GAMBARAN PENGETAHUAN ORANGTUA TENTANG PERTUMBUHAN DAN PERAWATAN GIGI SULUNG PADA ANAK
PRASEKOLAH DI PAUD AL-IKHLAS GIRANGDEUKEUT
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan Program Diploma III Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Kementrian
Kesehatan Bandung
Disusun oleh, RESNA ROSDIANA
P.17325113025
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN KEPERAWATAN GIGI 2016
Karya Tulis Ilmiah dengan Judul
GAMBARAN PENGETAHUAN ORANGTUA TENTANG PERTUMBUHAN DAN PERAWATAN GIGI SULUNG PADA ANAK
PRASEKOLAH DI PAUD AL-IKHLAS GIRANGDEUKEUT
Diujikan pada Hari Selasa Tanggal 12 Bulan Juli Tahun 2016
Penguji 1 Penguji 2
Dedeh Ruhibah, S.SiT,S.Pd,M.MPd drg. Yenni Hendriani P., MKM NIP. 1952 03 20 1975 01 2001 NIP. 1972 11 22 2005 01 2002
Penguji 3
drg. Dewi Sodja Laela, M.Kes NIP. 1965 07 09 1993 12 2001
Karya Tulis Ilmiah dengan Judul
GAMBARAN PENGETAHUAN ORANGTUA TENTANG PERTUMBUHAN DAN PERAWATAN GIGI SULUNG PADA ANAK
PRASEKOLAH DI PAUD AL-IKHLAS GIRANGDEUKEUT
Telah disetujui dan disahkan pada
Hari ... Tanggal ... Bulan Juli Tahun 2016
Pembimbing
drg. Dewi Sodja Laela, M.Kes NIP. 1965 07 09 1993 12 2001
Mengetahui,
Ketua Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
drg. Hj. Hetty Anggrawati K, M.Kes AIFO NIP. 1956 10 05 1987 12 2001
GAMBARAN PENGETAHUAN ORANGTUA TENTANG PERTUMBUHAN DAN PERAWATAN GIGI SULUNG PADA ANAK
PRASEKOLAH DI PAUD AL-IKHLAS GIRANGDEUKEUT
Resna Rosdiana 1), Dewi Sodja Laela 2)
Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
ABSTRAK
Perawatan gigi pada anak usia prasekolah masih membutuhkan arahan dan petunjuk dari orangtua. Pengetahuan orangtua sangat penting dalam mendasari terbentuknya sikap dan perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak karena pengetahuan merupakan domain yang penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan orangtua tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak prasekolah di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah orangtua siswa di PAUD Al-Ikhlas.
Sampel penelitian ini diambil secara total sampling dengan jumlah sampel 13 orang. Pengukuran pengetahuan orangtua diukur melalui pembagian kuisioner tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung serta melalui wawancara dengan teknik FGD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik tingkat pendidikan responden termasuk kedalam kategori rendah sebesar 53,85%, jenis pekerjaan responden sebagian besar ibu rumah tangga sebanyak 61,54%, informasi sebagian besar bersumber dari media audiovisual sebanyak 84,62%. Pengetahuan orangtua tentang pertumbuhan gigi sulung dan perawatan gigi sulung juga termasuk kedalam kategori kurang sebanyak 54%. Dapat disimpulkan bahwa gambaran pengetahuan orangtua di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut tentang pertumbuhan gigi sulung dan perawatan gigi sulung masih kurang. Hal tersebut dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan responden serta kurangnya informasi yang didapatkan karena responden sebagian besar merupakan ibu rumah tangga.
Kata Kunci ; pengetahuan, gigi sulung, anak prasekolah.
THE OVERVIEW OF PARENTAL KNOWLEDGE ABOUT THE GROWTH AND CARE OF PRIMARY TEETH IN PRESCHOOL CHILDREN AT PAUD
AL-IKHLAS GIRANGDEUKEUT
Resna Rosdiana 1), Dewi Sodja Laela 2)
Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
ABSTRACT
The dental care in preschool children still need direction and guidance of parents.
Knowledge of parents is very important in order to build attitudes and behaviors that support or not support the oral health of children because the knowledge itself is domain to form of a person's actions.
This study aims to describe parental knowledge about the growth and care of primary teeth in preschool children at PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut. This study was a descriptive with cross-sectional design. The study population were parents in PAUD Al- Ikhlas. The research sample is taken by total sampling with a sample size of 13 people. Measurement of parental knowledge is measured by dividing the questionnaire about the growth and care of primary teeth as well as through interviews with FGD techniques.
The results showed that the characteristics of the respondent’s education level included into the category was lower by 53.85% , the type of work the respondent mostly housewives as much as 61.54%, most of the information sourced from audiovisual media as much as 84.62%. Parental knowledge about the growth of primary teeth and dental care firstborn also included into the category of less than 54%. It can be concluded that the picture knowledge of parents in PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut about growth primary teeth and dental care eldest still lacking. It is influenced by the low level of education of respondents and lack of information obtained because respondents are mostly housewives.
Keywords ; knowledge, primary teeth, preschool children.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “GAMBARAN PENGETAHUAN ORANGTUA TENTANG PERTUMBUHAN DAN PERAWATAN GIGI SULUNG PADA ANAK PRASEKOLAH DI PAUD AL-IKHLAS GIRANGDEUKEUT”.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Diploma III (D3) di Politeknik Kesehatan Bandung Jurusan Keperawatan Gigi.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dukungan, serta do’a dari berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. Ir Osman Syarief, MKM selaku Direktur Politeknik Kesehatan Bandung 2. drg. Hj. Hetty Anggrawati K, M.Kes AIFO selaku Ketua Jurusan Keperawatan
Gigi Poltekkes Bandung
3. drg. Dewi Sodja Laela M.Kes selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dan perhatiannya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan selama proses penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Dedeh Ruhibah S.SiT,S.Pd,M.MPd selaku Dosen Wali dan Dosen Penguji yang telah memberikan pengarahan dan nasehat selama masa perkuliahan.
5. drg. Yenni Hendriani P., MKM selaku Dosen Penguji yang telah memberikan saran dan masukan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Seluruh dosen pengajar dan staf tata usaha Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Bandung yang telah mendidik dan membekali ilmu pengetahuan selama masa perkuliahan.
7. Kedua orang tuaku tercinta, Bapak Wawan Dirwana serta Ibu Siti Hapsah yang selalu memberikan perhatian, do’a, dukungan, pengorbanan serta cinta dan kasih sayang yang tiada terputus.
