ANGKE, JAKARTA MENGGUNAKAN MODEL OBJECTIVE
DAFTAR PUSTAKA 57 LAMPIRAN
2.4 Metode Pengukuran Produktivitas Model Objective Matrix (OMAX)
2.4.4 Pengoperasian matrik
Setelah seluruh badan matrik dan perlengkapannya terisi, maka matrik dapat dioperasikan. Pengoperasian matrik dilakukan dengan cara :
1) Pencapaian sekarang
Pada tahap ini, hal yang dilakukan adalah mengumpulkan data dari tiap-tiap kriteria atau rasio selama periode pengukuran dilakukan dan menetapkan pencapaian sebenarnya untuk setiap kriteria atau rasio tersebut. Data yang didapat kemudian dimasukkan ke dalam kolom pencapaian pada bagian atas badan matrik.
2) Pemberian tanda pada bilangan pencapaian (No. 1) pada badan matrik Pada badan matrik, bilangan yang sesuai dengan bilangan “pencapaian” yang didapat diberi tanda atau dilingkari. Apabila tidak ada bilangan yang tepat sama dengan bilangan “pencapaian”, maka yang dilingkari adalah bilangan yang berada dibawahnya. Perlu diingat bahwa setiap kotak di dalam badan matrik merupakan suatu rintangan yang harus diatasi untuk mencapai skor tertentu. Apabila sasaran jangka pendek tersebut belum tercapai, maka kotak yang dibawahnyalah yang dilingkari. Setiap pencapaian yang lebih kecil dari tingkat pencapaian terburuk yang masih diperbolehkan (level terbawah) akan tetap menerima skor 0 untuk periode tersebut.
3) Penentuan skor
Bilangan yang telah dilingkari, dapat ditentukan tingkat skor yang dicapai yang diletakkan pada kolom “skor” pada bagian bawah badan matrik.
4) Penentuan nilai
Setiap skor yang didapat untuk setiap kriteria atau rasio, dikalikan dengan besarnya bobot masing-masing. Hasil perkalian ini diletakkan dalam kolom nilai yang berada pada bagian bawah badan metrik.
5) Indikator pencapaian saat ini
Nilai-nilai yang didapat untuk setiap kriteria dijumlahkan sehingga diperoleh indikator pencapaian saat ini.
6) Indeks
Sebuah indikator produktivitas hanya bermanfaat jika dibandingkan dengan nilai dan periode lain. Satu unit kerja tidak bisa dibandingkan dengan nilai unit kerja lainnya berdasarkan nilai skor, sebab kriteria masing-masing unit berbeda dan kondisi operasinya bervariasi. Nilai bobot total dapat diperlakukan sebagai indeks performansi dan digunakan untuk menilai perkembangan dari waktu ke waktu (Mahendra, 2007). Pada OMAX, pola pertumbuhan performansi ini ditunjukkan oleh dua indeks. Pertama Indeks Perubahan terhadap Performansi Standar/Base Level (300). Kedua, Indeks Perubahan terhadap Performansi periode sebelumnya (Mayhoneys, 2008). - - Dimana :
OPo = Nilai Performansi Standar / Base Level (300) OPi = Overall Performance ke-i
3 METODOLOGI
3.1Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Juli - September 2011 di Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI), Muara Angke, Jakarta. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke.
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan contoh kasus produktivitas pada galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta yang belum dilakukan pengukuran secara matematis. Menurut Yin (2008) metode studi kasus merupakan metode yang mengacu pada penelitian yang mempunyai unsur how dan why pada pertanyaan utama penelitiannya dan meneliti masalah-masalah kontemporer (masa kini) serta sedikitnya peluang peneliti dalam mengontrol peristiwa (kasus) yang ditelitinya. Pengukuran produktivitas galangan sendiri dilakukan dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX).
