α = matriks kebalikan koefisien input model terbuka
9 Industri makanan dan minuman (Menengah) 142.617.723 5,51 0 0,
4.2. Analisis Keterkaitan (Linkage Analysis)
4.4.1. Pengganda Output (Output Multiplier)
Berdasarkan Tabel 4.9, sektor industri makanan dan minuman (kecil) memiliki nilai multiplier output tipe I pada urutan pertama dalam UKM Indonesia pada tahun 2007 sebesar 2,1760 yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan permintaan akhir di sektor industri makanan dan minuman (kecil) sebesar satu satuan rupiah akan meningkatkan output pada semua sektor sebesar 2,1760.
Apabila efek konsumsi masyarakat diperhitungkan dengan memasukan rumah tangga ke dalam model maka didapat nilai multiplier tipe II yang nilainya selalu lebih besar dibandingkan pada tipe I. Multiplier output tipe II sektor industri makanan dan minuman (kecil) berada pada urutan kedua yaitu sebesar 2,6039. Artinya, jika terjadi peningkatan pengeluaran rumah tangga yang bekerja pada sektor tersebut sebesar satu satuan maka output di semua sektor UKM akan meningkat sebesar 2,6039.
Sektor industri makanan dan minuman (menengah) memiliki nilai multiplier output tipe I pada urutan ketiga yaitu sebesar 2,1056, sedangkan untuk tipe II pada urutan keenam yaitu sebesar 2,4850. Sedangkan sektor industri makanan dan minuman (besar) memiliki nilai multiplier output tipe I pada urutan kesepuluh yaitu sebesar 1,8611, sedangkan untuk tipe II pada urutan keempatbelas yaitu sebesar 1,1962.
Berdasarkan multiplier output, sektor UKM yang paling dominan adalah sektor industri makanan dan minuman (kecil) karena nilai multiplier output tipe I maupun tipe II berada pada urutan teratas yaitu pada urutan pertama untuk multiplier output tipe I dan urutan kedua untuk multiplier output tipe II. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri makanan dan minuman (kecil) merupakan sektor yang mampu mempertahankan bahkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional pada tingkat yang lebih baik.
Berdasarkan hasil analisis, efek maksimum dalam hal peningkatan produksi dan pembentukan output baru akan tercipta apabila setiap satuan uang untuk permintaan akhir dibelanjakan untuk membeli output yang mempunyai angka
multiplier output terbesar, dalam hal ini yaitu sektor industri makanan dan minuman (kecil). Sedikit saja komponen permintaan akhir tersebut dipakai untuk membeli output yang mempunyai angka pengganda lebih kecil, maka efek maksimal dari tambahan permintaan akhir tersebut tidak akan tercapai. Dengan meningkatnya output yang dihasilkan UKM di Indonesia ini, maka dapat meningkatkan pertumbuhan outputnya yang berarti meningkatkan pula laju pertumbuhan ekonominya. Sehingga lambat laun dapat mengurangi permasalahan kemiskinan yang ada.
4.4.2. Pengganda Pendapatan (Income Multiplier)
Hasil analisis multiplier pendapatan pada Tabel 4.9 menjelaskan bahwa sektor industri makanan dan minuman (kecil) memiliki nilai multiplier pendapatan tipe I maupun multiplier pendapatan tipe II pada urutan keempat dalam UKM Indonesia pada tahun 2007 yaitu sebesar 2,5930 dan 2,7671. Nilai multiplier pendapatan sektor industri makanan dan minuman (kecil) tipe I sebesar 2,5930 berarti bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu satuan akan meningkatkan pembentukan pendapatan rumah tangga atau masyarakat secara sektoral sebesar 2,5930 satuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan nilai multiplier pendapatan tipe II sektor industri makanan dan minuman (kecil) sebesar 2,7671 menunjukan jika terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada sektor industri makanan dan minuman (kecil) akan meningkatkan pendapatan rumah tangga pada sektor tersebut yang dibelanjakan ke semua sektor perekonomian lainnya sebesar 2,7671 rupiah.
