GAMBARAN PROGRAM PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) TATANAN RUMAH TANGGA DI PUSKESMAS BALARAJA
KABUPATEN TANGERANG TAHUN 2017
Skripsi Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)
Oleh:
Ilmia Nurwahidah NIM : 1113101000060
MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN 2013
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Skripsi, Januari 2018
Ilmia Nurwahidah, NIM: 1113101000060
Gambaran Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja Kabupaten Tangerang Tahun 2017 (xv + 213 halaman, 11 tabel, 3 bagan)
ABSTRAK
Puskesmas merupakan model pelayanan kesehatan yang paling penting, yang berperan dalam mencapai Sustain Development Goals (SDGs) melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Indonesia. PHBS adalah tindakan promotif dan preventif di masyarakat untuk mempromosikan gaya hidup sehat di antara orang-orang.
Studi kualitatif ini menggambarkan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang diterapkan di Kecamatan Balaraja. Wawancara mendalam dilakukan antara 20 (dua puluh) informan yang terdiri dari 3 (tiga) staff kesehatan kabupaten, 2 (dua) Tokoh Masyarakat, 5 (lima) Masyarakat setempat, 5 (lima) Bidan Desa dan 5 (lima) Kader Kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat masalah sistemik (input, proses, dan output) pada Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang menyebabkan penurunan cakupan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dua yang terpenting adalah perilaku merokok di dalam rumah dan perilaku menyusui bayi di kalangan ibu. Selanjutnya, peran utama yang dimainkan dalam Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah kader yang hanya dilatih setahun sekali di bulan Oktober. Selain itu, PHBS juga perlu bersosialisasi dengan tokoh masyarakat untuk mendukung program di daerah mereka.
Meningkatkan pengetahuan, memfasilitasi dan melakukan advokasi melalui koordinasi antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, pemimpin masyarakat dan kader kesehatan diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan. Selain itu, petugas promosi kesehatan profesional juga diharuskan melakukan promosi dan tindakan preventif yang berjalan mulus di masyarakat.
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE DEPARTEMENT OF PUBLIC HEALTH
HEALTH CARE MANAGEMENT Undergraduate Thesis, January 2018 Ilmia Nurwahidah, NIM: 1113101000060
Description of the Clean and Healthy Lifestyle (PHBS) Program of Household Order at Puskesmas Balaraja Tangerang Regency Year 2017 (xv + 213 Pages, 11 Tables, 3 Chart)
ABSTRACT
Public Health Center (PHC) is the most important health service model, which is its role in achieving Sustain Development Goals (SDGs) trough Healthy Live Programs (PHBS) in Indonesian. PHBS is Promotive and Preventive action in communities to promote a healthy lifestyle among people.
This qualitative study describes the PHBS program that applied in Balaraja sub-district. In-depth interviewed was done between 20 (twenty) informant that consists of 3 (three) district health staff, 2 (two) community leaders, 5 (five) local communities,5 (five) local midwife and 5 (five) Health Cadres.
The results showed that there were systemic problems (input, process, and output) in PHBS program that caused reducing its coverage compared to the previous years. The two most important were smoking behaviour inside the houses and behaviour of breastfeeding infant among mothers. Furthermore, the main role played in PHBS program were cadres that were trained only once a year in October. Besides, PHBS also needed to socialize with communities leaders to support the program in their areas.
Increasing knowledge, facilitate and advocacy through coordination among Health sub-districts office, Public Health Center, communities leaders and health cadres were needed to solve the problems. Besides, professional health promotion staff also required to make the promotion and preventive action run smoothly among the communities.
RIWAYAT HIDUP
Data Diri
Nama : Ilmia Nurwahidah
Tempat, Tanggal Lahir : Tangerang, 01 Mei 1995
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Telepon : 085939969385
Email : [email protected]
Alamat : Jalan Cikupa-Pasar Kemis No. 49 Desa Pasir Jaya
Kecamatan Cikupa 15710, Kabupaten Tangerang
Riwayat Pendidikan
2001-2007 : SDN Pasar Kemis 1
2007-2010 : SMPN Pasar Kemis 1
2010-2013 : SMA Citra Islami-Islamic Village
2013-2017 : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Program Studi Kesehatan Masyarakat
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadhirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, atas limpahan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Gambaran Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja Kabupaten Tangerang Tahun 2017. Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rosul tercinta Muhammad SAW yang telah membawa kebenaran yaitu Islam dan telah menjadi suri tauladan bagi kita umatnya. Dengan bekal pengetahuan, pengarahan serta bimbingan yang diperoleh penulis mencoba menyusun skripsi ini. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari dengan sepenuh hati bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis bermaksud menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya kepada:
1. Keluarga tercinta yang telah memberikan doa dan semangat
2. Prof. Dr. Arif Sumantri, S.KM, M.Kes selaku Dekan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Fajar Arianti, S.KM, M.Kes, Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesehatan
4. Fase Badriah, SKM, M.Kes, Ph.D selaku Pembimbing Akademik 5. Baequni S.KM, M.Kes, PhD selaku Pembimbing Skripsi
7. Hj. Dwi Harti Nugraheni, S.KM M.KM selaku Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang
8. Kepala Puskesmas, Petugas dan Kader Kesehatan di Puskesmas Balaraja yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi
9. Intan, Maya, Gita, teman-teman Pathisity 2013 yang telah memberikan semangat berjuang bersama-sama di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta dan Bambang Arie Sadewo yang telah memberikan doa serta semangat untuk kelancaran penyusunan skripsi 10.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
banyak membantu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran agar di masa mendatang penulis dapat menyusun skripsi yang lebih baik lagi. Semoga dengan disusunnya skripsi ini akan memberikan manfaat bagi banyak pihak, khususnya bagi peneliti serta bagi pembaca.
