BAB IV PEMIKIRAN POLITIK ABU AL A’ LA AL-MAUDUDI DAN
A. Negara dan Pemerintahan
2. Penguasa dan Persyaratannya
Dalam upaya menegakkan hukum-hukum Tuhan di suatu negara harus dibentuk suatu negara yang dibentuk berdasarkan ajaran Islam. Karenanya semua unsur pemerintah bertanggung jawab dalam mewujudkan berdirinya suatu negara yang tunduk akan perintah Tuhan dengan selalu menegakkan ajaran-ajaran yang telah disampaikan Allah melalui Rasul-Nya.
7 `Abd al-Hamid al-Mutawalli, Mabadi Nizam al-Hukm fi al Islam, (Iskandariyaat : Al
Ma’arif, 1978), h. 243-245
8
De facto artiya menurut keadaan sebenarnya (tentang pengakuan suatu pemerintah), Anton M. Moelyono dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka), h. 230
51
Karenanya, selain para pejabat pemerintah yang akan memimpin negara, dia juga bertanggung jawab serta dapat dipercaya dalam pembuatannya, Maududi menerapkan syarat-syarat lain, yaitu:
1. Seorang muslim 2. Seorang laki-laki 3. Dewasa dan berakal
4. Warga negara dari negara Islam dimana pemilihan itu berlangsung9
Syarat pertama untuk menjadi penguasa bahwa dia harus seorang muslim didasarkan atas perintah al-Qur'an untuk memperoleh kekuasaan dari kalangan Muslim. Firman Allah dalam surat An –Nisaa ayat 59 :
òÁ?íóÔ íöÝã?Êõ?Ú?ÒÇóäóÊ?äöÅóÝ?ãõßúäöã öÑ?ãó?Ç íöáæõÃ?æ áó æ?Ó?ÑáÇ Çæ?ÚíöØÃó?æ ?å ?ááÇ ÇæÚ?íöØóÃ Çæõä?ãÇ?Á ?äíöÐ?áÇ Ç?å ?íóÃÇí ÇðáíöæúÃóÊ?ä?Ó?ÍóÃ?æ ?Ñ?íóÎ ?ßöáóÐ öÑöÎÂúáÇ öã?æ?íúáÇ?æ öå ?ááÇöÈä?æõäöãÄú õÊ?ãõÊúäõß ?äöÅ öáæ?Ó?ÑáÇ?æ öå ?ááÇ ìóáöÅ ?åæ?Ï?ÑóÝ
Artinya :
“Haiorang-orang beriman! Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan taalilah orang-orang yang mempunyai kekuatan dari kalanganmu, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya. jika kamu beriman kepada.A11ah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatiya " (An -N isa: 59). Ayat di atas menerangkan bahwa seorang Muslim harus taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mentati pemimpinnya. Ketaatan kepada pemimpin berbeda dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah
9 Al Maududi, Hukum dan Konstitusi Sistem Politik Islam, Terjemahan Asep Hikmat,
52
ketaatan yang bersifat mutlak, sementara ketatan kepada pemimpin bersifat kondisional.
Hal ini disebabkan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan ketaatan yang sudah baku. Sebagai hamba-Nya manusia harus mematuhi segala perintah maupun larangan-Nya sebagai suatu ketaatan yang mutlak dan tidak perlu menanyakan kembali apa maksud dari perintah maupun larangan yang telah ditetapkanNya melalui al-Qur'an dan al-Hadits.
Syarat kedua bahwa ia harus seorang laki-laki didasarkan pada salah satu ayat al-Qur'an. Firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 34 :
Artinya:
*
'+,-./,0,1,ﻥ23ﻣ52,63+,7-
"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita " (An-Nisa: 34) Ayat di atas merupakan rujukan utama bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita maupun kaumnya. Hal ini menimbang beberapa kenyataan bahwa laki-laki bisa diandalkan menjadi seorang pemimpin daripada perempuan. Hal di atas berkaitan erat dengan kemampuan laki-laki baik dalam menguasai emosi maupun kekuatan yang ada pada dirinya. Sifat kepemimpinan biasanya muncul pada diri laki-laki.
