• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Penggunaan Tenaga Kerja di Daerah Penelitian

Petani kopi di Desa Batang Beranun rata-rata merupakan penggarap pemilik,

yaitu mengolah sendiri usahataninya mulai dari penyiapan lahan, penanaman,

pemupukan, pemeiharaan, panen, dan penjualan. Hanya sedikit petani yang

mengolah sendiri hasil panennya, karena rata-rata petani di Desa Batang Beranun

ingin cepat mendapatkan hasil (uang).

Petani kopi di Desa Batang Beranun rata-rata memiliki umur tanaman kopi di atas

4 tahun. Kegiatan usahatani yang dilakukan petani kopi ialah membesik ialah

membabat dan panen.

Pada usahatani di daerah penelitian terdapat beberapa kegiatan dalam usahatani

dimana garis besarnya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pengolahan lahan

2. Pembibitan

3. Pembuatan tanaman pelindung

4. Pembuatan lubang tanam

5. Penanaman

6. Pemupukan

7. Pemeliharaan

a. Pemangkasan

b. Pembabatan

c. Membesik

d. Pembuatan Lubang Angin

e. Pemberantasan Hama Penyakit

8. Panen

9. Pasca panen

Tahapan kegiatan pengolahan lahan, pembibitan, pembuatan tanaman pelindung,

pembuatan lubang tanam, penanaman, pemupukan, pemangkasan dalam hal ini

tidak dianalisis karena usahatani kopi yang diteliti seluruhnya sudah

menghasilkan (tanaman menghasilkan) dan rata-rata sudah berumur di atas empat

tahun.

Tahap kegiatan pemupukan biasanya dilakukan oleh petani kopi bersamaan

dengan kegiatan membesik. Pemupukan dilakukan setelah panen, terutama panen

raya. Pemupukan dilakukan oleh petani sendiri, tidak dilakukan oleh tenaga kerja

luar keluarga. Walaupun pada beberapa petani kegiatan membesik dilakukan oleh

tenaga kerja luar keluarga, petani tetap memupuk tanaman kopinya sendiri.

Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik yang berasal dari kulit buah kopi

pupuk telah dikeringkan selama bebarapa hari setelah pemecahan biji kopi

dengan kulitnya.

Pada tahap kegiatan no. 7.a, yaitu pemangkasan, sudah tidak dilakukan lagi

karena petani hanya melakukan pemangkasan pada umur tanaman kopi tiga tahun,

agar tanaman kopi tidak terlalu tinggi, untuk peremajaan cabang, dan agar sinar

matahari dapat masuk ke bagian tanaman kopi secara menyeluruh. Petani kopi

berlahan sempit biasanya melakukan pemangkasan tanaman kopinya sendiri,

sedangkan petani berlahan luas melakukan pemangkasan dengan bantuan tenaga

kerja luar keluarga. Hal ini disebabkan kurangnya kebutuhan tenaga kerja yang

ada dan lahan petani yang luas.

Pada tahap kegiatan 7b, yaitu pembabatan, petani berlahan luas menggunakan

tenaga kerja luar keluarga. Hal ini disebabkan oleh jumlah lahan yang luas,

sedangkan jumlah tenaga kerja dalam keluarga yang sedikit, sehigga petani

menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga bekerja

dengan borongan. Biasanya dilakukan oleh satu orang yang diselesaikan dalam

beberapa hari. Petani berlahan sempit membabat lahannya sendiri dengan dibantu

tenega kerja luar keluarga.

Pada tahap kegiatan 7c, yaitu membesik, sama dengan pekerjaan membabat,

petani berlahan luas lebih dominan menggunakan tenaga kerja luar keluarga

dibandingkan tenaga kerja dalam keluarga. Sedangkan petani berlahan sempit

membesik lahannya sendiri dan menggunakan menggunakan tenaga kerja dalam

keluarga untuk memperkecil biaya produksin. Selain itu, petani juga dapat

membesik petani sekaligus melakukan pemupukan dan pemberantasan hama

penyakit.

Di daerah penelitian, petani kopi pada umumnya membuat lubang angin pada

lahan usahatani kopinya. Adapun kegunaan dari lubang angin ini adalah sebagai

tempat untuk menampung ranting-ranting dan daun-daun tanaman kopi dan

tanaman pelindung setelah dipangkas, dimana nantinya daun-daun dan

ranting-ranting ini akan membusuk dan dapat dijadikan pupuk kompos. Biasanya

pembuatan lubang angin dilakukan oleh tenaga kerja luar keluarga baik di

usahatani luas maupun usahatani sempit.

