• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA

2.1.11. Penghasilan yang Tidak Termasuk Objek Pajak

Di dalam pasal 4 ayat (3) Undang-Undang Pajak Penghasilan, penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak penghasilan adalah :

1. a). Bantuan atau sumbangan

b). Harta hibahan yang diterima keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan; sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak- pihak yang bersangkutan.

2. Warisan

3. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal.

4. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura ataupun kenikmatan dari Wajib Pajak atau pemerintah.

5. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwi guna, dan asuransi beasiswa.

6. Deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia.

7. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai, dan penghasilan yang ditanamkan dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

8. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi-bagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi.

9. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatannya di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut :

a. Merupakan perusahaan kecil, menengah atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan; dan

b. Sahamnya tidak diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

2.2. Karakteristik

2.2.1. Peran Serta Masyarakat

Masyarakat secara awam diartikan sebagai warga. Berikut ini beberapa pengertian masyarakat menurut para ahli :

a. Menurut Koentjaraningrat, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

b. Menurut Selo Soemardjan, masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.

c. Menurut Paul B. Horton & 0 C. Hunt, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok/kumpulan manusia tersebut.

d. Menurut Anne Ahira, masyarakat merupakan sekelompok orang yang membentuk suatu sistem yang semi tertutup ataupun semi terbuka, yang mana interaksi sebagian besar adalah antara perorangan yang berada di dalam kelompok masyarakat tersebut.

Peran serta masyarakat adalah suatu proses yang melibatkan masyarakat, yaitu proses komunikasi dua arah yang terus menerus meningkatkan pengertian masyarakat secara penuh atas suatu proses kegiatan (Canter, 1977).

Pengertian lain dari peran serta masyarakat adalah bagaimana masyarakat dapat terlibat dalam perubahan sosial yang memungkinkan mereka mendapatkan bagian keuntungan dari kelompok yang berpengaruh (Arnstein, 1969).

2.2.2. Tingkat Pendidikan

Menurut UU SISDIKNAS No. 20 (2003), indikator tingkat pendidikan terdiri dari jenjang pendidikan dan kesesuaian jurusan. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan, terdiri dari:

a. Pendidikan dasar: Jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

b. Pendidikan menengah: Jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.

c. Pendidikan tinggi: Jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

(SLTA/SMA), Diploma (yaitu Diploma I dan Diploma III), Strata 1 (S1), dan Strata 2 (S2/Pasca Sarjana).

2.2.3. Tingkat Pendapatan

Beberapa definisi pendapatan adalah :

1. Menurut Budiono, pendapatan adalah hasil dari penjualan faktor- faktor produksi yang dimilikinya kepada sektor produksi.

2. Menurut Winardi, pendapatan adalah hasil berupa uang atau materi lainnya yang dapat dicapai dari pada penggunaan faktor-faktor produksi.

3. Menurut Niswonger (1992:22), pendapatan adalah jumlah yang ditagih kepada pelanggan atas barang ataupun jasa yang diberikan kepada mereka. Pada buku yang sama, Niswonger (1992;56) juga menjelaskan bahwa pendapatan atau revenue merupakan kenaikan kotor atau gross dalam modal pemilik yang dihasilkan dari penjualan barang dagangan, pelaksanaan jasa kepada pelanggan atau klien, penyewa harta, peminjam uang, dan semua kegiatan usaha serta profesi yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan.

4. Badan Pusat Statistik (BPS, 2008) membedakan pendapatan menjadi 4 golongan adalah :

a. Golongan pendapatan sangat tinggi, adalah jika pendapatan rata- rata lebih dari Rp. 3.500.000,00 per bulan.

b. Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 2.500.000,00 – s/d Rp. 3.500.000,00 per bulan.

c. Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 1.500.000,00 s/d Rp. 2.500.000,00 per bulan.

d. Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata 1.500.000,00 per bulan.

Di dalam penelitian ini, peneliti memberikan keterbukaan kepada responden untuk mencantumkan berapa besaran pendapatan yang diperoleh responden selama sebulan, yang kemudian dibuat skala sebagai berikut :

a. tingkat pendapatan kurang dari Rp 1.500.000,00

b. tingkat pendapatan antara Rp 1.500.000,00 s.d. Rp 3.500.000,00 c. tingkat pendapatan antara Rp 3.500.001,00 s.d. Rp 5.000.000,00 d. tingkat pendapatan lebih dari Rp 5.000.000,00

2.2.4. Umur

Umur adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun, dikatakan masa awal dewasa adalah usia 18 tahun sampai 40 tahun, dewasa madya adalah 41 sampai 60 tahun, dewasa lanjut > 60 tahun; umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan (Harlock, 2004).

