• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODE PENELITIAN

4.5. Pengolahan dan Analisa Data

Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Editing

Tahap pertama yaitu mencocokkan nama dan kelengkapan data responden serta memastikan bahwa semua jawaban sudah diisi responden sesuai petunjuk.

2. Coding

Tahap ini untuk memberikan kode tertentu pada kuesioner untuk mempermudah peneliti dalam proses tabulasi dan analisa data.

3. Entry

Tahap ini memasukkan data dari kuesioner ke dalam program komputer.

4. Cleaning

Pada tahap ini dilakukan pengecekan kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan koreksi.

4.5.2. Analisa Data

Semua data yang telah dikumpulkan, dicatat, dan di kelompokkan kemudian diolah dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) sesuai dengan tujuan penelitian.

4.6. Defenisi Operasional a. Pasca storke

- Defenisi : periode setelah menderita stroke - Alat ukur : kuesioner

- Cara ukur : analisis data - Hasil ukur:

 Pasien pasca serangan stroke - Skala ukur : nominal

 pasien dengan stroke iskemik

 pasien dengan stroke hemoragik - Skala ukur : nominal

c. Letak lesi

- Defenisi : bagian otak yang mengalami kelainan atau disfungsi - Alat ukur : kuesioner

d. Riwayat hipertensi atau diabetes mellitus

- Defenisi : pernah menderita penyakit hipertensi dan atau diabetes mellitus - Alat ukur : kuesioner

- Cara ukur : analisis data

- Hasil ukur :

 Pasien dengan riwayat hipertensi atau diabetes mellitus

 Pasien tidak mempunyai riwayat hipertensi atau diabetes mellitus - Skala ukur : nominal

e. Tingkat pendidikan

- Defenisi : status pendidikan terakhir yang dijalani - Alat ukur : kuesioner

 Pasien tingkat Sarjana - Skala ukur: ordinal f. Gangguan fungsi kognitif

- Defenisi : keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan mengingat, belajar hal-hal baru, berkonsentrasi, atau membuat keputusan dan dapat mempengaruhi aktivitas sehari-harinya.

- Alat ukur : MoCA-Ina - Cara ukur : kuesioner - Hasil ukur:

 Pasien dengan gangguan visuospasial

 Pasien dengan gangguan penamaan

 Pasien dengan gangguan atensi

 Pasien dengan gangguan bahasa

 Pasien dengan gangguan memori

 Pasien dengan ketidakmampuan abstrak

 Pasien dengan gangguan orientasi

- Skala ukur : nominal g. MoCa-Ina

- Defenisi : skor ukur untuk fungsi kognitif - Hasil ukur:

 Skor < 26: pasien dengan ganggan kognitif

 Skor ≥26: pasien tidak mengalami gangguan

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang beralamat di Jalan Bunga Lau No. 17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Madya Medan, Provinsi Sumatera Utara. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit kelas A. RSUP Haji Adam Malik Medan ini juga ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan. Selain itu, RSUP Haji Adam Malik Medan juga merupakan rumah sakit rujukan wilayah Pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, dan Riau.

Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Jalan Departemen Neurologi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang berada di lantai 2.

5.1.2. Deskripsi Hasil Penelitian

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari wawancara pasien di Instalasi Rawat Jalan Departemen Neurology di RSUP. HAM Medan.

Jumlah pasien yang didapatkan sebanyak 62 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitin ini dilakukan dari bulan September sampai Oktober 2016.

5.1.2.1. Demografi Pasien Stroke

Demografi pasien pasca serangan stroke dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.1. Demografi Pasien Stroke

Frekuensi (n) Persentase (%)

Jenis kelamin Laki-laki 36 58%

Faktor resiko Dengan faktor resiko 51 82%

Tanpa faktor resiko 11 18%

Pasien stroke umur < 40 tahun sebanyak 2 pasien (3%), umur 41-60 tahun sebanyak 43 pasien (70%), dan umur > 60 tahun sebanyak 17 pasien (27%). Pasien stroke iskmik sebanyak 50 pasien (81%) dan stroke hemoragik sebanyak 12 pasien (19%).

