TAHUN BERJALAN
Perusahaan melakukan perhitungan atas program imbalan pasca-kerja, yang mana kerugiannya disajikan dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain sebagai pos yang tidak akan direklasifikasikan ke laba rugi. Selain itu, Perusahaan pun memiliki instrumen derivatif yang digunakan untuk lindung nilai eksposur risiko suku bunga dan
mata uang, yang mana kedua risiko tersebut timbul karena Perusahaan memiliki transaksi pinjaman modal kerja luar negeri yang tidak menggunakan suku bunga tetap dan dalam mata uang asing. Instrumen derivatif untuk tujuan manajemen risiko ini diukur pada nilai wajar dalam laporan posisi keuangan Perusahaan. Bagian efektif dari perubahan nilai wajar instrumen derivatif-lindung nilai arus kas disajikan pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain tahun berjalan sebagai pos yang akan direklasifikasikan ke laba rugi.
(Dalam Rp Jutaan)
Keterangan 2013 2014 2015
Laba Bersih 1.707.205 792.165 664.836
Penghasilan Komprehensif Lain Setelah Pajak 76.124 (68.724) 58.278
Total Penghasilan Komprehensif Tahun Berjalan 1.783.329 723.441 723.114
Pada akhir tahun 2015, penghasilan komprehensif lain setelah pajak adalah sejumlah Rp58,3 miliar (kerugian 2014: Rp68,7 miliar). Penghasilan ini terutama disebabkan oleh adanya kenaikan pada keuntungan kumulatif dari bagian efektif atas perubahan nilai wajar instrument derivatif-lindung nilai arus kas (setelah dikurangi beban pajak penghasilan) sebesar Rp140,3 miliar yang terutamanya disebabkan karena pergerakan yang terjadi pada mata uang rupiah terhadap dolar AS hingga akhir tahun 2015, dan pada saat yang sama, terdapat kenaikan pada kerugian aktuarial atas program imbalan pasca-kerja (setelah beban pajak penghasilan) sebesar Rp13,3 miliar. Dengan demikian, total penghasilan komprehensif untuk tahun 2015 adalah sejumlah Rp723,1 miliar (2014: Rp723,4 miliar).
Pada akhir tahun 2014, kerugian komprehensif lain setelah pajak adalah sejumlah Rp68,7 miliar (2013: Rp11,7 miliar). Perubahan ini terutama disebabkan oleh pergerakan yang terjadi pada mata uang rupiah terhadap dolar AS hingga akhir tahun 2014. Dengan demikian, total penghasilan komprehensif untuk tahun 2014 adalah sejumlah Rp723,4 miliar (2013: Rp1.783,3 miliar).
III. ARUS KAS
Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokkan arus kas ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan, untuk tahun 2013-2015 dengan rincian sebagai berikut:
(Dalam Rp Jutaan)
Keterangan 2013 2014 2015
Saldo awal Kas dan Setara Kas 2.248.641 1.264.131 879.170
Kas Neto Diperoleh Dari/(Digunakan Untuk) Aktivitas Operasi (1.538.188) (1.031.747) 2.657.452
Kas Neto Digunakan Untuk Aktivitas Investasi (97.846) (141.856) (73.039)
Kas Neto Diperoleh Dari/(Digunakan untuk) Dari Aktivitas Pendanaan 651.524 788.642 (2.403.598)
Kenaikan/(Penurunan) Neto Kas dan Setara Kas (984.510 (384.961) 180.815
Saldo akhir Kas dan Setara Kas 1.264.131 879.170 1.059.985
Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Operasi
Pada tahun 2015, kas neto diperoleh dari aktivitas operasi adalah sebesar Rp2.657,4 miliar (kas neto digunakan untuk aktivitas operasi 2014: Rp1.031,7 miliar). Kenaikan terutama disebabkan oleh penurunan atas transaksi pembiayaan konsumen sebesar Rp4.354,7 miliar seiring kontraksi pada penyaluran pembiayaan pada tahun 2015 di tengah kondisi perekonomian domestik yang belum kondusif dan strategi Perusahaan untuk berhati-hati dalam melakukan kegiatan penyalurannya untuk menjaga kualitas aset produktif.
