya dapat dihubungan keterkaitannya dalam suatu tema, yaitu ada 15 tema.

f Hasil pengkodean berbuka yang berjumlah 15 tema selanjutkan dilakukan proses pengkodean berporos dengan diawali dengan menganalisis karakter masing-masing tema dalam 5 klasifikasi yaitu : 1) Tema-Tema Nilai Kesejarahan Pasar Tradisional

2) Tema-Tema Pasar Sebagai Ruang Budaya 3) Tema-Tema Pasar Sebagai Ruang Sosial 4) Tema-Tema Pasar Sebagai Ruang Ekonomi 5) Tema-Tema Pasar dalam Konstelasi Kota.

Langkah selanjutnya dari masing-masing klasifikasi dapat ditelusuri keterkaitan antar tema dalam 5 ranah yaitu:

1) Ranah Sejarah Kota Surakarta

2) Ranah Pasar sebagai Fasilitas Budaya Kota 3) Ranah Pasar sebagai Fasilitas Sosial Kota 4) Ranah Pasar Sebagai Fasilitas Ekonomi Kota 5) Ranah Pasar Sebagai Komponen Struktur Kota.

Proses selanjutnya adalah mempertajam keterkaitan tema dalam proses konseptualisasi tema untuk menghasilkan suatu konsep sebagai bentuk rumusan konsepsi. Proses konseptualisasi dapat dikelompokkan dalam Ranah Waktu/Proses, Ranah Pelaku (Man), Ranah Kegiatan (Activity), Ranah Kebijakan (Policy), dan Ranah Tempat (Place), yang selanjutnya menghasil ada 10 Konsepsi.

g Berdasarkan hasil konsepsi tersebut maka dapat dilakukan penelusuran kategori dalam proses pengkodean berpilih melalui tahapan penelusuran alur inti cerita (story line) dengan maksud untuk mencapai keterpaduan antar kategori dalam bentuk pengkonsepan cerita deskripsi tentang fenomena utama penelitian yang terkait dengan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa. Rangkaian inti cerita diawali dengan terbentuknya Pasar Gede di Kota Surakarta sebagai kota tradisional Jawa kerajaan Mataram yang tertua dan masih eksis hingga sekarang. Hasil penelusuran alur inti cerita yang selanjutnya ditelaah menurut sifat dan ukurannya hingga diperoleh rumusan kategori yang menjadi dasar dalam

(37)

bangunan teori subtanstif tentang pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa. Proses pengkodean berpilih menghasilkan 5 kategori yang menjadi komponen bangunan teori kebertahanan pasar tradisional. Secara diagramatis dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2: Pengumpulan Data dalam Penelitian Induktif (Diinterpretasikan dari Strauss and Corbin, 2013)

Dalam mengurai subtansi penelitian yang terkait dengan ranah keilmuan dan rumpun teori, maka penelusuran data teoritik dilakukan dengan berpijak pada aspek keterkaitan antara pelaku, aktivitas, dan tempat dalam suatu rangkaian

(38)

waktu tertentu dalam tiap-tiap unit amatan. Unit amatan penelitian dapat digambarkan dalam Gambar 2.3 sebagai berikut:

Gambar 2.3: Unit Amatan Penelitian (Analisis Peneliti, 2016)

Secara lebih detail teknik yang digunakan untuk mengkompilasi data dan mereduksi data, dapat dilakukan secara sinergis dengan rujukan maksud dan tujuan penelitian yaitu:

1. Membangun konsep yang dapat menjelaskan tentang pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa, kompilasi dan reduksi hasil penggalian data distrukturkan dalam bentuk diagram dan tabulasi (dapat dilihat pada Gambar 2.4 dan Tabel 2.2).

(39)

Gambar 2.4: Data Pasar Tradisional sebagai Komponen Struktur Kota Tradisional Jawa (Analisis Peneliti, 2016)

Tabel 2.2: Kompilasi data pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa (Analisis Peneliti, 2016)

Satuan Peristiwa Unit amatan (1) Unit Amatan (2) Unit Amatan (n)

M A P M A P M A P

Alasan kebertahanan

Bentuk Kebertahanan

Realitas kebertahanan

Keterkaitan Relasi Sosial

Relasi Budaya

Relasi ekonomi

Relasi Tempat

2. Membangun konsep yang dapat menjelaskan tentang perubahan struktur kota dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, kompilasi dan reduksi hasil penggalian data distrukturkan dalam bentuk diagram dan tabulasi. (Dapat dilihat pada Gambar 2.5 dan Tabel 2.5).

