• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Penggunaan/Penutupan Lahan Tahun 2010 dan

Penggunaan/penutupan lahan yang terluas di Kota Sukabumi pada tahun 2010 dan 2012 adalah sawah yaitu sebesar 1638 ha (33.8%) pada tahun 2010 dan 1578.5 ha (32.6%) pada tahun 2012. Kondisi ini belum sepenuhnya sesuai dengan ciri kawasan perkotaan dimana kota pada umumnya didominasi oleh kegiatan produktif bukan pertanian, seperti pemukiman, pusat pemerintahan, pusat

21 pelayanan, serta perdagangan dan jasa (Keppres No. 114 Tahun 1999). Luas tipe penggunaan/penutupan lahan yang paling kecil di dua titik tahun tersebut adalah ladang dengan luas 11.9 ha (0.2%) pada tahun 2010 dan 4.6 ha (0.1%) pada tahun 2012. Luas masing-masing penggunaan/penutupan lahan tersebut disajikan pada Gambar 11.

Gambar 11. Luas Penggunaan/Penutupan Lahan tahun 2010 dan 2012 Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa sawah merupakan penggunaan/penutupan lahan yang paling mendominasi secara luasan di Kota Sukabumi. Luas sawah terbesar berada pada Kecamatan Cibeureum (Tabel 6). Hal ini karena Kecamatan Cibeureum merupakan salah satu kecamatan baru di Kota Sukabumi, yang sebelumnya merupakan wilayah administrasi Kabupaten Sukabumi namun semenjak Kota Sukabumi mengalami pemekaran pada tahun 2000, Kecamatan Cibeureum secara administrasi termasuk kedalam wilayah Kota Sukabumi. Hal ini menjadikan Kecamatan Cibeureum masih memiliki lahan pertanian yang luas.

Penggunaan/penutupan lahan lain yang cukup luas di Kota Sukabumi adalah pemukiman tidak teratur sebesar 1424.9 ha (29.4%) pada tahun 2010 dan 1545.2 ha (31.9%) pada tahun 2012. Luas pemukiman tidak teratur terbesar berada pada Kecamatan Cikole. Hal ini karena Kecamatan Cikole merupakan wilayah yang dijadikan sebagai Central Business District (CBD) Kota Sukabumi sehingga wilayah ini menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk bertempat tinggal karena aksesibilitas yang mudah dan fasilitas yang memadai.

Penggunaan/penutupan lahan lainnya adalah kebun campuran dengan luas 927.3 ha (19.1%) pada tahun 2010 dan 951.8 ha (19.6%) pada tahun 2012. Luas kebun campuran terbesar berada pada Kecamatan Lembursitu. Sama halnya seperti Kecamatan Cibeureum, Kecamatan Lembursitu pun merupakan wilayah hasil pemekaran Kota Sukabumi sehingga penggunaan/penutupan lahannya masih didominasi oleh lahan-lahan pertanian. Hal inilah yang menjadikan Kota Sukabumi berbeda dari kota-kota lain di Indonesia, dimana Kota Sukabumi masih memiliki lahan-lahan pertanian yang cukup luas dan tersebar di setiap kecamatan.

Lahan tidak produktif memiliki luas 398 ha (8.2%) pada tahun 2010 dan 305.6 (6.3%) pada tahun 2012. Luas lahan tidak produktif terbesar berada pada

0 500 1000 1500 2000 kcr klm ldg ptr ptt ind pnd ltp swh sng 927,3 75,1 11,9 124,1 1424,9 133,3 79,5 398,0 1638,0 36,4 951,8 71,1 4,6 131,8 1545,2 142,2 81,4 305,6 1578,5 36,4 L u as (H a)

ket: kcr=kebun campuran, klm=kolam, ldg=ladang, ptr= pemukiman teratur, ptt= pemukiman tidak teratur, ind= kawasan industri, pnd= kawasan pendidikan dan perkantoran, ltp=lahan tidak produktif, swh=sawah, sng=sungai.

