• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Deskripsi Lokasi

2. Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen kedua yang mendukung pelaksanaan suatu rencana. Dalam pengorganisasian dirancang suatu pengelompokan struktur formal, pembagian tugas atau pekerjaan antara anggota-anggotanya dan mendelegasikannya, sebagai realisasi dari sebuah rencana yang telah disusun. Sebagai tindak lanjut dari sebuah perencanaan, pengorganisasian memiliki peranan yang menentukan kelancaran jalannya pelaksanaan pekerjaan atau tindakan, karena pengorganisasian didalamnya memuat pengaturan lebih lanjut dari kekuasaan, wewenang, kewajiban, tanggung jawab, serta pola hubungan antara anggota organisasi atau karyawan perusahaan.

Sondang P. Siagian (2005:60) dalam bukunya Fungsi-fungsi Manajerial mengatakan bahwa :

“Pengorganisasian ialah keseluruhan proses pengelompokkan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, serta wewenang dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan yang utuh dan bulat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”.

Pengorganisasian menurut H. B. Siswanto (2006:75) dapat juga diartikan sebagai suatu pekerjaan pembagian tugas, mendelegasikan otoritas,

commit to user xxxiii

dan menetapkan aktivitas yang hedak dilakukan oleh manajer pada seluruh hierarki organisasi. Sedangkan, George R. Terry (2003:73) mendefenisikan bahwa :

“Pengorganisasian sebagai kegiatan dasar dari manajemen yang dilaksanakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses”.

Menurut Yohannes Yahya (2006:81) istilah pengorganisasian dapat digunakan untuk menunjukkan hal-hal berikut :

1. Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumber daya keuangan, fisik, bahan baku, dan tenaga kerja operasional.

2. Bagaimana organisasi mengelompokkan kegiatan-kegiatannya.

3. Hubungan antara fungsi-fungsi, jabatan, tugas-tugas dan para karyawan.

4. Cara para manajer membagi lebih lanjut tugas yang dilaksanakan dan mendelegasikan wewenang untuk mengerjakan tugas tersebut.

Dari batasan definisi di atas, menurut T. Hani Handoko (2003:167) pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Untuk itu masih menurut T. Hani Handoko (2003:172) manajer perlu menggambarkan bagan organisasi (organization chart) untuk menunjukkan struktur organisasi. Bagan organisasi tersebut akan

commit to user xxxiv

memperlihatkan susunan fungsi-fungsi, departemen-departemen, posisi-posisi organisasi dan menunjukkan bagaimana hubungan diantaranya. Bagan organisasi menggambarkan lima aspek utama suatu struktur organisasi, yang secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pembagian kerja

Setiap kotak menunjukkan individu atau satuan organisasi mana yang bertanggung jawab untuk kegiatan organisasi tertentu, dan tingkatan spesialisasi yang digunakan.

2. Manajer dan bawahan atau rantai perintah

Rantai perintah menunjukkan hubungan wewenang dan tanggung jawab yang menghubungkan atasan dan bawahan dalam keseluruhan organisasi.

3. Tipe pekerjaan yang dilaksanakan

Label dan deskripsi pada tiap kotak menunjukkan pekerjaan organisasional atau bidang tanggung jawab yang berbeda.

4. Pengelompokan segmen-segmen pekerjaan

Keseluruhan bagan menunjukkan atas dasar apa kegiatan-kegiatan organisasi dibagi berdasar fungsional atau divisional, atau lainnya (departemenisasi).

5. Tingkatan manajemen

Suatu bagan tidak hanya menunjukkan manajer dan bawahan tetapi juga keseluruhan hirarki manajemen.

commit to user xxxv

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian merupakan proses pengelompokkan orang dalam struktur formal untuk menjalankan sumber daya yang ada disertai pemberian wewenang dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban yang diberikan kepadanya. Organisasi yang berjalan dengan apabila suluruh komponen hierarki strukturnya melaksanakan fungsi dan kewajibannya sesuai dengan prosedur dan program kerja yang telah direncanakan sebelumnya. Pada akhirnya tercipta suatu organisasi yang dapat melaksanakan kerja sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakannya.