8. Kakakku tercinta, Iksan Hikmawan yang telah memberikan dukungan dan semangat, dan nasihat kepada penulis.
9. Seluruh rekan-rekan mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi angkatan 2013 atas kebersamaannya selama kuliah yang telah saling membantu dan memberikan dukungan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini.
10. Pihak PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut serta para responden yang bersedia membantu penulis dalam penelitian untuk Karya Tulis ini.
11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah dengan tulus memberikan do’a dan dukungan hingga dapat terselesaikannya Karya Tulis Ilmiah ini.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya Karya Tulis Ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk bahan perbaikan.
Akhir kata penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan bagi penelitian selanjutnya.
Bandung, Juni 2016
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGUJIAN LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian... 3
1. Tujuan Umum ... 3
2. Tujuan Khusus ... 4
D. Manfaat Penelitian... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5
A. Konsep Pengetahuan ... 5
1. Pengertian Pengetahuan ... 5
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ... 5
B. Pertumbuhan dan Perawatan Gigi Sulung ... 8
1. Pertumbuhan Gigi Sulung ... 8
2. Fungsi Gigi Sulung ... 9
3. Perawatan Gigi Sulung ... 11
4. Pentingnya Perawatan pada Gigi Sulung ... 14
C. Kerangka Teori ... 15
D. Definisi Operasional ... 15
E. Pertanyaan Penelitian ... 17
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN... 18
A. Jenis Penelitian ... 18
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 18
C. Populasi dan Sampel ... 18
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 19
E. Pengolahan Data dan Penyajian Data... 20
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 21
A. Hasil Penelitian ... 21
1. Karakteristik Responden ... 21
2. Gambaran Pengetahuan Responden tentang Pertumbuhan Gigi Sulung ... 23
3. Gambaran Pengetahuan Responden tentang Perawatan Gigi Sulung ... 25
B. Pembahasan ... 27
BAB 5 PENUTUP... 31
A. Kesimpulan ... 31
B. Saran ... 31
DAFTAR PUSTAKA ... 33 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Pertumbuhan Gigi Sulung 8
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden 21 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Jenis Pekerjaan Responden 22 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Sumber Informasi tentang Pengetahuan
Kesehatan Gigi yang diperoleh Responden 22
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 4.1 Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Pertumbuhan
Gigi Sulung 23
Gambar 4.2 Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Perawatan
Gigi Sulung 25
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuisioner
Lampiran 2 Master Tabel Kuisioner Lampiran 3 Rekapan Data Responden Lampiran 4 Informed Consent
Lampiran 5 Surat Izin Penelitian Lampiran 6 Dokumentasi
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kesehatan gigi terutama pada anak di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Banyak orangtua menganggap bahwa pergantian dari gigi sulung ke permanen tidak perlu dirawat jika anak tidak mengeluh sakit, padahal banyak akibat yang ditimbulkan jika gigi sulung tidak dirawat dengan baik.
Banyak upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan gigi pada anak, salah satunya yaitu melakukan perawatan ke dokter gigi atau ke puskesmas setiap 6 bulan sekali (Susilo, 2005; Tampubolon, 2006).
Di Indonesia, data dari Community Dental Oral Epidemiologi menyatakan bahwa anak-anak TK di Indonesia mempunyai risiko besar terkena karies, karena anak di pedesaan usia 4-5 tahun yang telah terkena karies sebanyak 95,9%, dengan nilai def-t 7,98, sedangkan di perkotaan sebanyak 90,5%, dengan nilai def-t 7,92. Pada usia 12 tahun, presentase yang terkena karies sebanyak 76,92%, dengan nilai DMFT 2,21 di tahun 1995. Data ini dapat dijadikan acuan bagi orangtua untuk lebih memperhatikan perawatan gigi anak-anak pra sekolah, supaya timbul kebiasaan dalam melakukan pembersihan gigi dan mulut secara teratur dan kebiasaan anak untuk makan makanan yang sehat (Maulani, 2005).
Bagi anak pra sekolah upaya perawatan gigi masih merupakan hal yang sulit dilakukan. Oleh karena itu orangtua terutama ibu harus selalu memberikan petunjuk dan arahan agar anak dapat merawat gigi dengan baik dan benar. Agar ibu dapat melaksanakan peran ini maka ibu harus memiliki pengetahuan yang
baik tentang perawatan gigi pada anak. Namun demikian belum tentu semua ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang perawatan gigi tersebut.
Pengetahuan orangtua sangat penting dalam mendasari terbentuknya sikap dan perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana yaitu melalui proses pendidikan. Orangtua yang memiliki pengetahuan rendah tentang kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi dari sikap dan perilaku yang tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak (Eriska, 2005).
Hasil penelitian yang dilakukan Worang di TK Tunas Bhakti Manado menunjukkan bahwa sebagian besar orangtua responden memiliki pengetahuan baik tentang kebersihan gigi dan mulut anak, yaitu sebanyak 32 orang (45,70%) dari 70 orangtua responden. Peran orangtua sangatlah penting untuk meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut anak dan merupakan salah satu upaya dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak (Worang dkk, 2014).
Girangdeukeut merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bandung yang berada di Kecamatan Banjaran. Puskesmas dan jaringannya merupakan sarana penyelenggara pelayanan kesehatan dasar dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung tahun 2014 bahwa sarana kesehatan di wilayah Kabupaten Bandung cukup banyak tetapi bukan berarti bahwa dapat menggambarkan semua daerah telah mendapatkan pelayanan kesehatan secara merata. Hal ini
disebabkan masih ada beberapa daerah yang letak geografisnya sulit menjangkau pelayanan kesehatan yang memadai (Dinkes Kab. Bandung, 2015).
PAUD Al-Ikhlas merupakan salah satu sekolah di Girangdeukeut.
Berdasarkan survei awal yang dilakukan diketahui bahwa di PAUD tersebut belum pernah mendapatkan kunjungan dari puskesmas untuk pembinaan kesehatan, khususnya pembinaan kesehatan gigi dan mulut pada anak prasekolah. Padahal, anak prasekolah merupakan salah satu kelompok yang rentan terjadinya masalah kesehatan gigi dan mulut. Selain itu, sebagian besar orangtua siswa di PAUD Al-Ikhlas adalah ibu rumah tangga, sehingga informasi yang didapatkan kemungkinan bersumber dari media televisi. Berdasarkan hal tersebut, untuk masalah pengetahuan tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak prasekolah masih belum terbukti.
