• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengobatan Kusta Untuk Situasi Khusus

Jika MDT-WHO tidak dapat dilaksanakan karena berbagai alasan, WHO expert committe pada tahun 1997 mempunyai regimen untuk situasi khusus, yaitu:

a.Penderita tidak dapat diobati dengan rifampisin

Penyebabnya mungkin alergi, gangguan pada fungsi hepar, ada penyakit penyerta atau resisten terhadap obat ini. Regimen untuk penderita ini, adalah:

Lama Pengobatan Jenis Obat Dosis

6 Bulan Klofazimin Ofloksasin Minosiklin 50 mg/hari 400 mg/hari 100 mg.hari Diikuti dengan 18 bulan Klofazimin dengan Ofloksasin 50 mg/hari

atau

Minosiklin 400 mg/hari

100 mg/hari

Pada tahun 1994 WHO Study Group on Chemotherapy of Leprosy menyatakan klaritromisisn 500 mg/hari dapat menggantikan ofloksasin atau minosiklin pada regimen di atas.

b.Penderita yang menolak kofazimin

Biasanya penderita menolak obat ini karena adanya pewarnaan kulit. Untuk itu klofazimin pada MDT_MB dapat diganti dengan ofloksasin 400 mg/hari selama 12 bulan atau minosiklin 100 mg/hari selama 12 bulan.

Pada tahun 1997, WHO Expert of Committe on Leprosy merekomendasikan juga regimen MDT-MB alternatis selama 24 bulan:

-. Rifampisin 600 mg/bulan selama 24 bulan, -. Ofloksasin 400 mg/bulan selama 24 bulan, dan -. Minosiklin 100 mg/bulan selama 24 bulan c.Penderita yang tidak dapat diobati dengan DDS

Bila DDS menyebabkan terjadinya efek samping berat pada penderita PB maupun MB, obat ini harus dihentikan.

Regimen pengganti DDS berikut diberikan selama 6 bulan dengan cara:

Rifampisin Klofazimin

Dewasa 600 mg/bln 50 mg/hari dan 300 mg/bulan

Anak-anak 450 mg/bln 50 mg/hari dan 150 mg/bulan

Di dunia, lepra mungkin penyebab tersering kerusakan tangan. Trauma dan infeksi kronik sekunderdapat menyebabkan hilangnya jari jemari ataupun ekstremitas bagian distal. Juga sering terjadi kebutaan. Fenomena lucio yang ditandai dengan artitis, terbatas pada pasien lepromatosus difus, infiltratif dan non noduler. Kasus klinik yang berat lainnya adalah vaskulitis nekrotikus dan menyebabkan meningkatnya mortalitas. Amiloidos sekunder merupakan penyulit pada penyakit leprosa berat terutama ENL kronik.

XIII.Prognosis

Setelah program terapi obat biasanya prognosis baik, yang paling sulit adalah manajemen dari gejala neurologis, kontraktur dan perubahan pada tangan dan kaki. Ini membutuhkan tenaga ahli seperti neurologis, ortopedik, ahli bedah, prodratis, oftalmologis, physical medicine, dan rehabilitasi. Yang tidak umum adalah secondary amyloidosis dengan gagal ginjal dapat mejadi komplikasi.

Kusta

Definisi

Kusta adalah penyakit infeksi yang berlangsung dalam waktu lama, penyebabnya adalah Mycobacterium leprae. Menyerang saraf tepi sebagai tujuan pertama, lalu kulit dan saluran pernapasan bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Nama lainnya adalah Lepra atau Morbus Hansen

Penyebab

Kuman penyebabnya adalah Mycobacterium leprae yang di temukan G.A. HANSEN pada tahun 1874 di Norwegia, tahan asam dan alkohol, serta dengan pewarnaan giemsa akan menunjukkan hasil Gram positif (berwarna ungu).

