• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program penanggulangan kemiskinan berbasis bantuan dan perlindungan sosial a Program Keluarga Harapan

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 88-91)

Angka Kematian Anak Tahun 1991‐2012 

Klaster 1: Program penanggulangan kemiskinan berbasis bantuan dan perlindungan sosial a Program Keluarga Harapan

Sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya dari keluarga termiskin, dilaksanakan PKH bagi keluarga termiskin dengan ibu hamil dan anak balita untuk mengakses layanan kesehatan serta pendidikan anak di sekolah. Pada tahun 2007 peserta PKH telah mencapai 500 ribu KSM, yang tersebar di 7 provinsi, 48 kabupaten/ kota, 337 kecamatan. Cakupan kepesertaan program ini terus berkembang hingga tahun 2014 peserta PKH mencapai 3,2 juta KSM yang tersebar di 4.132 kecamatan, dan 418 kabupaten/kota di 34 provinsi. Sejak tahun 2013, besaran manfaat PKH telah disesuaikan untuk mempertahankan manfaat riil bantuan, yaitu dari rata-rata Rp.1,39 juta menjadi rata-rata Rp.1,80 juta per tahun per KSM.

Tabel 4.8 Perkembangan Pelaksanaan PKH Tahun 2007-2014* Uraian/ Kegiatan/ Indikator Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014** Target KSM 500.000 642.000 720.000 816.000 1.116.000 1.516.000 2.400.000 3.200.000 Realisasi KSM*) 387.947 620.848 726.376 774.293 1.052.201 1.492.473 2.326.523 2.872.965 Provinsi 7 13 13 20 25 33 33 34 Kabupaten 48 70 70 88 119 169 336 418 Kecamatan 337 637 781 946 1.387 2.001 3.417 4.132 Desa/ Kelurahan 4.311 7.654 9.295 10.998 16.154 21.471 43.318

Sumber: UPPKH Pusat, Kementerian Sosial (2014) Catatan:

*) Program Keluarga Harapan dilaksanakan sejak tahun 2007 dengan cakupan 500.000 KSM, di 7 provinsi, 48 Kabupaten/Kota, 337 Kecamatan, 4.311 Desa/Kelurahan

Kotak 4.3

Dampak PKH, Reseriikasi, dan Contoh Komplementaritas

 

Gambar 1.

Pelaksanaan PKH untuk anak sekolah di Kabupaten Tanah Laut

 

Gambar 2.

Pelaksanaan PKH untuk kegiatan Posyandu

Program Keluarga Harapan (PKH) telah memberikan dampak yang baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, PKH telah meningkatkan konsumsi keluarga sangat miskin sebesar Rp. 19.000,- per kapita per bulan atau setara dengan 10 persen rata-rata konsumsi per bulan (Bank Dunia, 2010). Diindikasikan penerima PKH meningkatkan konsumsi untuk makanan bernutrisi seperi daging, ikan, telur, dan susu. Sementara itu, di bidang kesehatan terjadi peningkatan pemeriksaan pre-natal sebesar 9-13 persen, pemeriksaan post-natal sebesar 21 persen, peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu dengan tenaga medis sebesar 5 persen, penimbangan balita sebesar 22 persen, dan jumlah balita yang mendapatkan vaksin komplit sebesar 11 persen. PKH juga memberikan dampak spillover pada tetangga yang bukan penerima bantuan PKH, berupa peningkatan pemeriksaan pre-natal, penimbangan balita, kelahiran dengan dibantu tenaga medis, dan peningkatan parisipasi sekolah.

Berdasarkan evaluasi dampak terbaru (TNP2K, 2014) PKH telah menurunkan angka putus sekolah di Sekolah Dasar sebesar 1,2 persen, atau setara dengan 385 ribu anak usia SD dari kelompok paling miskin, meningkatkan ingkat parisipasi SMP sebesar 5 persen atau sekitar 60 ribu anak berusia SMP dari rumah tangga paling miskin. PKH juga mengurangi prevalensi tenaga kerja anak sebesar 3,9 persen, atau sekitar 10 ribu anak dari keluarga paling miskin.

Berdasarkan reseriikasi yang dilaksanakan tahun 2013 untuk peserta PKH kohor 2007, hampir 40 persen KSM peserta PKH telah keluar dari kepesertaan PKH, karena idak lagi memenuhi syarat kepesertaan dan sudah idak lagi miskin. Keberhasilan PKH idak dapat lepas dari dukungan dan inisiaif pemerintah daerah. Salah satu contoh inisiaif ditunjukan oleh Kota Bitung, yang secara akif mendukung peningkatan kesejahteraan keluarga sangat miskin peserta PKH melalui komplementaritas program. Contohnya seperi renovasi rumah yang diberikan pada peserta PKH, dana sharing dengan swasta dan masyarakat dalam relokasi tempat inggal, dukungan pembangunan jalan, drainase, lahan, sarana listrik, MCK, dan sebagainya, bantuan pendidikan BSM (Bantuan Siswa Miskin) dan BKM (Bantuan Khusus Murid), jaminan kesehatan daerah bagi peserta PKH yang belum terakomodasi melalui JKN, dan pendampingan kegiatan pertanian dan perkebunan.

