• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Dana Hibah dan Mekanisme Pembayaran

MANAJEMEN ANGGARAN HIBAH PEMILIHAN KEPALA DAERAH

3) Penggunaan Dana Hibah dan Mekanisme Pembayaran

Penggunaan Dana Hibah

Idealis pengelolaan anggaran dana hibah Pemilihan yaitu dimana semua kebutuhan dicantumkan dalam Rencana Kegiatan Anggaran (RKA)/Rencana Anggaran Belanja (RAB). Dimana RJKA/RAB berfungsi sebagai dasar untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran negara dan pencairan dana atas beban Hibah Pemilihan. RKA/RAB berlaku untuk seluruh tahapan Pemilihan dan memuat informasi satuan-satuan terukur yang berfungsi sebagai dasar pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran.

Selain itu juga RKA/RAB berfungsi sebagai alat pengendali, pelaksanaan, pelaporan, pengawasan, dan sekaligus merupakan perangkat akuntansi pemerintah.

Jadi pada intinya, setiap pengeluaran yang boleh dikeluarkan atau dipertanggungjawabkan adalah item pengeluaran yang tercantum dalam RKA/RAB sebagai dasar anggaran. Jika terdapat pengeluaran atas kegiatan yang ingin dilaksanakan, namun belum ada dalam RKA/RAB, maka harus dilakukan revisi terlebih dahulu. Revisi dilakukan sesuai dengan mekanisme dan prosedur yaitu ditetapkan dalam rapat Pleno KPU Provinsi.

Selain hal yang telah dijelaskan diatas, kelaziman pengelola keuangan dalam menggunakan anggaran yaitu dengan merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 78/

PMK.02/2019 tentang Standar Biaya Masukan Tahun

Anggaran 2020.

Dana Hibah Langsung dalam bentuk uang untuk kegiatan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur digunakan hanya untuk membiayai kegiatan-kegiatan tahapan Pemilihan sesuai dengan RAB/RKA yang telah ditetapkan. Prosedur penggunaan dana Hibah pelaksanaan tahapan Pemilihan dilaksanakan dengan cara Bendahara Pengeluaran atau Bendahara Pengeluaran Pembantu melakukan pembayaran berdasarkan Surat Perintah Bayar (SPB) yang ditandatangani Pejabat Pembuat Komitmen.

Mekanisme Pembayaran dana Hibah Pemilihan Pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran yang mengakibatkan pengeluaran negara, dilakukan melalui pembuatan komitmen. Pembuatan komitmen dilaksanakan dalam bentuk perjanjian/kontrak untuk pengadaan barang/jasa dan/atau keputusan yang ditetapkan oleh Sekretaris KPU Provinsi. Pembayaran tagihan kepada penyedia barang/jasa, dilaksanakan berdasarkan bukti-bukti yang sah yang meliputi:

• Bukti perjanjian/kontrak;

• Referensi Bank yang menunjukkan nama dan nomor rekening penyedia barang/jasa;

• Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan;

• Berita Acara Serah Terima Pekerjaan/Barang;

• Bukti penyelesaian pekerjaan lainnya sesuai ketentuan;

• Berita Acara Pembayaran;

• Surat Perintah Bayar (SPB);

• Kuitansi yang telah ditandatangani oleh penyedia barang/jasa dan Pejabat Pembuat Komitmen; dan

• Faktur pajak beserta Surat Setoran Pajak (SSP) yang telah ditandatangani oleh Wajib Pajak/

BP.

BP atau BPP KPU Provinsi melakukan pembayaran kegiatan tahapanpemilihan sesuai dengan mekanisme tata cara pembayaran dalam rangka pelaksanaan anggaran dengan terlebih dahulu dilakukan pengujian atas perintah pembayaran dimaksud.

Pengujian tagihan mengandung nilai yang esensial sebelum melakukan proses pembayaran. Ada 3 (tiga) cara didalam pengujian tagihan, antara lain :

• Rechmatigheid (menurut kebenaran formil) Mencermati setiap tagihan yang menjadi kewajibannya telah mempunyai dasar hukum dan tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.

Disamping itu juga perlu meneliti tagihan dari aspek kemungkinan tanggal yang diisyaratkan dan apakah

telah dibuktikan kebenarannya.

• Doelmatigheid (menurut kebenaran materiil) Mampu dan menterjemahkan antara maksud dan tujuan suatu transaki pengeluaran serta mampu menyeimbangkan dengan prinsip-prinsip ekonomi.