Klasifikasi

A. Klasifikasi Internasional : Klasifikasi Madrid (1953) Indeterminate (I)

Tuberkuloid (T)

Borderline-Dimorphous (B) Lepromatosa (L)

B. Klasifikasi untuk kepentingan riset : Klaisfikasi Ridley-Jopling (1962) Tuberkuloid (TT)

Borderline tuberkuloid (BT) Mid-borderline (BB)

Borderline lepromatous (BL) Lepromatosa (LL)

C. Klasifikasi untuk kepentingan program kusta : Klasifikasi WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988)

Pausibasiler (PB) à hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan pemeriksaan BTA negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid

Multibasiler (MB) à termasuk kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan pemeriksaan BTA positif

Gejala Klinis

Diagnosis penyakit kusta didasarkan gambaran tanda dan gejala yang dimiliki. Di antara semuanya, diagnosis secara klinislah yang terpenting dan paling sederhana. Hasil pemeriksaan bakteri memerlukan waktu yang paling sedikit 15-30 menit, sedang pemeriksaan sel memerlukan 3-7 hari. Kalau masih memungkinkan, baik juga dilakukan tes lepromin (Mitsuda) untuk membantu penentuan tipe, yang hasilnya baru dapat diketahui setelah 3-4 minggu. Tidak cukup hanya sampai diagnosis kusta saja, tetapi perlu ditentukan tipenya, sebab penting untuk terapinya.

Kusta terkenal sebagai penyakit yang paling ditakuti karena deformitas atau cacat tubuh. Orang awam pun dengan mudah dapat menduga kearah penyakit kusta. Yang penting setidak-tidaknya dapat menduga ke arah penyakit kusta, terutama bagi kelainan kulit yang berupa perubahan warna seperti hipopigmentasi (warna kulit menjadi lebih terang),

hiperpigmentasi (warna kulit menjadi lebih gelap), dan eritematosa (kemerahan pada kulit).

Gejala lain dari penyakit kusta adalah hilangnya sensasi rasa. Hal ini dengan mudah dapat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik terhadap rasa nyeri, kapas terhadap rasa raba.

Mengenai saraf tepi yang perlu diperhatikan ialah pembesarannya, kekenyalannya, dan nyeri atau tidak. Hanya beberapa saraf yang berada di permukaan kulit yang dapat dan perlu diperiksa, yaitu antara lain Nervus (saraf). Fasialis, N. aurikularis magnus, N. radialis, N. ulnaris, N. medianus, N. poplitea lateralis, N. tibialis posterior

Kecacatan pada kusta, sesuai dengan mekanisme kejadiannya, dapat dibagi dalam deformitas primer dan sekunder. Yang primer sebagai akibat langsung oleh granuloma yang terbentuk sebagai reaksi terhadap M. leprae, yang mendesak dan merusak jaringan di sekitarnya, yaitu kulit, mukosa saluran pernapasan atas, tulang-tulang jari, dan muka. Yang sekunder sebagai akibat kerusakan saraf. Umumnya kecacatan oleh karena keduanya, tetapi terutama oleh yang sekunder.

Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada penemuan tanda cardinal (tanda utama) yaitu: 1. Bercak kulit yang mati rasa

Bercak hipopigmentasi (warna kulit menjadi lebih terang) atau eritematosa (kemerahan pada kulit), makula (mendatar) atau plak (meninggi). Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa raba, rasa suhu, dan rasa nyeri.

Gambar 1. Bercak Eritematosa

Gambar 2. Bercak Hipopigmentasi 2. Penebalan saraf tepi

Dapat disertai rasa nyeri dan dapat juga disertai atau tanpa gangguan fungsi saraf yang terkena, yaitu:

a. Gangguan fungsi sensoris: mati rasa b. Gangguan fungsi motoris: kelumpuhan

c. Gangguan fungsi otonom: kulit kering, retak, bengkak, pertumbuhan rambut yang terganggu.