Jakarta, Desember 2017
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Pertanyaan Penelitian ... 5
1.4 Tujuan Penelitian ... 5
1.5 Manfaat Penelitian ... 6
1.6 Ruang Lingkup Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI... 8
2.1 Puskesmas... 8
2.1.1 Definisi Puskesmas ... 8
2.1.2 Tujuan Puskesmas……… ... 10
2.1.3 Fungsi Puskesmas……… ... 10
2.1.4 Peran Puskesmas……….. ... 12
2.2 Promosi Kesehatan ... 13
2.3 Perilaku Kesehatan ... 13
2.3.1 Definisi Perilaku Kesehatan………. ... 13
2.4 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ... 15
2.4.1 Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS) Tatanan Rumah Tangga ... 17
2.5 Manajemen Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ... 17
2.5.1 Pengkajian Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS)………... 17
2.6 Sepuluh Indikator PHBS Tatanan Rumah Tangga ... 23
2.6.1 Persalinan Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan……….. ... 23
2.6.2 Memberi Bayi ASI Ekslusif……….. ... 25
2.6.3 Menimbang Bayi Setiap Bulan………. ... 26
2.6.4 Menggunakan Air Bersih……….. ... 27
2.6.5 Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun……….. ... 28
2.6.6 Menggunakan Jamban Sehat……….. ... 29
2.6.7 Pemberantasan Jentik Nyamuk………. ... 30
2.6.9 Melakukan Aktivitas Fisik Setiap Hari……….. ... 31
2.6.10 Tidak Merokok di Dalam Rumah……… ... 32
2.7 Fungsi Manajemen ... 33
2.7.1 Planning (Perencanaan)……… ... 33
2.7.2 Organizing (Pengorganisasian)……… ... 33
2.7.3 Actuating (Pelaksanaan)……… ... 34
2.7.4 Controlling (Pengawasan)……….. ... 34
2.8 Pendekatan Sistem ... 34
2.9 Kerangka Teori ... 37
BAB III KERANGKA PIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ... 38
3.1 Kerangka Pikir ... 38
3.2 Definisi Istilah ... 39
3.2.1 Masukan (input)……… ... 39
3.2.2 Proses (process)………. ... 40
3.2.3 Keluaran (output)……….. ... 42
3.2.4 Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga ... 42
3.2.5 Penanggungjawab Program Promosi Kesehatan……….. ... 42
3.2.6 Kader Kesehatan……… ... 42
3.2.7 Bidan Desa……….. ... 42
3.2.8 Tokoh Masyarakat……… ... 43
3.2.9 Masyarakat……… ... 43
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN... 44
4.1 Jenis Penelitian ... 44
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 45
4.3 Infoman Penelitian... 45
4.4 Instrumen Penelitian ... 47
4.5 Jenis Data... 47
4.6 Sumber Data ... 48
4.7 Metode Pengumpulan Data ... 48
4.8 Teknik Analisa Data ... 49
4.10 Triangulasi ... 52
BAB V HASIL ... 53
5.1 Gambaran Umum Puskesmas Balaraja ... 53
5.1.1 Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Balaraja………….. ... 53
5.1.2 Data Tenaga Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Balaraja………. ... 55
5.2 Gambaran Input PHBS Tatanan Rumah Tangga Puskesmas Balaraja ... 56
5.2.1 Gambaran Kebijakan PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja……… ... 56
5.2.2 Gambaran Tenaga Kesehatan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja……….. ... 61
5.2.3 Gambaran Pendanaan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja………. ... 64
5.2.4 Gambaran Sarana dan Prasarana Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja……… ... 65
5.3 Gambaran Proses ... 66
5.3.1 Gambaran Perencanaan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja………. ... 66
5.3.2 Gambaran Pengorganisasian Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja……… ... 67
5.3.3 Gambaran Pelaksanaan Program (PHBS) Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja……… ... 69
5.3.4 Gambaran Pengawasan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja………. ... 75
5.4 Komponen Output ... 77
5.4.1 Cakupan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja ... 77
BAB VI PEMBAHASAN ... 81
6.1 Keterbatasan Penelitian ... 81
6.2 Komponen Input ... 81
6.2.1 Kebijakan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja………. ... 81
6.2.3 Pendanaan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas
Balaraja……… ... 86
6.2.4 Sarana dan Prasarana Program PHBS Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja……….. ... 89
6.3 Komponen Proses ... 90
6.3.1 Perencanaan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja……… ... 90
6.3.2 Pengorganisasian Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja……….. ... 92
6.3.3 Pelaksanaan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja………. ... 93
6.3.4 Pengawasan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja……… ... 97
6.4 Komponen Output ... 98
6.4.1 Cakupan Program PHBS Tatanan Rumah Tangga di Puskesmas Balaraja ... 98
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 101
7.1 Simpulan ... 101
7.1.1 Komponen Input………. ... 101
7.1.2 Komponen Proses………... 102
7.1.3 Komponen Output ... 104
7.2 Saran ... 105
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Daftar Informan... 46
Tabel 4.2 Sumber Data ... 48
Tabel 5.1 Jumlah Kepala Keluarga Wilayah Kerja Puskesmas balaraja ... 53
Tabel 5.2 Klasifikasi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin ... 54
Tabel 5.3 Data Tenaga Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Balaraja ... 55
Tabel 5.4 SOP Pendataan Pengkajian PHBS Tatanan Rumah Tangga Puskesmas Balaraja ... 58
Tabel 5.5 SOP Kegiatan Penyuluhan PHBS Tatanan Rumah Tangga Puskesmas Balaraja ... 59
Tabel 5.6 Rencana Usulan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) PHBS Tatanan Rumah Tangga Puskesmas Balaraja ... 67
Tabel 5.7 Hasil Observasi Kegiatan Pengkajian PHBS ... 70
Tabel 5.8 Hasil Observasi Kegiatan Pengkajian PHBS Tatanan Rumah Tangga ... 71
DAFTAR BAGAN
DAFTAR ISTILAH
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
WHO : World Health Organization
PHC : Primary Health Care
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
Kemenkes : Kementerian Kesehatan
BOK : Bantuan Operasional Kesehatan
UKM : Unit Kesehatan Masyarakat
UKP : Unit Kesehatan Perseorangan
SPM : Standar Pelayanan Minimal
SDM : Sumber Daya Manusia
ASI : Air Susu Ibu
KK : Kepala Keluarga
LOKBUL : Lokakarya Bulanan
APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
RUK : Rencana Usulan Kegiatan
JPKM : Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
MR : Measles Rubella
LSS : Lumbar Spinal Stenosis - Terapi Syaraf Kejepit
PIS-PK : Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu
Poskestren : Pos Kesehatan Pesantren
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sehat merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Paradigma sehat menekankan promotif dan preventif sebagai pilar utama upaya kesehatan. Sedangkan penguatan pelayanan kesehatan menekankan peningkatan akses terutama Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) (Republik Indonesia, 2009).
Puskesmas sebagai salah satu jenis fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peranan yang penting dalam pencapaian program Indonesia Sehat. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 menyatakan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat adalah fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya diwilayah kerjanya (Kemenkes, 2014).
mengesampingkan upaya-upaya penanggulangan atau penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitative) (Kemenkes, 2010).
Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan optimal. Dalam mencapai tujuan tersebut telah ditetapkan kebijakan dan visi Indonesia dimasa depan yang ditandai oleh penduduk hidup dalam lingkungan yang sehat, produktif, memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya diseluruh wilayah kerja Republik Indonesia. Promosi kesehatan merupakan pilar utama dari visi Indonesia Sehat 2010, bahkan dapat dikatakan sebagai pilar terpenting karena dengan perilaku hidup bersih dan sehat, akan tercipta pilar-pilar lain yaitu pilar lingkungan sehat dan pilar pelayanan yang bermutu (Kemenkes, 2010).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya memberikan pengalaman belajar bagi perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan edukasi guna meningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku melalui pendekatan advokasi, bina suasana, dan gerakan masyarakat sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatan kesehatan masyarakat (Kemenkes, 2010).
rumah tangga perlu diberdayakan untuk melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (Kemenkes, 2010).
Kebijakan nasional promosi kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan dalam Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai dengan
“Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 2012” dengan target minimal (70%). Berdasarkan Riset Kesehatan Daerah Tahun 2013, secara nasional penduduk telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar (32.3%), belum sesuai target yang ingin dicapai.