Pada tahap kegiatan 7.e , yaitu pemberantasan hama dan penyakit tanaman kopi

tidak rutin dilakukan, karena tanaman kopi berasal dari bibit yang baik, dan bebas

dari hama dan penyakit. Selain itu, juga ada tanaman pelindung, sehingga dapat

membantu tanaman kopi terhindar dari penyakit tanaman. Hama dan penyakit

yang biasa menyerang tanaman kopi di daerah penelitian adalah hama ulat bubuk

buah dan penyakit cendawan akar. Hama ulat bubuk buah dapat menyebabkan

buah kopi muda gugur dan buah kopi berlubang. Penyakit cendawan akar dapat

menyebabkan daun tanaman kopi kuning, batangnya lapuk, dan busuk akar.

Hama dan penyakit ini dapat dikendalikan dengan membersihkan lahan. Kegiatan

pemberantasan hama dan penyakit dilakukan petani sekaligus dengan kegiatan

membesik.

Pada kegiatan panen, petani berlahan luas maupun berlahan sempit menggunakan

tenaga kerja luar keluarga. Hal ini disebabkan oleh banyaknya jumlah tanaman

itu juga disebabkan oleh agar tanaman tidak rusak karena terlalu lama dipanen.

Terkadang pada saat panen tenaga kerja luar keluarga tersebut memanen tanaman

yang belum siap panen (masih hijau/tidak merah), sehingga kematangan buah

tidak sama, dan harus disortir kembali di tempat petani pengumpul. Tujuan tenaga

kerja luar keluarga melakukan ini adalah untuk memperbesar tingkat upahnya.

Pada tahap kegiatan 9, yaitu pasca panen, kebanyakan petani di daerah penelitian

tidak melakukannya karena petani di daerah penelitian ingin cepat mendapatkan

hasil (uang), karena hanya sedikit petani yang memiliki mesin pemecah buah

kopi, sehingga petani hanya menjual buah kopi hasil panen tanpa mengolahnya.

Apabila petani kopi melakukan kegiatan pasca panen, petani mendapatkan nilai

tambah yang besar dibandingkan hanya menjual kopi hasil panen.

Tenaga kerja yang digunakan oleh petani berasal dari dalam keluarga dan luar

keluarga. Tenaga kerja dalam keluarga biasanya anak, istri, dan anggota keluarga

lainnya petani kopi itu sendiri. Tenaga kerja luar keluarga dengan menggunakan

penduduk setampat dengan upah Rp. 50.000,- per hari.

Selain itu, tenaga kerja luar keluarga yang digunakan oleh petani kopi di Desa

Batang Beranun dapat berupa upahan borongan kerja dan upahan berdasarkan

produktivitas atau hasil kerja. Tenaga kerja luar keluarga upahan borongan kerja

ditemukan pada pekerjaan membabat dan membesik.

Pada pekerjaan membabat digunakan satu orang atau lebih tenaga kerja luar

keluarga dengan upah Rp. 350.000,- / hektar, waktu pengerjaan + 3 – 4 hari. Pada

pekerjaan membesik digunakan satu orang atau lebih tenaga kerja luar keluarga

Pekerjaan membuat lubang angin biasanya dibayar berdasarkan jumlah lubang

yang dibuat oleh pekerja. Upah membuat lubang angin ialah Rp. 200,- / lubang.

Petani berlahan luas dan berlahan sempit menggunakan tenaga kerja luar

keluarga.

Pada panen, digunakan tenaga kerja luar keluarga yang banyak karena hasil buah

kopi yang sudah siap panen harus segera dipanen agar tidak rusak dan mencegah

buah kopi terlalu matang. Tenaga kerja luar keluarga yang digunakan dibayar

menurut jumlah buah kopi yang dipetik (per kaleng). Upah per kaleng sebesar

Rp. 10.000,- . 1 kaleng = 10 bambu. 1 bambu = + 1,2 kg.