Dalam proses pengorganisasian pengelolaan perkeretaapian, maka kita bisa melihat bagaimana alur struktur kerja organisasi setiap unit perkeretaapian. Bagaimana distribusi kerja dalam organisasi pengelolaan perkeretaapian tersebut. Seksi yang terlibat dalam manajemen sarana dan prasarana perkeretaapian adalah Seksi Sarana, UPT / Dipo Sarana, Seksi Jalan Rel dan Jembatan, UPT Jalan Rel dan Jembatan, Seksi Sinyal dan Telekomunikasi dan juga UPT Sinyal dan Telekomunikasi. Semua seksi dan UPT tersebut berada dalam organisasi dengan pembagian tugas pokok yang jelas.

Pengorganisasian dalam PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop VII diperlukan untuk mempermudah dalam pelaksanaan program yang telah dirumuskan dalam perencanaan sebelumnya. Disamping itu, pengorganisasian diperlukan untuk mengelompokkan sumber daya manusia, pembagian tugas, wewenang serta tanggung jawab masing-masing pegawai Daop VII dalam menangani sarana dan prasarana perkeretaapian. Dalam kegiatan manajemen

commit to user xxxvi

sarana dan prasarana perkeretaapian apabila sudah terbentuk dan terlaksana dengan baik pengorganisasiannya, dengan begitu akan mempermudah dalam pelaksanaan program yang telah dirumuskan dalam perencanaan.

3. Pengkoordinasian (Coordinating)

Koordinasi merupakan tugas pimpinan yang dilakukan dengan mengusahakan agar semua kegiatan dapat selaras dan anggota-anggotanya dapat bekerja sama dengan baik sehingga tujuan dapat tercipta dengan efisien.

Menurut Ibnu Syamsi, koordinasi adalah proses penarikan semua bagian organisasi, sehingga pengambilan keputusan, tugas-tugas, kegiatan-kegiatan yang dilakukan orang-orang dan unit-unit terarah pada pencapaian tujuan secara optimal. (Ibnu Syamsi, 1994:113)

James AF Stowner dalam Ibnu Syamsi (1994:113) mendefinisikan pengkoordinasian yaitu coordinating is the of integrating the activities and objectives of the separate units of organization in order to effectively achieve organization goals. (Koordinasi adalah mengintegrasi aktivitas dan objek dari unit-unit organisasi agar tercapai tujuan organisasi secara efektif).

Jadi koordinasi merupakan aktivitas mengusahakan terjadinya kerja sama diantara anggota-anggotanya agar semua kegiatan organisasi dapat selaras sehingga tercipta dengan efisien.

commit to user xxxvii

Dengan demikian, maka pengkoordinasian merupakan aktivitas dan fungsi manajemen yang dilakukan untuk mengusahakan terjadinya kerja sama yang selaras dan tertib mengarah pada tercapainya tujuan organisasi secara menyeluruh. Jika koordinasi berjalan baik, maka tidak akan terjadi kesemrawutan, kekacauan, tumpang tindih atau kekosongan kerja.

Macam-macam koordinasi yaitu:

1. Koordinasi Vertikal

Yaitu koordinasi yang dilakukan oleh atasan kepada para bawahannya. Dengan adanya koordinasi tersebut diharapkan kegiatan-kegiatan dalam unit kerja yang bersangkutan dapat tercapai dengan efisien.

2. Koordinasi Horizontal

Yaitu koordinasi yang dilakukan dalam unit-unit yang sederajat atau antar instansi yang sederajat.

3. Koordinasi Diagonal

Koordinasi diagonal dapat terjadi dalam organisasi yang pengelolaan bidangnya atau fungsinya secara sentralisasi. (Ibnu Syamsi, 1994:115-116)

Pengkoordinasian merupakan kegiatan penggerakan pegawai, dalam organisasi PT Kereta Api Indonesia Daop VII kegiatan ini dilakukan supaya terjadinya kerjasama diantara pegawai tersebut dalam melaksanakan penanganan terhadap sarana dan prasarana perkeretaapian. Koordinasi yang terjadi adalah koordinasi internal vertikal yaitu menggambarkan bagaimana hubungan antara atasan dengan bawahan dalam lingkup organisasi Daop VII,

commit to user xxxviii

koordinasi internal horizontal menggambarkan hubungan antar unit kerja yang kedudukannya sama dalam satu lingkup organiasai Daop VII. Koordinasi eksternal vertikal menggambarkan bagaimana hubungan antara PT. Kereta Api Indonesia Daop VII dengan organisasi diluar Daop VII yang kedudukannya lebih tinggi, dan juga koordinasi eksternal horizontal yaitu hubungan antara unit kerja di Daop VII dengan unit kerja di luar Daop VII yang kedudukannya sejajar dalam hierarki organisasi. Artinya dari pernyataan di atas, koordinasi dalam organisasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop VII sangat diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsi antar setiap unit kerja yang telah diprogram sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan kerja. Akhirnya, jika fungsi koordinasi terlaksana dengan baik maka pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian tujuan organisasi menjadi lebih mudah.