Berdasarkan Kemenkes (2008) tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan/Kota, cakupan promosi kesehatan adalah (80%). Proporsi nasional rumah tangga dengan PBHS baik sebesar (32,3%) dengan proporsi tertinggi yaitu pada DKI Jakarta (56,8%) dan terendah pada Papua (16,4%) sedangkan pada daerah Banten sebesar (32,5%) hal ini juga jauh dari kategori PHBS baik (Riskesdas, 2013).
Penelitian oleh Lamawati (2011) mengenai analisis manajemen promosi kesehatan dalam penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Kota Padang Tahun 2011 di dapatkan hasil bahwa tenaga promosi kesehatan puskesmas belum pernah mendapat pelatihan tentang promosi PHBS, dana yang tersedia masih terbatas, metoda yang digunakan berupa penyuluhan, sarana dan prasarana penunjang promosi kesehatan belum mencukupi, perencanaan belum terlaksana secara terpadu, disamping itu pengorganisasian untuk PHBS belum ada, penggerakan masyarakat belum maksimal dan pemantauan penilaian belum dilaksanakan secara rutin.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Balaraja, diketahui angka cakupan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja menurun dari tahun 2015 (78%) dan pada tahun 2016 (61%) belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan yaitu sebesar (70%). Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian mengenai gambaran program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Bagaimana input, process, dan output program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja tahun 2017?
1.4Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja Tahun 2017.
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya input kegiatan berupa kebijakan, tenaga kesehatan, pendanaan dan sarana prasarana program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja.
3. Diketahuinya output berupa cakupan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja pada tahun 2017.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam pengelolaan promosi kesehatan pada Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di tingkat Puskesmas. 2. Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas Balaraja dalam upaya
peningkatan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga melalui optimalisasi upaya kesehatan masyarakat.
3. Sebagai bahan untuk menambah wawasan ilmu kesehatan masyarakat terutama di bidang Manajemen Pelayanan Kesehatan dalam pelaksanaan promosi kesehatan pada program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga.
4. Sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya.
1.6 Ruang Lingkup Penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
2.1 Puskesmas
2.1.1 Definisi Puskesmas
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 128/MENKES/SK/II/2004, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan Kabupaten atau Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja (Kemenkes, 2004). Sedangkan menurut definisi Azwar (1996), Puskesmas adalah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu. Dalam pernyataan lainnya yang disampaikan oleh dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, Puskesmas adalah fasilitas sarana pelayanan kesehatan terdepan dan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di seluruh tanah air, terutama dalam era Jaminan Kesehatan Nasional. Puskemas merupakan salah satu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) milik pemerintah daerah yang memberikan pelayanan kesehatan kepada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (Kemenkes, 2014).
pelayanan kesehatan terdepan di Indonesia dalam menyelenggarakan pelayanan kedokteran (Azwar, 1996). Puskesmas dalam pelaksanaannya mempunyai fungsi-fungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan; pusat pemberdayaan masyarakat; pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama, yang bertanggungjawab memberikan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat (Kemenkes, 2004).
Pelaksanaan pelayanan kesehatan primer menjadi salah satu reformasi kesehatan sistemik dan ideologis yang paling signifikan dari zaman modern. Di negara-negara yang memiliki sistem Primary Health Care (PHC) kuat terbukti lebih efisien, efektif, dan memberikan perawatan kesehatan yang adil (WHO, 2008).
2.1.2 Tujuan Puskesmas
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional, yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Trihono, 2005).
Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas menurut Kemenkes (2014) bertujuan untuk:
a. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat
b. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu c. Hidup dalam lingkungan sehat dan
d. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
2.1.3 Fungsi Puskesmas
Ibukota Kecamatan dengan jumlah penduduk 150.000 jiwa atau lebih, merupakan Puskesmas Pembina yang berfungsi sebagai pusat rujukan bagi Puskesmas Kelurahan dan juga mempunyai fungsi koordinasi (Effendi, 2009).
Trihono (2005) berpendapat bahwa ada 3 (tiga) fungsi Puskesmas yaitu: pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan yang berarti Puskesmas selalu berupaya menggerakan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Disamping itu Puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan diwilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan Puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Kesehatan Perorangan adalah suatu kegiatan atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditunjukan untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan (Trihono, 2005).
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis kesehatan di bawah supervisi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Secara umum, mereka harus memberikan pelayanan preventif, promotif, kuratif sampai dengan rehabilitative baik melalui upaya kesehatan perorangan (UKP) atau upaya kesehatan masyarakat (UKM). Puskesmas dapat memberikan pelayanan rawat inap selain perawatan rawat jalan (Kemenkes, 2014).
2.1.4 Peran Puskesmas
Puskesmas mempunyai peran yang sangat vital sebagai institusi pelaksana teknis, dituntut memiliki kemampuan manajerial dan wawasan jauh ke depan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Peran tersebut ditunjukkan dalam bentuk keikutsertaan dalam menentukan kebijakan daerah melalui sistem perencanaan yang matang dan realistis, tata laksana kegiatan yang tersusun rapih, serta sistem evaluasi dan pemantauan yang akurat. Pada masa mendatang, Puskesmas juga dituntut berperan dalam pemanfaatan teknologi informasi terkait upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara komprehensif dan terpadu (Effendi, 2009).
2.2 Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh untuk dan bersama masyarakat agar mereka dapat menolong pembelajaran diri sendiri serta mengembangkan kegiatan yang bersumberdaya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Kemenkes, 2010).
Berdasarkan definisi tersebut serta sejalan dengan visi, misi Departemen Kesehatan dan fungsi puskesmas khususnya dalam penggerakan dan pemberdayaan keluarga dan masyarakat untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan setiap individu, keluarga serta lingkungannya secara mandiri dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber masyarakat (Kemenkes, 2010).
Secara operasional, upaya promosi kesehatan di puskesmas dilakukan agar masyarakat mampu berperilaku hidup bersih dan sehat sebagai bentuk pemecahan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya, baik masalah-masalah kesehatan yang diderita maupun yang berpotensi mengancam serta mandiri. Disamping itu, petugas kesehatan puskesmas diharapkan mampu menjadi teladan bagi pasien, keluarga dan masyarakat untuk melakukan PHBS (Kemenkes, 2010).
2.3 Perilaku Kesehatan
2.3.1 Definisi Perilaku Kesehatan
kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) keolompok (Notoatmodjo, 2003):
a. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance), adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 (tiga) aspek yaitu:
1. Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit
2. Perilaku peningkatan kesehatan apabila seseorang dalam keadaan sehat
3. Perilaku gizi (makanan dan minuman).
b. Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior) adalah upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
pembuangan tinja, air minum, tempat pembuangan sampah, pembuangan limbah dan sebagainya.
2.3.2 Aspek Sosio-Psikologi Perilaku Kesehatan
Perubahan-perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan sebagainya. Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda, meskipun objeknya sama. Menurut (Notoatmodjo, 2003) mendefinisikan bahwa motivasi adalah sesuatu hal yang menyebabkan dan yang mendukung tindakan atau perilaku seseorang.