22

Kecamatan Lembursitu. Keberadaan lahan tidak produktif di Kota Sukabumi ini salah satunya disebabkan oleh lahan absentia (guntai) yang sering dikonotasikan sebagai lahan tidur. Kondisi ini menjadikan pemanfaatan lahan menjadi tidak optimal.

Pemukiman teratur memiliki luas sebesar 124.1 ha (2.6%) pada tahun 2010 dan 131.8 ha (2.7%) pada tahun 2012. Luas pemukiman teratur terbesar berada pada Kecamatan Cibeureum. Hal ini karena Kecamatan Cibeureum telah direncanakan oleh pemerintah sebagai pusat pemukiman real estate karena wilayahnya masih memiliki hamparan lahan yang luas dan tidak memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Pemerintah memilih wilayah ini, karena wilayah CBD sudah sangat padat dengan penduduk dan lahan yang tersedia sudah sangat terbatas, sementara untuk pembangunan real estate dibutuhkan lahan yang luas dan harga tanah yang tidak terlalu mahal.

Kawasan industri memiliki luas 133.3 ha (2.7%) pada tahun 2010 dan 142.2 ha (2.9%) pada tahun 2012. Luas kawasan industri terbesar berada pada Kecamatan Lembursitu. Sementara, untuk kawasan pendidikan dan perkantoran memiliki luas 79.5 ha (1.6% ) pada tahun 2010 dan 81.4 ha (1.7%) pada tahun 2012, dengan luas terbesar berada pada Kecamatan Cikole sebagai CBD. Hampir seluruh aktifitas perkantoran dan pemerintahan terjadi di kecamatan ini.

Kolam memiliki luas 75.1 ha (1.5%) pada tahun 2010 dan 71.1 ha (1.5%) pada tahun 2012. Luas kolam terbesar berada pada Kecamatan Warudoyong pada tahun 2010 dan Kecamatan Cikole pada tahun 2012. Beberapa masyarakat menjalankan aktivitas budidaya perikanan karena Kota Sukabumi merupakan salah satu daerah penghasil benih dan bibit terbesar di Jawa Barat.

Ladang memiliki luas penggunaan/penutupan lahan terkecil baik pada tahun 2010 maupun 2012. Luas ladang terbesar berada pada Kecamatan Cikole. Sungai memiliki luas yang tetap dari tahun 2010 sampai tahun 2012 yaitu sebesar 36.4 ha atau sekitar 0.8% dari total luas wilayah Kota Sukabumi, dan yang terluas berada di Kecamatan Lembursitu.

Tabel 6. Luas Penggunaan/Penutupan Lahan Tiap Kecamatan

Kecamatan Penggunaan/Penutupan Lahan Tahun 2010

Kcr Klm Ldg Ptr Ptt Ind Pnd Ltp Swh Sng Baros 63.3 4.1 3.3 35.7 131.7 14.2 0.6 38.9 259.7 7.6 Cibeureum 129.6 9.0 0.1 35.8 158.0 10.8 1.7 62.8 508.2 Cikole 123.0 16.4 4.6 15.3 290.4 10.0 35.0 29.0 102.0 Citamiang 79.4 5.8 2.7 12.3 184.6 22.7 11.5 13.9 67.8 Gunung Puyuh 145.7 4.4 0.0 17.8 173.0 4.1 29.0 59.4 81.4 Lembursitu 248.6 15.3 1.0 7.2 215.4 49.4 0.6 147.0 364.8 27.0 Warudoyong 137.7 20.2 0.1 271.8 22.0 1.1 47.1 254.2 1.8