Di dalam penelitian ini, peneliti memberikan keterbukaan kepada responden untuk mencantumkan berapa umur responden, yang kemudian dibuat skala sebagai berikut :

a. umur dibawah 30 tahun

b. umur diantara 30 tahun s.d. 40 tahun c. umur diantara 41 tahun s.d. 50 tahun d. umur diatas 50 tahun

2.2.4. Gender

Beberapa pengertian gender menurut para ahli, antara lain :

a. Gender adalah peran sosial dimana peran laki-laki dan peran perempuan ditentukan (Suprijadi dan Seskiel, 2004).

b. Gender adalah perbedaan status dan peran antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan nilai budaya yang berlaku dalam periode waktu tertentu (WHO, 2001).

c. Gender adalah perbedaan peran dan tanggung jawab sosial bagi perempuan dan laki-laki yang dibentuk oeh budaya (Azwar, 2001).

d. Gender adalah jenis kelamin sosial atau konotasi masyarakat untuk menentukan peran sosial berdasarkan jenis kelamin (Suryadi dan Idris, 2004).

Di dalam penelitian ini, gender yang dimaksud oleh peneliti adalah jenis kelamin, yaitu laki-laki atau perempuan.

2.2.6. Performance Direktorat Jenderal Pajak

Perjalanan reformasi birokrasi di dalam Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sudah dimulai sejak tahun 2002. Dengan dilakukannya reformasi di DJP, diharapkan mampu memberikan pelayanan prima kepada wajib pajak dan pelaksanaan good governance, sehingga target penerimaan pajak dapat tercapai. DJP adalah instansi yang berkewajiban untuk memasukkan penerimaan APBN yang bersumber dari sektor pajak.

Dengan meningkatnya penerimaan dari sektor pajak, diharapkan pemerintah mampu meningkatkan pelayanan publik kepada masyarakat melalui pembangunan nasional yang didanai secara mandiri. Untuk mencapai kemandirian

pendanaan pembangunan nasional ini adalah dengan meningkatkan peran serta seluruh masyarakat Indonesia secara aktif melalui pembayaran pajak. Reformasi di dalam DJP, lebih dikenal dengan modernisasi. Modernisasi tidak hanya sebatas peraturan (kebijakan) perpajakan seperti yang terdahulu yaitu Amandemen Undang-Undang Pajak, melainkan melakukan modernisasi di seluruh instrument perpajakan, antara lain : sistem, institusi, pelayanan kepada masyarakat wajib pajak, pengawasan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan, serta yang terpenting adalah moral, etika, dan integritas pegawai DJP.

Perjalanan reformasi di DJP sebenarnya sudah dimulai pada tahun 1983 dengan mengubah sistem pemungutan pajak dari Official Assessment System

menjadi Self Assessment System. Terjadi perubahan nama dari Kantor Inspeksi Pajak menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Fungsi pelayanan di KPP berdasarkan jenis pajak seperti seksi PPh Badan, PPh Perseorangan, PPh Pemotongan Pemungutan,dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pada struktur ini fungsi pelayanan dilakukan oleh KPP, sedangkan untuk pemeriksaan selain dilakukan di KPP juga dilakukan di Kantor Pemeriksaan Pajak (Karikpa), Fungsional Kantor Wilayah (Kanwil), dan Fungsional Kantor PusatDJP. Belum lagi dengan pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang dilaksanakan Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP.PBB).Keseluruhannya tidak bersifat pelayanan satu atap

(one stop service). Hal-hal tersebutlah yang mendorong terbentuknya KPP

Modern.

kemudian disebut KPP WP Besar, dibentuk KPP MTO (Medium Taxpayers

Office) yang disebut KPP Madya yang berjumlah satu dimasing-masing Kanwil,

dan kemudian dibentuk KPP STO (Small Taxpayers Office) yang kemudian disebut KPP Pratama dengan total 357 KPP Pratama di seluruh Kanwil. Dengan modernisasi yang dilakukan, DJP berusaha untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat (dalam hal ini Wajib Pajak).

