• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.4 Pengolahan Data

Pengolahan data menggunakan software Microsoft Office Excell 2007 dan SAS 9.1. Model rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor, yaitu :

Yijkl = µ + αi + βj + (αβ)ij + Kk + εijkl

Dimana : i = Pelarut yang digunakan (etanol/toluen 1:1, 1:2, dan 2:1);

j = Bagian pohon (kayu teras dan kulit);

k = Lokasi tempat tumbuh (Jawa Barat, dan Jawa Timur);

l = ulangan 1, 2, dan 3;

Yijkl = Nilai pengamatan pada faktor pelarut ke-i, faktor bagian pohon ke j, dan blok lokasi tempat tumbuh ke-k;

μ = Rataan umum;

αi = Pengaruh faktor pelarut ke-i;

βj = Pengaruh faktor bagian kayu ke-j;

(αβ)ij = Pengaruh interaksi faktor pelarut ke-i dan faktor bagian pohon ke-j;

Kk = Pengaruh blok atau kelompok lokasi tempat tumbuh ke-k;

ε(ijkl) = Kesalahan (galat) percobaan pada faktor pelarut ke-i, faktor bagian pohon ke j, dan blok lokasi tempat tumbuh ke-k.

Perlakuan yang dinyatakan berpengaruh terhadap respon dalam analisis sidik ragam, kemudian diuji lanjut dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan. Analisis dilakukan dengan menggunakan program komputer SAS 9.1.

10

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kadar Ekstrak Kayu dan Kulit Jati (Tectona grandis L.f)

Ekstraktif kayu terdiri dari banyak senyawa dengan sifat kimia yang berbeda, mulai dari yang bersifat polar sampai non polar. Senyawa ekstraktif yang berhasil diisolasi dipengaruhi oleh sifat kepolaran pelarut yang digunakan. Pelarut bersifat polar akan melarutkan senyawa kimia yang bersifat polar dan senyawa yang bersifat non polar dapat larut dalam pelarut non polar. Pelarut campuran etanol/toluena dapat melarutkan ekstraktif yang bersifat polar sampai non polar, karena etanol merupakan pelarut yang bersifat polar dan toluena pelarut yang bersifat non polar. Kadar ekstrak dari kayu Jati berbeda untuk perbandingan campuran pelarut etanol/toluena yang berbeda (Gambar 2). Perbedaan perbandingan pelarut etanol dan toluena menyebabkan campuran pelarut memiliki sifat kepolaran yang berbeda.

Gambar 2 Kadar ekstraktif kayu teras Jati Jawa Barat dan Jawa Timur yang diisolasi dengan menggunakan berbagai perbandingan komposisi pelarut.

Kadar ekstrak tertinggi dihasilkan dari kayu Jati Jawa Timur dengan campuran pelarut etanol/toluena 1:2 (8,91%), dan terendah dihasilkan dari kayu Jati Jawa Barat dengan pelarut etanol/toluena 2:1 (5,47%). Pelarut etanol/toluena

6,09

11

dengan perbandingan 1:2 mampu melarutkan zat ekstraktif tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi ekstrak kayu Jati terdiri dari senyawa-senyawa bersifat polar terlarut etanol dan senyawa-senyawa non polar terlarut toluena.

Pelarut alkohol dapat melarutkan senyawa karbohidrat, protein, tanin, dan flavanoid. Pelarut toluena dapat melarutkan senyawa resin, minyak, lemak, dan lilin (Fengel dan Wegener 1984).

Kadar ekstrak yang diperoleh dalam penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Suyono (2010) dan Nugraha (2011), akan tetapi tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Leyva et al. (1998) dan Lukmandaru dan Takahashi (2009). Ekstraksi serbuk kayu Jati dangan pelarut toluena dan toluena-etanol menghasilkan ekstrak 6,7% (Leyva et al. 1998), sedangkan Lukmandaru dan Takahashi (2009) memperoleh kadar ekstrak 7,01%

dan 8,04% dari kayu Jati berumur 30 dan 51 tahun dengan pelarut etanol/benzena 1:2. Selain disebabkan perbedaan pelarut atau campuran pelarut, perbedaan kadar ekstrak juga dapat disebabkan oleh perbedaan kondisi bahan baku kayu, seperti lokasi tempat tumbuh, umur pohon, dan bagian pada pohon (Sjostrom 1991).

Gambar 2 menunjukkan pula bahwa kayu Jati pada lokasi tempat tumbuh yang berbeda menghasilkan kadar ekstrak yang berbeda. Untuk umur yang hampir sama, kayu Jati asal Jawa Timur menghasilkan kadar ekstrak sekitar 2,39% lebih tinggi dibandingkan kayu Jati asal Jawa Barat. Hal yang sejalan ditemukan pula oleh Siregar et al. (2008), bahwa kelarutan etanol-benzena kayu Jati Jawa Timur lebih tinggi dibandingkan dengan kayu Jati Jawa Barat. Hal ini diduga berkaitan dengan perbedaan riap tumbuh yang mempengaruhi proporsi kayu teras. Selain itu, faktor lingkungan, tempat tumbuh, dan genetis kayu merupakan faktor-faktor yang berperan terhadap perbedaan karakteristik kayu (Barnett dan Jeronimidis 2003 dalam Siregar et al. 2008).

