• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengolahan dan Analisa Layout

Dalam dokumen 4. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA (Halaman 34-73)

Operasi press yang menentukan output dari packing box usulan karena memiliki waktu baku yang paling lama sehingga kapasitas packing box usulan untuk kabel throttle anak cabang adalah :

day

Meja packing usulan telah diterapkan di lapangan lewat persetujuan Factory Manager (lihat lampiran 18). Hasil dari pengubahan meja packing dan line balancing ternyata dapat meningkatkan kapasitas dari packing box untuk kabel panjang yaitu dari 2800 pcs per hari menjadi 5650 pcs per hari.

4.3. Pengolahan dan Analisa Layout

4.3.1. Pengambilan Data Layout Line Assembly

Berdasarkan pengamatan secara langsung mengenai keadaan lantai produksi bagian assembly divisi kabel maka terlihat adanya kekacauan dalam alur proses produksi dan adanya ketidakefisienan dalam bekerja, antara lain :

a. Adanya pencampuran line iner dan line assembly sehingga proses produksi tidak jelas.

b. Tidak adanya alat bantu seperti kereta dalam mengangkut bahan yang akan diproses sehingga mobilitas operator sangat tinggi.

Universitas Kristen Petra

benturan proses yang mengharuskan menggunakan mesin yang sedang tidak digunakan. Namun kenyataannya, mesin yang tidak digunakan tersebut berada di tempat yang cukup jauh dari proses sebelum dan sesudahnya. Hal ini menyebabkan waktu perpindahan semakin tinggi sehingga hasil produksi tidak maksimal.

d. Proses marking seharusnya berada di line packing bukan di line assembly karena kabel yang akan dipacking pertama-tama dikeluarkan terlebih dahulu dari gudang semi finish goods kemudian dimarking lalu dipacking.

Melihat kekurangan pada layout lantai produksi tersebut maka diusulkan untuk menata ulang line assembly dengan mengatur peletakan mesin atau departemen kerja dengan metode blocplan sebagai acuan. Agar proses produksi lebih jelas maka akan dilakukan pemisahan antara line assembly dengan line iner.

Data yang diperlukan untuk menata ulang layout line assembly adalah data aliran proses produksi dari setiap jenis kabel yang ada, ukuran dari setiap departemen dan hubungan kedekatan antar departemen. Data aliran proses produksi secara garis besar dapat dilihat pada lampiran 1-6.

Adapun departemen yang akan disusun tata letaknya di line assembly adalah sebagai berikut :

1. Meja assy + mesin punch 2 ton nomor 1 dengan ukuran 365 cm x 135 cm 2. Meja assy + mesin punch 5 ton nomor 1 dengan ukuran 365 cm x 135 cm

3. Meja potong pvc sebanyak 2 set dengan ukuran masing-masing 240 cm x 100 cm. Pada layout awal perusahaan, meja potong pvc menyatu. Namun, meja tersebut bisa dipotong menjadi dua.

4. Meja untuk pasang pvc sebanyak 2 buah dengan ukuran masing-masing 205 cm x 225 cm

5. Meja assy + mesin punch 2 ton nomor 2 dengan ukuran 205 cm x 250 cm 6. Meja assy + mesin punch 5 ton nomor 2 dengan ukuran 300 cm x 155 cm 7. Meja lem pvc sebanyak 2 buah dengan ukuran masing-masing 280 cm x 185 cm 8. Meja assy iner sebanyak 2 buah dengan ukuran masing-masing 245 cm x 200 cm

dan 315 cm x 185 cm

Universitas Kristen Petra

10. Meja assy + mesin punch 2 ton nomor 3 dengan ukuran 210 cm x 190 cm 11. Meja assy dengan ukuran 325 cm x 240 cm

Ukuran luas untuk line assembly yaitu 1440 cm x 850 cm = 1.224.000.

Berikut ini merupakan hubungan antara departemen.

Tabel 4.3.1.1. Activity Relationship Chart Line Assembly

Keterangan mengenai diagram hubungan antara departemen di line assembly adalah sebagai berikut :

• Huruf A menunjukkan hubungan absolutely essential yang artinya mutlak (harus) didekatkan. Pada persoalan di atas yang mempunyai hubungan A adalah P5T-01 dengan P2T-01, P5T-01 dengan PTPVC-01, P5T-01 dengan PSPVC-01, P2T-01 dengan PTPVC-02, P2T-01 dengan PSPVC-02, PTPVC-01 dengan PSPVC-01, PTPVC-02 dengan PSPVC-02, dan seterusnya.

