BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
E. Pengolahan Data dan Penyajian Data
a. Cleaning
Menyusun atau merapikan data hasil pengumpulan data yang masih dalam bentuk coretan atau keterangan-keterangan pada kuisioner.
b. Editing
Data kuisioner dimasukkan kedalam master tabel, kemudian dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi dengan mencari presentasi dengan rumus :
P= 𝐹
𝑁
x
100%F = jumlah jawaban responden N = jumlah responden
Data pemeriksaan dimasukkan kedalam master tabel dan tabel distribusi frekuensi dengan cara manual dan komputer.
2. Analisa Data
Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk narasi dan distribusi frekuensi untuk melihat gambaran pengetahuan responden mengenai pertumbuhan gigi sulung dan perawatan gigi sulung pada anak prasekolah berdasarkan tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan sumber informasi.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 2 Mei 2016 di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut. Sebelum melakukan penelitian, peneliti memberikan surat informed consent untuk mendapatkan persetujuan dari responden dan dilanjutkan dengan memberikan kuisioner kepada responden mengenai pengetahuan tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak prasekolah. Tahap selanjutnya peneliti melakukan wawancara kepada responden dengan teknik FGD untuk mendapatkan hasil yang lebih mendalam dari responden.
1. Karakteristik Responden
Pada penelitian ini, responden adalah ibu dari siswa di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut yang berjumlah 13 orang.
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden
Tingkat Pendidikan Jumlah
Berdasarkan tabel 5.1 diatas, terlihat bahwa tingkat pendidikan responden rata-rata berpendidikan rendah (53,85%).
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Jenis Pekerjaan Responden
Berdasarkan tabel 4.2 diatas terlihat bahwa sebagian besar jenis pekerjaan responden adalah ibu rumah tangga sebanyak 61,54%.
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Sumber Informasi tentang Pengetahuan Kesehatan Gigi yang diperoleh Responden
Berdasarkan tabel 4.3 diatas, terlihat bahwa sebagian responden mendapatkan sumber informasi jenis audio visual (84,62%). Hasil wawancara mendalam pada penelitian ini mendukung hasil penelitian kuantitatif seperti diuraikan dalam kotak 1 berikut ini :
Kotak 1
Responden 1,2,3,4,5,6,8,10,11,12,13 :
“Biasanya dapet dari ibu-ibu yang lain aja kalau lagi ngumpul , terus dari orangtua juga. Informasinya tentang makanan yang sehat contohnya, terus waktu gosok gigi”
Responden 7,9 :
“Terus bisa dapet dari televisi, iklan pasta gigi biasanya atau dari buku juga”
Wawancara mendalam dengan responden
Dari hasil wawancara mendalam mengenai sumber informasi, sebagian besar responden mendapatkan informasi tentang kesehatan gigi dan mulut dari media audio visual. Hal itu digambarkan dari jawaban responden dalam kotak 1 diatas dimana responden mendapat informasi tentang kesehatan gigi dan mulut dari orang lain secara langsung, juga dari media televisi berupa iklan.
2. Gambaran Pengetahuan Responden tentang Pertumbuhan Gigi Sulung Penelitian yang dilakukan pada 13 responden mengenai pengetahuan responden tentang pertumbuhan gigi sulung, didapatkan hasil sebagai berikut.
Diagram 4.1
Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Pertumbuhan Gigi Sulung
Berdasarkan diagram 5.1, distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang pertumbuhan gigi sulung menunjukkan bahwa 7 dari 13 responden (54%) memiliki pengetahuan yang kurang.
BAIK 0%
SEDANG 46%
KURANG 54%
PERSENTASE PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG PERTUMBUHAN GIGI SULUNG
Berdasarkan wawancara mendalam yang dilakukan peneliti terhadap responden mengenai pertumbuhan gigi sulung pada anak usia prasekolah diperoleh hasil yang hampir serupa antar jawaban satu dengan jawaban lainnya dari masing-masing responden.