Penggunaan/Penutupan Lahan Tahun 2012

Kcr Klm Ldg Ptr Ptt Ind Pnd Ltp Swh Sng Baros 75.4 3.7 1.0 35.7 140.1 15.5 0.6 23.6 256.0 7.6 Cibeureum 127.6 8.1 35.8 181.5 11.6 1.7 57.1 492.7 Cikole 104.8 17.4 2.0 18.8 319.6 10.7 36.4 27.1 88.9 Citamiang 74.7 5.3 1.5 12.3 193.9 23.5 11.5 12.4 65.7 Gunung Puyuh 132.6 5.0 22.0 198.8 4.6 29.5 45.8 76.5 Lembursitu 295.1 14.4 0.1 7.2 224.8 53.7 0.6 96.6 356.8 27.0 Warudoyong 141.5 17.1 0.1 286.5 22.7 1.1 43.1 242.0 1.8

ket: kcr=kebun campuran, klm=kolam, ldg=ladang, ptr= pemukiman teratur, ptt= pemukiman tidak teratur, ind= kawasan industri, pnd= kawasan pendidikan dan perkantoran, ltp=lahan tidak produktif, swh=sawah, sng=sungai.

23 Secara spasial, distribusi masing-masing penggunaan/penutupan lahan yang terdapat di Kota Sukabumi tahun 2010 dan 2012 dapat dilihat pada sebaran spasial penggunaan/penutupan lahan tahun 2010 dan 2012 (Gambar 12). Pada Gambar 12 tampak bahwa sawah dan pemukiman tidak teratur yang ditunjukkan oleh warna hijau dan merah muda mendominasi penggunaan/penutupan lahan tahun 2010 dan 2012.

Tampak perbedaan yang cukup nyata antara penggunaan/penutupan lahan di bagian utara dan di bagian selatan Kota Sukabumi. Pada bagian utara, penggunaan/penutupan lahan lebih didominasi oleh lahan terbangun seperti pemukiman tidak teratur, pemukiman teratur, serta kawasan pendidikan dan perkantoran. Sementara pada bagian selatan, penggunaan/penutupan lahan lebih didominasi oleh lahan pertanian seperti sawah dan kebun campuran. Hal ini karena pada bagian utara merupakan wilayah yang telah menjadi kota terlebih dahulu dibandingkan wilayah selatan yang merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Sukabumi. Sehingga wilayah bagian utara cenderung lebih maju dibandingkan wilayah bagian selatan. Wilayah yang dijadikan sebagai pusat kota pun berada di wilayah bagian utara, yaitu di Kecamatan Cikole. Perlu diketahui bahwa, Kota Sukabumi mengalami pemekaran wilayah pada tahun 2000 dimana wilayah awal hanya terdiri dari lima kecamatan dan kemudian dimekarkan menjadi 7 kecamatan.

Pemekaran wilayah yang terjadi di Kota Sukabumi menjadikan pembangunan wilayahnya masih terpusat di wilayah bagian utara, sehingga penggunaan/penutupan lahan untuk kawasan terbangun di bagian utara menjadi semakin tinggi. Hal ini berdampak pula pada kecamatan-kecamatan di sekitarnya seperti Kecamatan Gunung Puyuh, Kecamatan Citamiang, dan Kecamatan Warudoyong. Sementara, pada wilayah bagian selatan sebagian besar masyarakatnya masih bermata pencaharian sebagai petani dan kepadatan penduduknya tidak setinggi wilayah bagian utara. Namun, hal ini perlu terus diawasi terkait fenomena perubahan penggunaan/penutupan lahan dimana wilayah bagian selatan berpotensi besar untuk dikonversi menjadi lahan terbangun di masa yang akan datang. Hal ini karena penggunaan/penutupan lahan di bagian utara sudah sangat padat oleh lahan terbangun dan ketersediaan lahannya terus berkurang.

24 (b) (a ) Ga mbar 12. S eb ara n S pa sial P engguna an/P enutupan La ha n T ahun 2010 ( a) da n 2012 ( b)

25 Perubahan Penggunaan/Penutupan Lahan Tahun 2010-2012

Secara umum, terdapat 5 (lima) jenis penggunaan/penutupan lahan yang mengalami kenaikan luas, yaitu: kebun campuran, pemukiman teratur, pemukiman tidak teratur, kawasan industri, serta kawasan pendidikan dan perkantoran. Sementara itu, penggunaan/penutupan lahan lainnya menunjukkan kecenderungan penurunan, kecuali sungai yang memiliki luasan tetap dari tahun 2010 dan 2012 (Gambar 13).

