BAB 4. METODOLOGI PENELITIAN
4.7. Manajemen Penelitian
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mengakumulasi seluruh jumlah status pasien infeksi saluran kemih yang dirawat di poli kulit Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin periode Januari 2016 – Juli 2017.
4.7.2 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Data diolah melalui komputer dengan bantuan program Microsoft Excel 2013 untuk memperoleh hasil statistik deskriptif yang diharapkan.
4.7.3 Penyajian Data
Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk tabel-tabel distribusi disertai dengan penjelasan dalam bentuk narasi.
4.8 Etika Penelitian
Hal-hal yang terkait dengan etika dalam penelitian ini adalah:
1. Menyertakan surat ke Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin untuk permintaan data rekam medik dan permohonan izin penelitian.
2. Berusaha menjaga kerahasiaan identitas pasien yang terdapat pada rekam medik, sehingga diharapkan tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas penelitian yang dilakukan.
3. Diharapkan penelitian ini dapat memberi manfaat kepada semua pihak yang terkait sesuai dengan manfaat penelitian yang telak disebutkan sebelumnya.
BAB 5
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9 hingga 18 Oktober dengan mengambil data sekunder berupa rekam medik dari pasien infeksi saluran kemih (ISK), baik rawat jalan maupun rawat inap, periode Januari 2016 – Juli 2017. Data tersebut diambil di ruang penyimpanan rekam medik Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin. Pada penelitian ini, banyaknya total populasi yang diperoleh adalah 275 sampel, sedangkan yang masuk dalam kriteria inklusi dan eksklusi yaitu sebanyak 184 sampel.
Data yang telah diperoleh, kemudian diolah dan disusun untuk mengetahui distribusi jenis obat dan golongan antibiotik yang terbanyak digunakan untuk terapi pasien ISK di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin periode Januari 2016 – Juli 2017.
Data tersebut selengkapnya disajikan sebagai berikut.
5.1 Distribusi penggunaan jenis obat antibiotik untuk terapi pasien ISK Berdasarkan data sekunder yang diambil melalui rekam medik pasien, maka diperoleh hasil yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 5.1 Distribusi penggunaan jenis obat antibiotik untuk terapi ISK
Jenis Obat n %
Ciprofloxacin 91 49.46
Cotrimoxazole 9 4.89
Levofloxacin 33 17.94
Cefixime 32 17.39
Ceftriaxone 4 2.17
Azithromycin 2 1.08
Cefotaxime 2 1.08
Ampicillin 1 0.55
Gentamicin 1 0.55
Doxycycline 4 2.17
Cefadroxil 4 2.17
Amoxicillin 1 0.55
Total 184 100
Sumber : Rekam Medik
Data yang ditampilkan pada tabel 5.1 menunjukkan distribusi penggunaan jenis obat antibiotik untuk terapi pasien ISK di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin periode Januari 2016 – Juli 2017. Berdasarkan tabel 5.1, diperoleh data bahwa penggunaan jenis obat antibiotik terbanyak yaitu ciprofloxacin sebanyak 91 sampel (49.46%). Kemudian berturut-turut levofloxacin sebanyak 33 sampel (17.94%), cefixime sebanyak 32 sampel (17.39%), cotrimoxazole sebanyak 9 sampel (4.89%), ceftriaxione, doxycycline dan cefadroxil masing-masing sebanyak 4 sampel (2.17%), Azithromycin dan cefotaxime masing-masing sebanyak 2 sampel (1.08%), serta yang terendah adalah jenis obat antibiotik ampicillin, gentamicin, dan amoxicillin masing-masing sebanyak 1 sampel (0.55%).
5.2 Distribusi golongan antibiotik untuk terapi ISK
Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 5.1, maka tiap-tiap jenis obat antibiotik dapat dikelompokkan kedalam beberapa golongan berdasarkan struktur kimia antibiotik, yaitu : golongan kuinolon (ciprofloxacin dan levofloxacin), golongan sulfonamid & trimetoprim (cotrimoxazole), golongan sefalosporin (cefixime, ceftriaxone, cefotaxime, cefadroxil), golongan makrolida (azithromycin), golongan penisilin (ampicillin, amoxicillin), golongan aminoglikosida (gentamicin), golongan tetrasiklin (doxycycline).
