• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Pengolahan Data dan Analisis Deskriptif

Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan microsoft excel dan SPSS versi 15.0 untuk windows untuk memudahkan perolehan data sehingga dapat menjelaskan variabel-variabel yang diteliti. Langkah pertama dalam penelitian ini adalah melakukan penentuan sampel dengan metode purposive sampling atau penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu pada perbankan periode 2002-2006 berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dalam penelitian ini sebagai pedoman penentuan kebangkrutan.

Tabel deskriptif menjelaskan variabel-variabel independen X yaitu X1 (Capital Adeqyacy Ratio), X2 (Non Performing Loan), X3 (Return On Asset),

X4 (Return On Equity), X5 (Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional), X6 (Loan To Deposit Ratio) untuk bank yang bemasalah (mengalami kebangkrutan) dan bank yang tidak bermasalah (sehat). Variabel dependen Y : kebangkrutan dimana kondisi 1 untuk bank yang sehat dan 0 untuk bank yang mengalami kebangkrutan.

1. CAR (Capital Adeqyacy Ratio)

CAR merupakan rasio kecukupan modal yang harus dimiliki oleh setiap bank untuk membiayai kegiatan operasionalnya. Modal adalah faktor penting bagi suatu perusahaan dalam rangka pengembangna usaha serta untuk menampung resiko-resiko yang mungkin terjadi.

Tabel 4.1

Data hasil perhitungan CAR pada 22 perusahaan perbankan periode 2002-2006 (%) N O N A M A BA N K 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 RA TA -RA TA C A R KO N DIS I 1 A RTA NIA G A K. 23.98 21.96 20.99 18.57 21.03 21.306 1 2 BUMI PUTERA IND. 12.94 9.94 10.16 10.69 13.02 11.35 1 3 BUA NA Ind o ne sia 22.34 22.32 22.12 20.15 30.83 23.552 1 4 NUSA NTA RA P. 18.53 13.67 12.86 10.78 16.64 14.496 1 5 DA NA MO N 25.33 26.84 27 23.48 22.37 25.004 1 6 EKSEKUTIF INTER 9.96 10.4 14.69 11.3 9.37 11.144 1 7 NIA G A 12.72 11.58 10.43 17.31 17.45 13.898 1 8 INTERNA TIO NA L IND. 33.21 22.02 20.89 22.41 24.08 24.522 1 9 SWA DESI 29.37 27.07 25.95 24.06 26.55 26.6 1 10 VIC TO RIA INTER 8.99 11.52 16.12 21.92 24.02 16.514 1 11 MEG A 13.16 14.04 13.53 11.13 15.92 13.556 1 12 NISP 12.57 13.78 15.31 19.95 17.13 15.748 1 13 PA N IND. 32.91 42.35 40.19 30.58 31.71 35.548 1 14 KESA WA N 16.31 16.99 12.84 14.34 9.43 13.982 0 15 PERMA TA 10.4 10.8 11.4 9.9 14.4 11.38 0 16 LIPPO 21.08 17.86 20.87 21.38 26.78 21.594 0 17 MA YA PA DA INTER 10.93 13.68 14.43 14.24 13.82 13.42 0 18 C IC INTER 0.05 15.95 0 0 0 3.2 0 19 DA NPA C 31.97 25.33 0 0 0 11.46 0 20 G LO BA L INTER 29.49 42.5 0 0 0 14.398 0 21 PIKKO 14.96 8.41 0 0 0 4.674 0 22 INTER PA SIFIC 25.3 35.86 0 0 0 12.232 0

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan permodalan dan penyisihan penghapusan debitur yang dibentuk dalam rangka menutup kemungkinan resiko kerugian yang terjadi karena tidak dapat dikembalikannya kredit serta tidak tertagihnya bunga.

