• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PEN ELITIAN

4.1 Ketidaklangsungan Ekspresi

4.1.1 Penggantian Arti

Penggantian arti menurut Riffaterre disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimia dalam karya sastra. Metafora dan metonimia dalam arti luasnya adalah bahasa kiasan. Pada umumnya, penggantian arti tidak terbatas pada bahasa kiasan metafora dan metonimia saja. Hal ini disebabkan oleh metafora dan metonimia itu merupakan bahasa kiasan yang sangat penting hingga dapat mengganti bahasa kiasan lainnya.

Secara umum dalam pembicaraan puisi, bahasa kiasan seperti perbandingan, personifikasi, sinekdoke, dan metonimia biasa disebut saja dengan metafora meskipun sesungguhnya metafora itu berbeda dengan kiasan lain. Metafora merupakan bahasa kiasan yang memperlihatkan gejala bahwa suatu arti tertentu dialihkan kepada suatu hal yang lain. Peralihan arti itu dapat terjadi bila apa yang dikatakan dan apa yang sebetulnya dimaksudkan dapat dikaitkan satu dengan yang lain. Selain itu perbandingan dalam metafora tidak disertai dengan kemunculan kata-kata penghubung. Pada metafora, motif (aspek arti yang bersama-sama

dimiliki oleh pembanding dan apa yang dibandingkan) harus kita cari sendiri (Luxemburg, 1984:187).

ngiau! kucing dalam darah dia menderas lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber gegas lewat dalam aortaku dalam rimba darahku dia besar dia bukan harimau bu kan singa bukan hyena bukan leopar dia macam kucing bukan kucing tapi kucing ngiau dia lapar dia merambah rimba af rikaku dengan cakarnya dengan amuknya dia meraung dia mengerang jangan beri daging dia tak mau daging jesus jangan beri roti dia tak mau roti ngiau

“Kucing” merupakan salah satu hewan peliharaan. “Ngiau” adalah tiruan bunyi kucing yang sedang marah. Namun, pada puisi di atas, “kucing” tidak mengacu kepada hal tersebut. “Kucing” adalah sifat batiniah yang dimiliki manusia di dalam dirinya yang terus-menerus mencari, tetapi tidak tahu apa yang ia cari. Penggantian makna tersebut dengan kata “kucing” didasari bahwa sebenarnya kucing itu adalah hewan peliharaan yang sangat jinak. Demikian pula sifat di dalam manusia yang mencari Tuhan tersebut. Sifat itu pada dasarnya sangat rohani sehingga lebih tepat apabila dikatakan dengan hati yang merindukan Tuhan.

“Rimba” adalah hutan lebat yang begitu luas dengan pohon-pohon yang besar. “Afrika” merupakan sebuah benua dengan luas hutan yang paling besar di seluruh dunia. “Rimba Afrika” berarti hutan yang sangat luas dengan segala keliaran hewan yang tinggal di dalamnya. Dalam puisi tersebut, “rimba afrika” berarti seluruh segi kehidupan manusia yang menjadi tempat eksplorasi “kucing”. Hubungan arti antara “kucing” dengan “rimba afrika” dalam puisi di atas adalah sifat di dalam diri seorang manusia yang terus mencari sesuatu yang tidak tahu apa yang ia cari. Sifat yang pada dasarnya rohaniah tersebut berubah menjadi begitu liar dan menguasai seluruh jiwa dan raga manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Hal tersebut terjadi karena “kucing” yang tak sanggup lagi menahan laparnya. Dalam arti sesungguhnya, kerinduan manusia kepada Tuhan tersebut sudah sangat mendalam.

Jesus dalam agama Kristen disebut dengan Yesus. Bagi orang Kristen, Yesus adalah Juru Selamat. Dalam Yohanes 6:35, Yesus berkata, “Akulah Roti Hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Dalam kalimat tersebut terdapat kata”roti” yang merupakan sebuah pembanding. Yesus menawarkan “roti Kehidupan” bagi orang - orang yang lapar dan haus akan kebenaran hidup. Sama halnya seperti “kucing’ kelaparan tersebut. Namun, “aku” meminta agar “kucing” tersebut jangan diberi roti.