3. Ditemukan kuman tahan asam

Bahan pemeriksaan adalah hapusan kulit cuping telinga dan lesi kulit pada bagian yang aktif. Kadang-kadang bahan diperoleh dari biopsi kulit atau saraf.

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan bakterioskopik (bakteri di laboratorium)

Pemeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat dari kerokan kulit atau mukosa

hidung yang diwarnai dengan pewarnaan terhadap bakteri tahan asam, antara lain dengan Ziehl Neelsen. Pemeriksaan bakteri negatif pada seorang penderita, bukan berarti orang tersebut tidak mengandung M. leprae.

Pertama-tama kita harus memilih tempat-tempat di kulit yang diharapkan paling padat oleh bakteri, setelah terlebih dahulu menentukan jumlah tempat yang akan diambil. Untuk pemeriksaan rutin biasanya diambil dari minimal 4-6 tempat, yaitu kedua cuping telinga bagian bawah dan 2-4 tempat lain yang paling aktif, berarti yang paling merah di kulit dan infiltratif

2. Pemeriksaan histopatologi (jaringan sel abnormal)

Diagnosis penyakit kusta biasanya dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis secara teliti dan pemeriksaan bakterioskopis. Pada sebagian kecil kasus bila diagnosis masih meragukan, pemeriksaan histopatologis dapat membantu. Pemeriksaan ini sangat membantu khususnya pada anak-anak bila pemeriksaan saraf sensoris sulit dilakukan, juga pada lesi dini contohnya pada tipe indeterminate, serta untuk menentukan tipe yang tepat.

3. Pemeriksaan serologis

Kegagalan pembiakan dan isolasi kuman M. leprae mengakibatkan diagnosis serologis merupakan alternatif yang paling diharapkan. Beberapa tes serologis yang banyak digunakan untuk mendiagnosis kusta adalah :

tes FLA-ABS tes ELISA

tes MLPA untuk mengukur kadar antibodi Ig G yang telah terbentuk di dalam tubuh pasien, titer dapat ditentukan secara kuantitatif dan kualitatif.

Pengobatan

1. DDS (Dapsone).

Bentuk obat berupa tablet warna putih dengan takaran 50 mg/tab dan 100 mg/tablet.

Sifat bakteriostatik yaitu menghalang/menghambat pertumbuhan kuman kusta. Dosis : dewasa 100 mg/hari, anak-anak 1-2 mg/kg berat badan/hari.

Efek samping jarang terjadi, berupa anemia hemolitik.

Manifestasi kulit (alergi) seperti halnya obat lain, seseorang dapat alergi terhadap obat ini. Bila hal ini terjadi harus diperiksa dokter untuk dipertimbangkan apakah obat harus distop.

Manifestasi saluran pencernaan makanan : tidak mau makan, mual, muntah.

Manifestasi urat syaraf; gangguan saraf tepi, sakit kepala vertigo, penglihatan kabur, sulit tidur, gangguan kejiwaan.

2. Lamperene (B663) juga disebut Clofazimine.

Bentuk : kapsul warna coklat.Ada takaran 50 mg/kapsul dan 100 mg/kaps.

Sifat : bakteriostatik yaitu menghambat pertumbuhan kuman kusta dan anti reaksi (menekan reaksi).

Dosis : untuk dipergunakan dalam pengobatan kombinasi,lihat pada regimen pengobatan MDT.

Efek sampingan :

o Gangguan pencernaan berupa diare, nyeri pada lambung. 3. Rifampicin.