3.3 Pengumpulan Data
Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang sudah tersedia di galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta. Data yang digunakan adalah:
1) Data hasil produksi bagian reparasi kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta 5 tahun terakhir;
2) Data jumlah tenaga kerja; 3) Data pemakaian mesin;
4) Data jam kerja aktual produksi; 5) Data jam kerja efektif; dan 6) Data jumlah ketidakhadiran.
3.4 Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX) dengan langkah-langkah:
1) Penetapan kriteria
Pada tahap ini, ditentukan kriteria-kriteria yang akan ditetapkan untuk digunakan dalam menghitung produktivitas dengan menggunakan metode OMAX. Kriteria-kriteria yang akan diukur meliputi kriteria efisiensi, kriteria efektivitas, dan kriteria inferensial. Kriteria yang ditetapkan mengacu pada kriteria yang digunakan oleh Mahendra (2007) yang telah meneliti tentang “Peningkatan Produktivitas Galangan Kapal Menggunakan Model OMAX (Studi kasus: di PT. BEN SANTOSA Surabaya)”. Kriteria tersebut dapat dilihat pada Tabel 1:
Tabel 1 Kriteria-kriteria dalam pengukuran produktivitas menggunakan model OMAX oleh Mahendra (2007)
Efisiensi
Man Hour (Kg/JO) Material (%)
Pemakaian Mesin (%) Pemakaian Tenaga Kerja (%) Efektivitas Jam Kerja Aktual (%)
Jam Kerja Efektif (%)
Inferensial Jumlah Ketidakhadiran (%)
Kriteria efisiensi menunjukkan bagaimana penggunaan sumberdaya perusahaan (galangan), seperti tenaga kerja, energi, material serta modal yang sehemat mungkin. Kriteria efektivitas menunjukkan bagaimana galangan mencapai hasil bila dilihat dari sudut akurasi dan kualitasnya. Kriteria inferensial menunjukkan suatu kriteria yang tidak secara langsung mempengaruhi produktivitas tetapi bila diikutsertakan dalam matriks dapat membantu memperhitungkan variabel yang mempengaruhi faktor-faktor yang mayor.
Mahendra (2007) awalnya menetapkan sebanyak tiga belas indikator kinerja. Namun, setelah dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner oleh tim manajemen diperoleh hasil bahwa indikator kinerja yang dapat digunakan hanya tujuh indikator seperti yang disebutkan pada Tabel 1 di atas.
2) Perhitungan rasio-rasio
Perhitungan rasio dilakukan terhadap kriteria-kriteria yang sudah ditentukan yaitu:
(1)Man hour (Kg/JO)
Adalah performansi tenaga kerja per unit produk (Kg/JO) (2)Material (%)
Rasio-rasio yang membentuk kriteria material :
% (3)Kriteria tenaga kerja (%)
Rasio-rasio yang membentuk kriteria tenaga kerja :
% (4)Kriteria pemakaian mesin (%)
Rasio yang membentuk kriteria pemakaian mesin :
% (5)Kriteria jam kerja aktual produksi (%)
Rasio yang membentuk kriteria jam kerja aktual produksi : % (6)Kriteria jam kerja efektif (%)
Rasio yang membentuk kriteria jam kerja efektif : % (7)Kriteria ketidakhadiran (%)
Rasio yang membentuk kriteria ketidakhadiran :
% 3) Pengukuran kinerja standar
Kinerja standar diperoleh dari rata-rata rasio masing-masing kriteria pada periode yang ditetapkan. Dalam hal ini, periode yang ditetapkan adalah lima tahun terakhir dari tahun 2006 sampai 2010.
4) Penetapan sasaran akhir
Penetapan sasaran akhir ditentukan oleh pihak galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke setelah memperoleh nilai kinerja standar. Pada penetapan sasaran ini, terdiri dari tiga skala skor yaitu skala skor 3 merupakan pencapaian mula-mula, skala skor 10 berupa sasaran yang ingin dicapai dalam waktu mendatang dan karenanya harus bersifat optimis, dan skala skor 0 merupakan level terbawah, rasio terburuk yang mungkin terjadi. Penetapan sasaran akhir ditentukan dengan menggunakan kuesioner (Lampiran 1).