Alasan-alasan tersebut yang mendasari penulis untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Orangtua tentang Pertumbuhan dan Perawatan Gigi Sulung pada Anak Prasekolah di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut”.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran pengetahuan orangtua tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak pra sekolah di PAUD Al-Ikhlas?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Diperolehnya informasi mengenai gambaran pengetahuan orangtua tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak pra sekolah di PAUD Al-Ikhlas
2. Tujuan Khusus
a. Mendapat gambaran karakteristik tingkat pendidikan orangtua anak prasekolah di PAUD Al-Ikhlas.
b. Mendapat gambaran karakteristik jenis pekerjaan orangtua anak prasekolah di PAUD Al-Ikhlas.
c. Mendapat gambaran karakteristik sumber informasi tentang kesehatan gigi dan mulut anak prasekolah di PAUD Al-Ikhlas.
d. Mendapat gambaran tentang pengetahuan orangtua mengenai pertumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak pra sekolah di PAUD Al-Ikhlas.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan perencanaan untuk meningkatkan pengetahuan orangtua mengenai pertumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak prasekolah oleh Puskesmas Desa Banjaran melalui kader- kader kesehatan Desa Banjaran.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour) (Notoatmodjo, 2012).
Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca indera yang berbeda sekali dengan kepercayaan (beliefs), takhayul (superstition), dan penerangan yang keliru (Mubarak, dkk, 2007). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetahuan berarti segala sesuatu yang diketahui, kepandaian (Departemen Pendidikan Nasional, 2008).
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain pendidikan, pekerjaan, umur, minat, pengalaman, kebudayaan dan informasi.
a. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang di berikan seseorang pada orang lain agar mereka dapat memahami. Semakin tinggi pendidikan
seseorang semakin mudah menerima informasi, dan akhirnya makin banyak pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat sikap terhadap penerimaan informasi dan nilai baru yang diperkenalkan (Mubarak, dkk, 2007). Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah (Notoatmodjo, 2003).
b. Pekerjaan dan Penghasilan
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung (Mubarak, dkk, 2007). Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar, maka dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas-fasilitas sumber informasi (Notoatmodjo, 2003).
c. Umur
Bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada fisik dan psikologis. Pertumbuhan fisik secara garis besar ada empat perubahan pertama perubahan ukuran, kedua perubahan proporsi, ketiga hilangnya ciri lama, keempat timbulnya ciri baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada psikologis taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa (Mubarak, dkk, 2007).
d. Minat
Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam (Mubarak, dkk, 2007).
e. Pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan bahwa pengalaman yang kurang baik segera dilupakan, jika menyenangkan maka secara psikologis akan timbul kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaan dan akhirnya membentuk sikap positif dalam kehidupannya (Mubarak, dkk, 2007). Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
f. Kebudayaan
Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu (Notoatmodjo, 2007). Lingkungan sekitar, kebudayaan dimana kita hidup dan di besarkan mempunyai hubungan besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu
menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berhubungan dalam pembentukkan sikap pribadi atau sikap seseorang (Mubarak, dkk, 2007).
g. Informasi
Informasi merupakan salah satu unsur komunikasi yaitu suatu proses penyampaian informasi dari "komunikator" kepada
"komunikan" (Notoatmodjo, 2003). Kemudahan memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang memperoleh pengetahuan yang baru (Mubarak, dkk, 2007). Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, televisi, majalah, koran, dan buku (Notoatmodjo, 2003).
B. Pertumbuhan dan Perawatan Gigi Sulung 1. Pertumbuhan Gigi Sulung
Pembentukan gigi geligi dimulai sejak bayi masih dalam kandungan yaitu pada minggu ke-6 kehamilan sampai bayi lahir. Pertumbuhan gigi masih berlangsung terus didalam rahang bayi dan tak terlihat.
Tumbuhnya gigi terjadi secara berurutan dan dapat dilihat pada tabel dibawah ini (Sariningsih, 2012).
Tabel 2.1 Pertumbuhan Gigi Sulung
Gigi Rahang Atas Rahang Bawah
Gigi seri pertama Gigi seri kedua
7-8 bulan 8-9 bulan
6-7 bulan 8-9 bulan Gigi taring
Gigi geraham pertama
16-18 bulan 12-14 bulan
14-16 bulan 12-14 bulan Gigi geraham kedua 20-30 bulan 20-30 bulan
Pada umur antara 2 ½ - 3 tahun maka lengkaplah gigi sulung itu sebanyak 20 buah. Dengan demikian, sejak umur ini anak tersebut sudah siap mengunyah makanan dengan sempurna daripada sebelumnya (Machfoedz dan Zein, 2005).
Timbulnya gigi didalam mulut itu tidak berurutan, tetapi berselang- seling sesuai dengan fungsi dari gigi itu sendiri terhadap pencernaan di dalam tugas pengunyahan sesuai dengan usia bayi atau anak terhadap kemampuan seluruh alat pencernaan terhadap sifat kekerasan bahan makanan yang dimakan (Machfoedz dan Zein, 2005).
Gigi sulung tersebut akan bertahan sampai umur 6 tahun. Sesuai dengan kemampuan alat pencernaan makanan anak yang makin meningkat umurnya maka sejak umur 6 tahun itu mulai terjadilah pergantian- pergantian gigi dari gigi sulung ke gigi dewasa (Machfoedz dan Zein, 2005).
2. Fungsi Gigi Sulung
Gigi susu memegang peran penting dalam pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental. Ini bisa dilihat dari berbagai fungsi gigi susu, yaitu :
a. Fungsi Pengunyahan (Mastikasi)
Gigi berguna sebagai pengunyahan untuk melembutkan makanan. Seiring bertambahnya usia anak, jenis makanan yang dikonsumsi sebaiknya juga semakin beraneka ragam (Susanto, 2011).