Bentuk : Kapsul atau tablet takaran 150 mg, 300 mg, 450 mg dan 600 mg. Sifat : Bakteriosid (Mematikan kuman kusta)

Dosis : Untuk dipergunakan dalam pengobatan kombinasi,lihat pada regimen pengobatan MDT. Untuk anak-anak dosisnya adalah 10-15 mg/kg berat badan. Efek samping : dapat menimbulkan kerusakan pada hati dan ginjal. Dengan

pemberian Rifampicin 600 mg/bulan tidak berbahanya bagi hati dan ginjal

(kecuali ada tanda-tanda penyakit sebelumnya). Sebelum pemberian obat ini perlu dilakukan tes fungsi hati apabila ada gejala-gejala yang mencurigakan. Perlu diberitahukan kepada penderita bahwa air seni akan berwarna merah bila minum obat. Efek samping lain adalah tanda-tanda seperti influenza (flu Syndrom) yaitu

badan panas,beringus,lemah dan lain-lain,yang akan hilang bilamana diberikan obat penghilang gejala. Pengobatan Rifampicin supaya dihentikan sementara bila timbul gejala gangguan fungsi hati dan dapat dilanjutkan kembali bila fungsi hati sudah normal.

4. Prednison.

Obat ini digunakan untuk penanganan/pengobatan reaksi. 5. Sulfat Ferrosus.

Obat tambahan untuk pederita kusta yang Anemia Berat. 6. Vitamin A.

Obat ini digunakan untuk menyehatkan kulit yang bersisik (Ichthiosis). Pencegahan Cacat Kusta

Prinsip yang penting pada perawatan sendiri untuk pencegahan cacat kusta adalah : pasien mengerti bahwa daerah yang mati rasa merupakan tempat risiko terjadinya

luka

pasien dapat melakukan perawatan kulit (merendam, menggosok, melumasi) dan melatih sendi bila mulai kaku

penyembuhan luka dapat dilakukan oleh pasien sendiri dengan membersihkan luka, mengurangi tekanan pada luka dengan cara istirahat

If lepromatous leprosy is left untreated, it can progress to “leonine” facies as seen in the following images.

Diagnosis

This includes physical exam and skin biopsy. Treatment

Once monthly: Rifampin, Dapzone and Clofazimine for two years and then stop. Daily: Sulfone and Clofazimine for two years and then stop.

History

Symptoms

o Painless skin patch accompanied by loss of sensation but not itchiness (Loss of sensation is a feature of tuberculoid leprosy, unlike lepromatous

leprosy, in which sensation is preserved.) Chronic insensate patch is seen in the mage below.

o

Chronic insensate patch due to leprosy infection. Ho Chi

Minh City, Vietnam. (Courtesy of D. Scott Smith, MD)

Chronic insensate patch due to leprosy infection. Ho Chi

Minh City, Vietnam. (Courtesy of D. Scott Smith, MD)

o Loss of sensation or paresthesias where the affected peripheral nerves are distributed

o Wasting and muscle weakness

o Foot drop or clawed hands (may result from neuritic pain and rapid peripheral nerve damage; as seen in the image below)

Characteristic clawed hand deformity caused by ulnar

involvement in leprosy. Daloa, Ivory Coast. (Courtesy of D.

Scott Smith, MD)

Characteristic clawed hand deformity caused by ulnar

involvement in leprosy. Daloa, Ivory Coast. (Courtesy of D.

Scott Smith, MD)

o Ulcerations on hands or feet (ulcer at the metatarsal head is seen in the image below)

Chronic nonhealing ulcer at the metatarsal head resulting

from loss of sensation in the feet. Karigiri, Tamil Nadu,

India. (Courtesy of Tara Ramachandra)

[ CLOSE WINDOW ]

Chronic nonhealing ulcer at the metatarsal head resulting

from loss of sensation in the feet. Karigiri, Tamil Nadu,

India. (Courtesy of Tara Ramachandra)

o Lagophthalmos, iridocyclitis, corneal ulceration, and/or secondary cataract due to nerve damage and direct bacillary skin or eye invasion6

Symptoms in reactions

o Type 1 (reversal) - Sudden onset of skin redness and new lesions

o Type 2 (erythema nodosum leprosum [ENL]; as seen in the image below) - Many skin nodules, fever, redness of eyes, muscle pain, and joint pain o

Patient with erythema nodosum leprosum type 2 reaction

Dokumen terkait