Pada tahun 2013 telah dilakukan reseriikasi atau penilaian ulang status ekonomi dan elijibilitas kepesertaan kohor 2007 dan 2008. Hasil reseriikasi menunjukkan hampir 40 persen peserta kohor 2007 dapat keluar dari program (graduasi)karena sudah idak lagi miskin atau memenuhi kelayakan kepesertaan. Sedangkan sisanya masuk kedalam transisi, yaitu masih mendapat bantuan selama 3 tahun dan wajib mengikui pertemuan peningkatan kemampuan keluarga (P2K2) untuk memperkuat peran orang tua dalam pendidikan dan kesehatan keluarga, pengelolaan keuangan keluarga dan perlindungan anak.Hasil evaluasi dampak terbaru (TNP2K, 2014) menunjukkan bahwa PKH berkontribusi menurunkan angka putus sekolah di sekolah dasar sebesar 1,2 persen, meningkatkan ingkat paripasi SMP sebesar 5 persen, dan menunjukkan efek nyata dalam mengurangi prevalensi tenaga kerja anak sebesar 3,9 persen. Memasikan peserta PKH yang telah graduasi untuk diindaklanjui oleh program penanggulangan kemiskinan lainnya menjadi tugas bersama agar perbaikan perilaku untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik dapat terus berlanjut.

b. Subsidi Beras Bagi Masyarakat Miskin

Dalam pelaksanaan Subsidi Beras Bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah (Raskin), tahun 2013 disalurkan 15 kg/bulan/RTS bagi15,53 juta RTS dan penambahan iga kali penyaluran pada bulan Juni, Juli dan September sehingga pada bulan tersebut seiap RTS mendapatkan 30 kg beras terkait karena adanya pelaksanaan Program Percepatan Perlindungan Sosial (P4S). Realisasi Penyaluran Raskin Tahun 2013 mencapai 3.430.214.123 Kg (98,2 persen). Anggaran subsidi raskin pada tahun 2013 ditambah dengan P4S adalah 21,49 Triliun. Menindaklanjui kajian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), telah disusun Rencana Aksi untuk memperbaiki program Raskin secara komprehensif. Untuk memperkuatdilaksanakan pula Businesss Process and Reengineering (BPR), untuk membantu desain ulang program Raskin. Perbaikan antara lain mencakup desain program, alur kerja proses dan prosedur pengadaan, penyimpanan, penyaluran Raskin, serta pemutakhiran data penerima dan penguatan kelembagaannya.

Tabel 4.9

Pelaksanaan Program Raskin Tahun 2004, 2009-2014 Indikator Kinerja Satuan 2004 2009 2010 2011 2012 2013* 2014 Jumlah Penerima Juta RTS 15,75 18,5 17,5 17,5 17,5 15,5 15,5 Jumlah subsidi 1 tahun Rp Triliun 5,3 13 14 15 16 21.49 18

Pagu Beras Total Ribu Ton 2.061,7 3.329,5 2.972,9 3.147,8 3.147,8 3.494 2.795,6 Sumber: Bulog

c. BSM dan Bidik Misi

Program BSM dan Bidik Misi yang merupakan bagian dari program penanggulangan kemiskinan klaster 1 telah dijelaskan lebih lengkap mengenai capaian pelaksanaan program tersebut dalam sub bab Pemenuhan Layanan Pendidikan yang Berkualitas.

d. Jamkesmas

Peserta Jamkesmas pada tahun 2013 mencakup 86,4 juta jiwa. Sejak tahun 2014, peserta Jamkesmas menjadi menjadi PBI kepesertaan dari JKN. Dengan kesehatan yang terjamin, peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan rentan dapat terus berlanjut.

e Program Keluarga Berencana

Dalam upaya untuk mengurangi kemiskinan melalui program KB, pada tahun 2014 dilakukan upaya terobosan dengan Peningkatan pembinaan Akseptor dan Peningkatan Advokasi-KIE difokuskan pada sasaran kelompok khusus (pasangan usia muda dan memiliki dua anak), PUS dari keluarga miskin, serta pelayanan KB di wilayah sulit dan kumuh melalui kampanye “2 ANAK CUKUP”.

Selain program-program di atas, untuk menganisipasi dampak penerapan kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM),pada tahun 2013 pemerintah juga menggulirkan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Hingga akhir pelaksanaannya, BLSM telah disalurkan 98,4 persen dari total 15,53 juta RTS dalam bentuk uang tunai sebesar Rp. 150.000,-/bulan/RTS untuk periode 4 bulan.

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 88-91)