• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penghambat Dosis dan Tingkat Rujukan Diagnostik

KETENTUAN UMUM PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI

3.4. Persyaratan Perundang-undangan 1. Pembagian Daerah Kerja

3.4.5. Penghambat Dosis dan Tingkat Rujukan Diagnostik

Penghambat dosis, atau pembatas dosis1, dan tingkat rujukan merupakan dua teknik yang digunakan untuk tujuan optimisasi. Penghambat dosis adalah batas atas prospektif dosis pekerja radiasi dan anggota masyarakat yang nilainya lebih kecil dari nilai batas dosis, sementara tingkat rujukan diagnostik hanya diperuntukkan bagi pajanan medik dalam radiodiagnostik, intervensional dan kedokteran nuklir.

Penghambat dosis merupakan nilai dosis yang besarnya ditetapkan oleh pemegang izin pemanfaatan tenaga nuklir pada tahap desain yang diterapkan pada saat konstruksi, pada tahap operasi jika terjadi perubahan prosedur operasi dari sebelumnya, dan pada tahap dekomisioning. Pembatas dosis tidak perlu dikaji ulang jika fasilitas atau instalasi berjalan dengan rutin, dan juga tidak perlu dilakukan pada tahap komisioning yang mestinya sudah tercakup pada tahap desain.

Tingkat rujukan diagnostik untuk pajanan medik adalah nilai dosis pada pajanan medik radiodiagnostik, intervensional dan

1 Pembatas dosis adalah istilah yang digunakan pada Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif untuk dose constraint. Istilah ini sebenarnya dapat membingungkan karena akan rancu dengan istilah nilai batas dosis yang merupakan terjemahan dari dose limits.

kedokteran nuklir yang digunakan sebagai pembanding agar dosis radiasi yang diterima pasien tidak lebih besar dari yang diperlukan untuk memperoleh informasi diagnostik yang diinginkan. Tabel 3.2, 3.3, 3.4, 3.5 dan 3.6 masing-masing memberikan tingkat rujukan diagnostik pada tipikal pasien dewasa untuk radiografi diagnsostik, CT scan, mammografi , laju dosis fl uoroskopi dan aktivitas radionuklida untuk pasien diagnostik.

Tabel 3.2. Tingkat rujukan diagnostik untuk radiografi diagnostik pasien dewasa.

No. Jenis pemeriksaan Posisi

pemeriksaan*

Dosis permukaan masuk per radiografi ** (mGy) 1. Lumbar tulang belakang

(lumbar spine) AP LAT LSJ 10 30 40 2. Perut, urografi intrave- nous,

kolesistografi AP 10 3. Panggul (pelvis) AP 10 4. Sendi panggul AP 10 5. Paru (chest) PA LAT 0,4 1,5 6. Thoracic spine AP LAT 7 20 7. Gigi Periapikal AP 7 5 8. Kepala PA LAT 5 3 * PA: postero-anterior, AP: antero-posterior, LAT: lateral, LSJ: lumbo sacral joint.

** Di udara dengan hamburan balik. Nilai-nilai tersebut untuk kombinasi fi lm-layar konvensional dalam kecepatan relatif 200. Untuk kombinasi fi lm-layar kecepatan tinggi (400-600), nilai-nilai

Tabel 3.3. Tingkat rujukan diagnostik untuk CT Scan pasien dewasa.

No. Jenis pemeriksaan Dosis rata-rata multiple scan* (mGy)

1. Kepala 50

2. Lumbar tulang belakang 35

3. Perut 25

* Diperoleh dari pengukuran sumbu perputaran pada fantom setara air, panjang 15 cm dan diameter 16 cm (kepala) dan 30 cm (lumbar dan perut).

Tabel 3.4. Tingkat rujukan diagnostik untuk mammografi pasien dewasa.

Dosis glandular per proyeksi cranio-caudal*

1 mGy (tanpa grid) 3 mGy (dengan grid)

* Ditentukan pada payudara tyang ditekan 4,5 cm dan terdiri atas 50% kelenjar dan 50% jaringan lemak, untuk sistem fi lm-layar dan pesawat mammografi dengan target Mo dan fi lter Mo.

Tabel 3.5. Tingkat rujukan diagnostik untuk laju dosis fl uoroskopi pasien dewasa.

No. Cara pengoperasian Laju dosis permukaan masuk* (mGy/menit)

1. Normal 25

2. Tingkat tinggi** 100

* Di air dengan hamburan balik.

** Untuk fl uoroskopi yang memiliki pilihan cara pengoperasian ‘tingkat tinggi’, seperti yang sering digunakan pada radiologi intervensional.

Tabel 3.6. Tingkat rujukan diagnostik untuk aktivitas radionuklida pasien diagnostik.