• Huruf E menunjukkan hubungan essential yang artinya sangat penting untuk didekatkan. Pada persoalan di atas yang mempunyai hubungan E adalah PSINER-1 dengan assy, PSINER-2 dengan assy dan P2T-03 dengan assy.

• Huruf I menunjukkan important yang artinya penting untuk didekatkan. Pada persoalan ini hubungan I terdapat pada PTPVC-01 dengan P5T-02, PTPVC-02 dengan P2T-02.

Universitas Kristen Petra

didekatkan. Hubungan O dapat dilihat pada P5T-01 dengan PTPVC-02, P5T-01 dengan PSPVC-02, P2T-01 dengan PTPVC-01 dan seterusnya.

• Huruf U menunjukkan unimportant yang artinya tidak perlu didekatkan.

Hubungan U terdapat pada P5T-01 dengan P5T-02, P5T-01 dengan P2T-02, dan seterusnya.

• Huruf X menunjukkan undesirable yang artinya tidak boleh didekatkan. Pada persoalan di atas, hubungan X terdapat pada P5T-01 dengan assy, P2T-01 dengan assy, PTPVC-01 dengan assy, dan PTPVC-02 dengan assy. Hal ini disebabkan karena proses yang diinginkan berjalan satu arah atau tidak kembali lagi.

4.3.2. Pengolahan dan Analisa Layout Line Assembly

Data-data yang telah dikumpulkan di atas diolah dengan menggunakan software blocplan dimana hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3.2.1. Output Pengolahan Data Line Assembly dengan Blocplan

Dari hasil Automatic Search dipilih layout yang ke-7 dengan pertimbangan rangking yang terkecil yaitu 3-1-1. Meskipun layout ke-18 dengan rangking 1-2-2 kelihatannya juga bagus, namun pada kenyataannya di lapangan departemen nomor 1 dan nomor 2 yaitu meja assy + mesin punch 5 ton nomor 1 dan meja assy + mesin punch 2 ton nomor 1 harus didekatkan dengan line extrution (sebelah kiri) agar total perpindahan lebih minim. Susunan tata letak departemen line assembly secara garis besar digambarkan sebagai berikut :

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.3.2.1. Output Usulan Layout Line Assembly oleh Blocplan

Tabel 4.3.2.2. Ukuran Departemen Line Assembly oleh Blocplan

Centroid merupakan titik pusat dari setiap mesin terhadap sumbu vertikal dan horisontal. Sedangkan Length dan Width menunjukkan panjang dan lebar dari setiap mesin. Rasio panjang dan lebar dimensi mesin ditunjukkan oleh L/W. Sebagai contoh pada meja assy + mesin punch 5 ton nomor 1 memiliki centroid di titik x (sumbu horisontal) dan y (sumbu vertikal) sebesar 123,13 dan 386,52. Sedangkan panjang (Length) dan lebar (Width) sebesar 246,3 dan 231,2. Jadi rasio panjang dan lebar (L/W) untuk mesin assy + mesin punch 5 ton nomor 1 adalah 246,3 / 231,2 = 1,1.

Universitas Kristen Petra

770.387,75. Hasil tersebut diperoleh dari penjumlahan panjang meja potong PVC nomor 1, meja pasang PVC nomor 1, meja assy + mesin punch 5 ton nomor 2, meja lem PVC nomor 1, dan meja pasang iner nomor 1 (sebesar 1142,5) dikalikan dengan penjumlahan lebar meja assy + mesin punch 5 ton nomor 1, meja assy + mesin punch 2 ton nomor 1, dan meja potong PVC nomor 1 (sebesar 674,3). Sedangkan total luas area yang tersedia adalah 1.224.000. Jadi luas area yang tidak digunakan adalah sebesar 453.612,25.

