BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
2.5 Manajemen Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
2.5.1 Pengkajian Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS)
Pengkajian PHBS adalah upaya untuk menciptakan dan melestarikan perilaku hidup yang berorientasi kepada kebersihan dan kesehatan di masyarakat, agar masyarakat dapat mandiri dalam mencegah dan menanggulangi masalah-
masalah kesehatan yang dihadapinya. Oleh karena itu, pengkajian PHBS dilaksanakan melalui penyelenggaraan Promosi Kesehatan, yaitu upaya untuk membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS melalui proses pembelajaran dalam mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi, sesuai sosial budaya setempat serta didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Kemenkes, 2011).
Pengkajian PHBS diluncurkan oleh Pusat Penyuluhan Kesehatan (sekarang Pusat Promosi Kesehatan) pada tahun 1996 dengan menggunakan pendekatan tatanan sebagai strategi pengembangan. Untuk masing-masing tatanan ditetapkan indikator guna mengukur pencapaian pembinaan PHBS. PHBS tatanan rumah tangga sejak dicanangkan tahun 1996 memiliki 10 (sepuluh) indikator yaitu persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, imunisasi dan penimbangan balita, memiliki jamban sehat, memiliki akses air bersih, penangangan sampah, kebersihan kuku, gizi keluarga, tidak merokok dan menyalahgunakan NAPZA, memiliki informasi PMS/AIDS, memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Kemenkes, 2011).
Pada tahun 2011, indikator PHBS tatanan rumah tangga ini kemudian dikembangkan menjadi 16 (enam belas) indikator dengan menambahkan indikator-indikator gosok gigi sebelum tidur, olahraga teratur, memiliki saluran pembuangan air limbah, ventilasi rumah baik, kepadatan penghuni rumah kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni dan lantai rumah bukan tanah. Akan tetapi indikator baru ini dianggap terlalu banyak, sehingga melalui
serangkaian diskusi intensif, uji instrumen, uji sistem dan uji statistik untuk melihat keterkaitan indikator-indikator tersebut dengan penyebab terjadinya gangguan kesehatan dan angka kesakitan yang dilakukan sejak tahun 2000 sampai tahun 2003, dari 16 (enam belas) indikator awal ditetapkan 10 (sepuluh) indikator PHBS (Kemenkes, 2011).
Berdasarkan rapat koordinasi promosi kesehatan tingkat nasional, indikator PHBS di rumah tangga diubah menjadi persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberikan ASI ekslusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik nyamuk, mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari dan tidak merokok di dalam rumah (Kemenkes, 2011).
2.5.1.1 Tahap Pengkajian Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS)
Menurut Kemenkes (2007), tujuan pengkajian adalah untuk mempelajari, mengalisis dan merumuskan masalah perilaku yang berkaitan dengan PHBS. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) meliputi pengkajian PHBS secara kualitatif dan pengkajian PHBS secara kuantitatif
Pengkajian data kuantitatif dilaksanakan dengan langkah-langkah pengumpulan data sekunder yang meiputi perilaku dan bukan perilaku yang berkaitan dengan 5 (lima) program prioritas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan Lingkungan, gaya hidup dan JPKM. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deksriptif sebagai informasi pendukung untuk memperkuat permasalahan PHBS yang ditemukan di lapangan dan selanjutnya dibuat simpulan hasil analisis
data sekunder tersebut. Pengkajian kuantitatif juga melakukan pengambilan sampel PHBS tatanan rumah tangga, menganalisis dan pemetaan PHBS, serta menentukan prioritas masalah (Kemenkes, 2007)
Pengkajian PHBS secara kualitatif dilakukan dengan dua metode yaitu diskusi kelompok dan wawancara perorangan mendalam. Diskusi kelompok dilakukan bersama 6 (enam) sampai 10 (sepuluh) orang yang tujuannya untuk mengungkapkan informasi tentang masalah perilaku PHBS kemudian dalam wawancara mendalam dilaksanakan dengan syarat-syarat yaitu cara pewawancara adalah orang yang terampil dalam menggali informasi secara mendalam tentang perasaan dan pikiran tentang masalah tertentu, sumber informasi kunci adalah peserta wawancara yang dianggap mampu dan dipandang menguasai informasi tentang masalah tertentu serta adanya tanya jawab dilakukan secara terbuka dan mendalam (Kemenkes, 2007). Mendukung pelaksanaan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan bentuk kegiatan kajian tenaga pelaksana PHBS secara jumlah dan pelatihan yang pernah diikuti oleh lintas sektor maupun lintas program, persiapan dana yang tersedia di lintas program dan lintas sektor dalam jumlah dan sumbernya serta persiapaan jenis media dan sarana yang dibutuhkan dalam jumlah dan sumbernya (Kemenkes, 2007).