Pasien dengan lesi di hemisfer kanan sebanyak 22 pasien (35.5%) dan pasien dengan lesi di hemisfer kiri sebanyak 40 pasien (64.5%). Pasien stroke dengan faktor resiko hipertensi atau diabetes mellitus sebanyak 51 pasien (82%) dan pasien stroke tanpa faktor resiko hipertensi atau diabetes mellitus sebanyak 11 pasien (18%). Pasien stroke dengan pendidikan terkahir SD sebanyak 4 pasien (6%), SMP sebanyak 18

pasien (29%), SMA sebanyak 26 pasien (42%), dan Sarjana sebanyak 14 pasien (23%).

5.1.2.2. Gambaran Fungsi Kognitif Berdasarkan Jenis Stroke

Data gambaran fungsi kognitif dengan jenis stroke dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.2. Gambaran Fungsi Kognitif Berdasarkan Jenis Stroke Gangguan Kognitif (n%) Jenis Stroke Stroke Iskemik 50

81%

Stroke Hemoragik 12 19%

Total 62

Berdasarkan Tabel 5.2. dengan menggunakan skor MoCA-Ina didapatkan pasien pasca stroke dengan tipe iskemik yang mengalami gangguan kognitif sebanyak 50 pasien (81%). Sedangkan pada pasien pasca stroke tipe hemoragik sebanyak 12 pasien (19%) yang mengalami gangguan kognitif.

5.1.2.3. Gambaran Fungsi Kognitif Berdasarkan Letak Lesi

Data gambaran fungsi kognitif dengan letak lesi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.3. Gambaran Fungsi Kognitif Berdasarkan Letak Lesi Gangguan Kognitif Letak Lesi Hemisfer Kanan 22

35.5%

Hemisfer Kiri 40 64.5%

Total 62

Berdasarkan Tabel 5.3. gambaran fungsi kognitif berdasarkan letak lesi didapatkan pasien pasca stroke dengan letak lesi di hemisfer kanan mengalami gangguan kognitif sebanyak 22 pasien (35.5%). Sedangkan pada pasien pasca stroke dengan letak lesi di hemisfer kiri yang mengalami gangguan kognitif sebanyak 40 pasien (64.5%).

5.1.2.4. Gambaran Fungsi Kognitif Berdasarkan Faktor Resiko Hipertensi atau Diabetes

Data gambaran kognitif berdasarkan faktor resiko hipertensi dan atau diabetes mellitus adalah sebagai berikut:

Tabel 5.4. Gambaran Fungsi Kognitif Berdasarkan Faktor Resiko Hipertensi atau Diabetes Mellitus

Gangguan Kognitif (n%) Riwayat Ada faktor resiko 51

82%

Tanpa faktor resiko

11

18%

Total 62

Berdasarkan Tabel 5.4. data diatas didapatkan pasien paska stroke dengan faktor resiko hipertensi atau diabetes mellitus mengalami gangguan kognitif sebanyak 51 pasien (82%). Sedangkan pasien paska stroke tanpa faktor resiko yang mengalami gangguan kognitif sebanyak 11 pasien (18%).

5.1.2.5. Gambaran Fungsi Kognitif dengan Tingkat Pendidikan

Data gambaran fungsi kognitif dengan tingkat pendidikan sebagai berikut:

Tabel 5.5. Gambaran Fungsi Kognitif dengan Tingkat Pendidikan Gangguan Kognitif (n%)

Berdasarkan Tabel 5.5. gambaran fungsi kognitif berdasarkan tingkat pendidikan didapatkan pasien pasca stroke dengan pendidikan terakhir SD yang mengalami gangguan kognitif sebanyak 4 pasien (6%), SMP 18 pasien (29%), SMA 26 pasien (42%), dan Sarjana sebanyak 14 pasien (23%).

