• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengobatan medika mentosa

Dalam dokumen Rheumatoid Arthritis (Halaman 36-49)

Beberapa contoh obat yang dapat diberikan antara lain:

1. Analgesik (penghilang rasa sakit). Ini tidak mengurangi peradangan namun dapat

membantu dengan kontrol nyeri. Contohnya:

- Acetaminophen dengan kodein (seperti Tylenol dengan kodein).

- Acetaminophen dengan xanax (seperti Vicodin).

- Tramadol.

- Propoxyphene (seperti Darvon).

2. NSAID

Obat anti-infalamasi nonsteroid (NSAID) dapat mengurangi gejala nyeri dan mengurangi

proses peradangan. Obat ini bekerja dengan menghambat enzim siklooxygenase sehingga

menekan sintesis prostaglandin dengan cara menghambat pembebasan dan aktivitas mediator

37 Akan tetapi, obat ini tidak memperlambat kemajuan RA. Maka dari itu, penderita RA

sedang sampai parah sering membutuhkan obat tambahan untuk mencegah kerusakan sendi

lebih lanjut. Yang termasuk dalam golongan ini adalah ibuprofen dan natrium naproxen.

Golongan ini mempunyai risiko efek samping yang tinggi bila di konsumsi dalam jangka waktu

yang lama.

Semua NSAID secara potensial umumnya bersifat toksik. Toksisitas NSAID yang umum

dijumpai adalah efek sampingnya pada traktus gastrointestinalis terutama jika NSAID digunakan

bersama obat obatan lain, alkohol, kebiasaan merokok atau dalam keadaan stress. Usia juga

merupakan suatu faktor risiko untuk mendapatkan efek samping gastrointestinal akibat NSAID.

Pada penderita yang sensitif dapat digunakan preparat NSAID yang berupa suppositoria, pro

drugs, enteric coated, slow release atau non-acidic. Efek samping lain yang mungkin dijumpai

pada pengobatan NSAID antara lain adalah reaksi hiper-sensitivitas, gangguan fungsi hati dan

ginjal serta pe-nekanan sistem hematopoetik.

3. Kortikosteroid

Kortikosteroid mempunyai antiinflamasi dan imunosupresi. Golongan ini bekerja dengan

antigen limfosit sel T, menghambat prostaglandin dan sintesa leukotrien. Golongan

kortikosteroid seperti prednison dan metil prednisolon dapat mengurangi peradangan, nyeri

dan memperlambat kerusakan sendi. Dalam jangka pendek kortikosteroid memberikan hasil

yang sangat baik, namun bila di konsumsi dalam jangka panjang efektifitasnya berkurang dan

memberikan efek samping yang serius. Oleh karena itu, kortikosteroid hanya dipakai untuk

38 samping yang sangat berat. Obat ini bermanfaat sebagai bridging therapy dalam mengatasi

sinovitis sebelum DMARD bekerja, kemudian dihentikan secara bertahap terutama pada pasien

dengan simptom berat. Penggunaan kortikosteroid ini dapat diberikan secara suntikan

intraartikular dengan infeksi disingkarkan terlebih dahulu.

4. Obat remitif (DMARD)

Selain obat-obatan penghilang nyeri dan radang, pasien juga harus sesegera

mungkin mendapat pengobatan awal yang progresif dengan obat perubah

perjalanan penyakit konvensional (disease modifying antirheumatic drugs

(DMARD)). DMARD digunakan untuk melindungi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi

akibat arthrotis reumatoid.

Obat ini diberikan untuk pengobatan jangka panjang. Oleh karena itu diberikan pada

stadium awal untuk memperlambat perjalanan penyakit dan melindungi sendi dan jaringan

lunak disekitarnya dari kerusakan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah klorokuin,

metotreksat salazopirin, dan garam emas. Obat ini harus diberikan pada semua pasien RA,

kecuali yang mempunyai kontra indikasi.

