4.5 Kondisi Sosial Ekonomi
5.2.1 Pengorganisasian Model
5.2.1.1. Sub Model Sumber Pencemar CO2
Variabel sub model sumber pencemar CO2 terdiri dari variabel sumber emisi CO2 dari kendaraan bermotor, industri dan penduduk. Sub model sumber pencemar CO2 disajikan pada Gambar 21.
Emisi CO2 dari Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Bandung pada tahun 2008 (sebagai stok awal) berjumlah 3.127.008 orang dengan laju pertambahan penduduk rata-rata sebesar 1,95 %. Berdasarkan Environmental Protection Agency (2010), dinyatakan bahwa pernapasan manusia mengeluarkan CO2 1 kg/hari atau sama dengan 0,365 ton/ orang/ tahun. Jika diketahui jumlah penduduk Kabupaten Bandung pada tahun 2009 sebesar
3.174.869 orang, maka CO2 yang dikeluarkan penduduk Kabupaten Bandung dari pernapasan kira-kira sebanyak 1.158.827 ton/orang/tahun.
Bahan bakar fosil yang dikonsumsi penduduk, selain untuk bahan bakar kendaraan bermotor, adalah bahan bakar untuk memasak dan kebutuhan lain. Penduduk memerlukan bahan bakar gas, listrik dan minyak tanah. Berdasarkan laporan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung (2009) dinyatakan bahwa emisi CO2 dari konsumsi listrik oleh penduduk rata-rata sebesar 1.459,56 kg/rumah tangga/tahun. Total jumlah rumah tangga yang tinggal di Kabupaten Bandung adalah 885.674 rumah tangga, sehingga emisi dari konsumsi listrik diperkirakan sebesar 1.292.694.343 kg/rumah tangga/tahun atau 1.292.694 ton/tahun. Emisi CO2 dari konsumsi bahan bakar gas adalah 607,68 kg/rumah tangga/tahun, sehingga total sebesar 538.206.376,3 kg/tahun atau sama dengan 538.206 ton/tahun. Emisi CO2 dari konsumsi minyak tanah adalah sebesar 1.039,98 kg/rumah tangga/tahun, sehingga total adalah sebesar 921.083.246,5 kg/tahun atau 921.083 ton/tahun.
Karbondioksida juga dihasilkan dari sampah. Dalam proses pembusukan dan penguraian sampah, dihasilkan gas methane (CH4). Berdasarkan penelitian dari Suprihatin (2006) menyatakan bahwa 5 juta ton sampah sama dengan 25 m3, dan menghasilkan 0,5 juta ton methana yang setara dengan12,8 juta ton CO2 dalam memanaskanudara. Rata-rata sampah yang dihasilkan adalah 0,5 kg/orang/hari. Apabila jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2008 sebesar 3.127.008 orang, maka diperkirakan CO2 yang dihasilkan dari sampah adalah 1.460.938 ton/tahun.
Sumber CO2 dari Emisi Kendaraan Bermotor
Jumlah kendaraan bermotor roda empat pada tahun 2008 di kabupaten Bandung adalah 28.411 kendaraan, sedangkan roda dua sebesar 181.605 kendaraan. Karbondioksida yang diemisikan oleh kendaraan bermotor roda dua rata-rata sebesar 0,35 ton/kendaraan/tahun, sedangkan emisi yang dihasilkan oleh kendaraan roda emat adalah sebesar 1,21 ton/kendaraan/tahun. Maka ada tahun 2008 diperkirakan CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat adalah sebesar 97.939 ton/tahun.
74
Sumber CO2 dari Industri
Industri di Kabupaten Bandung khususnya industri besar, dari tahun ke tahun jumlahnya mengalami penurunan. Tercatat ada tahun 1998 terdapat industri besar sebanyak 331 dan pada tahun 2006 menurun menjadi 315. Berdasarkan data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup kabupaten Bandung tahun 2009, konsumsi total bahan bakar oleh industri adalah sebesar 823.841,5 ton. Per liter bahan bakar menghasilkan CO2 setara 2,33 kg, sehingga total CO2 yang dihasilkan diperkirakan 1.919.551 ton.
Gambar 21 Sub model sumber pencemar CO2.