Peningkatan luas tertinggi terjadi pada pemukiman tidak teratur sebesar 120.3 ha (2.5%). Peningkatan ini terjadi karena meningkatnya pertumbuhan penduduk di Kota Sukabumi yang mencapai 6.9% dari jumlah penduduk tahun 2009. Peningkatan jumlah penduduk memberikan konsekuensi terhadap kebutuhan akan tempat tinggal.

Penurunan luas tertinggi terjadi pada lahan tidak produktif sebesar 92.4 ha (1.9%). Pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita yang dirangsang oleh kenaikan pendapatan rumah tangga berdampak pada kebutuhan akan bahan pangan yang terus meningkat. Untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan tersebut, salah satunya caranya melalui pemberdayaan lahan kering tidak produktif dalam rangka memenuhi kecukupan pangan masyarakat. Pemberdayaan lahan tersebut dapat menekan biaya pengeluaran rumah tangga masyarakat untuk membeli bahan pangan seperti sayuran dan buah- buahan.

Penggunaan/penutupan lahan lain yang mengalami peningkatan adalah kebun campuran yaitu sebesar 24.5 ha (0.5%). Meskipun produktivitas usahatani lahan kering tidak setinggi produktivitas usahatani padi sawah, namun pemberdayaan lahan kering untuk kebun campuran cukup menguntungkan dari segi ekonomi dan dapat membantu menekan biaya hidup masyarakat untuk pembelian bahan pangan karena bahan pangannya dapat dihasilkan sendiri oleh petani.

Pemukiman teratur atau real estate mengalami peningkatan sebesar 7.7 ha (0.2%). Di wilayah perkotaan yang sedang tumbuh, persaingan dalam penggunaan lahan menjadi sangat keras karena banyak alternatif keperluan penggunaan, salah satunya untuk kawasan real estate. Peningkatan jumlah kelompok golongan berpendapatan menengah hingga atas diwilayah perkotaan berakibat pada semakin tingginya permintaan terhadap pemukiman-pemukiman teratur.

Kawasan industri serta kawasan pendidikan dan perkantoran masing- masing meningkat sebesar 8.9 ha (0.2%) dan 1.9 ha (0.04%). Masalah yang dihadapi suatu kota adalah bagaimana bisa meningkatkan kinerja kota sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian serta melengkapi sarana prasarana kota untuk melayani warganya secara memuaskan. Upaya yang dilakukan pemerintah yaitu dengan penyediaan berbagai fasilitas yang sesuai dengan tuntutan kehidupan.

Penggunaan/penutupan lahan lain yang mengalami penurunan adalah kolam yaitu sebesar 4.1 ha (0.1%). Sebagai salah satu daerah penghasil benih atau bibit ikan terbesar di Jawa Barat, penurunan ini perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Selain kolam, ladang pun mengalami penurunan sebesar 7.3 ha (0.2%). Penurunan ini disebabkan oleh alih fungsi ladang menjadi lahan terbangun dan lahan tidak produktif.

26

Sawah mengalami penurunan sebesar 59.5 ha (1.2%). Perkembangan sektor industri, meningkatnya aktivitas dan ragam spesialisasi di luar bidang pertanian serta pertambahan jumlah penduduk yang antara lain disebabkan oleh adanya urbanisasi, akan mengakibatkan tekanan-tekanan terhadap lahan pertanian dan memicu terjadinya pergeseran pola penggunaan lahan. Kondisi tersebut pada gilirannya mengakibatkan peranan sektor pertanian terutama sawah yang semula mendominasi perekonomian wilayah telah bergeser ke sektor non pertanian.