First line pengobatan ini dapat menggunakan metotrexat, hidroxy klorokuin,

sulfasalazine, dan leflunomid. Obat lain yang digunakan antara lain azatioprin, penisilamin,

garam emas, siklosporin. Apabila terapi tunggal tidak efektif mengobatinya, maka dapat

menggunakan kombinasi dua atau lebih DMARD seperti kombinasi metotrexate dengan

39 Jenis-jenis yang digunakan adalah:

a. Klorokuin, paling banyak digunakan karena harganya terjangkau, namun

efektivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang lain. Dosis anjuran klorokuin fosfat 250

mg/hari hidrosiklorokuin 400 mg/hari. Efek samping bergantung pada dosis harian, berupa

penurunan ketajaman penglihatan, dermatitis makulopapular, nausea, diare, dan anemia

hemolitik.

b. Sulfasalazin dalam bentuk tablet bersalut enteric digunakan dalam dosis 1 x 500

mg/hari, ditingkatkan 500 mg per minggu, sampai mencapai dosis 4 x 500 mg. Setelah remisi

tercapai, dosis dapat diturunkan hingga 1 g/hari untuk dipakai dalam jangka panjang sampai

tercapai remisi sempurna. Jika dalam waktu 3 bulan tidak terlihat khasiatnya, obat ini dihentikan

dan diganti dengan yang lain, atau dikombinasi. Efek sampingnya nausea, muntah, dan

dyspepsia.

c. D-penisilamin, kurang disukai karena bekerja sangat lambat. Digunakan dalam dosis

250-300 mg/hari, kemudian dosis ditingkatkan setiap 2-4 minggu sebesar 250-300 mg/hari

untuk mencapai dosis total 4x 250-300 mg/hari. Efek samping antara lain ruam kulit urtikaria

atau mobiliformis, stomatitis, dan glomerulonefritis.

d. Garam emas adalah gold standard bagi DMARD. Khasiatnya tidak diragukan lagi

meski sering timbul efek samping. Auro sodium tiomalat (AST) diberikan intramuskular, dimulai

dengan dosis percobaan pertama sebesar 10 mg, seminggu kemudian disusul dosis kedua

sebesar 20 mg. Seminggu kemudian diberikan dosis penuh 50 mg/minggu selama 20 minggu.

Dapat dilanjutkan dengan dosis tambahan sebesar 50 mg tiap 2 minggu sampai 3 bulan. Jika

40 samping berupa pruritis, stomatitis, proteinuria, trombositopenia, dan aplasia sumsum tulang.

Jenis yang lain adalah auranofin yang diberikan secara oral dalam dosis 2 x 3 mg. Efek samping

lebih jarang dijumpai, namun efektivitas kurang dan pada awal sering ditemukan diare yang

dapat diatasi dengan penurunan dosis.

e. Obat imunosupresif atau imunoregulator.

Metotreksat sangat mudah digunakan dan waktu mula kerjanya relatif pendek

dibandingkan dengan yang lain. Dosis dimulai 5-7,5 mg setiap minggu. Bila dalam 4 bulan tidak

menunjukkan perbaikan, dosis harus ditingkatkan. Dosis jarang melebihi 20 mg/minggu. Efek

samping jarang ditemukan. Penggunaan siklosporin untuk artritis reumatoid masih dalam

penelitian.

f. Biological agent. 22

Ada berbagai jenis agen biologik:

 Modulator sel darah putih termasuk: abatacept (Orencia) dan rituximab (Rituxan)  Tumor necrosis factor (TNF) inhibitor meliputi: adalimumab (Humira), etanercept (Enbrel), infliximab (Remicade), golimumab (Simponi), dan certolizumab (Cimzia)

 Interleukin-6 (IL-6) inhibitor: tocilizumab (Actemra)

Agen biologis bisa sangat membantu dalam mengobati rheumatoid arthritis. Namun,

orang yang memakai obat ini harus diawasi sangat erat karena faktor risiko yang serius: infeksi

41 C. Operasi

Jika berbagai cara pengobatan telah dilakukan dan tidak berhasil serta terdapat alasan

yang cukup kuat, dapat dilakukan pengobatan pembedahan. Jenis pengobatan ini pada pasien

AR umumnya bersifat ortopedik, misalnya sinovektomi (penghapusan lapisan sendi atau

sinovinum), artrodesis, total hip replacement, memperbaiki deviasi ulnar, dan sebagainya. Pada

titik tertentu, penggantian sendi total dibutuhkan. Dalam kasus ekstrim, total lutut, penggantian

pinggul, penggantian pergelangan kaki, penggantian bahu, dan lain-lain dapat dilakukan.

Proses pembedahan lain yang mungkin dilakukan antara lain arthrodesis (fusi gabungan)

dapat membawa stabilitas dan menghilangkan rasa sakit, tetapi hanya dengan harga mobilitas

sendi menurun. Synovectomy (pengangkatan destruktif, berkembang biak sinovium, biasanya di

pergelangan tangan, jari, dan lutut) dapat menghentikan atau menunda perjalanan penyakit.