Tabel 4.3.2.3. Adjacencies Satisfied Line Assembly

Activity Relationship Chart (ARC) merupakan diagram yang menjelaskan hubungan antara mesin yang satu dengan mesin yang lain. Dari layout ke-20 ini, hampir semua hubungan ARC sudah terpenuhi sehingga layout ini dapat dikatakan layak. Seperti hubungan A, E, I, O, sudah diletakkan berdekatan dan hubungan X diletakkan berjauhan. Sedangkan hubungan U ada yang diletakkan berjauhan dan ada yang diletakkan berdekatan. Tetapi hal tersebut tidak menjadi persoalan karena hubungan U adalah hubungan yang tidak penting untuk didekatkan. Hubungan A, E, I, O ada juga yang tidak memenuhi namun semuanya itu dapat dimodifikasi dalam pembuatan layout selanjutnya yang lebih jelas penempatannya.

Universitas Kristen Petra

Matrik jarak menunjukkan jarak antara titik tengah tiap mesin yang dinyatakan dengan jarak / 10. Sebagai contoh jarak titik tengah antara meja assy + mesin punch 5 ton nomor 1 dengan meja pasang PVC nomor 2 sebesar 22, berarti jarak sesungguhnya adalah 220. Perhitungan tersebut diperoleh dari pengurangan titik tengah sumbu x meja assy + mesin punch 5 ton nomor 1 (sebesar 123,13) dengan titik tengah sumbu x meja pasang PVC nomor 2 (sebesar 343,13) yaitu sebesar 220. Hasil ini kemudian dibagi 10 menjadi 22. Dari output matrik jarak tersebut dapat diketahui total biaya perpindahan adalah sebesar 18.643,91.

Adapun gambar layout lama dan layout baru lantai produksi di line assembly dapat dilihat secara jelas sebagai berikut :

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.3.2.2. Layout Lama Lantai Produksi Line Assembly

UC

mejakecil meja kecil

meja

Gambar 4.3.2.3. Layout Usulan Lantai Produksi Line Assembly

Pada layout usulan lantai produksi line assembly dibutuhkan beberapa perlengkapan tambahan yaitu

1. Meja assy mesin punch 5T-1 dengan ukuran 245 cm x 70 cm 2. Meja assy mesin punch 2T-1 dengan ukuran 245 cm x 70 cm

Universitas Kristen Petra

4. Meja pasang PVC dengan ukuran 120 cm x 70 cm sebanyak 2 buah 5. Meja assy mesin punch 5T-2 dengan ukuran 170 cm x 70 cm 6. Meja assy mesin punch 2T-2 dengan ukuran 170 cm x 70 cm

7. Meja lem PVC-1 dan meja lem PVC-2 dengan ukuran masing-masing 150 cm x 70 cm

8. Meja assy iner-1 dengan ukuran 200 cm x 70 cm dan meja assy iner-2 dengan ukuran 250 cm x 70 cm

9. Meja assy mesin punch 8,5T dengan ukuran 200 cm x 100 cm 10. Meja assy mesin punch 2T-3 dengan ukuran 150 cm x 70 cm 11. Meja assy akhir dengan ukuran 260 cm x 70 cm

12. Meja kecil dengan ukuran 120 cm x 65 cm sebanyak 6 buah 13. Kereta dengan ukuran 120 cm x 65 cm sebanyak 19 buah 14. Container dengan ukuran 70 cm x 40 cm sebanyak 8 buah

4.3.3. Pengambilan Data Layout Line Iner

Pemisahan line assembly dan line iner didasarkan oleh setiap proses yang berhubungan dengan iner akan dikelompokkan menjadi satu line yaitu line iner.

Tujuan dari pemisahan line assembly dan line iner ini adalah agar proses produksi lebih jelas dan waktu perpindahan dapat diminimalkan. Proses casting termasuk di line iner namun tata letaknya tidak diubah karena proses casting cukup berbahaya sehingga penempatannya sudah seharusnya di ujung. Ukuran meja casting terlalu panjang sehingga perlu dipotong menjadi 170 cm x 60 cm.