Tenaga kerja di daerah penelitian melakukan pekerjaan hanya sekitar + 7 jam per

hari, yaitu antara jam 8 pagi – 12 siang melakukan pekerjaan, jam 12 – 2 siang

istirahat, dan 2 siang – 5 sore melakukan pekerjaannya kembali. Tenaga kerja di

daerah penelitian ini hanya melakukan pekerjaan 7/8 HKP dalam sehari baik

tenaga kerja pria dan tenaga kerja pria.

Tidak ada perbedaan antara tenaga kerja wanita dan tenaga kerja pria dalam

usahatani kopi arabika. Perbedaannya hanyalah pada jenis pekerjaan yang

dilakukan. Tenaga kerja wanita biasanya hanya melakukan pekerjaan pada

kegiatan panen. Kecuali jika pemilik lahan adalah wanita, ia akan turut andil

dalam pemeliharaan lahan kopi, seperti membesik.

Tenaga kerja pria lebih dominan dalam kegiatan usahatani. Tenaga kerja pria

melakukan seluruh kegiatan usahatani, yaitu pengolahan lahan, pembibitan,

pemupukan, pemangkasan, pembabatan, membesik, pembuatan lubang angin,

pemberantasan hama penyakit, dan juga panen.

Tabel 11. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja (HKO) Petani Per Tahun (2010)

Kegiatan Strata I Strata II Keseluruhan

Membesik TKDK 12,125 7,066 8,078 TKLK 17,500 2,448 5,458 Membabat TKDK 5,525 1,949 2,664 TKLK 6,708 0,739 1,976 Pemupukan TKDK 1,542 0,635 0,817 TKLK - - - Membuat Lubang Angin TKDK - - - TKLK 11,587 3,946 5,474 Panen TKDK 24 16 17,6 TKLK 75,8 17,667 29,293 Total TKDK 43,192 25,651 29,159 TKLK 111,595 24,853 42,202

Sumber: Analisis Data Primer (Lampiran 2a dan 2b)

Rata-rata penggunaan tenaga kerja per tahun pada kegiatan membesik dan

membabat jumlah tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) pada strata I lebih kecil

dibandingkan jumlah tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Hal ini disebabkan oleh

kurangnya tenaga kerja di dalam keluarga dan luasnya lahan sehingga petani

berlahan luas menggunakan tenaga kerja luar keluarga.

Pada strata II rata-rata penggunaan tenaga kerja per tahun jumlah tenaga kerja

dalam keluarga lebih dominan dalam proses produksi usahatani kopi yaitu

membabat dan membesik dibandingkan tenaga kerja luar keluarga. Hal ini

disebabkan oleh petani berlahan sempit (strata II) memiliki tenaga kerja yang

Dilihat secara keseluruhan, penggunaan tenaga kerja dalam keluarga lebih

dominan daripada tenaga kerja luar keluarga. Hal ini disebabkan oleh rata-rata

petani kopi di Desa Batang Beranun memiliki lahan sempit ( < 1 hektar), sehingga

petani kopi lebih memilih membesik lahannya sendiri atau dengan anggota

keluarga dibandingkan dengan membayar tenaga kerja luar keluarga yang mahal

upahnya per hektar. Selain itu, petani kopi juga dapat memanfaatkan waktu

luangnya sambil menunggu panen kopi.

Pada pekerjaan pemupukan strata I, strata II, dan dilihat secara keseluruhan hanya

dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga. Pemupukan dilakukan petani setelah

panen raya. Pemupukan menggunakan kulit kopi.

Pada pekerjaan pembuatan lubang angin strata I, strata II, dan dilihat secara

keseluruhan hanya dilakukan oleh tenaga kerja luar keluarga. Para petani

membayar tenaga kerja luar untuk membuat lubang di sekitar tanaman kopi.

Pada strata I, strata II, dan dilihat secara keseluruhan penggunaan tenaga kerja

luar keluarga lebih dominan daripada dalam keluarga. Hal ini disebabkan oleh

pada umumnya petani kopi mengutamakan penggunaan tenaga kerja luar keluarga

agar lebih cepat dalam proses pemanenan dan buah kopi siap panen tidak rusak

Tabel 12. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja (HKO) Petani Per Tahun Per Hektar (2010)

Kegiatan Strata I Strata II Keseluruhan

Membesik TKDK 7,179 12,780 11,660 TKLK 7,849 2,604 3,653 Membabat TKDK 3,497 2,530 2,723 TKLK 3,470 0,875 1,394 Pemupukan TKDK 0,839 1,131 1,073 TKLK - - - Membuat Lubang Angin TKDK - - - TKLK 5,866 5,897 5,897 Panen TKDK 14,776 36,070 31,811 TKLK 36,079 23,626 26,117 Total TKDK 26,291 52,511 47,267 TKLK 53,264 33,011 37,061

Sumber: Analisis Data Primer (Lampiran 3a dan 3b)

Pada pekerjaan membesik, jumlah tenaga kerja dalam keluarga pada strata I lebih

kecil dibandingkan jumlah tenaga kerja luar keluarga, yaitu sebesar 7,179 HKO.

