• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penghapusan Barang Milik Daerah meliputi :

Dalam dokumen BUPATI PELALAWAN PROVINSI RIAU (Halaman 39-42)

Pasal 80 Penghapusan Barang Milik Daerah meliputi :

a. penghapusan dari daftar barang Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang;

b. penghapusan dari daftar Barang Milik Daerah. Pasal 81

(1) Penghapusan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 huruf a, dilakukan dalam hal Barang Milik Daerah dimaksud sudah tidak berada dalam penguasaan Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang.

(2) Penghapusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 huruf b, dilakukan dalam hal Barang Milik Daerah dimaksud sudah beralih kepemilikannya, terjadi pemusnahan atau karena sebab-sebab lain. (3) Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan

dengan menerbitkan Keputusan Pengelola Barang setelah mendapat persetujuan Bupati.

(4) Dikecualikan dari ketentuan mendapatkan persetujuan Bupati sebagaimana dimaksud pada Ayat (3), untuk Barang Milik Daerah yang dihapuskan karena:

a. Pengalihan Status Penggunaan; b. Pemindahtanganan; atau

c. Pemusnahan.

(5) Bupati dapat mendelegasikan persetujuan Penghapusan Barang Milik Daerah berupa barang persediaan kepada Pengelola Barang.

(6) Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilaporkan kepada Bupati.

Pasal 82

(1) Pada prinsipnya semua Barang Milik Daerah dapat dihapuskan.

(2) Penghapusan barang tidak bergerak berdasarkan pertimbangan / alasan- alasan sebagai berikut:

1) Rusak berat, terkena bencana alam/force majeure; 2) Tidak dapat dipergunakan secara optimal (idle); 3) Terkena planologi kota;

4) Kebutuhan organisasi karena perkembangan tugas;

5) Penyatuan lokasi dalam rangka efisiensi dan memudahkan koordinasi;

6) Pertimbangan dalam rangka pelaksanaan rencana strategis Hankam.

(3) Penghapusan barang bergerak berdasarkan pertimbangan atau

alasan-alasan sebagai berikut:

1) Pertimbangan Teknis, antara lain :

a) Secara fisik barang tidak dapat digunakan karena rusak dan tidak ekonomis bila diperbaiki;

b) Secara teknis tidak dapat digunakan lagi akibat modernisasi; c) Telah melampaui batas waktu kegunaannya atau kadaluarsa; d) Karena penggunaan mengalami perubahan dasar spesifikasi

dan sebagainya;

e) Selisih kurang dalam timbangan atau ukuran disebabkan

penggunaan atau susut dalam penyimpanan atau

pengangkutan.

2) Pertimbangan Ekonomis, antara lain:

a) Untuk optimalisasi Barang Milik Daerah yang berlebih atau idle; b) Secara ekonomis lebih menguntungkan bagi daerah apabila dihapus, karena biaya operasional dan pemeliharaannya lebih besar dari manfaat yang diperoleh.

c) Karena hilang atau kekurangan perbendaharaan atau kerugian, yang disebabkan :

i. Kesalahan atau kelalaian Penyimpan dan/atau Pengurus Barang;

ii. Diluar kesalahan atau kelalaian Penyimpan dan/atau Pengurus Barang;

iii. Mati, bagi tanaman atau hewan dan/atau temak;

iv. Karena kecelakaan atau alasan tidak terduga (force majeure).

(4) Penghapusan Barang Milik Daerah berupa barang tidak bergerak seperti tanah dan/atau bangunan ditetapkan dengan Keputusan Bupati setelah mendapat persetujuan DPRD, sedangkan untuk barang-barang inventaris lainnya selain tanah dan/atau bangunan sampai dengan Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) dilakukan oleh Pengelola Barang setelah mendapat persetujuan Bupati.

(5) Barang Milik Daerah yang rusak, hilang, mati (hewan dan tanaman), susut, berlebih dan tidak efisien lagi dilaporkan kepada Bupati melalui Pengelola Barang;

(6) Laporan harus menyebutkan nama, jumlah barang, lokasi, nomor kode barang, nilai barang dan Iain- Iain yang diperiukan.