Berdasarkan rasio CAR yang dimiliki oleh 22 perusahaan perbankan diatas, yang dimiliki rata-rata pertumbuhan CAR yang paling besar adalah PAN Indonesia yaitu sebesar 35.548%. hal ini menunjukkan bahwa PAN Indonesia selama periode 2002-2006 memiliki rasio modal minimum lebih baik dari bank lain. Dengan rasio ini berarti bahwa rasio modal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan modal bank untuk menampung resiko kemungkinan rugi adalah sebesar 35.548% dari jumlah ATMT (Aktiva Tertimbang Menurut Resiko) yang dimiliki oleh PAN Indonesia Hal ini berarti pula bahwa setiap Rp 1,- kerugian bank Pan Indonesia yang terjadi karena kredit macet selama periode 2002-2006 dapat ditutup dengan 35.548% modal yang tersedia oleh PAN Indonesia.

Sedangkan yang memiliki rata-rata pertumbuhan rasio CAR paling kecil adalah bank CIC International yaitu sebesar 3.2%. Dalam hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp 1,- resiko kerugian bank CIC International yang terjadi karena kredit macet selama periode 2002-2006, hanya dapat ditutup dengan 3.2% modal yang tersedia oleh bank CIC International.

2. NPL (Non Performing Loan)

NPL digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengatasi masalah perkreditan. Berikut ini tabel perhitungan tentang Non

Performing Loan dari 22 perusahaan perbankan yang go public periode 2002-2006 :

Tabel 4.2

Data hasil perhitungan NPL pada 22 perusahaan perbankan periode 2002-2006 (%)

N O N A M A BA N K 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 RA TA -RA TA N PL

KO N DISI

1 A RTA NIA G A K. 3.91 3.54 2.44 2.13 1.32 2.668 1 2 BUMI PUTERA IND. 3.67 2.9 3.33 7.98 5.58 4.692 1 3 BUA NA IND. 0.75 0.86 1.61 2.35 4.39 1.992 1 4 NUSA NTA RA P. 0.7 0.31 0.8 0.17 3.03 1.002 1 5 DA NA MO N 4.59 4.62 4.02 2.58 3.31 3.824 1 6 EKSEKUTIF INTER 11.46 4.58 9.67 13.53 7.89 9.426 1 7 NIA G A 6.16 3.61 3.18 5.23 3.47 4.33 1 8 INTERNA TIO NA L IND. 9.02 6.2 4.01 2.88 5.43 5.508 1 9 SWA DESI 4.91 2.66 2.63 2.55 2.14 2.978 1 10 VIC TO RIA INTER 2.7 4.05 7.26 6.03 3.79 4.766 1 11 MEG A 0.23 1.54 1.98 1.43 1.68 1.372 1 12 NISP 1.67 0.84 1.01 2.46 2.49 1.694 1 13 PA N IND. 15.23 9.61 7.71 9.34 7.95 9.968 1 14 KESA WA N 2.63 4.04 5.79 12.76 6.2 6.284 0 15 PERMA TA 37.5 14.01 3.6 5.3 6.4 13.362 0 16 LIPPO 12.38 8.84 6.75 1.75 1.96 6.336 0 17 MA YA PA DA INTER 3.26 4.68 3.11 1.79 0.65 2.698 0 18 C IC INTER 25.05 4.59 0 0 0 5.928 0 19 DA NPA C 1.78 0.76 0 0 0 0.508 0 20 G LO BA L INTER 4.27 3.08 0 0 0 1.47 0 21 PIKKO 2.76 2.95 0 0 0 1.142 0 22 INTER PA SIFIC 93.61 89.57 0 0 0 36.636 0 RA TA -RA TA PERTUMBUHA N 11.284 8.084 3.132 3.648 3.076 Sumber : (BI) data diolah

Berdasarkan rasio NPL yang dimiliki oleh 22 perusahaan perbankan diatas, yang mempunyai rasio NPL terkecil adalah Bank Nusantara Parahyangan yaitu sebesar 1.002%. Hal ini menunjukkan bahwa Bank Nusantara Parahyangan mempunyai NPL lebih kecil dari bank lain, karena NPL yang baik adalah harus dibawah 5% (Asosiasi Perbankan Indonesia yang dikutip dari Infobank No.303, Juni 2004). Semakin kecil NPL maka akan