Sehingga diperoleh hasil yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut : Tabel 5.2 Distribusi penggunaan golongan antibiotik untuk terapi ISK
Golongan antibiotik n %
Kuinolon 124 67.40
Sulfonamid & Trimetoprim 9 4.90
Sefalosporin 42 22.82
Makrolida 2 1.08
Penisilin 2 1.08
Aminoglikosida 1 0.55
Tetrasiklin 4 2.17
Total 184 100
Sumber : Rekam Medik
Data yang ditampilkan pada tabel 5.2 menunjukkan distribusi penggunaan golongan antibiotik untuk terapi pasien ISK di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin periode Januari 2016 – Juli 2017. Berdasarkan tabel 5.2, diperoleh data bahwa penggunaan golongan antibiotik terbanyak yaitu
golongan kuinolon sebanyak 124 sampel (67.40%). Kemudian berturut-turut golongan sefalosporin sebanyak 42 sampel (22.82%), golongan sulfonamid &
trimetoprim sebanyak 9 sampel (4.90%), golongan tetrasiklin sebanyak 4 sampel (2.17%), golongan makrolid dan penisilin masing-masing sebanyak 2 sampel (1.08%), serta yang terendah adalah golongan aminoglikosida sebanyak 1 sampel (0.55%).
BAB 6
PEMBAHASAN
Telah dilakukan penelitian mengenai karakteristik antibiotik untuk terapi pada pasien infeksi saluran kemih di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin periode Januari 2016-Juli 2017. Penelitian ini dilakukan di ruang penyimpanan rekam medik Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin, dan telah selesai pada tanggal 18 Oktober 2017.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi jenis obat dan golongan antibiotik yang terbanyak digunakan untuk terapi pasien ISK di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin periode Januari 2016 – Juli 2017.
Setelah semua data yang diperlukan telah diolah dan disajikan dalam bentuk hasil penelitian sesuai yang tertera pada bab sebelumnya, maka pada bab ini akan dibahas lebih dalam mengenai variabel yang telah diteliti.
6.1 Distribusi jenis obat antibiotik untuk terapi pasien ISK
Pada variabel penelitian ini, dapat dilihat pada tabel 5.1 mengenai hasil distribusi penggunaan jenis obat antibiotik untuk terapi pasien ISK. Diperoleh data bahwa penggunaan jenis obat antibiotik terbanyak yaitu ciprofloxacin sebanyak 91 sampel (49.46%) diikuti oleh levofloxacin sebanyak 33 sampel (17.94%). Hal ini sesuai dengan ketentuan “Terapi Antibiotik untuk Pengobatan Infeksi Saluran Kemih” oleh Blok dkk yang menentukan ciprofloxacin sebagai obat lini pertama pada pengobatan sistitis, pielonefritis, dan prostatitis, meskipun dengan dosis dan durasi pemberian yang berbeda-beda. Sedangkan ketentuan pada “Terapi Empirik untuk Pengobatan Sistitis
dan Prostatitis pada Pasien Dewasa” oleh Grabe dkk, menempatkan ciprofloxacin sebagai obat alternatif setelah cotrimoxazole sebagai lini pertama (Nofriaty, 2010) (Sari, 2012).
Berdasarkan Formularium Nasional 2016, ciprofloxacin dan levofloxacin tersedia pada fasilitas kesehatan tingkat 2 dan 3, sehingga mudah diperoleh di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin. Fomularium juga menentukan bahwa ciprofloxacin dan levofloxacin tidak boleh diberikan untuk pasien usia < 18 tahun dan ibu hamil, hal ini sesuai dengan data yang diperoleh, dimana umur minimal sampel yang pernah diberikan terapi ciprofloxacin atau levofloxacin yaitu 19 tahun (MENKES RI, 2015).
Dalam “Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria” yang disusun oleh Ikatan Ahli Urologi Indonesia pada Tahun 2015, pada uji sensitivitas antibiotik yang dilaksanakan di RSUD Dr. Soetomo, menyatakan bahwa ciprofloxacin tergolong kurang sensitif (sensitivitas 25.9 % terhadap semua bakteri) dan levofloxacin tergolong sensitif (sensitivitas 31.6
% terhadap semua bakteri) (Seputra, 2015).
Secara keseluruhan, data sekunder yang diperoleh sebagian besar berasal dari pasien ISK rawat jalan dan selesai dengan satu kali peresepan obat. Hal ini dapat membangun kredibilitas bahwa terapi menggunakan ciprofloxacin dan levofloxacin pada pasien ISK di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin masih tergolong efektif.