Menurut Notoadmodjo (2003), menggambarkan hubungan individu dengan lingkungan sosial yang saling mempengaruhi setiap individu sejak lahir berada dalam suatu kelompok, terutama kelomopok keluarga. Kelompok ini akan membuka kemungkinan untuk dipengaruhi dan mempengaruhi anggota-anggota kelompok lain. Oleh karena itu, setiap kelompok senantiasa berlaku aturan-aturan dan norma-norma sosial tertentu, maka perilaku individu anggota kelompok berlangsung dalam jaringan normatif. Demikian pula perilaku tersebut terhadap masalah-masalah kesehatan.
2.4 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Oleh karena itu kesehatan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta diperjuangkan oleh semua pihak. Rumah tangga sehat berarti mampu menjaga, meningkatkan dan melindungi kesehatan setiap anggota rumah tangga dari gangguan ancaman penyakit dan lingkungan yang kurang kondusif untuk hidup sehat (Kemenkes, 2007).
Keluarga mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, karena dalam keluarga terjadi komunikasi dan interaksi anggota keluarga yang menjadi awal penting dari proses pendidikan perilaku. Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sejak dini yang dilakukan dalam keluarga dapat menciptakan keluarga yang sehat dan aktif dalam setiap upaya kesehatan masyarakat (Kemenkes, 2011).
2.4.1 Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS) Tatanan Rumah Tangga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mencakup semua perilaku yang harus dipraktikkan di bidang pencegahan dan penanggulangan penyakit, penyehatan lingkungan, kesehatan Ibu dan Anak, keluarga berencana, gizi, farmasi, dan pemeliharaan kesehatan. Perilaku-perilaku tersebut harus dipraktikkan oleh semua orang di tatanan rumah tangga (Kemenkes, 2011).
Di rumah tangga, sasaran primer harus mempraktikkan perilaku yang dapat menciptakan Rumah Tangga ber-PHBS, yang mencakup persalinan di tolong oleh Tenaga Kesehatan, memberi ASI ekslusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun, pengelolaan air minum dan makan di rumah tangga, menggunakan jamban sehat, pengelolaan limbah cair di rumah tangga, membuang sampah, memberantas jentik nyamuk, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, tidak merokok di dalam rumah (Kemenkes, 2011).
2.5 Manajemen Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Untuk mewujudkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan rumah tangga diperlukan pengelolaan manajemen program PHBS melalui tahap pengkajian, perencanaan, penggerakan pelaksanaan sampai dengan pemantauan dan penilaian (Kemenkes, 2011).
2.5.1 Pengkajian Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS)
masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya. Oleh karena itu, pengkajian PHBS dilaksanakan melalui penyelenggaraan Promosi Kesehatan, yaitu upaya untuk membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS melalui proses pembelajaran dalam mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi, sesuai sosial budaya setempat serta didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Kemenkes, 2011).
Pengkajian PHBS diluncurkan oleh Pusat Penyuluhan Kesehatan (sekarang Pusat Promosi Kesehatan) pada tahun 1996 dengan menggunakan pendekatan tatanan sebagai strategi pengembangan. Untuk masing-masing tatanan ditetapkan indikator guna mengukur pencapaian pembinaan PHBS. PHBS tatanan rumah tangga sejak dicanangkan tahun 1996 memiliki 10 (sepuluh) indikator yaitu persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, imunisasi dan penimbangan balita, memiliki jamban sehat, memiliki akses air bersih, penangangan sampah, kebersihan kuku, gizi keluarga, tidak merokok dan menyalahgunakan NAPZA, memiliki informasi PMS/AIDS, memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Kemenkes, 2011).
serangkaian diskusi intensif, uji instrumen, uji sistem dan uji statistik untuk melihat keterkaitan indikator-indikator tersebut dengan penyebab terjadinya gangguan kesehatan dan angka kesakitan yang dilakukan sejak tahun 2000 sampai tahun 2003, dari 16 (enam belas) indikator awal ditetapkan 10 (sepuluh) indikator PHBS (Kemenkes, 2011).
Berdasarkan rapat koordinasi promosi kesehatan tingkat nasional, indikator PHBS di rumah tangga diubah menjadi persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberikan ASI ekslusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik nyamuk, mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari dan tidak merokok di dalam rumah (Kemenkes, 2011).
2.5.1.1 Tahap Pengkajian Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS)
Menurut Kemenkes (2007), tujuan pengkajian adalah untuk mempelajari, mengalisis dan merumuskan masalah perilaku yang berkaitan dengan PHBS. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) meliputi pengkajian PHBS secara kualitatif dan pengkajian PHBS secara kuantitatif
data sekunder tersebut. Pengkajian kuantitatif juga melakukan pengambilan sampel PHBS tatanan rumah tangga, menganalisis dan pemetaan PHBS, serta menentukan prioritas masalah (Kemenkes, 2007)
Pengkajian PHBS secara kualitatif dilakukan dengan dua metode yaitu diskusi kelompok dan wawancara perorangan mendalam. Diskusi kelompok dilakukan bersama 6 (enam) sampai 10 (sepuluh) orang yang tujuannya untuk mengungkapkan informasi tentang masalah perilaku PHBS kemudian dalam wawancara mendalam dilaksanakan dengan syarat-syarat yaitu cara pewawancara adalah orang yang terampil dalam menggali informasi secara mendalam tentang perasaan dan pikiran tentang masalah tertentu, sumber informasi kunci adalah peserta wawancara yang dianggap mampu dan dipandang menguasai informasi tentang masalah tertentu serta adanya tanya jawab dilakukan secara terbuka dan mendalam (Kemenkes, 2007). Mendukung pelaksanaan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan bentuk kegiatan kajian tenaga pelaksana PHBS secara jumlah dan pelatihan yang pernah diikuti oleh lintas sektor maupun lintas program, persiapan dana yang tersedia di lintas program dan lintas sektor dalam jumlah dan sumbernya serta persiapaan jenis media dan sarana yang dibutuhkan dalam jumlah dan sumbernya (Kemenkes, 2007).
2.5.2. Tahap Perencanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
a. Menentukan tujuan
Berdasarkan kegiatan pengkajian PHBS dapat ditentukan klasifikasi PHBS wilayah maupun klasifikasi PHBS tatanan, maka dapat ditentukan masalah perilaku kesehatan masyarakat kesehatan dan hasil pengkajian sumber daya puskesmas yang ditentukan tujuan yang akan dicapai untuk mengatasi masalah PHBS yang ditemukan
b. Menentukan jenis kegiatan interval
Setelah ditentukan tujuan, selanjutnya ditentukan jenis kegiatan dengan mengembangkan berbagai alternatif intervensi kemudian dipilih intervensi mana yang bisa dilakukan terkait dengan sumber daya (Kemenkes, 2011).