5.1.2.6. Tabulasi Silang Gambaran Fungsi Kognitif dengan Jenis Stroke

Data tabulasi silang gambaran fungsi kognitif dengan jenis stroke sebagai berikut:

Tabel 5.6. Tabulasi Silang Gambaran Fungsi Kognitif dengan Jenis Stroke

Tipe Stroke Total

Total 50 12 62

Normal 23 5 28

37% 8% 45%

Total 50 12 62

Berdasarkan Tabel 5.6. data tabulasi silang gambaran fungsi kognitif dengan jenis stroke didapatkan pada pengukuran visuospasial bahwa pasien pasca stroke dengan jenis iskemik yg mengalami gangguan sebanyak 50 pasien (81%) dan pada pasien stroke tipe hemoragik yang mengalami gangguan sebanyak 12 pasien (19%). Dari tabel diatas pada pengukuran penamaan, pada pasien stroke iskemik didapatkan sebanyak 9 pasien (15%) mengalami gangguan penamaan dan 41 pasien (66%) lainnya normal sedangkan pada pasien stroke hemoragik sebanyak 2 pasien(3%) mengalami gangguan penamaan dan 10 pasien (16%) lainnya normal. Pada pengukuran atensi, pasien stroke iskmeik yang mengalami gangguan atensi sebanyak 46 pasien (75%) dan yang normal sebanyak 4 pasien (6%), sedangkan pada pasien stroke hemoragik yang mengalami gangguan atensi sebanyak 12 pasien (19%). Pada pengukuran bahasa, didapatkan 50 pasien (81%) stroke iskemik dan 12 pasien (19%) stroke hemoragik mengalami gangguan bahasa.

Pada pengukuran abstraksi, didapatkan pasien stroke iskemik sebanyak 50 pasien (81%) dan 12 pasien (19%) stroke hemoragik mengalami gangguan berbahasa.

Pengukuran delayed recall, didapatkan pada stroke iskemik sebanyak 42 pasien (67%) mengalami gangguan dan 8 pasien (17%) lainnya normal, sedangkan pada pasien stroke hemoragik didapatkan sebanyak 11 pasien (18%) mengalami gangguan dan 1 pasien (2%) normal. Pada pengukuran orientasi, pada stroke iskemik didapatkan sebnayak 27 pasien (44%) mengalami disorientasi dan 23 pasien (37%) lainnya normal, sedangkan pada stroke hemoragik didapatkan sebanyak 7 pasien (11%) yang mengalami disorientasi dan 5 pasien (8%) lainnya normal.

5.1.2.7. Tabulasi Silang Gambaran Fungsi Kognitif dengan Letak Lesi

Data tabulasi silang gambaran fungsi kognitif dengan letak lesi adalah sebagai berikut:

Tabel 5.7. Tabulasi Silang Gambaran Fungsi Kognitif dengan Letak Lesi

Letak Lesi Total

Hemisfer Kanan Hemisfer Kiri

Visuospasial Gangguan 22 40 62

Normal 0 0 0

Berdasarkan Tabel 5.7. tabulasi silang gambaran fungsi kognitif dengan letak lesi didapatkan data pada pasien stroke dengan lesi di hemisfer kanan yang mengalami gangguan visuospasial 22 pasien (35.5%); gangguan penamaan sebanyak 7 pasien (11%) dan normal 15 pasien (24%); gangguan atensi 20 pasien (32%) dan normal 2 pasien (3%); gangguan bahasa 22 pasien (35.5%); gangguan abstraksi 22 pasien (35.5%); gangguan delayed recall sebanyak 20 pasien (32%) dan yang normal 2 pasien (3%); gangguan orientasi sebanyak 25 pasien (41%) dan normal 15 pasien (24%).

Pada pasien pasca stroke dengan lesi di hemisfer kiri yang mengalami gangguan visuospasial 40 pasien (64.5%); gangguan penamaan sebanyak 4 pasien (7%) dan normal 36 pasien (58%); gangguan atensi 38 pasien (62%) dan normal 2 pasien (3%);

gangguan bahasa 40 pasien (64.5%); gangguan abstraksi 40 pasien (64.5%);

gangguan delayed recall sebanyak 33 pasien (53%) dan yang normal 7 pasien (12%);

gangguan orientasi sebanyak 20 pasien (32%) dan normal 2 pasien (3%).