Syarat ketiga bahwa ia harus dalam keadaan dewasa dan berakal dijelaskan dalam al-Qur'an surat An –Nisa ayat 5 :
53
Artinya :
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya10" (An-Nisa: 5)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa seorang pemimpin hendaknya merupakan orang pilihan memiliki kecerdasan dan kedewasaan. Tidak mungkin suatu kaum dapat maju jika dipimpin oleh seorang pemimpin yang bodoh.
Dalam mencari pemimpin yang pandai hendaknya masyarakat yang akan memilih dan memperhatikan betul siapa yang akan menjadi pilihannya. Begitu juga pemimpin yang pandai harus disertai dengan kejujuran. Sebab kejujuran merupakan kewajiban yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
Syarat keempat bahwa seorang pemimpin merupakan warga negara dari negara Islam. Hal ini dijelaskan dalam al-Qur'an. Firman Allah surat al- Anfal ayat 72 yaitu : #3,?,ﻧ,#<#,#,',ﻳ*B5,#*C50*D*E,ﺳG*H<*8*39<ﻧ,I#<,*8*,2<ﻣ,J*#3K,%+,7,##3,7+,%,#23.,ﻣ,',ﻳ*B55ﻥ*L /M5,'NG<O,<*ﻣ<*8*Mﻳ,+,#<*, ﻣ<3P,+,ﻣ#3+*7,83ﻳ<,#,2.ﻣ'3,,,ﻳB*5#,QNR<,3'+,#I<*U*,T,<R3S38<,,#I3 +,*3C50,#V+,W*ﻣ<38,.<,#<,3P,.<,Nﻡ<2,6/,0,1+5L3<*?5.33P<,0,R,H*ﻳ-KG*H<X3#3,?<.,M<ﺳ*ﻥ*L,##3*7+,83ﻳ V*?,,ﻥ230,<R,; Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin) mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah
10
Orang belum sempurna akalnya ialah anak yatim yang belum baligh atau orang dewasa yang tidak dapat mengatur hartanya
54
ada perjanjian antera kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (Al-Anfal: 72)
Maksudnya agar pemilih diperuntukan bagi warga yang tinggal di sekitar pemilihan itu berlangsung. Inilah empat persyaratan hukum yang menentukan apakah seseorang memenuhi persyaratan atau tidak untuk menjadi anggota Majelis Permusyawaratan dan jabatan kepala negara Islam. Tetapi masalahnya adalah: Siapakah di antara orang-orang yang secara hukum memenuhi persyaratan, harus kita pilih? Dan siapakah yang tidak boleh dipilih untuk jabatan-jahatan penting negara? Jawaban yang jelas terhadap pertanyaan paling penting ini juga dapat kita temukan dalam al Quran dan Hadits. Al-Quran menyatakan dalam surat an-Nisa ayat 58 :
55
*
C50,K<.*1<3Pﻣ,<,X,I5ﻥ*L23H,ﺭ+,R,M*,D*ﺋ+,E,6#+,Z23R3O<3X+,.<0,R,7,#/,W<ﻧI3,#N,X,<*ﻣ<3X+,.<[,0,\+5ﻧ*L3$+5.+,8:ﻳ,I+,ﻳ V*E,\V*0,1,C505ﻥ*L<3X+,[<;,I
Artinya:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu dimata Allah adalah orang-orang yang paling bertaqwa " (al-Hujurat: 13)
Ayat di atas menjelaskan bahwa kedudukan manusia adalah sama di sisi Allah kecuali dibedakan dengan ketaqwaannya. Mengenai salah satu syarat harus seorang laki-laki yang diajukan oleh Maududi, temyata tidak sepenuhnya dijalankan oleh beliau. Karena dalam prakteknya, beliau pernah mendukung Fatimah Jinnah, adik perempuan Ali Jinnah,11 ketika dia mencalonkan diri menjadi presiden Pakistan pada tahun 1964.