Komplikasi 7, 12, 13, 23

Gangguan pertumbuhan dan perkembangan merupakan komplikasi yang serius pada RA.

Hal ini terjadi karena penutupan epifisis dini yang sering terjadi pada tulang dagu, metakarpal

dan metatarsal. Kelainan tulang dan sendi lain dapat pula terjadi, yang tersering adalah

ankilosis, luksasio, dan fraktur. Komplikasi-komplikasi ini terjadi tergantung berat, lama penyakit

dan akibat pengobatan dengan steroid. Komplikasi yang lain adalah vaskulitis, ensefalitis.

Amiloidosis sekunder dapat terjadi walaupun jarang dan dapat fatal karena gagal ginjal.

Rheumatoid arthritis adalah bukan hanya penyakit kerusakan sendi. Hal ini dapat

42 o Nodulus reumatoid ekstrasinovial dapat terbentuk pada katup jantung atau pada paru, mata

atau limpa. Fungsi pernapasan dan jantung dapat terganggu.

o Anemia karena kegagalan sumsum tulang untuk menghasilkan cukup sel-sel darah merah

baru

o Kerusakan pada jaringan paru (paru artritis)

o Cedera pada tulang belakang saat tulang leher menjadi tidak stabil sebagai akibat dari RA.

o Reumatoid vaskulitis (radang pembuluh darah) yang dapat menyebabkan bisul dan infeksi

kulit, pendarahan tukak lambung, dan masalah saraf yang menyebabkan nyeri, mati rasa,

atau kesemutan. Vaskulitas juga dapat mempengaruhi otak, saraf, dan jantung, yang dapat

menyebabkan stroke, serangan jantung, atau gagal jantung.

o Pembengkakan dan peradangan pada lapisan luar jantung atau perikarditis dan dari otot

jantung (miokarditis). Kedua kondisi ini dapat menyebabkan gagal jantung kongestif.

o Sindrom Sjogren yang merupakan gangguan autoimun di mana kelenjar yang memproduksi

air mata dan ludah yang hancur. Kondisi ini dapat mempengaruhi berbagai bagian tubuh,

termasuk ginjal dan paru-paru.

Prognosis 12, 19

Tidak adanya RF tidak selalu meramalkan prognosis yang baik. Hasil dapat terganggu

ketika diagnosis dan pengobatan tertunda. Penanda laboratorium lain prognosis yang buruk

meliputi bukti radiologis awal cedera tulang, anemia persisten dari penyakit kronis, peningkatan

43 RA yang tetap terus-menerus aktif selama lebih dari satu tahun kemungkinan akan

menyebabkan deformitas sendi dan kecacatan. Periode kegiatan berlangsung hanya beberapa

minggu atau beberapa bulan diikuti oleh remisi spontan meramalkan prognosis yang lebih baik

Perjalanan penyakit dan hasil pengobatan rhematoid arthritis pada setiap pasien tidak

dapat diprediksi. Terdapat beberapa faktor yang menjadikan prognosis buruk pada pasien

antara lain:

 Poliarthritis generalisa di mana jumlah sendi yang terkena lebih dari 20.  LED dan CRP yang tinggi meskipun sudah menjalani terapi.

 Manifestasi ekstraartikular, misalnya nodul  Faktor rhematoid positif

 Ditemukannya erosi pada radiografi polos dalam kurun waktu 2 tahun sejak onset.  Status HLA-DR4.

 Spektrum beratnya penyakit ini berkisar dari ringan atau subklinis sampai bentuk agresif atau destruktif yang berkaitan dengan angka kematian yang tinggi.

Prognosis sangat ditentukan dari tipe onset penyakitnya (Tabel 3).

Tipe Onset Subtipe Klinis Prognosis

Poliartritis RF+ Wanita

Usia lebih tua Tangan/pergelangan

Erosi sendi Nodul

44 ANA+ Seronegatif Non remisi Wanita Usia muda - Baik Tidak tentu Oligoartritis ANA+ RF+ HLA-B27+ Seronegatif Wanita Usia muda Uveitis Poliartritis Erosi Non Remisi Laki-laki - Sangat baik Kurang baik Buruk Baik Baik

Sekitar 70-90% penderita ARJ sembuh tanpa cacat, 10% menderita cacat sampai dewasa,

sebagaian diantaranya akan berkembang menjadi bentuk dewasa disertai kecacatan.

Faktor Resiko 7, 12, 20, 24

1. Umur

Dari semua faktor resiko untuk timbulnya AR, faktor usia adalah yang terkuat. Prevalensi

dan beratnya AR semakin meningkat dengan bertambahnya umur. AR hampir tak pernah pada

anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun.