Wawancara mendalam tentang pertumbuhan gigi sulung yang dilakukan oleh peneliti mendapatkan hasil sebagai berikut :
Kotak 2
Responden 1,2,5,6,7,10,11,12,13 :
“Gigi manusia itu berganti 2 kali, soalnya kan ada 2 jenis gigi. Gigi susu sama gigi tetap”
Responden 9 :
“Iya, 2 kali berganti. Kalau jenis gigi itu seperti gigi seri, gigi geraham kan”
Responden 1,2,5,6,7,8,9,10,11,12,13 :
“Perbedaan gigi susu dan gigi dewasa itu kalau gigi susu itu nanti copot, terus akan tumbuh lagi biasanya, kalau dari ukuran atau warnanya kurang tau apa bedanya”
Responden 1,9,10 :
“Biasanya mulai tumbuh usia 7 bulan gigi susu pertama tumbuh”
Responden 2,7,8,11,12 :
“Gigi pertama itu sekitar usia 6-7 bulan udah mulai tumbuh”
Responden 3,4,6,13 :
“Usia 8 bulan biasanya giginya mulai tumbuh”
Responden 2 :
“Jumlahnya berapa ya, 22 kayanya”
Responden 7 :
“Jumlah gigi susu mungkin 24 gigi”
Responden 2,7,10,12,13 :
“Usia 2-3 tahunan sudah lengkap biasanya gigi susunya”
Responden 1,3,5,6,8,9,11 :
“Rata-rata di usia anak 2 tahun giginya udah tumbuh semua”
Responden 4 :
“Anak berumur 3 tahunan biasanya giginya lengkap semua”
Responden 2 :
“Fungsi gigi susu itu untuk mencerna makanan ya”
Responden 6 :
“Gigi susu fungsinya ya utuk menyerap makanan yang dimakan”
Responden 8,11 :
“Fungsinya itu untuk mengunyah makanan yang dimakan biasanya”
Responden 9 :
“Iya, terus biasanya gigi juga bisa untuk memotong, mencabik makanan juga”
Responden 13 :
“Gigi susu itu untuk mengunyah makanan, terus untuk menggigit, bisa juga untuk memotong makanan”
Wawancara mendalam dengan responden
Hasil wawancara mendalam tentang pertumbuhan gigi sulung pada kotak 2 ini mendukung hasil pada diagram 4.1 dimana hanya beberapa responden yang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan secara tepat.
Sehingga hal tersebut membuktikan bahwa pengetahuan responden tentang pertumbuhan gigi sulung masih kurang.
3. Gambaran Pengetahuan Responden tentang Perawatan Gigi Sulung Penelitian yang dilakukan pada 13 responden mengenai pengetahuan responden tentang perawatan gigi sulung, didapatkan hasil sebagai berikut.
Diagram 4.2
Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Perawatan Gigi Sulung
BAIK 23%
SEDANG 23%
KURANG 54%
PERSENTASE PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG PERAWATAN GIGI SULUNG
Berdasarkan diagram 4.2 di atas, distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang perawatan gigi sulung menunjukkan bahwa 7 dari 13 responden (54%) memiliki pengetahuan yang kurang.
Wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti mengenai pengetahuan responden tentang perawatan gigi sulung mendapat jawaban yang beragam. Hasil dari wawancara tersebut diuraikan sebagai berikut :
Kotak 3 Responden 6 :
“Tahu, kalau kesehatan gigi susu berpengaruh terhadap kesehatan umum pada anak, biasanya kalau anak sakit gigi itu suka demam ya”
Responden 2 :
“Memelihara kesehatan gigi dan mulut anak balita itu penting, karena kalau tidak dirawat, pasti nantinya giginya tumbuhnya tidak bagus”
Responden 9 :
“Selain itu, sering sakit gigi nanti”
Responden 6 :
“Kesehatan gigi susu itu sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan gigi tetap karena nantinya gigi tetapnya itu akan jelek”
Responden 7 :
“Iya, biasanya nantinya pertumbuhan gigi tetapnya itu ngga rapi”
Responden 8 :
“Benar, biasanya kalau gigi susunya jelek nanti gigi tetapnya juga jelek katanya, kata orangtua dulu”
Responden 2 :
“Orangtua berperan dalam membimbing anak ketika menyikat gigi, terus waktunya, waktu mau tidur diingatkan. Nanti kalau udah kebiasaan, mau sendiri anaknya”
Responden 5,6,7,8,9,10,11,12,13 :
“Ibu biasanya membimbing anaknya menyikat gigi”
Responden 1,3,4,5,6,7,9,10,11,13 :
“Waktu menyikat gigi anak itu aja pas mandi, pagi-pagi sama sore biasanya”
Responden 2,8,12 :
”Waktunya itu harusnya saat setelah makan pagi sama sebelum tidur, tapi jarang dilakuin sebelum tidurnya karena kadang suka lupa atau anaknya tidak mau gosok gigi dulu, jadi langsung aja tidur”
Responden 1,3,4,5,6,7,9,10,11,12 :
“Anak dibawa ke dokter gigi kalau sakit gigi aja anaknya baru ke dokter gigi, kalau ga sakit gigi ya engga. Biasanya kalau sakit gigi biasanya anaknya rewel jadi langsung dibawa kedokter terus diobatin, nah kalau udah sembuh udah aja ga ke dokter lagi”
Responden 2,8,13 :
“Harusnya waktunya itu 6 bulan sekali, tapi biasanya dilakuinnya kalau sakit gigi aja baru dibawa ke dokter gigi. Terus kalau ada gigi yang tumbuh tidak pada tempatnya juga baru ke dokter gitu
Responden 2 :
”Setelah anak makan permen atau coklat biasanya disuruh sikat gigi anaknya atau dikasih minum air putih”
Responden 4,5,8,12 :
“Biasanya suka dikasih minum air putih atau disuruh kumur-kumur kalo udah makan permen, udah aja”
Wawancara mendalam dengan responden
Dari hasil wawancara mendalam dapat dilihat bahwa responden masih kurang tepat dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Hasil ini memperkuat hasil dari penelitian kuantitatif pada diagram 4.2 dimana 54%
responden pengetahuan tentang pemeliharaan kesehatan gigi sulung masih kurang .
B. Pembahasan
Kesehatan gigi anak berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Pemeliharaan kesehatan gigi anak usia prasekolah masih bergantung kepada orangtua, terutama ibu sebagai orang terdekat. Oleh sebab itu, orangtua harus memiliki pengetahuan yang baik karena pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Notoadmodjo (2003) dan Mubarak (2007) berpendapat bahwa pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan informasi.
Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan pada tabel 4.1 menunjukkan sebanyak 53,85% responden termasuk kedalam kategori berpendidikan rendah, yaitu merupakan lulusan SD/SMP. Peneliti berasumsi bahwa rendahnya tingkat pendidikan responden akan mempengaruhi pengetahuan responden. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Notoatmodjo (2013) bahwa pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang, makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
Berdasarkan hasil penelitian, tabel 4.2 menunjukkan bahwa 61,54% adalah ibu rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga, diharapkan responden memiliki waktu luang yang cukup banyak untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan gigi dan mulut sehingga mampu memberikan perawatan kepada anak secara optimal. Sejalan dengan pendapat Sariningrum (2009) bahwa ibu rumah tangga akan lebih banyak meluangkan waktu dibandingkan pekerja untuk memperhatikan kondisi kesehatan anaknya, khususnya kesehatan gigi.
Hasil penelitian pada tabel 4.3 menunjukkan sebanyak 84,62%, responden mendapatkan sumber informasi tentang kesehatan gigi dan mulut melalui media audio visual yang juga diperkuat dari hasil wawancara mendalam dengan responden pada kotak 1. Responden menjelaskan bahwa informasi tersebut didapatkan dengan cara bertukar informasi dengan orang lain, serta didapatkan dari media televisi. Tetapi dalam hal ini, informasi yang didapatkan tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung masih sangat minim.
