BAB IV PENYAJIAN DATA
4.3 Analisis Data dan Pembahasan
4.3.3 Pengklasifikasian Data
Aspek Pemasaran 1. Lokasi strategis
Lokasi sangat straegis dikawasan kuliner dan sering dikunjungi warga kota Medan yang terletak di Jalan Ringroad Medan. Selain itu untuk memperoleh keuntungan juga adalah untuk menciptakan lapangan pekerjaan.
2. Harga kompetitif
Harga makanan mulai dari harga Rp 10.000,00 – Rp 80.000,00. Sedangkan harga minuman berkisar dari Rp 5000,00 – Rp 23.000,00. Harga tersebut dapat dikatakan kompetitif bagi keluarga dan disesuaikan dengan kualitas dan kuantitas produk yang ditawarkan.
a. Pelayanan pelanggan baik
Pelayanannya cukup ramah melayani pemesanan pelanggan. Selain itu penyajian menu yang pelanggan pesan tergolong cepat dan masih hangat. Sedangkan untuk penyajian minuman tergolong cepat juga.
b. Jenis makanan beragam
Ikan Bakar Masto ini menyajikan beberapa jenis makanan diantaranya ikan bakar berbagai jenis ikan, ayam bakar, cumi goreng, udang goreng, ikan goreng tepung, ayam goreng tepung, dan berbagai macam sayuran seperti tumis kangkung, lalapan, dan yang paling spesial itu ikan bakar.
c. Jenis minuman beragam
Ikan Bakar Masto ini menyediakan berbagai macam jenis minuman seperti juice, sop buah, Aqua, teh manis, lemon tea, dan banyak lagi. Aspek Produksi/Operasional
1. Kualitas makanan bagus
Usaha ini memilih bahan baku yang berkualitas agar tidak mengecewakan pelanggan. Sebab apabila pelanggan kecewa, sangat kecil kemungkinan mereka akan datang untuk menikmati sajian Ikan Bakar Masto.
2. Pasokan bahan baku memadai
Pemilik melakukan pemenuhan bahan baku dengan dua cara, yang pertama itu bahan baku seperti ayam, sayur, dan buah itu di pasar tradisional, sedangkan khusus ikan itu ada pemasok sendiri.
3. Jarak usaha dan pemasok berdekatan
Jarak usaha dan pemasok berdekatan sehingga pemilik mudah untuk mendapatkan bahan baku.
4. Fasilitas
Fasilitas di rumah makan Ikan Bakar Masto ini berbagai macam seperti wi-fi, toilet, musholla, tempat parker yang luas.
5. Pekerja sesuai dengan job description
Pekerja sesuai dengan job description masing-masing job description dibutuhkan bagi suatu usaha agar para pekerja dapat bekerja sesuai
6. Karyawan produksi yang berpengalaman
Karyawan produksi yang bekerja untuk membuat berbagai macam jenis makanan yang akan disajikan.
3. Kelemahan Aspek Persaingan
a. Banyak usaha sejenis di sekitar lokasi
Disekitar lokasi banyak usaha yang sejenis, akan tetapi usaha Ikan Bakar Masto ini tetap ungggul untuk keluarga di bidang kuliner.
b. Banyak barang substitusi di sekitar lokasi
Disekitar lokasi usaha berdiri pusat perbelanjaan dan banyak usaha makanan lainnya seperti ayam bakar, ikan bakar, ayam penyet, ayam kremes, nasi goreng, bakso, dan aneka makanan lainnya.
c. Kekuatan tawar menawar pembeli rendah
Meski membeli dalam jumlah banyak seperti order makanan, akan tetapi pembeli tidak melakukan negosiasi penurunan harga.
d. Kekuatan tawar menawar pemasok rendah
Usaha ini memiliki pemasok bahan baku langganan akan tetapi apabila pemasok menawarkan harga tinggi pemilik usaha tidak melakukan penawaran sehingga menguntungkan pihak pemasok.