Kondisi sebaliknya terjadi pada kulit kayu Jati, dimana kulit kayu Jati asal Jawa Barat menghasilkan kadar ekstrak yang lebih tinggi dibandingkan dengan kulit Jati asal Jawa Timur (Gambar 3). Kadar ekstrak tertinggi dihasilkan kulit Jati Jawa Barat dengan pelarut etanol/toluena 2:1 (10,11%), dan terendah dihasilkan kulit Jati Jawa Timur dengan pelarut etanol/toluen 2:1 (4,72%). Sementara itu,

12

perbedaan perbandingan pelarut etanol terhadap toluena tidak menyebabkan perbedaan besar terhadap kadar ekstrak yang dihasilkan.

Gambar 3 Kadar ekstraktif kulit Jati Jawa Barat dan Jawa Timur yang diisolasi dengan menggunakan berbagai perbandingan komposisi pelarut.

Perbedaan kadar ekstraktif antara kulit kayu Jati Jawa Barat dan Jawa Timur dapat disebabkan adanya perbedaan kondisi tempat tumbuh. Selain itu, oleh karena sampel kulit yang diuji berasal dari limbah industri pengolahan kayu Jati sehingga tidak diperoleh data pasti umur pohon asal kulit tersebut, maka ada kemungkinan perbedaan kadar ekstraktif tersebut juga dipengaruhi oleh umur pohon. Dari hasil kadar ekstrak kulit Jati Jawa Barat dan Jawa Timur yang jauh berbeda, diduga limbah kulit Jati Jawa Barat umurnya lebih tua dibandingkan dengan limbah Jati Jawa Timur. Hal ini didasarkan pada adanya peningkatan kadar ekstraktif dalam kulit kayu Jati dengan bertambahnya umur pohon (Maryati 2000). Menurut Sjostrom (1991) umur pohon, lokasi tempat tumbuh, dan bagian pada pohon dapat menyebabkan kandungan dan jumlah zat ekstraktif yang berbeda.

Hasil analisis sidik ragam (Tabel 1) menunjukkan bahwa masing-masing faktor pelarut, bagian pohon, lokasi tempat tumbuh, dan interaksi antara faktor pelarut dan faktor bagian pohon tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar ekstrak. Oleh sebab itu, secara statistik kayu Jati Jawa Barat dan Jawa Timur dengan umur yang sama memiliki kadar ekstraktif terlarut etanol-toluena yang

10,10 9,98 10,11

13

hampir sama. Berdasarkan nilai rataan kadar ekstrak kayu Jati Jawa Timur lebih tinggi dibandingkan dengan kayu Jati Jawa Barat, sedangkan kadar ekstrak kulit Jawa Barat lebih tinggi dibandingkan dengan kulit Jawa Timur (Gambar 2 dan 3).

Tabel 1 Kandungan Ekstrak Kayu Jati (Tectona grandis)1)

Etanol/Toluena Jawa Barat Jawa Timur

Rataan2)

1) – rataan dari 3 kali ulangan, % berat kering tanur

2) – A dan B hasil uji lanjut Duncan pada pelarut yang digunakan a dan b hasil uji lanjut Duncan pada lokasi tembat tumbuh selang kepercayaan 95%

4.2 Kadar Kuinon

Ekstraktif kayu dapat berbeda dalam jumlah dan komposisinya. Kayu tertentu yang mengandung kadar ekstrak yang sama dengan kayu lainnya dapat memiliki komposisi senyawa ekstraktif yang berbeda. Ekstraktif kayu Jati telah dilaporkan didominasi oleh senyawa-senyawa yang termasuk kelompok kuinon (Lukmandaru dan Takahashi 2009), walaupun jenis dan kelimpahannya dapat beragam antar pohon berbeda (Lukmandaru 2012 dalam Salih & Celikbicak 2012). Keragaman jenis dan konsentrasi senyawa kuinon hasil Pyrolisis-Gas Chromatography Mass Spectrometry (Pyr-GC-MS) terjadi antar kayu Jati dari lokasi berbeda dan antar bagian kayu dan kulit kayu (Gambar 4). Selain itu, perbedaan komposisi campuran pelarut etanol dan toluena juga menghasilkan ekstrak dengan komposisi dan konsentrasi kuinon yang berbeda pula.

Campuran pelarut etanol dan toluena dengan perbandingan 1:1 menghasilkan komposisi senyawa kuinon yang lebih tinggi dibandingkan dengan perbandingan campuran pelarut lainnya (Lampiran 1). Ekstrak etanol/toluena 1:1 kayu Jati terutama terdiri dari senyawa hydroquinone monomethyl ether, alpha-naphthoquinhydrone, naphthoquinone, 9,10-anthraquinone, 2,3-dimethylnaphthoquinone, 2-methyl anthraquinone, 2-tert-butylanthraquinone, 9,10-anthracenedione 1,4-diamino, chrysophanol, 2-methylnaphthoquinone,

14

lapachol, 1-ethyl anthraquinone, 1-methoxyanthraquinone, phthiocol, dan lawsone. Komposisi senyawa tersebut berbeda dengan yang terdapat pada ekstrak etanol-benzena 1:2 seperti yang dilaporkan oleh Sumthong (2006) dan Lukmandaru dan Takahashi (2009). Sumthong (2006) menemukan 6 senyawa kuinon dalam ekstrak kayu Jati, yaitu deoxylapachol, tectoquinone (2-methylAQ), tectol, hemitectol, 2-hydroxy methylanthraquinone, dan 3’-Ohdeoxyisolapachol, sedangkan Lukmandaru dan Takahashi (2009) menemukan senyawa-senyawa utama, yaitu lapachol, tectoquinone, desoxylapachol dan isomer (isodesoxylapachol), squalene, tectol, palmitat. Selain karena perbedaan pelarut yang digunakan, perbedaan komposisi senyawa kuinon dalam ekstrak kayu Jati tersebut juga kemungkinan dipengaruhi oleh lokasi tempat tumbuh.