Hal ini disebabkan oleh lahan petani strata I yang berlahan luas ( > 1 hektar)

mengakibatkan petani lebih memilih menggunakan tenaga kerja luar keluarga

untuk membesik lahannya. Namun pada strata II, jumlah tenaga kerja dalam

keluarga lebih besar daripada jumlah tenaga kerja luar keluarga, yaitu sebesar

12,78 HKO. Hal ini disebabkan oleh lahan petani kopi strata II yang sempit

( < 1 hektar), sehingga petani dapat menghemat biaya usahataninya. Dan hal ini

juga terjadi pada secara keseluruhan yaitu sebesar 11,66 HKO pada tenaga kerja

dalam keluarga.

Pada pekerjaan membabat, jumlah tenaga kerja dalam keluarga pada strata I lebih

Hal ini disebabkan oleh lahan petani strata I yang berlahan luas ( > 1 hektar)

mengakibatkan petani lebih memilih menggunakan tenaga kerja dalam keluarga

untuk membabat lahannya karena petani strata I rata-rata mempunyai mesin

babatnya sendiri. Hal ini juga terjadi pada strata II, jumlah tenaga kerja dalam

keluarga lebih besar daripada jumlah tenaga kerja luar keluarga, yaitu

sebesar 2,53 HKO. Hal ini disebabkan oleh lahan petani kopi strata II yang

sempit ( < 1 hektar), sehingga petani dapat menghemat biaya usahataninya Selain

itu petani juga mendapatkan mesin babat dari para importer kopi. Dan hal ini juga

terjadi secara keseluruhan yaitu sebesar 2,723 HKO.

Pemupukan strata I, strata II, dan dilihat secara keseluruhan hanya dilakukan oleh

tenaga kerja dalam keluarga. Pembuatan lubang angin strata I, strata II, dan

dilihat secara keseluruhan hanya dilakukan oleh tenaga kerja luar keluarga.

Pada saat panen, penggunaan tenaga kerja luar keluarga lebih dominan daripada

tenaga kerja dalam keluarga pada strata I, yaitu sebesar 36,079 HKO. Hal ini

disebabkan oleh pada umumnya petani kopi mengutamakan penggunaan tenaga

kerja luar keluarga agar lebih cepat dalam proses pemanenan dan buah kopi siap

panen tidak rusak dan tidak terlalu matang. Namun, berbeda halnya dengan strata

II, pada umumnya petani pada strata II menggunakan tenaga kerja dalam keluarga

dalam kegiatan panen karena dipengaruhi oleh faktor kecilnya lahan, sehingga

dapat menghemat biaya usahatani. Pengecualian pada saat panen raya, petani pada

strata I dan II memilih lebih banyak menggunakan tenaga kerja luar keluarga agar

buah kopi yang siap panen dapat segera dipanen karena kurangnya tenaga kerja

Dari total penggunaan tenaga kerja, strata I lebih banyak menggunakan tenaga

kerja luar keluarga daripada tenaga kerja dalam keluarga. Hal ini disebabkan oleh

lahan yang luas pada petani strata I, tenaga kerja dalam keluarga tidak cukup

memenuhi kebutuhan tenaga kerja. sehingga petani menggunakan tenaga kerja

luar keluarga untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja.

Total penggunaan tenaga kerja pada Strata II lebih banyak menggunakan tenaga

kerja dalam keluarga daripada tenaga kerja luar keluarga. Hal ini disebabkan oleh

lahan yang sempit pada petani strata II, sehingga petani memanfaatkan sumber

daya dalam keluarganya dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja usahataninya

agar dapat memperkecil biaya usahatani.

5.2. Penggunaan Tenaga Kerja Per Petani Per Hektar Per Tahun Pada

Dokumen terkait