Bank Nusantara Parahyangan mempunyai rata-rata rasio NPL yang menunjukkan bahwa kredit yang diberikan oleh Bank Nusantara Parahyangan selama periode 2002-2006 yang bermasalah atau tidak tertagih hanya sebesar 1.002% dari kredit yang diberikan oleh Bank Nusantara Parahyangan.

3. ROA (Return On Asset)

Rasio ROA digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba atas sejumlah modal dan aktiva yang dimilikinya, sehingga dapat mengukur profitabilitas yang dicapai oleh 22 perusahaan perbankan seperti yang tertera pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.3

Data hasil perhitungan ROA pada 22 perusahaan perbankan periode 2002-2006 (%) N O N A M A BA N K 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 RA TA -RA TA RO A KO N DISI 1 A RTA NIA G A K. 1.13 1.7 1.58 1.52 1.4 1.466 1

2 BUMI PUTERA IND. 1.32 1.4 1.27 -1.24 0.26 0.602 1

3 BUA NA IND. 2.86 2.31 2.66 3.13 3.47 2.886 1 4 NUSA NTA RA P. 1.72 1.84 1.98 1.59 1.84 1.794 1 5 DA NA MO N 2.01 3.29 5.94 4.26 2.4 3.58 1 6 EKSEKUTIF INTER 1.28 3.23 1.06 -4.2 -0.96 0.082 1 7 NIA G A 0.53 2.03 2.91 2.1 2.27 1.968 1 8 INTERNA TIO NA L IND. 0.41 0.76 2.37 1.72 1.43 1.338 1 9 SWA DESI 3.54 2.33 2.34 2.06 1.28 2.31 1

10 VIC TO RIA INTER 0.62 0.69 1.54 1.46 1.76 1.214 1

11 MEG A 2.28 3.24 2.99 1.25 0.88 2.128 1 12 NISP 1.52 1.71 2.5 1.52 1.55 1.76 1 13 PA N IND. 0.66 2.92 5.61 2.27 2.78 2.848 1 14 KESA WA N 0.11 0.32 0.37 0.3 0.36 0.292 0 15 PERMA TA -4.8 1.9 2.3 1.2 1.2 0.36 0 16 LIPPO -1.01 -1.48 3.33 1.87 1.98 0.938 0 17 MA YA PA DA INTER 0.5 0.94 2.11 0.84 1.55 1.188 0 18 C IC INTER -6.94 3.95 0 0 0 -0.598 0 19 DA NPA C 1.53 1.54 0 0 0 0.614 0 20 G LO BA L INTER 0.29 0.51 0 0 0 0.16 0 21 PIKKO 1.02 -3.15 0 0 0 -0.426 0 22 INTER PA SIFIC 0.64 0.89 0 0 0 0.306 0 RA TA -RA TA PERTUMBUHA N 0.51 1.494 1.948 0.984 1.157 Sumber : (BI) data diolah

Berdasarkan rasio ROA yang dimiliki oleh 22 perusahaan perbankan diatas menunjukkan bahwa Bank Danamon mempunyai rata-rata pertumbuhan ROA yang paling besar. Bank Danamon mempunyai rata-rata sebesar 3,58%, hal ini menunjukkan bahwa selama tahun 2002-2006 bank Danamon berhasil mendapatkan profit sebesar 3,58% dengan memanfaatkan sejumlah asset yang ada.

Rata-rata ROA dari tahun 2002 sampai 2006 pada 22 perusahaan perbankan yang dijadikan sampel penelitian ini berkisar antara 0,5% sampai dengan 1,25%, artinya perusahaan masih taat pada ketentuan BI No.6/ 23/ DPNP/ Tanggal 31 Mei 2004 yang menyatakan bahwa semakin besar ROA yang dimiliki perusahaan perbankan akan semakin baik kinerja bank yang bersangkutan, karena akan besar profitabilitas dari pengelolaan asset dan permodalan yang ada.

