BAB II TINJAUAN LITERATUR
2.6 Pengguna Perpustakaan
Pengguna perpustakaan merupakan sasaran utama bagi semua kegiatan utama perpustakaan, bahkan perpustakaan yang baik senantiasa berorientasi kepada kepentingan dan kepuasan pengguna. Pengguna berarti seseorang yang berhubungan dengan perpustakaan dalam kaitannya dengan kebutuhan informasi. Jadi yang dimaksud dengan pengguna pada hal ini adalah pengguna informasi yang berkaitan dengan pemanfaatan koleksi yang tersedia di perpustakaan. Pengguna perpustakaan terdiri dari perorangan, kelompok, dan masing-masing memiliki kebutuhan informasi yang sama atau juga berbeda. Hal ini banyak dipengaruhi oleh latar belakang pengguna itu sendiri. Menurut Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (2004: 95) pengguna perpustakaan perguruan tinggi adalah:
1. Mahasiswa baru dan pengguna baru
2. Mahasiswa program diploma dan program sarjana 3. Mahasiswa pascasarjana: program magister dan doktor 4. Dosen dan peneliti.
Sehubungan dengan hal di atas Yusup (2001: 216) menyatakan bahwa pengguna perpustakaan sebagai berikut:
Pengguna potensial Mahasiswa persiapan Mahasiswa senior Mahasiswa peneliti Staf akademik Masyarakat umum Perpustakaan lain.
Sedangkan kategori pengguna informasi ilmiah menurut Sulistyo-Basuki (2004: 399- 400) terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Ilmuwan (peneliti), yang bergerak dalam penelitian dasar dan eksperimental dalam ilmu - ilmu dasar.
2. Insinyur (engineers, rekayasawan, spesialis praktis), bergerak dalam bidang disain eksperimental, proyeksi dan aktivitas operasional dalam berbagai bidang teknologi dan industri.
3. Manajer dalam ruang lingkup sains, teknologi dan ekonomi nasional. Selain itu, Saepudin (2009: 8), menyatakan bahwa:
Pustakawan harus melihat dari kelompok pembaca yang dilayani dan yang memanfaatkan sumber informasi tersebut. Pustakawan sebagai
selektor harus memiliki kriteria tertentu terhadap bahan koleksi yang akan mereka layangkan kepada masyarakat pengguna informasi.
Kelompok pembaca dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain : 1. Usia Kelompok Pembaca
Selektor harus memiliki pengetahuan dalam menentukan bahan pustaka mana yang boleh dan tidak boleh dilayangkan kepada pembaca dengan memprediksi kesesuaian bahan pustaka tersebut dengan usia pembaca.
2. Pendidikan Kelompok Pembaca
Seorang selektor harus memprediksi kesesuaian suatu bahan pustaka dengan pendidikan kelompok pembaca, karena beberapa kalangan pembaca tentu memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda - beda. Tentu sangat tidak mungkin seseorang yang memilikki latar belakang pendidikan sosial disuguhi bahan pustaka yang berhubungan dengan bidang kedokteran.
3. Keterbatasan Fisik Kelompok Pembaca
Selektor harus mampu menyeleksi bahan - bahan pustaka yang dibutuhkan oleh kelompok pembaca yang memiliki keterbatasan fisik. Misalnya dengan menyediakan bahan - bahan pustaka bagi saudara - saudara kita yang Tuna Netra.
4. Gender Kelompok Pembaca
Seorang selektor harus mampu menyeleksi bahan - bahan pustaka dengan mellihat sudut pandang gender kelompok pembaca tersebut, agar tercapai penyampaian informasi yang tepat sasaran. (Saepudin 2009: 8)
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pengguna perpustakaan terdiri dari berbagai jenis kelompok yang masing-masing kelompok memiliki kebutuhan informasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya yang menuntut perpustakaan untuk dapat selektif dalam memenuhi kebutuhan informasi penggunanya.
2.6.1 Dosen/Staf Pengajar
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen, pasal 1 (satu) (2009: 2) menjelaskan yang dimaksud dengan dosen adalah:
pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Perpustakaan yang baik dapat dijadikan sebagai pusat kegiatan mahasiswa dan dosen dalam proses belajar mengajar. Kelas hanyalah tempat bertatap muka antara mahasiswa dan dosen (teaching process), selanjutnya yang terjadi adalah learning process di perpustakaan. Dosen mencari perkembangan ilmu di perpustakaan, mahasiswa juga belajar ilmu di perpustakaaan. Agar terjadi learning process maka perpustakaan harus kuat terutama dari segi koleksi, fasilitas untuk akses ke informasi global serta sumber daya masyarakat.