Secara garis besar, pada line iner terdapat 2 alur proses yaitu :

1. Potong iner – kembang – casting – bersihkan casting – assy – grease 2. Potong iner – bakar – punch 16 ton – assy – punch 2 ton – grease

Adapun data ukuran departemen pada line iner selain casting yang akan disusun tata letaknya adalah sebagai berikut :

1. Meja potong iner dengan ukuran 361 cm x 165 cm 2. Meja kembang dengan ukuran 240 cm x 180 cm

3. Meja bakar ujung iner dengan ukuran 245 cm x 120 cm 4. Meja + mesin punch 16 ton dengan ukuran 375 cm x 240 cm

Universitas Kristen Petra

6. Meja assy + mesin punch 2 ton nomor 4 dengan ukuran 275 cm x 130 cm 7. Meja assy sebanyak 2 buah dengan ukuran masing-masing 170 cm x 200 cm 8. Meja bersihkan casting dengan ukuran 185 cm x 280 cm

Ukuran luas line iner selain casting adalah 1440 cm x 390 cm. Berikut ini merupakan hubungan antara departemen.

Tabel 4.3.3.1. Activity Relationship Chart Line Iner

Keterangan mengenai diagram hubungan antara departemen di line iner adalah sebagai berikut :

• Huruf A menunjukkan hubungan absolutely essential yang artinya mutlak (harus) didekatkan. Seperti POT-INER dengan KEMBANG, POT INER dengan BAKAR dan seterusnya.

• Huruf E menunjukkan hubungan essential yang artinya sangat penting untuk didekatkan. Pada persoalan di atas yang mempunyai hubungan E adalah KEMBANG dengan BAKAR, dan ASSY-1 dengan GREASE.

• Huruf I menunjukkan important yang artinya penting untuk didekatkan. Pada persoalan ini tidak ada departemen yang memiliki hubungan I.

• Huruf O menunjukkan ordinary closeness yang artinya cukup penting untuk didekatkan. Hubungan O dapat dilihat pada BERSIH-C dengan ASSY-2, BERSIH-C dengan P2T, dan ASSY-1 dengan P2T.

• Huruf U menunjukkan unimportant yang artinya tidak perlu didekatkan.

Hubungan U terdapat pada POT-INER dengan BERSIH-C, POT-INER dengan P16T, dan seterusnya.

Universitas Kristen Petra

persoalan di atas, tidak ada departemen yang memiliki hubungan X.

4.3.4. Pengolahan Data Layout di Line Iner

Data-data yang telah dikumpulkan di atas diolah dengan menggunakan software blocplan dimana hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3.4.1. Output Pengolahan Data Line Iner dengan Blocplan

Dari hasil Automatic Search dipilih layout yang ke-20 dengan pertimbangan rangking yang terkecil yaitu 1-1-4. Susunan tata letak departemen line iner adalah sebagai berikut :

Universitas Kristen Petra

Gambar 4.3.4.1. Output Usulan Layout Line Iner oleh Blocplan

Tabel 4.3.4.2. Ukuran Departemen Line Iner oleh Blocplan

Dari hasil layout ke-20, centroid sumbu x dan sumbu y mesin potong iner adalah sebesar 257,4 dan 124,95. Sedangkan panjang (Length) dan lebar (Width) sebesar 514,8 dan 122,7. Rasio panjang dan lebar (L/W) untuk mesin potong iner adalah 514,8 / 122,7 = 4,2.

Dari data tersebut dapat kita ketahui total luas area yang digunakan yaitu 399.130,32. Hasil tersebut diperoleh dari penjumlahan panjang meja kembang dan meja assy-1 (sebesar 1213,9) dikalikan dengan penjumlahan lebar mesin potong iner, meja kembang, dan meja bakar (sebesar 328,8). Sedangkan total luas area yang tersedia adalah 561.600. Jadi luas area yang tidak digunakan adalah sebesar 162.469,68.

Universitas Kristen Petra

Activity Relationship Chart (ARC) merupakan diagram yang menjelaskan hubungan antara mesin yang satu dengan mesin yang lain. Dari layout ke-20 ini, hampir semua hubungan ARC sudah terpenuhi sehingga layout ini dapat dikatakan layak. Beberapa hubungan yang tidak terpenuhi dalam layout ini seperti E, O dan U akan dimodifikasi dalam pembuatan layout selanjutnya.