Hal tersebut diatas merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Notoatmodjo (2012) berpendapat bahwa pengetahuan
merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pada penelitian ini, diagram 4.1 menunjukkan sebanyak 54% responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang pertumbuhan gigi sulung. Hasil penelitian tersebut diperkuat dari wawancara mendalam yang diuraikan dalam kotak 2. Responden mengetahui terjadinya pergantian gigi pada anak, tetapi kurang mengetahui jumlah gigi sulung serta fungsi dari gigi sulung tersebut. Sehingga responden kurang memperhatikan kesehatan gigi sulung pada anak prasekolah karena memiliki anggapan bahwa gigi sulung tersebut akan digantikan oleh gigi tetap.
Sementara itu, hasil penelitian pada diagram 4,2 juga menunjukkan bahwa sebesar 54% responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang pemeliharaan gigi sulung. Hal tersebut diperkuat dari hasil wawancara mendalam pada kotak 3, yang menunjukkan bahwa responden mengetahui pentingnya menjaga kesehatan gigi sulung karena akan mempengaruhi kesehatan umum pada anak. Tetapi responden kurang mengetahui cara memelihara kesehatan gigi sulung pada anak prasekolah.
Dari hasil penelitian diatas, terlihat bahwa pengetahuan responden masih kurang, baik itu pengetahuan tentang pertumbuhan gigi sulung maupun tentang perawatan gigi sulung. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut karena sebagian besar responden berpendidikan rendah. Rendahnya tingkat pendidikan responden mempengaruhi kemampuan responden dalam memahami informasi yang didapatkannya. Sejalan dengan pendapat Sariningrum (2009) bahwa tingkat pendidikan mempresentasikan kemampuan
seseorang dalam memperoleh dan memahami informasi kesehatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang diasumsikan semakin baik tingkat pemahamannya terhadap informasi kesehatan yang diperolehnya.
Menurut Mubarak (2007) lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pekerjaan responden sebagian besar merupakan ibu rumah tangga.
Pekerjaan mempengaruhi status sosial ekonomi keluarga. Dalam sebuah keluarga pendapatan ekonomi akan lebih banyak diperoleh jika kedua orangtua bekerja dibandingkan hanya satu orang yang bekerja. Seseorang yang bekerja, secara umum akan mendapatkan pendapatan sehingga segala aspek yang dibutuhkan terutama dalam menunjang pengetahuan dapat terpenuhi. Hal ini sesuai dengan model Andersen dalam Notoatmodjo (2003), pekerjaan merupakan hal untuk memperoleh pendapatan yang cukup agar dapat mendukung untuk meningkatkan pengetahuan seseorang tentang kesehatan khususnya kesehatan gigi dan mulut.
Kurangnya pengetahuan responden tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung juga dipengaruhi oleh sumber informasi. Televisi sebagai media yang menjadi sumber informasi bagi responden, masih kurang dalam memberikan informasi tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung.
Disamping itu, responden juga mendapatkan informasi dengan cara bertukar pengalaman dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya, tetapi informasi
yang didapatkan masih kurang mendalam, terutama tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung.
Hal diatas diperkuat oleh pendapat Budiman (2013) cit Agustin (2014), bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam diri individu. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik lingkungan dan proses masuknya pengetahuan. Semakin kondusif lingkungan semakin baik pula proses masuknya pengetahuan. Ia juga berpendapat bahwa informasi dan pengalaman pribadi merupakan faktor yang mempengaruhi pengetahuan orangtua.
Peran orangtua sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak prasekolah, termasuk dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pada usia tersebut, anak masih belum bisa melakukan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut secara mandiri sehingga perlu dukungan dari orangtua. Orangtua, terutama ibu adalah orang terdekat tempat anak belajar untuk bertumbuh dan berkembang. Anak belajar dari orangtua untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, dengan demikian apabila orangtua memberi contoh perilaku yang baik maka anak juga akan mengikuti perilaku orangtuanya tersebut (Sarinigsih,2012).
Untuk menjalankan peran tersebut, orangtua perlu memiliki pengetahuan yang cukup sehingga dapat melaksanakan perannya dengan optimal. Tingkat pendidikan, pekerjaan, serta informasi yang didapatkan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan dari orangtua, baik itu pengetahuan tentang pertumbuhan maupun tentang pemeliharaan gigi sulung.