Tabel 4.1 Matriks IFAS
(Internal Factory Analysis Summary) Faktor - Faktor Strategi
Internal Bobot Rating
Bobot x Rating Strengths (S) Aspek Pemasaran - Lokasi strategis 0,1 4 0,40 - Harga kompetitif 0,075 4 0,30 - Pelayanan baik 0,05 3 0,15
- Jenis makanan beragam 0,075 4 0,30 - Jenis minuman beragam 0,075 4 0,30 Aspek Produksi/Operasional
- Kualitas makanan bagus 0,05 3 0,15 - Pasokan bahan baku
memadai 0,075 4 0,30
- Jarak pemasok dan lokasi
usaha berdekatan 0,05 3 0,15
- Fasilitas 0,75 4 0,30
- Pekerja bekerja sesuai job
description 0,05 3 0,15
- Karyawan bagian produksi
yang berpengalaman 0,05 3 0,15
Sub Total 0,665 2,65
Weakness (W)
Aspek Persaingan
- Banyak barang substitusi
disekitar lokasi 0,05 2 0,10
- kekuatan tawar menawar
pembeli rendah 0,1 2 0,20
- Kekuatan tawar menawar
pemasok tinggi 0,05 2 0,10
- Banyak usaha yang sejenis
disekitar lokasi 0,1 2 0,20
Aspek Keuangan
- Modal mencukupi 0,1 2 0,20
- Laporan keuangan yang
efektif 0,1 2 0,20
Dari hasil analisis pada matriks IFAS, factor strength mempunyai total 2,65 sedangkan weakness mempunyai total nilai skor 1
Peluang
Aspek kebijakan
1. Penawaran kredit ke Bank Ancaman
Aspek Kebijakan
1. Harga bahan baku meningkat 2. Harga sewa bangunan meningkat
Tabel 4.2 Matriks EFAS
(Eksternal Factory Analysis Summary)
Faktor - Faktor Strategi Internal Bobot Rating Bobot x Rating
Opportunities (O)
Aspek Kebijakan
- Penawaran kredit ke Bank 0,175 4 0,70
Sub Total 0,175 0,70
Threats (T)
- Meninggkatkan harga bahan
baku 0,025 3 0,075
- Meningkatnya harga sewa
bangunan 0,175 4 0,060
Sub Total 0,375 1,375
TOTAL 0,550 2,075
Dari hasil analisis pada tabel EFAS, factor opportunity mempunyai total nilai skor 0,70 sedangkan threat mempunyai total nilai skor 1,375
4.3.4 Tahapan Analisis
a. Matriks Penggabungan IFAS + EFAS
Dari hasil Penggabungan IFAS dan EFAS maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.3
Matriks Penggabungan IFAS + EFAS
Sub Total Strength = 2,65 Sub Total Wekness =1 Sub Total Opportunity =0,75 Sub Total Threat =1,375 Sub Total S + O =3,4 Sub Total W + T =2,375 Diketahui bahwa: Strength + Opportunity > Weakness + Threat
Maka faktor strategis kekuatan dan peluang mendukung tercapainya jalan ke luar dari pokok permasalahan yang ada untuk mendapatkan rekomendasi yang diharapkan.
Matriks SWOT, Dari hasil identifikasi factor-faktor tersebut maka dapat digambarkan dalam diagram SWOT, sebagai berikut:
Gambar 4.2 Kuadran SWOT Opportunity ( -0,75 )
3. Strategi Turn Over 1. Strategi Agresif
Weakness ( +1 ) Strength ( +2,65 )
4. Strategi Defensif 2. Strategi Deversifikasi
Threat ( +1,375 )
Dari diagram diatas menunjukkan bahwa strategi yang perlu diterapkan untuk strategi pengembangan bisnis pada Rumah Makan Ikan Bakar Masto Medan adalah
Strategi Agresif, dimana fokus strategi tersebut yang dilakukan untuk lebih meningkatkan produksi berdasarkan perkiraan penjualan setiap hari.
BAB V PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitiaan, adapun indicator yang mendukung kesimpulan tersebut antara lain :
1. Usaha Rumah Makan Ikan Bakar Masto dapat dikatakan usaha menengah kelas atas. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya usaha sejenis, memiliki aneka ragam jenis makanan dan minuman kelas menengah atas.
2. Usaha Rumah Makan Ikan Bakar Masto ini dapat menganalisis secara tepat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, serta peluang-peluang usaha yang dapat mendukung perkembangan usaha Ikan Bakar Masto.
3. Setelah dilakukan analisis SWOT dengan menggunakan IFAS dan EFAS serta diagram SWOT pada usaha rumah makan Ikan Bakar Masto, maka strategi yang tepat dalam meningkatkan pendapatan pada usaha rumah makan Ikan Bakar Masto Jalan Ringroad Medan adalah Strategi Agresif, dimana fokus strategi tersebut yang dilakukan untuk lebih meningkatkan produksi berdasarkan perkiraan penjualan setiap hari.
Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada penelitian ini sebagai berikut : 1. Usaha Rumah Makan Ikan Bakar Masto sebaiknya dapat lebih teliti
dalam menganalisis lingkungan internal perusahaan yakni kekuatan dan kelemahan serta lingkungan eksternal perusahaan yakni peluang dan ancaman agar dapat disusun strategi-strategi yang efektif untuk perkembangan usaha Ikan Bakar Masto.
2. Suasana yang nyaman dan higienis akan dapat menentukan keberhasilan suatu usaha , oleh karena itu Pemilik usaha dituntut untuk setiap saat melakukan inovasi atau perubahan-perubahan terhadap suasana yang lebih baik lagi dan mengupayakan agar para konsumen merasa betah dan tidak akan berpaling kelain tempat
3. Kelemahan usaha diantisipasi dengan menggunakan peluang-peluang yang ada, antara lain meningkatkan pelayanan yang ramah, cepat dan prima, merenovasi rumah makan maupun prasaana lainnya serta menyesuaikan harga dengan kualitas penyajian.
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1. Strategi
2.1.1 Pengertian Strategi
Strategi sering digunakan oleh organisasi dalam mencapai tujuannya,begitu juga dalam dunia bisnis. Biasanya istilah strategi sering digunakan dalam perang guna memenangkan pertempuran dengan lawannya, namun kali ini strategi juga dipergunakan oleh perusahaan dalam memasarkan produknya. Menurut Wikipedia strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan, gagasan, perencnaan dan eksekusi sebuah aktifitas dalam kurun waktu tertentu.dalam kondisi yang yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema , mengindentifikasi factor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisien dalam pendanaan dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif.
Selanjutnya menurut Siagian (2004), strategi adalah serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh menejemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut.
Menurut Januch dan Glueck (1991 : 9), strategi adalah rencana yang disatukan, luas dan integrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan dan yangt dirancang untuk memastikan bahwa tujuan dari perusahaan itu dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat
kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya. (Rangkuti, 2006:3)
Pada umumnya perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang melaksanakan konsep pemasaran yang berorientasi kepada konsumen, karena perusahaan inilah yang mampu menguasai pasar dalam jangka panjang Dalam konteks bisnis, strategi menggambarkan arah bisnis yang mengikuti lingkungan yang dipilih dan merupakan pedoman untuk mengalokasikan sumber daya dan usaha suatu organisasi atau perusahaan.
2.1.2 .Manfaat Strategi
Menurut Greenly dalam David (2002:19) bahwa manajemen stragegi menawarkan manfaat antara lain :
a. Memungkinkan mengenali, menetapkan prioritas, dan memanfaatkan berbagai peluang
b. Menyediakan pandangan objektif mengenai masalah manajemen
c. Menjadi kerangka kerja untuk memperbaiki koordinasi dan pengendalian aktivitas
d. Meminimalkan pengaruh kondisi dan perubahan yang merugikan
e. Memungkinkan keputusan utama yang lebih baik mendukung sasaran yang telah ditetapkan
f. Memungkinkan alokasi waktu dan sumber daya yang lebih efektif untuk mengenali peluang
g. Memungkinkan sumber daya yang lebih kecil dan waktu lebih sedikit dicurahkan untuk mengoreksi kesalahan atau keputusan ad hoc
2.1.3 Strategi Bisnis
Strategi bisnis adalah strategi yang menekan pada peningkatan dari posisikompetitif dari produk atau jasa perusahaan dalam industry yang spesifik atau segmen pasar yang dilayani oleh unit bisnis tersebut (Wheelen dan Hunger, 2011:13).
Strategi bisnis (business Strategy) merupakan strategi yang dibuat pada level unit bisnis dan strateginya lebih di tekankan untuk meningkatkan posisi bersaing produk atau jasa perusahaan didalam suatu industry atau segmen pasar tertentu (Solihin 2012:196).
Strategi bisnis sering juga disebut strategi bisnis secara fungsional karena strategi ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen, seperti strategi pemasaran, strategi produksi atau operasional, strategi distribusi, strategi organisasi, dan strategi-strategi yang berhubungan dengan keuangan.
Pengembangan perencanaan/strategi pada tingkatan bisnis mencakup, sebagai berikut:
a. Tujuan jangka panjang dari unit bisnis.
