3. Pemeliharaan Pembibitan
2.6. Pengolahan Hasil Panen
Pengolahan tandan buah segar (TBS) di pabrik bertujuan untuk memperoleh minyak sawit yang berkualitas baik. Proses tersebut berlangsung cukup panjang dan memerlukan kontrol yang cermat, dimulai dari pengangkutan
43
Laporan PKPM Budidaya Tanaman Perkebunan TBS atau berondolan dari TPH ke pabrik sampai dihasilkan minyak sawit dan hasil sampingannya (Yan Fauzi, dkk, 2008).
Menurut Lubis, A.U. (1992), tujuan utama dari pengolahan hasil merupakan pengolahan tandan buah segar (TBS) sebagai bahan baku menjadi minyak kasar (CPO) dan inti (karnel). Untuk mencapai minyak yang berkualitas dan berkuantitas tinggi haruslah perlu menetapkan sistem pada panen menurut kriteria panen yang telah ditentukan. Kriteria itu antara lain matang buah, rotasi panen, kebersihan panen dan jumlah buah yang jatuh (berondolan). Pengngkutan buah ke pabrik harus disesuaikan dengan jumlah tandan buah yang dipanen, sehingga tidak terjadi penumpukan tandan buah segar.
Proses pengolahan hasil dilakukan dengan melalui beberapa tahap yaitu pengangkutan TBS ke pabrik, penimbangan, bongkar buah (loading ramp), perebusan (sterilizer), penebahan (stripping, thresing), peremasan (digestion), pengempaan (pressing), pemurnian (clarification), pemisahan inti sawit dari tempurung (Risza, S. 1994).
Pada dasarnya ada dua macam hasil olahan utama TBS di pabrik yaitu minyak sawit yang merupakan hasil pengolahan daging buah dan minyak inti sawit yang dihasilkan dari eksatraksi inti sawit. Secara ringkas, tahap-tahap proses pengolahan TBS sampai dihasilkan minyak adalah sebagai berikut :
2.6.1. Pengangkutan TBS ke Pabrik
TBS harus segera diangkut ke pabrik untuk diolah, yaitu maksimal 8 jam setelah panen harus segera diolah. Buah yang tidak segera diolah akan mengalami kerusakan. Pemilihan alat angkut yang tepat dapat membantu mengatasi kerusakan buah selama pengangkutan. Alat angkut yang dapat
44
Laporan PKPM Budidaya Tanaman Perkebunan digunakan dari kebun ke pabrik, dintaranya lori, traktor, gandengan atau truk. Pengangkutan dengan lori dianggap lebih baik dibanding dengan alat angkut lainnya. Guncangan selama perjalanan lebih banyak terjadi jika menggunakan truk atau traktor gandengan sehingga perlukaan pada buah lebih banyak. Setelah TBS sampai pabrik, segera dilakukan penimbangan, karena penimbangan sangat penting dilakukan terutama untuk mendapatkan angka-angka yang berkaitan dengan produksi, pembayaran upah pekerja dan perhitungan rendeman minyak sawit (Yan Fauzi, dkk, 2005).
Data peningkatan kadar ALB akibat TBS lama diolah dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Peningkatan Alb Minyak Akibat TBS Lama Diolah atau Menginap di Lapangan. Lamanya menginap di lapangan ( hari ) Rendemen minyak terhadap buah ( % ) Kadar A.L.B ( % ) 0 50,44 3,90 1 50,60 5,01 2 50,73 6,09 3 48,66 6,90
Sumber :Lubis, A.U ( 1992 ) 2.6.2. Penimbangan
Buah yang telah sampai kepabrik setelah diangkut dengan truk segera dilakukan penimbangan panen di pabrik. Penimbangan dilakukan diatas jembatan timbang. Sesudah itu ditimbang lagi dalam keadaan kosong (Mongoensoekarjo, S. Dan H. Semangun, 2005). Kandungan asam lemak bebas (ALB) buah yang tidak segera diangkut untuk diolah akan meningkat . Untuk menghindari hal tersebut,
45
Laporan PKPM Budidaya Tanaman Perkebunan maksimal 8 jam setelah panen tandan buah segar harus segera diolah (Fauzi dkk. 2005)
2.6.3. Bongkar buah (Loading ramp)
Truk buah setelah ditimbang kemudian buah dibongkar di loading ramp. Pada kesempatan ini +_ 5% dari jumlah buah disortasi untuk penilaian mutu. Selanjutnya buah dipindahkan keranjang lori rebusan yang berkapasitas lebih kurang 2,5 ton (Fauzi, dkk, 2005)
2.6.4. Perebusan TBS
TBS dimasukkan ke dalam lori dan selanjutnya direbus dalam sterilizer atau dalam ketel rebus. Perebusan dilakukan dengan mengalirkan uap panas selama 1 jam atau tergantung besarnya tekanan uap. Pada umumnya, besarnya tekanan uap yang digunakan adalah 2,5 atmosfer dengan suhu uap 125 º C. Perebusan yang terlalu lama dapat menurunkan kadar minyak dan pemucatan karnel. Sebaiknya, perebusan dalam waktu yang terlalu pendek menyebabkan semakin banyak buah yang tidak rontok dari tandannya (Yan Fauzi, dkk, 2005).
Pada dasarnya tujuan perebusan adalah :
Merusak enzim lipase yang menstimulir pambentukan ALB. Mempermudah pelepasan buah dari tandan dan inti dari cangkang. Memperlunak daging buah sehingga mempermudah proses pemerasan.