Sektor industri makanan dan minuman (menengah) memiliki nilai multiplier pendapatan tipe I maupun tipe II pada urutan pertama dalam UKM Indonesia pada tahun 2007. Nilai multiplier pendapatan sektor industri makanan dan minuman (menengah) tipe I yaitu sebesar 3,0992, sedangkan tipe II yaitu sebesar 3,3082. Untuk sektor industri makanan dan minuman (besar) memiliki nilai multiplier pendapatan tipe I maupun tipe II pada urutan kelima dalam UKM Indonesia pada tahun 2007. Nilai multiplier pendapatan sektor industri makanan dan minuman (besar) tipe I yaitu sebesar 2,1905, sedangkan tipe II yaitu sebesar 2,3376. Dilihat berdasarkan multiplier pendapatan, sektor UKM yang yang paling dominan adalah sektor industri makanan dan minuman (menengah) karena nilai multiplier pendapatan tipe I maupun tipe II berada pada urutan pertama.
Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa sektor industri makanan dan minuman (menengah) merupakan sektor yang potensial dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, pendapatan sektor-sektor perekonomian, dan juga pendapatan nasional. Oleh karena itu, pemerintah harus mengalokasikan setiap satuan uang permintaan akhir untuk dibelanjakan kepada output sektor industri makanan dan minuman (menengah) yang mempunyai angka pengganda pendapatan tertinggi. Hal ini dimaksudkan untuk optimalisasi pengingkatan pendapatan dalam perekonomian, yaitu dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia agar terbebas dari belenggu lingkaran setan kemiskinan.
4.4.3. Pengganda Tenaga Kerja (Labour Multiplier)
Hasil analisis multiplier tenaga kerja pada Tabel 4.9 menjelaskan bahwa koefisien pengganda tenaga kerja sektor-sektor UKM di Indonesia cukup tinggi. Multiplier tenaga kerja tipe I sektor industri makanan dan minuman (kecil) memiliki nilai pada urutan keduabelas dalam UKM Indonesia pada tahun 2007 sebesar 3,8635, sedangkan untuk tipe II pada urutan kesembilanbelas dalam UKM Indonesia yaitu sebesar 4,2671. Nilai multiplier tenaga kerja tipe I sektor industri makanan dan minuman (kecil) sebesar 3,8635 berarti jika terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu satuan pada sektor industri makanan dan minuman (kecil) maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja pada sektor tersebut sebesar 3,8635 orang. Sedangkan nilai multiplier tenaga kerja tipe II sektor industri makanan dan minuman (kecil) sebesar 4,2671 menunjukkan bahwa jika rumah tangga dianggap sebagai faktor endogen maka peningkatan permintaan akhir sebesar satu satuan pada industri makanan dan minuman (kecil) maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja pada sebesar 4,2671 orang.
Sektor industri makanan dan minuman (menengah) memiliki nilai multiplier tenaga kerja tipe I maupun tipe II berada pada urutan keenam dalam UKM Indonesia pada tahun 2007 yaitu sebesar 14,6972 dan 16,3272. Sedangkan Industri makanan dan minuman (besar) memiliki nilai multiplier tenaga kerja tipe I pada urutan kesembilanbelas dalam UKM Indonesia pada tahun 2007, sedangkan untuk tipe II pada urutan keduapuluhtiga dalam UKM Indonesia pada tahun 2007 yaitu sebesar 2,3821 dan 2,6672.
Tabel 4.9. Nilai Koefisien Multiplier Output, Multiplier Pendapatan dan
Multiplier Tenaga Kerja Tipe I dan Tipe II Sektor-sektor UKM Indonesia Tahun 2007
Sektor Uraian Sektor
Multiplier Output Multiplier Pendapatan
Multiplier Tenaga Kerja
tipe 1 tipe2 Tipe 1 tipe2 tipe 1 tipe2 1
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
(Kecil) 1,3695 1,7296 1,2568 1,3412 1,1245 1,1953 2
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
(Menengah) 1,5296 1,9589 1,3238 1,4126 2,0101 2,5688 3
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