Anak yang sering sakit tentu akan malas untuk mengunyah makanan, hal ini berdampak pada asupan gizi yang tentunya sangat dibutuhkan anak-anak mengingat masa anak-anak adalah masa aktif pertumbuhan dan perkembangan. Disamping itu berdampak pula terhadap pertumbuhan rahang. Rahang tidak akan bertumbuh maksimal karena fungsi pengunyahan yang juga tidak maksimal, mengakibatkan gigi-gigi permanen penggantinya kekurangan ruang sehingga berjejal (crowded), posisi gigi depan maju (prostrusi) (Yulvitrawasih, 2014).
b. Fungsi Bicara (Fonetik)
Gigi berperan dalam pengucapan huruf-huruf tertentu seperti, F,V,S,Z,Th. Cara bicara anak tersebut akan lebih baik (tidak cadel) terutama untuk huruf yang berdesis. Ketika gigi, terutama gigi depan hilang/rusak berat maka pelafalan beberapa huruf akan kurang tepat (Yulvitrawasih, 2014).
c. Fungsi Kecantikan (Estetik)
Anak dengan gigi utuh/rapi maka akan memberi pengaruh pada wajah sehingga akan terlihat semakin cantik/tampan. Yang perlu dicermati adalah beban psikologis anak ketika teman-temannya mengolok dengan sebutan ‘ompong’ karena giginya gigis (rampant) dan tinggal akar (Susanto, 2011; Yulvitrawasih, 2014).
d. Sebagai Pemandu
Gigi susu berfungsi mempertahankan ruang dalam lengkung gigi sebagai persiapan pertumbuhan gigi permanen sekaligus menentukan arah pertumbuhan gigi permanen (Yulvitrawasih, 2014).
Pada usia tertentu gigi susu akan tanggal dan diganti dengan gigi tetap yang telah ada dibawah gigi susu. Arah pertumbuhan gigi tetap akan mengikuti arah gigi susu sebelumnya. Jika gigi susu dicabut atau tanggal sebelum waktunya, gigi beresiko tumbuh tidak di tempat yang semestinya (Susanto, 2007).
3. Perawatan Gigi Sulung
Anak pada umumnya lebih banyak menjadi urusan ibu, maka baik buruk anak tercermin dari sikap ibu terhadap anaknya. Persatuan Dokter Gigi Australia pernah mengungkapkan : ”kesehatan gigi geligi anak adalah tanggungjawab ibunya”. Hal ini dapat dipahami karena umumnya yang paling dekat dengan anak sejak usia menyusu adalah ibunya (Machfoedz dan Zein, 2005).
Perawatan gigi pada anak adalah upaya yang dilakukan agar gigi anak tetap sehat dan dapat menjalankan fungsinya. Gigi yang sehat adalah gigi yang bersih tanpa adanya lubang. Yang paling mudah dan sederhana adalah memulai kebiasaan baik sejak kecil. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam perawatan gigi, yaitu :
a. Menyiapkan makanan kaya kalsium (ikan & susu), fluor (teh, sayuran hijau), fosfor, serta vitamin A (wortel), vitamin C (buah-buahan),
vitamin D (susu) dan vitamin E (kecambah). Mineral dan vitamin tersebut diperlukan untuk pertumbuhan gigi. Makanan dapat dikatakan sangat berhubungan terhadap gigi dan mulut, dimana pengaruhnya dapat dibagi 2 yakni isi dari makanan yang menghasilkan energi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin serta mineral). Unsur tersebut berhubungan pada masa pra-erupsi serta pasca erupsi dari gigi geligi. Kedua fungsi mekanis dari makanan yakni makanan bersifat membersihkan gigi (apel, jambu air, bengkuang dan lainnya). Sebaliknya makanan yang lunak dan lengket akan merusak gigi (bonbon, coklat, biskuit dan lainnya) (Tarigan, 1990).
b. Anak di atas usia dua tahun sudah dapat diajarkan cara menyikat gigi.
Pada tahap pertama hendaknya orangtua memberikan contoh pada anak cara melakukan penyikatan setelah itu anak diminta untuk mengikuti. Usahakan menyikat gigi setidaknya dua kali sehari, pertama pagi hari setelah makan pagi sebelum berangkat sekolah dan kedua sebelum tidur, dengan catatan saat tidur tidak diberi minum susu. Jika anak terbangun minta minum, cukup beri air putih karena biasanya anak hanya haus (Susanto, 2011).
c. Biasakan anak minum air putih usai mengkonsumsi makanan apapun.
Jika sudah bisa berkomunikasi dengan baik, ajarkan anak berkumur air putih dahulu sebelum ditelan untuk melepaskan dan melarutkan makanan yang masih menempel pada gigi dan gusi. Cara sederhana
ini dapat membantu menjaga kebersihan mulut, gigi, dan gusi (Susanto, 2011).
d. Obat kumur bisa meningkatkan kebersihan dan kesehatan mulut, khususnya pada daerah yang sulit terjangkau oleh sikat gigi untuk kebersihan jaringan lunak, seperti gusi, lidah, dan lekukan pipi bagian dalam. Saat ini sudah banyak pilihan obat kumur sebagai antisepik yang dapat digunakan anak-anak. Mulailah memberi perhatian khusus pada mulut anak yang berusia sekitar 5,5 tahun, khususnya di bagian rahang paling belakang, tempat molar pertama akan tumbuh didahului dengan pembengkakan gusi di daerah tersebut (Susanto, 2011).
e. Kunjungan ke dokter gigi dapat dimulai ketika muncul gigi pertama.
Kunjungan perlu dilakukan karena begitu gigi pertama muncul, aneka jenis bakteri di dalam mulut akan hidup dan berkembangbiak di sela gigi dengan memanfaatkan sisa gula yang menempel untuk diuraikan menjadi asam. Asam ini yang menyebabkan terjadinya keropos pada gigi anak (Susanto, 2011).
f. Kesehatan rongga mulut anak-anak di bawah usia 2 tahun sepenuhnya dibawah pengawasan orangtua. Hingga usia 12 tahun sampai selesainya pergantian gigi susu menjadi gigi dewasa, orangtua harus tetap memantau. Luangkan waktu untuk memantau gigi anak dan komunikasikanlah bila ada perubahan atau rasa tidak nyaman pada mulut, gigi, dan gusinya (Susanto, 2011).
4. Pentingnya Perawatan Gigi pada Gigi Sulung
Gangguan pada gigi anak sering terjadi dan tak jarang membuat orangtua bingung dan cemas. Banyak orangtua membawa anaknya ke dokter gigi dengan permintaan agar gigi anak yang sakit dicabut dengan alasan supaya anak tidak rewel (Susanto, 2011).
Ada pemahaman keliru beberapa orangtua yang beranggapan bahwa gigi susu tidak perlu dirawat karena akan tanggal dalam beberapa tahun.
Penting diketahui bahwa gigi susu sangat berperan terhadap perkembangan rahang, otot-otot wajah dan kesehatan gigi permanen.