5) Penetapan bobot rasio
Penetapan bobot rasio diperoleh dari hasil kuesioner (Lampiran 2). Jumlah seluruh bobot dari masing-masing kriteria produktivitas berjumlah 100 %. Pembobotan ini dimulai dengan membagi 100 % untuk prosentase efisiensi, efektivitas, dan inferensial. Misalnya:
Efisiensi : A %
Efektifitas : B %
Inferensial : C %
Total : 100 %
Berdasarkan prosentase di atas, kemudian dibagi pembobotannya sesuai dengan jumlah dan kepentingan kriteria yang termasuk didalamnya, misalnya:
(1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi
- Man hour : a1 %
- Material : a2 %
- Pemakaian Mesin : a3 % - Pemakaian Tenaga Kerja : a4 %
Total : 100 %
(2) Kriteria yang termasuk dalam efektivitas - Jam Kerja Aktual : b1 % - Jam Kerja Efektif : b2 %
(3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial - Jumlah Ketidakhadiran : c %
Total : 100 %
6) Pembetukan matriks sasaran
Setelah ditentukan skala skor 0, skor 3, dan skor 10 dari hasil kuesioner, selanjutnya ditentukan skala sisa yaitu skala skor 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 untuk membentuk suatu matriks sasaran dengan cara interpolasi. Kenaikan nilai pada skor 1 dan 2 dilakukan dengan cara interpolasi, yaitu:
skor 3 – skor 0 3 – 0
Kenaikan nilai pada skor 4 sampai dengan 9 dilakukan dengan cara interpolasi, yaitu:
skor 10 – skor 3 10 – 3 7) Penentuan skor aktual
Skor aktual ditentukan berdasarkan hasil pengukuran rasio masing-masing kriteria pada periode tertentu yang diubah kedalam skor pada matriks sasaran yang sesuai.
8) Penentuan nilai aktual
Nilai aktual ditentukan berdasarkan hasil perkalian antara skor aktual dengan bobot kriteria tersebut.
9) Penentuan performance indicator
Performance indicator diperoleh dari penjumlahan nilai aktual dari semua kriteria pengukuran yang dilakukan.
10)Perhitungan index produktivitas (IP)
Untuk menghitung Index Produktivitas (IP) dengan menggunakan rumus:
%
Peningkatan produktivitas bisa diketahui dari besarnya kenaikan performance indikator yang terjadi.
11) Bentuk tabel matriks
Gambar 2 Contoh bentuk tabel matriks
Berdasarkan bentuk matriks di atas, rasio 1 adalah rasio pemakaian tenaga kerja; rasio 2 adalah rasio pemakaian mesin; rasio 3 adalah rasio jam kerja aktual; rasio 4 adalah rasio jam kerja efektif; dan rasio 5 adalah rasio ketidakhadiran karyawan. Hasil akhir dari matriks berupa nilai indeks dengan interpretasi bahwa semakin besar nilai indeks pada suatu periode tertentu maka produktivitas suatu perusahaan pada periode tersebut semakin tinggi juga.
Kriteria Inferensial
Rasio‐Rasio Rasio 1 Rasio 2 Rasio 3 Rasio 4 Rasio 5 Nilai Aktual 10 Sangat Baik 9 8 7 6 5 4 3 Sedang 2 1 0 Sangat Buruk Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan
Saat ini Periode Dasar Index Saat ini Periode Sebelum Index Target Skor Indikator Performansi Keterangan Buruk Baik Indikator Performansi Efisiensi Efektivitas
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.1 Produktivitas Galangan
Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) memiliki fungsi sebagai tempat membangun, merawat, dan memperbaiki kapal. Saat ini aktivitas yang dilakukan Dok Pembinaan UPT BTPI hanyalah mereparasi kapal. Kegiatan pembuatan kapal sudah lama tidak dilakukan. Hal ini disebabkan karena sepinya order pembuatan kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI. Sepinya order membangun kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI diduga karena tingginya biaya produksi, dimana kayu sebagai bahan baku pembuatan kapal didatangkan dari luar Jakarta. Kondisi ini mengakibatkan harga kayu menjadi semakin mahal. Oleh karena itu, banyak pembeli yang beralih untuk membuat kapal di daerah yang memiliki sumber kayu sehingga harga kapal menjadi lebih murah.