Daging dan roti merupakan makanan kesukaan kucing. Namun, “kucing” yang digambarkan dalam puisi tersebut tidak mau daging dan roti. Itulah yang

membuktikan bahwa “kucing” pada puisi tersebut bukanlah kucing yang sebenarnya melainkan sebuah pembanding.

Dari beberapa pembanding di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya arti dari bait puisi pertama tersebut adalah hati manusia yang merindukan Tuhan. Ketika manusia merindukan Tuhan, ia pasti mendengarkan atau membaca Firman Tuhan. Ia akan mendengarkan dari pengemuka agama atau bisa pula ia membaca kitab suci. Namun, ketika disajikan Firman-Firman Tuhan, hati yang rindu kepada Tuhan itu tidak berubah menjadi teduh atau tidak terobati. Ternyata sajian Firman-Firman itu tidak sesuai dengan sesuatu yang dirindukan itu. Artinya, tuhan yang dirindukan itu bukanlah Tuhan Yang Hakiki. Seandainya Tuhan yang dirindukan itu adalah Hakiki, pasti kerinduan yang sangat mendalam itu terobati. Tuhan Yang Hakiki diceritakan dan di dalam kitab suci. Semua orang yang percaya kepada Tuhan, apa pun agamanya, apabila membaca kitab suci atau mendengar Firman Tuhan yang disampaikan oleh pengemuka agama akan teduh hatinya karena secara spiritual boleh dikatakan dia bertemu dengan Tuhan. Dengan demikian, kerinduan itu pun terobati. Namun, dalam hal ini berbeda. Kerinduan yang sangat mendalam itu tidak terobati melalui pembacaan kitab suci ataupun pendengaran Firman Tuhan melalui pengemuka agama. Berarti ada sesuatu yang dianggap “tuhan” yang dirindukan, tetapi bukan Tuhan. Hal tersebut dapat dilihat dari “kucing” yang “lapar” tidak mau diberi “roti” dan “daging”. Artinya, seseorang yang mencari Tuhan “disajikan” Firman Tuhan, tetapi tidak mau mendengar dan mempercayainya.

ngiau! dia meraung dia mengerang hei berapa tuhan yang kalian punya beri aku satu sekedar pemuas kucingku hari ini ngiau huss puss diamlah aku pasang perangkap di afrika aku pasang perang kap di amazon aku pasang perangkap di riau aku pasang perangkap di kota kota siapa tahu nanti ada satu tuhan yang kena lumayan kita bisa berbagi sekerat un tuk kau sekerat untuk aku ngiau huss puss diamlah

Kata “tuhan” juga merupakan suatu pembanding, bukanlah sesuatu Yang Esa, Yang Dipuja, ataupun Yang di-Tuhankan. Sesuai EYD, Tuhan Yang Esa, Yang Dipuja, ataupun Yang di-Tuhankan huruf pertamanya harus dituliskan dengan huruf kapital. Karena tidak dituliskan dengan huruf kapital, kata “tuhan” dapat diartikan sebagai pendapat, pikiran, atau pandangan orang lain yang sesuai dengan pemahaman yang dianut selama ini. Pendapat atau pandangan itu mengacu kepada sesuatu yang sangat besar, sangat berkuasa, dan mengacu kepada kebenaran hidup. Dengan kata lain, sesuatu yang dianggap “tuhan”, tetapi bukan Tuhan. Dalam hal ini, manusia yang menciptakan “tuhan”-nya melaui penafsiran, pandangan, dan pemikiran yang sesuai dengan logika manusia. Sesuatu yang dianggap “tuhan” ini sangat diminati manusia karena mudah dimengerti, masuk akal, dan dapat memuaskan sifat batiniah manusia yang terus-menerus mencari.