Meskipun gigi susu akan digantikan oleh gigi permanen, hal itu harus terjadi di usia yang tepat. Jika gigi sulung hilang terlalu awal, gigi-gigi permanen cenderung tidak diposisikan dengan benar, tumbuh miring atau bahkan terhalang gigi lain. Kerusakan penyakit pada gigi susu juga dapat dengan mudah berpindah ke gigi permanen. Sebagian gigi susu masih bertahan sampai usia 10-12 tahun sehingga banyak kesempatan untuk menularkan pembusukan ke tetangga baru mereka yang permanen. Jika pembusukan menyebar ke akar, infeksi pada akar gigi susu dapat menyusup ke akar gigi tetap. Oleh karena itu, penting sekali bagi para orangtua untuk memperhatikan kesehatan gigi anak mereka (Yulvitrawasih, 2014).
C. Kerangka Teori
\
D. Definisi Operasional
1. Pengetahuan Responden tentang Pertumbuhan Gigi Sulung
Segala sesuatu yang diketahui oleh responden megenai masa munculnya gigi sulung pada rongga mulut secara berkesinambungan dan berurutan sampai tumbuh lengkap pada usia 2 ½ - 3 tahun.
Alat ukur : Kuisioner
Hasil ukur : Pengukuran pengetahuan menurut Arikunto (2006) 1. Baik : 76%-100%
2. Sedang : 56%-75%
3. Kurang : 40%-55%
Pengetahuan orang tua
a. Tingkat Pendidikan b. Jenis Pekerjaan c. Sumber Informasi
Kesehatan
Kesehatan Umum
Kesehatan Gigi
Gigi Sulung Gigi Permanen
a. Pertumbuhan gigi sulung b. Perawatan
gigi sulung
Agama Pendidikan
Jaringan keras
Jaringan lunak
Jaringan penyangga
4. Pengetahuan Responden tentang Perawatan Gigi Sulung
Pengetahuan responden mengenai tindakan untuk menjaga kesehatan gigi sulung dan rongga mulut yang dilakukan setiap hari oleh orangtua terhadap anak prasekolah di rumah.
Alat ukur : Kuisioner
Hasil ukur : Pengukuran pengetahuan menurut Arikunto (2006) 1. Baik : 76%-100%
2. Sedang : 56%-75%
3. Kurang : 40%-55%
4. Sumber Informasi
Media informasi dimana responden mendapatkan pengetahuan tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung baik itu melalui media cetak, media elektronik ataupun didapatkan langsung dari orang lain.
Alat ukur : Kuisioner
Hasil ukur : Sumber informasi : 1. Audio
2. Visual 3. Audio visual 5. Tingkat Pendidikan
Pendidikan terakhir yang ditempuh oleh responden.
Alat ukur : Kuisioner
Hasil Ukur : 1. Rendah (SD/ SMP) 2. Menengah (SMA/SMK) 3. Tinggi (Perguruan Tinggi)
6. Pekerjaan
Jenis pekerjaan responden.
Alat Ukur : Kuisioner Hasil Ukur : 1. PNS
2. Karyawan Swasta 3. Wiraswasta 4. Ibu rumah tangga E. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran karakteristik tingkat pendidikan orangtua anak prasekolah di PAUD Al-Ikhlas ?
2. Bagaimana gambaran karakteristik jenis pekerjaan orangtua anak prasekolah di PAUD Al-Ikhlas ?
3. Bagaimana gambaran karakteristik sumber informasi tentang kesehatan gigi dan mulut anak prasekolah di PAUD Al-Ikhlas ?
4. Bagaimana gambaran tentang pengetahuan orangtua mengenai pertumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak pra sekolah di PAUD Al-Ikhlas ?
BAB 3
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Keadaan yang akan digambarkan yaitu pengetahuan orangtua
tentang petumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak prasekolah di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Peneltian ini dilaksanakan di Paud Al-Ikhlas Girangdeukeut Banjaran Kabupaten Bandung
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2016 C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah orangtua siswa di Paud Al- Ikhlas.
2. Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh orangtua siswa, dalam hal ini adalah ibu dari siswa di Paud Al-Ikhlas yang berjumlah 13 orang. Pada penelitian ini pengambilan besar sampel ditentukan dengan total sampling.
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data 1. Jenis data
Data diperoleh berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari orangtua siswa di PAUD Al-Ikhlas dengan menggunakan kuisioner. Data sekunder diperoleh dari PAUD Al-Ikhlas 2. Cara Pengumpulan Data
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pelaksanaan
c. Tahap Penyelesaian Perijinan
Diterima Ditolak
Peninjauan Ulang Berkas
Diterima
Perijinan
Pelaksanaan
Pelaksanaan Melakukan
pendekatan
Pengisian kuisioner
Wawancara
Penyuluhan
Pengolahan Data
Cleaning Editing
Analisa Data
E. Pengolahan Data dan Penyajian Data 1. Pengolahan Data
a. Cleaning
Menyusun atau merapikan data hasil pengumpulan data yang masih dalam bentuk coretan atau keterangan-keterangan pada kuisioner.
b. Editing
Data kuisioner dimasukkan kedalam master tabel, kemudian dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi dengan mencari presentasi dengan rumus :
P= 𝐹
𝑁
x
100%F = jumlah jawaban responden N = jumlah responden
Data pemeriksaan dimasukkan kedalam master tabel dan tabel distribusi frekuensi dengan cara manual dan komputer.
2. Analisa Data
Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk narasi dan distribusi frekuensi untuk melihat gambaran pengetahuan responden mengenai pertumbuhan gigi sulung dan perawatan gigi sulung pada anak prasekolah berdasarkan tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan sumber informasi.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 2 Mei 2016 di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut. Sebelum melakukan penelitian, peneliti memberikan surat informed consent untuk mendapatkan persetujuan dari responden dan dilanjutkan dengan memberikan kuisioner kepada responden mengenai pengetahuan tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung pada anak prasekolah. Tahap selanjutnya peneliti melakukan wawancara kepada responden dengan teknik FGD untuk mendapatkan hasil yang lebih mendalam dari responden.
1. Karakteristik Responden
Pada penelitian ini, responden adalah ibu dari siswa di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut yang berjumlah 13 orang.
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden
Tingkat Pendidikan Jumlah
F %
Rendah Menengah
Tinggi
7 4 2
53,85%
30,77%
15,38%
TOTAL 13 100%
Berdasarkan tabel 5.1 diatas, terlihat bahwa tingkat pendidikan responden rata-rata berpendidikan rendah (53,85%).