6.2 Distribusi golongan antibiotik untuk terapi pasien ISK
Berdasarkan tabel 5.2 pada bab hasil penelitian, diperoleh data bahwa penggunaan golongan antibiotik sebagai terapi ISK terbanyak adalah golongan kuinolon sebanyak 124 sampel (67.40%), diikuti oleh golongan sefalosporin sebanyak 42 sampel (22.82%) dan golongan sulfonamid & trimetoprim sebanyak 9 sampel (4.90%). Data ini sejalan dengan ketentuan “Terapi Empirik untuk Pengobatan Infeksi Saluran Kemih” yang disusun oleh Coyle dan Prince Tahun 2015, menyebutkan bahwa antibiotik golongan kuinolon dan trimetoprim-sulfometoksazol digunakan sebagai pilihan terapi pada sistitis akut tanpa komplikasi, pyelonefritis akut, ISK pada ibu hamil, dan prostatitis (Nofriaty, 2010).
Sedangkan efektivitas terapi menggunakan golongan antibiotik kuinolon dibandingkan dengan sefalosporin tertuang pada penelitian yang dilakukan oleh Aviv Triono dan Akhmad Edy Purwoko dalam “Efektifitas Antibiotik Golongan Sefalosporin dan Kuinolon terhadap Infeksi Saluran Kemih”.
Penelitian tersebut dilakukan pada 84 pasien ISK, kemudian sesuai dengan terapi, baik itu menggunakan golongan antibiotik kuinolon maupun sefalosporin, dihitung durasi dari mulai pengobatan hingga mencapai kesembuhan pada masing-masing sampel dan direratakan. Setelah diperoleh hasilnya, dapat disimpulkan bahwa golongan kuinolon memiliki waktu sembuh lebih cepat yaitu 3.95 hari, sedangkan golongan sefalosporin memiliki waktu sembuh lebih lama yaitu 4.57 hari (Triono, 2016).
Sehingga penggunaan golongan antibiotik kuinolon untuk terapi ISK pada pasien di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin, yang dalam tabel
distribusi menempati urutan tertinggi, merupakan hal yang wajar dan pilihan yang tepat.
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian karakteristik antibiotik untuk terapi pada pasien infeksi saluran kemih di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin periode Januari 2016 – Juli 2017, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan distribusi penggunaan jenis obat antibiotik, diperoleh hasil yang tertinggi yaitu ciprofloxacin dengan 91 sampel (49.46%) untuk terapi pasien infeksi saluran kemih di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin periode Januari 2016 – Juli 2017.
2. Berdasarkan distribusi penggunaan golongan antibiotik, diperoleh hasil yang tertinggi yaitu golongan kuinolon dengan 124 sampel (67.40%) untuk terapi pasien infeksi saluran kemih di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin periode Januari 2016 – Juli 2017.
7.2 Saran
1. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai antibiotik dan kaitannya dalam terapi infeksi saluran kemih. Seperti diketahui bersama, bahwa seiring dengan perkembangan zaman, sensitivitas dan resistensi antibiotik selalu berubah-ubah sesuai dengan pola pengobatan yang dilakukan, oleh karena itu penelitian secara berkala sangat menunjang data yang diperlukan.
2. Bagi masyarakat, agar lebih meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan untuk menggunakan antibiotik sebagai terapi secara rasional. Kemudian jika mengalami gejala penyakit ISK, tidak dianjurkan untuk swamedikasi, melainkan segera mengunjungi fasilitas kesehatan, agar lebih cepat sembuh dan tidak berkomplikasi.
3. Bagi tenaga kesehatan, agar selalu mengikuti perkembangan penelitian mengenai antibiotik, sehingga bisa menentukan pola terapi antibiotik secara tepat.
4. Bagi instansi kesehatan, khususnya bagian yang menangani rekam medik pasien, diharapkan agar pengisian rekam medik lebih lengkap dan lebih jelas, serta penyimpanan yang rapi dan teratur, sehingga mudah untuk diperoleh ketika data dibutuhkan.
5. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan lebih spesifik dalam menelit i variabel lainnya atau dilakukan pada tempat yang lain kemudian dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada penelitian ini.
Daftar Pustaka
Basuki B. Purnomo. 2003. Dasar-Dasar Urologi. Malang : Fakultas Kedokteran.