Gambar 13. Luas Perubahan Penggunaan/Penutupan Lahan Tahun 2010-2012 Tabel 7 memberikan gambaran informasi perubahan penggunaan /penutupan lahan periode tahun 2010-2012 dan merupakan penjelasan yang lebih mendalam terhadap informasi yang terdapat pada Gambar 13. Pada periode tahun 2010-2012, lahan terbangun yang terdiri dari pemukiman teratur, pemukiman tidak teratur, kawasan industri, serta kawasan pendidikan dan perkantoran tidak mengalami perubahan ke penggunaan lahan lainnya. Jika suatu lahan telah dibangun untuk pemukiman, industri, pabrik, atau pendidikan, maka akan sulit sekali untuk berubah menjadi penggunaan lahan lainnya, misalnya pertanian. Penggunaan/penutupan lahan lain yang tidak mengalami perubahan adalah sungai, luasannya dari periode tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 adalah tetap sebesar 36.42 ha.

Kebun campuran dan sawah berubah paling besar menjadi pemukiman tidak teratur dengan luas masing-masing sebesar 54.4 ha dan 31.3 ha. Lahan sebagai suatu sumberdaya yang ketersediaanya bersifat fixed (tetap), sementara permintaan terhadap lahan cenderung semakin meningkat seiring dengan laju pertambahan penduduk. Hal ini mengakibatkan lahan pertanian terkonversi ke non pertanian dan ini banyak terjadi di wilayah pinggiran kota (urban fringe), dimana pada daerah-daerah yang produktivitas tanahnya cukup tinggi untuk tanaman pangan, areal perumahan berkembang sangat pesat. Posisi tawar penggunaan perumahan yang jauh lebih tinggi dari penggunaan tanaman pangan, menyebabkan penggunaan perumahan dapat dengan mudah memenangkan arena kompetisi penggunaan lahan. Hal ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah, agar lahan sawah tidak terus mengalami penurunan atau konversi, mengingat kebutuhan beras Kota Sukabumi dalam setiap tahunnya mencapai 68606 ton. Sedangkan produksi beras Kota Sukabumi dalam setiap tahunnya hanya mencapai

-100 -50 0 50 100 150 24,5 -4,1 -7,3 7,7 120,3 8,9 1,9 -92,4 -59,5 0,0 L u as P er u b ah an ( Ha) Penggunaan/Penutupan Lahan Kebun Campuran Kolam Ladang Pemukiman Teratur Pemukiman Tidak Teratur Kawasan Industri

Kawasan Pendidikan dan Perkantoran Lahan Tidak Produktif

Sawah Sungai

27 34000 ton, atau hanya dapat memenuhi kebutuhan sekitar 50 persen. Dengan demikian, dalam setiap tahunnya Kota Sukabumi kekurangan beras sekitar 50 persen dari total kebutuhan (data Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi).

Kolam berubah paling besar menjadi sawah yaitu sebesar 5.2 ha. Hal ini diduga karena perselingan antara sistem pertanian petani yaitu tanam padi dan pembiakan ikan. Sebagian petani memanfaatkan lahan sawah mereka pasca memanen gabah dengan merubahanya menjadi kolam ikan. Hal ini dapat memberikan keuntungan lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup petani, selain itu perselingan antara kolam dan sawah dapat memutus mata rantai hama. Kolam- kolam ini awalnya adalah sawah yang kemudian dijadikan kolam dan hal ini berlangsung setiap tahunnya, sehingga dominasi dari perubahan penggunaan lahan kolam adalah menuju ke sawah.

Ladang berubah paling besar menjadi lahan tidak produktif yaitu sebesar 3.85 ha. Hal ini diduga lahan-lahan tersebut ditinggal oleh pemiliknya dan menjadi lahan-lahan guntai, atau lahan tersebut merupakan lahan transisi sebelum diubah menjadi lahan terbangun.