(40)

Gambar 2.5: Data perubahan struktur kota orientasi orientasi sosial-budaya - orientasi kebutuhan pasar (Analisis Peneliti, 2016)

Tabel 2.3: Kompilasi data Perubahan Orientasi sosial-budaya menjadi Orientasi kebutuhan pasar (Analisis Peneliti, 2016)

Satuan Peristiwa Unit amatan

(1)

Unit Amatan (2)

Unit Amatan (n)

M A P M A P M A P

Era Kerajaan

Era Pemerintahan RI

Era Pasar Bebas

Keterkaitan Relasi Sosial

Relasi Budaya

Relasi ekonomi

Relasi Tempat

3. Membangun teori lokal yang dapat menjelaskan fenomena kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar, kompilasi dan reduksi hasil penggalian data distrukturkan dalam bentuk diagram dan tabulasi.

(41)

Gambar 2.6: Data kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi

orientasi kebutuhan pasar (Analisis Peneliti, 2016)

2.2 Teknik Analisis

Dalam penelitian Naturalistik Kualitatif Induktif, penyusunan analisis data menggunakan prosedur analisis Grounded Theory yang terdiri dari 3 jenis pengkodean utama: 1) Pengkodean terbuka (open coding), 2) pengkodean berporos (axial coding), dan 3) pengkodean berpilih (selective coding), (Corbin & Strauss, 2013). Spradley menggolongkan analisa data kualitatif sebagai berikut : 1) Analisis Domain, dengan kategori melalui pertanyaan besar dan mini-tour, 2) Analisis Taxonomi, observasi terfokus untuk mendetailkan domain yang dipilih guna mengetahui struktur internalnya, 3) Analisis Komponensial, mencari ciri spesifik dalam struktur internal dengan cara mengkontraskan antar elemen, dan selanjutnya 4) Temuan Tema Kultural, dengan mencari hubungan antar domain, bagaimana hubungan dengan keseluruhan dan selanjutnya dinyatakan dalam tema. (Spradley, 1980). Proses analisis yang dilakukan seperti dalam Gambar 2.7 meliputi: (Moleong, 2010)

• Memoing (membuat memo): proses mencatat pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan dari peneliti tentang kebertahanan pasar tradisional sewaktu muncul dalam penelitian.

• Koding: proses untuk membuat kategorisasi data kualitatif dan juga untuk menguraikan implikasi dan rincian kebertahanan pasar tardisional berdasarkan kategori-kategorinya.

(42)

• Diagram terpadu dan sesi: untuk menarik seluruh rincian menjadi satu, untuk membantu agar data terarah menuju teori yang muncul secara terkait.

Gambar 2.7: Proses Analisis Data (Diinterpretasikan dari Moleong, 2010 dan Corbin & Strauss, 2013)

Penyusunan teori sebagai hasil penelitian dapat dilakukan suatu alur proses seperti dalam Gambar 2.8 sebagai berikut:

Gambar 2.8: Alur Penyusunan Teori (Diinterpretasikan dari Moleong, 2010 dan Corbin & Strauss, 2013)

(43)

2.3 Strategi Validasi Hasil Penelitian

Selama pelaksanaan penelitian kualitatif perlu adanya validasi hasil penelitian, dengan maksud untuk menjaga akurasi langkah maupun metode serta hasil yang telah diperoleh. Strategi validasi hasil penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah (Creswell J. W., 2009):

a Trianggulasi sumber data yang terkait dengan kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar yang berbeda dengan cara memeriksa bukti-bukti yang berasal dari sumber terkait.