Pada tahun 2014, kas neto digunakan untuk aktivitas operasi adalah sebesar Rp1.031,7 miliar (2013: Rp1.538,2 miliar). Kenaikan terutama disebabkan kenaikan pengeluaran kas atas transaksi pembiayaan sebesar Rp459,2 miliar dan kenaikan pengeluaran kas atas beban bunga dan provisi bank sebesar Rp473,3 miliar serta pembayaran bunga obligasi sebesar Rp145,1 miliar yang dikompensasi dengan kenaikan penerimaan kas dari transaksi pembiayaan konsumen sebesar Rp1.611,0 miliar seiring dengan bertumbuhnya kinerja Perusahaan.
Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Investasi
Pada tahun 2o15, kas neto digunakan untuk aktivitas investasi adalah sebesar Rp73,0 miliar (2014: Rp141,9 miliar). Kenaikan terutama disebabkan oleh menurunnya pembelian aset tetap sebesar Rp65,6 miliar dan aset tak berwujud sebesar Rp2,5 miliar pada tahun 2015 bila dibandingkan dengan tahun 2014.
Pada tahun 2014, kas neto digunakan untuk aktivitas investasi adalah sebesar Rp Rp141,9 miliar (2013: Rp97,8 miliar). Kenaikan terutama disebabkan oleh meningkatnya pembelian aset tetap sebesar Rp35,1 miliar dan aset takberwujud sebesar Rp8,5 miliar pada tahun 2014 bila dibandingkan dengan tahun 2013.
Kas Neto Digunakan untuk Aktivitas Pendanaan
Pada tahun 2015, kas neto yang digunakan untuk aktivitas pendanaan adalah sebesar Rp2.403,6 miliar (kas neto diperoleh dari aktivitas pendanaan 2014: Rp788,6 miliar). Penurunan terutama disebabkan oleh peningkatan pada pembayaran pendanaan sebesar Rp4.806,5 miliar, penerimaan pendanaan yang turun Rp689,8 miliar dan penurunan pada pembayaran dividen sebesar Rp2.304,0 miliar. Pada tahun 2014, kas neto yang diperoleh dari aktivitas pendanaan adalah sebesar Rp Rp788,6 miliar (2013: Rp651.5 miliar). Kenaikan terutama disebabkan oleh kenaikan penerimaan pinjaman bank dan pembiayaan bersama sebesar Rp4.041,4 miliar, diikuti kenaikan pada pembayaran dividen kas sebesar Rp1.990,7 miliar atas laba tahun berjalan Perusahaan tahun 2013, penurunan pada penerimaan dari penerbitan obligasi dan sukuk mudharabah sebesar Rp1.335,0 miliar, serta kenaikan pelunasan obligasi dan sukuk mudharabah yang jatuh tempo sebesar Rp423,0 miliar dibandingkan tahun 2013.
Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan
Tata kelola Perusahaan
Data Perusahaan
Pembahasan dan Analisis
Manajemen
Data Penunjang Perusahaan
Rasio-rasio Keuangan yang Relevan
Keterangan 2013 2014 2015
Rentabilitas
Rasio laba (rugi) terhadap aset (ROA) 6,0% 2,6% 2,3%
Rasio laba (rugi) terhadap ekuitas (ROE) 31,2% 15,8% 15,8%
Solvabitlitas
Solvabilitas Aset (X) 1,2 1,2 1,2
Solvabilitas Ekuitas (X) 0,2 0,2 0,2
Rasio Likuiditas ( X) 1,2 1,1 1,2
Rasio Gearing (X) 3,8 5,9 4,9
Rasio Laba (Rugi) Terhadap Aset (Return on Asset/ROA)
Rasio Laba (Rugi) Terhadap Aset (ROA) mengukur kemampuan aset produktif Perusahaan dalam menghasilkan laba, yang dihitung dari laba tahun berjalan dibagi dengan jumlah aset Perusahaan. ROA Perusahaan adalah sebesar 6,0%, 2,6% dan 2,3% masing-masing untuk tahun 2013, 2014 dan 2015.
Penurunan ROA untuk tahun 2015 terutama disebabkan adanya penurunan laba tahun berjalan menjadi Rp664,8 miliar dari Rp792,2 miliar pada tahun 2014. Penurunan ROA pada tahun 2014 terutama disebabkan karena adanya penurunan laba tahun berjalan menjadi Rp792,2 miliar dari Rp1,7 triliun pada tahun 2013, namun pada saat yang sama total aset Perusahaan masih kurang lebih sama dengan tahun sebelumnya.