• Wetmatigheid (menurut kebenaran materiil) Suatu transaksi pengeluaran untuk penggunaan sejumlah dana perlu dilihat kesesuaiannya dengan tata cara anggaran, peraturan dan perundangan yang berlaku, dengan memperhatikan ketepatan progam, ketersediaan dana, pada tahun berjalan.

Pengujian tagihan pembayaran atas kegiatan tahapan pemilihan oleh BP/BPP dilakukan secara selektif dengan mekanisme:

• Meneliti kelengkapan perintah pembayaran.

• Memeriksa kebenaran atas hak tagih:

• Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran;

• Nilai tagihan yang harus dibayar;

• Jadwal waktu pembayaran; dan

• Menguji ketersediaan dana.

• Memeriksa kesesuaian pencapaian keluaran antara spesifikasi teknis yang disebutkan dalam penerimaan barang/jasa dengan spesifikasi yang disebutkan dalam Surat Perintah Kerja/

kontrak/perjanjian.

Pembayaran tunai yang dilakukan oleh BP/BPP KPU Provinsi kepada 1 (satu) penerima/penyedia barang/jasa paling banyak sebesar Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), kecuali untuk pembayaran honorarium dan perjalanan dinas sedangkan pembayaran barang/jasa yang melebihi nilai Rp.

50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dilakukan dengan mekanisme transfer/non tunai.

Mekanisme Pembayaran secara langsung dari RPL PDHL/RPL PDH dilaksanakan sesuai dengan alur atau pola secara berjenjang, dimana Pejabat Pembuat Komitmen melaporkan kepada KPA atas pengadaan barang/jasa yang telah selesai dikerjakan oleh penyedia barang/jasa berupa Berita Acara Pembayaran. Berdasarkan Berita Acara Pembayaran (BAP), Pejabat Pembuat Komitmen memerintahkan kepada BP atau BPP untuk mentransfer langsung ke rekening penyedia barang/jasa menggunakan Surat Perintah Membayar Langsung (SPML). Setelah itu sesuai dengan dasar SPB dan SPML BP atau BPP melaksanakan pembayaran kepada penyedia barang/

jasa secara langsung disertai kuitansi dan bukti dukung lainnya yang diperlukan. Apabila tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,

BPP berhak/wajib menolak perintah bayar oleh Pejabat Pembuat Komitmen.

Untuk perjalanan dinas, BP atau BPP memberikan uang muka atas permintaan KPA atau Pejabat Pembuat Komitmen sesuai SPB dan dibayarkan kepada anggota KPU Provinsi, pegawai negeri serta PPNPN di lingkungan KPU Provinsi yang melaksanakan perjalanan dinas dalam negeri dengan besaran paling tinggi 70 persen dari total perhitungan perjalanan dinas yang akan dilaksanakan.

Pembayaran uang muka tersebut, dilakukan berdasarkan Surat Perintah Bayar (SPB) yang disetujui dan ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen atas nama KPA dengan dilampiri:

Rencana pelaksanaan kegiatan/pembayaran

Rincian kebutuhan dana

Perlu diperhatikan, batas waktu pertanggungjawaban penggunaan uang muka perjalanan dinas paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah Perjalanan Dinas dilaksanakan. Bila sampai pada batas waktu, penerima uang muka perjalanan dinas belum menyampaikan bukti pengeluaran, maka BP atau BPP menyampaikan permintaan tertulis agar penerima uang muka perjalanan dinas segera memberi pertanggungjawaban.Tembusan permintaan tertulis itu disampaikan kepada Pejabat Pembuat Komitmen. Selanjutnya, pembayaran

untuk PPK, PPS, PPDP dan KPPS, dilakukan oleh staf/pelaksana yang bertanggungjawab di bidang keuangan pada Sekretariat PPK dan PPS, dan dilakukan atas perintah/persetujuan Sekretaris PPK/Sekretaris PPS serta diketahui oleh Ketua PPK/Ketua PPS.

Pembayaran untuk KPPS dilakukan langsung oleh Ketua KPPS. Sedangkan untuk PPDP, pembayaran dilakukan oleh staf/pelaksana yang bertanggungjawab di bidang keuangan pada PPS atas perintah/

persetujuan Sekretaris PPS dan diketahui oleh Ketua PPS. Sekretaris PPK, Sekretaris PPS, dan Ketua KPPS bertanggung jawab secara formil dan materiil terhadap perintah pembayaran yang dikeluarkan.

Dokumen terkait