• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penguatan Industri Manufaktur 1 Kebijakan

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 116-120)

Percepatan Pengurangan Kemiskinan

A. Kebijakan dan Capaian Pembangunan 5.1 Kebijakan Ekonomi Makro

5.2 Penguatan Industri Manufaktur 1 Kebijakan

Arah kebijakan pembangunan industri dalam RPJMN 2010-2014 utamanya adalah melaksanakan revitalisasi industri manufaktur untuk mencapai iga hal, yaitu:

1). Penumbuhan populasi usaha industri agar jumlah usaha industri dapat meningkat dengan postur populasi yang lebih sehat;

2). Penguatan struktur industri yang ditunjukkan oleh semakin terintegrasinya IKM dalam klaster industri dan berkembangnya klaster industri demi penguatan daya saing di pasar global; 3). Peningkatan produkivitas usaha industri dengan meningkatkan nilai tambah produk melalui

penerapan iptek.

Arah pembangunan industri tersebut dilaksanakan dengan menerapkan Perpres No. 28/2009 Tentang Kebijakan Industri Nasional yang antara lain memberi fasilitas bagi industri prioritas. Fasilitas tersebut mencakup: (1) Insenif iskal berupa tax holiday, tax allowance, bea masuk ditanggung

Kebijakan pembinaan industri kecil dan menengah (IKM) mengikui pola OVOP (one village one

product) dengan menyediakan pendampingan tenaga ahli, bimbingan teknis dan disain, bantuan

mesin/peralatan, pelaihan-pelaihan, serta dukungan parisipasi pameran. Disamping itu juga dilakukan fasilitasi hak kekayaan intelektual (HKI) di bidang merk, hak cipta, paten, disain industri, disain kemasan dan bantuan kemasan, serta seriikasi sistem mutu, penyusunan standar nasional Indonesia (SNI), serta akses permodalan bagi IKM.

5.2.2 Capaian

Sejak tahun 2011, pertumbuhan industri khususnya industri non-migas telah menunjukkan arah yang semakin baik dengan mampu tumbuh lebih inggi dari pertumbuhan PDB. Pada triwulan I tahun 2014, pertumbuhan industri pengolahan non-migas mengalami perlambatan, yaitu hanya tumbuh 5,5 persen. Namun demikian, angka ini masih tetap lebih inggi dari pertumbuhan ekonomi yang besarnya 5,2 persen. Pada tahun 2010-2014, cabang-cabang industri yang konsisten tumbuh posiif adalah: (1) Industri makanan, minuman dan tembakau; (2) Industri teksil, barang kulit dan alas kaki; (3) Industri pupuk, kimia dan barang dari karet; (4) Industri semen dan barang galian bukan logam; (5) Industri logam dasar besi dan baja; serta (6) Industri alat angkut, mesin dan peralatannya. Rincian pertumbuhan disajikan dalam Tabel 5.4. Semua cabang industri ini termasuk industri padat modal. Sehingga tenaga kerja yang diserap juga tumbuh dengan baik.

Tabel 5.4

Pertumbuhan Industri Pengolahan Tahun 2004, 2009-2014 (Persen)