2.5.3 Tahap Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat a) Pendekatan pada para pengambil keputusan
1. Ditingkat keluarga/rumha tangga, strategi ini ditunjukan kepada para kepala keluarga. Tujuannya agar meneladani dalam berperilaku sehat. Memberikan dukungan, kemudahan, pengayoman dan bimbingan kepada lingkungan disekitarnya 2. Ditingkat petugas, strategi ini ditunjukan kepada para pimpinan
b) Mengembangkan dukungan suasana
1. Ditingkat keluarga/RT, strategi ini ditunjukan kepada para Kepala Keluarga atau menciptakan suasana yang mendukung dilaksanakannya atau menciptakan suasana yang mendukung dilaksanakannya PHBS dilingkungan keluarga
2. Ditingkat petugas, strategi ini ditunjukan kepada kelompok sasaran sekunder, seperti petugas kesehatan, kader lintas program dan media massa. Tujuannya adalah agar kelompok ini dapat mengembangkan atau menciptakan suasana yang mendukung dilaksanakannya PHBS
c) Gerakan Masyarakat
1. Ditingkat keluarga/RT, strategi ini ditunjukkan kepada anggota keluarga, yang mempunyai tanggungjawab sosial untuk lingkungannya dengan cara menjadi kader posyandu, aktif di LSM peduli kesehatan dll. Tujuannya adalah agar kelompok sasaran sehingga dapat berperilaku sehat caranya dengan penyuluhan perorangan, kelompok, membuat gerak perilaku hidup bersih dan sehat
lain melalui penyuluhan kelompok lokakarya seminar, studi banding, pelatihan dan lain-lain (Kemenkes, 2011).
2.5.4 Tahap Pemantauan dan Penilaian
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui program PHBS telah berjalan dan memberikan hasil atau dampak seperti yang diharapkan, maka perlu dilakukan pemantauan. Waktu pemantauan dapat dilakukan secara berkala atau pada pertemuan bulanan, topik bahasannya adalah kegiatan yang telah disepakati bersama. Selanjutnya kendala-kendala yang muncul perlu dibahas dan dicari solusinya. Cara pemantauan dilakukan dengan melakukan kunjungan ke tiap tatanan atau dengan melibatkan buku kegiatan atau laporan kegiatan intervensi.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan instrumen yang sudah dirancang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Penilaian dilaksanakan oleh pengelola PHBS lintas program dan lintas sektor. Penilaian PHBS meliputi masukan, proses dan luaran kegiatan. Misalnya jumlah tenaga terlatih PHBS media yang telah dikembangkan, frekuensi dan cakupan penyuluhan (Kemenkes, 2011).
2.6 Sepuluh Indikator PHBS Tatanan Rumah Tangga
2.6.1 Persalinan Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan
puskesmas atau rumah sakit serta persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan alat-alat yang aman, bersih, dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya.
Peran kader dalam melakukan pengkajian PHBS tatanan rumah tangga agar melakukan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan pendataan jumlah seluruh ibu hamil di wilayah kerjanya dengan memberi tanda seperti stiker
2. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, misalnya dengan penyuluhan kelompok diposyandu, arisan, pengajian, dan kunjungan rumah
3. Menganjurkan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya di bidan atau dokter
4. Bersama tokoh masyarakat setempat berupaya untuk menggerakkan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung keselamatan ibu dan bayi seperti dana sosial bersalin, tabungan ibu bersalin, ambulans desa, calon donor darah, warga dan suami siap antar jaga dan sebagainya 5. Menganjurkan ibu dan bayinya untuk memeriksakan kesehatan ke bidan
atau dokter selama masa nifas (40 hari setelah melahirkan) sedikitnya tiga kali pada minggu pertama, ketiga, dan keenam setelah melahirkan
7. Menganjurkan ibu memberikan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan (ASI Ekslusif) (Depkes, 2011).
2.6.2 Memberi Bayi ASI Ekslusif
Bayi berikan ASI Ekslusif pada usia 0-6 bulan dan hanya ASI saya tanpa memberikan tambahan makanan atau minuman lain. ASI adalah makanan alamiah berupa cairan dengan kandungan gizi yang cukup dan sesuai untuk kebutuhan bayi, sehingga bayi tumbuh dan berkembang dengan baik. ASI pertama berupa cairan bening berwarna kekuningan (kolostrum), dan sangat baik untuk bayi karena mengandung zat kekebalan terhadap penyakit.
Manfaat memberikan ASI bagi ibu yaitu dapat menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi, mengurangi pendarahan setelah persalinan, mempercepat pemulihan kesehatan ibu, menunda kehamilan berikutnya, mengurangi risiko terkena kanker payudara dan lebih praktis karena ASI lebih mudah diberikan pada setiapn saat bayi membutuhkan.
Peran kader dalam mendukung keberhasilan pemberian ASI Ekslusif yaitu sebagai berikut:
1. Mendata seluruh ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi baru lahir yang ada di wilayah kerjanya
2. Memberikan penyuluhan kepada ibu hamil dan ibu menyusui di posyandu tentang pentingnya memberikan ASI Ekslusif
bayinya serta mempersiapkan diri untuk memberikan ASI Ekslusif (Depkes, 2011).
2.6.3 Menimbang Bayi Setiap Bulan
Penimbangan bayi dan balita bertujuan untuk memantau pertumbuhan bayi dan balita setiap bulan. Penimbangan bayi dan balita dilakukan di posyandu setiap bulan mulai umur 1 bulan sampai 5 tahun di posyandu. Manfaat penimbangan balita di posyandu untuk mengetahui apakah balita tumbuh sehat, untuk mengetahui dan mencegah gangguan pertumbuhan balita, untuk mengetahui balita yang sakit, untuk mengetahui kelengkapan imunisasi dan untuk mendapatkan penyuluhan gizi.
Peran kader agar masyarakat mau menimbang bayi dan balita setiap bulan di posyandu yaitu sebagai berikut:
1. Mendata jumlah keseluruhan bayi dan balita yang ada diwilayah kerjanya
2. Memantau jumlah kunjungan ibu yang datang untuk menimbang balitanya di posyandu
4. Melakukan kunjungan rumah kepada ibu yang tidak datang ke posyandu membawa balitanya dan menganjurkan agar rutin menimbang bayi dan balitanya di posyandu
5. Mengadakan kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian dan mendorong masyarkat seperti lomba bayi dan balita sehat, lomba memasak makanan balita sehat, kegiatan makan bersama untuk balita dan sebagainya (Depkes, 2011).
2.6.4 Menggunakan Air Bersih
Air adalah kebutuhan sehari-hari untuk minum, memasak, mandi, berkumur, membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur, mencuci pakaian, dan sebagainya agar masyarakat tidak terkena penyakit atau terhindar dari sakit.
Syarat-syarat air bersih yaitu air tidak berwarna dan harus bening, air tidak keruh, air tidak berasa dan air tidak berbau. Manfaat menggunakan air bersih yaitu agar terhindar dari gangguan penyakit seperti diare, kolera, disentri, typhus, kecacingan, penyakit mata, penyakit kulit atau keracunan serta setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya.