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Jenis Pekerjaan Responden
Berdasarkan tabel 4.2 diatas terlihat bahwa sebagian besar jenis pekerjaan responden adalah ibu rumah tangga sebanyak 61,54%.
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Sumber Informasi tentang Pengetahuan Kesehatan Gigi yang diperoleh Responden
Berdasarkan tabel 4.3 diatas, terlihat bahwa sebagian responden mendapatkan sumber informasi jenis audio visual (84,62%). Hasil wawancara mendalam pada penelitian ini mendukung hasil penelitian kuantitatif seperti diuraikan dalam kotak 1 berikut ini :
Kotak 1
Responden 1,2,3,4,5,6,8,10,11,12,13 :
“Biasanya dapet dari ibu-ibu yang lain aja kalau lagi ngumpul , terus dari orangtua juga. Informasinya tentang makanan yang sehat contohnya, terus waktu gosok gigi”
Responden 7,9 :
“Terus bisa dapet dari televisi, iklan pasta gigi biasanya atau dari buku juga”
Wawancara mendalam dengan responden
Jenis Pekerjaan Jumlah
F %
PNS Pegawai Swasta
1 2
7,69%
15,38%
Wiraswasta Ibu Rumah Tangga
2 8
15,38%
61,54%
TOTAL 13 100%
Sumber Informasi F %
Audio 0 0%
Visual 2 15,38%
Audio Visual 11 84,62%
TOTAL 13 100%
Dari hasil wawancara mendalam mengenai sumber informasi, sebagian besar responden mendapatkan informasi tentang kesehatan gigi dan mulut dari media audio visual. Hal itu digambarkan dari jawaban responden dalam kotak 1 diatas dimana responden mendapat informasi tentang kesehatan gigi dan mulut dari orang lain secara langsung, juga dari media televisi berupa iklan.
2. Gambaran Pengetahuan Responden tentang Pertumbuhan Gigi Sulung Penelitian yang dilakukan pada 13 responden mengenai pengetahuan responden tentang pertumbuhan gigi sulung, didapatkan hasil sebagai berikut.
Diagram 4.1
Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Pertumbuhan Gigi Sulung
Berdasarkan diagram 5.1, distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang pertumbuhan gigi sulung menunjukkan bahwa 7 dari 13 responden (54%) memiliki pengetahuan yang kurang.
BAIK 0%
SEDANG 46%
KURANG 54%
PERSENTASE PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG PERTUMBUHAN GIGI SULUNG
Berdasarkan wawancara mendalam yang dilakukan peneliti terhadap responden mengenai pertumbuhan gigi sulung pada anak usia prasekolah diperoleh hasil yang hampir serupa antar jawaban satu dengan jawaban lainnya dari masing-masing responden.
Wawancara mendalam tentang pertumbuhan gigi sulung yang dilakukan oleh peneliti mendapatkan hasil sebagai berikut :
Kotak 2
Responden 1,2,5,6,7,10,11,12,13 :
“Gigi manusia itu berganti 2 kali, soalnya kan ada 2 jenis gigi. Gigi susu sama gigi tetap”
Responden 9 :
“Iya, 2 kali berganti. Kalau jenis gigi itu seperti gigi seri, gigi geraham kan”
Responden 1,2,5,6,7,8,9,10,11,12,13 :
“Perbedaan gigi susu dan gigi dewasa itu kalau gigi susu itu nanti copot, terus akan tumbuh lagi biasanya, kalau dari ukuran atau warnanya kurang tau apa bedanya”
Responden 1,9,10 :
“Biasanya mulai tumbuh usia 7 bulan gigi susu pertama tumbuh”
Responden 2,7,8,11,12 :
“Gigi pertama itu sekitar usia 6-7 bulan udah mulai tumbuh”
Responden 3,4,6,13 :
“Usia 8 bulan biasanya giginya mulai tumbuh”
Responden 2 :
“Jumlahnya berapa ya, 22 kayanya”
Responden 7 :
“Jumlah gigi susu mungkin 24 gigi”
Responden 2,7,10,12,13 :
“Usia 2-3 tahunan sudah lengkap biasanya gigi susunya”
Responden 1,3,5,6,8,9,11 :
“Rata-rata di usia anak 2 tahun giginya udah tumbuh semua”
Responden 4 :
“Anak berumur 3 tahunan biasanya giginya lengkap semua”
Responden 2 :
“Fungsi gigi susu itu untuk mencerna makanan ya”
Responden 6 :
“Gigi susu fungsinya ya utuk menyerap makanan yang dimakan”
Responden 8,11 :
“Fungsinya itu untuk mengunyah makanan yang dimakan biasanya”
Responden 9 :
“Iya, terus biasanya gigi juga bisa untuk memotong, mencabik makanan juga”
Responden 13 :
“Gigi susu itu untuk mengunyah makanan, terus untuk menggigit, bisa juga untuk memotong makanan”
Wawancara mendalam dengan responden
Hasil wawancara mendalam tentang pertumbuhan gigi sulung pada kotak 2 ini mendukung hasil pada diagram 4.1 dimana hanya beberapa responden yang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan secara tepat.
Sehingga hal tersebut membuktikan bahwa pengetahuan responden tentang pertumbuhan gigi sulung masih kurang.
3. Gambaran Pengetahuan Responden tentang Perawatan Gigi Sulung Penelitian yang dilakukan pada 13 responden mengenai pengetahuan responden tentang perawatan gigi sulung, didapatkan hasil sebagai berikut.
Diagram 4.2
Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Perawatan Gigi Sulung
BAIK 23%
SEDANG 23%
KURANG 54%
PERSENTASE PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG PERAWATAN GIGI SULUNG
Berdasarkan diagram 4.2 di atas, distribusi frekuensi pengetahuan responden tentang perawatan gigi sulung menunjukkan bahwa 7 dari 13 responden (54%) memiliki pengetahuan yang kurang.
Wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti mengenai pengetahuan responden tentang perawatan gigi sulung mendapat jawaban yang beragam. Hasil dari wawancara tersebut diuraikan sebagai berikut :
Kotak 3 Responden 6 :
“Tahu, kalau kesehatan gigi susu berpengaruh terhadap kesehatan umum pada anak, biasanya kalau anak sakit gigi itu suka demam ya”
Responden 2 :
“Memelihara kesehatan gigi dan mulut anak balita itu penting, karena kalau tidak dirawat, pasti nantinya giginya tumbuhnya tidak bagus”
Responden 9 :
“Selain itu, sering sakit gigi nanti”
Responden 6 :
“Kesehatan gigi susu itu sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan gigi tetap karena nantinya gigi tetapnya itu akan jelek”
Responden 7 :
“Iya, biasanya nantinya pertumbuhan gigi tetapnya itu ngga rapi”
Responden 8 :
“Benar, biasanya kalau gigi susunya jelek nanti gigi tetapnya juga jelek katanya, kata orangtua dulu”
Responden 2 :
“Orangtua berperan dalam membimbing anak ketika menyikat gigi, terus waktunya, waktu mau tidur diingatkan. Nanti kalau udah kebiasaan, mau sendiri anaknya”
Responden 5,6,7,8,9,10,11,12,13 :
“Ibu biasanya membimbing anaknya menyikat gigi”
Responden 1,3,4,5,6,7,9,10,11,13 :
“Waktu menyikat gigi anak itu aja pas mandi, pagi-pagi sama sore biasanya”
Responden 2,8,12 :
”Waktunya itu harusnya saat setelah makan pagi sama sebelum tidur, tapi jarang dilakuin sebelum tidurnya karena kadang suka lupa atau anaknya tidak mau gosok gigi dulu, jadi langsung aja tidur”
Responden 1,3,4,5,6,7,9,10,11,12 :
“Anak dibawa ke dokter gigi kalau sakit gigi aja anaknya baru ke dokter gigi, kalau ga sakit gigi ya engga. Biasanya kalau sakit gigi biasanya anaknya rewel jadi langsung dibawa kedokter terus diobatin, nah kalau udah sembuh udah aja ga ke dokter lagi”
Responden 2,8,13 :
“Harusnya waktunya itu 6 bulan sekali, tapi biasanya dilakuinnya kalau sakit gigi aja baru dibawa ke dokter gigi. Terus kalau ada gigi yang tumbuh tidak pada tempatnya juga baru ke dokter gitu
Responden 2 :
”Setelah anak makan permen atau coklat biasanya disuruh sikat gigi anaknya atau dikasih minum air putih”
Responden 4,5,8,12 :
“Biasanya suka dikasih minum air putih atau disuruh kumur-kumur kalo udah makan permen, udah aja”
Wawancara mendalam dengan responden
Dari hasil wawancara mendalam dapat dilihat bahwa responden masih kurang tepat dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Hasil ini memperkuat hasil dari penelitian kuantitatif pada diagram 4.2 dimana 54%
responden pengetahuan tentang pemeliharaan kesehatan gigi sulung masih kurang .
B. Pembahasan
Kesehatan gigi anak berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Pemeliharaan kesehatan gigi anak usia prasekolah masih bergantung kepada orangtua, terutama ibu sebagai orang terdekat. Oleh sebab itu, orangtua harus memiliki pengetahuan yang baik karena pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Notoadmodjo (2003) dan Mubarak (2007) berpendapat bahwa pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan informasi.
Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan pada tabel 4.1 menunjukkan sebanyak 53,85% responden termasuk kedalam kategori berpendidikan rendah, yaitu merupakan lulusan SD/SMP. Peneliti berasumsi bahwa rendahnya tingkat pendidikan responden akan mempengaruhi pengetahuan responden. Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Notoatmodjo (2013) bahwa pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang, makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
Berdasarkan hasil penelitian, tabel 4.2 menunjukkan bahwa 61,54% adalah ibu rumah tangga. Sebagai ibu rumah tangga, diharapkan responden memiliki waktu luang yang cukup banyak untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan gigi dan mulut sehingga mampu memberikan perawatan kepada anak secara optimal. Sejalan dengan pendapat Sariningrum (2009) bahwa ibu rumah tangga akan lebih banyak meluangkan waktu dibandingkan pekerja untuk memperhatikan kondisi kesehatan anaknya, khususnya kesehatan gigi.
Hasil penelitian pada tabel 4.3 menunjukkan sebanyak 84,62%, responden mendapatkan sumber informasi tentang kesehatan gigi dan mulut melalui media audio visual yang juga diperkuat dari hasil wawancara mendalam dengan responden pada kotak 1. Responden menjelaskan bahwa informasi tersebut didapatkan dengan cara bertukar informasi dengan orang lain, serta didapatkan dari media televisi. Tetapi dalam hal ini, informasi yang didapatkan tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung masih sangat minim.
Hal tersebut diatas merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Notoatmodjo (2012) berpendapat bahwa pengetahuan
merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pada penelitian ini, diagram 4.1 menunjukkan sebanyak 54% responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang pertumbuhan gigi sulung. Hasil penelitian tersebut diperkuat dari wawancara mendalam yang diuraikan dalam kotak 2. Responden mengetahui terjadinya pergantian gigi pada anak, tetapi kurang mengetahui jumlah gigi sulung serta fungsi dari gigi sulung tersebut. Sehingga responden kurang memperhatikan kesehatan gigi sulung pada anak prasekolah karena memiliki anggapan bahwa gigi sulung tersebut akan digantikan oleh gigi tetap.
Sementara itu, hasil penelitian pada diagram 4,2 juga menunjukkan bahwa sebesar 54% responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang pemeliharaan gigi sulung. Hal tersebut diperkuat dari hasil wawancara mendalam pada kotak 3, yang menunjukkan bahwa responden mengetahui pentingnya menjaga kesehatan gigi sulung karena akan mempengaruhi kesehatan umum pada anak. Tetapi responden kurang mengetahui cara memelihara kesehatan gigi sulung pada anak prasekolah.
Dari hasil penelitian diatas, terlihat bahwa pengetahuan responden masih kurang, baik itu pengetahuan tentang pertumbuhan gigi sulung maupun tentang perawatan gigi sulung. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut karena sebagian besar responden berpendidikan rendah. Rendahnya tingkat pendidikan responden mempengaruhi kemampuan responden dalam memahami informasi yang didapatkannya. Sejalan dengan pendapat Sariningrum (2009) bahwa tingkat pendidikan mempresentasikan kemampuan
seseorang dalam memperoleh dan memahami informasi kesehatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang diasumsikan semakin baik tingkat pemahamannya terhadap informasi kesehatan yang diperolehnya.
Menurut Mubarak (2007) lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pekerjaan responden sebagian besar merupakan ibu rumah tangga.