5.1.2.8. Tabulasi Silang Gambaran Fungsi Kognitif dengan Faktor Resiko Hipertensi atau Diabetes Mellitus

Data tabulasi silang gambaran fungsi kognitif dengan faktor resiko hipertensi atau diabetes mellitus adalah sebagai berikut:

Tabel 5.8. Tabulasi Silang Gambaran Fungsi Kognitif dengan Faktor Resiko Hipertensi atau Diabetes Mellitus

Abstraksi Gangguan 51 11 62 stroke dengan faktor resiko hipertensi atau diabetes mellitus didapatkan data yang mengalami gangguan visuospasial 51 pasien (82%); gangguan penamaan sebanyak 8 pasien (13%) dan normal 43 pasien (69%); gangguan atensi 48 pasien (78%) dan normal 3 pasien (4%); gangguan bahasa 51 pasien (82%); gangguan abstraksi 51 pasien (82%); gangguan delayed recall sebanyak 43 pasien (69%) dan yang normal 8 pasien (13%); gangguan orientasi sebanyak 29 pasien (47%) dan normal 22 pasien (35%).

Sedangkan tabulasi silang gambaran fungsi kognitif dengan pasien pasca stroke tanpa faktor resiko hipertensi atau diabetes mellitus yang mengalami gangguan visuospasial 11 pasien (18%); gangguan penamaan sebanyak 3 pasien (5%) dan normal 8 pasien (13%); gangguan atensi 10 pasien (16%) dan normal 1 pasien (2%);

gangguan bahasa 11 pasien (18%); gangguan abstraksi 11 pasien (18%); gangguan delayed recall sebanyak 10 pasien (16%) dan yang normal 1 pasien (2%); gangguan orientasi sebanyak 5 pasien (8%) dan normal 6 pasien (10%).

5.1.2.9. Tabulasi Silang Gambaran Fungsi Kognitif dengan Tingkat Pendidikan Data tabulasi silang antara gambaran fungsi kognitif dengan tingkat pendidikan adalah sebagai berikut:

Tabel 5.9. Tabulasi Silang Gambaran Fungsi Kognitif dengan Tingkat Pendidikan

Normal 0 0 0 0 0 tingkat pendidikan didapatkan data yaitu pada pasien pasca stroke pendidikan terakhir tingat SD yang mengalami gangguan visuospasial sebanyak 4 pasien (6%);

gangguan penamaan sebnyak 1 pasien (2%) dan normal 3 pasien (5%); gangguan atensi sebanyak 4 pasien (6%); ganguan bahasa sebanyak 4 pasien (6%); gangguan abstraksi sebanyak 4 pasien(6%); gangguan delayed recall sebanyak 4 opasien (6%);

dan gangguan orientasi sebanyak 4 pasien(6%).

Pada pasien stroke dengan pendidikan terakhir SMP didapatkan gangguan visuospasial sebanyak 18 pasien (29%); gangguan penamaan sebanyak 3 pasien (5%)

dan normal 15 pasien (24%); gangguan atensi sebanyak 17 pasien (28%) dan normal visuospasial sebanyak 26 pasien (42%); gangguan penamaan sebanyak 4 pasien (6%) dan normal 22 pasien (35%); gangguan atensi sebanyak 25 pasien (41%) dan normal 1 pasien (1.5%); gangguan bahasa sebanyak 26 pasien (42%); gangguan abstraksi sebanyak 26 pasien (42%); gangguan delayed recall sebanyak 21 pasien (34%) dan normal 5 pasien (9%); gangguan orientasi sebanyak 13 pasien (22% ) dan normal 13 pasien (21%).

Pada pasien stroke dengan pendidikan terakhir Sarjana didapatkan gangguan visuospasial sebanyak 14 pasien (23%); gangguan penamaan sebanyak 3 pasien (5%) dan normal 11 pasien (8%); gangguan atensi sebanyak 12 pasien (19%) dan normal 2 pasien (3%); gangguan bahasa sebanyak 14 pasien (23%); gangguan abstraksi pasien. Didapatkan sebanyak 50 pasien (81%) merupakan pasien stroke iskemik dan 12 pasien (19%) merupakan stroke hemoragik. Hal ini sesuai dengan penelitian Widyastuti (2014) dimana didapatkan prevalensi pasien dengan stroke iskemik (70%) lebih banyak dari pasien stroke hemoragik (30%).17 Hal yang sama juga didapatkan pada penelitian Solang (2014) dimana didapatkan pasien stroke iskemik sebanyak 29 pasien (97%) dan stroke hemoragik hanya 1 pasien (3%).18