4. Pengawasan (Controlling)

Dalam beberapa literatur beberapa ahli menjelaskan fungsi pengawasan dalam pengertian yang beragam. Dalam bukunya Pengantar Manajemen, Sondang P. Siagian (2005:125) mendefinisikan bahwa :

”Pengawasan merupakan proses pengamatan ari seluruh kegiatan organisasi guna lebih menjamin bantuan semua pekerjaan yang sudah dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya”.

Dalam bahasa lain, Yohanes Yahya (2006:133) mendefenisikan pengawasan sebagai proses untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan organisasi dalam manajemen dapat tercapai. Ini berkenaan dengan cara-cara membuat kegiatan kegiatan sesuai yang direncanakan.

commit to user xxxix

Disisi lain, pengawasan (Controlling) merupakan suatu proses dasar untuk mendapatkan sesuatu yang identik dan apa saja yang dikendalikan. Mengawasi ialah suatu usaha meneliti kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan (George R. Terry, 2003:166).

Menurut H. B. Siswanto (2006:25), tindakan pengawasan penting dilakukan dalam suatu organisasi. Tindakan pengawasan pelaksanaan pekerjaan yang diberikan kepada bawahan tidaklah dimaksudkan untuk mencari kesalahan bawahan semata-mata. Namun, hal itu dilakukan untuk membimbing bawahan agar pekerjaan yang dikerjakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, aktivitas pengawasan dimaksudkan untuk mencari penyimpangan sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan ke arah rencana yang telah ditetapkan. Aktivitas ini berarti bahwa dalam mengoperasikan fungsinya, manajer berusaha membimbing bawahan ke arah terealisasinya tujuan organisasi.

Dari batasan-batasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengawasan dapat didefinisikan sebagai suatu proses evaluasi setiap tindakan-tindakan dalam organisasi apakah telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau direncanakan. Artinya pengawasan memiliki peranan yang sangat menentukan dalam mengamankan tujuan organisasi. Sebagai kontrol dan pengaman dalam manajemen, pengawasan berfungsi memonitoring tindakan anggota dan mengukur hasil kerja anggota dan bawahannya.

commit to user xl

Dalam PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop VII proses pengawasan menggambarkan bagaimana alur kegiatan kontrol dan pengendalian dalam pengelolaan sarana dan prasarana perkeretaapian. Bagaimana seorang pimpinan harus mengevaluasi dan menilai pekerjaan yang dilakukan para bawahan. Demikian juga, bagaimana seorang pimpinan membimbing bawahan agar melakukan prosedur kerja yang benar agar tidak terjadi kesalahan selama kegiatang pengelolaan sarana dan prasarana perkeretaapian dan semua kegiatan yang dilakukan adalah sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Pengawasan yang ada di Daop VII adalah pengawasan yang dilakukan secara internal oleh pihak-pihak yang berasal dari PT. Kereta Api Indonesia Daop VII dan juga pengawasan yang dilakukan secara ekstrenal yaitu dilakukan oleh pihak di luar PT. Kereta Api Indonesia Daop VII.

B. Sarana dan Prasarana Perkeretaapian

1. Pengertian Sarana dan Prasarana

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (980:786) pengertian dari sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai tujuan atau maksudnya. Secara etimologi kata sarana memiliki arti alat tidak langsung untuk mencapai tujuan. Dalam bukunya Organisasi dan Administrasi (1988:82), Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa “Sarana adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan dan melancarkan pelaksanaan suatu usaha”. Dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. 91 Tahun 2003 Tentang Pembakuan

commit to user xli

Sarana Dan Prasarana Kerja Perkantoran Depertemen Kehutanan, menyebutkan bahwa “Sarana adalah barang atau benda bergerak yang dapat dipakai sebagai alat dalam pelaksanaan tugas fungsi unit kerja”.