Perolehan profit ini didukung oleh adanya faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kualitas rentabilitas, diantaranya profit margin (perbandingan antara net operating asset atau tingkat perputaran asset dan

turn over of operating asset dalam satu periode) sehingga laba yang diperoleh perusahaan semakin meningkat. Makin besar perolehan laba yang diperoleh perusahaan maka semakin baik keadaan perusahaan tersebut. Hal ini juga menunjukkan bahwa selama periode 2002-2006 beberapa perusahaan berhasil memanfaatkan sejumlah asset yang dimilikinya dengan baik.

4. ROE (Return On Equity)

Return on Equity ini merupakan perbandingan antara laba bersih bank dengan modal sendiri. Rasio ini banyak diamati oleh para pemegang saham bank serta para investor di pasar modal yang ingin membeli saham yang bersangkutan.

Tabel 4.4

Data hasil perhitungan ROE pada 22 perusahaan perbankan periode 2002-2006 (%)

N O N A M A BA N K 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 RA TA -RA TA RO E

KO N DISI

1 A RTA NIA G A K. 5.94 8.03 9.17 10 9.39 8.506 1 2 BUMI PUTERA IND. 9.91 12.37 11.21 -16.45 1.61 3.73 1 3 BUA NA IND. 26.96 17 17.75 18.91 16.04 19.332 1 4 NUSA NTA RA P. 18.38 19.17 21.73 19.12 15.33 18.746 1 5 DA NA MO N 22.27 31.41 38.55 26.12 15.63 26.796 1 6 EKSEKUTIF INTER 12.82 36.18 7.5 -39.94 -16.29 0.054 1 7 NIA G A 13.38 39.58 41.87 21.07 16.57 26.494 1 8 INTERNA TIO NA L IND. -22.22 18.14 38.25 25.97 19.49 15.926 1 9 SWA DESI 16.55 10.83 12.09 11.69 7.76 11.784 1 10 VIC TO RIA INTER 13.09 8.77 14.79 11.68 12.11 12.088 1 11 MEG A 30.38 32.51 31.58 15.11 9.1 23.736 1 12 NISP 13.42 17.97 26.87 14.79 11.01 16.812 1 13 PA N IND. 3.87 15.34 28.16 14.14 14.27 15.156 1 14 KESA WA N 1.2 3.14 3.19 3.82 3.81 3.032 0 15 PERMA TA -153.5 66.1 42.7 14.3 13.1 -3.46 0 16 LIPPO -36.26 -45.79 104.48 24.11 23.66 14.04 0 17 MA YA PA DA INTER 4.93 2.08 13.11 5.29 10.65 7.212 0 18 C IC INTER -178.74 0.14 0 0 0 -35.72 0 19 DA NPA C 7.75 7.75 0 0 0 3.1 0 20 G LO BA L INTER 1.44 2.33 0 0 0 0.754 0 21 PIKKO 16.2 -75.91 0 0 0 -11.942 0 22 INTER PA SIFIC 4.87 5.4 0 0 0 2.054 0 RA TA -RA TA PERTUMBUHA N -7.607 10.57 21.045 8.169 8.329 Sumber : (BI) data diolah

Berdasarkan rasio ROE yang dimiliki oleh 22 perusahaan perbankan diatas menunjukkan bahwa bank Danamon mempunyai rata-rata

rata sebesar 26,796%, hal ini menunjukkan bahwa selama tahun 2002-2006 bank Danamon berhasil mendapatkan profit sebesar 26,796% dengan memanfaatkan sejumlah ekuitas yang ada.

5. BOPO (Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional)

Rasio BOPO merupakan rasio perbandingan antara biaya operasonal terhadap pendapatan operasional. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya.