Menurut Noerhayati (1987: 72) tugas dosen adalah
hanya memberikan kuliah-kuliah secara garis besarnya saja, sedangkan untuk detailnya mahasiswa diminta mengembangkan melalui buku-buku, termasuk buku-buku yang ada diperpustakaan, kemudian mata kuliah itu diseminarkan atau didiskusikan.
Sistem seperti ini menjadikan mahasiswa harus memanfaatkan perpustakaan untuk mencari dan menelaah buku-buku yang ada di perpustakaan dalam proses balajarnya. Selain itu, dalam menyiapkan tugas yang diberikan oleh dosen berupa tugas pengembangan, mahasiswa juga tidak terlepas dari pemanfaatan perpustakaan. Informasi yang terkandung dalam bahan pustaka yang dimiliki di perpustakaan yang menyediakan bahan untuk mengembangkan pikiran dan memperluas wawasan mahasiswa yang dapat mereka tuangkan dalam menyiapkan tugas tersebut.
Dosen/Staf pengajar merupakan sumberdaya utama untuk melayani mahasiswa. Banyak perpustakaan lebih berfokus pada dosen. Kenyataan ini tidak mengherankan karena dosen menekankan pada koleksi dan riset. Dalam hal perubahan kebutuhan dan penggunaan informasi, dosen sama seperti mahasiswa. Dosen generasi baru memiliki harapan yang berbeda, sedangkan dosen lama bertahan pada keadaan tradisional. Perpustakaan tradisional yang akrab dengan mereka selama ini dirasakan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dosen muda lebih mudah beradaptasi dengan jurnal elektronik (yang biaya langganannya lebih murah) sedangkan dosen lama lebih menyukai bentuk cetak. Jika dosen kurang memanfaatkan sumberdaya yang disediakan, sudah dapat dipastikan pemanfaatannya oleh mahasiswa juga akan rendah. Oleh karena itu, dialog dan fleksibilitas dalam menata berbagai kebutuhan masyarakat kampus menjadi suatu
keharusan bagi perpustakaan. Melempangkan birokrasi untuk dosen dan staf yang bekerja keras harus diupayakan. Perpustakaan perlu memberikan layanan cepat dalam pengiriman (delivery) bahan pustaka kepada dosen dan mahasiswa pascasarjana. Akses e-journal yang dilanggan oleh perpustakaan harus dapat dilakukan dari ruang kerja dosen dan kantor jurusan.
2.6.2 Mahasiswa
Mahasiswa adalah donor potensial terbesar dalam sejarah perguruan tinggi. Semua pendanaan yang diperoleh didasarkan kepada jumlah dan kebutuhan mereka, bahkan di perguruan tinggi swasta mungkin seratus persen anggaran belanjanya berasal dari mahasiswa. Di beberapa perguruan tinggi negeri (PTN), seperti USU misalnya, seluruh anggaran belanja perpustakaan kecuali gaji pegawai negeri (separuh dari jumlah staf) dan gedung, diperoleh langsung dari kontribusi mahasiswa. Diketahui juga bahwa mahasiswa program pascasarjana, ekstensi, dan diploma di PTN menanggung seluruh biaya operasional pendidikan mereka dan bahkan memberikan subsidi silang pada program lain. Oleh karena itu sudah sewajarnya mahasiswa lebih kritis terhadap pelayanan yang mereka peroleh dari perpustakaannya.
Berfokus pada mahasiswa berarti melayani mahasiswa dengan respek dan bermartabat. Berfokus pada mahasiswa juga dapat berarti membangun ruang virtual yang efektif untuk memperluas ruang fisik perpustakaan tradisional. Perpustakaan digital yang berfokus pada mahasiswa, yang berisikan muatan yang mudah dinavigasi disertai pelayanan terhadap muatan tersebut menjadi sangat penting. Dalam merencanakan dan mendesain situs web harus menerapkan filosofi mahasiswa sebagai yang utama.
Perpustakaan sebagai suatu tempat juga sedang berubah secara dramatis. Perpustakaan menjadi suatu tempat yang ramai dan bahkan berisik. Perpustakaan dan lingkungannya dapat menjadi ruang terbuka untuk aktivitas sosial dan budaya yang bersifat poisitif. Lingkungan perpustakaan dapat dilengkapi dengan kafe, ruang diskusi, ruang konsultasi, akses internet, bangku taman, dan sebagainya. Perpustakaan tidak lagi seperti museum yang senyap atau konteiner buku. Perpustakaan menjadi tempat bagi mahasiswa untuk berinteraksi sesama mereka,
dan dengan dosen dan pustakawan. Perubahan lingkungan seperti itu terbukti mampu meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sepuluh hingga tiga puluh persen setahun yang dapat diidentifikasi melalui sirkulasi bahan pustaka. Lingkungan yang disenangi dapat mendorong mahasiswa untuk menggunakan perpustakaan.