1. Hambatan Penegakan HAM
a. Faktor kondisi social-budaya
1) Strfikasi dan status social; yaitu tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, keturunan, dan ekonomi masyarakat Indonesia yang multi kompleks (heterogen)
2) Norma adat atau budaya local kadang bertentangan dengan HAM, terutama jika sudah bersinggungan dengan kedudukan seseorang, upacara-upacara sacral, pergaulan, dan sebagainya
28
b. Faktor komunikasi dan informasi
1) Letak geografis Indonesia yang luas dengan luas, sungai, hutan, dan gunung yang membatasi komunikasi antardaerah
2) Sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang belum terbangun secara baik yang mencakup seluruh wilayah Indanesia
3) Sistem informasi untuk kepentingan sosialisasi yang masih sangat terbatas baik sumberdaya manusianya maupun perangkat (software dan hardware)
c. Faktor kebijakan pemerintah
1) Tidak semua penguasa memiliki kebijakan yang sama tentang pentingnya jaminan hak asasi manusia 2) Ada kalanya demi kepentingan stabilitas nasional, persoalan hak asasi manusia sering diabaikan
3) Peran pengawasan legislative dan control social oleh masyarakat terhadap pemerintah sering diartikan oleh
pe guasa se agai ti daka pe a gka ga `
d. Faktor perangkat perundangan
1) Pemerintah tidak segera meratifikasikan hasil-hasil konvensi internasional tentang hak asasi manusia 2) Kalaupun ada, peraturan perundang-undangan masih sulit untuk diimplementasikan
e. Faktor aparat dan penindakannya (Law Enforcement)
1) Masih adanya oknum aparat yang secara intitusi atau pribadi mengabaikan prosedur kerja yang sesuai dengan hak asasi manusia
2) Tingkat pendidikan dan kesejahteraan sebagian aparat yang dinilai masih belum layak sering membuka peluang `jalan pintas` untuk memperkaya diri
3) Pelaksanaan tindakan pelanggaran oleh oknum aparat masih diskriminatif, tidak konsekuen, dan tindakan peyimpangan berupa KKN (korupsi, kolusi, dan Nepotisme)
2.Tantangan Penegakan HAM
Tentang penegakan hak asasi manusia di Indonesia untuk masa-masa yang akan datang telah di gagas oleh pemerintah Indonesia ( presiden Soeharto) pada saat akan menyampaikan pidatonya di PBB dalam Konferensi Dunia ke-2 (Juni 1992)
Dengan judul deklarasi I do esia te ta g Hak Asasi Ma usia , dalam pidato itu ditandaskan beberapa prinsip, yaitu:
Prinsip universalitas, yaitu bahwa adanya hak-hak asasi manusia bersifat fundamental dan memiliki keberlakuan universal,
Prinsip Pembangunan nasionalm, yaitu bahwa kemajuan ekonomi dan social melalui keberhasilan
pembangunan nasional dapat membantu tercapainya tujuan meningkatkan demokrasi dan perlindungan HAM. Prinsip Kesatuan HAM (Indivisibility), yaitu berbagai jenis atau kategori HAM, yang meliputi hak-hak sipil dan politik, hak ekonomi, social, dan cultural, hak perseorangan, hak masyarakat/bangsa secara keseluruhan merupakan satu kesatuan.
Prinsip objektivitas atau Non-Selektivitas, yaitu penolakan terhadap pendekatan/penilaian terhadap
pelaksanaan hak-hak asasi pada suatu Negara oleh pihak luar, yang hanya menonjolkan satu jenis HAM saja, mengabaikan HAM lainnya.
Prinsip keseimbangan, yaitu keseimbangan anatara hak perseorangan dan masyarakat dan bangsa, sesuai
dengan kodrat manusia sebagai makhluk individual dan makhluk social sekaligus.
Prinsip Kompetensi Nasional, yaitu bahwa penerapan dan perlindungan HAM merupakan kompetensi dan
tanggung jawab nasional.
Prinsip Negara hukum, yaitu bahwa jaminan terhadap HAM dalam suatu negara dituangkan dalam
aturan-aturan hukum, baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis.
3.Rencana Aksi Nasional HAM Indonesia (2004-2009)
Mengacu pada 6 (enam) program utama :
1). Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM 2). Persiaapan instrumen Hak Asasi Manusia Internasional, 3). Persiaapan harmonisasi peraturan perundang-undangan, 4). Diseminasi dan pendidikan Hak Asasi Manusia,
5). Penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia, dan 6). Pemantuan, evaluasi,dan pelaporan.