Bahkan, “tuhan” ini sesekali dapat dipakai sebagai alat untuk membenarkan diri setelah melakukan kesalahan-kesalahan. Sifat manusia yang resah dan terus berusaha mencari keselamatan dapat berujung kepada sesuatu yang dianggap “tuhan”. Hal tersebut terjadi karena “tuhan” ini praktis dan dapat dijadikan tameng. Manusia yang melakukan kesalahan dan merugikan orang lain dapat berlindung dari hukuman dan amarah manusia dengan mengatasnamakan “tuhan”. Manusia juga bisa mendapatkan apa yang dia mau dengan mengatasnamakan “tuhan” ini. Karena hal-hal tersebutlah manusia lebih mencintai “tuhan’ ini daripada Tuhan Yang Hakiki. Tuhan Yang Hakiki tidak dapat dijadikan tameng, diatasnamakan dalam keinginan-keinganan duniawai, dan tidak dapat tawar-menawar atas segala kebenaran-Nya. Dia juga tidak logika, butuh iman untuk dapat mengerti keberadaan-Nya. Manusia cenderung sulit mengikuti-Nya karena godaan-godaan nafsu duniawi yang begitu besar di dalam dirinya. Ketika sudah mengikuti nafsu duniawinya, manusia merasa bersalah dan mencari sesuatu yang menghilangkan rasa bersalah tersebut. Dalam hal ini, “tuhan” itu dibutuhkan untuk membenarkan kesalahan-kesalahan tersebut. Manusia akan mengatasnamakan “tuhan” untuk berlindung dari kesalahannya. Manusia tidak akan pernah dapat menemukan Tuhan Yang Hakiki seperti itu. Oleh karena itu, dia “meraung” dan “mengerang”. Dia ingin dipuaskan. Dia ingin jumpa “tuhan” yang bisa dibuat seperti itu.

siapa bikin socrates siapa bikin plato siapa bikin archimedes siapa bikin zeno siapa bikin sartre siapa bikin laotze

siapa bikin mpu siapa bikin guru kalau tak aku

yang membuat banyak bijak dan belum menjangkauMu?

Socrates, Plato, Arhimedes, Zeno, Sartre, Laotze, mpu, guru adalah deretan nama dan gelar yang merupakan pembanding dari orang-orang yang bijak dan cerdas dalam berpikir. Nama-nama tersebut merupakan filsuf atau pemikir-pemikir terkenal pada zamannya. Kumpulan kata tersebut mengartikan bahwa orang-orang yang bijak dan cerdas dalam berpikir pun belum dapat menjangkau Tuhan. Apalagi “tuhan” dalam versi yang mereka ciptakan masing-masing. Artinya, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat menyamai Tuhan karena Tuhan itu Maha dalam segala hal.

salam padamu gelisah hari tabik padamu bibit benci salam padamu benih seteru maka habil datanglah kabil maka kabil datanglah habil maka habil bias kabil maka kabil bias habil maka puah pada kalian maka puah

Bait di atas merupakan metafora lanjutan dari bait sebelumnya. Karena tidak ada manusia yang menyamai dan sebijaksana Tuhan, terjadilah kebencian, perseteruan, bahkan peperangan di antara sesama manusia. “Kabil” dan “Habil” adalah anak dari Adam dan Hawa yang menjadi pembanding saudara kakak beradik. Dalam Alkitab, Kabil disebut sebagai Kain, sedangkan Habil disebut sebagai Habel. Kisah Kain dan Habel tertulis dalam kitab Kejadian 4 : 1 – 16. Kain membunuh adiknya, Habel, karena rasa iri hati. Persembahan Kain yang berupa hasil ladangnya tidak berkenan di hadapan Tuhan, sedangkan persembahan Habel yang berupa lemak-lemak dari anak sulung kambing dombanya berkenan di hadapan Tuhan. Karena hal itu, hati Kain menjadi panas. Secara tiba-tiba, dia memukul Habel di sebuah padang lalu membunuhnya. Kisah tersebut menjadi pembanding yang mengartikan bahwa rasa iri hati, kebencian, perseteruan, dan peperangan pun akan terjadi pada manusia yang masih sedarah, seibu, dan seayah.

huh

berapa banyak tawananku!

sinekad siyakin sikeraskepala simaunya saja ngiau

aku letakkan seribu kakiku pada perut mereka kurobek tubuh kukelantang badan

kucabut gigi

kuku

kuiris tubuh kuperas badan kubelah benak kubuka rabu mereka

siapa tahu ada tuhan sembunyi di sana kukirim mereka ke tiang gantungan hei martir sinekad sikeraskepala tawanan berapa tuhan yang kalian punya

pelokek!