Lahan tidak produktif berubah paling besar menjadi kebun campuran yaitu sebesar 72.1 ha. Lahan tidak produktif biasanya merupakan lahan transisi dari suatu penggunaan lahan ke penggunaan lainnya. Lahan ini bisa saja dimanfaatkan untuk kebun campuran atau bahkan dikonversi menjadi lahan terbangun. Namun berdasarkan angka tersebut, perubahan menjadi kebun campuran adalah yang terbesar. Hal ini juga disebabkan lahan tidak produktif ini masih dapat dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan sebagai usaha dalam mengusung lahan pertanian berkelanjutan.

Tabel 7. Matriks Perubahan Penggunaan/Penutupan Lahan Tahun 2010-2012 Penggunaan/

Penutupan Lahan Tahun

2010

Penggunaan/Penutupan Lahan Tahun 2012

Kcr Klm Ldg Ptr Ptt Ind Pnd Ltp Swh Sng Jml Kcr 866.4 54.4 0.7 0.5 5.3 927.3 Klm 1.3 65.8 1.3 1.7 5.2 75.1 Ldg 4.6 3.0 0.5 3.9 11.9 Ptr 124.1 124.1 Ptt 1424.9 1424.9 Ind 133.3 133.3 Pnd 79.5 79.5 Ltp 72.1 1.4 7.7 30.3 4.4 1.4 280.7 398.0 Swh 12.0 3.9 31.3 3.4 14.0 1573.4 1638.0 Sng 36.4 36.4 Jml 951.8 71.1 4.6 131.8 1545.2 142.2 81.4 305.6 1578.5 36.4 4848.6 ket: kcr=kebun campuran, klm=kolam, ldg=ladang, ptr= pemukiman teratur, ptt= pemukiman tidak teratur, ind= kawasan industri, pnd= kawasan pendidikan dan perkantoran, ltp=lahan tidak produktif, swh=sawah, sng=sungai.

Secara umum, terdapat tiga pola perubahan penggunaan/penutupan lahan terbesar pada periode tahun 2010-2012 di wilayah Kota Sukabumi (Tabel 8). Perubahan pertama yaitu perubahan lahan pertanian menjadi lahan terbangun sebesar 93.8 ha atau sekitar 1.9%. Perkembangan suatu kota ditandai dengan semakin berkurangnya lahan kosong di dalam kota. Hal ini disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk di daerah kota baik secara alamiah maupun akibat urbanisasi yang diiringi oleh semakin tingginya kebutuhan akan ruang, terutama untuk pemukiman. Konversi lahan pertanian pada dasarnya terjadi akibat adanya

28

persaingan dalam pemanfaatan lahan antara sektor pertanian dan sektor non pertanian. Persaingan dalam pemanfaatan tersebut muncul akibat adanya tiga fenomena ekonomi dan sosial yaitu: (a) keterbatasan sumberdaya lahan, (b) pertumbuhan penduduk, dan (c) pertumbuhan ekonomi. Di setiap wilayah, luas lahan yang tersedia relatif tetap sehingga pertumbuhan penduduk akan meningkatkan kelangkaan lahan yang dapat dialokasikan untuk kegiatan pertanian maupun non pertanian. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi cenderung mendorong permintaan lahan untuk kegiatan non pertanian lebih tinggi disbanding permintaan lahan untuk kegiatan pertanian. Meningkatnya kelangkaan lahan yang dibarengi dengan meningkatnya permintaan lahan pada akhirnya menyebabkan terjadinya konversi lahan pertanian.

Perubahan kedua yaitu perubahan lahan tidak produktif menjadi lahan pertanian sebesar 72.1 ha (1.5%). Akibat pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita, maka kebutuhan bahan pangan terus mengalami peningkatan. Untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan tersebut, salah satu upaya adalah dengan melakukan pemberdayaan pertanian pada lahan kering. Meskipun secara produktivitas, usahatani padi sawah jauh lebih tinggi dibandingkan usahatani lahan kering namun pemberdayaan lahan kering tidak produktif ini dirasa cukup menguntungkan bagi para petani. Petani dapat mengurangi biaya pengeluaran rumah tangga untuk pembelian bahan pangan karena bahan pangan tersebut dapat dihasilkan sendiri oleh petani melalui usahatani lahan kering seperti kebun campuran untuk menanam sayur dan buah- buahan.