Kapal yang biasanya direparasi oleh Dok Pembinaan UPT BTPI adalah kapal yang terbuat dari kayu. Umumnya kapal yang direparasi merupakan kapal perikanan. Selain mereparasi kapal kayu, galangan juga mampu melayani reparasi kapal fiber atau kapal kayu yang dilaminasi menggunakan fiber.
Galangan yang terdapat di lingkungan UPT BTPI ada empat galangan. Keempat galangan tersebut yaitu: Dok Pembinaan UPT BTPI, Fan Marine Shipyard (FMS), Karya Teknik Utama (KTU), dan Koperasi Pegawai Negeri Dinas Perikanan (KPNDP). Dok Pembinaan UPT BTPI adalah galangan yang resmi milik UPT BTPI, sedangkan tiga galangan lainnya adalah galangan yang dikelola oleh pihak yang menyewa lahan di UPT BTPI. Seluruh galangan tersebut juga hanya melayani kegiatan reparasi kapal.
Dok Pembinaan UPT BTPI merupakan salah satu galangan yang memiliki tingkat produksi yang cukup tinggi di lingkungan UPT BTPI. Produksi di Dok Pembinaan UPT BTPI menyerap 20,74 % per tahun dari total produksi yang ada di UPT BTPI. Tingkat produksi tiga galangan lainnya adalah FMS sebesar 15,75 %, KTU sebesar 8,39 %, dan KPNDP sebesar 55,12 % per tahun dari total produksi yang ada di UPT BTPI. Data kapal yang melakukan reparasi dari tahun 2006 sampai 2010 di Dok Pembinaan UPT BTPI disajikan pada Lampiran 3
sampai dengan Lampiran 7. Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI dari tahun 2006 sampai 2010 disajikan pada Gambar 3 di bawah ini.
Gambar 3 Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI
Produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI dan produktivitas seluruh galangan yang ada di lingkungan UPT BTPI disajikan pada Gambar 4 di halaman 28. Setiap bulannya Dok Pembinaan UPT BTPI rata-rata dapat melayani 12 kapal dengan jumlah tertinggi pada bulan Mei 2006, Desember 2006, November 2008, Desember 2008, dan April 2009 sebanyak 15 kapal. Jumlah kapal terendah yang direparasi terdapat pada bulan Mei 2010, dan September 2010 sebanyak 6 kapal. Bulan Oktober, November, dan Desember pada tahun 2007 dan 2010 tidak ada kegiatan reparasi kapal. Hal tersebut dikarenakan pada bulan dan tahun tersebut sedang dilakukan pembangunan slipway (tahun 2007) dan peninggian dok galangan (tahun 2010). Jenis kapal yang diperbaiki adalah kapal perikanan dan kapal non perikanan. Kapal-kapal tersebut berasal dari PPI Muara Angke, PPS Muara Baru, dan daerah lainnya yang sedang bongkar muat atau singgah di PPI Muara Angke. Secara rata-rata, dalam satu tahun Dok Pembinaan UPT BTPI mendapat keluhan dari dua pemilik kapal yang kapalnya masih mengalami kebocoran setelah direparasi.