Cabang Industri Tahun

2004 2009 2010 2011 2012 2013 2014*

INDUSTRI PENGOLAHAN 6.38 2.21 4.74 6.14 5.74 5.56 5.09

a. Industri M i g a s -1.95 -1.53 0.56 -0.94 -2.80 -1.81 -0.70

1). Pengilangan Minyak Bumi -0.23 0.53 1.25 0.53 -1.93 1.03 2.55

2). Gas Alam Cair -3.22 -3.14 0.01 -2.15 -3.53 -4.26 -3.63

b. Industri bukan Migas 7.51 2.56 5.12 6.74 6.42 6.10 5.49

1). Makanan, Minuman, Tembakau 1.39 11.22 2.78 9.14 7.57 3.34 9.62

2). Teksil, Brg. kulit & Alas kaki 4.06 0.60 1.77 7.52 4.27 6.06 3.47

3). Brg. kayu & Hasil hutan lainnya. -2.07 -1.38 -3.47 0.35 -3.14 6.18 6.35

4). Kertas dan Barang cetakan 7.61 6.34 1.67 1.40 -4.75 4.45 2.97

5). Pupuk, Kimia & Barang dari karet 9.01 1.64 4.70 3.95 10.50 2.21 1.91

6). Semen & Brg. Galian bukan logam 9.53 -0.51 2.18 7.19 7.80 3.00 3.38

7). Logam Dasar Besi & Baja -2.61 -4.26 2.38 13.06 5.86 6.93 1.42

8). Alat Angk., Mesin &Peralatannya 17.67 -2.87 10.38 6.81 7.03 10.54 4.52

9). Barang lainnya 12.77 3.19 3.00 1.82 -1.13 -0.70 15.77

Sumber: BPS, 2014

Pada bulan Februari 2014, jumlah tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri mencapai 15,39 juta jiwa. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri dalam periode kecuali pada Agustus tahun 2012. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.5.

Tabel 5.5

Penduduk Usia 15 Tahun Keatas yang Bekerja Tahun 2004, 2009-2014 (Juta Orang)

Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2004 2009 Agustus 2010 Agustus 2011 Agustus 2012 Agustus 2013 Agustus 2014 Februari Sektor Industri 11.07 12.84 13.82 14.54 15.62 14.96 15.39 Seluruh Sektor 93.72 104.87 108.21 108.17 113.01 112.76 118.17 Sumber: BPS

Investasi PMDN di sektor industri pengolahan non-migas mengalami peningkatan, dari Rp.25,61 triliun pada tahun 2010 menjadi Rp.51,17 triliun pada tahun 2013, atau meningkat sebesar 99,80 persen. Sektor industri dengan nilai investasi PMDN besar antara lain: industri makanan, industri teksil, industri kertas dan percetakan, industri kimia dan farmasi, industri karet dan plasik, industri mineral non-logam, serta industri logam, mesin dan elektronik.

Nilai investasi PMDN pada bulan Januari-Maret 2014 mencapai Rp.11,11 triliun atau meningkat ipis sebesar 1,73 persen dari periode yang sama tahun 2013. Investasi sektor industri memberikan kontribusi sebesar 32,10 persen dari total investasi PMDN pada Triwulan I tahun 2013.

Tabel 5.6

Penanaman Modal dan Penyaluran Kredit Sektor Industri Tahun 2009-2014

Keterangan Satuan Tahun

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Realisasi PMDN* Rp Triliun 19,4 25,6 38,5 49,8 51,1 11,1

Realisasi PMA* USD Juta 3,8 3,3 6,8 11,8 15,9 3,5

Kredit **) Rp Trilliun 246,2 274,3 343,0 444,1 574,3 576,3

Sumber: *) BKPM: s.d. Triwulan I 2014; **) Bank Indonesia, Posisi Desember, kecuali 2014 (April)

akan beroperasi pada 2016; (2) Revitalisasi industri gula: meningkatnya rendemen PG BUMN rata- rata pada tahun 2010 sebesar 5,93 persen, menjadi 7,75 persen pada 2012 serta eisiensi PG BUMN pada tahun 2010 rata-rata sebesar 62,73 persen meningkat menjadi 79,66 persen pada tahun 2012, telah dilaksanakannya groundbreaking PG Glenmore dengan kapasitas 5.000 TCD expandable