Di era modernisasi ini, DJP berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada WP melalui one stop service. Pelayanan berkualitas yang diberikan kepada wajib pajak antara lain: Pertama, prosedur administrasi pajak dibuat sederhana agar mudah dipahami oleh semua wajib pajak. Pendaftaran NPWP, adanya sistem informasi perpajakan dan sistem administrasi perpajakan, sehingga sistem ini pelayanan prima kepada WP menjadi semakin nyata. Kedua, petugas pajak atau Fiskus diharapkan memiliki kompetensi dalam skill, knowledge, dan experience

dalam hal kebijakan perpajakan, administrasi pajak dan perundang-undangan perpajakan, pelayanan petugas bank tempat pembayaran wajib melayani dan memberikan penjelasan terhadap wajib pajak dengan ramah agar wajib pajak benar-benar paham sesuai yang diharapkan atau diinginkan. Ketiga, KPP memberikan kemudahan dalam pembayaran yang dilakukan melalui e-Banking yang bisa dilakukan dimana saja. Penyampaian SPT melalui drop box yang dapat dilakukan dimana saja, tidak harus di KPP tempat wajib pajak terdaftar, disediakan sistem pelaporan melalui e-SPT dan e- filling. NPWP yang dapat dilakukan secara onlinemelalui e-Register dari website pajak. Keempat, KPP memberikan perluasan tempat pelayanan terpadu (TPT), dengan perluasan ini dapat meningkatkan pelayanan wajib pajak dengan menetapkan suatu pelayanan

yang terpadu untuk setiap KPP, sehingga dapat memberikan. Di DJP juga terdapat

Account Representative (AR) yang akan membantu WP untuk mengkonsultasikan

seluruh masalah perpajakannya. Dan dari waktu ke waktu DJP berusaha untuk meningkatkan pelayanan, juga menyediakan fasilitas-fasilitas yang memungkinkan masyarakat (khususnya WP) untuk lebih mudah dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

2.3. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Yogi Rahmayanti (2006) mengenai analisis potensi pajak menyatakan bahwa yang menentukan penerimaan pajak yaitu Tax

Rate, Tax Base (GDP) don Collection System. Dalam penelitian ini ditekankan

pada dua jenis pajak yang mempunyai peran yang signifikan terhadap penerimaan pajak di Indonesia yaitu PPh dan PPN. Salah satu hasil estimasi yang dilakukan menunjukkan bahwa Tax Base (GDP) dan time trend (trend waktu) mempunyai hubungan yang positif terhadap penerimaan PPh. Hasil regresi menunjukkan bahwa tax base mempunyai hubungan positif terhadap penerimaan PPh dengan koefisien sebesar 0,78 dan terhadap PPN dengan koefisien sebesar 1,156. ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan Tax Base (GDP) sebesar satu persen akan meningkatkan penerimaan PPh sebesar 0,78 persen dan penerimaan PPn sebesar 1,156 persen. Time trend (trend waktu) mempunyai hubungan yang positif dengan dengan penerimaan PPh dengan koefisien sebesar 0,53 persen dan terhadap PPN dengan koefisien sebesar 0,37 persen.

terjadi dan kemudian dirunut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi dan pertumbuhan penerimaan pajak penghasilan selama dasawarsa 1990-2000 di antaranya dipengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh faktor-faktor Produk Domestik Bruto, Jumlah Wajib Pajak, dan Jumlah Kantor Pelayanan Pajak yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam penelitiannya Sarastika Indrawati dan Daryono Soebagiyo (2006), dengan judul “Analisis Uji Kasualitas Penerimaan Pajak dan Pengeluaran Pemerintah di Kota Surakarta Dengan Menggunakan Metode Granger tahun 1978- 2003”. Dengan menggunakan data tahunan secara time series untuk tahun 1978- 2003, hasil analisisnya menyebutkan bahwa ada hubungan sebab dan akibat tidak langsung/ bentuk satu arah antara pendapatan pajak dengan pengeluaran pemerintah di Surakarta. Maksudnya, bahwa peningkatan pendapatan pajak akan mendorong pengeluaran pemerintah. Tetapi, peningkatan pengeluaran pemerintah belum tentu mendorong peningkatan pajak di Surakarta.

2.4. Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian 2.4.1. Kerangka konseptual

Pada penulisan tesis ini, penulis menjelaskan variable-variabel yang saling mempengaruhi dalam bentuk kerangka konseptual. Di dalam kerangka konseptual ini terdapat tiga jenis variabel, yaitu :

a. Variabel eksogen, yaitu variable yang ditentukan oleh penyebab lain diluar susunan model atau teori yang diajukan. Dalam model yang ditentukan tidak ada variabel lain yang mendahului variabel eksogen.

b. Variabel endogen, yaitu variable yang ditentukan oleh variabel eksogen atau variabel endogen lainnya.

c. Variabel intervening, yaitu variable yang berada diantara variabel independen dan variabel dependen. Oleh sebab itu, variable intervening dapat menempati posisi sebagai variable independen maupun dependen.