Senyawa-senyawa kuinon dapat dikelompokkan ke dalam kelompok naftokuinon dan antrakuinon. Naftokuinon merupakan senyawa organik yang berasal dari naphthalene dengan rumus C10H6O2, berwarna kuning, mudah menguap, memiliki bau yang tajam mirip dengan benzokuinon, mudah menguap dalam pelarut organik polar (Anonim 2012). Antrakuinon merupakan senyawa organik aromatik dengan rumus C14H8O2, dalam berbentuk kristal padat atau bubuk memiliki warna berkisar dari abu-abu menjadi kuning dan hijau, dan larut dalam pelarut organik panas (Anonim 2012). Senyawa-senyawa kuinon tersebut berperan dalam keawetan alami kayu Jati. Naftokuinon dilaporkan berperan sebagai pencegah pembusukan pada Jati (Thulasidas dan Bhat dalam Niamke et al. 2011), dan memiliki sifat antimikroba (Guiraud et al. 1994, Gafner et al. 1996 dalam Sumthong et al. 2006). Antrakuinon memiliki sifat anti rayap (Lukmandaru dan Takehashi 2008), dapat berperan sebagai katalis untuk proses pulping (Leyva et al. 1998), dan menjadi produksi zat warna (Anonim 2012).

Senyawa kuinon pada kulit Jati lebih sedikit jumlah dan jenisnya dibandingkan dengan kayu. Selain itu, pada ekstrak kulit kayu ditemukan senyawa quinhydrone yang tidak terdapat pada ekstrak kayu. Senyawa ini hanya terdapat pada ekstrak yang diisolasi dengan pelarut etanol/toluena 1:1 dan 2:1. Diduga quinhydrone bersifat cenderung polar sehingga tidak dapat larut pada pelarut yang non polar. Secara keseluruhan komponen kuinon Jati Jawa Timur lebih beragam dibandingkan dengan Jati Jawa Barat.

15

Gambar 4 Kadar kuinon pada ekstrak kayu dan kulit Jati Jawa Barat dan Jawa Timur.

Konsentrasi relatif total kuinon tertinggi terdapat pada ekstrak kayu Jati yang diisolasi dengan pelarut etanol/toluena 1:1 (31,82%). Perbedaan lokasi tempat tumbuh dan bagian pohon mempengaruhi komponen dan kadar kuinon yang terisolasi. Ekstrak yang diisolasi dengan pelarut etanol/toluena 1:1 memiliki jumlah kuinon lebih tinggi yang menandakan bahwa komponen kuinon pada Jati lebih mudah terisolasi dengan pelarut yang semipolar.

4.2.1 Kadar Antrakuinon

Dalam kayu Jati terdapat berbagai kuinon yang termasuk kelompok naftokuinon (lapakol, dehidrolapakol) dan antrakuinon (tektokuinon). Konsentrasi relatif antrakuinon dalam ekstrak kayu dan kulit Jati Jawa Barat dan Jawa Timur dengan pelarut yang berbeda disajikan pada Gambar 5.

2.57

Jabar Jatim Jabar Jatim Jabar Jatim

E:T (2:1) E:T (1:1) E:T (1:2)

Kulit Kayu

Pelarut Etanol:Toluena

Kadar Kuinon (%)

16

Gambar 5 Kadar antrakuinon pada ekstrak kayu dan kulit Jati Jawa Barat dan Jawa Timur.

Sama halnya dengan kuinon, konsentrasi relatif kelompok antrakuinon berbeda menurut lokasi tempat tumbuh dan bagian kayu serta kulit Jati.

Konsentrasi relatif antrakuinon tertinggi terdapat pada ekstrak kayu Jati Jawa Timur yang diisolasi dengan pelarut etanol/toluena 1:1 (27,49%), sedangkan konsentrasi relatif total antrakuinon terendah terdapat pada ekstrak kulit Jati Jawa Timur yang diisolasi dengan pelarut etanol/toluena 2:1 (0,24%).

Pada ekstak kulit kayu, konsentrasi relatif antrakuinon tertinggi terdapat pada kulit Jati Jawa Timur dengan pelarut etanol/toluena 1:2. Penambahan proporsi toluena pada campuran pelarut menyebabkan kadar antrakuinon dalam ekstrak lebih tinggi. Berdasarkan hasil tersebut, pada ekstrak kulit komponen antrakuinon akan terisolasi dengan baik dalam pelarut campuran yang cenderung bersifat non polar. Secara keseluruhan kulit Jati Jawa Timur memiliki kadar antrakuinon yang lebih tinggi dibandingkan dengan kulit Jati Jawa Barat, maka jumlah rendemen kadar ekstrak tidak menentukan jumlah konsentrasi relatif kadar antrakuinonnya.