8.000 TCD di Banyuwangi (Jawa Timur); (3) Fasilitasi pengembangan kawasan industri di KEK - Sei Mangkei Sumatera Utara yang di dalamnya dilengkapi dengan Pusat Inovasi Kelapa Sawit (PIKS); dan Kawasan Industri Palu – Sulawesi Tengah yang dilengkapi dengan Pusat Inovasi Rotan Nasional (PIRNas); (4) Fasilitasi investasi industri hilir kelapa sawit yang pada tahun 2013 berhasil menarik 5 investasi senilai Rp.6,1 trilyun dan komitmen investasi senilai Rp.20 triliun pada tahun 2014. Beberapa capaian pening dari program hilirisasi industri berbasis agro, migas dan bahan tambang mineral, antara lain: (1) Pada periode tahun 2011-2013 terdapat 43 perusahaan industri pengolahan kayu dan rotan yang melakukan investasi dengan nilai investasi mencapai Rp.214 miliar; (2) Pembangunan pabrik ban Hankook kapasitas 5,3 juta ban KBM roda 4 per tahun dan 840 ribu ban truk/radial pertahun dengan nilai investasi USD1,1 miliar di Jawa Barat; (3) Meningkatnya kapasitas produksi industri pengolahan kakao dari 150.000 ton pada tahun 2010 menjadi 400.000 ton pada tahun 2013 atau naik 167 persen dan berkembangnya jumlah perusahaan industri pengolahan kakao tahun 2010 sebanyak 15 perusahaan menjadi 18 perusahaan pada tahun 2013; (4) Hingga tahun 2013, jumlah perusahaan industri logam nasional sebanyak 1.131 unit atau tumbuh 14,5 persen dibandingkan tahun 2010, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 280 ribu atau tumbuh 24,1 persen dibanding tahun 2010, dengan nilai investasi sebesar Rp.105,4 triliun atau tumbuh 39,4 persen dibanding tahun 2010; (5) Telah dilakukan pengakhiran Master Agreement Proyek Asahan dan pengalihan seluruh saham yang dimiliki oleh Nippon Asahan Aluminium (NAA) kepada Pemerintah dengan nilai kompensasi pembelian saham sebesar USD556,7 juta. Saat ini, kapasitas produksi PT. Inalum adalah sebesar 225 ribu aluminium ingot/tahun, dengan rencana pengembangan hingga mencapai 400 ribu ton aluminium ingot pada tahun 2017.

Beberapa capaian utama dari program peningkatan daya saing industri berbasis SDM, pasar domesik dan ekspor antara lain adalah sebegai berikut. Pertama, telah dilaksanakan Program Restrukturisasi Permesinan Industri Teksil, Produk Teksil dan Alas Kaki sejak tahun 2007. Pada tahun 2010-2013, nilai bantuan yang diberikan pemerintah sebagai simulan investasi sebesar Rp.569,05 miliar, yang diberikan kepada 609 perusahaan, sehingga menghasilkan penambahan investasi pada industri TPT dan alas kaki sebesar Rp.6,44 triliun. Program tersebut juga menghasilkan penambahan tenaga kerja sebanyak 223.924 orang, peningkatan kapasitas produksi 17-25 persen, peningkatan produkivitas 6-10 persen, serta peningkatan eisiensi energi 5-9 persen. Kedua, industri otomoif, KBM Roda- 4: produksi meningkat dari 702.508 (2010) menjadi 1.208.211 (2013), penjualan meningkat dari 764.710 (2010) menjadi 1.229.901 (2013), dan ekspor pada tahun 2013 sebanyak 170 ribu unit (CBU) dan 105 ribu set (CKD); KBM Roda-2: produksi meningkat dari 7.395.390 (2010) menjadi 7.780.295 (2013), penjualan meningkat dari 7.369.249 (2010) menjadi 7.743.879 (2013), dan ekspor pada tahun 2013 sebanyak 27 ribu unit. Keiga, dalam rangka pengembangan Low Cost Green Car (LCGC), terjadi peningkatan investasi (perluasan dan pembangunan pabrik baru) oleh PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PT. Astra Daihatsu Motor, PT. Honda Prospect Motor, PT. Suzuki Indomobil Motor dan PT. Nissan Motor Indonesia dengan total investasi sebesar USD3 miliar untuk industri perakitan dan USD 3,5 miliar untuk industri komponen, yang diperkirakan akan menyerap tenaga kerja sebanyak 30.000 orang.