2.1.4 Jenis-Jenis Strategi pada Unit Bisnis
Strategi pada tingkat bisnis bertujuan untuk mengembangkan suatu bisnis yang akan memungkinkan perusahaan memperoleh keunggulan kompetitif atas pesaingnya dalam suatu pasar atau industri. Porter dalam Solihin (2012:196) menyebutkan ada tiga strategi pada unit bisnis, yaitu:
1. Kepemimpinan biaya (Cost Leadership)
Strategi ini dipilih oleh perusahaan yang memiliki cakupan persaingan (competitive scope) yang luas. Dalam strategi ini perusahaan berusaha mencapai biaya paling rendah disbanding perusahaan lain yang berada dalam satu industri. Keunggulan biaya perusahaan dapat berasal dari penerapan teknologi produksi yang tepat, memiliki akses terhadap bahan baku yang lebih menguntungkan disbanding pesaing, dan sebagainya. Manfaat yang diperoleh dari penerapan strategi ini adalah menghambat masuknya pesaing potensial yang ingin memasuki industri yang sama. 2. Diferensiasi (differentiation)
Perusahaan yang memilih strategi ini harus berusaha untuk memiliki keunikan pada dimensi tertentu dari produk yang mereka hasilkan, dimana keunikan tersebut dianggap bernilai bagi konsumen. Diferensiasi yang dilakukan oleh perusahaan dapat berasal dari produk itu sendiri, system pengantaran pesanan, pendekatan pasaran, dan sebagainya.
3. Fokus (focus)
Perusahaan akan memilih satu atau beberapa kelompok segmen dalam suatu industry kemudian mereka akan mengembangkan strategi yang sesuai untuk segmen tersebut yang tidak bisa dilayani dengan baik oleh pesaing lain yang memiliki cakupan pasar lebih luas. Strategi fokus terbagi dua jenis yaitu: fokus pada biaya (cost focus) dan fokus pada diferensiasi (differentiation focus). Perusahaan yang berfokus pada biaya akan berusaha untuk meraih pelanggan yang memiliki kebutuhan akan produk dengan biaya lebih rendah dalam suatu industry yang tidak dapat dilayani dengan baik oleh perusahaan lain yang memiliki cakupan pasar lebih luas. Sedangkan perusahaan yang berfokus pada diferensiasi akan berusaha meraih pelanggan yang tidak terlayani dengan baik oleh perusahaan lain dengan cara menawarrkan produk atau layanan yang berbeda dengan pesaing.
2.2 Pengembangan Usaha Kecil
Menurut Hunger & Wheelen, (2003:502), perusahaan kecil adalah perusahaan yang dimiliki dan dikelola secara mandiri serta tidak dominan dalam operasinya. Pada tahap awal usaha, perkembangan yang ditunjukkan oleh perusahaan dengan peningkatan volume penjualan. Peningkatan volume penjualan tersebut merupakan bekal usaha jangka panjang untuk memperoleh usaha yang lebih besar lagi (Gitosudarmo, 2001:20).
Secara lebih rinci, Hunger dan Wheelen (2003:514) memaparkan tahap perkembangan perusahaan kecil, yaitu:
1. Tahap Eksistensi
Pada tahap ini, perusahaan menghadapi masalah dalam mendapatkan pelanggan dan menyediakan produk dan jasa yang ditawarkan. Struktur organisasi masih sederhana. Wirausahawan mengerjakan semuanya dan mengkoordinasi bawahan secara langsung.
2. Tahap Kelangsungan Hidup
Pada tahap ini, perusahaan mulai dapat memuaskan kebutuhan pelanggan. Hal ini tercermin dari peningkatan volume penjualan produk. Struktur organisasi masih sederhana, tetapi perusahaan sudah memiliki manajer penjualan yang ditugaskan oleh pemilik.
3. Tahap Sukses
Pada tahap ini, perusahaan telah mencapai tingkatan dimana perusahaan tidak hanya mendapat untung, tetapi juga menghasilkan aliran kas yang cukup untuk diinvestasikan kembali. Struktur organisasi pada tahap ini berubah menjadi struktur organisasi fungsional.
4. Tahap Tinggal Landas
Pada tahap ini perusahaan tumbuh secara cepat. Pendiri harus mendelegasikan tugas kepada manajer professional. Tahap ini adalah tahap transisi dari perusahaan kecil menjadi perusahaan besar.