(Besar) 1,1700 1,3425 1,2531 1,3372 3,7493 5,9084 4 Penambangan dan penggalian (Kecil) 1,3755 1,8976 1,1683 1,2468 1,1639 1,5699 5 Penambangan dan penggalian (Menengah) 1,3704 1,9027 1,1732 1,2520 1,8023 4,0589 6 Penambangan dan penggalian (Besar) 1,3747 1,8106 1,2526 1,3367 16,3789 65,2289 7 Penambangan minyak, gas dan panas bumi **) 1,0897 1,1962 1,0901 1,1633 1,1088 10,2322 8 Industri makanan dan minuman (Kecil) 2,1760 2,6039 2,5930 2,7671 3,8635 4,2671 9 Industri makanan dan minuman (Menengah) 2,1056 2,4850 3,0992 3,3082 14,6927 16,3272 10 Industri makanan dan minuman (Besar) 1,8611 2,1901 2,1905 2,3376 2,3821 2,6672 11 Industri pengolahan lainnya (Kecil) 2,0176 2,4550 1,6643 1,7760 1,3760 1,6227 12 Industri pengolahan lainnya (Menengah) 2,1135 2,5224 1,8714 1,9970 2,7713 3,7580 13 Industri pengolahan lainnya (Besar) 1,7416 1,9733 2,0676 2,2063 6,0640 8,7935 14 Barang-barang hasil kilang minyak 1,3424 1,4586 1,4047 1,4990 1,0511 2,4785 15 Gas alam cair (LNG) 1,5040 1,5802 2,7697 2,9557 2,3669 7,5697 16 Industri semen *) 1,9157 2,2819 2,2495 2,4005 4,4265 8,6409 17
Industri logam dasar besi, baja dan logam bukan
besi/baja **) 1,7526 1,9757 3,0150 3,2174 4,4766 8,2498 18 Listrik, Gas dan air minum **) 1,8153 2,0430 2,3261 2,4822 3,0726 6,1702 19 Bangunan (Kecil) 2,0061 2,4700 1,6503 1,7611 6,2135 9,9354 20 Bangunan (Menengah) 2,0349 2,5016 1,6419 1,7521 18,0392 31,2940 21 Bangunan (Besar) 2,0266 2,5118 1,5697 1,6750 71,1730 133,1159 22 Jasa perdagangan, hotel dan restoran (Kecil) 1,6809 2,0296 1,6044 1,7121 1,3312 1,4972 23 Jasa perdagangan, hotel dan restoran (Menengah) 1,6176 2,0199 1,4096 1,5042 2,4651 3,6254 24 Jasa perdagangan, hotel dan restoran (Besar) 1,3217 1,5871 1,2868 1,3732 1,6639 2,4877 25 Jasa angkutan dan komunikasi (Kecil) 1,9613 2,3172 2,0591 2,1973 1,5735 1,8955 26 Jasa angkutan dan komunikasi (Menengah) 1,8368 2,2210 1,6761 1,7886 7,3004 11,9884 27 Jasa angkutan dan komunikasi (Besar) 1,8024 2,0701 2,0678 2,2066 16,1034 27,2735 28
Jasa lembaga keuangan, sewa bangunan dan jasa
perusahaan (Kecil) 1,4987 1,7845 1,7038 1,8182 1,1322 1,2736 29
Jasa lembaga keuangan, sewa bangunan dan jasa
perusahaan (Menengah) 1,4164 1,7418 1,3997 1,4937 2,3661 4,5053 30
Jasa lembaga keuangan, sewa bangunan dan jasa
perusahaan (Besar) 1,3164 1,5238 1,5321 1,6349 2,9882 5,5744 31 Jasa-jasa (Kecil) 1,8239 2,3907 1,3693 1,4613 1,3044 1,5956 32 Jasa-jasa (Menengah) 1,8359 2,3972 1,3890 1,4822 2,6352 4,2888 33 Jasa-jasa (Besar) 1,6561 2,6119 1,1621 1,2401 53,8439 155,6392
Sumber: Tabel Input-Output UKM Indonesia Tahun 2007 (updating), Klasifikasi 33 Sektor (diolah)
Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa UKM sektor industri makanan dan minuman kurang sensitif dalam menciptakan lapangan kerja. Hal ini dapat terlihat dari nilai multiplier tenaga kerja yang relatif kecil. Penyebab utama kecilnya nilai multiplier tenaga kerja adalah kurangnya modal atau investasi yang dimiliki oleh UKM sektor industri makanan dan minuman sehingga sektor tersebut tidak dapat atau terhambat dalam meningkatkan skala produksi dan perluasan skala usaha. Hal tersebut akan mengakibatkan terhambatnya proses penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, UKM sektor industri makanan dan minuman belum dapat mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja jika tidak diimbangi dengan penyaluran modal atau kredit modal bagi para pengusaha UKM terutama pengusaha UKM sektor industri makanan dan minuman.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5. Struktur Input Antara dan Permintaan Antara Usaha Kecil dan
Menengah Sektor Industri Makanan dan Minuman
Berdasarkan analisis Tabel Input-Output Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Indonesia tahun 2007 (updating) dapat dihasilkan gambaran mengenai struktur komposisi input antara dan distribusi permintaan antara dari UKM sektor industri makanan dan minuman di Indonesia pada tahun 2007. Gambaran komposisi input antara dan distribusi permintaan antara tersebut secara tidak langsung dapat menggambarkan keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan dari UKM sektor industri makanan dan minuman. Nilai secara lengkap disajikan pada Lampiran 2.