Dari batasan tersebut disimpulkan bahwa sarana merupakan sesuatu fasilitas pelengkap yang secara tidak langsung digunakan untuk memudahkan kegiatan organisasi dalam mencapai tujuan. Artinya, sesuatu yang dapat mempermudah dan melancarkan kegiatan organisasi dapat berupa benda maupun uang (modal). Menurut Suharsimi Arikunto (1988:82) secara garis besar sarana penunjang tersebut dibedakan atas dua jenis, yaitu :

1. Sarana fisik, yakni segala sesuatu yang berupa benda atau yang dapat dibendakan, yang mempunyai peranan untuk memudahkan dan melancarkan suatu usaha. Sarana fisik juga disebut sarana materiil, contoh : kendaraan; alat komunikasi; alat penampil; dan sebagainya.

2. Sarana uang, yakni segala sesuatu yang bersifat mempermudah suatu kegiatan sebagai akibat bekerjanya nilai uang.

Sedangkan, prasarana adalah segala yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 980:786). Artinya, prasarana merupakan failitas tempat yang digunakan untuk menunjang sarana dalam mencapai tujuan usaha atau organisasi. Sedangkan, dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. 91 Tahun 2003 Tentang Pembakuan Sarana Dan Prasarana Kerja Perkantoran Depertemen Kehutanan, menyebutkan bahwa “Prasarana adalah barang atau benda tidak bergerak yang dapat menunjang atau mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja”. Dengan kata lain,

commit to user xlii

prasarana merupakan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kegiatan yang sifatnya permanen atau tetap seperti gedung, lapangan, aula dan sebagainya dalam suatu organisasi atau perusahaan.

Berdasarkan penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa prasarana dan sarana merupakan segala sesuatu fasilitas dan alat yang dapat digunakan sebagai perlengkapan untuk dimanfaatkan dalam pelaksanaan kegiatan organisasi. Adapun, tersedianya sarana dan prasarana yang baik dan ideal dalan organisasi, maka kegiatan usaha dapat berjalan dengan baik. Sebab sarana dan prasarana yang tidak mendukung tidak akan membuahkan hasil secara maksimal dalam organisasi tersebut.

2. Pengertian Perkeretaapian

Dalam ketentuan umum pasal 1 UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian disebutkan, bahwa “Perkeretaapian adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana, dan sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk penyelenggaraan transportasi kereta api”. Sedangkan, dalam pembukaan UU No. 23 Tahun 2007 disebutkan bahwa perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi dalam sistem transportasi nasional yang mempunyai karakteristik pengangkutan secara massal dan keunggulan tersendiri, yang tidak dapat dipisahkan dari moda transportasi lain, perlu dikembangkan potensinya, dan ditingkatkan peranannya sebagai penghubung wilayah, baik nasional maupun internasional, untuk menunjang, mendorong, dan menggerakkan pembangunan nasional guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.

commit to user xliii

Senada dengan penjelasan di atas, menurut H.M.N. Nasution (1996:64) sumbangan kereta api bagi perkembangan ekonomi dan masyarakat sangat besar. Kereta apilah yang memulai angkutan barang dalam jumlah yang besar dengan biaya yang rendah sehingga merangsang pertumbuhan industri, pertambangan, perdagangan, dan kegiatan lainnya di masyarakat. Transportasi perkeretaapian memiliki beberapa keunggulan-keunggulan dibandingkan dengan transportasi jenis lainnya, yaitu :

a. Mampu mengangkut muatan dalam jumlah yang besar

b. Mampu menempuh jarak yang jauh. Bertambah jauh jarak menjadi semakin efisien dan biaya semakin rendah.

c. Jadwal perjalanan dengan frekuensi tinggi dapat dilaksanakan.

d. Jarang sekali terjadi kongesti karena semua fasilitas dimiliki oleh satu perusahaan sehingga penyediaan jasa lebih terjamin kelancarannya.