Kenyataan di atas memberikan pengertian bahwa Abu al-A'la al-Maududi tidak mempersoalkan apakah harus laki-laki atau perempuan yang dibolehkan menjadi pemimpin. Sebab surat an-Nisa ayat 34:
òÖ?Ú?Èìóá?Ú ?ã?å ?Ö?Ú?È?å ?ááÇ óá?ÖóÝÇ?ãöÈöÁÇ?Ó?äáÇ ìóá?Ú ?äæ?ãÇ?æóÞõáÇ?Ì?ÑáÇ
Artinya:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)... " ( an-Nisa : 34)
11 M Ali Jinnah (1876-1948) adalah pemimpin agung dan Gubernur Jandral Pertama di
Pakistan. Lahir di Lahore tahun 1876. Esposito, Ensiklopedi Dunia Islam Modern.,(Bandung: Mizan, 2001), h. 27
56
Ternyata dari kedua alasan di atas tidak dijelaskan secara pasti akan adanya larangan atas pencalonan wanita sebagai seorang pemimpin. Adapun yang tersirat dari kedua dalil di atas adalah kalimat berita yang menerangkan bahwa kaum laki-laki mempunyai kelebihan dibandingkan kaum perempuan dan bahwa suatu bangsa tidak akan mendapat kemenangan jika ia dipimpin oleh seorang perempuan.
Selain itu, dalam usaha untuk melangsungkan roda pemerintahan hendaknya ada musyawarah antara penguasa dengan rakyatnya. Meskipun dalam hal ini Maududi tidak menjelaskan secara rinci musyawarah yang bagaimana yang seharusnya dijalankan oleh negara Islam. Maududi hanya menjelaskan bahwa musyawarah dapat dilakukan secara langsung dengan rakyat atau melalui wakil-wakilnya yang mereka pilih. Hal ini menunjukkan bahwa betapa ajaran Islam memberikan ruang yang luas dalam bermusyawarah menurut cara yang mereka anggap paling baik. Al-Qur'an dalam Surat Ali Imran ayat 159 memang memerintahkan musyawarah. Firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 59 yaitu:
?ã?å úä?Ú õÝ?ÚÇóÝ?ßöá?æ?Í ?äöã Çæ?ÖóÝúäÇóá öÈúáóÞúáÇ óÙíöáóÛ Ç?ÙóÝóÊúäõß ?æóá?æ ?ã?å óá óÊúäöá öå ?ááÇ ?äöã òÉ ?ã?Í?Ñ Ç?ãöÈóÝ ?ááÇ ?äöÅ öå ?ááÇ ìóá?Ú úá?ß?æóÊóÝóÊ?ã?Ò?Ú ÇóÐöÅóÝöÑ?ãóÃúáÇ íöÝ?ã?å ?ÑöæÇóÔ?æ ?ã?å óá ?ÑöÝúÛóÊ?ÓÇ?æ
57
bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya " (Ali Imron: 159)
Dalam ayat di atas, tidak dijelaskan bagaimana cara tertentu dalam bermusyawarah. Ketentuan dalam bermusyawarah dibiarkan begitu saja tanpa menentukan suatu sistem tersendiri. Ketentuan ini bukanlah sesuatu yang dilupakan, tetapi merupakan rahmat bagi manusia dan memberikan jalan kepada manusia untuk dapat memilih mana yang lebih pantas untuk digunakan. Hanya saja, bagaimanapun cara yang dilakukan untuk musyawarah, dalam permusyawaratan itu sendiri harus ada jaminan penuh untuk mengeluarkan pendapat secara bebas sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai islami.13 Musyawarah seperti yang telah diajarkan ini menunjukkan bahwa penguasa tidak dapat bertindak sewenang-wenang. Jadi pada dasarnya penguasa dalam menjalankan pemerintahan adalah atas asas kesetujuan rakyat yang tertuang dalam musyawarah.