Universitas Brawijaya.
Carson C.C. 1982. Urinary Tract Infection. In: Resnict, M.L., (Ed.), Diagnosis of Genito Urinary Disease. 2nd ed. Thieme-Stratton Inc. New York.
Coyle, E. A., Prince, R. A. 2005. Urinary Tract Infection, in Dipiro J.T., et al.
Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. 6th edition. Stamford : Appleton & Lange.
Darmansyah, I. 2000. Pemakaian Antibiotik pada Anak, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UI. Hal. 59.
Douglas, A.E. 1995. The ecology of symbiotic microorganisms. Adv. Ecol.
Hadi, U. 2006. Resistensi Antibiotik, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Pusat Penerbitan departemen Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI.
Hvidberg, H., C. Struve, K.A. Krogfelt, N. Christensen, S.N. Rasmussen and N.
Frimodt-Moller. 2000. Development of a long-term ascending urinary tract infection mouse model for antibiotic treatment studies. Antimicrob. Agents Chemother.
Kee, J. L. dan Evelyn, R. H. 1996. Farmakologi : Pendekatan proses Keperawatan.
Cetakan I. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 305
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02 / Menkes / 523 / 2015 Tentang Formularium Nasional. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Kristin, E., Mustofa, Santoso, B., Suryawati, S. 1990. Pemilihan dan Pemakaian Antibiotik dalam Klinik, Yogyakarta, Yayasan Melati Nusantara.
Macfarlane, M.T. 2006. Urinary Tract Infections. In, Brown B, et all ed. 4th Urology. California: Lippincott Williams & Wilkins.
Neal M. J., 2006, At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga.
Nofriaty, Reni. 2010. Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Kemih di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2009. Surakarta : Fakultas Farmasi UMS.
Sanjoyo, Raden. 2003. Obat (Biomedik Farmakologi). D3 Rekam Medis FMIPA Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sari, EK. 2012. Pemilihan Antibiotik untuk Terapi Infeksi Saluran Kemih.
Surakarta : Eprints UMS.
Seputra, Kurnia Penta dkk. 2015. Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria. Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI).
Stringer, J. L. 2006. Basic Concepts in Pharmacology. New York: McGraw Hill.
Sukandar, E. 2009. Infeksi Saluran Kemih. In Sudoyo A.W, et all.ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi V. Jakarta: Internal Publishing. Hal 1008-1014.
Tietjen, Linda dkk. 2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.
Tjay, T. H., dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi ke VI. Jakarta: PT Elex Media Komputindo:
hal.193.
Triono, Aviv dan Akhmad Edy Purwoko. 2016. Efektifitas Antibiotik Golongan Sefalosporin dan Kuinolon terhadap Infeksi Saluran Kemih. Yogyakarta : Bagian Farmakologi FKIK UMY.
DAFTAR DATA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH RUMAH SAKIT PENDIDIKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
PERIODE JANUARI 2016 - JULI 2017
NO NAMA PASIEN
(INISIAL) JENIS KELAMIN UMUR PERAWATAN
TERAPI ANTIBIOTIK (GOLONGAN)
1 AH Perempuan 58 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
2 RS Perempuan 25 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
3
DA Perempuan 34 Rawat Jalan
Cotrimoxazole (Sulfonamid &
Trimetoprim)
4 HK Laki-Laki 48 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
5 RM Perempuan 47 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
6 FZ Perempuan 54 Rawat Inap Cefixime
(Sefalosporin)
7 NS Perempuan 43 Rawat Jalan Ceftriaxone
(Sefalosporin)
8
AM Perempuan 68 Rawat Inap
Cotrimoxazole (Sulfonamid &
Trimetoprim)
9 MB Laki-Laki 70 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
10 AN Perempuan 27 Rawat Jalan Azithromycin
(Makrolida)
11 MK Perempuan 45 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
12 NM Perempuan 24 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
13 SD Perempuan 55 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
14 NF Perempuan 39 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
15 FD Perempuan 79 Rawat Inap Levofloxacin
(Kuinolon)
16 NM Perempuan 57 Rawat Inap Cefixime
(Sefalosporin)
17 AR Laki-Laki 34 Rawat Jalan Ceftriaxone
(Sefalosporin)
18 AT Perempuan 23 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
19 MP Perempuan 64 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
20 SS Perempuan 57 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
21 FN Perempuan 63 Rawat Inap Cefixime
(Sefalosporin)
22 KM Perempuan 62 Rawat Inap Cefixime
(Sefalosporin)
23 DS Perempuan 82 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
24 AZ Perempuan 17 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
25 MT Laki-Laki 26 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
26 LN Perempuan 34 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
27 MM Perempuan 49 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
28 AL Perempuan 69 Rawat Inap Ceftriaxone (Sefalosporin)
29 RS Laki-Laki 25 Rawat Jalan Ceftriaxone
(Sefalosporin)
30 AW Perempuan 50 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
31
SH Perempuan 53 Rawat Inap
Cotrimoxazole (Sulfonamid &
Trimetoprim)
32 WT Perempuan 34 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
33 AS Perempuan 38 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