0 20 40 60 80 100 120 140 160 2006 2007 2008 2009 2010 Ju m lah Kap al Tahun
Gambar 4 Perbandingan fluktuasi produksi reparasi kapal Dok Pembinaan UPT BTPI dan produksi reparasi kapal seluruh galangan yang ada di lingkungan UPT BTPI dari tahun 2006 sampai 2010
0 10 20 30 40 50 60 70 Juml ah Ka pa l Seluruh Galangan 2006 Seluruh Galangan 2007 Seluruh Galangan 2008 Seluruh Galangan 2009 Seluruh Galangan 2010 Dok Pembinaan 2006 Dok Pembinaan 2007 Dok Pembinaan 2008 Dok Pembinaan 2009 Dok Pembinaan 2010
Jenis reparasi yang dilakukan dibagi menjadi dua yaitu annual survey dan special survey.
(1) Annual Survey
Annual survey dilaksanakan setiap tahun, dimana pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan-pekerjaan standar yang berhubungan dengan dok perawatan rutin setiap tahunnya. Adapun pekerjaan-pekerjaan pada annual survey pada Dok Pembinaan UPT BTPI diantaranya adalah: pengedokan, pembakaran teritip, penyekrapan, pengecatan, pembaharuan surat-surat kapal, balancing propeller dan kemudi. Annual survey biasanya menghabiskan waktu 2 (dua) sampai 5 (lima) hari pengerjaan.
(2) Special Survey
Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pada special survey pada umumnya sama dengan pekerjaan-pekerjaan yang ada pada annual survey. Hanya ada beberapa tambahan pekerjaan yang berhubungan dengan pergantian peralatan ataupun perlengkapan kapal yang rusak dan yang terpenting pada pekerjaan special survey adalah pekerjaan penggantian pelat di beberapa tempat yang ketebalannya sudah tidak memenuhi syarat. Special survey biasanya menghabiskan waktu selama lebih dari 5 (lima) hari bahkan bisa sampai 1 (satu) bulan atau lebih tergantung kerusakan yang harus diperbaiki.
Produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan jumlah kapal, jenis reparasi, dan ukuran kapal disajikan pada Tabel 2 sampai dengan Tabel 4 di bawah ini.
Tabel 2 Produksi dok pembinaan UPT BTPI berdasarkan jenis kapal dalam periode 2006 sampai 2010 (satuan: unit)
Jenis Kapal Tahun Jumlah Rata-rata per Tahun 2006 2007 2008 2009 2010
Kapal Perikanan 131 101 119 122 84 557 111,4 92 Kapal Non Perikanan 16 3 11 18 13 61 12,2 16
Tabel 3 Produksi dok pembinaan UPT BTPI berdasarkan jenis reparasi dalam periode 2006 sampai 2010 (satuan: unit)
Jenis Reparasi Tahun Jumlah Rata-rata per Tahun 2006 2007 2008 2009 2010
Annual Survey (2-5 hari) 117 77 76 54 66 390 78,0 78 Special Survey (> 5 hari) 30 27 54 86 31 228 45,6 46
Jumlah 147 104 130 140 97 618
Tabel 4 Produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan ukuran kapal dalam periode 2006 sampai 2010 (satuan: unit)
Ukuran Kapal Tahun Jumlah Rata-rata per Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 1-10 GT 40 25 23 30 21 139 27,8 28 11-20 GT 18 9 18 14 10 69 13,8 14 21-30 GT 84 67 86 93 58 388 77,6 77 31-50 GT 4 2 3 1 5 15 3,0 3 >50 GT 1 1 0 2 3 7 1,4 1 Jumlah 147 104 130 140 97 618
4.2 Tenaga Kerja dan Struktur Organisasi
Tenaga kerja dibagi menjadi dua bagian, yaitu: tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang secara langsung berhubungan dengan kegiatan reparasi kapal yang kemudian disebut staf lapang. Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang tidak secara langsung berhubungan dengan kegiatan reparasi yang kemudian disebut staf administrasi. Selain dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tidak langsung, tenaga kerja juga dibagi menjadi tenaga kerja tetap dan tidak tetap. Tenaga kerja tetap adalah tenaga kerja yang berstatus sebagai pekerja tetap milik Dok Pembinaan UPT BTPI. Tenaga kerja tidak tetap adalah tenaga kerja yang berstatus sebagai pekerja dari luar yang bekerja di Dok Pembinaan UPT BTPI sebagai tenaga tambahan dalam reparasi kapal.