2.5.2. Tahap Perencanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Penyusunan rencana kegiatan PHBS gunanya untuk menentukan tujuan, dan strategi komunikasi PHBS. Adapun langkah perencanaan sebagai berikut:
a. Menentukan tujuan
Berdasarkan kegiatan pengkajian PHBS dapat ditentukan klasifikasi PHBS wilayah maupun klasifikasi PHBS tatanan, maka dapat ditentukan masalah perilaku kesehatan masyarakat kesehatan dan hasil pengkajian sumber daya puskesmas yang ditentukan tujuan yang akan dicapai untuk mengatasi masalah PHBS yang ditemukan
b. Menentukan jenis kegiatan interval
Setelah ditentukan tujuan, selanjutnya ditentukan jenis kegiatan dengan mengembangkan berbagai alternatif intervensi kemudian dipilih intervensi mana yang bisa dilakukan terkait dengan sumber daya (Kemenkes, 2011). 2.5.3 Tahap Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
a) Pendekatan pada para pengambil keputusan
1. Ditingkat keluarga/rumha tangga, strategi ini ditunjukan kepada para kepala keluarga. Tujuannya agar meneladani dalam berperilaku sehat. Memberikan dukungan, kemudahan, pengayoman dan bimbingan kepada lingkungan disekitarnya 2. Ditingkat petugas, strategi ini ditunjukan kepada para pimpinan
atau pengambil keputusan, seperti Kepala Puskesmas, pejabat ditingkat Kabupaten/Kota yang secara fungsional maupun struktural pembina program kesehatan diwilayahnya. Tujuannya agar para pemimpin atau pengambil keputusan mengupayakan kebijakan, program atau peraturan yang berorientasi sehat, seperti adanya peraturan tertulis, dukungan dana, komitmen, termasuk memberikan keteladanan
b) Mengembangkan dukungan suasana
1. Ditingkat keluarga/RT, strategi ini ditunjukan kepada para Kepala Keluarga atau menciptakan suasana yang mendukung dilaksanakannya atau menciptakan suasana yang mendukung dilaksanakannya PHBS dilingkungan keluarga
2. Ditingkat petugas, strategi ini ditunjukan kepada kelompok sasaran sekunder, seperti petugas kesehatan, kader lintas program dan media massa. Tujuannya adalah agar kelompok ini dapat mengembangkan atau menciptakan suasana yang mendukung dilaksanakannya PHBS
c) Gerakan Masyarakat
1. Ditingkat keluarga/RT, strategi ini ditunjukkan kepada anggota keluarga, yang mempunyai tanggungjawab sosial untuk lingkungannya dengan cara menjadi kader posyandu, aktif di LSM peduli kesehatan dll. Tujuannya adalah agar kelompok sasaran sehingga dapat berperilaku sehat caranya dengan penyuluhan perorangan, kelompok, membuat gerak perilaku hidup bersih dan sehat
2. Ditingkat petugas, strategi ini ditunjukkan kepada sasaran primer, meliputi pemimpin puskesmas, Kepala Dinas Kesehatan, pemuka masyarakat. Tujuannya adalah meningkatkan motivasi petugas untuk membantu masyarakat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan. Caranya antara
lain melalui penyuluhan kelompok lokakarya seminar, studi banding, pelatihan dan lain-lain (Kemenkes, 2011).
2.5.4 Tahap Pemantauan dan Penilaian
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui program PHBS telah berjalan dan memberikan hasil atau dampak seperti yang diharapkan, maka perlu dilakukan pemantauan. Waktu pemantauan dapat dilakukan secara berkala atau pada pertemuan bulanan, topik bahasannya adalah kegiatan yang telah disepakati bersama. Selanjutnya kendala-kendala yang muncul perlu dibahas dan dicari solusinya. Cara pemantauan dilakukan dengan melakukan kunjungan ke tiap tatanan atau dengan melibatkan buku kegiatan atau laporan kegiatan intervensi.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan instrumen yang sudah dirancang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Penilaian dilaksanakan oleh pengelola PHBS lintas program dan lintas sektor. Penilaian PHBS meliputi masukan, proses dan luaran kegiatan. Misalnya jumlah tenaga terlatih PHBS media yang telah dikembangkan, frekuensi dan cakupan penyuluhan (Kemenkes, 2011).