Pasal 83

(1) Panitia Penghapusan Barang Milik Daerah dibentuk dengan Keputusan Bupati yang susunan personilnya terdiri dari unsur teknis terkait;

(2) Panitia Penghapusan Barang Milik Daerah bertugas meneliti barang yang rusak, dokumen kepemilikan, administrasi, penggunaan,

pembiayaan, pemeliharaan/perbaikan maupun data lainnya yang dipandang perlu;

(3) Hasil penelitian tersebut dituangkan dalam bentuk Berita Acara dengan melampirkan data kerusakan, laporan hilang dari kepolisian, surat keterangan sebab kematian dan Iain-Iain.

Pasal 84

(1) Pengelola Barang mengajukan permohonan persetujuan kepada Bupati mengenai rencana penghapusan barang dimaksud dengan melampirkan Berita Acara hasil penelitian Panitia Penghapusan;

(2) Setelah mendapat persetujuan Bupati, penghapusan dari daftar inventaris ditetapkan dengan Surat Keputusan Pengelola Barang atas nama Bupati.

(3) Khusus penghapusan untuk barang bergerak karena rusak berat dan tidak dapat dipergunakan lagi seperti alat Kantor dan alat Rumah Tangga yang sejenis termasuk kendaraan khusus lapangan seperti Alat Angkutan berupa kendaraan Alat Berat, Mobil Jenazah, Truk,

Ambulance atau kendaraan lapangan lainnya ditetapkan

penghapusannya oleh Pengelola Barang setelah mendapat persetujuan Bupati.

Pasal 85

(1) Penghapusan Barang Milik Daerah, dilakukan berdasarkan:

a. Penghapusan Barang Milik Daerah dilakukan dalam hal barang tersebut sudah tidak berada dalam penguasaan Pengguna Barang (mutasi);

b. Penghapusan Barang Milik Daerah dilakukan dalam hal barang tersebut sudah tidak berada pada Daftar Barang Daerah;

c. Penghapusan tersebut di atas dilakukan setelah mendapat persetujuan Bupati dan penetapan oleh Pengelola Barang atas nama Bupati;

(2) Pelaksanaan penghapusan secara khusus, yaitu :

a. Penghapusan gedung milik daerah yang harus segera dibangun kembali (rehab total) sesuai dengan peruntukan semula serta yang

sifatnya mendesak dan membahayakan, penghapusannya

ditetapkan dengan Keputusan Bupati;

b. Dalam keadaan bangunan yang membahayakan keselamatan jiwa dapat dilakukan pembongkaran terlebih dahulu sambil menunggu Keputusan Bupati;

c. Alasan-alasan pembongkaran bangunan gedung dimaksud adalah: 1) Rusak berat yang disebabkan oleh kondisi konstruksi

bangunan gedung sangat membahayakan keselamatan jiwa dan mengakibatkan robohnya bangunan gedung tersebut; 2) Rusak berat yang disebabkan oleh bencana alam seperti gempa

bumi, banjir, angin topan, kebakaran dan yang sejenis. Pasal 86

(1) Penghapusan Barang Milik Daerah dengan tindak lanjut pemusnahan dilakukan apabila Barang Milik Daerah dimaksud :

a. tidak dapat digunakan, tidak dapat dimanfaatkan, tidak memiliki nilai ekonomis, dan tidak dapat dipindahtangankan; atau

b. alasan lain sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

(2) Pemusnahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pengguna Barang dengan keputusan dari Pengelola Barang setelah mendapat persetujuan Bupati.

(3) Pelaksanaan pemusnahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam berita acara pemusnahan dan dilaporkan kepada Bupati.

Pasal 87

(1) Barang Milik Daerah yang sudah rusak dan tidak dapat dipergunakan, dihapus dari Daftar Inventaris Barang Milik Daerah.

(2) Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Barang Milik Daerah yang dihapus sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

dan masih mempunyai nilai ekonomis, dapat dilakukan

pemindahtanganan melalui :

a. pelelangan / penjualan ;dan/atau

b. disumbangkan atau dihibahkan kepada pihak lain.

(4) Hasil pelelangan umum/pelelangan terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, disetor ke kas Daerah.

BAB XVI

PEMINDAHTANGANAN

Dalam dokumen BUPATI PELALAWAN PROVINSI RIAU (Halaman 39-42)

Dokumen terkait