Dari hasil penelitian ini didapatkan pasien yang mengalami lesi pada hemisfer kanan sebanyak 22 pasien (35.5%) dan lesi pada hemisfer kiri sebanyak 40 pasien (64.5%). Hal ini sesuai dengan penelitian Sitaresmi (2014) dimana pasien stroke dengan lesi pada hemisfer kiri lebih banyak dari pasien dengan lesi pada hemisfer kanan.19 Namun menurut penelitian Solang (2014) terdapat perbedaan dimana pasien dengan lesi pada hemisfer kanan lebih banyak daripada pasien dengan lesi pada hemisfer kiri.18

Berdasarkan ada atau tidaknya faktor resiko yang dimiliki pasien yaitu hipertensi atau diabetes mellitus didapatkan distribusi pasien dengan faktor resiko sebanyak 51 pasien (82%) dan pasien tanpa faktor resiko sebanyak 11 pasien (18%). Dari penelitian Tampubolon (2010) dikatakan bahwa hipertensi dan diabetes mellitus menyebabkan percepatan terjadinya ateriosklerosis pada jaringan otak sehingga dapat menyebabkan stroke.20

Berdasarkan hasil penelitian distribusi pasien stroke dengan tingkat pendidikan terakhir didapatkan pasien stroke dengan pendidikan SD sebanyak 4 pasien (6%), SMP 18 pasien (29%), SMA 26 pasien (42%), dan Sarjana 14 pasien (23%). Hal ini sesuai dengan penelitian Solang (2014) dimana tingkat pendidikan SMA memiliki distribusi terbanyak pada pasien stroke yaitu sebesar 43%.18

5.2.2. Pemaparan Fungsi Kognitif Sampel Penelitian

Pada penelitian ini dengan menggunakan kuesioner Moca-Ina didapatkan pasien pasca stroke iskemik yang mengalami gangguan kognitif sebanyak 50 pasien (81%) dan pada pasien stroke hemoragik sebanyak 12 pasien (19%). Hal ini sesuai dengan penelitian Widyastuti (2014) dimana pasien stroke iskemik lebih banyak terjadi gangguan kognitif.17

Berdasarkan letak lesi didapatkan pasien pasca stroke yang mengalami gangguan kognitif dengan lesi pada hemisfer kanan sebanyak 22 pasien (35.5.%) dan pasien dengan lesi hemisfer kiri sebanyak 40 pasien (64.5%). Dari data ini dapat dihubungkan dengan lesi hemisfer kiri dan kanan memberikan manifestasi gejala

gangguan fungsi kognitif. Lesi pada hemisfer kanan akan menimbulkan gangguan fungsi visuospasial, visuomotor, memori visual, dan koordinasi motorik. Sedangkan lesi pada hemisfer kiri menimbulkan ganguan kemampuan berbahasa, membaca, menulis, menghitung, memori verbal, dan gerakan motorik terampil.

Berdasarkan ada atau tidaknya faktor resiko hipertensi atau diabetes mellitus, pada penelitian ini didapatkan pasien stroke dengan faktor resiko yang mengalami gangguan kognitif sebanyak 51 pasien (82%) dan pasien tanpa faktor resiko didapatkan 11 pasien (18%) yang mengalami gangguan kognitif. Hipertensi dan diabetes mellitus merupakan faktor resiko stroke dimana dapat meneybabkan terbentuknya aterosklerosis pada pmbuluh darah besar jaringan otak. Kapiler dan arteriola jaringan otak akan mengalami penebalan dinding oleh karena terjadi deposisi hyain dan proliferasi tunika intima yang akan menyebabkan penyempitan diameter lumen dan peningkatan resistensi pembuluh darah. Hal tersebut akan menyebabkan penurunan perfusi jaringan otak yang dapat menyebabkan iskemik dan infark lakunar jaringan otak.