4.5.1. Struktur Input Antara UKM Sektor Industri Makanan dan Minuman
Tabel 4.1 memperlihatkan struktur komposisi input antara yang digunakan oleh sektor industri makanan dan minuman dalam proses produksinya. Input antara terbesar sektor industri makanan dan minuman berasal dari sektor industri pengolahan lainnya (besar) yaitu sebesar Rp. 823.168.413 juta atau 20,94 persen dari total keseluruhan input antara. Tingginya nilai input antara sektor industri makanan dan minuman yang berasal dari sektor industri pengolahan lainnya (besar) menjelaskan sektor industri makanan dan minuman mempunyai keterkaitan ke belakang yang kuat dengan sektor tersebut. Oleh karena itu, perubahan harga yang terjadi pada industri pengolahan lainnya (besar) dapat mempengaruhi produksi sektor industri makanan dan minuman dengan signifikan.
Tabel 4.1. Struktur Komposisi Input Antara UKM 10 Sektor Utama Indonesia Tahun 2007 Berdasarkan Besarnya Persentase
(Juta Rupiah)
Sektor Uraian Sektor Nilai Persen
13 Industri pengolahan lainnya (Besar) 823.168.413 20,94 22 Jasa perdagangan, hotel dan restoran (Kecil) 311.031.833 7,91
10 Industri makanan dan minuman (Besar) 244.322.412 6,22
19 Bangunan (Kecil) 226.499.726 5,76 21 Bangunan (Besar) 183.217.224 4,66 27 Jasa angkutan dan komunikasi (Besar) 156.262.735 3,98 33 Jasa-jasa (Besar) 152.501.058 3,88 12 Industri pengolahan lainnya (Menengah) 151.206.297 3,85
9 Industri makanan dan minuman (Menengah) 146.874.093 3,74
31 Jasa-jasa (Kecil) 136.365.642 3,47
Total 10 Sektor Utama Input Antara 2.531.449.433 64,41
Total Input Antara 3.931.114.938 100,00
Sumber: Tabel Input-Output UKM Indonesia Tahun 2007 (updating), Klasifikasi 33 Sektor (diolah)
4.5.2. Struktur Permintaan UKM Sektor Industri Makanan dan Minuman
Total permintaan merupakan penjumlahan dari permintaan antara dengan permintaan akhir. Total permintaan barang dan jasa yang dihasilkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Indonesia pada tahun 2007 sebesar Rp. 9.034.951.047 juta. Terjadi keseimbangan permintaan dan penawaran menunjukkan bahwa penawaran struktur output sektoral sama dengan struktur total permintaannya yaitu sebesar Rp. 9.034.951.047 juta. Permintaan antara yang terbentuk adalah sebesar 43,51 persen dari total permintaannya. Permintaan akhir barang dan jasa dalam UKM Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 56,49 persen dari total permintaannya. Permintaan antara dan permintaan akhir sektor-sektor UKM Indonesia tahun 2007 dapat dilihat lebih rinci pada Lampiran 5.
Berdasarkan Tabel 4.2, sektor industri makanan dan minuman (kecil) memberikan kontribusi terhadap permintaan antara sebesar 1,33 persen, sektor industri makanan dan minuman (menengah) memberikan kontribusi sebesar 1,25
persen dan untuk sektor industri makanan dan minuman (besar) memberikan kontribusi sebesar 4,23 persen. Nilai-nilai permintaan antara untuk sektor industri makanan dan minuman tersebut mengindikasikan pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor tersebut untuk digunakan sebagai input oleh sektor- sektor lainnya dalam perekonomian Indonesia pada tahun 2007.