2. Jenis Kelamin

Wanita lebih sering terkena AR lutut dan sendi, dan lelaki lebih sering terkena AR paha,

45 sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi AR lebih banyak pada wanita dari

pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis AR.

3. Genetik

Faktor herediter juga berperan pada timbulnya AR. Sebagai contoh, pada ibu dari seorang

wanita dengan AR pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering AR pada

sendi-sendi tersebut, dan anak-anaknya perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih

sering dari pada ibu dan anak perempuan dari wanita tanpa AR.

4. Suku

Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada AR nampaknya terdapat perbedaan diantara

masing-masing suku bangsa, misalnya AR paha lebih jarang diantara orang-orang kulit hitam

dan usia dari pada kaukasia. AR lebih sering dijumpai pada orang – orang Amerika asli dari pada

orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan

pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan.

5. Obesitas (Kegemukan)

Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk

timbulnya AR baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan

dengan AR pada sendi yang menanggung beban, tapi juga dengan AR sendi lain (tangan atau

sternoklavikula).

6. Aktifitas/mobilitas yang berlebihan

46 yang lebih, karena ketika penderita dengan kondisi tubuh yang tidak memungkinkan lagi untuk

banyak bergerak, akan memberatkan kondisi penderita yang menurun terlebih lagi sistem imun

yang sangat buruk. Sehingga penderita dengan sistem imunitas tubuh yang menurun, sangatlah

dibutuhkan perhatian lebih untuk mengurangi /memperhatikan tipe aktifitas/mobilitas yang

berlebih. Hal ini dikarenakan kekuatan sistem muskuloskeletal penderita yang tidak lagi seperti

usianya beberapa tahun yang lalu, masih dapat beraktifitas maksimal.

7. Lingkungan

Mereka yang terdiagnosis atritis reumatoid sangatlah diperlukan adanya perhatian lebih

mengenai keadaan lingkungan yang sangat mendukung. Ketika lingkungan sekitarnya yang tidak

mendukung, maka kemungkinan besar klien akan merasakan gejala penyakit ini. Banyak

diantaranya ketika keadaan suhu lingkungan sekitar penderita yang cukup dingin, maka

penderita akan merasa ngilu, kekakuan sendi pada area-area yang biasa terpapar, sulit untuk

mobilisasi, dan bahkan kelumpuhan.

Pencegahan

Rheumatoid arthritis tidak memiliki pencegahan diketahui. Namun, seringkali mungkin

untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada sendi dengan pengobatan dini yang tepat.

 Olah raga secara rutin. Semua jenis olah raga dapat dilakukan sejauh nyeri atau pembengkakan tidak bertambah.

 Kompres panas atau dingin dapat membantu meredakan nyeri. Kompres panas dapat meredakan rasa kaku sedangkan kompres dingin menyebabkan daerah yang sakit

47 meredakan rasa nyeri.

 Pertahankan berat badan normal. Berat badan yang berlebihan memberikan tekanan yang lebih besar pada persendian sehingga meningkatkan risiko nyeri lutut,

panggul, dan punggung.

 Beritahu pasien tentang obat yang diperlukan dan cara penggunaannya: nama obat, dosis, frekuensi penggunaan, dll

 Beritahu pasien tentang kemungkinan efek samping dari preparat artritis Penutup

Artritis Reumatoid merupakan suatu penyakit autoimun sistemik menahun yang proses

patologi utamanya terjadi di cairan sinovial. Penderita artritis reumatoid seringkali datang

dengan keluhan artritis yang nyata dan tanda-tanda peradangan sistemik. Biasanya gejala

timbul perlahan-lahan seperti lelah, demam, hilangnya nafsu makan, turunnya berat badan,

nyeri, dan kaku sendi. Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam timbulnya penyakit

artritis reumatoid ini antara lain jenis kelamin, keturunan, lingkungan, dan infeksi.