Dari data yang didapatkan berdasarkan tingkat pendidikan pasien pasca stroke yang mengalami gangguan kognitif terbanyak adalah tingkat pendidikan SMA yaitu 26 pasien (42%). Hal ini disebabkan karena distribusi pasien dengan tingkat pendidikan SMA lebih banyak. Jika sampel penelitian memiliki distribusi pendidikan yang seimbang maka akan dapat ditentukan gangguan kognitif berdasarkan tingkat pendidikan karena pendidikan merupakan salah satu penentu ada atau tidaknya gangguan kognitif.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian analisis data yang diperoleh, adapun kesimpulan yang dapat diambil pada peneitian ini adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan jenis stroke, angka kejadian gangguan fungsi kognitif terbanyak pada pasien stroke iskemik sebanyak 50 pasien (81%), sedangkan pada stroke hemoragik sebanyak 12 pasien (19%).

2. Berdasarkan letak lesi, angka kejadian gangguan fungsi kognitif pada pasien pasca stroke lebih banyak terjadi pada lesi di hemisfer kiri yaitu 40 pasien (64.5%), sedangkan pada lesi hemisfer kanan sebanyak 22 pasien (35.5%).

3. Berdasarkan riwayat hipertensi atau diabetes mellitus, angka kejadian gangguan fungsi kognitif pada pasien pasca stroke lebih banyak pada pasien yang memiliki riwayat yaitu sebanyak 51 pasien (82%), sedangkan pasien tanpa riwayat sebanyak 11 pasien (18%).

4. Berdsarkan tingkat pendidikan, angka kejadian gangguan kognitif pada pasien pasca stroke terbanyak pada tingkat pendidikan SMA yaitu sebanyak 26 pasien (42%).

6.2. Saran

Ada beberapa hal yang ingin disampaikan oleh peneliti sebagai saran yang dapat digunakan guna mencegah atau memperkecil kemungkinan gangguan kognitif pada pasie pasca stroke. Ada pun hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bagi tenaga medis

- Perlunya dilakukan penilaian fungsi kognitif secara berkala untuk meningkatkan kualitas hidup pasien stroke.

- Diharapkan bagi tenaga medis untuk bisa memberikan edukasi dan pelatihan kognitif pada pasien stroke agar menanggulangi gangguan kognitif yang terjadi..

- Diperlukan penelitian yang lebih lanjut dan analisis lebih dalam agar data tentang demografi lengkap.

2. Bagi masyarakat

- Penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi tambahan untuk masyarakat agar menerapkan pola hidup sehat sehingga tidak terjadi stroke.

- Perlunya pengetahuan masyarakat tentang fungsi kognitif sehingga bila masyarakat memiliki gejala gangguan fungsi kognitif dapat segera berkonsultasi dengan tenaga medis dan dapat segera ditanggulangi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sun JH, Tan L, Yu JT. Post Stroke Cognitive Impairment:

epidemiology,mechanisms,and management. Ann Transl Med. 2014 Jul 2(8):80.

2. Qu Y, Zhou L, Li N, Hu Y, Chen W,Zhou Y, et al. Prevalence of post stroke cognitive impairment in China: a community-based, cross-sectional study. PLos ONE. 2015 10(4):1-13

3. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI . Riset Kesehatan Dasar. Litbang Kemenkes RI; 2013.h. 126-129.

4. Al-Qazzaz, Ali SH, Ahmad SA, Islam S, Mohamad K. Cognitive impairment and memory disfunction after stroke diagnosis: a post-stroke memory assessment.

Neuropsychiatric Disease And Treatment 2014;10:1677-1691.

5. Lamb F, Anderson J, Saling M, Dewey H. Predictors of subjective cognitive complaint in postacute older adult stroke patient. Physical Medicine and Rehabilitation 2013;94:1747-52.

6. Ropper AH, Samueis MA, Klein JP. Adam and Victor’s Principle of Neurology.

10th ed. New York: Mc Graw Hill; 2014.

9. Snell RS. Neuroanatomi Klinik. Jakarta: EGC;2011.

10. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2010.