Tabel 4.5

Data hasil perhitungan BOPO pada 22 perusahaan perbankan periode 2002-2006 (%)

N O N A M A BA N K 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 RA TA - RA TA BO PO

KO N DISI

1 A RTA NIA G A K. 93.62 93.52 87.89 87.5 90.12 90.53 1

2 BUMI PUTERA IND. 92.5 90.67 91.38 115.86 98.54 97.79 1

3 BUA NA IND. 81.84 80.35 75.1 74.64 74.32 77.25 1

4 NUSA NTA RA P. 87.11 83.4 82.37 86.43 88.18 85.498 1

5 DA NA MO N 86.74 82.31 52.32 65.65 80.33 73.47 1

6 EKSEKUTIF INTER 91.02 82.63 81.57 124.52 110.48 98.044 1

7 NIA G A 100.31 89.12 79.41 82.11 82.85 86.76 1

8 INTERNA TIO NA L IND. 98.45 93.29 79.65 84.89 89.82 89.22 1

9 SWA DESI 87.34 83.72 80.93 82.91 91.12 85.204 1

10 VIC TO RIA INTER 96.42 95.47 89.46 88.94 86.88 91.434 1

11 MEG A 86.99 76.49 73.83 88.88 92.78 83.794 1 12 NISP 88.36 86.67 76.49 86.52 87.98 85.204 1 13 PA N IND. 95.39 82.32 55.58 77.65 78.25 77.838 1 14 KESA WA N 99.21 97.41 98.41 98.28 97.65 98.192 0 15 PERMA TA 138.1 86.6 83.1 89.6 90 97.48 0 16 LIPPO 111.14 101.25 82.18 77.51 75.34 89.484 0 17 MA YA PA DA INTER 96.61 94.35 81.27 92.65 88.99 90.774 0 18 C IC INTER 207.17 103.96 0 0 0 62.226 0 19 DA NPA C 91.37 92.43 0 0 0 36.76 0 20 G LO BA L INTER 99.72 97.65 0 0 0 39.474 0 21 PIKKO 122.98 125.72 0 0 0 49.74 0 22 INTER PA SIFIC 94.03 150.03 0 0 0 48.812 0 RA TA -RA TA PERTUMBUHA N 102.11 94.062 61.406 68.388 68.347

Berdasarkan perbandingan beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang dimiliki oleh perusahaan perbankan diatas. Hal ini menunjukkan arti yang sangat penting untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola beban operasional terhadap pendapatan operasional yang tersedia dalam setiap perusahaan untuk mendapatkan pendapatan operasional.

Dalam tabel tersebut ditunjukkan perbankan yang memiliki tingkat BOPO yang paling tinggi adalah Bank Kesawan sebesar 98.192%. Hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp 1,- beban operasional yang digunakan dapat menghasilkan pendapatan operasional sebesar Rp. 0.98192. semakin besar rasio ini menunjukkan bahwa semakin efisien perusahaan dalam mengelola pendapatan operasional bank.

6. LDR (Loan To Deposit Ratio)

Loan To Deposit Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas bank, sifatnya lebih mendekati kegiatan murni perbankan. Semakin tingkat rasio ini, maka tingkat likuiditasnya akan semakin kecil karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin kecil. Untuk mengetahui besarnya tingkat LDR 22 perusahaan perbankan periode 2002-2006 dapat dilihat dari tabel berikut ini :

Tabel 4.6

Data hasil perhitungan LDR pada 22 perusahaan perbankan periode 2002-2006 (%) N O N A M A BA N K 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 RA TA -RA TA LDR KO N DIS I 1 A RTA NIA G A K. 65.38 63.09 71.26 74.15 64.56 67.688 1