Penyakit ini bersifat kronis dan sering kambuh, maka penderita akan mengalami

penurunan produktivitas pekerjaan karena gejala dan keluhan yang timbul menyebabkan

gangguan aktivitas fisik, psikologis, dan kualitas hidup menderita. Prognosis untuk kehidupan

penderita tidak membahayakan, akan tetapi kesembuhan penyakit sukar tercapai. Untuk itu,

pengobatan perlu diberikan dengan tujuan untuk menghasilkan dan mempertahankan remisi

atau sedapat mungkin berusaha menekan aktivitas penyakit tersebut. Tujuan utama dari

program terapi adalah meringankan rasa nyeri dan peradangan, mempertahankan fungsi sendi

48 Meskipun penderita artritis reumatoid jarang yang sampai menimbulkan kematian,

namun apabila tidak segera ditangani dapat menimbulkan gejala deformitas/cacat yang

menetap. Perjalanan penyakit AR sangat bervariasi,bergantung pada ketaatan pasien untuk

berobat dalam jangka waktu lama. Sekitar 50-75% pasien AR akan mengalami remisi dalam 2

tahun. Selebihnya akan mengalami prognosis yang lebih buruk. Penyebab kematian pada AR

umumnya adalah infeksi, penyakit jantung, gagal pernafasan, gagal ginjal dan penyakit saluran

cerna.

Untuk menentukan kemajuan pengobatan di pakai parameter: lamanya morning stiffness,

banyaknya sendi yang nyeri bila digerakkan/ berjalan, waktu yang diperlukan untuk berjalan

10-15 meter, peningkatan LED, jumlah obat-obatan yang digunakan.

Daftar Pustaka

1. Sudoyono A W, Setiyohadi B, Alwi I dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid III. Edisi V. Jakarta: Interna publishing; 2009.h. 2445-95.

2. Setiyohadi B. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Ed.4. Jilid I. Jakarta: Interna Publishing; 2007: 20-4, 52-3.

3. Jonathan G. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta : Erlangga; 2007. hlm. 196-7. 4. Reksoprodjo S, dkk. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta: FKUI; 2003: 454-64.

5. Swartz MH. Buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: EGC; 2005: 310-33.

6. Dani R. Merokok dapat meningkatkan resiko reumatoid artritis. 4 Juni 2009. diunduh dari : http://bio-fir.info/merokok-dapat-meningkatkan-resiko-rheumatoid-arthritis/. 22 Maret 2013

7. Junadi P, Soemasto AS, dan Amelz H. Kapita selekta kedokteran. Ed 2. Jakarta: Media aesculapius; 1982. hlm 143-56

8. Cell count and differential count for synovial fluid analysis. 8 Desember 2010. Diunduh dari:

http://meded.ucsd.edu/isp/1994/im-quiz/amono.htm. 22 Maret 2013

9. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadribata M, Setiati S. Ilmu penyakit dalam. Edisi 5 Jilid 3. Jakarta: Interna publishing 2009.

49 10. Robbins. Buku Ajar Patologi Volume 2. Edisi 7.Jakarta: Buku Kedokteran EGC.cetakan 1: 2007. Hal

862-864.

11. Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit dalam. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2006.

12. Suarjana I. Ilmu penyakit dalam. Artritis Reumatoid. Jilid III. Jakarta: Interna Publishing; 2009.hlm.2495-509.

13. Smith HR. The Medscape Journal of Medicine. Rheumatoid arthritis. September 2010. Diunduh dari:

http://emedicine.medscape.com/article/331715-overview. 22 Maret 2013.

14. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi robbins. Edisi 7. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.hlm.464-6.

15. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Ed.III. Jakarta: Media Aeculapius;2001.hal.536-39

16. Daud R, Soeroso J,Tehupeiory ES, Isbagio H, dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Ed.4. Jilid II. Jakarta: Interna Publishing; 2007: 1174-81, 95-201, 208-210, 214-220.

17. Romieu I, Hernandez-Avila M, Liang MH. Oral contraceptives and risk of rheumatoid arthritis. A Meta-Analysis of a Conflicting Literature; 2007.

18. Carter, Michael A.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : Buku kedokteran EGC. Cetakan 1: 2006. Hal.1385-1406.

19. Medlineplus medical encyclopedia. Rheumatoid arthritis. 2 Juni 2010. Diunduh dari: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000431.htm 22 Maret 2013

20. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga; 2005.hlm. 374-9, 384-6.

21. Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Jakarta; 2005.

22. J. adam rindfleisch, daniel muller. Rheumatoid arthritis. 7 februari 2010. Diunduh dari:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ . 22 Maret 2013.

23. Wiley J dan Blackwell. ABC of rheumatology. Ed 4. Jakarta: EGC;2010. hlm. 71-8. 24. Sabiston. Buku ajar ilmu bedah. Ed. 1. Jakarta: EGC; 1994.hlm 1234-5.

Dalam dokumen Rheumatoid Arthritis (Halaman 36-49)

Dokumen terkait