kalian menyimpan tuhan untuk sendiri sampai kalian bangkai

dan aku hanya melihat jejakNya pergi di ujung nafas kalian

entah ke mana

harimau mati tak meninggalkan kenyang manusia mati tuhan hidup entah di mana

Bait di atas merupakan proses pencarian “tuhan” yang dianalogikan dengan konteks peperangan. Tawanan dijadikan sumber informasi untuk mencari tahu segala sesuatu tentang musuh. Dalam berbagai cerita peperangan , bahkan dalam film sekalipun, tawanan itu akan disiksa agar mau menjawab segala pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Demikian pula dalam konteks ini. “Tawanan” pada bait di atas dijadikan sumber informasi untuk mencari tahu segala sesuatu tentang “tuhan”. Seolah-olah “tuhan” itu berada di suatu tempat yang menjadi tempat aman bagi persembunyiannya. Proses penyiksaan tawanan dalam pencarian “tuhan”

pada perut mereka dan kukirim mereka ke tiang gantungan menjadi pembanding bahwa ternyata proses pencarian “tuhan” bisa menyakiti orang lain, bahkan membunuh orang lain. Hal ini didasari karena sebenarnya yang dicari manusia itu bukanlah Tuhan. Oleh karena itu, pencarian tersebut salah arah bahkan hingga terjadilah pembunuhan. Tuhan tidak dapat ditemukan dari peristiwa pembunuhan. Tuhan tidak hadir dalam kejahatan.

Kalian menyimpan tuhan untuk diri sendiri sampai kalian bangkai adalah kiasan bahwa “tuhan” yang dimiliki “martir”, “sinekad”, “sikeraskepala, dan “tawanan” berbeda-beda. Hal ini merupakan lanjutan bahwa menurut “aku” “tuhan” itu adalah subjektif sehingga tidak esa seperti Tuhan Yang Hakiki. Hal yang demikian menjadikan “tuhan-tuhan” itu hanya ada dalam pikiran mereka sendiri sampai mereka mati. Tokoh “aku” melihat kuasa Tuhan (bukan wujud Tuhan) dalam kematian mereka, sedangkan tempat “persembunyian” “tuhan” yang dicari-cari itu entah di mana.

apa yang ngalir? darah. apa yang me kar? mawar. apa yang julur? harap. apa yang rasa? sesal. dengan seribu sesal kucari Kau dengan segala asal kucari Kau dengan seribu akal kucari Kau de ngan seribu dajal kucari Kau

da lidah menggapai tanah pada bahu sa kai pada pita computer pada tank retak pada meriam luka pada luka beribu ba talyon pada luka lekuk bungkalan geli mang goyang pada koyak beribu perawan pada patah bujang

Bait puisi di atas juga masih merupakan lanjutan gambaran pencarian “tuhan” dari bait sebelumnya. Kebencian, perseteruan, saling menyakiti, dan peperangan pun telah terjadi. Jika sudah demikian, bait di ataslah yang akan terjadi. Darah mengalir, harapan sirna, dan tinggallah penyesalan. Jika diamati, terjadi kesalahan fatal oleh “ Aku” dalam bait di atas. Kesalahan itu adalah proses pencarian Tuhan dengan perbekalan yang salah. Dengan seribu sesal kucari Kau/ dengan segala asal kucari Kau/ dengan seribu akal kucari Kau/ dengan seribu dajal kucari Kau// menunjukkan kesalahan-kesalahan tersebut. Tuhan tidak dicari dengan hal-hal itu, tetapi dengan pengharapan, yaitu iman. Tuhan itu spiritual maka untuk mencarinya bukan dengan hal-hal yang logika, melainkan iman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Di sinilah iman itu berkuasa. Menjadikan sesuatu yang tidak dilihat menjadi bukti. Mengharapkan sesuatu yang kita pun tidak tahu pasti. Kalimat tersebut secara nalar sangat sulit dipahami. Namun, jika tidak dengan demikian, Tuhan tidak akan ditemukan dan dimengerti keberadaan-Nya.