Hal ini dimaksudkan untuk membangun tema secara koheren. Proses trianggulasi dilakukan mulai dari perumusan fenomena, tema, konsepsi, kategori dan bangunan teori. Hal tersebut dilakukan guna menjaga validitas penelitian.

b Menggunakan member checking, dengan membawa atau membahas hasil penelitian yang berupa bagian-bagian dari hasil penelitian yang sudah dipoles seperti tema, analisis kasus, deskripsi, ataupun grounded theory pada informan atau partisipan tentang kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar untuk mengecek akurasi hasil. Hal ini dapat berupa wawancara tindak lanjut.

Disamping strategi tersebut, tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan berbagai langkah startegi lain yang dapat menunjang akurasi dan validitas hasil temuan. Salah satunya dengan uji keabsahan data yaitu: (Faisal, 1990; dan Soendari, 2010)

a Uji kredibilitas untuk menggantikan uji validitas internal pada penelitian kuantitatif. Uji kredibilitas data hasil temuan tentang kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan

(44)

pasar, dilakukan dengan perpanjangan waktu pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, trianggulasi dan pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data (member checking).

b Uji transferabilitas menggantikan uji validitas eksternal atau premeabilitas pada penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif uji transferabilitas difokuskan pada laporan penelitian yang lebih rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya agar dapat diterima oleh semua pihak terkait dengan data kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar.

c Uji dependabilitas untuk menggantikan uji reabilitas pada penelitian kuantitatif. Uji dependabilitas dilakukan dengan meng-audit keseluruhan proses penelitian penggalian data kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar.

d Uji konfirmabilitas untuk menggantikan uji objektivitas pada penelitian kuantitatif. Uji konfirmabilitas dilakukan dengan menguji hasil penelitian kebertahanan pasar tradisional sebagai komponen struktur kota tradisional Jawa dalam kondisi kota yang mengalami perubahan orientasi dari orientasi sosial-budaya menjadi orientasi kebutuhan pasar sesuai dengan standar penelitian, mulai awal hingga akhir.

(45)
(46)

Bab 3 Pasar Tradisional Dalam Rangkaian Sejarah Kota Surakarta

3.1 Sejarah Kota Surakarta Sebagai Kota Tradisional Jawa

Pandangan hidup masyarakat Jawa terhadap kehidupan di atas bumi dan di bawah langit berpedoman pada bayangan dari kebenaran sejati yang transenden. Representasi hunian manusia tidak lebih dari penyerahan diri pada struktur kosmologis. Kota sebagai sistem tempat tinggal manusia secara sosial telah memiliki sistem yang baku. Kota bukan suatu gambaran dunia yang masih bisa dirubah dan berkembang bebas. Setiap penghuninya secara kosmologik telah memiliki tempat masing-masing sesuai dengan asal-usulnya atau keturunannya. Mungkin pandangan kosmologis ini cara efektif untuk melanggengkan kekuasaaan para penguasa (Wiryomartono, 2000). Selain aktor penguasa, terdapat suatu integritas yang kuat antara kondisi dan bentuk

Referensi

Dokumen terkait

Di Kota Palembang, sistim BOT ini dilakukan salah satunya adalah dalam upaya untuk dapat memfungsikan pasar 16 Ilir Palembang sebagai salah satu pusat perdagangan yang

Berawal dari peristiwa unik ketika mengunjungi salah satu pasar tradisional di Kota Tangerang, peneliti melihat dan merasakan keunikan serta perbedaan dalam proses

Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan bersama dengan DPRD Kota Mojokerto memiliki keinginan yang sama dimana Kota Mojokerto memiliki pasar tradisional yang

memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan keberadaan pelaku UMKM, Koperasi dan Pasar Tradisional yang ada di wilayah yang bersangkutan; memperhatikan jarak Pusat

Penanganan limbah padat di pasar tradisional Penampungan Pusat Pasar Medan dan pasar modern Berastagi Supermarket yang meliputi: pengumpulan sampah

Hasil pengamatan pada 30 sampel daging sapi yang dijual di pasar tradisional dan pasar modern keseluruhannya tampak dalam kondisi baik yaitu jika di tekan dengan jari

Pada dasarnya setiap pegawai di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tasikmalaya yang berkaitan dengan penataan dan pembinaan terhadap pasar tradisional, pusat

Pengelolaan pasar tradisional merupakan penataan pasar tradisional yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pasar tradisional, sedangkan pemberdayaan pasar tradisional