Tabel 4.3.4.4. Matriks Jarak Antar Departemen Line Iner

Universitas Kristen Petra

dinyatakan dengan jarak / 10. Sebagai contoh jarak titik tengah antara meja potong iner dengan meja bersihkan casting sebesar 47, berarti jarak sesungguhnya adalah 470. Perhitungan tersebut diperoleh dari pengurangan titik tengah sumbu x meja potong iner (sebesar 257,4) dengan titik tengah sumbu x meja bersihkan casting (sebesar 725,85) yaitu sebesar 468,45. Hasil ini kemudian dibagi 10 dan dibulatkan menjadi 47. Dari output matrik jarak tersebut dapat diketahui total biaya perpindahan adalah sebesar 32.880,4.

Layout line iner sebelumnya dapat dilihat pada gambar 4.2.1.2. Gambar layout baru lantai produksi di line iner setelah dimodifikasikan dengan kondisi lapangan dapat dilihat secara jelas pada gambar berikut ini.

Bersihkan

mejakecil meja kecil

Gambar 4.3.4.2. Layout Usulan Lantai Produksi Line Iner

Pada layout usulan lantai produksi line iner diperlukan beberapa perlengkapan tambahan yaitu :

1. Meja potong iner dengan ukuran 244 cm x 100 cm 2. Meja kembang dengan ukuran 150 cm x 50 cm

3. Meja mesin punch 16 ton dengan ukuran 150 cm x 90 cm 4. Meja assy mesin punch 2T-4 dengan ukuran 150 cm x 70 cm 5. Meja bersihkan casting dengan ukuran 150 cm x 70 cm 6. Meja assy dengan ukuran 150 cm x 70 cm sebanyak 2 buah 7. Tempat pemberian grease dengan ukuran 200 cm x 50 cm 8. Meja kecil dengan ukuran 120 cm x 65 cm sebanyak 2 buah 9. Kereta dengan ukuran 120 cm x 65 cm sebanyak 11 buah

Universitas Kristen Petra

Line packing sebelumnya terdiri dari 1 line. Perusahaan menginginkan menambah line packing menjadi 2 line dan proses marking disatukan dengan line packing. Untuk itu, gudang raw material dipindahkan ke area pengembangan. Lihat layout awal perusahaan pada lampiran 19.

Alur proses pada line packing adalah sebagai berikut :

Gudang semi finish goods – marking – check marking – packing – strapping band – tempat outer box.

Ukuran departemen di line packing yang akan disusun tata letaknya adalah sebagai berikut :

1. Panel listrik dengan ukuran 465 cm x 150 cm 2. Lemari packing dengan ukuran 615 cm x 150 cm 3. Tempat plastik dengan ukuran 600 cm x 150 cm

4. Marking sebanyak 2 buah dengan ukuran masing-masing 330 cm x 190 cm dan 330 cm x 150 cm.

5. Meja check marking dengan ukuran 205 cm x 120 cm

6. Meja packing sebanyak 2 buah dengan ukuran masing-masing 625 cm x 380 cm 7. Strapping band dengan ukuran 100 cm x 80 cm

8. Tempat outer box dengan ukuran 1115 cm x 150 cm

Adapun ukuran luas line packing adalah 1355 cm x 1070 cm. Berikut ini merupakan hubungan antar departemen line packing.

Tabel 4.3.5.1. Activity Relationship Chart Line Packing

Keterangan mengenai diagram hubungan antara departemen di line packing adalah sebagai berikut :

Universitas Kristen Petra

didekatkan. Contohnya pada MARKING1 dengan PACKING1, MARKING2 dengan PACKING2 dan sebagainya.

b. Huruf E menunjukkan hubungan essential yang artinya sangat penting untuk didekatkan. Contohnya pada PANEL dengan MARKING1, PANEL dengan PACKING1 dan sebagainya.

c. Huruf I menunjukkan important yang artinya penting untuk didekatkan.

Contohnya pada MARKING1 dengan MARKING2 dan PACKING1 dengan PACKING2.

d. Huruf O menunjukkan ordinary closeness yang artinya cukup penting untuk didekatkan. Contohnya pada PANEL dengan LEMARI, PANEL dengan PLASTIK, dan sebagainya.

e. Huruf U menunjukkan unimportant yang artinya tidak perlu didekatkan.

Contohnya pada PANEL dengan MARKING2, PANEL dengan CHECKMAR, PANEL dengan PACKING2 dan sebagainya.

f. Huruf X menunjukkan undesirable yang artinya tidak boleh didekatkan.

Contohnya pada PANEL dengan OUTERBOX.