Karena manusia mencari Tuhan dengan bekal dan cara yang salah, muncullah kesimpulan “aku”, yaitu “tuhan” dapat direnungkan setelah melakukan berbagai kejahatan dan “tuhan” itu hadir di dalam penyesalan. Untuk menemukan “tuhan”, kita harus melakukan berbagai kejahatan dan kesalahan terlebih dahulu supaya kelak manusia menyesal. Setelah menyesal, muncullah “tuhan”. Kemunculan “tuhan” tersebut ditemukan mulai baris kelima, yaitu melalui jejak -jejaknya.

aku telah nemukan jejak aku telah mencapai jalan tapi belum sampai tuhan

berapa banyak abad lewat berapa banyak arloji pergi berapa banyak isyarat dapat berapa banyak jejak menapak agar sampai padaMu?

Tokoh “aku” merasa telah menemukan jejak dan jalan menuju “tuhan”. “Aku” membuat kesimpulan sendiri tentang “tuhan” itu. Sementara waktu terus berputar. Berapa banyak abad lewat// berapa banyak arloji pergi// berapa banyak isyarat dapat// berapa banyak jejak menapak menunjukkan bahwa pencarian itu sudah begitu lama dan membuat kebimbangan pada tokoh “aku”. Banyak peristiwa

yang menjadi tanda telah terjadi. Berabad-abad lamanya “aku” mencari. Namun, “aku” belum juga menemukan Tuhan.

jejak tak menuju ke mana jejak tak sampai ke sana jejak yang dari diri bertanya sendiri ngiau?

Ternyata, kesimpulan dan “jejak” yang “aku” temukan tidak menuju kepada Tuhan. Justru “aku” menjadi ragu kembali bertanya pada dirinya sendiri apakah benar yang disimpulkannya selama ini. Jejak tak sampai ke sana// jejak yang dari diri// bertanya sendiri// menunjukkan keraguan tersebut. Karena jejak tidak menuju Tuhan, sementara proses pencarian sudah begitu lama, “aku” menjadi kesal dan berintrospeksi diri. Hal tersebut dapat dilihat dari ngiau? Kekesalannya mengarah pada diri sendiri karena kesimpulan itu pun datangnya dari dirinya sendiri. Jika dikaitkan dengan interpretasi awal bahwa “ngiau” adalah tirun bunyi kucing yang sedang marah, berarti kucing itu sedang marah pada tokoh “aku”. Kekesalan itu sudah berubah menjadi kemarahan.

kucing meraung dalam darah meronta dalam aorta menderam dalam tiap zarah marwah

dalam tiap kata diriku

hai kau dengar kucing memanggilMu? …

Bait di atas menggambarkan keinginan kuat di dalam diri “aku” untuk mencari Tuhan. Karena tidak menemukan Tuhan, keinginan yang kuat itu dianalogikan kembali melalui “kucing” yang meraung, meronta, dan menderam. Kata-kata tersebut menyiratkan emosi yang berupa kekesalan, bahkan kemarahan, Namun, ada rasa sakit yang terpendam. Oleh karena itu pilihan katanya pun jatuh kepada “meraung”, “meronta”, dan “menderam”. “Aku” kembali mencari Tuhan dengan kekesalan, “nafsu”, dan rasa sakit. Namun, sayangnya Tuhan tidak akan ditemukan dengan bekal-bekal yang demikian.

aku lepaskan segala bahasa agar kucingku bisa memanggilMu aku biarkan penyair dengan kata-kata

tapi banyak yang meletakkan bertonton gula purapura bergerobak kerak filsafat

hingga kata tercekik karenanya bagaimana penyair bisa sampai tuhan kalau kata tak sampai?