e. Dapat memberikan tingkat pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan bus.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perkeretaapian merupakan salah satu moda yang memiliki karakteristik dan keunggulan khusus terutama dalam kemampuannya untuk mengangkut baik penumpang maupun barang secara massal, hemat energi, hemat dalam penggunaan ruang, mempunyai faktor keamanan yang tinggi, dan tingkat pencemaran yang rendah dan lebih efisien dibanding dengan moda transportasi jalan raya untuk angkutan jarak jauh dan untuk daerah yang padat lalu lintas, seperti angkutan kota.

commit to user xliv

3. Pengertian Sarana dan Prasarana Perkeretaapian

Dalam UU No. 23 Tahun 2007 tentang pengelolaan perkeretaapian dalam pasal 1 disebutkan bahwa, sarana perkeretaapian adalah kendaraan yang dapat bergerak di jalan rel. Menurut jenisnya sarana perekeretaapian seperti yang disebutkan dalam pasal 96 terdiri dari :

a. lokomotif;

b. kereta;

c. gerbong; dan

d. peralatan khusus.

Berdasarkan pengertian di atas, bahwa sarana kereta api adalah segala sesuatu yang dapat dijalankan dalam kegiatan perekeretaapian dan sebagai faktor utama terselenggaranya kegiatan perkeretaapian, seperti kereta api dan lokomotif. Dalam hal ini, kereta api dan lokomotif sebagai sarana transportasi dapat bergerak berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sarana kereta api merupakan penyelenggara utama dan pokok dalam kegiatan perkeretaapian, maka kegiatan perkeretaapian dapat terlaksana dengan baik tergantung dari pengelolaan sarana kereta api tersebut.

Berdasarkan ketentuan umum UU No. 23 Tahun 2007 tentang pengelolaan perkeretaapian dalam pasal 1 disebutkan prasarana perekeretaapian adalah jalur kereta api dan fasilitas operasi kereta api agar kereta api dapat

commit to user xlv

dioperasikan. Jalur kereta api sendiri adalah jalur yang terdiri dari rangkaian petak jalan rel yang meliputi ruang manfaat jalur kereta api, ruang milik jalur kereta api, dan ruang pengawas jalur kereta api, termasuk bagian atas dan bawahnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas kereta api

Penyelenggara prasarana perkeretaapian sendiri adalah pihak yang menyelenggarakan prasarana perkeretaapian. Penyelenggara prasarana perkeretaapian umum sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 UU No. 23 Tahun 2007 dilakukan oleh Badan Usaha sebagai penyelenggara, baik secara sendiri-sendiri maupun melaui kerja sama. Dalam hal tidak ada Badan Usaha yang menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umu, Pemerintah atau Pemerintah Daerah dapat menyelenggarakan prasarana perkeretaapian.

Dapat disimpulkan bahwa prasarana kereta api adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kegiatan perekeretaapian dan sebagai faktor utama terselenggaranya kegiatan perkeretaapian yang sifatnya permanen, seperti jalur kereta api dan fasilitas operasi kereta api lainnya. Artinya, prasarana bersifat permanen tidak dapat dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Menurut pasal 1 dalam UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian dijelaskan bahwa fasilitas operasi kereta api adalah segala fasilitas yang diperlukan agar kereta api dapat dioperasikan. Fasilitas pengoperasian kereta api meliputi : peralatan persinyalan dan peralatan telekomunikasi. Prasarana kereta api merupakan penunjang penyelenggaraan kegiatan perkeretaapian.

commit to user xlvi

Berdasarkan uraian diatas sarana dan prasarana perkeretaapian dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berbentuk fasilitas dan alat yang digunakan untuk menunjang terselenggaranya kegiatan perkeretaapian yang sifatnya dapat bergerak yaitu kereta api dan lokomotif dan yang sifatnya permanen seperti jalur kereta api, dan fasilitas operasi kereta api lainnya.

C. Manajemen Sarana dan Prasarana Perkeretaapian

Istilah Manajemen Sarana dan Prasarana Perkeretaapian berdasarkan uraian di atas dapat didefinisikan sebagai suatu proses atau alat untuk mencapai tujuan dan menunjang penyelenggaraan kegiatan pengelolaan perkeretaapian dengan menggunakan sumber daya organisasi yang ada. Dalam hal ini, kereta api menjadi obyek sarana. Sementara, fasilitas seperti jalan rel dan jembatan, sistem sinyal dan jaringan komunikasi sebagai prasarana perkeretaapian.