11. Baehr M, Frotscher M. Diagnosis Topik Neurologi DUUS anatomi, fisiologi,tanda, gejala. ed 4. Jakarta: EGC;2014.

12. Centre fot Disease Control and Prevention(CDC). Stroke: sign and simptom.Atlanta: Division for Heart Disease and Stroke Prevention;2014.

13. Goldszmidt AJ, Caplan LR. Stroke Essential. Jakarta: EGC; 2009.

14. Markam S. Dasar-dasar neuropsikiatri klinis. Jakarta: Sagung seto; 2009.

15. Lumbantobing SM. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta:

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2012.

16. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Ed 5. Jakarta:

Sagung Seto;2014.h.130-145.

17. Widyastuti K, Putra K, Lakmidewi P. Profil Fungsi Kognitif Pada Pasien Stroke Yang Dirawat Di Rumah Sakit Pusat Sanglah Denpasar. Denpasar: FK UNUD:

2013.

18. Solang NA, Maja j, Ngantung DJ. Gambaran Fungsi Eksekutif pada Pasien Stroke Menggunakan Pemeriksaan CDT Di Poli Neurologi RSUP.DR.R Kandou Periode November-Desember 2014. Manado: Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi: 2014.

19. Sitaresmi A. Perbedaan Penurunan Fungsi Kognitif Pada Pasien Stroke Iskemik Lesi Hemisfer Kanan dan Kiri di RSUD Dr. Moewardi. Surakarta : Universitas Sebelas Maret: 2014.

20. Tampubolon A. Hubungan Antara Lokasi Infark dengan Timbulnya Dementia Pasca Stroke. Semarang: Universitas Diponegoro: 2010.

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap : Maulia Windani

Tempat dan Tanggal lahir : Medan, 05 Agustus 1995

Agama : Islam

Alamat : Jl. Tuar Raya No.18 Blok XI Griya Martubung Medan Nama Orang Tua : Muhammad Rumawi Nasution, S.E

Rosmaniar

Riwayat Pendidikan : 1. TK Nurul Mashitah (2000-2001) 2. SD. Hang Tuah II (2001-2007)

3. SMP Shaffiyatul Amaliyyah (2007-2010) 4. SMA Negeri 3 Medan (2010-2013)

5.Fakultas Kedokteran USU (2013-sekarang) Riwayat Organisasi : PEMA FK USU

LAMPIRAN 2

LEMBAR PENJELASAN

Dengan hormat,

Saya, Maulia Windani, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2013, saat ini sedang melakukan penelitian dengan judul “Gambaran Fungsi Kognitif pada Pasien Stroke di RSUP. Haji Adam Malik Medan”. Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan proses belajar saya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif pada pasien paska stroke. Manfaat yang diharapkan adalah dapat memberikan informasi mengenai gangguan fungsi kognitif bagi pasien dan yang memberikan perawatan bagi pasien. Untuk mendapatkan data penelitian ini, saya akan melakukan wawancara terstruktur kepada Bapak/Ibu dengan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai fungsi kognitif dengan menggunakan kuesioner MoCA-Ina. Wawancara berlangsung sekitar 15 menit.

Partisipasi Bapak/Ibu bersifat sukarela dan tidak ada paksaan dari manapun serta dapat mengundurkan diri sewaktu-waktu. Setiap data yang ada dalam penelitian ini akan dirahasiakan dan digunakan untuk kepentingan penelitian. Untuk penelitian ini Bapak/Ibu tidak dikenakan biaya apapun. Bila terdapat hal yang tidak dimengerti Bapak/Ibu bisa langsung bertanya kepada peneliti.

Atas perhatian dan kesediaan Bapak/Ibu menjadi partisipan dalam penelitian ini, saya mengucapkan terima kasih.

Medan, 2016

Peneliti,

(Maulia Windani)

LAMPIRAN 3

LEMBAR PERSETUJUAN

Saya yang bertandatangan dibawah ini:

Nama : Umur : Alamat:

telah benar-benar paham atas penjelasan yang disampaikan oleh peneliti mengenai penelitian ini yang berjudul “Gambaran Fungsi Kognitif pada Pasien Stroke di RSUP.