kambing umpan mati tercekik sedang rimau tak makan bangkai

Pada baris pertama pada bait puisi di atas terdapat kata “lepaskan” yang mengartikan selama ini ada ikatan yang membelenggu “kucing” sehingga “kucing” tidak dapat memanggil Tuhan. “Aku” melepaskan ikatan tersebut supaya “kucing” bebas. “Aku” juga membiarkan “penyair” bebas dengan “kata-katanya”. Penyair adalah pembanding dari orang-orang yang bijaksana, berilmu, cendekiawan, termasuk pengemuka agama, sedangkan kata-kata adalah pembanding dari pengetahuan, pendapat, pikiran, pandangan, pemahaman, dan lain-lain yang datang dari diri mereka masing-masing. Namun, ternyata “penyair” itu banyak yang berpura-pura dan bersifat manis sehingga “kata-kata” yang disampaikan itu tidak menjadi jalan yang benar menuju kepada Tuhan. “Kata-kata” itu terlahir dari kemunafikan yang jauh dari ke-Illahian Tuhan. Kambing umpan mati tercekik/ sedang rimau tak makan bangkai/ lewat tertawa terkehkehkehkehkehkehkehkehkehkeh mengartikan kesia-siaan belaka. “Kambing yang seharusnya menjadi buruan “rimau” mati tercekik sebelum dimangsa. Lucunya, “rimau” tak makan bangkai. Hal tersebut adalah analogi bahwa Tuhan tidak menerima manusia yang menyembahnya dengan cara yang salah, sebagaimana harimau tidak makan kambing yang mati karena tercekik. Harimau hanya makan kambing apabila kambing tersebut mati karena gigitan dan cakarnya sendiri. Tuhan juga demikian. Tuhan menerima manusia apabila manusia tersebut mendengarkan dan mengamalkan Firman-Nya serta hidup di dalam ajaran-ajaran-Nya. Jika tidak percaya sepenuhnya kepada-Nya, sekalipun manusia itu beragama,

husspuss diamlah

kasihani mereka

mereka sekedar penyair husspuss

maafkan aku

aku bukan penyair sekedar aku depan

depan yang memburu membebaskan kata memanggilMu …

“Aku” menjelaskan keberadaannya pada bait puisi di atas melalui kalimat Aku depan/ depan yang memburu/ membebaskan kata/ memanggilMu. “aku” menganggap bahwa selama ini orang-orang yang mencari Tuhan terjebak dalam pemikiran dan pemahaman seseorang atau sekelompok orang. “Aku” ingin menjadi orang yang terdepan melepaskan ikatan itu supaya orang-orang yang ingin mencari Tuhan itu bebas, yaitu berdasarkan apa yang ia yakini, apa yang ia imani. Bukan berdasarkan hal-hal di luar itu. Bukan karena orang tua dan keluarganya menganut suatu keyakinan maka secara otomatis anak dan keturunannya pun akan menganut keyakinan yang sama.

susu haru segala perempuan aku telah ngisap kalian

perigi langit sumur seribu perahu aku telah meregukmu

malam seribu bulan aku telah menidurimu tiang segala lelaki

aku telah sampai puncakmu aku telah berjuta waktu mencari menungguMu

Bait puisi di atas menggambarkan betapa banyaknya hal yang telah “aku” lakukan untuk mencari Tuhan. Dalam melakukan banyak hal itu, “aku” juga telah melewati waktu yang sangat panjang. Waktu yang sangat panjang itu dituliskan dalam bait berikut:

lebih tua dari niniveh lebih tua dari sphinx lebih tua dari maya lebih tua dari jawa lebih tua dari babilon

aku telah hidup sebelum musa ratusan abad ngalir dalam nadi mengerang meraung menderu

mendesah darah meronta dalam aortaku yang ada kini yang ada nanti yang ada kapan

maka akulah hidup

dan Kau telah menapakkan berjuta jejakMu dalam hidupku

“Aku” menggambarkan waktu yang sangat panjang dalam pencarian Tuhan. Bahkan katanya sebelum Musa yang lahir sekitar 1500 tahun SM, dia sudah ada. Penantian dan pencariannya ratusan abad, hingga akhir zaman “aku” masih terus mencari. Pada perjalanan yang sangat panjang itu, Tuhan menapakkan jejak-Nya dalam hidup si “aku”. Bahkan, kesalahan-kesalahan dalam mencari Tuhan itu bisa menjadi bagian dari pekerjaan Tuhan dalam hidupnya jika dia bisa mengambil hikmah dari segala peristiwa.

jejak tak menggapai tuju jejak tak mewariskan sampai luka tak meninggalkan badan resah tak menjangkau pegang siapa Kau?

Bait puisi di atas mengiaskan perjalanan pencarian Tuhan yang ratusan abad itu tidak berujung. Sampai sekarang “aku” belum juga menemukan Tuhan. Perasaan resah dan “nafsu” mencari Tuhan itu belum terobati, “aku” masih terus

Dokumen terkait