Peran kader dalam menggerakkan masyarakat untuk menggunakan air bersih yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum memiliki ketersediaan air bersih di rumahnya
4. Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakt setempat berupaya untuk memberikan air bersih di lingkungan tempat tinggalnya 5. Mengadakan arisan warga untuk membangun sumur gali atau sumur
pompa secara bergilir
6. Membentuk Kelompok Pemakai Air (POKAIR) untuk memerihara sumber air bersih yang dipakai secara bersama bagi daerah sulit air
7. Menggalang dunia usaha setempat untuk memberi bantuan dalam penyediaan air bersih
8. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya menggunakan air bersih (Depkes, 2011).
2.6.5 Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun
Manfaat mencuci tangan yaitu dapat membunuh kuman penyakit yang ada ditangan, mencegah penularan penyakit dan tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman.
Peran kader dalam melakukan pengkajian perilaku cuci tangan yaitu sebagai berikut:
1. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku cuci tangan, misalnya melalui penyuluhan kelompok di posyandu, arisan, pengajian, pertemuan kelompok Desa Wisma dan kunjungan rumah
2.6.6 Menggunakan Jamban Sehat
Alasan masyarakat harus menggunakan jamban yaitu untuk menjaga lingkungan bersih sehat dan tidak berbau, tidak mencemari sumber air yang ada disekitarnya serta tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular penyakit. Syarat jamban sehat yaitu tidak dicemari sumber air minum, tidak berbau, kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus, tidak mencemari tanah disekitarnya, mudah dibersihkan dan aman digunakan, dilengkapi dinding atap pelindung, penerangan ventilasi cukup, lantai kedap air dan luas memadai serta tersedia air, sabun dan alat pembersih.
Peran kader dalam membina masyarakat untuk memiliki dan menggunakan jamban sehat yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum memiliki serta menggunakan jamban sehat dirumahnya
2. Melaporkan kepada pemerintah desa/kelurahan tentang jumlah rumah tangga yang belum memilki jamban sehat
3. Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat setempat berupaya untuk menggerakkan masyarakat untuk memiliki jamban
4. Mengadakan arisan warga untuk memberi bantuan dalam penyediaan jamban sehat
6. Meminta bantuan petugas puskesmas setempat untuk memberikan bimbingan teknis tentang cara-cara membuat jamban sehat yang sesuai dengan situasi dan kondisi daerah setempat (Depkes, 2011).
2.6.7 Pemberantasan Jentik Nyamuk
Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang setelah dilakukan pemeriksaan jentik secara berkala tidak terdapat jentik nyamuk. Agar rumah bebas jentik yang perlu dilakukan yaitu melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M (Menguras, Menutup, Mengubur dan menghindari gigitan nyamuk).
Manfaat rumah bebas jentik yaitu populasi nyamuk menjadi terkendali sehingga penularan penyakit dengan perantara nyamuk dapat dicegah atau dikurangi, kemungkinan terhindar dari berbagai penyakit dan lingkungan rumah menjadi bersih dan sehat.
Peran kader dalam membina rumah tangga agar menciptakan rumah bebas jentik yaitu sebaga berikut:
1. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya PSN
2. Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat setempat menggerakkan masyarakat untuk melakukan PSN
3. Melakukan pemeriksaan jentik secara teratur setiap minggu dan mencatat angka jentik yang ditemukan pada Kartu Jentik Rumah 4. Mengumpulkan data angka bebas jentik setiap rumah tanagga yang
5. Menginformasikan angka jentik yang ditemukan kepada setiap rumah tangga yang dikunjungi sebagai memberikan penyuluhan agar tetap melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin dan menegur secara baik apabila masih terdapat jentik nyamuk (Depkes, 2011).
2.6.8 Makan Buah dan sayur Setiap Hari
Setiap anggota rumah tangga diharapkan mengkonsumsi sayur dan buah minimal 3 (tiga) porsi buah dan 2 (dua) porsi sayuran atau sebaliknya setiap hari. Sayur yang bagus untuk dikonsumsi yaitu semua sayur terutama sayuran yang berwarna hijau tua, kuning dan orange seperti bayam, kangkung, daun kakuk, wortel, kacang panjang, selada atau daun singkong. Semua buah juga bagus untuk dimakan terutama berwarna merah dan kuning seperti mangga, pepaya, jeruk, jambu biji atau apel lebih banyak kandungan vitamin dan mineral serta seratnya.
Peran keluarga untuk menamkan kebiasaan makan sayur dan buah yaitu sebagai berikut:
1. Manfaatkan pekarangan dengan menanam sayur dan buah
2. Menyediakan sayur dan buah setiap hari di rumah dengan harga terjangkau 3. Perkenalkan sejak dini kepada anak kebiasaan makan buah dan sayur 4. Manfaatkan setiap kesempatan di rumah untuk mengingatkan tentang
pentingnya makan sayur dan buah (Depkes, 2011).
2.6.9 Melakukan Aktivitas Fisik Setiap Hari
kesehatan fisik, mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Aktivitas fisik dilakukan secara teratur sedikit 30 menit dalam sehari sehingga dapat menyehatkan jantung, paru-paru serta alat tubuh lainnya.
Peran keluarga dan kader untuk mendorong anggota keluarga melakukan aktivitas fisik setiap hari yaitu sebagai berikut:
1. Manfaatkan kesempatan di rumah untuk mengingatkan tentang pentingnya melakukan aktivitas fisik
2. Bersama anggota keluarga sering melakukan aktivitas fisik secara bersama 3. Ada pembagian tugas untuk membersihkan rumah atau melakukan
pekerjaan dirumah
4. Kader mendorong lingkungan tempat tinggal untuk menyediakan fasilitas olahraga dan tempat bermain untuk anak
5. Kader memberikan penyuluhan tentang pentingnya melakukan aktivitas fiisk (Depkes, 2011).
2.6.10 Tidak Merokok di Dalam Rumah
Peran keluarga dan kader untuk menciptakan Rumah Tanpa Asap Rokok yaitu sebagai berikut:
1. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku tidak merokok kepada seluruh anggota keluarga
2. Menggalang kesepakatan keluarga untuk menciptakan rumah tanpa asap rokok
4. Tidak menyuruh anaknya membelikan rokok untuk anaknya 5. Orang tua bisa menjadi panutan dalam perilaku tidak merokok
6. Melarang anak tidak merokok bukan karena alasan ekonomi, tetapi justru karena alasan kesehatan (Depkes, 2011).
2.7 Fungsi Manajemen
Menurut Terry (2010), fungsi manajemen dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating, (pelaksanaan) dan controlling (pengawasan).
2.7.1 Planning (Perencanaan)
Planning (perencanaan) ialah penetapan pekerjaan yang harus
dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk dalam
pemilihan alternatif-alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa mendatang. Proses Perencanaan berisi langkah-langkah yautu dalam menentukan tujuan perencanaan; menentukan tindakan untuk mencapai tujuan; mengembangkan dasar pemikiran kondisi mendatang; mengidentifikasi cara untuk mencapai tujuan; dan mengimplementasikan rencana tindakan dan mengevaluasi hasilnya (Terry, 2010).