5.2.1.2. Sub Model Suhu Udara
Suhu udara yang terukur di atmosfer adalah resultan dari keseimbangan energi radiasi surya yang berkaitan dengan albedo dan peran gas rumah kaca khususnya CO2 yang ada di atmosfer (udara). Masing-masing jenis penutupan lahan mempunyai nilai albedo tersendiri. Tanah terbuka mempunyai albedo sebesar 0,17, sedangkan lahan terbangun mempunyai albedo 0,12 dan ruang terbuka hijau 0,15. Tingginya nilai albedo, menjelaskan bahwa radiasi yang dipantulkan juga besar. Pemanasan udara lebih dipengaruhi oleh jumlah radiasi yang diabsorbsi. Semakin tinggi nilai albedo maka jumlah radiasi yang dipantulkan juga semakin tinggi sedangkan jumlah radiasi yang diserap semakin kecil.
Jumlah Penduduk
Tambah Kendaraan 2
Laju pertumbuhan penduduk
Kendaraan 4
Bertambah roda 4
CO2 krn kendaraan roda 4
CO2 Industri Sdg & Besar
Total CO2 penduduk Bahan Bakar Industri Sdg & Besar
C02 krn kendaraan roda 2
CO2 Laju tumbuh kendaraan roda 4
Kons BBG Industri Sdg & Besar
UP Bertambah roda 2
Total CO2 Kendaraan
Laju peningkatan industri Sdg & Besar Laju tumbuh kendaraan roda 2
Penurunan Peningkatan
down
Total CO2 Industri Sdg & Besar
Kons Bhn Listrik Pernapasan Jmh KK Kons Miny ak tanah Produksi sampah Sampah Laju penurunan
Meskipun nilai albedo tanah terbuka lebih tinggi dibandingkan ruang terbuka hijau, tetapi radiasi yang diserap lahan terbuka dipergunakan untuk pemanasan permukaan dan udara di atasnya. Maka udara di atas lahan terbuka suhunya tinggi. Tetapi meskipun ruang terbuka hijau albedonya lebih rendah dibandingkan tanah terbuka yang berarti radiasi yang diserap lebih tinggi, tetapi karena radiasi yang diserap tidak hanya untuk memanaskan permukaan, tetapi juga untuk evapotranspirasi, maka sisa energi radiasi untuk pemanasan udara tinggal sedikit sehingga suhu udara di sekitar ruang terbuka hijau suhunya lebih rendah.
Albedo lahan terbangun memiliki nilai paling rendah (0,12), artinya jumlah radiasi yang dipantulkan lebih kecil, sedangkan jumlah radiasi yang diserap lebih besar. Energi radiasi yang besar ini digunakan hanya untuk memanaskan permukaan dan udara di atasnya sehingga suhu udara yang terukur akan tinggi. Oleh karena itu semakin luas lahan terbangun, maka suhu udara semakin meningkat, dan semakin luas ruang terbuka hijau, maka suhu udara semakin menurun.
Gambar 22 Sub model suhu udara.
5.2.1.3. Sub Model Penutupan Lahan
Kondisi lingkungan khususnya suhu udara di Kabupaten Bandung sangat dipengaruhi oleh kondisi penutupan lahan. Lahan terbangun sangat berperan dalam pemanasan permukaan dan peningkatan suhu udara sedangkan ruang terbuka hijau berperan dalam penurunan suhu udara.
Berdasarkan data tahun 2008, luas lahan terbuka di Kabupaten Bandung adalah sebesar 10.012 ha, sedangkan lahan terbangun 27.281 ha dan ruang terbuka hijau sebesar 139.009 ha. Semakin meningkatnya lahan terbangun dan lahan terbuka
Suhu Incrase Table 1 Graph 1 Albedo RTH Albedo Lhn terbangun
Albedo Tanah Terbuka
Table 2
Albedo TB Awal
Albedo riil TB Suhu udara
Albedo LTB Awal
Albedo riil LTB Albedo RTH Awal Albedo riil RTH Persen Albedo TB
Persen Albedo RTH Persen Albedo LTB
76
menyebabkan penurunan luas ruang terbuka hijau. Sub model penutupan lahan disajikan pada Gambar 23.
Gambar 23 Sub model penutupan lahan.
5.2.1.4. Gabungan Sub Model Kota Hijau
Model utuh kota hijau terdiri dari gabungan sub model. Kondisi riil lingkungan Kabupaten Bandung khususnya suhu udara digambarkan pada model sistem dinamik yang terdiri dari beberapa variabel. Dengan menggabungkan semua variabel, menentukan konstanta yang mempengaruhi nilai dari masing-masing variabel, maka didapat model lengkap yang menggambarkan dinamika sistem yang ada di Kabupaten Bandung. Model kota hijau Kabupaten Bandung, disajikan pada Gambar 24.
Laju pertambahan lhn terbangun
in
Penghijauan
RTH Absolut
Luas Total Wilay ah
Luas Lhn Terbangun Absolut RTH Tanah Terbuka Lahan Terbangun out berkurang
78