Jabar Jatim Jabar Jatim Jabar Jatim

E:T (2:1) E:T (1:1) E:T (1:2)

Kulit Kayu

Pelarut Etanol:Toluena

Kadar Antrakuinon (%)

17

4.2.2 Kadar Tektokuinon (2-Metilantrakuinon)

2-Metilantrakuinon merupakan kelompok senyawa antrakuinon yang dikenal pula dengan nama tektokuinon. Konsentrasi relatif 2-metilantrakuinon dalam ekstrak kayu dan kulit Jati dengan pelarut yang berbeda disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6 Kadar tektokuinon pada ekstrak kayu dan kulit Jati Jawa Barat dan Jawa Timur.

Konsentrasi relatif 2-metilantrakuinon tertinggi terdapat pada ekstrak kayu Jati Jawa Barat yang diisolasi dengan pelarut etanol/toluena 1:1 (24,67%) (Gambar 6). Konsentrasi relatif 2-metilantrakuinon terendah terdapat pada ekstrak kulit Jati Jawa Timur yang diisolasi dengan pelarut etanol/toluena 2:1 (0,24%).

Berdasarkan nilai rataan, konsentrasi relatif 2-metilantrakuinon tertinggi terdapat pada bagian kayu teras Jati Jawa Timur. Konsentrasi tektokuinon ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian Lukmandaru (2012) dalam Salih dan Celikbicak (2012) yang menemukan kadar tektokuinon kayu Jati dari Jawa Barat (Purwakarta), Jawa Tengah dan Yogyakarta masing-masing 14,61%, 8,05%, dan 11,31% dengan pelarut etanol-benzena 1:2. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan pelarut dan bagian sampel kayu Jati yang diteliti. Menurut Sjostrom

0.75 0.24 0.53

Jabar Jatim Jabar Jatim Jabar Jatim

E:T (2:1) E:T (1:1) E:T (1:2)

Kulit Kayu

Pelarut Etanol:Toluena

Kadar 2-metil antrakuinon (%)

18

(1991) perbedaan kadar dan jenis ekstraktif dalam kayu dapat dipengaruhi oleh tempat tumbuh, umur, dan bagian kayu yang dipakai.

Konsentrasi relatif tektokuinon dalam kayu Jati yang diteliti lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Suyono (2010). Konsentrasi tektokuinon pada kayu Jati asal Malang berumur sekitar 50 tahun sebesar 28,98% dengan menggunakan pelarut etanol/toluena 1:2. Berdasarkan hal tersebut pelarut etanol/toluena 1:1 sampai 1:2 cukup baik untuk mengisolasi ekstrak kayu Jati dengan konsentrasi 2-metilantrakuinon yang tinggi. Hasil ini mendukung hasil penelitian sebelumnya bahwa pelarut yang bersifat semipolar lebih efektif melarutkan 2-metilantrakuinon, seperti yang ditemukan pada ekstrak aseton, kayu Jati Panama mengandung 2-metilantrakuinon lebih besar dibandingkan dengan pelarut petroleum (Windeisen et al. 2003 dalam Gori et al. 2009), walaupun dilaporkan pula pelarut kloroform dan campuran etanol-benzena dapat mengekstrak senyawa tektokuinon (Ohi 2001).

Pelarut etanol/toluena 1:1 merupakan pelarut yang paling efektif untuk mengisolasi 2-metilantrakuinon dari kayu Jati dibanding komposisi pelarut lainnya. Pada kromatogram analisis pirolisis GC-MS memperlihatkan “peak area”

dari 2-metilantrakuinon adalah yang paling dominan (Lampiran 2). Secara keseluruhan senyawa 2-metilantrakuinon merupakan komponen utama dalam ekstraktif kayu Jati dengan nilai rataan 14,67% (Jati Jawa Barat) dan 22,19% (Jati Jawa Timur) atau setara dengan konsentrasi 0,76% dan 1,77% berdasarkan bobot kayu. Hasil ini lebih tinggi dengan hasil penelitian Leyva et al. (1988) yang menemukan konsentrasi 2-metilantrakuinon sebesar 0,33% dari berat kayu Jati.

Telah diketahui, tektokuinon adalah senyawa utama yang dianggap bertanggung jawab terhadap keawetan alami kayu Jati (Lukmandaru dan Ogiyama 2005). Selain itu, tektokuinon juga bersifat bio-larvasida terhadap jentik nyamuk demam berdarah seperti yang ditemukan pada kayu Cryptomeria japonica (Cheng et al. 2008). Hasil penelitian Leyva et al. (1998) menemukan bahwa 2-metilantrakuinon (tektokuinon) merupakan antrakuinon tersubtitusi yang memiliki sifat katalis yang sama dengan antrakuinon dalam proses pulping alkali.

Berdasarkan hal itu limbah kayu Jati selain berpotensi untuk berbagai produk kayu dan energi, juga berpotensi besar sebagai sumber bahan kimia alami yang

19

bermanfaat untuk berbagai penggunaan, seperti pengawet alami, insktisida alami, dan sebagai aditif pada proses pulping. Hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan diversifikasi produk pengolahan kayu dan peningkatan efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam biomassa.