Tabel 4.2. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir 15 Sektor Usaha Kecil dan Menengah Indonesia Tahun 2007 (Juta Rupiah)
Sektor Permintaan Antara Permintaan Akhir Permintaan Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
16. Pertanian, Peternakan, Kehutanan
dan Perikanan (Kecil) 321.023.961 8,17 266.869.339 5,23 587.893.300 6,51 17. Pertanian, Peternakan, Kehutanan
dan Perikanan (Menengah) 48.970.473 1,25 21.397.259 0,42 70.367.731 0,78 18. Pertanian, Peternakan, Kehutanan
dan Perikanan (Besar) 68.926.265 1,75 12.997.469 0,25 81.923.734 0,91 19. Penambangan dan Penggalian
(Kecil) 31.098.628 0,79 956.731 0,02 32.055.359 0,35 20. Penambangan dan Penggalian
(Menengah) 8.209.655 0,21 693.288 0,01 8.902.943 0,10 21. Penambangan dan Penggalian
(Besar) 79.358.007 2,02 66.412.633 1,30 145.770.640 1,61 22. Penambangan minyak, gas dan panas
bumi 289.582.181 7,37 109.650.097 2,15 399.232.276 4,42 23. Industri Makanan dan Minuman
(Kecil) 52.413.525 1,33 144.600.421 2,83 197.013.946 2,18
24. Industri Makanan dan Minuman
(Menengah) 49.327.941 1,25 152.506.765 2,99 201.834.707 2,23
25. Industri Makanan dan Minuman
(Besar) 166.145.873 4,23 295.459.291 5,79 461.605.163 5,11
26. Industri Pengolahan lainnya (Kecil) 88.080.360 2,24 133.889.695 2,62 221.970.055 2,46 27. Industri Pengolahan lainnya
(Menengah) 78.610.011 2,00 151.988.417 2,98 230.598.429 2,55 28. Industri Pengolahan lainnya (Besar) 823.418.977 20,95 1.014.430.859 19,88 1.837.849.837 20,34 29. Barang-barang Hasil Kilang Minyak 218.247.335 5,55 58.101.456 1,14 276.348.791 3,06 30. Gas Alam Cair (LNG) 5.963.934 0,15 150.989.135 2,96 156.953.069 1,74
Sumber: Tabel Input-Output UKM Indonesia Tahun 2007 (updating), Klasifikasi 33 Sektor (diolah)
Permintaan akhir sektor industri makanan dan minuman (kecil) berkontribusi sebesar Rp. 114.600.421 juta atau 2,83 persen dari total permintaan akhir. Untuk sektor industri makanan dan minuman (menengah) berkontribusi sebesar 2,99 persen sedangkan sektor industri makanan dan minuman (besar) berkontribusi sebesar 5,79 persen dari total permintaan akhir. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya. Hal ini mengindikasikan bahwa
masyarakat secara keseluruhan (masyarakat, pemerintah dan luar negeri) lebih banyak menggunakan output sektor industri makanan dan minuman untuk konsumsi langsung dibandingkan untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain.
4.5.3. Peranan UKM Industri Makanan dan Minuman dalam Struktur
Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi Pemerintah
Konsumsi masyarakat Indonesia pada tahun 2007 terhadap output domestik UKM adalah sebesar Rp. 2.589.676.682 juta. Pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk sektor industri makanan dan minuman (kecil) berada pada urutan ketujuh yaitu sebesar Rp. 140.331.202 juta atau 5,42 persen dari total pengeluaran rumah tangga terhadap output domestik, sektor industri makanan dan minuman (menengah) berada pada urutan keenam yaitu sebesar Rp. 142.617.723 juta atau 5,51 persen sedangkan sektor industri makanan dan minuman (besar) berada pada urutan keempat yaitu sebesar Rp. 252.559.111 juta atau sekitar 9,75 persen.
Pengeluaran konsumsi masyarakat Indonesia untuk sektor industri makanan dan minuman kecil, menengah maupun besar termasuk yang cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa sektor industri makanan dan minuman kecil, menengah maupun besar cukup berperan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Karena sebagian besar output dari sektor industri makanan dan minuman kecil, menengah maupun besar langsung dikonsumsi oleh masyarakat.