4.3.6. Pengolahan Data Layout di Line Packing

Data-data yang telah dikumpulkan di atas diolah dengan menggunakan software blocplan dimana hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3.6.1. Output Pengolahan Data Line Iner dengan Blocplan

Universitas Kristen Petra

Dari hasil Automatic Search terdapat 2 layout usulan yang sama-sama memiliki rangking terkecil (1-4-5 dan 4-5-1) yaitu layout ke-9 dan layout ke-20.

Namun layout ke-9 menurut kepala produksi kurang bagus karena proses marking seharusnya berada di bagian bawah agar dekat dengan gudang semi finish goods.

Gudang semi finish goods berada di bagian bawah line packing. Lihat layout awal perusahaan pada lampiran 19. Susunan tata letak departemen line packing adalah sebagai berikut :

Gambar 4.3.6.1. Output Usulan Layout Line Packing oleh Blocplan

Universitas Kristen Petra

Dari hasil layout ke-20, centroid sumbu x dan sumbu y panel adalah sebesar 1074,71 dan 360,2. Sedangkan panjang (Length) dan lebar (Width) sebesar 144,7 dan 481,9. Rasio panjang dan lebar (L/W) untuk panel adalah 144,7 / 481,9 = 0,3.

Dari data tersebut dapat kita ketahui total luas area yang digunakan yaitu 1.039.157,89. Hasil tersebut diperoleh dari penjumlahan panjang marking1, marking2, dan meja check marking (sebesar 1147,1) dikalikan dengan penjumlahan lebar marking2, meja packing2, dan tempat outer box (sebesar 905,9). Sedangkan total luas area yang tersedia adalah 1.449.850. Jadi luas area yang tidak digunakan adalah sebesar 410.692,11.

Tabel 4.3.6.3. Adjacencies Satisfied Line Packing

Universitas Kristen Petra

hubungan antara mesin yang satu dengan mesin yang lain. Dari layout ke-20 ini, hampir semua hubungan ARC sudah terpenuhi sehingga layout ini dapat dikatakan layak.

Tabel 4.3.6.4. Matriks Jarak Antar Departemen Line Packing

Matrik jarak menunjukkan jarak antara titik tengah tiap mesin yang dinyatakan dengan jarak / 10. Sebagai contoh jarak titik tengah antara marking2 dengan meja check marking sebesar 31, berarti jarak sesungguhnya adalah 310.

Perhitungan tersebut diperoleh dari pengurangan titik tengah sumbu x meja potong iner (sebesar 207,53) dengan titik tengah sumbu x meja bersihkan casting (sebesar 518,2) yaitu sebesar 310,67. Hasil ini kemudian dibagi 10 dan dibulatkan menjadi 31. Dari output matrik jarak tersebut dapat diketahui total biaya perpindahan adalah sebesar 56.521,59.

Layout line packing sebelumnya dapat dilihat pada layout awal perusahaan pada lampiran 19. Gambar layout baru lantai produksi di line packing setelah dimodifikasikan dengan kondisi lapangan dapat dilihat secara jelas pada gambar berikut ini.

Universitas Kristen Petra

LEMARI PACKING

Marking-01 PACKING

Check Marking

PANEL LISTRIK

Marking-02 PACKING

Strapping band

OUTER BOX

PLASTIK

Gambar 4.3.6.2. Layout Baru Lantai Produksi Line Packing

Pada layout usulan lantai produksi line packing diperlukan beberapa perlengkapan tambahan yaitu

1. Meja packing sesuai dengan ukuran meja packing yang telah ada sebanyak 1 buah

2. Meja check marking dengan ukuran 120 cm x 65 cm sebanyak 1 buah 3. Tempat lemari packing dengan ukuran 615 cm x 150 cm

4. Tempat plastik dengan ukuran 605 cm x 150 cm 5. Tempat outer box dengan ukuran 1115 cm x 150 cm 6. Kereta dengan ukuran 120 cm x 65 cm sebanyak 7 buah

4.3.7. Evaluasi Layout Usulan Line Assembly

Layout usulan line assembly akan dibandingkan dengan layout lama berdasarkan kapasitasnya. Kapasitas yang akan dihitung diambil dari kapasitas kabel yang paling sering dibuat yaitu speedometer Supra X, brake Grand dan throttle Grand.