3 BUA NA IND. 34.54 43.37 58.55 79.96 83.03 59.89 1 4 NUSA NTA RA P. 29.69 40.43 52.39 57.03 54.82 46.872 1 5 DA NA MO N 50.23 50.15 72.49 80.82 75.51 65.84 1 6 EKSEKUTIF INTER 69.91 77.09 89.98 83.6 74.8 79.076 1 Lanjutan tabel 4.6 7 NIA G A 59.57 72.12 85.37 85.35 84.78 77.438 1 8 INTERNA TIO NA L IND. 19.39 35.03 43.62 55.3 57.22 42.112 1 9 SWA DESI 55.14 59.17 54.11 55.36 54.89 55.734 1

10 VIC TO RIA INTER 36.24 40.22 54.72 41.2 51.94 44.864 1

11 MEG A 58.82 55.61 48.8 51.25 42.7 51.436 1 12 NISP 75.61 77.95 77.34 77.62 82.17 78.138 1 13 PA N IND. 77.05 71.16 72.93 55.17 80.47 71.356 1 14 KESA WA N 56.79 43.9 52.32 55.4 69.5 55.582 0 15 PERMA TA 40.5 41.3 57.2 78.5 83.1 60.12 0 16 LIPPO 22.69 19.95 22.6 32.36 44.87 28.494 0 17 MA YA PA DA INTER 77.12 77.3 73.74 82.35 85.29 79.16 0 18 C IC INTER 48.99 30.86 0 0 0 15.97 0 19 DA NPA C 39.28 40.29 0 0 0 15.914 0 20 G LO BA L INTER 33.99 32.65 0 0 0 13.328 0 21 PIKKO 19.31 26.82 0 0 0 9.226 0 22 INTER PA SIFIC 3602.9 6077.8 0 0 0 1936.12 0 RA TA -RA TA PERTUMBUHA N 212.12 326.02 48.69 51.183 53.503

Sumber : (BI) data diolah

Berdasarkan tabel diatas, rasio LDR pada 22 perusahaan perbankan periode 2002-2006 menunjukkan hasil yang sangat penting untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengelola kredit pihak ketiga yang ditanamkan dalam kredit yang diberikan oleh bank.

Dalam tabel diatas, tingkat LDR sangat bervariasi dan berfluktuatif. Namun tingkat LDR yang diharapkan sebesar 85% keatas oleh BI baru dapat dipenuhi oleh bank Bumi Putera Indonesia pada tahun 2002, 2003, dan 2006, bank Eksekutif Internasional pada tahun 2004, bank Niaga pada tahun 2004 dan 2005, serta bank Mayapada Internasional pada tahun 2006. karena LDR ini merupakan dana pihak ketiga yang ditanamkan oleh pihak bank. Tingkat

dana pihak ketiga yang ditanamkan dalam likuid asset untuk menjaga kebutuhan likuiditasnya.

Mengacu pada ketentuan BI berdasarkan paket kebijakan 29 Mei 1993, LDR dibatasi sampai dengan 110%. Rata-rata LDR tahun 2002 sebesar 212,12%, tahun 2003 sebesar 326,02 %, tahun 2004 sebesar 48,69%, tahun 2005 sebesar 51,183%, tahun 2006 sebesar 53,503%.

Terlihat ada fluktuasi LDR dari tahun ke tahun. LDR yang meningkat dikarenakan perbankan mampu mengelola kreditnya dengan baik, sehingga kedua belah pihak saling menguntungkan. Keadaan ini mengisyaratkan bahwa perbankan sudah mampu mengatasi intermediasi dengan baik, yaitu lebih berani mengucurkan kreditnya dengan tidak mengabaikan tolak ukur yang ditetapkan BI tentang LDR.

Dengan demikian, sampel yang dijadikan objek dalam penelitian oleh penulis mampu mengendalikan kedit yang diberikan oleh pihak bank atau kreditur kepada pihak peminjam (nasabah) dan mampu mengatasi permasalahan intermediasi perbankan dengan berani mengucurkan kreditnya juga dapat menarik kembali modal usaha atau kreditnya.

Dokumen terkait