Pekerjaan mempengaruhi status sosial ekonomi keluarga. Dalam sebuah keluarga pendapatan ekonomi akan lebih banyak diperoleh jika kedua orangtua bekerja dibandingkan hanya satu orang yang bekerja. Seseorang yang bekerja, secara umum akan mendapatkan pendapatan sehingga segala aspek yang dibutuhkan terutama dalam menunjang pengetahuan dapat terpenuhi. Hal ini sesuai dengan model Andersen dalam Notoatmodjo (2003), pekerjaan merupakan hal untuk memperoleh pendapatan yang cukup agar dapat mendukung untuk meningkatkan pengetahuan seseorang tentang kesehatan khususnya kesehatan gigi dan mulut.
Kurangnya pengetahuan responden tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung juga dipengaruhi oleh sumber informasi. Televisi sebagai media yang menjadi sumber informasi bagi responden, masih kurang dalam memberikan informasi tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung.
Disamping itu, responden juga mendapatkan informasi dengan cara bertukar pengalaman dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya, tetapi informasi
yang didapatkan masih kurang mendalam, terutama tentang pertumbuhan dan perawatan gigi sulung.
Hal diatas diperkuat oleh pendapat Budiman (2013) cit Agustin (2014), bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam diri individu. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik lingkungan dan proses masuknya pengetahuan. Semakin kondusif lingkungan semakin baik pula proses masuknya pengetahuan. Ia juga berpendapat bahwa informasi dan pengalaman pribadi merupakan faktor yang mempengaruhi pengetahuan orangtua.
Peran orangtua sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak prasekolah, termasuk dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pada usia tersebut, anak masih belum bisa melakukan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut secara mandiri sehingga perlu dukungan dari orangtua. Orangtua, terutama ibu adalah orang terdekat tempat anak belajar untuk bertumbuh dan berkembang. Anak belajar dari orangtua untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, dengan demikian apabila orangtua memberi contoh perilaku yang baik maka anak juga akan mengikuti perilaku orangtuanya tersebut (Sarinigsih,2012).
Untuk menjalankan peran tersebut, orangtua perlu memiliki pengetahuan yang cukup sehingga dapat melaksanakan perannya dengan optimal. Tingkat pendidikan, pekerjaan, serta informasi yang didapatkan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan dari orangtua, baik itu pengetahuan tentang pertumbuhan maupun tentang pemeliharaan gigi sulung.
BAB 5
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Karakteristik tingkat pendidikan orangtua di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut termasuk kedalam kategori rendah yaitu merupakan lulusan SD/SMP (53,85%).
2. Karakteristik jenis pekerjaan orangtua di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut adalah sebagian besar merupakan ibu rumah tangga ( 61,54%).
3. Informasi yang didapatkan oleh orangtua di PAUD Al-Ikhlas Girangdeukeut tentang kesehatan gigi dan mulut sebagian besar bersumber dari media audiovisual (84,62%).
4. Pengetahuan orangtua tentang pertumbuhan gigi sulung di PAUD Al- Ikhlas Girangdeukeut termasuk kedalam kategori kurang (54%) dan pengetahuan orangtua tentang perawatan gigi sulung juga termasuk kedalam kategori kurang (54%).
A. Saran
Saran dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi orangtua terutama ibu diharapkan dapat lebih aktif dalam mecari informasi dari berbagai sumber tentang kesehatan gigi dan mulut anak agar dapat melakukan pemeliharaan secara optimal.
2. Bagi PAUD AL-Ikhlas dapat menjadi fasilitator untuk meningkatkan pengetahuan orangtua tentang kesehatan gigi dan mulut anak prasekolah.
3. Bagi Puskesmas Kecamatan Banjaran hendaknya melakukan pembinaan dalam bentuk pendidikan kesehatan secara rutin agar para orangtua lebih mengetahui tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut bagi anak- anaknya.
4. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti sejauh mana hubungan tingkat pengetahuan orangtua terhadap kesehatan gigi dan mulut anak prasekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, Maria (2014). “Efektifitas Pendidikan Kesehatan Media Booklet dibandingkan Audiovisual terhadap Pengetahuan Orangtua tentang Karies Gigi pada Anak Usia 5-9 Tahun di Desa Makamhaji”. Naskah Publikasi.
http://www.eprints.ums.ac.id. Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke- 4 . Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung. 2015. Laporan Tahunan 2014. Soreang.
Eriska, R. 2005. Pengenalan dan Perawatan Kesehatan Gigi Anak Sejak Dini.
http://www.dokumen.tips.html. Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Machfoedz, Ircham dan Zein, Asmar Yetti. 2005. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-anak dan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya
Maulani, Chaerita., Enterprise, Jubilee. 2005. Kiat Merawat Gigi Anak. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Mubarak W I, dkk. 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses Belajar Mengajar dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta
_____________________2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
_____________________2013. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Sariningrum, Eviyati. (2009). “Hubungan Tingkat Pendidikan , Sikap dan Pengetahuan Orangtua Tentang Kebersihan Gigi dan Mulut Pada Anak Balita 3- 5 tahun Dengan Tingkat Kejadian Karies Di PAUD Jatipurno”.
Berita Ilmu Kesehatan, Vol. 2, No. 3 http://lib.ums.ac.id. Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Sariningsih, Endang. 2012. Merawat Gigi Anak Sejak Usia Dini. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Susanto, MI Grace W. 2011. Terapi Gusi untuk Kesehatan dan Kecantikan.
Semarang: Erlangga
Susilo, D., Santoso, R. E., & Diyatri, I. 2005. “Peranan Sorbitol Dalam Mempertahankan Kestabilan pH Saliva pada Proses Pencegahan Karies”.
Majalah Kedokteran Gigi, Vol. 38, No. 1:25-28. http://litbang.unair.ac.id.
Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Tampubolon, Nurmala S. (2005). Dampak Karies Gigi Dan Penyakit Periodontal Terhadap Kualitas Hidup. Pidato pengukuhan. http://USU Repository, 5- 6.
Diakses tanggal 2 Februari 2016
Tarigan, Rasinta. 1990. Karies Gigi. Jakarta : Hipokrates
Worang, T.S., Pangemanan, D. H. C., Wicaksono D. A. “Hubungan Tingkat Pengetahuan Orangtua dengan Kebersihan Gigi dan Mulut Anak di Tk Tunas Bhakti Manado“.Jurnal e-GiGi (eG), Vol. 2, No. 2.
http://ejournal.unsrat.ac.id. Diakses tanggal 2 Februari 2016.
Yulvitrawasih. 2014. Peran Gigi Susu. http://www.rsi.co.id. Diakses tanggal 16 April 2016.