Proses manajemen itu sendiri meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengawasan. Perencanaan yang ada di seksi Sarana meliputi Perencanaan Pemeliharaan Periodik, Semi Pemeriksaan Akhir (SPA) dan Pemeriksaan Akhir (PA), pada seksi Jalan Rel dan Jembatan perencanaan yang ada meliputi Perencanaan Pemeliharaan Bulanan dan Pemeliharaan Triwulan. Seksi Sinyal dan Telekomunikasi perencanaan yang dibuat meliputi Perencanaan Pemeliharaan Pencegahan dan Pemeliharaan Korektif. Hal ini perlu dilakukan oleh perusahaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop VII karena dengan perencanaan yang baik maka akan membawa perusahaan menuju kesuksesan. Dalam proses pengorganisasian pengelolaan perkeretaapian, kita bisa melihat bagaimana alur struktur kerja

commit to user xlvii

organisasi setiap unit perkeretaapian. Bagaimana distribusi kerja dalam organisasi pengelolaan perkeretaapian tersebut. Seksi yang terlibat dalam manajemen sarana dan prasarana perkeretaapian adalah Seksi Sarana, UPT / Dipo Sarana, Seksi Jalan Rel dan Jembatan, UPT Jalan Rel dan Jembatan, Seksi Sinyal dan Telekomunikasi dan juga UPT Sinyal dan Telekomunikasi. Semua seksi dan UPT tersebut berada dalam organisasi dengan pembagian tugas pokok yang jelas.

Koordinasi yang terjadi adalah koordinasi internal vertikal yaitu menggambarkan bagaimana hubungan antara atasan dengan bawahan dalam lingkup organisasi Daop VII, koordinasi internal horizontal menggambarkan hubungan antar unit kerja yang kedudukannya sama dalam satu lingkup organisasai Daop VII. Koordinasi eksternal vertikal menggambarkan bagaimana hubungan antara PT. Kereta Api Indonesia Daop VII dengan organisasi diluar Daop VII yang kedudukannya lebih tinggi, dan juga koordinasi eksternal horizontal yaitu hubungan antara unit kerja di Daop VII dengan unit kerja di luar Daop VII yang kedudukannya sejajar dalam hierarki organisasi. Pengawasan yang ada di Daop VII adalah pengawasan yang dilakukan secara internal oleh pihak-pihak yang berasal dari PT. Kereta Api Indonesia Daop VII dan juga pengawasan yang dilakukan secara ekstrenal yaitu dilakukan oleh pihak di luar PT. Kereta Api Indonesia Daop VII.

D. Kerangka Pikir

Pertumbuhan perekonomian masyarakat dewasa ini membutuhkan jasa pelayanan transportasi yang cukup dan memadahi. Tanpa adanya sarana dan

commit to user xlviii

prasarana pendukung tentunya tidak akan tercapai hasil yang memuaskan dalam pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Sejalan dengan tantangan yang terus berkembang, jasa angkutan kereta api di Indonesia saat ini menghadapi permasalahan yang sangat rumit. Sejak dulu hingga kini kereta api selalu berhadapan dengan tantangan kompetisi yang tinggi dari moda lain. Namun, saat ini yang mengganggu perkererataapian Indonesia adalah tingginya tingkat kecelakaan. Frekuensi kecelakaan cukup tinggi hingga banyak menelan korban jiwa. Kecelakaan tersebut lebih banyak disebabkan karena faktor sarana dan prasarana perkeretaapian. Permasalahan pada sarana dan prasarana perkeretaapian itu tidak lepas dari buruknya manajemen sarana dan prasarana perkeretaapian yang ada

PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daop VII Madiun merupakan unsur yang secara khusus berkaitan dengan permasalahan sarana dan prasarana perkeretaapian di wilayah Daop VII. Dalam pengelolaan sarana dan prasarana diperlukan proses manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengawasan agar perencanaan atau program yang telah dibuat bisa berhasil. Dalam pelaksanaannya terdapat hal-hal yang menghambat maupun hal yang mendukung. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada bagan berikut :

Bagan 2.1 Kerangka Pemikiran Manajemen sarana prasarana Perkeretaapian - Planning - Organizing Tingginya kecelakaan Kereta Api Menurunnya kecelakaan Kereta Api

commit to user xlix BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Dokumen terkait