Tabel 4.3. Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi Pemerintah Sektor- Sektor UKM Indonesia Tahun 2007 (Juta Rupiah)
Sektor Uraian Sektor
Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah
Jumlah Persen Jumlah Persen
1
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
(Kecil) 252.687.445 9,76 0 0,00
2
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
(Menengah) 20.212.009 0,78 0 0,00 3
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
(Besar) 12.307.188 0,48 0 0,00
4 Penambangan dan penggalian (Kecil) 53.424 0,00 0 0,00 5 Penambangan dan penggalian (Menengah) 1.927 0,00 0 0,00 6 Penambangan dan penggalian (Besar) 0 0,00 0 0,00 7 Penambangan minyak, gas dan panas bumi **) 0 0,00 0 0,00
8 Industri makanan dan minuman (Kecil) 140.331.202 5,42 0 0,00
9 Industri makanan dan minuman (Menengah) 142.617.723 5,51 0 0,00
10 Industri makanan dan minuman (Besar) 252.559.111 9,75 0 0,00
11 Industri pengolahan lainnya (Kecil) 77.018.439 2,97 0 0,00 12 Industri pengolahan lainnya (Menengah) 62.881.476 2,43 0 0,00 13 Industri pengolahan lainnya (Besar) 412.950.780 15,95 0 0,00 14 Barang-barang hasil kilang minyak 27.164.214 1,05 0 0,00 15 Gas alam cair (LNG) 46.665.450 1,80 0 0,00 16 Industri semen *) 0 0,00 0 0,00 17
Industri logam dasar besi, baja dan logam bukan
besi/baja **) 0 0,00 0 0,00
18 Listrik, Gas dan air minum **) 79.715.670 3,08 0 0,00 19 Bangunan (Kecil) 0 0,00 0 0,00 20 Bangunan (Menengah) 0 0,00 0 0,00 21 Bangunan (Besar) 15.050.868 0,58 0 0,00 22 Jasa perdagangan, hotel dan restoran (Kecil) 259.146.373 10,01 0 0,00 23 Jasa perdagangan, hotel dan restoran (Menengah) 55.457.240 2,14 0 0,00 24 Jasa perdagangan, hotel dan restoran (Besar) 33.221.936 1,28 0 0,00 25 Jasa angkutan dan komunikasi (Kecil) 114.782.637 4,43 0 0,00 26 Jasa angkutan dan komunikasi (Menengah) 64.819.027 2,50 0 0,00 27 Jasa angkutan dan komunikasi (Besar) 153.119.678 5,91 0 0,00 28
Jasa lembaga keuangan, sewa bangunan dan jasa
perusahaan (Kecil) 25.657.384 0,99 0 0,00 29
Jasa lembaga keuangan, sewa bangunan dan jasa
perusahaan (Menengah) 53.376.862 2,06 0 0,00 30
Jasa lembaga keuangan, sewa bangunan dan jasa
perusahaan (Besar) 26.977.999 1,04 0 0,00 31 Jasa-jasa (Kecil) 171.711.683 6,63 0 0,00 32 Jasa-jasa (Menengah) 36.686.817 1,42 0 0,00 33 Jasa-jasa (Besar) 52.502.120 2,03 319.522.504 100,00
Total 2.589.676.682 100,00 319.522.504 100,00
Sumber: Tabel Input-Output UKM Indonesia Tahun 2007 (updating), Klasifikasi 33 Sektor (diolah)
Pada tabel 4.3 dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2007 jumlah konsumsi pemerintah untuk UKM mencapai Rp. 319.522.504 juta. Dimana seluruh
konsumsi pemerintah dialokasikan untuk sektor jasa-jasa lainnya (besar) sebesar Rp. 319.522.504 juta. Seluruh konsumsi pemerintah digunakan untuk belanja pegawai, belanja barang, belanja perjalanan dinas, belanja pemeliharaan dan perbaikan serta belanja rutin lainnya termasuk pengeluaran pemerintah pusat dan daerah.
4.5.4. Struktur Investasi
Investasi ini dimaksudkan sebagai penjumlahan dari pembentukan modal tetap dan perubahan stok. Total investasi UKM Indonesia pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp. 1.029.813.183 juta. Sebagian besar total investasi tersebut berasal dari pembentukan modal tetap bruto yaitu sebesar Rp. 1.028.760.181 juta atau 99,90 persen, sedangkan untuk perubahan stok hanya sebesar Rp. 1.053.002 juta atau 0,1 persen saja.