Berikut adalah gambar Kerangka Konseptual yang dibuat oleh peneliti : PYX2 PYX1 PX2X1 PZX2 PZX1 PX3X1 PZX3 PYZ PZX4 PZX5 PZX6 PYX3 PYX4 PYX5

Peran

Serta

M

a

s

y

a

r

a

k

a

t

(Z)

P E N E R I M A A N PAJAK (Y) Tingkat Pendi- dikan (X1) Gender (X5) Umur (X4) Performance DJP (X6) Tingkat Pendapatan (X2) Jenis Pekerjaan (X3)

Dalam kerangka konseptual ini, penerimaan pajak merupakan variabel Y yang disebut sebagai variabel endogen atau variabel terikat atau variabel dependen. Keseluruhan variabel exogen (variabel bebas) yaitu variabel tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, umur, gender, performance

Direktorat Jenderal Pajak, dan peran serta masyarakat akan diteliti pengaruhnya terhadap penerimaan pajak di Kota Medan.

Peran serta masyarakat merupakan variabel intervening, sehingga peran serta masyarakat dapat berperan sebagai variabel independen maupun dependen. Sebagai variabel independen, peran serta masyarakata merupakan variabel yang mempengaruhi penerimaan pajak di Kota Medan. Sedangkan sebagai variabel dependen, peran serta masyarakat akan dipengaruhi oleh variabel tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, umur, gender, dan performance

Direktorat Jenderal Pajak.

Tingkat pendidikan sebagai variabel X1, tingkat pendapatan sebagai

variabel X2, jenis pekerjaan sebagai variabel X3, umur merupakan variabel X4,

gender merupakan variabel X5, performance Direktorat Jenderal Pajak sebagai

variabel X6, dan peran serta masyarakat (Z). Dalam hal ini, data-data (variabel

X1,X2,X3,X4, X5, X6, dan Z) diperoleh dari responden melalui pengisian kuesioner.

2.4.2. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara ataupun kesimpulan sementara dari permasalahan yang menjadi objek penelitian dimana tingkat kebenarannya masih perlu diuji. Berdasarkan kerangka konseptual, diperoleh hipotesis sebagai berikut :

1. Tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, gender,

performance Direktorat Jenderal Pajak, serta peran serta masyarakat

berpengaruh positif terhadap penerimaan pajak di Kota Medan. Sedangkan umur berpengaruh negatif terhadap penerimaan pajak di Kota Medan.

2. Tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, gender, serta

performance Direktorat Jenderal Pajak berpengaruh positif terhadap

peran serta masyarakat dalam perpajakan. Sedangkan umur berpengaruh negatif terhadap peran serta masyarakat dalam perpajakan.

3. Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan.

4. Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap jenis pekerjaan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat terhadap penerimaan pajak di Kota Medan. Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu tingkat pendidikan, tingkat

1. Tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, gender,

performance Direktorat Jenderal Pajak, serta peran serta masyarakat

berpengaruh positif terhadap penerimaan pajak di Kota Medan. Sedangkan umur berpengaruh negatif terhadap penerimaan pajak di Kota Medan.

2. Tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, gender, serta

performance Direktorat Jenderal Pajak berpengaruh positif terhadap

peran serta masyarakat dalam perpajakan. Sedangkan umur berpengaruh negatif terhadap peran serta masyarakat dalam perpajakan.

3. Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan.

4. Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap jenis pekerjaan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat terhadap penerimaan pajak di Kota Medan. Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, umur, gender, dan performance Direktorat Jenderal

Pajak. Keseluruhan faktor tersebut akan diteliti apakah mempunyai pengaruh terhadap peran serta masyarakat dalam perpajakan, dan peran serta masyarakat tersebut juga akan diteliti apakah mempunyai pengaruh terhadap penerimaan pajak di Kota Medan. Peran masyarakat yang diteliti pada penelitian ini adalah peran masyarakat dalam penerimaan Pajak Penghasilan Orang Pribadi.