5. Tahap Kematangan Sumber Daya
Pada tahap ini, perusahaan telah mencapai posisi dan karakteristik perusahaan besar. Perusahaan mungkin masih berukuran kecil sampai sedang, tetapi telah dikenal sebagai perusahaan yang di perhitungkan dalam industry.
2.3 Analisis SWOT (Strenght Weakness Opportunity Threats)
Analisis SWOT atau sering juga disebut Matriks SWOT, merupakan metode perencanaan terstruktur yang digunakan untuk mengevaluasi Strenght (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (peluang). Threats (ancaman) yang terdapat pada suatu proyek atau perusahaan.analisis SWOT dapat digunakan untuk produk, tempat, industry, atau perorangan. Analisis ini melibatkan tujuan spesifik dari bisnis atau proyek dan mengindentifikasikan factor internal dan eksternal yang dapat membantu atau malah menyulitkan tujuan.
Analisis SWOT merupakan alat analisis situasional yang banyak digunakan perusahaan dalam melakukan formulasi strategi (Solihin 2012:164). Analisis strategi ini mengharuskan para manager strategis untuk menemukan peluang-peluang eksternal dan kekuatan-kekuatan internal, disamping memperhatikan ancaman-ancaman eksternal dan kelemahan-kelemahan internal.
Dari hasil analisis SWOT akan diperoleh strategi alternative perusahaan untuk membantu manajer strategis memutuskan kearah mana perusahaan dapat tumbuh dan berkembang. Setiap perusahaan harus melakukan analisis SWOT agar mampu memenangkan persaingan bisnis.
2.3.1 Analisis SWOT terdiri dari 4 (empat) faktor a. Strenght (kekuatan)
Merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi. Atau strength adalah faktor-faktor internal positif yang berperan terhadap kemampuan perusahaan untuk mencapai misi, cita-cita dan tujuan organisasi (Zimmerer, 2002:42). Defenisi tersebut menunjuk bahwa perusahaan memiliki faktor- faktor yang dapat membantu perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan. Faktor- faktor ini harus benar-benar diketahui oleh perusahaan agak tidak salah dalam merancang strategi dalam mencapai visi perusahaan.
b. Weakness (kelemahan)
Weakness (kelemahan) adalah faktor-faktor internal negatif yang merintangi kemampuan perusahaan untuk mencapai misi, cita-cita dan tujuan (Zimerer, 2002:42). Kelemahan dari sebuah perusahaan hendaknya dapat diminimalisir, karena apabila kelemahan ini lebih dominan dari kekuatan maka perusahaan tidak akan survive dalam persaingan bisnis. Dengan kata lain perusahaan harus mampu mengidentifikasikan kelemahannya sedini mungkin agar dapat meminimlkan kelemahan tersebut dan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki.
c. Opportunity (peluang)
Opportunity (peluang) adalah poin-poin eksternal positif yang dapat dimanfaatkan oleh suatu bisnis untuk mencapai misi, cita-cita dan tujuan (Zimeerer, 2002:43). Peluang merupakan lingkungan luar perusahaan sehingga perusahaan tidak dapat menghilangkan atau menciptakan sebuah peluang. Perusahaan hanya dapat mencari informasi mengenai peluang-peluang yang ada dipasar. Perusahaan yang dapat melihat dan memanfaatkan peluang dan memenangkan persaingan dalam dunia bisnis. Oleh sebab itu, setiap perusahaan hendaknya memiliki informasi yang aktual dan akurat mengenai perkembangan dunia bisnis.
d. Threat (ancaman)
Threat (ancaman) adalah kekuatan-kekuatan luar negatif yang merintangi kemampuan perusahaan untuk mencapai misi, cita-cita dan tujuan (Zimmerer, 2002:44). Setiap perusahaan akan menghindari ancaman yang ada, karena ancaman merupakan hal yang dapat menggagalkan tujuan perusahaan. Dengan kata lain setiap perusahaan akan berusaha dan bahkan mungkin menghilangkan ancaman. Akan tetapi ancaman dalam dunia bisnis tidak dapat dihilangkan atau dihindari. Sebuah ancaman hanya dapat diminimalkan dengan kekuatan (strength) yang dimiliki perusahaan. Perusahaan yang mampu menghadapi ancaman dan dapat bertahan maka akan menjadi pemenang dalam persaingan bisnis.