Sektor industri makanan dan minuman kecil, menengah maupun besar memiliki nilai pembentukan modal tetap bruto sebesar nol. Oleh karena itu, sektor industri makanan dan minuman termasuk yang tidak memberikan kontribusi terhadap pembentukan modal tetap bruto. Hal ini terjadi karena sebagian besar UKM sektor industri makanan dan minuman belum bankable (belum memenuhi syarat berhubungan dengan bank) sehingga sulit untuk mendapatkan kredit untuk penambahan modal. Pembentukan modal tetap bruto, perubahan stok dan investasi sektor-sektor UKM Indonesia tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4. Pembentukan Modal Tetap Bruto, Perubahan Stok, dan Investasi Sektor-sektor UKM Indonesia Tahun 2007 (Juta Rupiah)
Sektor Uraian Sektor
Pembentukan Modal
Tetap Bruto Perubahan Stok Investasi
Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen 1
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan
Perikanan (Kecil) 574.950 0,056 81.082 7,700 656.032 0,064 2
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan
Perikanan (Menengah) 96.745 0,009 20.139 1,913 116.884 0,011 3
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan
Perikanan (Besar) 12.734 0,001 19.388 1,841 32.121 0,003 4 Penambangan dan penggalian (Kecil) 0 0,000 -17.903 -1,700 -17.903 -0,002 5
Penambangan dan penggalian
(Menengah) 83.816 0,008 -3.092 -0,294 80.724 0,008 6 Penambangan dan penggalian (Besar) 12.772.528 1,242 58.277 5,534 12.830.804 1,246 7
Penambangan minyak, gas dan panas
bumi **) 6.682.950 0,650 137.858 13,092 6.820.808 0,662 8
Industri makanan dan minuman
(Kecil) 0 0,000 14.251 1,353 14.251 0,001
9
Industri makanan dan minuman
(Menengah) 0 0,000 11.709 1,112 11.709 0,001
10
Industri makanan dan minuman
(Besar) 0 0,000 3.115 0,296 3.115 0,000
11 Industri pengolahan lainnya (Kecil) 3.209.813 0,312 21.383 2,031 3.231.196 0,314 12 Industri pengolahan lainnya (Menengah) 10.885.664 1,058 19.618 1,863 10.905.282 1,059 13 Industri pengolahan lainnya (Besar) 174.026.872 16,916 252.195 23,950 174.279.067 16,923 14 Barang-barang hasil kilang minyak 0 0,000 33.019 3,136 33.019 0,003 15 Gas alam cair (LNG) 0 0,000 212.426 20,173 212.426 0,021 16 Industri semen *) 0 0,000 6.243 0,593 6.243 0,001 17
Industri logam dasar besi, baja dan logam
bukan besi/baja **) 0 0,000 89.768 8,525 89.768 0,009 18 Listrik, Gas & air minum**) 0 0,000 0 0,000 0 0,000 19 Bangunan (Kecil) 342.759.373 33,318 0 0,000 342.759.373 33,284 20 Bangunan (Menengah) 171.514.434 16,672 0 0,000 171.514.434 16,655 21 Bangunan (Besar) 254.026.276 24,692 0 0,000 254.026.276 24,667 22
Jasa perdagangan, hotel dan restoran
(Kecil) 24.819.177 2,413 49.209 4,673 24.868.386 2,415 23
Jasa perdagangan, hotel dan restoran
(Menengah) 5.767.942 0,561 14.548 1,382 5.782.490 0,562 24
Jasa perdagangan, hotel dan restoran
(Besar) 1.141.784 0,111 3.153 0,299 1.144.937 0,111 25 Jasa angkutan dan komunikasi (Kecil) 4.151.902 0,404 13.603 1,292 4.165.505 0,404 26
Jasa angkutan dan komunikasi
(Menengah) 2.329.784 0,226 7.633 0,725 2.337.417 0,227 27 Jasa angkutan dan komunikasi (Besar) 1.634.077 0,159 5.354 0,508 1.639.431 0,159 28
Jasa lembaga keuangan, sewa bangunan
dan jasa perusahaan (Kecil) 0 0,000 0 0,000 0 0,000 29
Jasa lembaga keuangan, sewa bangunan
dan jasa perusahaan (Menengah) 0 0,000 0 0,000 0 0,000 30
Jasa lembaga keuangan, sewa bangunan
dan jasa perusahaan (Besar) 0 0,000 0 0,000 0 0,000 31 Jasa-jasa (Kecil) 7.694.196 0,748 28 0,003 7.694.224 0,747 32 Jasa-jasa (Menengah) 1.779.153 0,173 0 0,000 1.779.153 0,173 33 Jasa-jasa (Besar) 2.796.011 0,272 0 0,000 2.796.011 0,272
Total 1.028.760.181 100,000 1.053.002 100,000 1.029.813.183 100,000
Sumber: Tabel Input-Output UKM Indonesia Tahun 2007 (updating), Klasifikasi 33 Sektor (diolah)
Perubahan stok merupakan selisih dari modal awal tahun dengan modal akhir tahun dalam perekonomian. Sektor industri makanan dan minuman (kecil) berkontribusi terhadap perubahan stok sebesar 1,353 persen, sektor industri makanan dan minuman (menengah) sebesar 1,112 persen sedangkan sektor industri makanan dan minuman (besar) hanya berkontribusi sebesar 0,296 persen dari total perubahan stok.
