BAB II TINJAUAN LITERATUR
2.3 Sumberdaya Perpustakaan
Perpustakaan bukanlah sebuah gedung, ruang ataupun tempat, melainkan merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang menjalankan sistem perpustakaan sejak suatu koleksi baru diperoleh sampai koleksi tersebut dapat diakses dengan mudah, cepat dan tepat oleh pengunjung perpustakaan. Oleh karena itu komponen sumber daya perpustakaan harus diatur (managed) sehingga dapat menciptakan kualitas layanan.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi bagi kegiatan penelitian, penyuluhan, dan pengambilan kebijakan, sumber daya perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengelola perpustakaan/pustakawan agar dapat lebih mendayagunakan informasi yang tersedia, baik informasi primer maupun sekunder secara spesifik bertujuan membina dan mengembangkan jasa perpustakaan/informasi baik manual maupun elektronik, dan meningkatkan daya guna sumber daya informasi khususnya informasi mutakhir yang disebarkan melalui jasa informasi terbaru dan jasa informasi terseleksi.
2.3.1 Koleksi Perpustakaan
Salah satu komponen perpustakaan adalah koleksi. Tanpa adanya koleksi yang baik dan memadai maka perpustakaan tidak akan memberikan layanan yang baik kepada masyarakat pemakainya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah, dan disimpan untuk disebarluaskan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan informasi mereka.
Menurut Yulia (2010: 1.5) adapun tujuan penyediaan koleksi perpustakaan adalah:
untuk menunjang pelaksanaan program lembaga induknya. Seperti halnya untuk perpustakaan perguruan tinggi maka tujuan penyediaan koleksi perpustakaan adalah untuk menunjang pelaksanaan program pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Oleh karena itu, koleksi perpustakaan perguruan tinggi tidak hanya disajikan bagi para mahasiswa, pengajar dan peneliti, tetapi juga bagi masyarakat yang memerlukannya. Demikian halnya untuk perpustakaan khusus, seperti perpustakaan lembaga penelitian maka koleksinya ditujukan untuk kegiatan penelitian dan para penelitinya. Demikian juga untuk perpustakaan umum, untuk siapa koleksi perpustakaannya adalah untuk masyarakat di skeitarnya.
Media informasi adalah wadah atau tempat informasi tersimpan/terbentuk. Berbagai bentuk dan macam media yang dapat dimiliki oleh perpustakaan, baik media cetak maupun elektronik. Media cetak adalah media penyimpan informasi dalam bentuk cetakan, yaitu buku, jurnal, majalah, surat kabar, peta, gambar dan sejenisnya, sedangkan media elektronik adalah media yang berformat rekaman elektronik seperti pita kaset, pita video, microfilm dan sejenisnya. Media berformat digital dapat merupakan format digital dari rekaman elektronik maupun kumpulan informasi yang tersimpan dalam jaringan digital seperti artikel online, e-book, e-journal, dan media elektronik lainnya (server terhubung melalui LAN, WAN atau situs web).
Berbagai jenis dan bentuk media informasi telah dihasilkan, baik berupa jurnal maupun buku/monograf. Salah satu fungsi perpustakaan adalah menghimpun media informasi/pustaka tersebut melalui berbagai cara dengan
subjek atau disiplin ilmu yang tepat atau berkaitan dengan kebutuhan pengguna. Jenis koleksi pustaka yang memuat informasi mutakhir seperti majalah/jurnal ilmiah dan semi-ilmiah atau laporan hasil penelitian dan pengkajian sangat dibutuhkan dalam kegiatan penelitian, pengkajian, dan pembuatan keputusan. Jenis bahan pustaka yang banyak dibutuhkan adalah prosiding, dan buku rujukan, terutama yang bersifat tematis dalam suatu bidang ilmu seperti ensiklopedia mikrobiologi, kamus teknologi, buku statistik, buku pegangan, direktori, majalah abstrak/indeks, juga bahan nonbuku seperti CD-ROM, slide, film, dan video.
Koleksi perpustakaan merupakan salah satu faktor utama dalam mendirikan suatu perpustakaan. Dengan adanya paradigma baru dapat disimpulkan bahwa, salah satu kriteria dalam penilaian layanan perpustakaan melalui kualitas koleksinya.