Dok Pembinaan UPT BTPI merupakan satu dari empat galangan yang masih aktif melayani kegiatan reparasi kapal di Muara Angke. Galangan ini dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab kepada kepala UPT BTPI. Sebagai dok pembina, pada tahun 2008 Dok Pembinaan UPT BTPI menjalankan tiga program kerja, yaitu:
1) Pembinaan petugas reparasi; 2) Pembinaan tukang pakal; dan
Dok Pembinaan UPT BTPI saat ini memiliki 7 staf lapang. Staf lapang tersebut terdiri dari 1 orang koordinator lapangan, 1 orang juru mesin, 1 orang juru cat, 2 orang juru selam, 1 orang juru kasko, dan 1 orang juru alur. Staf administrasi UPT BTPI ada 13 orang yang terdiri dari 1 orang kepala pusat BTPI, 1 orang kepala sub bagian tata usaha, 1 orang kepala seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan, 1 orang kepala seksi teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan, 1 orang staf seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan, 1 orang staf teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan, dan 7 orang staf tata usaha. Struktur organisasi UPT BTPI disajikan pada Gambar 5.
Keterangan: alur dalam wilayah garis merah adalah struktur organisasi Dok Pembinaan UPT BTPI Gambar 5 Struktur organisasi UPT BTPI
Kepala Pusat BTPI
Juru Alur
Koordinator lapangan Kepala seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan
sarana penangkapan ikan
Kepala seksi teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan
Kepala sub bagian tata usaha
Juru Selam Juru Kasko Juru Mesin Juru Cat
Staf seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan
Staf seksi teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan
4.3 Sarana dan Prasarana
Slipway yang ada di Dok pembinaan UPT BTPI sebanyak tiga buah dengan panjang masing-masing 90 meter. Kapasitas masing-masing slipway dapat menampung dua buah kapal. Tetapi, saat ini kapasitas keseluruhan hanya mampu menampung lima buah kapal. Hal tersebut dikarenakan slipway pada bagian tengah kurang panjang sehingga hanya dapat menampung satu kapal. Dibutuhkan landasan tarik yang landai untuk memudahkan penarikan kapal ke atas slipway.
Kemiringan yang layak untuk landasan tarik adalah 120. Kemiringan tersebut diperoleh dengan memasang rel yang lebih panjang. Tepi pantai di bagian depan galangan Dok Pembinaan UPT BTPI memiliki kemiringan yang curam, sehingga pada tahun 2007 dilakukan penimbunan agar kemiringan landasan tarik tidak lebih besar dari 120. Penimbunan tersebut menghabiskan waktu selama empat bulan yang mengakibatkan berhentinya kegiatan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI selama waktu tersebut.
Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI umumnya menggunakan tenaga manual dan tenaga mesin. Penggunaan mesin pada proses reparasi bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi pekerja untuk melakukan kegiatan reparasi, sehingga kegiatan reparasi kapal dapat terselesaikan lebih cepat. Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI
No Peralatan yang digunakan Jenis peralatan (manual/tenaga penggerak/fasilitas serbaguna) 1 Palu Manual 2 Gergaji Manual 3 Sekrap Manual 4 Pahat Manual 5 Meteran Manual
6 Kuas cat Manual 7 Pahat besi Manual
8 Dongkrak hidrolik Tenaga penggerak 9 Mesin penarik Tenaga penggerak
10 Kapak Manual
11 Bor listrik Tenaga penggerak 12 Gerinda mesin Tenaga penggerak 13 Komputer Fasilitas serbaguna 14 Alat pertukangan lainnya Manual
Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010
Perawatan peralatan dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk menghindari kerusakan pada alat. Peralatan-peralatan mesin yang terdapat di Dok Pembinaan UPT BTPI dapat dioperasikan oleh seluruh pekerja karena tidak
dibutuhkan keahlian teknis khusus dalam pengoperasiannya. Namun, pada fasilitas serbaguna seperti komputer, tidak semua pekerja dapat mengoperasikannya. Hal tersebut dikarenakan dibutuhkan keahlian teknis tertentu untuk mengoperasikannya.
Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Dok Pembinaan UPT BTPI antara lain fasilitas bengkel bubut, las dan bongkar pasang mesin (overhaul). Dok Pembinaan UPT BTPI terletak di tepi pantai luar komplek Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke (PPI Muara Angke). Lahan yang digunakan UPT BTPI merupakan lahan milik Pemerintah Daerah DKI dengan luas area 4.500 m2. Layout galangan disajikan pada Gambar 6.
Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010
Gambar 6 Layout Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke
4.4 Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI terdiri atas berbagai macam latar belakang pendidikan. Pendidikan terendah ada pada tingkat
Keterangan gambar: 1. Rumah mesin 2. Mesin penarik
3. Tali sling untuk menarik lori 4. Patok loper
5. Loper (pengatur sling) 6. Landasan Tarik (slipway) 7. Lori
8. Rantai penghubung lori 9. Bantalan kapal
10. Kapal di atas lori 11. Pelataran dok 12. Kolam galangan
SD sebanyak tiga orang. Latar belakang pendidikan yang bervariasi, tidak mempengaruhi kemampuan seluruh karyawan untuk melakukan kerjasama dalam proses transformasi. Pelatihan-pelatihan soft skill yang diberikan oleh UPT BTPI sangat meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI. Pelatihan tersebut diantaranya yaitu: management team work dan pelatihan mengenai tata cara reparasi. Alokasi tenaga kerja pada galangan yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan Tabel 7.
Tabel 6 Alokasi staf lapang di Dok Pembinaan UPT BTPI
No Nama Pekerjaan Pendidikan
1 Mujono Koordinator Lapangan SMP
2 Suherman Juru Mesin SD
3 M. Yusuf Juru Cat SMA
4 Nurudin Juru Selam SD
5 Abdurachman Juru Selam SMP
6 Nursaman Juru Kasko SD
7 Apit Awaludin Juru Alur SMA
Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010
Tabel 7 Alokasi staf administrasi di Dok Pembinaan UPT BTPI
No Nama Pekerjaan Pendidikan
1 Ir. Sutrisno, M.Si Kepala Pusat S2
2 Ir. Heriyanti, M.Si Kepala Sub Bagian Tata Usaha S2 3 Abdul Malik Adnan,
S.Sos, MM
Kepala Seksi Pelayanan Pemeliharaan dan Perbaikan Sarana Penangkapan Ikan
S2 4 Agus Trihadi, SIP, M.Si Kepala Seksi Teknologi Alat Tangkap dan Mesin
Kapal Perikanan
S2 5 H. Sapto Wahono, SE Staff Seksi Teknologi S1
6 Nur Ali Staff Subbag Tata Usaha SLTA
7 Tjasda Staff Subbag Tata Usaha SLTA
8 Sumarsana Staff Subbag Tata Usaha SLTA 9 Yuni Astuti, SE Staff Subbag Tata Usaha S1 10 A S. Tumungin, SE Staff Subbag Tata Usaha S1 11 Sulaeman, A.Md Staff Subbag Tata Usaha D.3 12 Arief Prakoso, ST Staff Subbag Tata Usaha S1
13 Yuniwoko Staff Seksi Pelayanan SLTA
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Kriteria Produktivitas dan Indikator Kinerja
Kriteria-kriteria yang akan diukur meliputi kriteria efisiensi, kriteria efektivitas, dan kriteria inferensial. Kriteria efisiensi menunjukkan bagaimana penggunaan sumberdaya perusahaan (galangan), seperti tenaga kerja, energi,