20

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Ekstraktif kayu teras Jati terutama mengandung kelompok senyawa kuinon dengan 2-metilantrakuinon yang paling dominan. Pelarut etanol/toluena 1:1 merupakan pelarut yang efektif untuk mengisolasi kuinon dalam kayu Jati. Kayu Jati Jawa Timur memiliki kadar ekstraktif, kadar kuinon, antrakuinon, dan 2-metilantrakuinon yang lebih tinggi dibandingkan Jati Jawa Barat. Berdasarkan bagian pohon, ekstraktif kayu teras memiliki kadar kuinon, antrakuinon, dan 2-metilantrakuinon yang lebih tinggi dibandingkan dengan kulit kayu.

5.2 Saran

Penelitian lanjutan tentang pemanfaatan ekstrak kayu Jati untuk berbagai penggunaan misalnya sebagai pengawet alami, insektisida, aditif, dan lainnya, diperlukan untuk mendorong peningkatan diversifikasi produk dan efisiensi pemanfaatan limbah sumberdaya alam biomassa hasil hutan.

21

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Anthraquinone. [Terhubung berkala]. http://en.wikipedia.org/

wiki/Anthraquinone. (15 Juli 2012).

__________. 2012. Naphthoquinone. [Terhubung berkala].

http://en.wikipedia.org/wiki/Naphthoquinone. (15 Juli 2012).

__________. 2012. Jati. [Terhubung berkala]. http://www.wikipedia.org. ( 18 Juni 2012).

Cheng SS, Huang CG, Chen WJ, Kuo YH, Chang ST. 2008. Larvicidal activity of tectoquinone isolated from red heartwood-type Cryptomeria japonica againts two mosquito species. Bioresources Technology 99: 3617-3622.

Fahutan IPB. 1994. Tinjauan sifat dan penggunaan kayu jati Jawa Barat. Duta Rimba: 163-164.

Fengel D, Wegener G. 1984. Wood: Chemistry, Ultrastructure, Reactions. Berlin:

Walter de Gruyter & Co.

Gori G, Carrieri M, Scapellato ML, Parvoli G, Ferrara D, Rella R, Sturaro A, Bartolucci GB. 2009. 2-methyanthraquinone as a marker of occupational exposure to teak wood dust in boatyards. Annals of Occupational Hygiene 53 (1):27-32.

Leyva A, Dimmel DR, Pullman GS. 1998. Teak extract a catalyst for the pulping of Loblolly Pine. Tappi 81 (5): 237-240.

Lukmandaru G, Ogiyama K. 2005. Bioactive compounds from ethyl acetate extract of teakwood (Tectona grandis L.f.). Wood Biomass 6:413-416.

Lukmandaru G, Takahashi K. 2009. Variation in the natural termite resistance of teak ( Tectona grandis Linn. Fil.) wood as a function of tree age. Annals of Forest Science 65(7): 708-716.

Lukmandaru G. 2009. Radial distribution of quinones in plantation teak (Tectona grandis L.f.). Annals of Forest Science 66:605p1-605p9.

Martawijaya A., Kartasujana I., Kadir K. dan Prawira S.A. 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Bogor: Balai Penelitian Hasil Hutan Bogor.

Maryati D. 2000. Daya racun zat ekstraktif kulit kayu jati (Tectona grandis L.f).

[Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Niamké FB, Amusant N, Charpentier JP, Chaix G, Baissac Y, Boutahar N, Adima AA, Coulibaly SK, Allemand CJ. 2011. Relationships between

22

biochemical attributes (non-structural carbohydrates and phenolics) and natural durability against fungi in dry teak wood (Tectona grandis L. f.).

Annals of Forest Science 68:201–211.

Nugraha DR. 2011. Ekstrak kayu jati (Tectona grandis L.f) sebagai bio-larvasida jentik nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti). [Skripsi]. Bogor:

Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Ohi H. 2001. Rapid analysis of 2-methylantraquinone in tropical hardwoods and its effect on polysulfide-AQ pulping. 11th International Symposium of Wood and Pulping Chemistry. Nice-France, June 11-14, 2001.

Pitomo H. 1985. Struktur anatomi dan variasi panjang serabut kayu jati (Tectona grandis L.f.) arah radial batang. [Thesis]. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada.

Salih B, Celikbicak O. 2012. Gas Chromatography in Plant Science, Wine Technology, Toxicology and Some Specific Applications.Croatia: InTech Janeza Trdine.

Singarimbun D. 2011. Senyawa antrakuinon hasil isolasi dari umbi bawang sabrang (Eleutherine palifolia L. Merr.). [Skripsi]. Sumatera Utara:

Universitas Sumatera utara.

Siregar IZ, Siregar UJ, Karlinasari L, Yunanto T. 2008. Pengembangan metode penanda genetika molekuler untuk lacak balak (studi kasus pada jati).

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia:56-68.

Sjostrom E. 1991. Wood Chemistry: Fundamentals and Applications. London:

Academic Press, Inc.

Sumthong P, Gonzales RRR, Verpoorte R. 2006. Isolation and elucidation of quinones in Tectona grandis. Division of Pharmacognosy, Section of Metabolomics. Netherlands: Institute of Biology, Laiden University.

Suryana Y. 2001. Budidaya Jati. Bogor: Swadaya.

Suyono. 2010. Tectoquinone dalam ekstrak kayu jati (Tectona grandis Lin.) sebagai substitusi bahan aditif antrakuinon dalam proses pulping soda.

[Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Tsoumis G. 1991. Science and Technology of Wood; Structure, Properties Utilization. New York: Van Nostrand Reinhald.

23

LAMPIRAN

24 Lampiran 1 Komponen Kimia dalam Ekstrak Kayu dan Kulit Jati (Tectona grandis L.f)

Asal Bagian

Pohon Pelarut Jenis Kuinon Konsentrasi

Relatif (%) Jawa Barat Kayu Etanol/Toluen (1:1) phenol, 4-methoxy- (Hydroquinone monomethyl ether) 1,74

1,4-naphthalenediol (.alpha.-naphthoquinhydrone) 0,79

1,4-naphthalenedione (naphthoquinone) 0,16

9,10-Anthracenedione (9,10-anthraquinone) 0,58

1,4-naphthalenedione, 2,3-dimethyl- (2,3-dimethylnaphthoquinone) 1,96 9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 24,67 9,10-anthracenedione, 2-(1,1-dimethylethyl)- (2-tert-butylanthraquinone) 0,25

9,10-anthracenedione, 1,4-diamino- 1,03

chrysophanol (1,8-dihydroxy-3-methylanthraquinone) 0,64

jumlah kuinon 31,82

Jawa Barat Kayu Etanol/Toluen (1:2) 2,6-naphthoquinone, 1,5-diamino- 0,17

9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 7,47 chrysophanol (1,8-dihydroxy-3-methylanthraquinone) 0,80

jumlah kuinon 8,44

Jawa Barat Kayu Etanol/Toluen (2:1) 1,4-naphthalenediol (.alpha.-naphthoquinhydrone) 0,55

9,10-Anthracenedione (9,10-anthraquinone) 0,50

9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 11,88 9,10-anthracenedione, 2-(1,1-dimethylethyl)- (2-tert-butylanthraquinone) 0,12

9,10-anthracenedione, 1,4-diamino- 0,34

jumlah kuinon 13,39

Jawa Timur Kayu Etanol/Toluen (1:1) phenol, 4-methoxy- (Hydroquinone monomethyl ether) 0,94

24

25

1,4-naphthalenediol (.alpha.-naphthoquinhydrone) 0,73

1,4-naphthalenedione (naphthoquinone) 0,53

1,4-naphthalenedione, 2-methyl (2-methylnaphthoquinone) 0,48

9,10-Anthracenedione (9,10-anthraquinone) 2,10

Lapachol 0,50

9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 23,85 9,10-anthracenedione, 2-(1,1-dimethylethyl)- (2-tert-butylanthraquinone) 0,96 9,10-anthracenedione, 1-ethyl- (1-ethyl anthraquinone) 0,33

1-methoxyanthraquinone 0,25

1,4-naphthalenedione,2-hydroxy-3-methyl- (phthiocol) 0,28

1,4-naphthalenedione, 2-hydroxy- (lawsone) 0,20

jumlah kuinon 31,15

Jawa Timur Kayu Etanol/Toluen (1:2) phenol, 4-methoxy- (Hydroquinone monomethyl ether) 0,92 1,4-naphthalenedione, 2-methyl (2-methylnaphthoquinone) 1,18 1,4-naphthalenedione,2-hydroxy-3-methyl- (phthiocol) 0,32

9,10-Anthracenedione (9,10-anthraquinone) 1,25

Lapachol 0,26

9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 21,81

jumlah kuinon 25,74

Jawa Timur Kayu Etanol/Toluen (2:1) 1,4-naphthalenediol (.alpha.-naphthoquinhydrone) 1,28 1,4-naphthalenedione, 2-methyl (2-methylnaphthoquinone) 2,10 1,4-naphthalenedione,2-hydroxy-3-methyl- (phthiocol) 0,57

9,10-Anthracenedione (9,10-anthraquinone) 0,88

9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 20,9

25

26

9,10-anthracenedione, 1,4-diamino- 0,25

jumlah kuinon 25,98

Jawa Barat Kulit Etanol/Toluen (1:1) phenol, 4-methoxy- (Hydroquinone monomethyl ether) 0,43 2 5-cyclohexadiene-1 4-dione, compd. with 1,4-benzenediol (quinhydrone) 0,41 9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 0,53

jumlah kuinon 1,37

Jawa Barat Kulit Etanol/Toluen (1:2) 1,4-naphthalenediol (.alpha.-naphthoquinhydrone) 0,31 9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 1,50

9,10-anthracenedione, 1,4-diamino- 0,16

jumlah kuinon 1,97

Jawa Barat Kulit Etanol/Toluen (2:1) 2 5-cyclohexadiene-1 4-dione, compd. with 1,4-benzenediol (quinhydrone) 1,82 9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 0,75

jumlah kuinon 2,57

Jawa Timur Kulit Etanol/Toluen (1:1) phenol, 4-methoxy- (Hydroquinone monomethyl ether) 1,00 2 5-cyclohexadiene-1 4-dione, compd. with 1,4-benzenediol (quinhydrone) 1,29 9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 4,33

jumlah kuinon 6,62

Jawa Timur Kulit Etanol/Toluen (1:2) 9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 6,38

jumlah kuinon 6,38

Jawa Timur Kulit Etanol/Toluen (2:1) 1,4-naphthalenediol (.alpha.-naphthoquinhydrone) 0,20 9,10-anthracenedione, 2-methyl- (2-methyl anthraquinone) 0,24

jumlah kuinon 0,44

26

27

30.540 40.838

14.508 17.919 26.86926.97027.13027.19927.38827.53927.60627.71027.82628.003

19.384 19.99320.24220.54720.64120.77120.838 21.44721.60921.74921.79721.94522.03222.34822.66322.76923.023 23.17823.24523.33923.46323.58823.795 28.97229.205 29.63229.77630.088 30.28830.32730.99231.11331.31831.20631.39631.60531.78731.68631.85432.08032.22432.56932.68032.77032.94733.10433.313 33.89134.24134.37234.539 35.05635.43735.57635.97036.22236.542 37.277 37.942