Prosedur diagnosis Radionuklida Bentuk kimia

Aktivitas maksimum tiap prosedur

(MBq) Tulang:

Pencitraan tulang Tc-99m Campuran fosfonat dan fosfat

600 Pencitraan tulang dengan

SPECT

Tc-99m Campuran fosfonat dan fosfat

800 Pencitraan sumsum tulang Tc-99m Koloid terlabel 400 Otak:

Pencitraan otak (planar): permeabilitas blood brain

barrier (BBB)

Tc-99m TcO4- 500

Tc-99m Dietilene triamine penta-acetic acid (DTPA) atau gluco heptonat (GH)

500

Pencitraan otak (SPECT): permeabilitas BBB

Tc-99m TcO4- 800

Tc-99m DTPA atau GH 800

Pencitraan otak (SPECT): aliran darah cerebral

Tc-99m Hexametil propilene amine oxime (HM-PAO) atau etyl cysteinate dimer (ECD)

700

Sisternografi In-111 DTPA 40

Lacrimal:

Pengaliran lacrimal Tc-99m TcO4- 4

Koloid terlabel 4

Tiroid:

Pencitraan tiroid Tc-99m TcO4- 100

I-123 I- 20

Scan seluruh tubuh untuk

visualisasi metastase tiroid (setelah ablasi)

Prosedur diagnosis Radionuklida Bentuk kimia

Aktivitas maksimum tiap prosedur

(MBq)

Pencitraan paratiroid Tl-201 Tl klorida 80

Paru-paru:

Pencitraan ventilasi paru-paru

Tc-99m DTPA aerosol 80

Pencitraan perfusi paru-paru Tc-99m Albumin manusia (macroaregates-MAA atau microspheres)

100

Pecitraan perfusi paru-paru dengan venografi

Tc-99m Albumin manusia (MAA atau microspheres)

160 Pencitraan paru-paru

(SPECT)

Tc-99m MAA 200

Hati dan limpa:

Pencitraan hati dan limpa Tc-99m Koloid terlabel 80 Pencitraan fungsi sistem

biliary

Tc-99m Iminodicetates dan agen-agen yang sama

150 Pencitraan limpa Tc-99m Sel-sel darah

merah terlabel yang didenaturasi

100

Pencitraan hati (SPECT) Tc-99m Koloid terlabel 200 Kardiovaskuler

Studi aliran darah yang lewat pertama kali Tc-99m TcO4- 800 Tc-99m DTPA 800 Tc-99m Macroaggregated globulin 3 400 Pencitraan kantung darah

(pencitraan gerbang keseimbangan)

Tc-99m Sel darah merah terlabel 800

Studi Multigated (MUGA) Tc-99m Sel darah merah terlabel 800 Pencitraan miokardial daerah

nekrotik dalam fase akut

Tc-99m Campuran fosfonat dan fosfat

Prosedur diagnosis Radionuklida Bentuk kimia

Aktivitas maksimum tiap prosedur

(MBq) Pencitraan miokardial Tc-99m Campuran yang

merefl eksikan perfusion myocardial 400 Tl-204 Tl+ klorida 100 Pencitraan miokardial (SPECT) Tc-99m Campuran yang merefl eksikan perfusion myocardial

800

Perut, sistem pencernaan Pencitraan kelenjar perut/ kelenjar ludah Tc-99m TcO4- 100 Pencitraan divertikulum Meckel’s Tc-99m TcO4- 400 Pendarahan saluran pencernaan Tc-99m Koloid terlabel 400

Tc-99m Sel darah merah terlabel 400 Lintasan oesophageal dan

refl ux

Tc-99m Koloid terlabel 40

Tc-99m Campuran yang tidak dapat diserap

40 Pengosongan lambung Tc-99m Campuran yang tidak

dapat diserap

12 In-111 Campuran yang tidak

dapat diserap

12 In-113m Campuran yang tidak

dapat diserap

12 Ginjal, sistem saluran air seni dan adrenalin

Pencitraan statik saluran ginjal (renal)

Tc-99m Asam dimercaptosuccini 160 Pencitraan fungsi ginjal/

renografi

Tc-99m DTPA, glukonat dan glukoheptonat 350 Tc-99m Macroaggregated globulin 100 I-123 O-iodohippurate 20

Prosedur diagnosis Radionuklida Bentuk kimia

Aktivitas maksimum tiap prosedur

(MBq) Pencitraan kelenjar adrenalin Se-75 Selenorkolesterol 8 Lain-lain:

Pencitraan abses (infeksi dengan nanah) atau tumor

Ga-67 Sitrat 300

Tl-201 Klorida 100

Pencitraan tumor Tc-99m Asam Penta dimercaptosuccini 400 Pencitraan tumor neuroendokrin I-123 Meta-iodo-benzyl guanidine 400 I-131 Meta-iodo-benzyl guanidine 20 Pencitraan nodul kelenjar

getah bening

Tc-99m Nanokoloid terlabel 80 Pencitraan abses Tc-99m Sel-sel darah putih

terlabel exametazime

400 In-111 Sel-sel darah putih

terlabel

20 Pencitraan thrombus In-111 Platelet terlabel 20 Catatan: aktivitas maksimal umumnya untuk tiap prosedur dapat bervariasi berdasar

kondisi klinis pasien, pertanyaan klinis, protokol dan alat yang digunakan. Untuk pasien pediatrik (anak-anak), dosis harus dimodifi kasi berdasar umur dan/atau berat pasien.

PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI

Dokumen terkait