Menurut Kohar (2003: 6), “Koleksi perpustakaan adalah yang mencakup berbagai format bahan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan alternatif para pemakai perpustakaan terhadap media rekam informasi”. Sedangkan Menurut Yulia (1993: 3) menyatakan bahwa ada empat jenis koleksi perpustakaan yaitu :
1. Karya cetak 2. Karya non cetak
3. Karya dalam bentuk mikro 4. Karya dalam bentuk elektronik 1. Karya cetak
Karya cetak adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk cetak, seperti :
a. Buku
Buku adalah bahan pustaka yang merupakan suatu kesatuan utuh dan yang paling utama terdapat dalam koleksi perpustakaan. Berdasarkan standar dari Unesco tebal buku paling sedikit 49 halaman tidak termasuk kulit maupun jaket buku. Diantaranya buku fiksi, buku teks, dan buku rujukan. b. Terbitan berseri
Bahan pustaka yang direncanakan untuk diterbitkan terus dengan jangka waktu terbit tertentu. Yang termasuk dalam bahan pustaka ini adalah harian (surat kabar), majalah (mingguan bulanan dan lainnya), laporan
yang terbit dalam jangka waktu tertentu, seperti laporan tahunan, tri wulanan, dan sebagainya.
2. Karya noncetak
Karya noncetak adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan tidak dalam bentuk cetak seperti buku atau majalah, melainkan dalam bentuk lain seperti rekaman suara, rekaman video, rekaman gambar dan sebagainya. Istilah lain yang dipakai untuk bahan pustaka ini adalah bahan non buku, ataupun bahan pandang dengar. Yang termasuk dalam jenis bahan pustaka ini adalah:
a. Rekaman suara
Yaitu bahan pustaka dalam bentuk pita kaset dan piringan hitam. Sebagai contoh untuk koleksi perpustakaan adalah buku pelajaran bahasa inggris yang dikombinasikan dengan pita kaset.
b. Gambar hidup dan rekaman video
Yang termasuk dalam bentuk ini adalah film dan kaset video. Kegunaannya selain bersifat rekreasi juga dipakai untuk pendidikan. Misalnya untuk pendidikan pemakai, dalam hal ini bagaimana cara menggunakan perpustakaan.
c. Bahan Grafika
Ada dua tipe bahan grafika yaitu bahan pustaka yang dapat dilihat langsung (misalnya lukisan, bagan, foto, gambar, teknik dan sebagainya) dan yang harus dilihat dengan bantuan alat (misalnya slide, transparansi, dan filmstrip).
d. Bahan Kartografi
Yang termasuk kedalam jenis ini adalah peta, atlas, bola dunia, foto udara, dan sebagainya.
3. Karya Dalam Bentuk Mikro
Bentuk mikro adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan semua bahan pustaka yang menggunakan media film dan tidak dapat dibaca dengan mata biasa melainkan harus memakai alat yang dinamakan microreader. Bahan pustaka ini digolongkan tersendiri, tidak dimasukkan bahan noncetak. Hal ini disebabkan informasi yang tercakup didalamnya meliputi bahan tercetak
seperti majalah, surat kabar, dan sebagainya. Ada tiga macam bentuk mikro yang sering menjadi koleksi perpustakaan yaitu:
a. Mikrofilm, bentuk mikro dalam gulungan film. Ada beberapa ukuran film yaitu 16 mm, dan 35 mm.
b. Mikrofis, bentuk mikro dalam lembaran film dengan ukuran 105 mm x 148 mm (standar) dan 75 mm x 125 mm.