15.944 29.498 30.001

24.517 24.91225.090 25.73025.944 39.509 42.207

15.867

14.422 17.656 18.37218.602

2.384 45.561

Lampiran 2 Kromatogram analisis GCMS ekstrak kayu Jati Jawa Barat dengan pelarut etanol/toluena 1:1

PUSLITBANG HASIL HUTAN REPORT

Tuning File : C:\GCMSsolution\System\Tune1\Tuning PT. Holcim\03052012.qgt

Chromatogram Ekstrak no.1 C:\GCMSsolution\Data\Project1\Ekstrak no.1.qgd

1 2.384 5885031 0.30 Carbon dioxide (CAS) Dry ice

2 14.422 2867554 0.15 Benzene, methyl(1-methylethyl)- (CAS) Cymol 3 14.508 39906408 2.05 l-Limonene

4 15.867 3930979 0.20 Benzene, 1-methyl-4-(1-methylethenyl)- (CAS) 1-Methyl-4-isopropenylbenzene 5 15.944 33948436 1.74 Phenol, 4-methoxy- (CAS) Hqmme

6 17.656 3854096 0.20 Benzoic acid, 2-methyl-, methyl ester (CAS) Methyl o-toluate 7 17.919 35727362 1.83 2-Methoxy-4-methylphenol

8 18.372 9027967 0.46 1,2-Benzenediol (CAS) Pyrocatechol 9 18.602 3739923 0.19 2,3-Dimethoxytoluene

10 19.384 16570462 0.85 Phenol, 4-ethyl-2-methoxy- (CAS) p-Ethylguaiacol 11 19.993 11105895 0.57 Phenol,

4-ethenyl-2-methoxy-12 20.242 6123340 0.31 1,2-Benzenedicarboxylic acid, monomethyl ester (CAS) Methyl hydrogen phthalate 13 20.547 3583718 0.18 Phenol, 2,6-dimethoxy- (CAS) 2,6-Dimethoxyphenol

14 20.641 3017232 0.15 Phenol, 2-methoxy-5-(1-propenyl)-, (E)- (CAS) Phenol, 2-methoxy-5-propenyl 15 20.771 4152084 0.21 Phenol, 2-methoxy-4-propyl- (CAS) 5-PROPYL-GUAIACOL

16 20.838 2744185 0.14 1H-Indene-1,3(2H)-dione (CAS) 1,3-Indandione 17 21.447 5772718 0.30 (-)-Epicamphor

18 21.609 2170879 0.11 1,5,9-UNDECATRIENE, 2,6,10-TRIMETHYL-, (Z)-19 21.749 3025611 0.16 1,4-Naphthalenedione (CAS) NAPHTHOQUINONE

20 21.797 2621092 0.13

21 21.945 3605519 0.18 Geranic acid

22 22.032 7453726 0.38 Phenol, 2-methoxy-4-(1-propenyl)-, (E)- (CAS) (E)-Isoeugenol 23 22.348 1917085 0.10 Pentadecane (CAS) n-Pentadecane

24 22.663 4629720 0.24 Ethanone, 1-(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)- (CAS) Acetovanillone 25 22.769 15369838 0.79 1,4-Naphthalenediol (CAS) .alpha.-Naphthoquinhydrone

26 23.023 2368517 0.12

27 23.178 7682374 0.39 2,2-DIMETHYL-INDAN-1,3-DIONE 28 23.245 10319504 0.53 GERMACRANE-A

29 23.339 2217653 0.11 Naphthalene, 1,6,7-trimethyl- (CAS) 2,3,5-Trimethylnaphthalene 30 23.463 3772287 0.19 3,3-DIMETHOXY-6,6-DIMETHYL-CYCLOHEXA-1,4-DIENE

31 23.588 2716576 0.14

32 23.795 5826292 0.30 Naphthalene, 1,4,6-trimethyl- (CAS) 1,4,6-Trimethylnaphthalene

2-metil antrakuinon

28

Area Conc% Name Peak# R.Time

33 24.517 4187239 0.21 1-Naphthalenol, 2-methyl- (CAS) 2-Methyl-1-naphthol 34 24.912 2004518 0.10 Octadecane (CAS) n-Octadecane

35 25.090 2336745 0.12 Phenol, 4-ethyl-2-methoxy- (CAS) p-Ethylguaiacol

36 25.730 4714217 0.24

37 25.944 16216314 0.83 3-(p-hydroxy-m-methoxyphenyl)-2-propenal 38 26.869 4683096 0.24 6,10-DODECADIEN-3-OL,