2.7.2 Organizing (Pengorganisasian)
Organizing berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang
mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap kelompok kepada seorang manajer. Pengorganisasian dilakukan untuk menghimpun dan mengatur semua sumber-sumber yang diperlukan, termasuk manusia, sehingga pekerjaan yang dikehendaki dapat dilaksanakan dengan berhasil (Terry, 2010).
2.7.3 Actuating (Pelaksanaan)
Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa, hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan bersama (Terry, 2010).
2.7.4 Controlling (Pengawasan)
Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara
dan alat untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Tahap-tahap Pengawasan yaitu penentuan standar; penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan; pengukuran pelaksanaan kegiatan; pembanding pelaksanaan dengan standar dan analisa penyimpangan; dan pengambilan tindakan koreksi bila diperlukan (Terry, 2010).
2.8 Pendekatan Sistem
memahami penyebab ganda dari suatu masalah dalam kerangka sistem (Kellogg, 2004).
Menurut (Azwar, 1996), pendekatan sistem adalah sebuah teknik dalam menerapkan pendekatan ilmiah untuk pemecahan masalah-masalah yang komplek. Pendekatan sistem sendiri merupakan kerangka kerja umum dalam pengambilan keputusan yang berdasarkan kepada empat pandangan, yakni;
1) Pendekatan sistem mengharuskan kita menentukan suatu sistem dalam bentuk karakteristik
2) Pendekatan sistem mengharuskan kita mempertimbangkan sistem secara keseluruhan, tidak boleh hanya terfokus pada komponen atau subsistem tertentu saja, tetapi fokus pada pencapaian tujuan sistem secara keseluruhan.
3) Pendekatan sistem berasumsi bahwa selalu ada beberapa alternatif karena itu ada lebih dari satu cara dalam pemecahan masalah. Kita harus dapat membandingkan semua alternatif pemecahan masalah tersebut dan memilih satu alternatif pemecahan masalah yang dianggap sangat berguna dalam pencapaian tujuan sistem.
4) Pendekatan sistem memerlukan implementasi metode ilmiah yang tahap-tahapnya dimulai dari observasi, identifikasi masalah, rumusan masalah, pengambilan data, perumusan hipotesis dan kesimpulan serta dokumentasi hasil.
melakukan kegiatan sesuai rencana kegiatan, dan perubahan atau hasil yang dicapai sesuai yang diharapkan. Berikut adalah model kerangka berpikir (Kellogg, 2004).
a. Input
Input merupakan bagian awal dari sistem yang menyediakan kebutuhan
operasi bagi sistem. Input ini akan berbeda-beda sesuai dengan sasaran operasi dari suatu sistem. Menurut Kellogg (2004) di dalam input terdapat 5 unsur yaitu:
1. Men (Sumber Daya Manusia) 2. Money (Keuangan)
3. Material (Sarana Prasarana) 4. Machines (Peralatan) 5. Method (Metode) b. Aktifitas Program/Proses
Berupa kegiatan proses, alat, tindakan, teknologi, dan kegiatan yang bertujuan sebagai implementasi program. Intervensi ini biasanya digunakan untuk melihat hasil atau perubahan program yang direncanakan. Proses yang dilakukan bisa berdasarkan fungsi manajemen: 1. Perencanaan
Berupa produk langsung dari kegiatan program, dan juga termasuk tipe, level dan target pelayanan yang diinginkan oleh program.
d. Outcome
Perubahan spesifik pada perilaku, pengetahuan, kemampuan, status, dan kinerja peserta program. Outcome jangka pendek harus bisa dicapai dalam kurun waktu satu sampai tiga tahun, sedangkan jangka panjang harus bisa dicapai dalam kurung waktu empat sampai enam tahun.
e. Impact
Perubahan tujuan yang diinginkan atau yang tidak diinginkan yang terjadi didalam organisasi, komunitas atau sistem sebagai dampak dari kegiatan program dalam kurun waktu tujuh sampai sepuluh tahun.
2.9 Kerangka Teori
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dibuat maka dapat disimpulkan kerangka teori seperti yang ditujukkan pada bagan 2.1. Penelitian kali ini bertujuan untuk melihat gambaran Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja. Pendekatan sistem menurut Kellogg (2004) terdapat 5 ( lima) komponen yaitu input, process, output, outcome, dan impact. Teori pendektan sistem yang digunakana tersebut
terlihat dalam gambar berikut ini:
Bagan 2.1 Kerangka Teori Pendekatan Sistem (Kellogg, 2004)
BAB III
KERANGKA PIKIR DAN DEFINISI ISTILAH
3.1 Kerangka Pikir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja, maka disusunlah sebuah kerangka pikir. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teori logic models dengan pendekatan sistem oleh W.K. Kellogg (2004). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari input, proses, dan output.
Pada penelitian ini peneliti hanya meneliti sampai pada tahapan output, dikarenakan untuk hasil dari outcome dapat terlihat 1-3 tahun dari yang direncanakan dan impact atau dampak dari suatu rencana akan terlihat 7-10 tahun (Kellogg, 2004). Sehingga dikarenakan waktu peneliti membatasi penelitian yang tidak sampai ke tahapan outcome dan tahapan impact karena waktu yang diperlukan cukup lama. Untuk memudahkan pemahaman dalam teori pendekatan sistem menurut Kellogg pada komponen input variabel yang diteliti pada input berfokus Kebijakan, Tenaga Kesehatan, Pendanaan, serta Sarana dan Prasarana terkait gambaran program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja. Proses adalah fungsi manajemen dalam gambaran program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja. Output akan dilihat cakupan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga. Oleh karena itu, kerangka pikir penelitian disusun sebagai berikut.
Bagan 3.1 Kerangka Pikir
3.2 Definisi Istilah
Berdasarkan kerangka pikir penelitian, dapat dirumuskan definisi fokus penelitian sebagai berikut:
3.2.1 Masukan (input)
Masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam agar dapat berjalan dengan baik, meliputi: kebijakan, tenaga kesehatan, pendanaan serta sarana dan prasarana.
a. Kebijakan adalah dokumen tertulis berupa Peraturan Bupati di Kabupaten Tangerang terkait PHBS dan perangkat kebijakan berupa Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja. Data diperoleh dari telaah dokumen dan wawancara dengan hasil gambaran kebijakan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja.
b. Tenaga kesehatan adalah petugas pelaksana yang terlibat dan mendukung dalam program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja yang mencakup
kualifikasi pendidikan dan kompetensi petugas. Data diperoleh dari wawancara, telaah dokumen, dan observasi dengan hasil gambaran tenaga kesehatan dalam program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga.
c. Pendanaan adalah sumber dana yang digunakan untuk program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja. Data diperoleh dari wawancara dan telaah dokumen dengan hasil gambaran pendanaan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga.
d. Sarana dan prasarana adalah fasilitas yang tersedia dalam melaksanakan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja. Data diperoleh dari observasi dan wawancara dengan hasil gambaran sarana dan prasarana program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga.