3.2. J enis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari pengamatan, wawancara dan daftar pertanyaan melalui pengisian kuesioner oleh responden. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari Kantor Wilayah DJP Sumatera Utara I. Sumber data lain yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari bahan- bahan bacaan yang berhubungan dengan penelitian, jurnal-jurnal, karya ilmiah, website yang memiliki kumpulan data yang dibutuhkan seperti website Direktorat Jenderal Pajak dan Depertemen Keuangan, serta penelitian-penelitian lainnya yang berhubungan dengan penelitian. Pada penelitian ini sumber data lebih ditekankan pada penggunaan kuesioner yang dibagikan untuk dijawab responden. 3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006). Populasi pada penelitian ini adalah masyarakat yang telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau dapat disebut Wajib Pajak di Kota Medan. Jumlah Populasi Wajib

619.432 Wajib Pajak. 3.3.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki populasi tersebut (Sugiyono, 2006). Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode probability sampling, dengan teknik pengambilan sampel secara accidental

sampling. Menurut Sugiyono (2004), accidental sampling adalah mengambil

responden sebagai sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila orang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data.

Teknik ini biasanya dilakukan karena keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Keuntungan dari pada teknik ini adalah terletak pada ketepatan peneliti memilih sumber data sesuai dengan variabel yang diteliti (Arikunto, 2002).

Pengambilan sampel secara accidental ini dilakukan di KPP Pratama Medan Timur, KPP Pratama Medan Kota, KPP Pratama Medan Polonia, KPP Pratama Medan Barat, KPP Pratama Medan Petisah, dan KPP Pratama Medan Belawan.

Penelitian ini adalah penilian ex-post facto. Menurut Gay dalam Sukardi (2008) menyatakan bahwa penelitian korelasi merupakan salah satu bagian penelitian ex-post facto karena biasanya peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan hubungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefisien korelasi.

Menurut Gay, ukuran minimum sampel yang dapat diterima berdasarkan desain penelitian yang digunakan (dengan memakai metode ex-post facto) yaitu

sampel (responden) yang akan diteliti oleh peneliti adalah 120 responden, dengan rincian :

Tabel 3.1. Besar Sampel per Wilayah KPP

No. Nama Kantor Pelayanan Pajak Jumlah Responden

1. KPP Pratama Medan Barat 20

2. KPP Pratama Medan Timur 20

3. KPP Pratama Medan Polonia 20

4. KPP Pratama Medan Kota 20

5. KPP Pratama Medan Petisah 20

6. KPP Pratama Medan Belawan 20

JUMLAH RESPONDEN 120

3.4. Definisi Oper asional Var iabel

Berdasarkan hipotesis yang diajukan maka definisi operasional untuk masing- masing variabel adalah sebagai berikut :

a. Penerimaan pajak adalah penerimaan negara yang berasal dari Pajak Penghasilan Orang Pribadi (dalam satuan mata uang rupiah).

b. Peran serta masyarakat suatu proses yang melibatkan masyarakat dalam perpajakan.

Di dalam penelitian ini, peneliti memakai skala Likert untuk menentukan peran serta masyarakat dalam perpajakan, yang terdiri dari :

4 = untuk responden yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan OP (SPT Tahunan OP) setiap tahun, menyetorkan Pajak Penghasilan Orang Pribadi (PPh OP), dan pernah mengikuti sosialisasi perpajakan tentang pengisian SPT Tahunan OP.

menyetorkan PPh OP, dan tidak pernah mengikuti sosialisasi perpajakan tentang pengisian SPT Tahunan OP.

2 = untuk responden yang menyampaikan SPT Tahunan OP tidak setiap tahun, menyetorkan PPh OP, dan tidak pernah mengikuti sosialisasi perpajakan tentang pengisian SPT Tahunan OP.

1 = untuk responden yang menyampaikan SPT Tahunan OP tidak setiap tahun, tidak menyetorkan PPh OP, dan tidak pernah mengikuti sosialisasi perpajakan tentang pengisian SPT Tahunan OP.

c. Tingkat pendidikan adalah tingkat pendidikan formal yang dilakukan seseorang secara berjenjang dan berkesinambungan dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan :

1 = SLTA/SMA 3 = Sarjana (S1)

2 = Diploma 4 = Pasca Sarjana (S2)

d. Tingkat pendapatan adalah sejumlah uang (dalam mata uang Rupiah) yang diterima dan dimiliki oleh masyarakat.

Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan :

1 = responden yang mempunyai pendapatan dibawah Rp 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah)

2 = responden yang mempunyai pendapatan Rp 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah) sampai dengan Rp 3.500.000,00 (tiga juta lima ratus ribu rupiah)

3 = responden yang mempunyai pendapatan Rp 3.500.001,00 (tiga juta lima ratus ribu satu rupiah) sampai dengan Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah)

4 = responden yang mempunyai pendapatan diatas Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah)

e. Jenis pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak untuk memenuhi semua kebutuhannya.

Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan : 1 = Pegawai Negeri Sipil (PNS)

0 = Selain PNS

f. Umur adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun.

Dokumen terkait