3,7,11-TRIMETHYL-39 26.970 3351507 0.17

40 27.130 3059385 0.16

41 27.199 14476675 0.74 4-ethyl-4'-cyano-1,1'-biphenyl

42 27.388 4203950 0.22

43 27.539 12866222 0.66 2,6,10,14,18,22-Tetracosahexaene, 2,6,10,15,19,23-hexamethyl- (CAS) Squalene

44 27.606 2768696 0.14

45 27.710 13695512 0.70 Dibenzo[b,e][1,4]dioxin (CAS) Dibenzo-p-dioxin

46 27.826 9392220 0.48 Carbazic acid, 3-(1-butylpentylidene)-, ethyl ester (CAS) DI-N-BUTYL KETONE N 47 28.003 37355559 1.92 Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid

48 28.972 11310996 0.58 9,10-Anthracenedione (CAS) 9,10-Anthraquinone 49 29.205 2149778 0.11 OXACYCLOTETRADECA-4,11-DIYNE

50 29.498 80286073 4.12 [1,1'-Biphenyl]-2-ol, 5-(1,1-dimethylethyl)- (CAS) 4-tert-Butyl-2-phenylphenol 51 29.632 7236479 0.37 Octadecanoic acid, methyl ester (CAS) Methyl stearate

52 29.776 29660893 1.52 1,4-Naphthalenedione, 2,3-dimethyl- (CAS) 2,3-Dimethylnaphthoquinone

53 30.001 91016200 4.67 2-NAPHTHALENECARBOXYLIC ACID, 1,4-DIHYDROXY-3-(3-METHYL-2-BUTENYL 54 30.088 14097433 0.72 Nonadecanoic acid (CAS) n-Nonadecanoic acid

55 30.288 2592267 0.13 o-Menthone

56 30.327 2918547 0.15 Octadecane (CAS) n-Octadecane

57 30.540 480848596 24.67 9,10-Anthracenedione, 2-methyl- (CAS) 2-METHYL ANTHRAQUINONE 58 30.992 25555811 1.31 9,12-Octadecadienoic acid (Z,Z)- (CAS) Linoleic acid

59 31.113 8657168 0.44 1,4-Naphthalenedione, 2,3-dimethyl- (CAS) 2,3-Dimethylnaphthoquinone

60 31.206 9619671 0.49

61 31.318 4805256 0.25 9,10-Anthracenedione, 2-(1,1-dimethylethyl)- (CAS) 2-tert-Butylanthraquinone 62 31.396 7532267 0.39 Tricosane (CAS) n-Tricosane

63 31.605 3136054 0.16 2,5-DIMETHYL-3-PHENYL-FURAN

64 31.686 2352017 0.12

65 31.787 20030569 1.03 9,10-Anthracenedione,

1,4-diamino-66 31.854 5560655 0.29

67 32.080 3874396 0.20 HEXADECA-2,6,10,14-TETRAEN-1-OL, 3,7,11,16-TETRAMETHYL-, (E,E,E)-68 32.224 7135320 0.37 1,3-Dihydro-5-phenyl-2H-1,4-benzodiazepin-2-one

69 32.569 12604182 0.65 Tetracosane (CAS) n-Tetracosane

70 32.680 2726066 0.14 8,11-Octadecadiynoic acid, methyl ester (CAS) METHYL-8,11-OCTADECADIYNOATE 71 32.770 3882574 0.20 (-)-Nortrachelogenin

72 32.947 3359478 0.17

73 33.104 3008576 0.15 Tetradecanal (CAS) Myristaldehyde 74 33.313 12466332 0.64 Chrysophanol

75 33.891 16671813 0.86 Tetracosane (CAS) n-Tetracosane

76 34.241 1988769 0.10 Oxaziridine, 3-(4-nitrophenyl)-2-propyl- (CAS) C-P-NITROPHENYL-N-N-PROPYL 77 34.372 3171979 0.16 Eicosane (CAS) n-Eicosane

78 34.539 4047553 0.21 Tetradecanal (CAS) Myristaldehyde

79 35.056 2013948 0.10 1,2-Benzenedicarboxylic acid, bis(2-ethylhexyl) ester (CAS) Bis(2-ethylhexyl) 80 35.437 22317487 1.14 Octacosane (CAS) n-Octacosane

81 35.576 2599536 0.13 Ethanone, 1-(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)- (CAS) Acetovanillone 82 35.970 5541277 0.28 Eicosane (CAS) n-Eicosane

83 36.222 7057833 0.36 Tridecanal (CAS) Tridecanaldehyde 84 36.542 5508743 0.28 TETRACOSANE,

1-BROMO-85 37.277 22958217 1.18 Tetratetracontane (CAS) n-Tetratetracontane

86 37.942 13130831 0.67 3,7-Dihydroxy-9-methoxy-1-methyl-6H-dibenzo[B,D]pyran-6-one 87 39.509 20016514 1.03 Tetratetracontane (CAS) n-Tetratetracontane

88 40.838 534227833 27.41 1,6,10,14,18,22-TETRACOSAHEXAEN-3-OL, 2,6,10,15,19,23-HEXAMETHYL 89 42.207 16828941 0.86 Tetratetracontane (CAS) n-Tetratetracontane

90 45.561 9766200 0.50 Nonacosane (CAS) n-Nonacosane 1949237046 100.00

Dokumen terkait