Untuk mengkoagulasikan (mengendapkan) protein sehingga memudahkan pemisahkan minyak.
46
Laporan PKPM Budidaya Tanaman Perkebunan Lori - lori yang berisikan TBS ditarik keluar dan diangkat dengan alat Hoisting Crane yang digerakkan dengan motor. Hoisting Crane akan membalikkan TBS ke atas mesin perontok buah (thresher). Brondolan yang telah terpipil dari stasiun penebahan diangkat ke bagian pegadukan/pencacah (digister). Untuk lebih memudahkan penghancuran daging buah dan pelepasan daging biji, selama proses digester dipanasi atau diuapi (Yan Fauzi, dkk, 2005).
2.6.6. Pemerasan atau Ekstraksi Minyak Sawit
Untuk memisahkan biji sawit dari hasil lumatan TBS, perlu dilakukan pengadukan selama 25-30 menit. Setelah lumatan buah bersih dari biji sawit, langkah selanjutnya adalah pemerasan atau ekstraksi. Tujuan ekstraksi adalah untuk mengambil minyak sawit dari masa adukan (Yan Fauzi, dkk, 2005). Ada beberapa alat dan cara yang digunakan dalam proses ekstraksi minyak yaitu : Ekstraksi dengan Sentrifugasi
Alat yang dipakai berupa tabung baja silindris yang berlubang-lubang pada bagian dindingnya. Buah yang telah lumat, dimasukkan ke dalam tabung lalu ditutup. Dengan adanya gaya sentrifugasi, maka akan keluar minyak CPO melalui lubang-lubang pada dinding tabung.
Ekstraksi dengan Cara Screw Press
Prinsip ekstraksi cara ini adalah menekan buah lumatan dalam tabung yang berlubang dengan alat ulir yang berputar, sehingga minyak akan keluar lewat lubang-lubang tabung. Besarnya tekanan alat dapat diatur secara elektris dan tergantung dari volume bahan yang dipress. Cara ini mempunyai kelemahan yaitu pada tekanan yang terlampau kuat akan menyebabkan biji banyak yang pecah.
47
Laporan PKPM Budidaya Tanaman Perkebunan Ekstraksi dengan bahan pelarut
Ekstraksi cara ini yakni dengan menambah pelarut tertentu pada lumatan daging buah, sehingga minyak larut terpisah dari partikel yang lain.
2.6.7. Pengempaan (Pressing)
Pada pabrik kelapa sawit umumnya digunakan screw press sebagai alat pengempaan untuk memisahkan minyak dari daging buah. Proses pemisahan minyak terjadi akibat putaran Screw mendwsak bubur buah, sedangkan dari arah yang berlawanan tertahan oleh sliding cone. Screw dan sliding cone ini berada didalam sebuah selubang baja yang disebut press cage, dimana dindingnya berlubang-lubang diseluruh permukaannya. Dengan demikia, minyak dari bubur buah yang terdesak ini akan keluar melalui celah antara sliding cone dan press cage (Pahan,2007).
2.6.8. Pemurnian dan Penjernihan Minyak Sawit
Minyak sawit yang keluar dari tempat pemerasan atau pengepresan berupa minyak sawit kasar, karena masih mengandung kotoran berupa partikel-partikel dari tempurung dan serabut serta 40 %-50 % air. Agar diperoleh minyak sawit yang bermutu baik, minyak sawit kasar tersebut diolah lebih lanjut yaitu dialirkan dalam tangki minyak sawit (crude oil tank). Setelah melalui pemurnian atau klarifikasi yang bertahap, akan menghasilkan minyak sawit mentah (CPO). Proses penjernihan dilakukan untuk menurunkan kandungan air dalam minyak. Minyak sawit yang telah dijernihkan ditampung dalam tangki-tangki penampungan dan siap dipasarkan atau mengalami pengolahan lebih lanjut sampai dihasilkan minyak sawit murni (processed oalm oil, PPO) dan hasil olahan lainnya (Yan Fauzi, dkk, 2005).
48
Laporan PKPM Budidaya Tanaman Perkebunan 2.6.9. Pengeringan dan Pemecahan Biji
Biji sawit yang telah dipisah pada proses pengadukan, diolah lebih lanjut untuk diambil minyaknya. Sebelum di pecah, biji-biji sawit dikeringkan dalam silo, minimal 14 jam dengan sirkulasi udara kering pada suhu 50 º C. Akibat proses pengeringan ini, inti sawit akan mengerut sehingga memudahkan pemisahan inti sawit dari tempurungnya. Biji-biji sawit yang sudah kering kemudian dibawa kealat pemecah biji (Yan Fauzi, dkk, 2005).
2.6.10. Pemisahan Inti Sawit Dari Tempurung
Pemisahan inti sawit dari tempurung dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis antara inti sawit dan tempurung. Alat yang digunakan adalah hydrocyclone seperator. Inti sawit dan tempurung dipisahkan oleh aliran air yang berputar dalam sebuah tabung atau dapat juga dengan mengapungkan biji-biji yang pecah dalam larutan lempung yang mempunyai berat jenis 1,16. Dalam keadaan tersebut inti sawit akan mengapung dan tempurungnya tenggelam. Proses selanjutnya adalah pencucian inti sawit dan tempurung sampai bersih.
Untuk menghindarkan kerusakan akibat mikroorganisme, maka init sawit harus segera dikeringkan pada suhu 80 º C. Setelah kering inti sawit dapat dipakai atau diolah lebih lanjut dengan ekstraksi agar menghasilkan minyak inti sawit (palm oil karnel, PKO), (Yan Fauzi, dkk, 2005).