34 MY Perempuan 25 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
35
MG Perempuan 25 Rawat Jalan
Cotrimoxazole (Sulfonamid &
Trimetoprim)
36 AH Laki-Laki 60 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
37
MP Perempuan 70 Rawat Inap
Cotrimoxazole (Sulfonamid &
Trimetoprim)
38 SW Perempuan 34 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
39 EV Perempuan 27 Rawat Jalan Cefotaxime
(Sefalosporin)
40 MD Perempuan 68 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
41 HJ Perempuan 49 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
42 AP Perempuan 59 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
43
AC Perempuan 20 Rawat Jalan
Cotrimoxazole (Sulfonamid &
Trimetoprim)
44 HN Perempuan 31 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
45 TN Perempuan 36 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
46 CT Perempuan 5 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
47 HS Perempuan 47 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
48 SR Perempuan 45 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
49 NG Perempuan 38 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
50
SM Perempuan 60 Rawat Inap
Cotrimoxazole (Sulfonamid &
Trimetoprim)
51 LT Perempuan 64 Rawat Inap Levofloxacin
(Kuinolon)
52 AD Laki-Laki 2 Rawat Jalan Gentamycin
(Aminoglikosida)
53 NV Perempuan 43 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
54 ID Laki-Laki 3 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
55 DR Perempuan 36 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
56 SY Laki-Laki 75 Rawat Inap Cefixime
(Sefalosporin)
57
JN Perempuan 26 Rawat Jalan
Cotrimoxazole (Sulfonamid &
Trimetoprim)
58 AZ Perempuan 15 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
59 DH Laki-Laki 56 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
60 SD Laki-Laki 33 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
61 SL Laki-Laki 40 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
62 NR Perempuan 40 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
63 NS Perempuan 66 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
64 HA Perempuan 17 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
65 MT Perempuan 54 Rawat Inap Levofloxacin
(Kuinolon)
66 MW Laki-Laki 52 Rawat Inap Doxycycline
(Tetrasiklin)
67 ET Perempuan 55 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
68 HW Perempuan 49 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
69 DW Laki-Laki 51 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
70 AM Perempuan 63 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
71 AY Perempuan 19 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
72 PS Laki-Laki 72 Rawat Inap Cefixime
(Sefalosporin)
73 WD Perempuan 22 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
74 DJ Laki-Laki 44 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
75 DG Laki-Laki 35 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
76 AT Perempuan 14 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
77 NN Perempuan 59 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
78 HM Laki-Laki 48 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
79 LS Perempuan 60 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
80 MR Perempuan 56 Rawat Inap Levofloxacin
(Kuinolon)
81 IR Perempuan 54 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
82 DL Perempuan 22 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
83 AK Laki-Laki 63 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
84 AS Perempuan 86 Rawat Inap Levofloxacin
(Kuinolon)
85 IJ Laki-Laki 74 Rawat Inap Cefixime
(Sefalosporin)
86 DD Laki-Laki 13 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
87 KT Perempuan 22 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
88 DT Perempuan 57 Rawat Inap Ciprofloxacin (Kuinolon)
89 SG Perempuan 39 Rawat Jalan Doxycycline
(Tetrasiklin)
90 HL Perempuan 21 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
91 NP Perempuan 24 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
92 MM Perempuan 51 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
93 NH Perempuan 30 Rawat Jalan Azithromycin
(Makrolida)
94 AB Laki-Laki 25 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
95 AE Perempuan 56 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
96 SN Laki-Laki 64 Rawat Inap Cefixime
(Sefalosporin)
97 GT Laki-Laki 26 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
98 WD Perempuan 47 Rawat Jalan Cefadroxil
(Sefalosporin)
99 NI Laki-Laki 40 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
100 AR Laki-Laki 43 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
101 AJ Perempuan 34 Rawat Jalan Cefadroxil
(Sefalosporin)
102 RA Perempuan 45 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
103 KS Laki-Laki 26 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
104 EN Perempuan 36 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
105 AR Perempuan 30 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
106 AH Laki-Laki 30 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
107 NS Perempuan 55 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
108 MS Perempuan 44 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
109 WS Perempuan 37 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