3.2.2 Proses (process)
Proses adalah fungsi manajemen dari program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja.
program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga. Data diperoleh dari wawancara dan telaah dokumen dengan hasil gambaran perencanaan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga.
b. Pengorganisasian adalah suatu struktur kegiatan yang telah dibuat oleh petugas dalam program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja yang berisikan struktur petugas, sumber dana dan jadwal kegiatan. Data diperoleh dari wawancara dan telaah dokumen dengan hasil gambaran pengorganisasian program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tananan rumah tangga.
c. Pelaksanaan adalah suatu proses dalam program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja. Data diperoleh dari wawancara dan observasi dengan hasil gambaran pelaksanaan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga
3.2.3 Keluaran (output)
Keluaran adalah hasil cakupan dari suatu program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja. Data diperoleh dari wawancara dan telaah dokumen dengan hasil gambaran cakupan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga.
3.2.4 Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga
Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga adalah upaya untuk menciptakan dan melestarikan perilaku hidup yang berorientasi kepada kebersihan dan kesehatan di masyarakat, agar masyarakat dapat mandiri dan mencegah serta menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya dengan berpedoman pada sepuluh indikator PHBS.
3.2.5 Penanggungjawab Program Promosi Kesehatan
Penanggungjawab Program Promosi Kesehatan adalah petugas puskesmas yang menjadi pemegang program dan mempertanggungjawabkan segala kegiatan dalam program PHBS tatanan rumah tangga.
3.2.6 Kader Kesehatan
Kader Kesehatan adalah petugas pelaksana yang turun langsung ke lapangan untuk penndataan pengkajian dan melakukan penyuluhan PHBS tatanan rumah tangga.
3.2.7 Bidan Desa
3.2.8 Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat adalah mereka yang memiliki hubungan sosial dengan masyarkat dan memiliki pengaruh terhadap kuat kepada masyarakat dalam PHBS.
3.2.9 Masyarakat
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mengetahui secara jelas dan lebih mendalam tentang gambaran program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja. Menurut Moleong (2005), prosedur penelitian kualitatif bertujuan untuk menghasilkan data deskriptif dan dapat berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini lebih diarahkan pada upaya pencarian latar belakang; secara holistik atau menyeluruh.
Faktor-faktor yang melatarbelakangi sebuah aktivitas yang dilakukan oleh objek penelitian dan berbagai hal yang terdapat didalamnya. Salah satu perbedaan utama dengan metode kuantitatif, dimana metode kualitatif dapat memberikan penjelasan yang luas dan dalam terhadap satu fenomena tertentu. Pendekatan kuantitatif nemiliki kelebihan pengukuran banyak subjek terhadap serangkaian pertanyaan terbatas memungkinkan perbandingan dan agregasi statistik data. Di sisi lain, metode kualitatif menghasilkan kekayaan data rinci tentang sejumlah kecil individu (Patton, 1990).
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif pada penelitian ini agar dapat memahami bagaimana gambaran program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di puskesmas, Kader, Tokoh Masyarakat dan Masyarakat Balaraja.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Balaraja Kabupaten Tangerang pada bulan April hingga Desember 2017. Pemilihan lokasi ini memiliki beberapa pertimbangan, diantaranya yakni penurunan angka cakupan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja.
4.3 Infoman Penelitian
Informan dalam penelitian ini dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu informan kunci, informan utama dan informan pendukung. Informan kunci adalah mereka yang ahli dalam bidangnya serta mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian yaitu Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Kepala Puskesmas Balaraja dan Penanggungjawab Program Promosi Kesehatan. Informan Utama yaitu 5 (lima) Bidan Desa dan 5 (lima) kader di wilayah kerja Puskesmas Balaraja yaitu Kelurahan Balaraja, Desa Sentul, Desa Sentul Jaya, Desa Saga dan Desa Talagasari.
Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2011) bahwa purposive sampling adalah teknik
pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan ini, misalnya orang tersebut dianggap paling mengetahui tentang apa yang kita harapkan dalam penelitian, sehingga memudahkan peneliti mengetahui objek/situasi sosial yang diteliti.
Penentuan jumlah informan pada penelitian ini dilakukan berdasarkan kriteria kecukupan dan kesesuaian. Kecukupan diartikan data yang diperoleh dari informan diharapkan dapat menggambarkan gambaran program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja.
Tabel 4.1 Daftar Informan No Kode
Kesehatan dan Pemberdayaan
Masyarakat Dinas Kesehatan
Kabupaten Tangerang
17 IPM-02 47 Masyarakat Sarjana pendidikan
18 IPM-03 45 Masyarakat SMA
19 IPM-04 48 Masyaarkat SMA
4.4 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, pedoman observasi serta telaah dokumen. Pedoman wawancara yang digunakan untuk mendapatkan informasi terkait program PHBS tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja dan digunakan untuk membantu pengumpulan data dengan teknik wawancara mendalam. Pedoman observasi berisi pernyataan yang dapat memberikan keadaan program PHBS tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja.
4.5 Jenis Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian menggunakan data primer dan data sekunder.
a. Data primer dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara yang berisi butir-butir pertanyaan untuk diajukan kepada informan. Pedoman tersebut digunakan untuk memudahkan wawancara, penggalian data dan informasi (Moleong, 2005).
mencakup SOP pengkajian dan SOP penyuluhan PHBS tatanan rumah tangga, dan lembar observasi pengkajian PHBS tatanan rumah tangga.
4.6 Sumber Data
Sumber Data dalam peneltian ini dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut. Tabel 4.2 Sumber Data Penelitian
4.7 Metode Pengumpulan Data
a) Wawancara mendalam
Wawancara mendalam yang dilakukan pada penelitian ini diharapkan dapat memberikan keterangan dan informasi mendalam berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan secara lisan dan jelas. Menurut Sugiyono (2011), wawancara dilakukan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari informan yang lebih mendalam. Pada penelitian ini peneliti akan menggunakan metode wawancara mendalam untuk mengetahui bagaimana gambaran program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja.
b) Telaah dokumen adalah pengumpulan data melalui pencatatan terhadap dokumen. salah satu metode yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data. Telaah dokumen pada penelitian ini yaitu dengan melakukan pemeriksaan terkait gambaran Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja meluli dokumen-dokumen akan dibandingkan kesesuaiannya dengan dokumen-dokumen-dokumen-dokumen tersebut.
c) Pedoman Observasi adalah prosedur yang berencana meliputi melihat, mendengar, dan mencatat sejumlah dan taraf aktivitas tertentu atau situasi tertentu yang ada hubungannya dengan masalah penelitian (Notoadmodjo, 2003). Observasi yang dimaksud dalam metode pengumpulan data ini ialah melihat kesesuaian pelaksanaan kegiatan sesuai dengan prosedur langkah-langkah Standar Operasional Prosedur terkait program PHBS tatanan rumah tangga di Puskesmas Balaraja.
4.8 Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode analisis data oleh Gale (2013) yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasi data yang telah diolah. Teknik ini dilakukan dengan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan data kualitatif sebelum berfokus pada hubungan bagian-bagian yang berbeda dari data, sehingga dapat menggambarkan peristiwa atau menjelaskan kesimpulan dari berbagai arah. Berikut adalah proses yang dilakukan (Gale, 2013):