Beberapa hasil utama yang dicapai dalam Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah, antara lain sebagai berikut. Pertama, PDB IKM pada tahun 2010 sebesar Rp.186,5 triliun. Dengan laju pertumbuhan 4,83 persen per tahun, angka ini meningkat mencapai Rp.212,9 triliun di tahun 2013, atau sebesar 34,28 persen dari PDB industri. Kedua, pelaihan kepada 8.335 calon wirausaha baru yang tersebar di 24 provinsi dengan ingkat keberhasilan penciptaan wirausaha baru sebanyak 1.667 WUB IKM. Selain itu, sebanyak 112 orang yang mengikui program beasiswa TPL-IKM angkatan 2007 telah memulai usaha selepas masa kontrak. Keiga, pemberian bantuan potongan harga dalam rangka restrukturisasi mesin/peralatan kepada 322 IKM dengan nilai bantuan Rp.37 miliar, yang berdampak pada peningkatkan nilai investasi sekitar Rp.111 miliar, peningkatan daya saing produk sekitar 12 persen, peningkatan tenaga kerja sekitar 60 persen, dan peningkatan eisiensi produksi sekitar 45 persen. Keempat, produk IKM yang mendapatkan Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) melalui fasilitasi layanan pendataran HKI sebanyak 323 merek, 18 hak cipta, 6 paten, dan 3 desain industri.

Beberapa capaian kinerja bidang perindustrian lainnya antara lain adalah sebagai berikut. Pertama, telah disetujuinya permohonan pemberian fasilitas tax holiday kepada industri pada tahun 2013

sebanyak dua perusahaan dengan total investasi sebesar Rp.2,6 triliun. Fasilitas yang diberikan berupa pembebasan PPh badan selama lima tahun dan pengurangan PPh badan sebesar 50 persen selama 2 tahun. Kedua, pada tahun 2013 telah disusun RSNI sebanyak 91 buah, sedangkan selama 4 tahun terakhir telah disusun sebanyak 394 buah RSNI untuk 18 kelompok industri. Keiga, tahun 2013 pemerintah telah menerbitkan 32 Permenperin tentang penunjukan LPK bagi 87 SNI wajib. Dalam Permenperin tersebut telah ditetapkan 92 LPK yang terdiri dari 32 LSPro dan 60 Laboratorium Uji untuk mendukung pemberlakuan SNI secara wajib; Keempat, tersusunnya UU tentang Perindustrian sebagai revisi UU No. 5/1984 Tentang Perindustrian. Undang-undang telah disahkan dalam sidang paripurna DPR RI pada tanggal 19 Desember 2013 dan telah ditandatangani oleh Presiden pada tanggal 15 Januari 2014 menjadi UU No. 3/2014 Tentang Perindustrian; Kelima, dalam rangka mendorong penerapan industri hijau, pemerintah memberikan penghargaan industri hijau kepada industri yang telah melakukan upaya penghematan penggunaan sumber daya alam idak terbarukan dan penggunaan sumber daya alam yang ramah lingkungan dan terbarukan. Pemberian penghargaan telah dimulai sejak tahun 2010 dan sampai saat ini sudah 340 perusahaan indutri yang memperoleh penghargaan industri hijau.

Berbagai capaian kinerja tersebut menunjukkan bahwa proses pembangunan industri masih terus berlangsung sebagai salah satu motor penggerak utama perekonomian nasional. Pembangunan industri nasional secara jangka panjang diarahkan untuk mendorong peningkatan nilai tambah dalam negeri melalui pengelolaan sumber daya industri secara berkesinambungan dan ramah lingkungan, meningkatkan daya saing dan produkivitas industri, serta meningkatkan pemerataan pembangunan industri ke seluruh wilayah Indonesia.

5.3 Memantapkan Perdagangan yang Berkeadilan

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 116-120)