29
D. INSTRUMEN HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL HAM
1. Intrumen Hukum Internasional HAM
Perhatian dunia internasional terhadap Hak Asasi Manusia tampak meningkat setelah perang dunia II ( 1939-1945). Besarnya jumlah korban diberbagai belahan dunia melahirkan perhatian yang mendalam terhadap peristiwa penistaan terhadap nilai kemanusiaan dalam perang besar itu. Keprihatiaan tersebut kemudian mendorong kesadaran umat manusia untuk mengedepankan pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Selanjutnya,tonggak sejarah bagi diakuinya prinsip-prinsip kebebasaan sipil dan hak asasi dalam konteks internasional tampak nyata dibentuknya perserikatan bangsa-bangsa yang kemudian melahirkan deklarasi universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of human rights) tahun 1948.
Beberapa instruman hukum tentang HAM internasional pasca-Universal Declaration of human rights tahun 1948, yaitu
NO Tahun Uraian/keterangan
1. 1958 Lahirnya konvensi tentang hak-hak politik perempuan
2. 1966 Covenants of Human Rights telah diratifikasi oleh Negara-negara PBB, yang isinya mencakup: The international on civil and political rights, yaitu memuat hak-hakdan hak-hak politik (persamaan
hak antara pria dan wanita)
Optional protocol, yaitu adanya kemungkinan seorang warga Negara mengdukan pelanggaran HAM kepada the human rights commite PBB setelah melalui upaya pengadilan di negaranya.
The international covenant of oconomi,social and cartular rights,yaitu berisi syarat-syarat dan nilai-nilai bagi system demokrasi ekonomi,sosial, dan budaya.
3. 1976 Konvensi internasional tentang Hak-hak Khusus.
4. 1984 Konvensi tentang penghasupan segala bentuk Diskrimansi terhadap perempuan. 5. 1990 Konvensi tentang Hak-hak anak
6. 1993 Konvensi anti-aperheid Olahraga.
7. 1998 Konvensi menentang penyiksaan dan pengakuan atau hukuman lain yang kejam,tidak manusiawi,dan merendahkan martabat manusia.
8. 1999 Konvensi tentang penghasupan segala bentuk Diskrimansi Rasial.
2.Peradilan INternasional HAM
Sebagai suatu nilai yang diakui secara universal,pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia
merupakan tanggung jawab bersama yang bersifat lintas negara. Artinya persoalan hak asasi manusia tidak hanya merupakan persoalan suatu Negara secara tersendiri, melainkan menjadi persoalan bersama yang mendapat perhatian internasional. Oleh karena itu, pelaku kejahatan kemanusiaan tidak dapat berdalih bahwa karena dia adalah warga negaranya tertentu dan melakukan kejahatan di wilayah negara sendiri, dunia internasional tidak berhak menuntutnya.
Bamyak kejahatan kemanusiaan yang merupakan pelanggaran HAM dilakukan oleh rezim otoriter di sebuah negara. Biasanya pemerintah otoriter tidak hanya menguasai lembaga. Karena itu, seorang penguasa yang otoriter biasanya dapat melakukan kejahatan kemanusiaan dengan leluasa tanpa tersentuh oleh lembaga peradilan. Sementara, lembaga negara lainnya dan juga masyarakat tidak memiliki kekuatan yang menandai untuk melakukan kontrol terhadap kekuasaannya.
Perlindungan terhadap hak asasi manusia internasional yang menggunakan instrument hukum adalah mahkamah kejahatan internasional atau yang dikenal dengan International Criminal Court (ICC).
ICC dibentuk pada tanggal 1 juli 2002 berdasarkan pada aroma statute of the criminal (1998);berkedudukan di Den Haag,Belanda; dan dapat mengadakan sidang di Negara lain bila diperlukan.
Wewenang ICC terbatas pada kejahatan-kejahatan yang paling serius dan menyangkut masyarakat internasional, antara lain:
30
a. Genosidayaitu tindakan atau perbuatan yang bertujuan untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian bangsa , ras, etnis atau agama dengan cara:
Membunuh anggota kelompok
Mengakibatkan penderitaan fisik dan mental yang berat pada kelompok Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang mengakibatkan kemusnahan Mencegah kelahiran dalam kelompok
Memaksa anak-anak untuk pindah kekelompok lain b. Kejahatan terhadap kemanusiaan
yaitu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang sistematik kepada penduduk sipil, antara lain
sebagai berikut :
Pembunuhan Penyiksaan
Perkosaan Penganiayaan kepada keiompok
Pemusnahan Penghilangan orang dengan paksa
Perbudakan Kejahatan apartheid
Penggusuran Tindakan lain yang tidak berperikemanusiaan
Perampasan kemerdekaan