2.3.2 Fungsi SWOT ( Strenght Weakness Opportunity Threat )
Menurut Ferrel dan Harline (2005:48), fungsi analisis SWOT adalah untuk mendapatkan informasi dari analisis situasi dan memisahkannya dalam pokok persoalan internal (kekuatan dan kelemahan) dan pokok persoalan eksternal (peluang dan ancaman). Analisis SWOT tersebut akan menjelaskan apakah informasi tersebut berindikasi sesuatu yang akan membantu perusahaan mencapai tujuannya atau memberikan indikasi bahwa terdapat rintangan yang harus dihadapi atau diminimalkan untuk memenuhi pemasukan yang diinginkan. Analisis SWOT dapat digunakan berbagai cara untuk meningkatkan volume penjualan perusahaan.
Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkan dalam gambar matrik SWOT, dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan mampu mengambil keuntungan dari peluang yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan yang mencegah keuntungan dan peluang, selanjutnya bagaimana kekuatan mampu menghadapi ancaman yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan yang mampu membuat ancaman menjadi nyata atau mnciptakan sebuah ancaman baru.
2.4 Usaha Kecil Menengah (UKM)
Usaha Kecil dan Menengah mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan dalam pendistribusian hasil pembangunan. Dalam krisis ekonomi yang terjadi dinegara kita sejak beberapa waktu lalu, dimaa banyak usaha berskala besar yang mengalami stagnan bahkan berhenti aktifitasnya, sektor UKM justru lebih tangguh dalam menghadapi aktifitas tersebut.
Pengembangan UKM perlu mendapat perhatian yang besar baik dari pemerintah maupun masyarakat agar dapat berkembang yang lebih kompetitip bersama pelaku ekonomi lainnya. Kebijakan pemerintah kedepan perlu diupayakan lebih kondusip bagi tmbuh dan berkembangnya UKM. Pemerintah perlu meningkatkan peranya dalam memberdayakan UKM, disamping mengembangkan kemitraan usaha yang salig menguntungkan antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil, dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, dikarenakan UKM .merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah, meskipun jika di lihat skala ekonominya tidak seberapa jauh namun jumlah UKM sangat besar dan dominan serta sumbangan yang diberikan selama ini baik untuk masyarakat maupun untuk negara dapat dirasakan hasilnya.
Pemerintah pada intinya mempunyi kewajiban untuk memecahkan tiga (3) masalah klasik yang kerap kali menerpa UKM , yakni; akses pasar, modal dan teknologi yang selama ni kerap menjadi pembicaraan diberbagi pertemuan seperti diseminar-seminar maupun konfrensi . secara keseluruhan terdpat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengembangan unit usaha UKM , antara lain kondisi kerja, promosi usaha baru, akses informasi, akses pembiayaan, akses pasar, peningkatan kualitas produk dan sumber daya manusia, ketersediaan layanan pengembangan usaha, pengembangan tingkatan, jaringan bisnis dan kompetisi.
Terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang memandang pentingnya keberadaan UKM yaitu, Pertama karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produkif. Kedua, sebagai bagian dari dinamikanya, UKM sering mencapai peningkatan produktifitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas dari pada usaha besar (Berry, dkk, 2001).
2.4.1 Pengertian Usaha Kecil Menengah (UKM)
Usaha Kecil Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu kejenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Dalam perspektif perkembangannya, UKM dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu :
1. Livelihood Activities, merupakan UKM yang digunakan sebagai kesempatan untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima.
2. Micro enterprice, merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.
3. Small Dynamic Enterprice, merupakan UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan eksport. 4. Fast Moving Enterprice, merupakan UKM yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi usaha besar. Dibawah ini dapat dilihat beberapa Peraturan Perundang-undangan yang berkaitan dengan UKM:
1. UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. 2. PP No. 44 TAHUN 1997 tentang Kemitraan.
3. PP No. 32 tahun 1998 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil.
4. Inpres No. 10 Tahun 1999 tentang Pemberdayaan Usaha MenengahKeppres No. 127 Tahun 2001 tentang Bidang/Jenis Usaha yang dicadangkan untuk Usaha Kecil dan Bidang/jenis Usaha yang terbuka untuk usaha menengah atau besar dengan syarat kemitraan.
6. Permenn BUMN Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara.
7. Undang – Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah.
Dengan diundangkannya Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Kecil Menengah pada tanggal 4 juli 2008, kini Indonesia telah memiliki defenisi UMKM yang lebih lengkap dibanding dengan defenisi dalam UU lama, yaitu : UU No. 5 Tahun 1995, yang mendefenisikan hanya Usaha Kecil.