110 HR Perempuan 35 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
111 NN Perempuan 54 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
112 DJ Perempuan 70 Rawat Inap Cefixime
(Sefalosporin)
113 HJ Perempuan 37 Rawat Jalan Doxycycline
(Tetrasiklin)
114 MM Laki-Laki 55 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
115 AM Laki-Laki 39 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
116 RH Perempuan 40 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
117 DY Laki-Laki 68 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
118 SB Perempuan 52 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
119 ER Laki-Laki 27 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
120 YN Perempuan 22 Rawat Jalan Levofloxacin (Kuinolon)
121 ST Perempuan 55 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
122 MA Laki-Laki 24 Rawat Jalan Doxycycline
(Tetrasiklin)
123 FT Laki-Laki 53 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
124 MY Perempuan 23 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
125 DS Perempuan 22 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
126
RF Laki-Laki 8 Rawat Jalan
Cotrimoxazole (Sulfonamid &
Trimetoprim)
127 IR Perempuan 19 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
128 WD Perempuan 57 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
129 YD Laki-Laki 40 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
130 MS Perempuan 49 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
131 AN Perempuan 48 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
132 LR Perempuan 70 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
133 SM Laki-Laki 80 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
134 AS Perempuan 22 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
135 YN Perempuan 30 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
136 MK Perempuan 56 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
137 MD Perempuan 22 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
138 HW Perempuan 24 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
139 RS Perempuan 53 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
140 RZ Laki-Laki 27 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
141 BR Laki-Laki 32 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
142 FR Laki-Laki 8 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
143 RH Perempuan 48 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
144 MS Perempuan 28 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
145 ER Perempuan 24 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
146 SW Perempuan 65 Rawat Inap Levofloxacin
(Kuinolon)
147 JN Perempuan 19 Rawat Jalan Cefadroxil
(Sefalosporin)
148 HB Perempuan 47 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
149 FD Laki-Laki 26 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
150 HN Perempuan 35 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
151 AL Perempuan 10 Rawat Jalan Cefadroxil (Sefalosporin)
152 LD Laki-Laki 42 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
153 UM Perempuan 21 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
154 ND Perempuan 13 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
155 SM Perempuan 30 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
156 HD Perempuan 69 Rawat Inap Levofloxacin
(Kuinolon)
157 LF Perempuan 52 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
158 UA Perempuan 19 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
159 RS Perempuan 32 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
160 KZ Perempuan 11 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
161 ID Perempuan 51 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
162 MD Perempuan 36 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
163 ST Perempuan 37 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
164 SL Perempuan 61 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
165 DS Laki-Laki 45 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
166 LM Laki-Laki 56 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
167 NR Perempuan 27 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)
168 SB Perempuan 61 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
169 KM Perempuan 50 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
170 FT Perempuan 26 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
171 KS Laki-Laki 47 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
172 AW Perempuan 53 Rawat Inap Levofloxacin
(Kuinolon)
173 RM Perempuan 32 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
174 FK Laki-Laki 1 Rawat Jalan Cefixime
(Sefalosporin)
175 HR Laki-Laki 49 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
176 NM Perempuan 32 Rawat Jalan Cefotaxime
(Sefalosporin)
177 ST Perempuan 53 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
178 SB Perempuan 69 Rawat Inap Levofloxacin
(Kuinolon)
179 NK Perempuan 37 Rawat Jalan Ciprofloxacin
(Kuinolon)
180 RM Perempuan 27 Rawat Jalan Amoxicillin
(Penisilin)
181 AR Perempuan 53 Rawat Inap Ciprofloxacin
(Kuinolon)
182 AA Laki-Laki 2 Rawat Jalan Ampicillin
(Penisilin)
183 WR Perempuan 45 Rawat Jalan Levofloxacin (Kuinolon)
184 NM Perempuan 42 Rawat Jalan Levofloxacin
(Kuinolon)