c. Microopaque, bentuk mikro dimana informasinya dicetak kedalam kertas yang mengkilat tidak tembus cahaya. Ukuran sebesar mikrofis. 4. Karya Dalam Bentuk Elektronik
Dengan adanya teknologi informasi, maka infornasi dapat dituangkan ke dalam media elektronik seperti pita magnetis dan cakram atau disc. Untuk membacanya diperlukan perangkat keras seperti computer, CD-ROM player, dan sebagainya
2.3.2 Fasilitas Perpustakaan
Perpustakaan merupakan suatu kegiatan yang di dalam pelaksanaannya memerlukan ruangan khusus. Keadaan ruangan perpustakaan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan berhasil tidaknya penyelenggaraan perpustakaan. Artinya bagaimana pembagian ruangan perpustakaan, perbandingan luas satu dengan lainnya, letaknya, kondisinya, dan sebagainya. Penentuan luas ruangan perpustakaan harus memperhatikan proyeksi jumlah mahasiswa, jenis dan variasi program studi yang diasuh perguruan tinggi, dan tingkatan atau jenjang pendidikan. Selain itu dalam pembangunan perpustakaan harus ada pertimbangan teknis seperti penerangan, pengaturan ventilasi dan kenyamanan, komunikasi, keamanan, dan lokasi perpustakaan. Dalam membangun perpustakaan sebaiknya lokasinya diatur sebagai berikut:
1. Perpustakaan terletak dalam arus lalu lintas manusia, tetapi tidak dijadikan lalu lintas manusia.
2. Perpustakaan mudah dicapai oleh pemakai, sehingga mereka tidak membuang waktu dengan sia-sia.
3. Perpustakaan terletak di suatu tempat yang tanahnya memungkinkan dilakukannya perluasan pada masa yang akan datang, sesuai dengan perkembangan perpustakaan serat instansi penaungnya.
4. Perpustakaan mempunyai hubungan yang fungsional dengan gedung lainnya dalam keseluruhan kompleks.
Luas suatu perpustakaan perguruan tinggi ditentukan oleh tiga komponen yaitu komponen pemakai, komponen koleksi, dan komponen staf perpustakaan atau administrasi perpustakaan. Luas ruangan perpustakaan secara keseluruhan biasanya dihitung berdasarkan perbandingan antara populasi pengguna perpustakaan seperti mahasiswa, staf pengajar dan pengguna lain. Persyaratan luas minimal perpustakaan perguruan tinggi pernah ditetapkan dengan SK Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi nomor 126 tahun 1967 yang dikutip oleh Noerhayati (1987: 148-149) yaitu “1 meter persegi untuk setiap mahasiswa”. Akan tetapi mengingat dan kemampuan perguruan tinggi pada masa sekarang ini. Alternatif yang dikemukakan yaitu untuk populasi mahasiswa 1 sampai dengan 1000 luas ruangan adalah 0,5 m2 tiap mahasiswa, populasi 1001 sampai dengan 5000 luas ruangan adalah 0,75 m2 untuk setiap mahasiswa dan untuk populasi 5001 ke atas luas ruangan untuk tiap mahasiswa adalah 1 m2. Sedangkan persyaratan minimum ruang perpustakaan sesuai Peraturan Pemerintah dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0686/u/1991 yang dikutip oleh Noerhayati (1987:150) disebutkan bahwa
Untuk mendirikan perguruan tinggi paling sedikit harus disediakan ruangan perpustakaan seluas 1000 meter persegi untuk universitas dan 500 meter persegi untuk akademi. Alokasi penggunaan ruangan perpustakaan terbagi sebagai berikut:
1. 25 % untuk keperluan pengguna perpustakaan 2. 50 % untuk keperluan koleksi
3. 25 % untuk keperluan ruang petugas.
Keberhasilan layanan perpustakaan selain ditentukan oleh komponen- komponen seperti staf yang berkualitas baik, koleksi yang memadai, gedung yang representatif dan lain-lain, juga ditentukan oleh jumlah perabot dan peralatan yang memadai serta secara fungsional mendukung kegiatan perpustakaan. Perabot perpustakaan dalam pengertian ini adalah semua kelengkapan fisik berupa mebiler yang digunakan di perpustakaan dalam rangka menunjang kelancaran tugas-tugas
perpustakaan. Sedangkan peralatan perpustakaan adalah semua perangkat peralatan yang ada di perpustakaan untuk menunjang kelancaran tugas-tugas perpustakaan seperti alat tulis, mesin ketik, komputer dan lain sebagainya. Jenis- jenis perabot perpustakaan perguruan tinggi sesuai dengan jenis kegiatan layanan perpustakaan antara lain loker penitipan tas, meja sirkulasi, almari katalog, rak koleksi buku dan majalah, meja dan kursi baca, meja dan kursi untuk petugas, dan perlengkapan umum seperti pemadam kebakaran.