Pada layout lama dapat dilihat dengan jelas bahwa ada banyak waktu non-produktif yang seharusnya dapat dikurangi bahkan dihilangkan seperti waktu

Universitas Kristen Petra

waktu menghitung jumlah kabel.

Pada layout baru yang telah dirancang di atas akan mengurangi waktu non-produktif tersebut karena jarak antar departemen lebih dekat dan tidak ada lagi waktu untuk mengikat dan melepaskan ikatan pada kabel. Untuk lebih jelasnya, lihat tabel perkiraan waktu non-produktif layout awal dan usulan line assembly berikut ini.

Tabel 4.3.7.1. Perkiraan Waktu Non-Produktif Layout Awal Pada Line Assembly Untuk Speedometer Supra X

No Proses Transportation

time (dtk) Wkt hit jml

Untuk ambil : iner 25x, kabel 50x.

Untuk ikat : tali dan bungkus plastik.

Untuk lepas : kabel 50x, iner 25x

Total (dtk) 16495

Total (jam) 4,581944444

%non-produktif 7,16

Hasil aktual/hari 2321

Catatan :

• Sekali perpindahan operator mengangkat 1 ikat kabel @ 50 kabel.

• Produksi 2500 kabel per hari.

Asumsi :

• 1 container PVC berisi 250 PVC • Sekali mengambil iner = 15 detik

• Sekali mengambil komponen = 90 detik • Perpindahan antar departemen = 15 detik

• Sekali mengambil PVC = 90 detik

Tabel 4.3.7.2. Perkiraan Waktu Non-Produktif Layout Usulan Pada Line Assembly Untuk Speedometer Supra X

No Proses Tr2ansportation

time (dtk) Wkt hit jml

ikat Total wkt

non-produktif (dtk) Keterangan

1 Psg komp 1 975 975 Untuk ambil : komp 10x, outer 5x bungkus plastik. Untuk lepas : iner

• Produksi 2500 kabel per hari.

Asumsi :

• 1 container PVC berisi 250 PVC • Sekali mengambil iner = 10 detik

• Sekali mengambil komponen = 90 detik • Perpindahan antar departemen = 10 detik

• Sekali mengambil PVC = 90 detik

Tabel 4.3.7.3. Perkiraan Waktu Non-Produktif Layout Awal Pada Line Assembly Untuk Brake Grand

No Proses Transportation time (dtk)

Untuk ikat : tali dan bungkus plastik.

Untuk lepas : kabel 50x, iner 25x 9 Psg komp 3 1650 5 50 30 50 3400 Untuk ambil : komp 10x, outer 50x

• Sekali perpindahan operator mengangkat 1 ikat kabel @ 50 kabel. • Produksi 2500 kabel per hari Asumsi :

• 1 container PVC berisi 250 PVC • Sekali mengambil iner = 15 detik

• Sekali mengambil komponen = 90 detik • Perpindahan antar departemen = 15 detik

• Sekali mengambil PVC = 90 detik

Tabel 4.3.7.4. Perkiraan Waktu Non-Produktif Layout Usulan Pada Line Assembly Untuk Brake Grand

No Proses Transportation

time (dtk) Wkt hit jml

ikat Total wkt

non-produktif (dtk) Keterangan

1 Psg komp 1 975 975 Untuk ambil : komp 10x, outer 5x bungkus plastik. Untuk lepas : iner

• Produksi 2500 kabel per hari.

Asumsi :

• 1 container PVC berisi 250 PVC • Sekali mengambil iner = 10 detik

• Sekali mengambil komponen = 90 detik • Perpindahan antar departemen = 10 detik

• Sekali mengambil PVC = 90 detik

Tabel 4.3.7.5. Perkiraan Waktu Non-Produktif Layout Awal Pada Line Assembly Untuk Throttle Grand

No Proses Transportation time (dtk) ikat : tali dan bungkus plastik. Untuk lepas : kabel 80x, iner 40x

• Sekali perpindahan operator mengangkat 1 ikat kabel @ 50 kabel. • Produksi 4000 kabel per hari

• Sekali perpindahan operator mengangkat 1 ikat kabel @ 50 kabel. • Produksi 4000 kabel per hari

Dalam dokumen 4. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA (Halaman 34-73)

Dokumen terkait