Perubahan ketiga yaitu perubahan lahan tidak produktif menjadi lahan terbangun sebesar 43.8 ha (0.9%). Kebutuhan lahan di kawasan perkotaan semakin meningkat sejalan dengan semakin beragamnya fungsi di kawasan perkotaan seperti pemerintahan, perdagangan dan jasa, serta industri. Atas dasar hal tersebut, menjadi mudah dipahami jika meningkatnya aktivitas pembangunan dan perekonomian akan mengakibatkan permintaan terhadap lahan semakin meningkat. Luasan lahan yang relatif tetap di satu pihak dan permintaan lahan yang terus meningkat di pihak lain, menyebabkan alih guna lahan di suatu wilayah tidak terelakkan. Kondisi tersebut mengakibatkan lahan-lahan yang kurang produktif dialihkan menjadi lahan-lahan yang lebih produktif.

Tabel 8. Pola Dominan Perubahan Penggunaan/Penutupan Lahan

Secara keseluruhan, Kota Sukabumi mengalami perubahan penggunaan/penutupan lahan sebesar 259.5 ha atau sekitar 5.4%. Wilayah yang dominan mengalami perubahan dapat dilihat pada sebaran spasial perubahan penggunaan/penutupan lahan (Gambar 14). Berdasarkan Gambar 14, Kecamatan Gunung Puyuh, Kecamatan Cikole, serta Kecamatan Lembursitu mengalami perubahan yang cukup signifikan bila dibandingkan kecamatan lain di Kota Sukabumi. Perubahan pada bagian utara (Kecamatan Gunung Puyuh dan Kecamatan Cikole) cenderung didominasi oleh lahan terbangun, sedangkan di bagian selatan (Kecamatan Lembursitu) cenderung didominasi oleh lahan-lahan

No Pola Perubahan Penggunaan/Penutupan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)

1 Lahan Pertanian  Lahan Terbangun 93.8 1.9

2 Lahan Tidak Produktif  Lahan Pertanian 72.1 1.5

29 pertanian seperti kebun campuran. Sebagai wilayah pusat dari Kota Sukabumi, perubahan tutupan lahan di Kecamatan Cikole lebih didominasi oleh perubahan menuju lahan terbangun sedangkan dari segi aksesibilitas, Kecamatan Gunung Puyuh memiliki akses yang lebih dekat dengan pusat kota bila dibandingkan Kecamatan Lembursitu. Kecamatan-kecamatan di bagian selatan masih didominasi oleh lahan-lahan pertanian dan perubahan lahan ke kawasan terbangun tidak terlalu tinggi. Jumlah penduduk di kecamatan bagian selatan cenderung lebih rendah bila dibandingkan kecamatan di bagian utara, sehingga kebutuhan area pemukiman relatif lebih rendah.

Gambar 14. Sebaran Perubahan Penggunaan/Penutupan Lahan Tahun 2010-2012 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan/Penutupan Lahan

Analisis faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan/penutupan lahan menggunakan data perubahan lahan tidak produktif menjadi lahan pertanian, lahan pertanian menjadi lahan terbangun, dan lahan tidak produktif menjadi lahan terbangun. Pola perubahan tersebut dipilih karena cukup mewakili perubahan yang terjadi di Kota Sukabumi secara keseluruhan, dimana perubahan lainnya tidak terlalu signifikan. Untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan/penutupan lahan digunakan analisis regresi berganda (multiple regression) dengan metode forward stepwise. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak semua variabel yang digunakan memiliki pengaruh nyata dalam perubahan penggunaan/penutupan lahan. Variabel-variabel yang digunakan tertera pada bab metode penelitian.

30

Dokumen terkait