Pembentukan modal tetap bruto yang lebih tinggi dibandingkan perubahan stok terhadap investasi sektor-sektor perekonomian menunjukkan bahwa ada investasi baru yang terbentuk pada tahun tersebut. Selain itu, nilai negatif terhadap perubahan stok menunjukkan bahwa barang-barang bahan baku atau hasil produksi sudah digunakan oleh produsen atau sebagian besar output yang diproduksi diekspor ke luar negeri.
4.1.5. Struktur Nilai Tambah Bruto (NTB)
Nilai tambah bruto adalah balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi. Dalam Tabel Input-Output UKM Indonesia tahun 2007 nilai tambah bruto meliputi upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, pajak tak langsung, dan subsidi. Pada tahun 2007, total nilai tambah bruto UKM Indonesia adalah sebesar Rp. 3.965.784.798 juta dengan perincian Rp. 1.224.005.996 juta berasal dari upah dan gaji, Rp. 2.202.570.274 juta berasal dari surplus usaha, Rp. 349.849.256 juta berasal dari penyusutan, Rp. 203.042.122 juta berasal dari pajak tak langsung dan Rp. 13.682.850 juta berasal dari subsidi.
Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa sektor industri makanan dan minuman (kecil) berkontribusi nilai tambah bruto sebesar Rp. 53.291.527 juta atau sebesar 1,34 persen. Jumlah tersebut paling besar dialokasikan untuk surplus usaha sebesar Rp. 25.189.128 juta atau sekitar 47,27 persen diikuti oleh upah dan gaji sebesar Rp. 20.241.909 juta atau sebesar 37,80 persen, penyusutan sebesar Rp. 5.367.262 juta atau 10,07 persen dan pajak tak langsung sebesar Rp. 2.493.227 juta atau 4,86 persen. Sektor industri makanan dan minuman (menengah) sebesar Rp. 54.960.615 juta atau sebesar 1,39 persen. Jumlah tersebut paling besar dialokasikan untuk surplus usaha sebesar Rp. 31.644.012 juta atau sekitar 57,57 persen diikuti oleh upah dan gaji sebesar Rp. 15.356.966 juta atau sebesar 27,94 persen, penyusutan sebesar Rp. 5.556.149 juta atau 10,11 persen dan pajak tak langsung sebesar Rp. 2.403.489 juta atau 4,38 persen. Sedangkan industri makanan dan minuman (besar) sebesar Rp. 141.740549 juta atau sebesar 3,57 persen. Jumlah tersebut paling besar dialokasikan untuk surplus usaha sebesar Rp. 80.865.456 juta atau sekitar 57,05 persen diikuti oleh upah dan gaji sebesar Rp. 43.166.452 juta atau sebesar 30,45 persen, pajak tak langsung sebesar Rp. 9.503.963 juta atau 6,70 persen dan penyusutan sebesar Rp. 8.204.679 juta atau 5,80 persen.
Besarnya kontribusi sektor industri makanan dan minuman kecil, menengah maupun besar menunjukkan bahwa sektor tersebut cukup berperan terhadap pembentukan PDB Nasional. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri makanan dan minuman kecil, menengah maupun besar telah dikelola dengan baik dan berpotensi untuk menghasilkan bagi pemilik modal sektor tersebut.
Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen. Rasio upah dan gaji dengan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang.
Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 4.5, diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri makanan dan minuman baik kecil, menengah maupun besar mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (untuk industri makanan dan minuman kecil 0,8; menengah 0,5 dan besar 0,5). Kondisi ini menunjukkan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal). Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah melalui penetapan upah minimum dan pemberian fasilitas bagi karyawan, seperti uang transportasi dan konsumsi, jaminan sosial, dll.
Tabel 4.5. Kontribusi Sektor-Sektor UKM Indonesia terhadap Nilai Tambah Bruto (Juta Rupiah)
Sektor Uraian Sektor
Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi
Nilai Tambah Bruto Total Persen 1
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan
Perikanan (Kecil) 104.868.693 337.784.851 9.529.585 6.226.653 0 458.409.782 11,56 2
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan
Perikanan (Menengah) 14.210.774 31.595.914 2.151.647 803.017 0 48.761.352 1,23 3
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan
Perikanan (Besar) 7.022.834 15.520.747 1.383.575 494.308 0 24.421.465 0,62 4 Penambangan dan penggalian (Kecil) 8.918.184 12.729.759 2.554.122 790.810 0 24.992.875 0,63 5
Penambangan dan penggalian