Rasio Laba (Rugi) Terhadap Ekuitas (Return on Equity/ROE)
Rasio laba (rugi) terhadap ekuitas (ROE) mengukur kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan laba dari modal yang ditanamkan, yang tercermin melalui perbandingan antara laba tahun berjalan dengan modal sendiri. ROE Perusahaan adalah sebesar 31,2%; 15,8%; dan 15,8% masing-masing untuk tahun 2013, 2014 dan 2015.
Penurunan ROE pada tahun 2015 terutama karena adanya penurunan laba tahun berjalan menjadi Rp664,8 miliar dari Rp792,2 miliar pada tahun 2014,
sementara ekuitas Perusahaan tumbuh sebesar 8,1%. Penurunan ROE pada tahun 2014 terutama karena adanya penurunan laba tahun berjalan menjadi Rp792,2 miliar dari Rp1,7 triliun pada tahun 2013.
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas mengukur kemampuan Perusahaan dalam membayar hutang yang dimiliki dengan aset atau ekuitas. Solvabilitas aset ditentukan dengan membandingkan jumlah aset dengan jumlah liabilitas. Solvabilitas ekuitas ditentukan dengan membandingkan jumlah ekuitas dengan jumlah liabilitas.
Rasio likuiditas mengukur kemampuan Perusahaan dalam memenuhi liabilitas lancar dengan aset lancar. Aset lancar yang dimaksud mencakup kas dan setara kas ditambah jumlah piutang pembiayaan, beban dibayar di muka, piutang lain-lain-neto dan aset lain-lain, sedangkan liabilitas jangka pendek yang dimaksud adalah pinjaman yang diterima Perusahaan beserta efek utang yang diterbitkan. Secara umum, pada tahun 2015 rasio solvabilitas dan likuiditas Perusahaan menunjukkan tren yang stabil. Rasio solvabilitas aset dalam tiga tahun terakhir, yaitu 2013, 2014 dan 2015 adalah masing-masing sebesar 1,2x. Solvabilitas ekuitas tahun 2013, 2014 dan 2015 adalah masing-masing sebesar 0,2x. Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan aset dan ekuitas Perusahaan terhadap liabilitas masih terjaga pada tingkat yang stabil.
Sementara itu, rasio likuiditas Perusahaan untuk tahun 2013, 2014 dan 2015 adalah masing-masing sebesar 1,2x; 1,1x dan 1,2x. Hal ini menunjukkan bahwa aset lancar Perusahaan masih lebih dari cukup untuk menutupi liabilitas lancar.
Rasio Gearing Perusahaan pada tahun 2013, 2014 dan 2015 adalah masing-masing sebesar 3,8x; 5,9x; dan 4,9x. Pada tahun 2015, rasio gearing adalah sebesar 4,8x, turun dari 5,9x pada tahun 2014. Penurunan terjadi seiring dengan kebutuhan pendanaan yang disesuaikan dengan kegiatan penyaluran pembiayaan yang memang sedang mengalami tekanan. Pada tahun 2014, rasio gearing adalah sebesar 5,9x, naik dari 2,1x pada tahun 2013. Kenaikan terjadi seiring dengan strategi diversifikasi pendanaan yang diterapkan Perusahaan untuk memperoleh biaya pendanaan yang paling optimal untuk mendorong pertumbuhan usaha, yang mana Perusahaan meningkatkan porsi pendanaan sendiri melalui penerbitan efek utang dan pinjaman perbankan. Namun kenaikan tersebut masih jauh di bawah batas regulasi yang diatur maksimal 10x.
Pinjaman yang dilakukan Perusahaan telah disalurkan untuk aset produktif, dan Perusahaan memastikan diperolehnya tingkat cost of funds kompetitif, sehingga hal ini justru menambah nilai pada Perusahaan. Untuk pengelolaan likuiditas yang sehat dan menjaga peringkatan Perusahaan dan surat utang yang diterbitkan pada periode mendatang, Perusahaan akan menjaga rasio gearing pada level yang sehat dengan mempertimbangkan aspek manajemen risiko juga.
Lebih lanjut, Perusahaan mengelola likuiditasnya melalui kebijakan keuangan yang terpusat dan konsisten dan memastikan pengelolaan keselarasan waktu antara sumber pendanaan dan piutang pembiayaan. Perusahaan telah membentuk Komite ALCO (Assets and Liability) untuk memastikan strategi pengelolaan dilakukan dengan cermat.