Haji Adam Malik Medan”. Oleh karena itu, saya menyatakan bersedia menjadi partisipan dalam penelitian ini.

Demikian persetujuan ini saya sampaikan dengan sukarela dan tanpa paksaan dari pihak manapun.

Medan, 2016

Hormat saya,

( ________________________ )

LAMPIRAN 4

LAMPIRAN 5

NAMA JENIS KELAMIN UMUR JENIS STROKE LETAK LESI FAKTOR RESIKO PENDIDIKAN VISUOSPASIAL PENAMAAN ATENSI BAHASA ABSTRAKSI DELAYED RECALL ORIENTASI JUMLAH

SR P 51 SI D Y SMP 0 3 4 2 0 5 4 18

LK L 52 SI S Y SMA 1 3 3 1 1 4 6 18

LAMPIRAN 6

jenis stroke

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

umur kelompok

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid L 36 58.1 58.1 58.1

P 26 41.9 41.9 100.0

Total 62 100.0 100.0

jenis stroke * jumlah total Crosstabulation Count

letak lesi * jumlah total Crosstabulation Count

riwayat hipertensi * jumlah total Crosstabulation Count

jumlah total

Total gangguan

riwayat hipertensi ada riwayat 51 51

tidak ada riwayat 11 11

Total 62 62

tingkat pendidikan * jumlah total Crosstabulation Count

jenis stroke * visuospasial kelompok Crosstabulation

jenis stroke * atensikel kognitif Crosstabulation Count

jenis stroke * orientasikel kognitif Crosstabulation

jenis stroke * abstraksikel kognitif Crosstabulation Count

jenis stroke * recallkel kognitif Crosstabulation Count

jenis stroke * bahasakel kognitif Crosstabulation Count

jenis stroke * penamaankel kognitif Crosstabulation

Count

letak lesi * visuospasial kelompok Crosstabulation Count

letak lesi * penamaankel kognitif Crosstabulation Count

letak lesi * atensikel kognitif Crosstabulation Count

atensikel kognitif

Total gangguan normal

letak lesi hemisfer kiri

38

2 40

hemisfer kanan 20 2 22

Total 58 4 62

letak lesi * bahasakel kognitif Crosstabulation

Count

letak lesi * abstraksikel kognitif Crosstabulation Count

letak lesi * recallkel kognitif Crosstabulation Count

letak lesi * orientasikel kognitif Crosstabulation Count

riwayat hipertensi * visuospasial kelompok Crosstabulation

Count

visuospasial kelompok

Total gangguan

riwayat hipertensi ada riwayat 51 51

tidak ada riwayat 11 11

Total 62 62

riwayat hipertensi * penamaankel kognitif Crosstabulation Count

riwayat hipertensi * atensikel kognitif Crosstabulation Count

riwayat hipertensi * bahasakel kognitif Crosstabulation Count

bahasakel kognitif

Total gangguan

riwayat hipertensi ada riwayat 51 51

tidak ada riwayat 11 11

Total 62 62

riwayat hipertensi * abstraksikel kognitif Crosstabulation

riwayat hipertensi ada riwayat 51 51

tidak ada riwayat 11 11

Total 62 62

riwayat hipertensi * recallkel kognitif Crosstabulation Count

riwayat hipertensi * orientasikel kognitif Crosstabulation Count

tingkat pendidikan * visuospasial kelompok Crosstabulation Count

Sarjana 14 14

Total 62 62

tingkat pendidikan * penamaankel kognitif Crosstabulation Count

tingkat pendidikan * atensikel kognitif Crosstabulation Count

tingkat pendidikan * bahasakel kognitif Crosstabulation Count

tingkat pendidikan * abstraksikel kognitif Crosstabulation

tingkat pendidikan * recallkel kognitif Crosstabulation Count

tingkat pendidikan * recallkel kognitif Crosstabulation Count

tingkat pendidikan * orientasikel kognitif Crosstabulation Count

orientasikel kognitif

Total gangguan normal

tingkat pendidikan SD 4 0 4

SMP 12 6 18

SMA 13 13 26

Sarjana 5 9 14

Total 34 28 62

LAMPIRAN 7

LAMPIRAN 8

Dokumen terkait