BAB 5
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Karakteristik tingkat pendidikan orangtua di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut termasuk kedalam kategori rendah yaitu merupakan lulusan SD/SMP (53,85%).
2. Karakteristik jenis pekerjaan orangtua di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut adalah sebagian besar merupakan ibu rumah tangga ( 61,54%).
3. Informasi yang didapatkan oleh orangtua di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut tentang kesehatan gigi dan mulut sebagian besar bersumber dari media audiovisual (84,62%).
4. Pengetahuan orangtua tentang pertumbuhan gigi sulung di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut termasuk kedalam kategori kurang (54%) dan pengetahuan orangtua tentang perawatan gigi sulung juga termasuk kedalam kategori kurang (54%).
A. Saran
Saran dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi orangtua terutama ibu diharapkan dapat lebih aktif dalam mecari informasi dari berbagai sumber tentang kesehatan gigi dan mulut anak agar dapat melakukan pemeliharaan secara optimal.
2. Bagi PAUD AL-Ikhlas dapat menjadi fasilitator untuk meningkatkan pengetahuan orangtua tentang kesehatan gigi dan mulut anak prasekolah.
3. Bagi Puskesmas Kecamatan Banjaran hendaknya melakukan pembinaan dalam bentuk pendidikan kesehatan secara rutin agar para orangtua lebih mengetahui tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut bagi anak-anaknya.
4. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti sejauh mana hubungan tingkat pengetahuan orangtua terhadap kesehatan gigi dan mulut anak prasekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, Maria (2014). “Efektifitas Pendidikan Kesehatan Media Booklet dibandingkan Audiovisual terhadap Pengetahuan Orangtua tentang Karies Gigi pada Anak Usia 5-9 Tahun di Desa Makamhaji”. Naskah Publikasi.
http://www.eprints.ums.ac.id. Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-4 . Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung. 2015. Laporan Tahunan 2014. Soreang.
Eriska, R. 2005. Pengenalan dan Perawatan Kesehatan Gigi Anak Sejak Dini.
http://www.dokumen.tips.html. Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Machfoedz, Ircham dan Zein, Asmar Yetti. 2005. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-anak dan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya
Maulani, Chaerita., Enterprise, Jubilee. 2005. Kiat Merawat Gigi Anak. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Mubarak W I, dkk. 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses Belajar Mengajar dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta
_____________________2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
_____________________2013. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Sariningrum, Eviyati. (2009). “Hubungan Tingkat Pendidikan , Sikap dan Pengetahuan Orangtua Tentang Kebersihan Gigi dan Mulut Pada Anak Balita 3- 5 tahun Dengan Tingkat Kejadian Karies Di PAUD Jatipurno”.
Berita Ilmu Kesehatan, Vol. 2, No. 3 http://lib.ums.ac.id. Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Sariningsih, Endang. 2012. Merawat Gigi Anak Sejak Usia Dini. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Susanto, MI Grace W. 2011. Terapi Gusi untuk Kesehatan dan Kecantikan.
Semarang: Erlangga
Susilo, D., Santoso, R. E., & Diyatri, I. 2005. “Peranan Sorbitol Dalam Mempertahankan Kestabilan pH Saliva pada Proses Pencegahan Karies”.
Majalah Kedokteran Gigi, Vol. 38, No. 1:25-28. http://litbang.unair.ac.id.
Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Tampubolon, Nurmala S. (2005). Dampak Karies Gigi Dan Penyakit Periodontal Terhadap Kualitas Hidup. Pidato pengukuhan. http://USU Repository, 5- 6.
Diakses tanggal 2 Februari 2016
Tarigan, Rasinta. 1990. Karies Gigi. Jakarta : Hipokrates
Worang, T.S., Pangemanan, D. H. C., Wicaksono D. A. “Hubungan Tingkat Pengetahuan Orangtua dengan Kebersihan Gigi dan Mulut Anak di Tk Tunas Bhakti Manado“.Jurnal e-GiGi (eG), Vol. 2, No. 2.
http://ejournal.unsrat.ac.id. Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Yulvitrawasih. 2014. Peran Gigi Susu. http://www.rsi.co.id. Diakses tanggal 16 April 2016.